Dislaimer : Naruto adalah manga yang dibuat oleh Masashi Kishimoto. Kalau pun saya yang punya,
pasti Hinata udah jadi sama Naruto.
Incompatible Pressure
Mizukaze-hime
Hinata Hyuuga merasa gugup. Sejak tadi, ia tiada henti – hentinya mencoba menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. Keringat dingin mulai bercucuran dari kening putihnya, tangannya sendiri pun mulai basah. Yah, ia gugup setengah mati. Bagaimana tidak? Hari ini, dia, Hinata Hyuuga akan menemui calon suaminya yang hanya dia kenal lewat pemberitaan di televisi, atau pun beberapa informasi yang dia sudah kumpulkan malam kemarin dari kolega bisnisnya. Ia jalarkan pandangan matanya ke sekeliling cafésederhana yang menjadi tempat pilihan Hinata untuk menemui Sasuke. Ia sudah memesan tiga gelas air putih dan semuanya sudah habis ia minum. Rasanya dengan meminum banyak air ia bisa menghilangkan sedikit ketegangannya. Ia ingat sekali kalimat yang tadi dikatakan oleh Hanabi. Kesan pertama itu sangat penting, kau harus bisa menaklukan hati seorang Uchiha dengan sekali tatap. Yah, kalimat itulah yang dari tadi terngiang-ngiang di pikirannya. Hinata pun menundukkan kepalanya mencoba untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Tiba – tiba kursi yang dari tadi kosong lompong di hadapannya sudah diduduki oleh seseorang. Hinata pun mencoba mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih jelas pemuda berkemeja hitam kasual itu.
"Uc-ch-chiha-san?"
"Hn," kata Sasuke dengan datar tanpa melihat lawan bicara, dia justru memandangi pengunjung lain. Sontak Hinata pun merasa makin depresi karena kesan pertama yang ia ingin tampakkan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan calon suaminya terlihat lebih tertarik dengan ponsel hitam legam yang dari tadi sedang digenggam oleh Sasuke. Apa dia kalah menarik dari ponsel itu?
Sudah selang tiga puluh menit, tetapi mereka masih saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dari tadi, Hinata terus saja mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya, tetapi setelah ia mencoba untuk memulai pembicaraan entah mengapa suaranya menjadi redam. Sasuke pun hanya memperhatikan ponselnya. Kaku, canggung, mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan suasana mereka berdua.
incompatible pressure
Rasanya jarang sekali Ino berkunjung ke rumah sakit tempat Sakura berkerja. Ia sudah lama tidak menjumpai temannya yang satu ini. Ino pun mulai membuka pintu ruang kerja Sakura. Ia sengaja tidak mengetuk dahulu dan berencana untuk mengagetkan Sakura selanjutnya. Saat Ino membuka pintu ruangan itu, ia justru melihat Sakura yang sedang tertidur di atas meja dengan tangan yang masih menggenggam pena. Ia pun mencoba mengguncang – guncangkan badan Sakura secara perlahan.
"Aku kan sudah bilang, setengah jam saja!" kata Sakura setengah sadar. Kemudian ia mencoba untuk memperjelas pandangan matanya, dan ia pun melihat sesosok wanita cantik dengan rambut blondekhas wanita tersebut. Tawa pun sudah tak dapat terbendung. Ia pun memeluk erat sahabatnya itu. "Ino! Aku kira siapa! Aku rindu padamu," kata Sakura sambil tertawa lagi. Kemudian Ino berjalan mengambil bunga yang dari tadi ia bawa dan meletakkannya di vas bunga milik Sakura. "Bagaimana kabarmu?" tanya Ino sambil mencoba mendudukkan dirinya di sofa putih bergaya Romania itu. "Baik sekali!" jawab Sakura dengan cepat. Sakura sudah hilang akal, dia tidak mungkin bisa menyembunyikan berita tentang hubungannya dengan Sasuke yang sudah semakin dekat. Walaupun Sasuke tidak pernah mengatakan cinta kepadanya, tetapi ia yakin bahwa sekeras apapun hati Sasuke pasti ia bisa menaklukkannya. Rona merah pun sudah terlanjur tersimpul di pipi tirus milik Sakura. "Aaa…, kau menyimpan rahasia,ya?" goda Ino. Sakura pun duduk di samping ini. "Ini tentang Sasuke…"
Incompatible pressure
Hinata sudah tidak sanggup, tidak kuat, ia tidak bisa duduk tenang di hadapan Sasuke tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Tidak bisa! "An-no, Uchih-ha-san," ucap Hinata pelan, seketika Sasuke pun menengadahkan kepalanya dan menatap Hinata lekat –lekat. "Kau takut padaku?" tanya Sasuke kasar. Ini pertama kalinya Sasuke Uchiha bertemu dengan makhluk yang bahkan berkata padanya saja terlihat begitu sulit. Hinata pun terperanjat mendengar nada kasar yang terlontar dari mulut Sasuke. Ia ingin menangis, tetapi kalau ia menangis sekarang itu hanya akan menambah bukti bahwa dia bukanlah calon istri yang baik. Ia harus bisa menahan air matanya. "Bagaimana mungkin kau akan menjadi calon istriku, kalau berbicara padaku saja kau tidak bisa," kata Sasuke datar. Hinata sudah tidak kuat, air matanya pun menetes perlahan, "Gomen," katanya sambil berusaha agar ia tidak terbata – bata dalam bertutur kata. Ia akui walaupun pria yang ada di hadapannya ini sangat memesona, tetapi mulutnya sangat menusuk. Sasuke pun menarik sedikit sudut – sudut bibirnya mendengar ucapan Hinata yang sudah tidak terbata-bata itu. Aku ingin lihat seberapa kuat pertahananmu seorang Hyuuga. Ia ingin melihat sekuat apa seorang Hinata yang terlihat begitu lemah itu.
Incompatible pressure
"Sakura – chan, apa kataku! Kau pasti bisa mendapatkan hati Sasuke. Bagaimana kalau nanti malam kita berkumpul bersama, aku sudah ajak Naruto-kun juga. Yah, sebut saja sebagai reunian kita," usul Ino dengan semangatnya. "Baiklah, aku akan menelpon Sasuke sekarang," sahut Sakura sambil mengeluarkan ponsel hitamnya. Ia pun menunggu Sasuke menjawab panggilannya.
"Moshi – moshi,"
"Hn, ada apa,"sahut Sasuke malas.
"Ino berkunjung ketempatku, dan dia mengajak kita untuk pergi bersama Ino dan Naruto, kau mau ikut?" tawar Sakura sambil memainkan helaian rambut merah mudanya. Ino pun hanya bisa menahan geli melihat Sakura yang sedang dilanda gelombang asmara.
"Hn," jawab Sasuke. Mungkin ini saatnya, pikir pria bermarga Uchiha itu.
Incompatible pressure
"Kau sudah selesai, Hinata – chan?" tanya Sasuke datar. Sasuke sudah berdiri dari kursi yang didudukinya. Hinata merasa aneh atas perubahan sifat Sasuke, baru saja dia memanggil dirinya dengan sebutan yang terkesan formal dan kaku, dan sekarang Sasuke memanggil ia seolah – olah sudah mengenal Hinata sejak dahulu. Hinata pun terdiam untuk beberapa saat, tenggelam dengan pikirannya, dan mengabaikan pertanyaan Sasuke. "Kau mungkin merasa aneh karena aku memanggilmu seperti itu, tapi hari ini kita akan menemui teman – temanku. Bersikaplah seperti layaknya calon istri, Hinata. Jangan panggil aku Uchiha, kau paham? Jangan bilang kalau hanya untuk hal ini saja kau tak bisa. Cepat," ujar Sasuke datar. Hinata pun hanya mengangguk.
Sasuke membimbing Hinata ke arah dimana mobilnya diparkirkan. Ia menarik lengan Hinata tanpa meminta izin pemiliknya. Kemudian, Sasuke pun menyuruh Hinata duduk di sampingnya. Selama perjalanan yang Hinata lakukan hanya menatap lengan kanan yang tadi Sasuke pegang. Hinata tidak peduli akan keadaan di sekelilingnya. Ia mengacuhkan Sasuke yang sedang mengemudi. Ia hanya berkonsentrasi dengan perasaan baru yang bergejolak di hatinya. Mungkin karena ini adalah kali pertamanya Hinata melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Satu hal yang pasti, ia telah hanyut dalam perasaan asing yang baru saja ia alami.
Incompatible pressure
Apetite Restaurant
Hinata membaca nama restoran yang baru saja ia masuki. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Sasuke yang berubah drastis. Hinata sempat berhipotesis bahwa Sasuke sedang mengalami amnesia, tetapi pikiran itu pun segera lenyap dari otaknya. Ia hanya bisa terkejut dalam diamnya melihat tingkah Sasuke. Tadi Sasuke memanggilnya dengan panggilan akrab, kemudian ia membukakan pintu mobil, setelah itu mempersilahkannya keluar dari pintu mobil. Dia sudah gila, pikir Hinata.
Di tengah kerumunan pengunjung, Sasuke pun mengulurkan tangannya, menyuruh Hinata untuk menggantungkan lengan kecilnya pada lengan Sasuke. Hinata pun menuruti kemauan Sasuke. Hinata ingat bahwa semua yang dilakukan Sasuke dan dirinya ini hanya untuk menunjukkan kepada teman – teman Sasuke bahwa mereka memang sepasang calon suami istri.
Incompatible Pressure
Sakura terperanjat. Ia jatuh, dalam. Sangat dalam sampai dia tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia lihat. Ia hanya bisa menggertakkan tangannya, mengepalkannya kuat – kuat. Ino dan Naruto pun sontak kaget. Naruto bahkan tersedak saat melihat sahabatnya, Sasuke, sedang menggandeng seorang wanita berambut indigo yang memakai dress tersebut. "Teme, siapa yang kau bawa itu?" tanya Naruto dengan geram. Sasuke pun menghiraukan pertanyaan Naruto. Ia mempersilahkan Hinata duduk tepat di sampingnya. Hinata merasa canggung. Ia merasa seperti sedang mengusik acara orang lain. Ia pun mencoba menebar senyum kepada teman- teman Sasuke. Sampai matanya tertuju pada wanita berambut merah muda menyala, ia merasa seperti pernah bertemu.
"Apa kau yang aku temui di pesawat? Sakura –san, bukan?" tanya Hinata lembut. Ia ingat jelas wanita cantik yang diselimuti aura feminim. Yang ditanya justru mengacuhkannya, Sakura marah pada wanita yang ada di samping Sasuke. Sakura juga ingat bahwa wanita di depannya adalah wanita yang pernah mendengarkan keluh kesahnya saat di pesawat. Sakura hanya bisa menatap Sasuke dan Hinata dengan tatapan tidak percaya. Aura panas sepertinya sangat kental mengarungi mereka, Ino pun mulai memecahkan suasana yang begitu kaku itu.
"Sasuke, aku tidak menyangka kau bisa berperilaku layaknya seorang pria? Siapa gadis cantik yang kau bawa ini?" tanya Ino menggoda. Walaupun Ino sedih melihat Sakura yang sepertinya ingin meninggalkan tempat itu, tetapi Ino masih ingin meminta penjelasan dari Sasuke. Ino benar – benar tidak percaya bahwa Sasuke masih saja mempermainkan hati Sakura.
"Aa…, kenalkan dia Hinata Hyuuga, calon isteriku, Hinata ini temanku Naruto, Ino, dan Sakura," tutur Sasuke datar. Naruto pun semakin dibuat terperanjat, begitu pula dengan Ino. Sakura yang mendengarkan hal tersebut sudah tidak bisa membendung air matanya. Ia pun pergi ke toilet untuk menenangkan hatinya yang kalut. Perjuangannya selama bertahun – tahun nampaknya sia – sia.
"Teme, kau jangan bercanda dengan kami!" kata Naruto geram, ia benar – benar tidak menyukai gurauan yang terlewat batas. Ino pun mengangguk menyetujui pendapat Naruto.
"Tidak. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Pernikahanku lusa,"kata Sasuke datar. Hinata terdiam, dari tadi keringat dingin sudah membanjiri dirinya. Ia seperti perusak. Ia seperti merusak hubungan pertemanan Sasuke. Mendengar penuturan Sasuke, Naruto dan Ino percaya bahwa apa yang baru saja mereka dengar bukanlah guyonan semata. Ino pun mencoba mengubah suasana menjadi lebih hangat.
"Oh…, kalau begitu bagaimana kalian bisa berkenalan, Hinata? Kau tahu sendiri betapa sulitnya menaklukkan hati Sasuke?" goda Ino. Hinata tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia terus berdoa dari tadi, ia berharap kalau sekarang ia masih berada di Kyoto. Dan lagi dengan jawaban apa ia bisa menjawab pertanyaan Ino itu. Menatap Sasuke saja butuh nyali besar apalagi menaklukannya. Melihat Hinata yang belum menjawab pertanyaan Ino, Sasuke pun berusaha menjawab pertanyaan Ino.
"Aku berhubungan jarak jauh dengannya. Sudah delapan bulan lebih," ucap Sasuke. Ino pun mulai menggoda Hinata dengan berbagai macam pertanyaan. Hinata pun hanya bisa tersenyum pasrah. Ya Tuhan, apa yang harus aku perbuat, batin Hinata memohon.
Incompatible pressure
Acara makan malam sudah selesai. Sasuke pun menyuruh Hinata untuk menunggunya di dalam mobil. Sasuke melangkahkan kakinya ke arah balkon yang ada di pojok restoran. Ia bisa melihat Sakura yang sedang menangis histeris sambil mengumpat nama Sasuke.
"Sakura," panggil Sasuke datar. Sakura hanya diam. Ia sudah malas menanggapi Sasuke yang kelihatannya hanya bermain – main dengan perasaanya. Sasuke yang melihat sikap Sakura pun langsung memegang bahu Sakura. Ia menatap Sakura dengan bola mata hitam legamnya. Sakura sudah tidak bisa menahan emosinya, ia pun menangis di hadapan Sasuke.
"Kenapa? Kenapa kau begitu kejam! Aku kira kau masih punya hati, Sasuke – kun. Dulu kau bilang kalau kau mau mencoba membuka hatimu. Tapi, sekarang kau justru membawa wanita asing, dan bilang kalau dia adalah calon istrimu! Apa kau mau membunuhku? Kalau itu tujuanmu, selamat kau berhasil!"
"Dengar Sakura, aku tidak pernah menjanjikan apa pun padamu. Aku memang pernah bilang kalau aku akan coba. Lagi pula dari dulu aku sudah memberi tahu kalau aku tidak akan membalas perasaanmu, dan kalau kau memaksa kau sama saja memintaku untuk menyakiti perasaanmu," tutur Sasuke datar.
Sakura pun semakin luluh lantah, ia terus menangis sambil memukul Sasuke berulang kali. Apa ini balasan yang diberikan oleh Sasuke. Ia sudah berjuang lama sekali untuk mendapatkan Sasuke. Sasuke pun meninggalkan Sakura, membiarkannya tenggelam di dalam pekat kesedihan. Melepaskannya yang selama ini terus mencoba mengejarnya tiada henti.
Bersambung…
Dan makasih banyak buat yang udah nge-fave, kritik, alert, review, silent reader (ehm…kali ini review ya…please!Sekalian doakan saya lulus SNMPTN. Amin, Ya Allah).
Jangan lupa review ya…
Oke balesannya:
aam tempe: arigato udah nge-fave. Maaf lama yah? Gimana chap 2 ini? Oh ya, tadi siang aku makan tempe!( ga ada hubungannya)
Shaniechan: Iya nih shanie, kan tau sendiri gimana karakter Sasuke. Dia itu bisa buta Cuma gara – gara ambisi. Kan bakal ada Hinata, ntar semuanya mulai berubah. Ikutin aja kelanjutannya. Dan amin bakalan seru. Aku udah apdet nih tapi ga kilat soalnya dirumah lagi gak ujan (-_-) hehe
yurika: Hina udah ketemu sama sasu, cuma dia masih belum berani aja buat ngomong ke sasu. Maaf ya kalo lama. Semoga chappie ini memuaskan. Makasih ya
akarainatsu: makasih reviewnya, tuh hinata udah sama sasuke. Ntar review lagi ya?
OraRi HinaRa: Makasi…makasi…makasi reviewnya. Aku udah updet!
rie tsubaki: hinata ga bakal patah hati kok, dia kan tegar liat aja perjuangannya nanti. Review lagi yak?
Lollytha-chan: Salam kenal, makasih udah ngefav. Masa sih bagus? Perasaan ceritaku pasaran. Di pasar rebo ada, pasr minggu ada apalagi pasar malam
uchan: salam kenal…iya ucha sasuhina. Makasih udah review ya. namamu lucu.
Aya Kohaku:Wah masa sih…tapi makasih ya udah ngefav, mohon bantuannya. Iya saya juga tersiksa buat nih fic. Tapi emang pairnya bener sasuhina. Aya suka sasuke ya?
pappilonz: salam kenal juga… aku juga berharap gitu. Hinata emang kasihan kalo inget dia jadi nangis. Ayo kita beri pelajaran sasuke yang gelap mata itu. Makasih ya udah review
Saruwatari Yumi: Makasih ya udah suka sama ini cerita. Typo udah kubereskan. Chap ini ada typo ga? Dan fic ini benar benar sasuhina
Yumi Michiyo: Makasih reviewnya. Aku juga ga suka kalo hina dibikin lemot. Apa lagi gagap makanya aku lebih milih kata terbat- bata dari pada gagap. Buktinya waktu dia nyatain perasaannya ke naru ga gagap. Wah suka cerita perjodohan ya? Semoga ini masuk selera kamu
Reiko Fujyo Edogawa: ini bener sasuhina. Aku punya fic sasusaku kok, kalo mau baca boleh. Hehehe…makasih ya udah review
mia: sasuhina dong
uchihyuu nagisa: ia dia emang matre, tapi bukan duit melainkan kekuasaan. kan kalo di manga dia tuh matre sama kekuatan. Gimana caranya bisa ngebunuh kakaknya. Gitu? Sasuhina…makasih udah review
Fujiyama kuroku: Sasuhina…aku juga sependapat hina tuh cocok sama naruto. Aku NHL juga. Tapi lagi pengen nyoba pairing. Ntar aku bikin naruhina…baca ya
Keira Miyako: Dan tiada kata paling indah selain kata makasih
SasuHina fc: makasih…aku udah apdet
ichsana-hyuuga: aku juga suka. Makasih ya…
Tiada kado paling indah melainkan kehadiranmu, tiada kesan paling indah kecuali review darimu.
Salam ^_^
