Blue sky
Disclaimer Masashi kishimoto
Author Roxelyn
Chapter one
.
.
.
.
Konoha 31 Agustus 2014
Malam yang mencekam menyelimuti kediaman Uchiha saat itu, hanya ada suara isakan tangis yang mengisi kediaman rumah mewah tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana pasalnya para keluarga Uchiha tidak pernah terbuka dan bergaul pada lingkungan sekitar mereka. Mikoto Uchiha—istri dari kepala keluara Uchiha itu hanya bisa mendekap erat ketiga anak kecil dihadapannya sambil menatap nanar jasad keponakannya yang tergeletak bersibah darah dengan lubang besar didadanya, tak jauh dari jasad keponakannya ada sesosok mahluk yang tidak dapat digambarkan wujudnya. Perpaduan antara singa dan naga yang membuat Mikoto hanya bisa menatap horor kearah ekor yang berlumuran darah keponakannya.
"Shi..." kepala Obito bergerak lemah, semua tubuhnya terasa remuk dan pandangannya semakin lama semakin kabur. Begitu juga dengan nafasnya yang semakin melemah, tangannya terangkat perlahan, menjulur kearah adik kecilnya yang menatapnya dengan kedua bola mata yang melebar sempurna dan air mata yang mengalir deras. Shisui menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, yang dia tahu bahwa kakaknya berhasil membunuh monster itu sebelum monster itu menancapkan ekornya kedada kakaknya. Kakak yang selalu melindunginya setelah kematian ibunya kini akan meninggalkannya sendirian didunia ini.
"Shisui..." dan kedua mata tersebut terpejam rapat saat dia mengucapkan nama dari adik kecilnya yang tidak akan pernah dia lihat lagi. Pikirannya melayang jauh saat kegelapan menyelimutinya hingga sebuah suara memanggilnya. "keponakan kecilku yang bodoh..." dia mengenali suara tersebut dengan baik. "kau seorang Uchiha, setengah dari darah dewa kematian berada didalam tubuhmu..."
.
.
.
"Bagaimana kalau kita membuat sebuah perjanjian...eh?!"
.
.
.
Namikaze Naruto, salah satu malaikat penjaga langit yang amat riang ini sangat mengagumi para manusia yang selalu ia perhatikan dari kolam harapan. Mulutnya menyenandungkan lagu yang lembut sambil memperhatikan aktivitas para manusia, bagaimana juga ia akan terjun kedalam dunia para manusia. Mahluk yang amat dia sayangi dan dia kagumi selama ini, berbeda dengan para malaikat yang berwajah datar dan terkesan serius. Malaikat muda tersebut sangat banyak ekspresi yang terkadang membuat para senior hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas lelah ketika melihat tingkah aktif Naruto selama ini.
"Naruto, kau harus bisa menyembunyikan indentitasmu sebagai malaikat." Kushina tengah menyisir rambut putri bungsunya dengan telaten dan sabar saat anaknya terdengar tidak perduli akan nasihat yang disampaikannya.
"Naruto..." Kushina mengelus helai pirang putrinya dengan lembut dan memeluknya dengan erat. "Okaa-san?"
"Jangan berpikiran untuk mencari ayahmu."
"T-tapi..." Kushina mencium kening anaknya dengan lembut dan mengusap pipi anaknya, menatap iris saphire yang membuatnya mengingat kenangan pahit yang selalu ingin dia lupakan selama ini. "berjanji pada okaa-san."
"H-ha'i..." menundukan kepalanya, Naruto mencengkram roknya dengan kasar. Bagaimana juga Naruto merindukan sosok ayahnya yang memilih dunia manusia ketimbang dunia atas, meskipun ayahnya memiliki status sebagai dewa angin Naruto hanya bisa berharap agar sang ibunda dapat memaafkan sang ayah yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan Naruto juga amat merindukan senyuman hangat sang ayah selama ini. "kau Uzumaki Naruto dan kau akan menggunakan Nama tersebut ddunia manusia nanti, pajam?" Naruto mengangguk, Naruto juga paham bahwa dia hanyalah seorang malaikat yang membutuhkan waktu untuk menentukan jalan hidupnya.
Akankah ia akan menjadi malaikat canti dengan sayap putih bersih tanpa noda atau malaikat kematian yang keji, malaikat yang tertawa saat mendengar teriakan kesakitan para manusia dan mencabut nyawa mereka tanpa perasaan sama sekali.
Tidak...
Naruto tidak ingin menjadi malaikat keji yang ditakuti para manusia yang ia sayangi dengan segenap hatinya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap ibunya dengan raut wajah yang menyakinkan. "ha'i aku tidak akan mencari ayahanda..." Kushina tersenyum puas dan memeluk putrinya dengan erat dan mengecup kepala anaknya berulang kali tanpa merasa bosan sama sekali. "sekarang ayo kita siap-siap, Aizawa-san akan mengantarmu didunia manusia."
"Okaa-san aku tidak mau bersama jiji tukan tidur itu..." jitakan halus mendarat dikepala Naruto.
"Naruto..."
"maaf..." Kushina menggeleng lemah dan mendorong punggung putrinya agar berjalan lurus. "okaa-san tidak perduli kau akan menjadi malaikat kematian atau malaikat seperti okaa-san." Naruto membalikan tubuhnya dan menatap heran kearah ibunya. Kedua matanya melebar saat melihar air mata yang menggenangi kedua mata ibunya. "jangan seperti kakak dan ayahmu..."
"...aku mohon..."
Naruto sontak memeluk ibunya dan Kushina membalas memeluknya dengan erat. "tidak apa-apa okaa-san, aku tidak akan seperti mereka kok, ini janji."
"Arigatou..."
.
.
.
.
.
.
.
"Aizawa-san, ini dimana?" Naruto memperhatikan seklilingnya dengan seksama, merasa takjub bahwa beberapa saat yang lalu mereka melewati sebuah gerbang dan mereka sekarang berada disebuah ruangan yang ramai, banyak sekali orang-orang yang tidak dikenalinya. Otomatis dia bersembunyi dibelakang Aizawa. Aizawa tertawa pelan dan menepuk kepala Naruto. "ini cafee, tempat para manusia berkumpul, well sebenarnya ini hanyalah tempat samaran yang dibangun oleh seseorang agar kita para malaikat dapat berbaur dengan baik." Naruto mengangguk paham dan taanpa sadar bertatapan mata dengan salah satu pengunjung cafee tersebut. "aku tidak suka tempat ini, ayo keluar."
Aizawa menaikan salah satu alisnya dan mengacak helai pirang Naruto dengan kasar."keluar? yang akan mengurusmu sudah datang loh."
"EHH! Bukankah Aizawa san akan menemaniku!" Naruto memeluk Aizawa erat dan pria tersebut menjitak kepalanya keras. "jangan manja, malaikat yang biasanya membuat keonaran sekarang ketakutan berhentilah bercanda!" Naruto terkekeh geli dan menjulurkan lidahnya. "Tapi kalau membahas malaikat disini apa tidak masalah."
"Seisi ruangan ini ada iblis dan juga malaikat jadi buat apa aku takut membongkar rahasiamu." Aizawa menghela nafas dan manik biru gelapnya memperhatikan sekelilignya dengan seksama. "seharusnya dia sudah disini." Naruto mendongak dan ikut mencari pria yang akan mengadopsinya didunia manusia ini.
"mencari siapa?" dan sebuah suara nyaris membuat Naruto berteriak kaget saat menemukan sesosok pria berambut hitam, seperti warna langit malam dan sepasang mata berwarna merah dan juga hijau memperhatikannya dengan seksama. Naruto seketika berhenti bernafas saat sosok rupawan tersebut tersenyum kearahnya dan Aizawa memelototinya dengan sadis. "Tobi!" yang dipanggil hanya tersenyum simpul dan mengangkat sebelah tangannya keatas seakan-akan tengah menyapa teman lama.
"jadi dia akan dalam pengawasanku?" Aizawa mengangguk dan mendorong punggung gadis itu pelan agar dapat berhadapan dengan Tobi. Tobi tertawa kecil dan mengelus helai pirang Naruto dengan lmbut. "selamat datang didunia manusia Naruto—" entah mengapa Naruto merinding saat Tobi tersenyum kearahnya. "kau akan dipanggil dengan nama Nakamura Yuzuki dan akan dikenal orang-orang sebagai putri kandungku."
"Ehh! Memangnya bisa?" Tobi tertawa geli. "didunia manusia uang berkuasa nak, bahkan uang dapat membuat seseorang melakukan tindakan keji." Menggengam tangan Naruto dan Aizwa mengangguk menyetujui ucapan dari Tobi. "kalau kau tidak terbiasa kau akan dikenal sebagai adik sepupuku? Bagaimana?" kali ini Naruto mengangguk mengiyakan dan Tobi berjalan kebelakang Naruto, memasangkan sebuah kalung berbandul prisma cantik sebagai hiasannya. Detik selanjutnya Naruto merasakan sebuah energi menyelimutinya dengan hangat. Aizawa bersiul kagum. "dewa kematian memang mengagumkan." Tobi menggeleng. "ayahku masih bermain dan aku hanya menggantikannya."
"Maksudmu Madara-sama masih berada didunia manusia?" Tobi mengangguk dan mengamati perubahan Naruto secara seksama. "well, you are soo pretty."
"huh! " Naruto berkedip saat merasakan hal yang aneh terjadi pada dirinya. "APA!" Tobi mengetuk dahi Naruto pelan. "Yuzuki, lady tidak boleh berteriak seperti itu." Naruto terdiam dan mengamati perubahan yang terjadi pada dirinya, Aizawa memberikan cermin kepadanya. Sepasang mata berwarna hijau kebiruan dan juga rambut berwarna hitam bergelombang menyentuh pinggangnya menambah kesan manis dan anggun padanya. Pakaiannya juga berubah, dia seperti bangsawan inggris . Tobi menggengam tangannya dan tersenyum. "kau cantik, sekarang angkat dagumu dan pandanglah dunia ini dengan keangkuhan."
"T-tapi..."
"manusia seharusnya merasa diberkati dapat berjalan dengan kita atau berteman dengan kita."
"Tobi." Aizawa menatap tajam kearah rekannya. "dia menyayangi manusia, jangan membuatnya bimbang."
"aku tahu." Tobi tertawa. "dia harus memasang dinding agar para manusia enggan mendekatinya kan?" Aizwa menggeleng. "biarkan dia bertindak sesuka hatinya." Tobi tersenyum mengejek.
"Aku akan membiarkannya, tapi saat berada disekitarku kau harus seperti para bangsawan yang menjunjung tinggi martabat dan harga dirinya."
"ehh, memangnya aku bisa?" Tobi dan Aizawa kompak mengangguk. "dia dikenal sebagai bangsawan inggris berdarah campuran, jadi jangan cemas. Naruto menatap bingung kearah mereka berdua dan langsung berwajah pucat saat senyuman setan tercetak jelas diwajah Tobi.
"Nakamura Yuzuki, kau akan menjalani latihan sebagai bangsawan mulai sekarang ini."
"EHH!" Naruto otomatis memeluk Aizawa dengan erat. "jiji!"
"Ganbatter Naru-chan." Tobi menarik tangan Naruto agar berjalan sejajar dengannya. "angkat dagumu dan tunjukan bahwa kau bermartabat tinggi, my lady."
"u-uhh o-okay." Tobi tersenyum dan terus menggandeng tangan Naruto hingga keluar dari cafee kemudian mengecup jari tangan Naruto. Naruto otomatis menahan nafasnya saat sepasang mata berbeda warna tersebut menatapnya dengan lembut. "selamat datang didunia manusia—"
.
.
.
"—my angel."
.
.
.
.
.
.
Tbc.
Sekian dan terima kasih
Ttd roxelyn
Singapura 27 Oktober 2017
.
.
.
Xd Xd XD review nee!
