"Apa yang sudah kalian lakukan hm?" tanya Madara pada dua muda mudi ini.

Dan yang ditanya jangan ditanya sudah seperti apa pucatnya wajah mereka yang sudah putih seputih salju dimusim dingin.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Wonderful life © Achika Yue

Pairing : Sasusaku

Rate: M (untuk jaga – jaga)

Genre: Romance, Drama

.

.

.

Sakura POV

"Apa yang sudah kalian lakukan hm?"

Glek

Pertanyaan kakek Madara terdengar seperti suara petir yang menyambar gendang telingaku. Lihatlah diriku saat ini , hanya memakai selembar handuk dan sebuah jaket yang kupegang untuk menutupi bagian dadaku yang tidak mampu tertutupi oleh handuk, serta keluar dari kamar seorang pria. Benar-benar tidak sopan. Oh tuhan dosa apa aku sampai harus terjebak dalam situasi seperti ini.

"Ehm…aku… anu ah ka-kami tidak sedang me-melakukan apa-apa Kakek Madara."

Shit! Kenapa aku jadi gagap seperti Hinata begini, ini bisa menambah kecurigaan kakek Madara. Bodoh... bodoh… bodoh.

"Benarkah?" tanya kakek Madara dengan alis terangkat dan kepala sedikit dimiringkan.

"Hn, dia benar, ini tidak seperti kelihatannya, kami hanya… maksudku Sakura kemarin menginap disini." kata si chickenbutt itu berusaha membela. Tapi apa ia sadar, kenapa mesti bilang menginap segala sih. Helloooo… rumah mu biarpun mewah hanya ada satu kamar chikenbutt bodoh―tidak terhitung kamar yang digunakan sebagai gudang. Aku melotot kearahnya, semoga dia paham akan kesalahannya. Tapi lucu juga melihat Sasuke salah tingkah. Ternyata orang seperti si ayam itu bisa grogi juga ckckckck.

"Hn, sudahlah, Kakek mengerti, kalian benahi saja diri kalian dulu. Kakek tunggu dibawah ada yang ingin Kakek bicarakan." ujar kakek Madara tegas namun sepintas kulihat ia tersenyum penuh arti. Apa itu? Entahlah namun setelah melihat senyum kakek Madara rasanya perasaanku jadi tidak enak. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.

"Kenapa kau keluar dengan penampilan seperti ini, Jidat?" bisiknya padaku dengan nada kesal setelah kakek Madara turun kelantai satu. Hei asal kau tahu saja aku jauh lebih kesal huh!

"Kau pikir aku tidak malu dengan keadaanku seperti ini heh? Kalau aku tahu dimana bajuku aku tidak akan repot-repot keluar, Chickenbutt Baka! Sekarang cepat beri tahu aku dimana kau simpan bajuku!" balasku emosi, memangnya dia pikir siapa yang membuat keadaan serunyam ini, aku disini juga karena permintaan bodohnya itu.

"Aku lupa menaruhnya dimana, sebaiknya kau pakai saja bajuku dilamari, karena aku tidak mau membuat Kakek menunggu," katanya tanpa dosa. Sabar Sakura, ingat ada kakek Madara sudah menunggumu. Sebenarnya aku juga pasti akan merasa tidak enak jika harus membuat Kakek Madara menunggu lama. Aku menghormatinya, sangat, karena aku mengenal kakek Madara dengan baik. Ia kakek yang ramah dan berwibawa tidak seperti cucunya ini yang menyebalkan. Jadi tak banyak komentar segera aku ikuti perintah si Ayam itu. Lihat saja nanti akan kujambak rambut pantat ayamnya itu.

Aku bergegas mengambil pakaian Sasuke dilemarinya. Aku menemukan kaos hitam dan celana pantai miliknya lalu cepat-cepat kupakai. Setelah mengenakan pakaian Sasuke yang jelas kebesaran di tubuhku, aku keluar dan berjalan beriringan dngan si pantat ayam ini turun kelantai satu menemui kakek Madara yang tangah duduk di sofa menunggu kami.

Aku duduk bersebalahan dengan Sasuke yang dihadapan kami duduk kakek Madara dengan wajah bersahajanya. Ia terus menatap kami intens, jujur saja aku tidak mengerti tatapannya itu. Aku menundukan kepalaku sedikit canggung mengingat kejadian yang baru saja kualami. Aku tidak tahu tapi aku merasa sekarang aku seperti maling yang sedang diadili karena telah tertangkap basah tengah mencuri.

"Jadi, ada apa Kakek kemari?" tanya si chickenbutt itu memulai pembicaraan.

"Hn, Kakek sudah lama tidak melihatmu, rasanya bukan suatu hal yang salah jika aku menjengukmu Sasuke." kata Kakek Madara berbasa basi. Oh ya aku lupa ia kan sudah lama tinggal di Otto jelas saja Sasuke heran akan kunjungan mendadak Kakeknya ini

"Oh begitu, tapi kenapa Kakek tidak mengabariku sebelumnya?" sepertinya si chickenbutt ini masih penasaran. Tentu saja siapa yang tidak kaget, tidak ada angin tidak ada hujan kau kedatangan kerabat dari Otto. Otto-Konoha jelas-jelas bukan jarak yang dekat.

"Tadi Kakek menghubungimu ketika sampai di bandara, Namun sepertinya kau sedang sibuk jadi tidak bisa dihubungi." terang Kakek Madara dengan senyuman penuh arti pada kami? Oh tidak, senyuman itu lagi. Sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya kakek Madara menghela napas

"Yah sudah, sepertinya memang aku tidak pandai berbasa-basi. Kau juga terlihat tidak sabaran. Jadi… maksud kedatanganku kemari adalah untuk mengurus hak waris atas segala harta benda yang kumiliki untuk kuberikan pada kau pewaris tunggal keluarga Uchiha, Sasuke." jelas kakek Madara panjang lebar. Aku merasa sedikit risih mendengar percakapan duo Uchiha yang sepertinya cukup pribadi ini.

"Warisan? Apa yang Kekek bicarakan sih? aku tidak―"

"Ini keputusanku Sasuke, aku sudah tua dan tidak tahu umurku sampai kapan. Jadi semua harta benda yang kumiliki akan kuwariskan padamu dan aku ingin segera melihat kau berkeluarga, Sasuke." sela kakek Madara cepat memotong ucapan Sasuke.

Wah percakapan mereka semakin privasi, kurasa sudah saatnya aku kabur dan pergi dari perbincangan yang tidak ada sangkut pautnya denganku ini.

"Eh…ano Kakek Madara sebaiknya aku buat minuman dulu, hehe." aku buka suara sambil tertawa canggung, aku sebal karena sejak tadi aku seperti patung yang tidak dianggap, menyedihkan.

Baru saja aku beranjak, kakek Madara menghentikan ku dengan kata-katanya. "Kau disini saja Sakura, tidak apa-apa. Ini juga berkaitan denganmu."

What? Berkaitan denganku? Sejak kapan aku ada hubungan dengan hal-hal privasi mengenai keluarga Uchiha. Selain sebagai sahabat si chickenbutt ini setahuku kedua orang tuaku hanya berteman baik dengan keluarga Uchiha, itu saja tidak ada yang khusus. Tapi aku mau tak mau duduk kembali setelah sebelumnya sempat berdiri.

"Maksud Kakek?" tanya Sasuke yang buka suara, ia terlihat bingung sama sepertiku .

"Hmm begini, sebelum datang kemari Kakek memang bertujuan untuk memberikan hak waris kepadamu dan segera mencarikan jodoh untukmu, karena selama ini kau belum pernah mengenalkan satu gadispun padaku. Padahal menurutku usiamu sudah cukup untuk berkeluarga. Namun sepertinya aku tidak perlu mencarikannya karena kau sudah mempunyai pilihan yang tepat, bukan begitu nona Haruno?" kakek Madara tersenyum manis sangaaat manis bahkan terlalu manis kearahku.

Ya tuhan aku hanya bisa sweatdrop, kenapa aku sampai tidak bisa menangkap arti senyuman Kakek tua ini yang sedari tadi dipamerkannya. Harusnya aku menyadari sejak tadi bahwa ada maksud tersembunyi di balik semua senyumannya itu. Dan ini pasti karena insiden konyol tadi. Ternyata firasatku benar. Tuhan tolong selamatkan hamba-Mu ini.

"Ta–tapi kami… tidak ini ti-tidak seperti yang Kakek pikirkan. Kami tidak..." arrrgghhh sial aku tergagap lagi, ucapkan terimakasih pada kerongkonganku yang terasa tercekat untuk mengucapkan kata-kata yang seharusnya lebih bisa diterima. Sepertinya ini hari terburukku karena otak yang sering ku gunakan untuk meraih prestasi gemilang di akademik saja sedang enggan membantuku.

"Apa yang Kakek pikirkan? kami tidak sejauh itu." sela Sasuke cepat yang terlihat gusar dengan kata-kata kakeknya. Sepertinya kami satu pemikiran.

Bagus! Selamatkan nasibku ayam, err... nasib kita maksudku.

"Kurasa ini keputusan yang tepat untukmu, kalian tidak usah menutupinya. Sudahlah tidak usah malu begitu Kakek juga pernah muda kok, hahah!"

Kalau tidak ingat kau Kakek tua yang baik hati sudah kuikat kau di pohon dan kusumpal mulutmu agar berhenti berbicara dan tertawa nista.

"Tapi Kek, ini terlalu mendadak aku tidak bisa, lagipula Kakek salah―"

Ayo kau pasti bisa Ayam! Perjuangkan hidup kita, semanga―

"Kalian akan menikah. Ini sudah menjadi keputusanku. Tidak bisa diganggu gugat. Dan kalian, bersiaplah!"

Apa katanya tadi? Menikah? Aku dan si chickenbutt? Ohh katakan pada siapapun tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Tapi sayangnya ini kenyataan, jadi tolong siapapun itu adakah yang mau meminjamkan mesin waktu agar aku bisa lebih dulu membungkam mulut Kakek tua itu sebelum berbicara se enak jidatnya. Atau adakah shinigami yang mau meminjamkan kekuatannya padaku agar terlebih dahulu aku bisa membawa si kakek tua itu ketempat yang lebih damai, eh kurasa untuk yang terakhir aku sangat keterlaluan.

Jangan-jangan apakah ini yang namanya karma? Karena kami sebelumnya telah menipu si gadis pirang yang sombong itu. Tapi aku kan hanya membantu sahabat chickenbuttku kenapa bisa jadi begini? Tunggu, sahabat chickenbutt? Oh tentu saja ini semua gara-gara si Ayam itu. Awas kau Uchiha Sasuke ayyyyyyyaaaam!

"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu Sasuke, silahkan lanjutkan kembali kegiatan kalian," ucap kakek Madara sambil menyugingkan senyum menggoda pada kami, yang sayangnya bukannya membuat diriku tersipu malah membuatku ingin mencakar wajahnya. Tapi sekali lagi ingat Sakura dia hanya seorang Kakek tua tak berdaya yang paling menyebalkan yang pernah ada. Sekarang aku tahu warisan siapa sifat menyebalkan si ayam itu.

Kakek Madara pun beranjak dari tempat duduknya. Setelah berdiri ia terlihat seperti mengingat sesuatu yang terlupakan, kemudian ia berkata.

"Oh ya!" ucapnya lalu ia mengambail kotak kecil seperti bungkusan permen berwarna merah disebelah tempat ia duduk tadi. "Ini kakek temukan di balik bantal itu." Kakek Madara menunjuk bantal-bantal sofa yang biasa berjejer manis menghiasi sofa. Dan kemudian meyodorkan kotak merah itu di meja yang ada dihadapan kami lalu berkata. "Benda seperti itu sebaiknya kalian taruh baik-baik, jangan tergeletak sembarangan begitu. Tak kusangka… kalian sudah besar yah." lanjutnya lagi lalu melangkah pergi meninggalkan Sasuke yang bengong dan aku sudah menganga, cengo stadium akhir.

Omong-omong kalian tahu kotak apa itu? Kotak itu adalah… KONDOM saudara-saudara! Oh maaf aku terlalu emosi. Jangan tanyakan kepadaku kenapa ada kondom di balik bantal sofa itu, karena aku juga tidak tahu, yang aku tahu sekarang, aku ingin langsung mencekik pemilik rumah yang membiarkan benda seperti itu tergeletak sembarangan. Sumpah aku tidak menyangka Sasuke yang dingin pada perempuan―walaupun tetap menjaga imagenya namun seringkali tebar pesona―menyimpan sekotak kondom yang mungkin berisi entah berapa buah di rumahnya dan tergeletak begitu saja. Jadi jangan salahkan Kakek Madara yang sekarang berpikiran terlalu jauh tentang kami. Aku hanya bisa mengelus dada sambil berucap 'sabar Sakura, kuatkan hatimu'.

Sakura POV end

xxxxx

Sasuke menjambak rambutnya frustasi, ucapan Kakeknya memang tidak pernah bisa dianggap main-main. Karena jika seorang Uchiha Madara sudah memutuskan maka perkataanya bukanlah keisengan belaka. Memang kalau dilihat-lihat selera humor keluarga Uchiha itu sungguh minim jadi mustahil seorang Uchiha Madara membuat sebuah lelucon konyol tentang sebuah pernikahan. Apalagi ini menyangkut pernikahan cucunya sendiri. Semenjak orang tua dan kakakny tiada, Sasuke memang dirawat dan dimanjakan dengan semua kekayaan Kakeknya tapi sebagai balasannya ia harus menjadi cucu yang manis dan patuh pada sang kakek. Ok selama ini Sasuke tidak masalah tapi ini soal pernikahannya, menyangkut masa depannya. Ia tidak habis pikir harus menuruti perintah Kakeknya lagi.

Sasuke mengusap wajah tampannya yang terlihat kusut. Ia masih berpikir keras mengenai masalah yang sedang menimpanya. Setelah perdebatan sengit dengan Sakura sesaat setelah kakeknya pulang. Ia langsung dihubungi bahwa pernikahannya akan segera dilangsungkan dua minggu lagi. Astaga! dua minggu lagi? Yang benar saja! bahkan Sasuke tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan bahwa ia dan Sakura tidak memiliki hubungan apa-apa dan semua persepsi Kakeknya adalah salah besar. Tapi ia lalu menghela napas panjang otaknya mulai mengingatkan bahwa percuma saja mengelak dari keinginan kakeknya yang sangat keras kepala. Dan lagi daripada ia dijodohkan dengan gadis yang tidak jelas lagi seandainya ia menolak pernikahannya dengan Sakura pasti akan lebih merepotkan. Setidaknya kalau dengan Sakura ia sudah mengenal baik gadis itu.

'Lagipula Sakura tidak terlalu buruk' batinnya menutupi sebagian hatinya yang sebenarnya mengakui fakta bahwa gadis merah muda itu cukup banyak diminati para pria di sekelilingnya. Yah mau bagaimana lagi, gengsi Uchihanya terlalu tinggi.

Sedangkan ditempat lain. dikediaman keluarga Haruno.

"Sakura-chan, Ibu ingin kau tidak menolak permintaan Kakek Madara. Kau tahu diluar sana banyak gadis-gadis yang ingin mendapatkan kesempatan emas sepertimu. Dan kau malah menyia-nyiakannya," ucap nyonya Haruno menceramahi putri tunggalnya di meja makan keluarga Haruno. Mereka telah menyelesaikan makan malam mereka.

"Ibu, kumohon aku tahu hal itu tapi aku tetap tidak bisa bu." bantah Sakura yang mulai jengah mendengar ibunya berceramah.

"Sasuke-kun itu tampan, baik, mapan kurang apa lagi sih Sakura!" Ibu Sakura masih bersikeras mempertahankan pendiriannya. Ia begitu gembira saat Uchiha Madara menghubunginya untuk memberitahu rencananya berbesanan dengan keluarga Haruno.

"Ibuuuu… sekali lagi aku bilang tidak bisa yah tidak bisa bu, lagipula aku masih kuliah. Aku tidak mau masa mudaku harus direpotkan dengan mengurus suami dan anak. Aku masih ingin mengejar cita-citaku, Bu." sanggah Sakura lagi yang juga tidak mau kalah dengan Ibunya.

"Ehm..." suara seorang pria mengalihkan kedua wanita berambut sewarna ini. Diikuti dengan deritan kursi makan yang ditarik.

"Pernikahan tidak akan menghalangi cita-citamu Sakura. Segalanya bisa diatur dan dibicarakan dengan baik. Lagipula kau harus menghargai keputusan Kakek Madara. Dulu ia pernah berbuat baik pada kita, kau tahu saat kita terpuruk kakek Madara lah yang datang mengulurkan bantuan pada keluarga kita. Tapi kau jangan salah, kami menyetujui keputusan kakek Madara untuk menikahkan kau dengan Sasuke bukan semata-mata kami mengorbankanmu sebagai balas budi. Tapi sejujurnya kami melihat Sasuke adalah pasangan yang tepat untuk menjagamu, kami mengenalnya dengan baik, Ayah rasa ia laki-laki yang bertanggung jawab dan pantas untukmu." terang tuan Haruno panjang lebar.

Hening

Sakura terdiam masih mencerna kata-kata ayahnya, ia juga sempat bimbang jikalau ia harus menolak keputusan kakek Madara yang tiba-tiba karena insiden konyolnya. Entah kata-kata apa yang mesti ia katakan pada kakek Madara. Sakura tidak sampai hati jika harus menyakiti Kakek tua itu dengan mengecewakannya juga mengecawakan kedua orang tuanya yang antusias akan rencana pernikahannya. Tapi ia juga tidak mau menikah di usia dini seperti ini, karena ia sudah menyimpan sederet rencana untuk menyongsong masa depannya untuk bisa menggapai cita-citanya sebagai seorang dokter handal. Lagipula bagaimana dua orang berbeda jenis dan karakter menikah tanpa cinta? Hmm Sakura masih berpikir ia sempat mengagumi sosok seorang Uchiha Sasuke tapi ia yakin perasaanya hanya sekedar kagum, selebihnya lebih banyak sikap menyebalkan yang ada pada sahabatnya itu. Jadi itu juga tidak bisa disebut cinta kan?

Tapi ia ingat kedua orang tuanya juga menikah karena dijodohkan dan mereka bisa saling mecintai bahkan mucul dirinya. Tapi, Hei! Itu jaman dahulu, lain dulu lain sekarang. Namun Sakura juga menyadari terkadang dalam hidup ini harapan yang kita inginkan semuanya tidak bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ingatlah Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Tidak selamanya apa yang kita inginkan baik untuk kita, sekarang yang bisa kita lakukan hanya bagaimana kita menyikapi hidup yang kita jalani dan apa yang Tuhan berikan pada kita karena sesungguhnya kitalah yang memilih jalan kehidupan kita sendiri.

"Hm, baiklah aku setuju." jawab Sakura pasrah menutup perbincangan ditengah keluarga Haruno itu. Sedang kedua Haruno senior itu tersenyum penuh kelegaan dengan jawaban putri semata wayangnya.

xxxxx

Kantor Kepolisian Konoha distrik pusat terlihat ramai siang ini, seperti biasa para pegawainya tengah sibuk mengerjakan aktivitasnya masing-masing. Di sudut ruangan yang bertuliskan 'meeting room' terdapat lima orang pria tengah bercengkarama usai rapat yang telah selesai lima belas menit yang lalu.

"Hhhh kalau saja tidak ada rapat mendadak seperti ini, sekarang aku pasti sedang berada dirumah menikmati hari libur bersama Hinata-chanku." keluh Naruto melatakan kepalanya menyamping diatas meja diantara kedua tangannya yang terjulur kedepan.

"Sebaiknya jangan Naruto, kasian istri dan calon bayimu." timpal seorang pria bertato segitiga di pipinya―Inuzuka Kiba

Naruto mengangkat kepalanya memandang kearah Kiba. "Memangnya kenapa?" tanya Naruto pada Kiba yang menopang dagunya dengan sebelah tangannya.

"Setahuku ibu hamil itu moodnya cepat berubah, kalau ia terlalu sering melihatmu aku khawatir istrimu akan bosan, lalu sebal padamu dan jika seorang ibu hamil sampai membenci seseorang maka janinnya akan mirip sekali dengan seseorang yang dibencinya, begitu." terang Kiba dengan wajah tanpa dosa.

Naruto terlihat berpikir, lalu pria berambut coklat panjang alias Neji Hyuuga Kakak ipar Naruto menepuk bahu Naruto. "Benar kata Kiba, sebaiknya jangan sampai terjadi, kuharap anak kalian akan mirip adikku." ujarnya seraya beranjak meninggalakan ruangan itu.

"Heiiii!" seru Naruto yang sudah 'connect' kemudian mendeathglare Kiba, sedangkan yang ditatap hanya memamerkan sebuah cengiran dan mengacungkan dua jari, jari telunjuk dan tengah serta berujar 'bercanda kok'.

"Jadii benar berita kau akan menikah itu, Sasuke?" tanya sebuah suara yang bersumber dari sesosok pria bermasker yang sukses mengalihkan perhatian dua orang yang sedang 'bersitegang' disebelahnya. Terlihat sekali bahwa pria bermasker itu lebih tua diantara tiga pria lainnya yang berada disitu. Kalau kalian bertanya kenapa pria bermasker ini tahu soal rencana pernikahan SasuSaku, tentu saja karena pria bermasker ini yang bernama Hatake Kakashi adalah salah satu kolega dari Uchiha Madara.

"Hn." gumam Sasuke yang masih berkutat dengn handphone ditangannya. Sepertinya ia tidak terusik akan pertanyaan Kakashi.

"Uappaa!Teme akan menikah? Serius? Kau akan menikah dengan siapa Teme?" tanya Naruto yang tiba-tiba bergabung sambil berteriak dengan suara cemprengnya.

"Berisik, Dobe. Aku menikah dengan siapa, nanti juga kalian akan tahu." jawab Sasuke cuek masih sibuk dengan handphone nya.

"Teme pelit."

"Hn."

"Ayolah, Teme, masa kau tidak mau memberitahu kami, memangnya kau tidak mau mengundang kami haa?" cecar Naruto yang masih penasaran akan siapa calon pendamping sahabatnya itu.

"Kau sudah mengenalnya, Dobe. Jadi tidak perlu kuberitahu dari sekarang." timpal Sasuke datar ia menatap ke arah Naruto sekilas lalu menyamankan posisi duduknya. Naruto hanya memandang dengan raut kebingungan ia tengah berpikir siapa gadis yang ia kenal dan berkemungkinan menjalin asmara dengan Sasuke.

"Oh ya Sasuke, sepertinya ada barangku yang tertinggal di rumahmu saat aku mampir dua hari yang lalu." seru Kakashi tiba-tiba manarik perhatian Sasuke kembali.

Sasuke mengerutkan keningnya tanda ia sedang berpikir untuk mengingat benda―milik Kakashi―apa yang tertinggal di rumahnya yang besar kemungkinan milik seniornya ini.

"Apa yang kau maksud bungkusan kotak kecil berwarna merah itu?" ucap Sasuke dingin menatap tajam ke arah Kakashi yang serta merta menganggukan kepala lalu menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum canggung di balik maskernya.

Kalau tidak ingat dia seorang Uchiha dan Kakashi adalah seniornya, rasanya Sasuke ingin memaki Kakashi saat ini juga atau mencekiknya bila perlu. Karena gara-gara benda nista milik seniornya itu, sukses menambah dugaan konyol Kakeknya. Yang mau tidak mau sekarang ia yang harus menanggung akibatnya. Hhhh... seharusnya Sasuke sudah tahu sejak awal siapa lagi yang singgah kerumahnya dan paling relevan dengan benda nista seperti itu kalau bukan seniornya yang terkenal akan kemesumannya.

xxxxx

"Menikah!" tariak seorang gadis berambut blonde yang diikuncir dengan model poni tail.

"Bisakah kau tidak usah berteriak Pig, lama-lama aku bisa tuli jika kau berteriak seperti itu terus," cibir Sakura mendelik kearah gadis blonde di hadapnnya. Sat ini Sakura dan sahabatnya Yamanaka Ino tengah berada di kantin Universitas Konoha yang tidak terlalu padat karena sekarang sudah lewat jam makan siang.

"Ah iya maaf-maaf heheh," cengir ino pada Sakura. " Tapi sungguh aku tidak percaya kau akan menikah secepat ini, kalau Hinata aku tidak heran." tambahnya lagi.

"Entahlah aku juga tidak tahu kenapa harus aku yang menjalani semua ini." keluh Sakura lemas, ia mengaduk-aduk jus di hadapannya.

"Kau dijodohkan?" Ino memicingkan matanya memandang sahabat pink-nya.

"Hm, bisa dikatakan seperti itu." ujar Sakura tak ada gairah.

"Sudahlah kau seharusnya bersyukur Jidat, setidaknya kau dijodohkan dengan Sasuke. Dia itu tampan dan juga kaya raya. Diluar sana masih banyak gadis yang dijodohkan dengan orang yang jauh lebih parah dari apa yang mereka bayangkan." hibur Ino berusaha membesarkan hati Sakura.

"Kau tahu, kau terdengar seperti Ibuku, Pig." balas Sakura sarkastik. Ia berpikir semua orang menganggap dirinya beruntung padahal mereka tidak tahu perasaanya.

Ino tertawa renyah mengeleng-gelengkan kepalanya. "Sakura… Sakura, semua orang pasti bilang seperti itu, tapi aku yakin orang tuamu juga tidak akan sembarangan memilih pria yang jadi pendampingmu Jidat"

"Tapi... bagaimana dengan perasaanku pig?"

"…"

"Aku tidak tahu apakah rumah tanggaku nanti bisa berjalan dengan baik, apakah nanti ada cinta diantara aku dan Sasuke, apakah aku bisa jadi istri dan ibu yang baik, apakah aku masih bisa meraih cita-citaku…..karena, sejak dulu aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup." Sakura menundukan kepalanya menyembunyikan raut wajahnya yang galau.

"Sakura…"

Merasa terpanggil Sakura mendongakan kepalanya menatap sahabat blonde-nya yang tersenyum lembut kearahnya. "Kau tahu sejak kita dilahirkan kita sudah hidup diikuti dengan apa yang disebut dengan resiko, setiap apa yang kita lakukan memiliki resiko. Apapun yang kau pilih semuanya ada resikonya Sakura, tinggal bagaimana kau menghadapinya. Kau bukan anak kecil lagi aku yakin kau tahu apa yang kau lakukan dan apa resikonya," Ino menggenggam tangan Sakura yang berada diatas meja masih menatap lurus kearah Ino. "kita tidak akan pernah tahu apapun kalau kita terus takut akan semua resiko yang akan kita hadapi, dan tidak pernah mencobanya. Percayalah segalanya akan indah pada waktunya." lanjut Ino masih dengan seyumannya.

Sakura membalas seyuman Ino, rasanya setelah berbincang dengan Ino hatinya terasa lebih ringan. Dan kata-kata Ino membuat Sakura lebih bersemangat.

"Ino.. terimakasih," ucap Sakura lalu membalas genggaman Ino pada tangannya.

xxxxx

Satu minggu berlalu begitu cepat bagi Sakura dan Sasuke yang tinggal menunggu satu minggu lagi untuk bersiap menjadi sepasang suami dan Istri. Kini mereka berada di sebuah toko perhiasan untuk memesan cincin setelah dua hari yang lalu memesan pakaian pengantin di butik milik sahabat Madara, yaitu Orochimaru, desainer terkenal di Konoha.

"Bagaimana dengan yang ini?" tawar Sakura pada Sasuke yang berdiri disebelahnya. Ia menujukan sepasang cincin emas putih yang simple namun terkesan mewah.

"Tidak, terlalu simple." jawab Sasuke santai.

"Astaga! Kau bisa serius tidak sih? Ini sudah yang keempat kalinya kau menolak pilihanku, sebenarnya kau mau yang bagaiman heh?" geram Sakura frustasi, pasalnya Sasuke sudah menolak berbagai cincin pernikahan yang ia pilih.

"Aku ingin cincin kita memiliki lambang klan Uchiha dan ada nama kau dan aku didalamnya." Jelas Sasuke menerangkan keinginannya.

"Kenapa tidak bilang dari tadi sih, dasar Chickenbutt menyebalkan." dengus Sakura yang sebal karena dari tadi ia sudah repot-repot memilih cincin.

"Kau tidak tanya padaku." Sakura menoleh dengan tatapan mematikan mendengar kata-kata Sasuke sedangkan yang ditatap malah sibuk melihat perhiasan yang berjejer di etalase.

Sakura POV

Aku sebal pada pria berambut ayam disebelahku ini karena ia selalu saja membuatku kesal. Sekarang kami sedang mengurus pembayaran untuk pemesanan cincin pernikahan kami sampai sebuah suara menggangu telingaku memanggil nama orang yang berada disebelahku.

"Sasukeeeee-kuuun!"

Kami berdua menoleh dan terlihatlah sesosok perempuan berambut merah berlari menghampiri kami dan ketika sampai dihadapan kami dengan lancang ia memeluk Sasuke.

Sialan, ternyata si nenek sihir mata empat ini rupa-rupanya yang mengangu ketentraman kami yah walaupun tidak terlalu tentram juga sih. Dan.. apa-apaan itu pakai peluk-peluk si Ayam segala, menjijikan!

"Sasuke kau sedang apa? Membeli perhiasan untuk siapa?" tanyanya manja bergelayut dilengan Sasuke.

"Aku sedang memesan cincin pernikahan." jawab Sasuke tetap dengan wajah datarnya

"Ha? Siapa yang mau menikah?" tanyanya polos iyuuh.. menyebalkan, dia itu bodoh atau pura-pura bodoh sih? jelas-jelas jika seorang pria datang bersama dengan seorang perempuan ke Toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan berarti jelas mereka yang akan menikah. Atau jangan-jangan matanya sudah mulai rabun sampai ia tidak bisa melihatku.

"Aku akan menikah dengan dia," Sasuke manarik bahuku "Dan bisakah kau lepaskan aku, Karin." Ujar Sasuke dingin. Rasakan itu nenek sihir jelek.

"Tidak, kau pasti sedang mabuk atau sedang depresi, aku tidak percaya! Mana mungkin kau menikah dengan perempuan norak berambut pink ini," sahut Karin lalu menarik lengan Sasuke. "Ayo kau harus segera diperiksa!" katanya lagi tanpa dosa

Cih diperiksa katanya? Seharusnya dia yang diperiksa, masa dia bilang Sasuke mabuk, depresi, jelas-jelas Sasuke baik-baik saja. Malah kurasa dia yang tidak baik-baik saja. Dan dia bilang aku apa? Perempuan norak, Ooo kau ingin berperang denganku? Baik, ku layani nenek sihir mata empat.

Aku sudah mau membuka mulut membalas perkataan perempuan berkacamata itu, sebelum Sasuke menyentakan tangan Karin dan..

"Berhenti berbuat konyol Karin." katanya lalu…lalu... lalu…

CUP!

What the? Si ayam itu menciumku, ya menciumuku didepan Karin dan orang-orang yang berada di Toko itu tepat dibibirku. No! my first kiss. Aku merasa seperti tersengat lebah, jantungku berdetak lebih kencang, tubuhku membeku. Kurasa wajahku sudah sangat merah saat ini ketika benda kenyal basah dan dingin itu menyapu lembut bibirku.

Setelah melepaskan ciumannya, dengan cuek si ayam itu berkata seperti tidak melakukan apa-apa sebelumnya, "Dia memang calon istriku, Karin." Sasuke lalu menarikku pergi meninggalkan Toko itu. Dan aku hanya bisa pasrah mengikutinya.

Dan Karin? Aku masih sempat melihat ia menganga dengan wajah membiru, mungkin sebentar lagi akan keluar busa dari mulutnya.

Hidup memang penuh kejutan.

.

.

TBC

.

Haaaaaah selesai juga Chap ini, apakah jadi membosankan? gomen di chap ini author ingin menampilkan cerita antara kejadian awal mereka diputuskan menikah hingga Sasusaku menikah. author sih inginnya alur gag kecepatan tapi juga gag terlalu kelamaan jadi gag ngebosenin gitu heheh (nyengir gaje)#Plak

Kalo soal humor author sengaja menambahkan humor sebagai bumbu penyedap, halah. tapi serius tadinya sempet ragu takut nanti jadinya garing humornya, makanya di genre author gag sebutin.

Thanks a lot buat reviewers, Obsinyx Virderald, bebCWIB uchiHAruno, Mey Hanazaki, Uhiha Hime Is Poetry Celemoet, Karasu Uchiha, Fidya RainaMalfoy, Naomi azurania belle, Soo Dana, Arai KazuRa, d3rin, Kazuka Ayam Cherry, Wakamiya Hikaru, Naomi Kanzaki, chadeschan and for all readers baik yang ninggalin jejak or enggak. but review kalin bener - bener berati buat author n jadi penyemangat author buat lanjut ^^ . Semoga yang udah review fic ini tetep sudi ngereview lagi yaaaaa :) ( ngarep : mode on)

Oia buat Typo Gomeeeeeenn banget banget coz suka kecolongan n susah banget diilangin, hadeeeuh.

So, see ya next chapt! RnR Pleassse^^