Only Hope
Warning : Typo, Gs, Ooc
Main Cast : Kim Jong-In, Do Kyung-Soo
Cast: All EXO's Couple
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rated : T
Chapter : 2/?
"Nah, sekarang kau terlihat simple dan.. cantik." ucap Baek-Hyun ketika melihat Kyung-Soo yang keluar dari kamar pas.
Kyung-Soo keluar dengan jeans biru yang memeluk pinggulnya. Kaus berwarna pink muda bergaris tipis pink tua dengan corak bergambar kotak kado berwarna silver dan pita pink yang senada dengan warna kaus itu menempel pada tubuhnya. Sneakers dengan warna yang senada dengan kaus menutupi tumitnya.
"Sudah lama aku tidak memakai jeans." Ucapnya sambil memandang dirinya dari bagian paha sampai tumitnya.
"Jinjja?" tanya Baek-Hyun takjub dengan wajah heran dan ragu.
"Yixing hanya memberiku dress dan rok, dia jarang sekali memberiku jeans atau celana." Jawabnya sambil menatap dirinya melalui kaca kamar pas yang terbuka. "Rasanya nyaman."
Baek-Hyun menatap Kyung-Soo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seorang pelayan perempuan yang sedari tadi melayani mereka ikut takjub mendengar cerita Kyung-Soo.
"Baiklah. Semua perlengkapan pakaianmu sudah selesai. Atau masih ada yang kurang?" tanya Baek-Hyun sambil melihat kantong belanja yang berjejer disamping tempat duduknya.
Kyung-Soo mendekat lalu membungkuk membuka kantong-kantong belanja itu dengan gerakan melebarkan jari tengah dan telunjuknya dibagian atas kantong-kantong tersebut untuk mengecek isinya.
"Sepertinya semuanya sudah." Jawabnya setelah berdiri sambil memegang pinggangnya dengan kedua tangan.
"Hari ini mungkin hari terakhir aku menemanimu seharian." Ucap Baek-Hyun setelah mereka membayar belanjaan dan keluar konter pakaian itu.
Kyung-Soo yang kerepotan membawa kantong belanja seketika menoleh kearah Baek-Hyun dengan tatapan bertanya dan sedikit kecewa.
"Aku akan kembali sibuk kuliah." Jawabnya setelah berhasil mengalihkan pandangan dari wajah memelas Kyung-Soo lurus kearah jalan.
"Memangnya kau kuliah setiap hari? Hari libur juga?" tanya Kyung-Soo masih dengan wajah memelas dengan tangan yang masih kerepotan memegang kantong belanja.
"Aku akan mengambil kelas setiap hari." Jawab Baek-Hyun lagi sambil merebut beberapa kantong belanja dari tangan Kyung-Soo. "Aku harus cepat lulus."
"Kenapa?" tanya Kyung-Soo lagi dengan wajah yang tak sememelas tadi.
"Aku hanya ingin berhenti membebani Ayahmu." Ucap Baek-Hyun sedikit lesu. Langkahnya perlahan berhenti. "Perasaanku tidak enak ketika mengingat sekolahku dibiayai Tuan Park."
"Ayah tidak merasa terbebani." Ujar Kyung-Soo dengan yakin.
"Dari mana kau tahu?" tanya Baek-Hyun setelah mendengus pelan lalu kembali berjalan menelusuri jalanan kawasan Myeongdong itu.
Terlihat kios-kios toko berjejeran disisi kanan dan kiri jalan yang mereka lewati. Mereka sedang berada ditengah-tengah lautan manusia yang bergerak sesuai keinginan mereka. Pedagang-pedagang yang membuat lapak dan berjualan dipinggir jalankarena tidak mempunyai kios ikut memenuhi jalanan itu.
Lampu-lampu toko mulai dinyalakan untuk menarik perhatian pengunjung yang berjalan melewati jalan yang mulai gelap itu karena langit yang juga mulai kehilangan sinar matahari. Terdengar suara musik yang berbeda-beda dari setiap kios yang mereka lewati membuat sore itu semakin ramai.
"Dari mana kau tahu, Kyung-Soo?" tanya Baek-Hyun lagi setelah beberapa lama tidak mendengar jawaban Kyung-Soo.
Mata Baek-Hyun membelalak ketika sadar tak ada Kyung-Soo yang berjalan disampingnya. Kepalanya berputar panik mencari sosok wanita berambut lurus hitam legam sepunggung setelah diam tertegun beberapa detik. Tapi terlalu banyak orang yang memiliki rambut hitam disekitarnya.
"Kyung...Kyung-Soo? Kyung-Soo!" panggilnya panik sambil berjalan berbalik arah.
Kini ia berjalan setengah berlari mencari Kyung-Soo didalam lautan manusia itu. Sesekali ia menabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Kyung-Soo!" panggilnya berteriak tak peduli dengan orang-orang disekitarnya yang menatapnya heran.
Jantungnya terasa mencelos ketika melihat sesosok perempuan berambut hitam panjang yang sedang terduduk sambil memeluk kaki yang terlipat disudut jalan dengan kantong belanja yang berserakan. Kepalanya terlengkup diatas lutut.
"KYUNG-SOO!" panggilnya panik melihat keadaan anak majikannya itu yang terlihat lemas.
Bahu dan tubuhnya bergetar hebat. Poninya basah karena dibanjiri keringat dingin dengan wajah pucat pasi tidak berdaya. Tangannya yang juga basah karena keringat terasa dingin ketika Baek-Hyun menggenggamnya.
Mata bulat Kyung-Soo terbuka sedikit dengan gerakan sangat pelan ketika Baek-Hyun mencoba mengguncangkan tubuhnya. Ia menatap Baek-Hyun lemah. Mulut mungilnya terbuka mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat pelan sehingga Baek-Hyun sama sekali tidak bisa mendengarnya. Baek-Hyun mendekatkan telinganya ke mulut Kyung-Soo.
"Ayo pulang.." ucapnya dengan suara sangat pelan sedikit terbata.
Baek-Hyun menatap miris orang yang sudah dianggapnya saudara itu. Matanya mulai memanas melihat keadaan Kyung-Soo yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Ia panik dan bingung harus melakukan apa dan hanya bisa mengeluarkan tetesan air mata sambil memeluk Kyung-Soo.
Ia semakin panik dengan mata yang melebar ketika melihat Kyung-Soo yang mulai menutup mata dengan tubuh yang terbaring lemas dipangkuannya.
...
Kelopak matanya terbuka perlahan. Mata hitamnya yang dibingkai bulu mata tetap terlihat bening dalam kantuk, dan langsung bertatapan dengan sesuatu berpermukaan putih bersih. Kelopak matanya turun sesaat lalu terbuka lagi lebih lebar ketika ia mendengar panggilan seseorang.
"Kyung-Sooya?" panggil seseorang ketika kelopak matanya akan tertutup lagi. Bola matanya kini berputar mencari asal suara.
Ia hanya melihat permukaan putih yang terang karena sinar matahari sesaat ketika akhirnya ia melihat sosok Baek-Hyun dengan rambut yang sudah tidak teratur dan wajah yang terlihat khawatir.
Wajah Baek-Hyun menyunggingkan seulas senyum lega ketika melihat Kyung-Soo yang sadar dengan wajah kembali segar dan tak sepucat kemarin malam.
"Kenapa aku ada disini?" tanyanya sambil beranjak dari kasur.
Ia baru sadar ia sedang berada dirumah sakit ketika ia melihatranjang berisi pasien yang berada disamping dan disebrang ranjang tempat ia tidur.
"Dokter bilang kau tidak apa-apa. Hanya kelelahan." Jawab Baek-Hyun kembali terduduk dikursi disebelah ranjang yang ditempati Kyung-Soo sambil menghela napas panjang.
"Lalu? Kenapa kita disini?" tanyanya lagi bingung dengan kening berkerut.
"Aku panik setengah mati ketika melihatmu terduduk lemah dijalanan. Jadi aku membawamu kesini ketika kau pingsan dipelukanku." Jawab Baek-Hyun mengingat kejadian di Myeongdong tadi malam.
"Benarkah? Romantis sekali.." gumamnya sambil bergurau dengan wajah polos dan mata yang menerawang membayangkan bagaimana ia pingsan dipelukan Baek-Hyun.
"Kau ini. Disaat seperti itu kau bilang romantis." Ucap Baek-Hyun dengan wajah yang sedikit kesal dengan gurauan Kyung-Soo. "Aku panik sampai-sampai dikira gila orang-orang dan kau bilang itu romantis?" lanjutnya bergidig ketika kata 'romantis' keluar dari mulutnya. Kyung-Soo menatapnya sejenak lalu tertawa.
"Hahaha.. Menurutku itu benar-benar romantis. Seperti adegan pada drama." Komentarnya kembali tertawa.
Tatapan sinis Baek-Hyun berhasil membuat tawanya berhenti sekaligus.
"Kau ini. Kau senang membuat orang panik?"
"Hahaha kau dua kali berkata 'kau ini'!" sahutnya tak kuat menahan tawa ketika Baek-Hyun mengucapkan kalimat yang sama dua kali sambil menunjuk kearah Baek-Hyun.
"Kau ini..." Baek-Hyun terlihat kesal dengan mulut yang terbuka heran dengan keadaan temannya yang tadi malam pingsan itu kini tertawa puas.
"Sekarang jadi tiga kali! Hahaha lucu sekali.." kataKyung-Soo sambil tertawa keras membuat pasien-pasien lain menatap heran kearahnya. Mungkin mereka heran kenapa ada pasien yang sebahagia Kyung-Soo.
Kyung-Soo berhenti tertawa ketika ia sadar dengan tatapan pasien-pasien lain yang menatapnya heran. Ia lalu menatap Baek-Hyun yang sudah berdiri dan menatapnya kesal.
"Simpan tawamu."
"Baiklah maafkan aku," Maafnya sambil meraih tangan Baek-Hyun. "Dan terima kasih kau sudah mau menolongku." Lanjutnya sambil menunduk memainkan jari tangan Baek-Hyun.
Baek-Hyun mengangguk pelan sambil menatapnya lesu. Kyung-Soo bilang ia hanya bisa tertawa saat Kyung-Soo berada bersamanya. Bagaimana ia bisa meninggalkan Kyung-Soo jika keadaannya terus seperti ini?
...
Jari-jarinya bergerak halus seakan sedang menari diatas keyboardnotebook biru langitnya. Sejak pagi Kyung-Soo sudah sibuk mengetik sesuatu dalam notebooknya itu sambil duduk diatas kursi taman tempat biasa menghabiskan waktu jika Baek-Hyun tidak bersamanya. Telinga Kyung-Soo seperti biasa disumbat earphone putih yang selalu mengeluarkan musik klasik favoritnya.
Keningnya sesekali berkerut ditengah-tengah kegiatan mengetik. Kadang ia menerawang dan melamun sebentar lalu kembali mengetik.
Angin awal musim gugur menerpa wajahnya yang masih serius mengetik. Angin itu menerbangkan beberapa helai rambutnya yang terurai.
Ia mencium bau sesuatu yang terasa familiar ketika ia menghela napas panjang. Bau sebuah parfum dengan kesan parfum pria tapi sedikit lembut. Alisnya seketika berkerut dengan tangan yang berhenti bergerak diatas keyboard. Ia menoleh kesamping kanan dan terlonjak ketika sadar ada seorang laki-laki yang berdiri membelakanginya sambil sibuk menelepon.
Kepalanya bergerak miring dengan alis berkerut dan mulut yang sedikit terbuka. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu ketika ia memerhatikan punggung yang menggendong sebuah tas berbentuk gitar.
Apakah aku pernah melihat laki-laki itu?
Ia terus mengernyit dengan pikiran yang masih mengingat-ingat apakah ia pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Kyung-Soo masih memerhatikan sosok laki-laki itu dengan serius ketika laki-laki itu berbalik dan menemukannya yang memandangnya heran.
Kyung-Soo menoleh kekanan dan kekiri salah tingkah ketika sadar ia tertangkap basah memerhatikan laki-laki yang kini sudah tersenyum ramah.
"Annyeonghaseyo." Sapa laki-laki sambil menganggukan kepalanya.
Kyung-Soo yang sedang melihat kearah lain langsung menoleh kearah laki-laki yang masih tersenyum ramah.
"Ah.. Annyeonghaseyo." Jawab Kyung-Soo sambil mengangguk pelan setelah membuka earphone dari kedua telinganya. Ia lalu memerhatikan wajah laki-laki yang ternyata bermata bulat itu.
"Boleh saya duduk disini?"
De Javu, pikirnya. Sepertinya ia pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Kyung-Soo lalu menggeser posisi duduknya setelah terdiam beberapa saat.
"Sepertinya kita pernah bertemu." Ucap laki-laki itu setelah berhasil duduk disamping Kyung-Soo dengan senyum khas yang membuat Kyung-Soo bersikeras untuk mengingatnya.
"Benarkah?" tanya Kyung-Soo masih dengan kening berkerut mengingat dimana ia pernah bertemu laki-laki itu.
"Anda tidak mengingatnya?" Jawabnya, "Kita bertemu beberapa hari yang lalu disini." Lanjutnya membuat Kyung-Soo membelalakan matanya kaget.
"Ah.. Benar.." gumam Kyung-Soo sambil mengangguk-anggukan kepalanya setelah berhasil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu disini saat ia sedang menunggu Baek-Hyun.
Ia tidak percaya ia sama sekali tidak mengingat kejadian itu. Laki-laki itu hanya mendengus sambil terkekeh melihat Kyung-Soo yang baru mengingatnya.
"Anda selalu datang kesini?" tanya laki-laki itu ketika Kyung-Soo baru saja mulai menggerakan jarinya diatas keyboard.
"Ya begitulah.." jawab Kyung-Soo sekenanya.
Kini kepalanya mulai berpikir dan kembali berimajinasi untuk meneruskan naskah cerita yang sedang dibuatnya. Kyung-Soo lebih memilih sibuk menulis daripada pusing memikirkan sekolahnya meskipun Yixing sudah berulang kali mengingatkan.
"Sepertinya anda sedang sibuk." Katanya sambil memerhatikan Kyung-Soo yang kini sudah sibuk mengetik lagi.
Kyung-Soo hanya mengangguk-angguk pelan masih fokus memerhatikan layar notebooknya. Ia hendak memakai kembali earphonenya ketika ia mendengar suara alunan petikan gitar disebelahnya. Ia langsung menoleh dan mendapati laki-laki tadi sedang memainkan gitar putih kayu. Kyung-Soo menatap laki-laki itu sambil mencoba memerhatikan permainan gitarnya.
"Ah, apakah saya mengganggu?" tanya laki-laki itu ketika ia sadar ia diperhatikan Kyung-Soo dengan keningnya yang berkerut.
"Tidak," Jawab Kyung-Soo jujur menggelengkan kepalanya, "Teruskan saja."
Jawaban yang dikeluarkan Kyung-Soo membuat laki-laki itu mengangguk lalu mulai memainkan gitarnya kembali. Kyung-Soo menatapnya sebentar lalu kembali fokus pada layar notebook.
Ia sedang sibuk berimajinasi tentang tokoh psychopath yang ada dalam cerita ketika lampu kecil pada notebooknya menunjukan warna orangeyang berkedip-kedip. TanganKyung-Soo langsung mengarahkan kursor ke tombol save pada lembar Microsoft Officenya. Beberapa detik kemudian, layar dihadapannya itu mati dan hanya menunjukan warna hitam gelap.
"Ah aku bahkan belum sampai pada klimaksnya!" kesalKyung-Soo setelah notebooknya mati sambil meregangkan tangannya yang sedikit lelah karena terus-menerus menekan tombol pada keyboard sejak pagi.
Ia menghela napas sambil bersandar pada kursi setelah menutup notebook dan memasukannya kedalam ransel. Matanya lalu melihat angka pada jam digital hitam pada tangan kiri.
01:45 PM. Hari masih sangat siang dan apa yang harus aku lakukan sekarang? Tanyanya dalam hati.
Ia beranjak dari kursi itu lalu melakukan senam ringan untuk meregangkan tubuhnya yang serasa kaku karena sedari tadi hanya diam terduduk. Ia lalu menarik napas dalam-dalam untuk menghirup oksigen yang dihasilkan pohon diatasnya.
Mata Kyung-Soo berhenti pada laki-laki yang sedang bermain gitar disebelahnya ketika tengah menggerakan pundaknya kekiri dan kekanan. Ia lalu terdiam melihat laki-laki itu yang kini sedang menuliskan sesuatu pada sebuah buku musik.
"Anda sedang apa? Membuat lagu?" tanya Kyung-Soo tertarik pada apa yang dilakukan laki-laki itu. Laki-laki itu mendongkak melihat Kyung-Soo yang kini sudah membungkuk dengan kepala yang miring melihat buku musik dihadapannya.
"Iya begitulah. Bagaimana menurut anda?" ucap laki-laki itu setelah mengangguk mengiyakan. Laki-laki itu bergerak membenarkan posisi duduk sehingga membuat buku musik dipahanya jatuh ke tanah.
Kyung-Soolalu duduk disebelahnya setelah membungkuk mengambil buku musik yang jatuh itu. Raut wajahnya kini serius memerhatikan not demi not yang laki-laki itu tuliskan.
"Bagaimana?" tanya laki-laki itu penasaran dengan pendapat Kyung-Soo.
"Hmm.. aku tidak bisa membaca not balok." Jawabnya, "Apakah yang ini Do?" tanya Kyung-Soo polos menunjuk sebuah not setengah ketuk yang berada pada garis kedua dari bawah.
Kening laki-laki itu berkerut dengan mulutnya yang sedikit terbuka ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita dihadapannya itu. Matanya lalu melirik kearah telunjuk tangan Kyung-Soo.
"Ini?" tanyanya lagi memastikan apa yang ditanyakan Kyung-Soo. Kyung-Soo mengangguk-angguk dengan wajah penasaran.
"Sebenarnya saya juga belum ingatnot balok." Ucap laki-laki itu jujur dengan mulut nyengir lebar membuat Kyung-Soo bertambah bingung.
"Lalu ini apa?" tanya Kyung-Soo menunjuk lembar buku musik yang penuh dengan deretan not balok yang berjejer rapi. "Bukankah anda yang menulisnya?"
Laki-laki itu menggeleng lalu terkekeh lagi sambil mengambil buku musik dari tangan Kyung-Soo. Tangannya lalu bergerak membuka beberapa lembar halaman dibelakang lembar yang dilihat Kyung-Soo tadi.
"Sepertinya anda tadi salah lihat. Ini.." ucap laki-laki itu menyodorkan buku itu pada Kyung-Soo. Kedua tangan Kyung-Soo menerima dengan wajah yang masih penasaran.
Kyung-Soo kini serius memerhatikan huruf latin yang berjejer diatas buku musik laki-laki itu. Lagi-lagi kening Kyung-Soo berkerut bingung.
"Apakah anda juga tidak bisa membaca kunci seperti ini?" tanya laki-laki itu menebak raut wajah Kyung-Soo yang semakin lama semakin bingung memerhatikan huruf-huruf yang berjejer tadi.
Kyung-Soo yang sedari tadi bingung tentu saja mengangguk. Sejak kecil, Ayah dan Ibunya maupun Yixing sama sekali tidak mengenalkannya dengan musik. Ia memang menyukai lagu-lagu klasik. Tapi ia hanya suka mendengarkannya. Lagu-lagu klasik yang sering ia didengar pun tentu saja rekomendasi dan pemberian Baek-Hyun. Mungkin jika saja ia tidak bertemu dengan Baek-Hyun, ia mungkin tidak mengenal musik sedikitpun.
"Baiklah saya akan memainkannya. Tolong didengar baik-baik." Ucapnya sambil tersenyum ramah. Lagi-lagi Kyung-Soo merasa seperti mengenali senyuman itu. Tapi pikiranKyung-Soo langsung teralih ketika laki-laki itu memetik senar-senar gitar mulai memainkan lagu yang dibuatnya.
Jari tangan laki-laki itu memetik senar-senar gitar secara bergantian sehingga berhasil membuat kesatuan nada yang enak didengar. Matanya fokus melihat kunci-kunci nada yang tadi berhasil ia ciptakan lalu dituliskan dibuku musik. Kini mulut laki-laki itu bersenandung pelan mengikuti irama yang ia mainkan. Lagu itu terdengar memberi kesan kesedihan. Entah kesedihan apa, tapi Kyung-Soo merasakan kesedihan yang mungkin dialami laki-laki itu lewat lagu yang mainkannya.
Kyung-Soo kini memerhatikan laki-laki itu dengan seksama. Ia kini tidak terlalu memerhatikan dan mendengarkan musik yang dimainkan laki-laki itu, ia sekarang fokus memerhatikan wajah laki-laki itu. Awalnya, pikirannya teralihkan oleh musik yang dimainkan laki-laki itu, tapi semakin ia memerhatikan wajah laki-laki itu, semakin ia merasa familiar. Padahal ia baru bertemu dua kali dengan laki-laki itu.
"Nah, bagaimana?" tanya laki-laki itu setelah selesaikan memainkan deretan nada terakhir.
Kyung-Sooyang tak kunjung menjawab membuat laki-laki itu menoleh kearahnya yang kini sedang bertopang dagu terlihat memikirkan sesuatu.
Laki-laki itu sempat tertegun sesaat melihat pemandangan Kyung-Soo yang sedang bertopang dagu dengan rambut yang bergerak diterpa angin. Matanya kini memandang kearah lain. Wajahnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu terkena sinar matahari yang menembus sela-sela dedaunan pohon diatas tempat mereka berada.
"Bagaimana menurut anda?" tanya lagi laki-laki itu membuat Kyung-Soo menoleh kearahnya.
"Anda belum membuat liriknya?" tanya Kyung-Soo tiba-tiba bukannya memberi pendapat pada lagu yang laki-laki itu mainkan.
Laki-laki itu menggeleng menjawab pertanyaan yang diberikan Kyung-Soo. Matanya kini melebar seakan-akan menanyakan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Tidak buruk." Jawab Kyung-Soo sambil tersenyum kearah laki-laki itu membuat laki-laki itu juga ikut tersenyum.
"Jadi, apakah anda sedang patah hati?" tanya Kyung-Soo membuka topik pembicaraan mencoba memecahkan keheningan diantara mereka.
Laki-laki itu tertawa kecil mendengar pertanyaan yang diberikan Kyung-Soo.
"Kenapa tertawa? Aku hanya penasaran dengan cerita dibalik lagu yang anda buat." Jelas Kyung-Soo membuat laki-laki itu berhenti tertawa.
Kini laki-laki itu memandang lurus kearah lain dengan pandangan yang menerawang.
"Seperti yang aku duga. Ternyata anda memang sedang patah hati." Lanjut Kyung-Soo membuat laki-laki itu kini hanya mendengus kecil.
Laki-laki itu menoleh dan mendapatkan wajah Kyung-Soo yang terlihat penasaran.
"Apakah wajar seseorang bercerita masalah pribadinya pada seseorang yang sama sekali belum dikenalnya?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum membuat Kyung-Soo tertegun.
Laki-laki itu benar. Mungkin aku terlalu lancang bertanya masalah pribadi seseorang yang belum aku kenal, pikirnya.
"Aku minta maaf. Pertanyaan tadi tidak usah dijawab." Ucap Kyung-Soo sambil menganggukan kepalanya meminta maaf. Sekali lagi laki-laki itu hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Kyung-Soo.
"Kim Jong-In." Katanya sambil mengangkat tangan kanannya memperkenalkan diri. Kyung-Soo menoleh dengan tatapan kaget. "Narang chingu haja."
Matanya kini menatap tangan seseorang bernama Jong-In yang terangkat itu. Matanya lalu beralih menatap wajah Jong-In yang tersenyum tulus sambil mengerak-gerakan tangannya menunggu Kyung-Soo menjabat tangannya.
"Do Kyung-Soo." Ucap Kyung-Soo sambil menjabat tangannya setelah ragu beberapa saat membuat laki-laki itu tersenyum lebar. Kyung-Soo ikut tersenyum tapi dengan mata yang masih menatap heran.
"Anda benar-benar mau berteman dengan saya?" tanya Jong-In masih tidak yakin dengan keputusan Kyung-Soo yang balas menjabat tangannya.
Kyung-Soo berpikir sekejap lalu mengangguk mantap membuat Jong-In lagi-lagi tersenyum lebar. Kini Kyung-Soo juga ikut tersenyum lebar.
Matanya kini menerawang lurus menatap segelintir orang yang berlalu-lalang didepannya. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara petikan gitar yang tak lain berasal dari teman barunya, Jong-In. Ia lalu menatap Jong-In yang kini memainkan lagu dengan riang. Tak sadar, sudut bibir Kyung-Soo terangkat.
Awal yang baik, pikirnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia mempunyai seorang teman. Teman pertamanya di Korea setelah ia dewasa.
Teman baru bernama Kim Jong-In.
To be continued...
...
Balasan Reviews :
Helluva: Kenapa uglynya? Dibagian apa? Makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
ArraHyeri : Umur yixingnya 34 tahun :-) Makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
yoo araa : Ayo siapa ayooo? :-D Makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
KaiSa : Iyaaa ini kelanjutannya ^^ Makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
myeolchi gyuhe : Ayo siapa cobaa? Yixing itu ibu tirinya Kyung-Soo :-) oke makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
Han Young Seul Kaisoohardship : Sip :-) makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
penghulu kaisoo : see it later bb :D makasih udah review, jangan lupa review lagi yaaa :-)
makasih buat viewers yang udah review xoxoxoxoxoxo
If you have any suggestion, advice, or comment, please review ^^
Thanks a lot xoxo
