Tolong jelaskan, bagaimana aku bisa memilikimu tanpa harus mengatakan aku mencintaimu?
Tolong jelaskan, bagaimana aku bisa mempercayai hatimu tanpa harus menjalin hubungan yang istimewa?
Tolong jelaskan, bagaimana jika aku bersikeras untuk memberikan sesuatu yang berharga dalam hidupku untukmu?
—OoO—
Kupinang Kau Dengan Bismillah.
Main pair: Jaehyun x Taeyong
Rating: T
Disclaimer: seluruh tokoh milik keluarga dan agensi masing-masing.
Warning! OOC, TYPO, GS, ISLAMIC AU.
BAKU - NON BAKU AREA.
—OoO—
"Jaehyun, ini kamar kamu." Siwon selaku kepala asrama putra memimpin jalan untuk menunjukkan kepada Jaehyun di mana letak kamarnya.
"Kenapa kasurnya banyak banget?"
"Kamu di sini tidak tidur sendiri anak manja! setiap kamar berisi delapan sampai sepuluh santri, jadi jangan mengeluh!" ucap Siwon dengan nada tinggi dipertegas.
"Baiklah."
Jaehyun berjalan memasuki kamar dengan mood yang sangat hancur. Kenapa papah dan mamahnya begitu kejam sampai mengusir anaknya ke pondok. Jaehyun tidak menyukai tempat ini, sekali lagi Jaehyun tidak menyukai tempat ini.
Sekumpulan pemuda dengan membawa sarung mendekati Jaehyun. Ada yang mengenakan sarung di leher, di pinggang, di punggung seperti sayap Superman, ada yang mengenakannya dengan cara yang benar. Sepertinya ada banyak sekali jenis otak manusia di asrama ini.
"Lah... Aing mah maen bola sepak teh eleh wae ku si Jeno."
"Ah Shownu mah eweh kabisa."
"Badan bongsor tapi ewehan otak, ngan makan jeung ngaganggu pak Siwon hungkul otakna."
"Sama wae jeung maneh Junhoe."
Jaehyun berbaring di kasur bersih tanpa noda miliknya sambil mengamati ketujuh makhluk asing yang baru saja masuk ke dalam kamar. Nada tinggi yang pita suara mereka miliki benar benar bagus, mereka berbicara dengan sangat lantang di kamar.
"Eh astagfirullah, kamu manusia?" teriak salah seorang pemuda yang baru saja datang dan melihat Jaehyun berbaring di kasur paling pojok dekat dinding.
"Lain, eta mah jurig."
"Astagfirullah, mbah maafkan saya mbah.... Saya mengaku tadi pagi saya mencuri mangga dekat ruangan pak Siwon tapi tolong jangan hantui saya mbah."
Jaehyun tetap diam dan menahan tawa karena melihat mimik wajah makhluk tinggi berbadan kekar dan berkulit eksotis ini. Setelah beberapa menit iapun tertawa dengan lantang di hadapan ketujuh teman satu kamarnya itu.
"Maaf suara saya terlalu lantang, perkenalkan saya Jaehyun murid baru." ucap Jaehyun sambil mengulurkan tangan.
"Murid baru... Saya Wonho, salam kenal."
Jaehyun berkenalan dengan ketujuh santri lama ini, ada Wonho yang selalu pakai peci terbalik, ada Shownu dan Junhoe yang memiliki badan kekar otak dangkal, ada Jongin dan Mingyu kakak beradik yang selalu bertengkar, lalu Mark si orang Barat, dan terakhir Jeno—anak pemilik pondok pesantren, adiknya Taeyong.
Jaehyun bernapas lega, ternyata teman baru yang ia miliki tidak seratus persen berjiwa anak rajin. Mereka bertujuh suka bolos, dan sering dihukum di tengah lapangan karena tak melakukan hafalan, mereka juga sering memanfaatkan kedudukan Jeno sebagai putra pemilik pondok—ya walaupun terkadang ayah Jeno suka menangkap basah kelakuan sang anak dan temannya.
Jaehyun sangat tidak menyukai anak rajin, menurutnya anak rajin itu hidupnya membosankan. Tetapi untuk type wanita, ia lebih menyukai wanita yang rajin serta baik akhlaknya.
"Kenapa mau masuk pondok?"
Sudah kesekian kalinya Jaehyun menghela napas, kalau diingat lagi rasanya itu membuat risih. Ia menceritakan semua kejadian kepada teman barunya, bukannya mendapat belas kasih ia justru mendapat tawaan dari ketujuh makhluk asing yang baru saja ia kenal.
"Kirain urang teh anak kota pinter kabeh."
"Siapa suruh ikut tawuran, huh?"
Jaehyun tidak terlalu mengerti mereka berbicara apa, ia tak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Tapi yang pasti, ia senang memiliki teman yang mau menerimanya dengan senang hati.
—OoO—
Jaehyun masuk ke dalam perpustakaan dan mencari buku Bahasa Inggris. Ia benar-benar tak mengerti bisa berada di tempat yang seperti ini, setiap orang bisa berbicara dengan Bahasa Arab di sini sedangkan ia tak bisa.
Ia berjalan mengelilingi rak buku dan mengambil apa yang ia cari, buku cerita dongeng dengan Bahasa Inggris.
Snow White, buku inilah yang menjadi pilihan Jaehyun untuk dibaca. Ia membaca sambil bersandar pada rak buku, tertawa lagi bersedih.
"Gadis yang malang, seharusnya ia tak memakan apel itu." gumamnya.
Jaehyun asik dengan dunia fantasinya, ia terus tertawa saat melihat kelakuan para kurcaci dan kesal saat melihat nenek sihir.
Suara buku jatuh terdengar di telinganya, menarik mata Jaehyun untuk melihat ke tempat asal suara. Terlihat gadis dengan banyak buku sedang terduduk di lantai, sepertinya ia baru saja melakukan kesalahan dengan menjatuhkan beberapa buku dari rak.
"Awh, aihh—kenapa juga harus jatuh, aduh kepalaku." gumam gadis itu sambil memegang kepalanya.
Jaehyun menghampiri gadis itu dan bertanya apakah ia baik baik saja, namun yang ia dapat hanyalah tatapan mata dari sang gadis.
"Ti—tidak apa apa, terima kasih."
"Jungwoo, kau tak apa apa?" Jaehyun menoleh ke arah asal suara.
Taeyong datang dengan membawa banyak buku di tangan, ia menghampiri gadis dengan nama Jungwoo. Taeyong menatap Jaehyun sekilas dan tersenyum. Berbeda dengan Jungwoo yang masih setia menatap wajah Jaehyun.
"Boleh aku bantu?" Jaehyun menawarkan bantuan pada Taeyong karena ia melihat gadis itu sangat kerepotan menaruh buku di lantai dan membantu temannya untuk berdiri.
"Terima kasih, kau murid baru?" Jungwoo bertanya pada Jaehyun sambil tersenyum lebar, Jaehyun hanya mengangguk.
"Namanya Jaehyun, dia murid baru di sini." jelas Taeyong.
"Eleuh eleuh... Meuni kasep pisan, lebih kasep daripada aa' Lucas."
Jaehyun menatap Taeyong seakan ia sedang bertanya, 'Temanmu ini bicara apa?' pada Taeyong.
Taeyong tertawa kecil saat Jaehyun memasang wajah tak mengerti pada Jungwoo dan menatap dirinya sambil menaikkan sebelah alis.
"Jungwoo bilang, kamu tampan."
"Masya Allah..." untuk kedua kalinya Jaehyun mengatakan hal yang sama ketika melihat gadis ini, senyuman Taeyong benar benar sempurna di mata Jaehyun.
"Kita duluan ya, mau kasih buku ini ke ustadzah Sandara." ucap Taeyong dengan lembut.
Jaehyun hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Jungwoo masih dalam keadaan terpana oleh ketampanan yang dimiliki seorang Jung Jaehyun.
Jungwoo bisa terpana oleh ketampanan Jaehyun, wanita lain juga bisa jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat fisik Jaehyun yang bisa dibilang mendekati kata sempurna. Tetapi, Taeyong tidak.
Taeyong hanya akan tersenyum dan tertawa di hadapannya, ia tak pernah menampakkan rasa suka di depannya seakan-akan ia tak peduli dengan fisik yang sempurna atau tidak. Itulah alasan mengapa Jaehyun menyukai Lee Taeyong sejak awal pertemuan.
Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari dalam diri gadis itu. Dia benar benar istimewa, tidak seperti gadis gadis yang Jaehyun temui di kota.
Sepertinya, Jaehyun benar benar menyukai Lee Taeyong apapun alasannya.
.
To Be Continue.
Note:
Hai!
Mungkin alurnya terlalu cepat ya? wkwkw. Jadi begini, saya tidak ingin membuat banyak chapter pada fanfik ini sehingga tidak akan ada banyak konflik di sini.
Untuk penggunaan Bahasa, saya memakai baku-non baku. Untuk dasarnya saya lebih mencondongkan pada Bahasa Baku, tapi untuk percakapan antar tokoh—karena ini genre general romance—jadi saya sedikit menggunakan Bahasa Non Baku. Bahasa non baku saya gunakan hanya untuk beberapa tokoh (untuk lebih mendalami tokoh orang daerah/orang asli daerah tersebut).
Sebenarnya cerita seperti ini sangat membosankan wkwkwk tapi entah kenapa saya suka dengan alur sederhana seperti ini. XD
