Ini part 2nya -w- Gomen kalau banyak typo *karena typo itu kece XD* author ini newbie (/-w-)/ Pairing sebenarnya itu Akashi x fem!Akashi -w- nanti ada tambahan chara KuroBas lagi kok-w-

Happy reading~!

.

.

.

.

.

Seorang gadis bernama Akemi Seishina, barusaja merasakan kejadian aneh di kamarnya. Ia tidak tahu apa maksud dari semua ini.

Akashi POV

Hello.. My name is Seijuurou Akashi. My age is 17 years old. Nice to meet you. Oke, tidak usah pakai bahasa inggris segala. Seijuuro Akashi desu. Yoroshiku! Seorang lelaki tampan yang berumur 17 tahun. Did you know? Akulah yang memainkan tombol lampu yang ada di kamar Akemi tadi. "W-w-what?! Who are you?" Pasti kalian bertanya-tanya seperti itu 'kan? Ya, baiklah akan kuceritakan semuanya.

Aku adalah seorang hantu. Ya HANTU! Lebih tepatnya aku adalah hantu yang gentayangan. But! Untuk ukuran 'hantu', aku ini cukup tampan lho~ Oke, cukup bercandanya. Aku, sekitar 20 tahun yang lalu adalah pemilik rumah sekaligus kamar yang ditempati Akemi sekarang ini. Dahulu keluargaku adalah sekelompok pembunuh bayaran yang cukup terkenal. Semua saudaraku di didik sejak dini untuk menjadi pembunuh bayaran yang terhebat, tidak terkecuali aku. Suatu ketika, aku ditugaskan ayahku untuk membunuh seseorang, inilah masalahnya. Di dalam keluarga ini, diam-diam aku menentang keras pekerjaan kotor ini. Ketika diberi tugas tersebut, aku malaksanakannya dengan setengah-setengah, dan sengaja membuat tugas itu gagal karena diriku sendiri.

Mendengar berita tersebut, ayah sangat marah. Ada sebuah peraturan unik, atau bisa juga di sebut kejam dalam keluargaku. Yaitu, "Siapapun yang gagal dalam misinya, hidupnya tidak akan bertahan lama." Begitulah peraturan sadis itu ayah buat. Tanpa memandang bulu, akhirnya aku tewas ditangan ayahku sendiri secara mengenaskan diusia 18 tahun. Menyedihkan bukan? Tapi aku sama sekali tidak punya perasaan dendam sedikitpun. Karena menurutku, lebih baik aku mati daripada harus membunuh lebih banyak orang lagi. Sekarang semua keluargaku sudah meninggal tanpa 'harus ditangan ayah.

Oke, kalian bisa menyebutku sebagai 'hantu yang gentayangan' di rumah ini. By the way, semenjak Akemi dan keluarganya pindah dirumah tua yang besar ini, sisi gelap dari hidupku mulai hilang. Diam-diam aku selalu memperhatikannya ketika ia sedang tidur atau melakukan aktifitas lainnya. Tapi aku belum berani melakukan kontak langsung dengannya. Ya.. Karena aku sadar bahwa aku ini makhluk 'metafisik baginya.

End Akashi POV

###

Matahari pagi masih berusaha menerobos benteng selimut Akemi. Gadis ini rupanya masih tertidur lelap. Saat ini alarm ponselnya pun tak sanggup membuka matanya. Hari ini hari minggu, mungkin sudah sewajarnya anak sekolah bangun lebih siang ketika akhir pekan. Tetapi waktu sudah menunjukan pukul 10.30 pagi. Dan Akemi sadar, tidak seharusnya anak gadis bangun jam segitu. Dengan berat mata*?* ia menuruni anak tangga yang banyak itu dan menuju kamar mandi. Ia baru sadar kalau hari ini tidak ada seorang pun dirumah itu kecuali dirinya. Ayah sudah berangkat lebih pagi, Ibu sedang ada urusan dengan temannya sampai larut, dan Yuusaku ikut bersama Ibu. Oke lengkaplah sudah weekend yang bored ini.

Selesai mandi gadis bersurai merah tersebut mengambil sebuah roti isi yang sudah tersedia di atas meja makan sebelumnya, lalu kembali menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. "Tumanai desu…" gumamnya dalam hati sambil merebahkan tubuhnya di ranjangn yang empuk itu.

"Ya Tuhan.. Betapa manisnya makhluk yang ada di depanku ini..!" Makhluk metafisik ini bergumam sambil memperharikan lekat-lekat setiap inci dari wujud manusia di depannya.

Akashi POV

Sejak kepindahan akemi di rumah ini, aku mulai tertarik padanya walaupun sudah jelas ia tidak mungkin menyukaiku. Pria sepertiku, tidak mudah untuk mencintai seorang gadis. Tetapi ada yang berbeda jika aku berada di dekat Akemi. Waktu menunjukan pukul 12.15 siang. Apakah etis kalau sesosok hantu ber'aksi di tengah hari begini? Ah mungkin tidak.. Ku urungkan kembali niatku untuk melakukan kontak dengan Akemi.

"Hai Akemi…" Karena iseng aku mencoba berbisik pelan dari kejauhan dengan memanggil namanya. Aku tahu ia tidak mungkin bisa mendengarku apalagi melihatku.

1 detik

2 detik

3 detik, tiba-tiba.

"Dare?! Siapa itu?!" Akemi yang tadi sedang merebahkan diri diranjangnya tiba-tiba sontak terkejut sambil berdiri ketakutan. Aku tahu apa yang membuatnya terkejut seperti itu.

'Hontou ni BAKA desu!' mungkin itulah kata-kata yang saat itu kuucapkan.

Akemi POV

'Kyyaaaaaaa….!' Itulah yang sedang kuteriakan dalam hatiku sekarang. Siapa? Siapa? Siapa yang tadi itu?! Kurasakan lututku mulai bergetar setelahnya. Ketika aku sedang tiduran tadi, samar-samar aku mendengar suara pria tengah memanggil namaku seperti ini: "Hai Akemi…" ! Astaga.. Mengingatnya saja membuat bulu kudukku merinding. Ada suaranya tetapi tidak ada wujudnya.. Oh God! Please!

"Siapa itu! Kalau kau berani cepat tunjukan dirimu! Aku tidak takut!" Oke, aku berkata yang tidak benar.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada wujud yang muncul.

Dengan langkah seribu, aku dengan cepat menuruni anak tangga untuk menuju halaman depan guna menghilangkan rasa 'parno-ku yang luar biasa ini/?. Sesampainya diambang pintu depan aku langsung jongkok dan berusaha melupakan peristiwa yang terjadi barusan.

Akashi POV

Sebelum ayah membunuhku 20 tahun yang lalu, ia membisikan sebuah pesan ditelingaku yang aku ingat selama ini. "Ruh-mu akan tenang dan pergi menuju Nirwana yang kekal dan abadi jika di masa yang akan datang kau menemukan cinta itu adalah manusia yang bisa melihat wujudmu dan mendengarmu." Itulah kata-kata ayah yang sedang memenuhi isi kepalaku. Otakku mulai berputar menelaah setiap kata-kata itu. Kurasa aku menemukan sebercak cahaya terang dalam hidupku yang gelap…

Sejak tadi siang, aku terus mondar-mandir di dalam kamar Akemi. Gadis itu pun belum kembali kekamarnya semenjak kejadian tadi. Jujur aku mencemaskan dia. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka, oh itu Akemi masuk. Kuperhatikan dengan tempo gemetar yang sudah berkurang ia memasuki kamarnya dengan sangat hati-hati. Kakiku mundur beberapa langkah agar jarak kami berdua berjauhan. Lalu ia menuju tempat tidurnya, menarik selimutnya dan pergi tidur. Jam menunjukan pukul 19.30. 'Hah? Jam segini sudah mau tidur?' aku bertanya-tanya. Kurasa ia sudah pergi tidur. Aku beranikan diri untuk mendekatinya. Kali ini aku sama sekali tidak punya niatan 'iseng padanya. Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat. Aku duduk di pinggir tempat tidurnya, dan memandangi wajahnya yang ditutup rapat-rapat dengan selimutnya yang tebal. Aku tidak bias melihat wajahnya.

Akemi POV

Today is… Arrrghh! Sulit untuk kuceritakan! Aku tahu ini masih jam 19.30! Tapi jika aku tidak pergi tidur, hal buruk apa yang akan terjadi jika aku tetap terjaga! Mendokusai desu! Kutarik selimutku sampai menutupi semua tubuhku. Aku mencoma memejamkan mata, tetapi sama sekali belum mengantuk. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu keluargaku pulang dari kesibukkannya masing-masih.

1 menit

2 menit

.

.

5 menit

Panaaaaaasss….! Berada dalam selimut dan tidak melakukan apapun membuat kaloriku terbakar cukup panas. Ternyata aku belum menyalakan AC-nya tadi. Aku membuka selimutku hingga hanya menutupi bagian bawah hingga perutku. Dan….

Eh To be continue ternyata! XD

Next di part 3 ya~^^

Thank's buat yang ngereview kemaren. Jangan lupa RnR ya~ Arigatou~!