Ch 1 Memory, Awake

SMU Kuoh. Sekolah yang dulunya adalah mayoritas kaum hawa, tapi kini mulai menerima kaum adam untuk bersekolah di SMU tersebut sebagia percobaan untuk satu tahun kedepan. Walau perbandingannya 8:3, tapi cukup banyak siswa-siswa yang mendaftar disana.

Diantara murid laki-laki yang bersekolah di sana, terdapat seorang siswa berambut kuning yang berjalan agak pelan dari siswa maupun siswi dari sekolah tersebut. Bukan karena sengaja ia berjalan begitu, tapi kerena memiliki suatu kekurangan dalam dirinya. Pemuda itu buta, dan itu membuatnya harus berjalan agak pelan, dengan mengadalakan bunyi dari ketukan tongkatnya.

" hei lihat si buta dating.." cibir salah satu siswi pada temanya saat di koridor sekolah.

" aku heran, kenapa orang seperti dia bisa berseklah di tempat ini.." sambung siswa lain yang ikut mengejek sang pemuda tersebut. Tidak berhenti di situ saja, para siswa, maupun siswi sekolah itu menghina kekurangan pemuda buta tersebut. Hampir separuh dari murid seklah tersebut merendahkannya. Tapi untunglah sang pemuda masih berlapang dada menerima ejekkan tersebut.

Begitu tiba di kelasnya. Ternyata ada beberapa teman kelasnya yang juga merendahkan sang pemuda, tapi masih di biarkan saja. Ia segera duduk ke bangkunya, kemudian mengeluarkan buku yang berisi huruf Braille.

" Naruto. Kau tidak apa-apa di perlakuka begitu oleh mereka?" Tanya seorang pemuda berambut kecoklatan pada pemuda bernama Naruto tersebut.

" aku sudah biasa di rendahkan, Issei. Mau bagaimana lagi, kondisi ku yang seperti ini memang pantas kalau aku di perlakukan begitu." Jawab Naruto tersenyum agak kecut. Issei yang melihat senyuman yang di paksakan dari temannya itu membuat hati pemuda tersebut geram. Ingin rasanya ia berteriak kepada semua orang yang merendakan Naruto untuk berhenti mengganggunya. Ia kasihan pada Naruto yang hidup sebatang kara di rumah peninggalan orang tuanya, dan tak jarang ia sengaja mengundang Naruto untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Namun apa daya, temannya itu selalu mengatakan kalau ia tidak apa-apa, dan ingin hidup mandiri.

" oiya Issei. Ku dengar kau masuk kedalam klub yang terkenal elit itu. Benarkah?"

" iya, aku di undang secara langsung oleh Rias-senpai. Kau tahu sendirikan kalau klub itu hanya menerima orang yang di undang secara resmi dari sang ketuanya, dan karena itu aku selalu mendapat beberapa tatapan iri dari murid di sini."

" begitu rupanya. Wajar sih kalau mereka iri dengan mu. hah..andai saja aku tidak buta, pastih aku bisa melihat semuanya. Wanita, oppai, dan…" Naruto tak melanjutkan perkataannya, karena terlalu sakit untuk di lanjutkan.

Issei yang melihat ekpresi sedih dari temannya itu berusaha untuk menghibur. Baginya Naruto adalah sosok pemuda yang tegar dalam menjalankan hidup. Dan pemuda berambut coklat itu juga menganggap Naruto sudah seperti saudaranya sendiri.

" TEENG…TIING..TOONG…!" bel masuk sekolah telah berbunyi. Dan itu berarti pelajaran telah akan di mulai pagi hari itu.

(Skip ke jam makan siang)

Banyak murid-murid yang sudah berhamburan ke arah kantin, maupun memakan bento yang sengaja di bawa dari rumah masing-masing. Tidak terkecuali Naruto, ia sedang memakan makan siangnya yang berupa onigiri yang sengaja di bawakan oleh Issei di belakang sekolah. Katanya sih ia hanya kebetulan ingin membuatnya, jadi ia ingin Naruto mencoba rasa onigiri buatanya.

" enak. Issei kalau boleh tahu, kenapa kau mau berteman dengan aku ini?" Tanya Naruto tiba-tiba. Issei terdiam sesaat, ia pun tersenyum dan menjawab kalau tidak perlu alasan untuk berteman dengan siapapun. Tidak peduli ia buta atau apa. Baginya semua orang itu memiliki hak yang sama.

" kalau begitu arigato. Karena mau berteman dengan ku." senyum Naruto tulus.

" tidak masalah."

Kedua pemuda itu saling bercanda satu sama lain. Tanpa mengindakan tatapan, maupun ejekkan yang selalu di tujukan pada Naruto. Namun tanpa di sadari oleh keduanya. Dari sebuah jendela bangunan gedung lama seklah SMU Kuoh, Terliaht seorang gadis muda berambut merah tengah memandangi kedua pemuda tersebut.

" apa pendapat mu tentang siswa yang bernama Uzumaki Naruto itu, Akeno?" Tanya sang gadis kepada temannya yang bernama Akeno. Atau lebih tepatnya Himejima Akeno.

" entahlah, Rias. Yang ku tahu, ia hanya siswa buta normal, dan selalu di ejek di sekolah ini. Memangnya ada apa kau tanyakan hal itu." Balas Akeno penasaran.

" aku sedikit merasakan energy Demonic darinya. Tapi anehnya energy itu terasa sangat gelap. Bahkan mungkin sangat gelap dari Iblis setingkat Maou sekalipun. Namun anehnya aku Cuma bisa merasaknya dengan samar-samar" Terang sang gadis yang bernama Rias Gremory.

" lalu apa yang kau mau lakukan? Tunggu dulu, biar ku tebak kau mau menjadikannya sebagai budak baru mu itu?" ujar Akeno menebak isi pikiran temannya itu. Rias pun mengangguk pelan. Melihat hal itu Akeno hanya bisa pasrah saja, karena tahu sifat temannya yang terbilang agak manja. Sekali ia ingin sesuatu maka dengan cara apapun ia harus mendapatkannya.

" kita manfaatkan kedekatan Issei dengan dia. Dan buat dia mau mengajak Naruto untuk masuk ke klub kita. Kau setujukan." Senyum Rias agak picik. Akeno pun hanya mengiyakan saja usulan sahabatnya itu.

ΨΨΨ

Jam sekolah telah lama berakhir, dan banyak murid-murid SMU Kuoh yang sudah pulang. Kecuali yang memiliki aktivitas klubnya masing-masing. Tapi ada seorang siswa yang masih berada di kelas. Ia adalah Naruto. Ia belum pulang karena ia mestih mengerjakan PR yang harus di kumpulkan besok.

" Naruto aku pergi dulu ya. Dan hati-hatilah di jalan pulang nanti, jaa." Pamit Issei yang segera beranjak meninggalkan Naruto yang masih mengerjakan tugasnya.

" hmm. Kau juga, Issei." Sahut Naruto dengan tersenyum.

Sepeninggal Issei, Naruto kembali melanjutkan tugasnya. Dan tak sampai 10 menit PRnya telah selesai, Narutopun segera merapikan buku-bukunya dan segera pulang dengan sesekali bersenandung lirih. Di sepanjang jalan, tanpa sadar ia teringat sebuah kenangan pahit di masa lalunya. Sebuah kenangan yang juga membuatnya terus berjalan di dunia hingga waktu yang tidak di tentukan, dan membuatnya menutup mata..

Di saat Naruto tengah melintasi daerah pematang sungai. Tiba-tiba ada suara feminism yang memanggilnya dari belakang.

" a,ano..apakah kau yang bernama Uzumaki Naruto?" Tanya seorang gadis berambut hitam sepunggung, bermata agak keunguan, dan memakai seragam sekolah yang sepertinya seragam sekolah wanita.

" itu benar. Lalu ada perlu apa dengan ku?" Tanya Naruto bingung.

" ma,maaf mungkin kau tidak mengenal ku, tapi…nama ku adalah Yuuma Amano. Aku menyukai mu sejak lama, jadi berpacaran lah dengan ku !" kata sang gadis bernama Yuuma tersebut. Sementara Naruto tampak gelagapan mendengar pernyataan cinta dari gadis yang tidak di kenalnya itu.

" hmm. Arigato untuk cinta yang kau simpan untuk manusia rendah seperti ku. tapi ku pikir ada orang lain yang lebih mencintai mu. jadi gomen ne aku tidak bisa menerima cinta mu." kata Naruto meminta maaf sambil membungkuk. Kemudian pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Yuuma yang diam di tempat.

" ku, kurang ajar kau manusia rendah !" teriak Yuuma dengan melemparkan sebuah tombak cahaya kearah Naruto, namun dengan mudahnya di hindari oleh Naruto yang menggeser tubuhnya ke arah kiri.

" hah..kau seharusnya mengerti, nona. Jadi berhentilah marah pada ku." ujar Naruto menasehati gadis yang melemparinya tombak cahaya, yang ternyata seorang Da Tenshi. Terbukti dengan munculnya sepasang sayap berwarna hitam kelam di punggungnya.

" jaga bicara mu manusia. mana mungkin aku mencintai mu! dengar ya aku Reynalle dating untuk membunuh mu, karena kau pastih akan menjadi batu sandungan pemimpin ku di masa akan dating."

" hee…separah inikah hidup ku. sudah terlahir buta, selalu di ejek, dan sekarang aku harus mati muda..Kami-sama sebenarnya apa dosa ku sih" kata Naruto sambil tertunduk suram meratapi kesialanya. Melihat Naruto yang suram begitu membuat Yuuma a.k.a Reynalle sweat drop.

" ja, jangan main-main dengan ku manusia!" kembali Reynalle menciptakan dua buah tombak cahaya di tangannya, dan melemparkannya kearah Naruto. Tapi anehnya kedua tombak tersebut menembus tubuh sang pemuda tersebut. Dan itu sukses membuat Reynalle terbelalak tak percaya.

" nona aku tidak bisa lama-lama, jadi maaf ya." Naruto tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri, dan muncul tepat di hadapan Reynalle. Lalu tanpa sebab yang jelas gadis itu ambruk di pelukan Naruto.

" jadilah anak baik, Reynalle." Bisik Naruto di telinga sang gadis. Kemudian Naruto membawa Reynalle yang tak sadarkan diri ke sebuah kuil tak terawat di dekat hutan. Naruto yang membawa Reynalle, segera masuk, dan menidurkannya di sebuah futon, pada salah satu ruangan kuil tersebut.

Selang beberapa menit kemudian, gadis itu tersadar dari tidurnya.

" eng..i, ini dimana? Ah Goshujin-sama! celaka aku lupa menjemput Goshujin-sama !" teriak Reynalle seperti orang panic. Cepat-cepat ia berlari keluar kamar, tanpa peduli ia sedang berpakaian apa. Ketika ia sudah mencapai pintu depan kuil, sebuah pukulan tegas melayang ke kepalanya.

" aho ! kau ingin keluar kuil dengan pakaian seperti itu !? dimana rasa malu mu sebagai pelayan Dewa !" tegur seorang gadis berambut putih, bermata biru langit, dan memakai pakaian seorang Miko. Reynalle buru-buru melihat pakaian yang di kenakannya itu.

1 detik

2detik

3detik

" KYAAAA….!"

Reynalle berlari kencang dengan wajah sangat memerah, karena ia nyaris keluar kuil dengan kimono pink tidurnya. Sedangkan gadis Miko yang menegur Reynalle hanya mendesah berat, sambil memijit keningnya.

" hah, inilah kenapa aku malas menjadi Senpai. Sudahlah, aku harus menyiapkan makan malam, dan menghajar dia." Guma gadis itu terlihat marah.

Di lain tempat. Terlihat seorang pemuda berambut putih, dan berpakaian santai Nampak sedang bermeditasi di atas batu besar pinggir air terjun, dan di bawah sinar rembulan. Ia terlihat sangat khusu dalam melakukan meditasi, sampai tak menyadari kedatangan seorang Miko berambut hitam yang di sanggul setengah. Miko tersebut dengan hati-hati membangunkan sang pemuda dari meditasinya.

" goshujin-sama. sudah waktunya makan malam. Goshujin-sama, sudah waktunya makan malam." Kata sang Miko a.k.a Reynalle. Pemuda berambut putih tersebut, perlahan membuka matanya. Terlihat warna matanya yang berwarna merah darah dengan pola riak air, dan terdapat tiga tomoe di setiap lingkaran riaknya.

" yah, aku mengerti. Meme bagaimana kondisi tubuh mu?" Tanya sang pemuda a.k.a Naruto memanggil Nama Meme pada Reynalle.

" hamba sudah baikkan. Arigato Goshujin-sama sudah mengkhawatirkan keadaan hamba." Ucap Reynalle atau Meme dengan membungku berterima kasih.

" hn, tak masalah. Sekarang ayo kita makan." Sahut Naruto agak datar.

Keduanya pun segera berjalan menuju ruang makan yang tidak begitu jauh dari lokasi air terjun tersebut. Tak sampai 5 menit, keduanya sudah sampai di ruang makan. Di sana sudah menunggu gadis Miko yang sebelumnya menegur pakaian Meme.

" silahkan di nikmati hidangnya, Goshujin-sama." ucap gadis itu dengan bersujud hormat pada Naruto, begitu pula Meme.

" Misa berapa kali ku bilang kalau kau, dan juga Meme juga harus makan bersama ku. jangan membantah, dan cepat lakukan." Ujar Naruto bernada memerintah. Dengan patuh kedua Miko tersebut, segera mengambil peralatan makan mereka, dan ikut makan bersama dengan majikan mereka. Setelah selesai Misa, dan Meme segera merapikan peralatan makan kotor, dan mencucinya.

" Meme. Setelah kau selesai, temui aku di ruangang ku." Kata Naruto singkat. Meme pun mengerti, dan cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.

Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Meme langsung menemui sang majikan di rungannya.

" goshujin-sama. Boleh saya masuk?" tanya Meme saat di depan pintu masuk ruang kerja majikannya.

" masuklah." Jawab singkat Naruto.

Meme segera membuka pintu geser ruang kerja majikannya, dan duduk di samping kiri agak jauh dari sang majikan yang sedang menulis sesuatu.

" Meme. Apakah kau yang membunuh Issei? " tanya Naruto tanpa menoleh sedikitpun kearah Meme.

" ha'i. Hamba yang telah membunuh Hyoudo Issei. Itu atas perintah dari atasan hamba di Gerigori." Jawab Meme jujur dengan agak menundukkan kepalanya.

" apa karena ia punya Sacred Gear Naga itu, Meme?" kali ini Naruto bertanya dengan melirik tajam kearah gadis tersebut. Meme kembali menbenarkan perkataan sang majikan. Ia juga tak berani menatap wajah sang majikan, karena tahu hubungan antara majikannya, dengan pemuda yang sempat di bunuhnya itu. Ia takut untuk di hukuman akan apa yang telah di lakukannya, tapi semua pikiran itu hilang saat Naruto mengatakan kalau ia tidak marah karena telah membunuh Issei. Karena berkat itu, Naga yang bersemayam dalam tubuh temannya itu bangkit.

" besok kembalilah ke kaum mu. Dan laporkan informasi sekecil apapun pada ku. Kau pahamkan." Kata Naruto pada sang pelayannya.

" Ha'i. Sesuai perintah mu Goshujin-sama. Hamba pamit." Setelah berkata begitu, Meme segera keluar, dan mengepakkan sepasang sayapnya, lalu terbang meninggalkan kuil.

" Misa, kalau ada yang mau kau sampaikan, cepat sampaikan." Kata Naruto yang masih fokus menulis.

" bukan apa-apa kok. Hanya saja, aku mendapat ramalan kalau..." perkataan Misa tak terdengar jelas saat berhembus angin kencang di sekitar halaman yang dekat dengan ruang kerja Naruto.

" lakukan sesuka mu. Kau boleh melakukan itu, kalau mereka tidak mau bicara." Sahut Naruto memberi ijin pada Misa. Sang gadis itu langsung menunjukan senyuman pysco terbaiknya.

" anda memang pengertian, Goshujin-sama."

ΨΨΨ

ISSEI POV

Aku berlari secepat mungkin agar sampai kesekolah, dan meminta bantuan pada Buchou dan yang lain di ruang club agar bersediah membantu ku untuk menyelamatkan Asia. Yaitu seorang Suster gereja kesepian yang baru seminggu tinggal di tokyo, dan tinggal di sebuah gereja yang terbengkalai di kota ku. Tapi saat ini ia tenga di culik oleh seorang gadis Da Tenshi yang sempat ku pacari, dan juga sempat membunuh ku dulu.

" Buchou. Ijinkan aku untuk menyelamatkan Asia. Dia sedang di culik." Pinta ku pada Rias-senpai.

Tapi Rias-senpai tidak memberikan ku ijin dengan alasan, kalau itu adalah wilayah musuh. Dan ia juga meminta ku untuk melupakan Asia. Melupakannya begitu saja, setelah tahu penderitaannya selama ini ? jangan bercanda.

" dengar, dia itu adalah salah satu dari mereka, dan kita tidak bisa ikut campur dengan urusan mereka. Kau paham." Hardik Rias-senpai pada ku. Tapi aku tetap keras kepala untuk menyelamatkannya. Tidak peduli resiko apa yang menanti ku di sana.

" jangan bodoh Issei. Apa kau ingin mengumandangkan peperangan lagi, hanya karena suster gereja itu? Ingat kau adalah salah satu anggota keluarga Gremory, dan aku sebagai majikan mu ti-" perkataan Rias-senpai ku potong dengan mengatakan kalau aku akan keluar dari anggota keluarga Gremory, dan tetap maju untuk menyelamatkan Asia.

PLAK !

Aku di tampar oleh Rias-senpai sesaat setelah mengatakan kalau aku akan keluar dari anggota keluarganya. Aku diam sambil memegangi pipi ku yang merah, dan perih akibat tamparan Rias-senpai.

" kau ini keras kepala sekali. Sekali ku bilang tidak, ya tidak. Mengerti !" kali ini Rias-senpai membentak keras ku.

" aku tidak peduli. Tapi aku tetap berhutang budi, karena telah merenkarnasikan ku sebagi iblis. Aku permisi" aku pun segera berlari keluar klub, dan mengindakan panggilan Rias –senpai yang mencoba untuk menghentikan aksi gila ku.

ISSEI POV END

Sepeninggal Issei dari ruang klub, Rias segera menyuruh dua pelayannya untuk menyusul, dan membantu Issei. Yaitu seorang pemuda berwajah tampan, dan berambut kuning a.k.a Yuto Kiba, dan seorang gadis loli berambut putih a.k.a Koneko Toujo. Keduanya pun langsung menyusul Issei yang pergi kegereja.

Issei yang lebih dahulu tiba di gereja, tanpa pikir panjang langsung mendobrak masuk kedalam. Namun betapa terkejudnya ia saat banyaknya mayat-mayat para former excorcist tergeletak dengan luka menganga di tubuh mereka. Bahkan seorang pastur gila bernama Freed Sellzen yang sempat bertemu dengannya saat debut keduanya sebagi iblis, juga tewas dengan luka yang sama. hanya saja, luka yang di derita pendeta gila itu lebih brutal lagi.

" semoga Asia tidak apa-apa." Gumam Issei mulai mencari lokasi penyekapan suster gereja tersebut.

Setelah 20 menit mencari, akhirnya Issei berhasil menemukan tempat penyekapan Asia. Yaitu di bawah mimbar pendeta yang terdapat ruang bawah tanah. Cepat-cepat ia turun kedalam ruang rahasia tersebut. Dan kembali ia di buat terkejud, dengan banyaknya mayat-mayat former-excorcist, dan juga beberapa Da Tenshi.

' sebenarnya apa yang terjadi di sini ?' batin Issei heran dengan semua yang ia lihat. Namun ia harus focus dalam mencari keberadaan Asia.

15 menit menyusuri lorong bawah tanah, Issei sampai di satu-satunya pintu di sana, dan kemudian membukanya. Begitu pintu terbuka, ia membulatkan matanya saat melihat seorang Da Tenshi wanita berambut dark blue tenga mengabil paksa Sacred Gear Twilight Healing dari tubuh Asia yang sedang teikat di tiang salib. Susuter gereja itu menjerit kesakitan saat prosesi pengambilan Sacred Gearnya itu.

" Hentikan !" teriak Issei lantang. Dan itu cukup membuat gadis Da Tenshi tersebut menoleh kearahnya.

" ho, ternyata kau berani dating juga ya iblis. Tak ku sangkah kau hebat juga bisa cepat sampai di sini. Tapi sudahlah, biarkan saja. Kenalkan nama ku Kalawarner, dan aku akan segera menghabisi mu" Da Tenshi yang bernam Kalawarner tersebut menciptakan tobak cahay di tangannya dan menyerang Issei. Beruntung pemuda tersebut menghindar, dan mengaktifkan Booster Gearnya

[BOOSTER!]

" Asia bertahanlah. Aku akan menolong mu!" Issei berlari menerjang kearah Kalawarner yang juga sudah bersiap untuk menghadapi Issei. Kedaunya pun saling mengeluarkan kemampuannya masing-masing, walau jauh dari kata berpengalaman. Tapi Issei dapat sedikit mengimbangi kemampuan tempur Kalawarner, yang pastihnya sudah cukup berpengalaman dalam bertarung.

" houeek…! Aku harus bertahan, demi menolong Asia. Aku harus berjuang !" ujar Issei mencoba kembali berdiri, walau tubuhnya banyak mengalami luka-luka, dan sempat beberapa kali memuntahkan darah dari mulutnya. Ia tetap berdiri, dan menghadapi Kalawarner yang hanya mengalami luka-luka tak berarti. Dan perlahan luka-luka itu mulai sembuh karena Sacred Gear Asia yang ia curi, dan di masukan kedalam tubuhnya.

" hahaha…kau ternyat cukup keras kepala juga ya Iblis. Tapi ku rasa sia-sia saja perjuangan mu, lihatlah pelacur itu, dia sudah mati dari tadi." Tunjuk gadis Da Tenshi tersebut kearah Asia yang telah lama meninggal. Tubuh Issei membeku seketika melihat gadis yang menurutnya sangat baik, dan penuh kasih sayng itu mati dengan cara tragis seperti itu.

Tubuh Issei melemas, dan jatuh terduduk. Ia tak percaya kalau ia gagal menolong sang gadis baik itu. Kenapa setiap orang baik selalu mati dengan cara mengenaskan seperti yang di alami oleh Asia Argento. Seorang suster gereja yang di usir hanya karena menolong seorang iblis yang terluka.

" kami-sama..hiks..kenapa kau biarkan gadis suci ini mati dengan cara tragis seperti ini..hiks..padahal ia hanya ingin berteman. Tidak lebih, kenapa kau biarkan ia mati dengan cara seperti ini….Kami-sama jawab aku !" jerit Issei dengan penuh nafsu amarah.

Semntara Kalawarner hanya tertawa keras, karena baginya ada seorang iblis yang berani berdoa kepada Kami-sama.

" kau sungguh lucu Iblis. Tapi sebaiknya kau diam, dan biar-HMMPH!" perkataan Kalawarner terputus saat ia tiba-tiba di cium tepat di bibirnya oleh seorang gadis yang juga seorang Da Tenshi a.k.a Meme (Reynalle), dan dengan cepat ia menusuk dada Kalawarner, dan mengambil cincin Twilight Healing, kemudian melemparkannya ke Issei.

" Rey..nalle. apa yang kau lakukan!?" hardik Kalawarner dengan berwajah memerah, atas sikap kawannya itu. Tapi bukan jawaban yang di dapat, kembali gadis itu mencium Kalawarner tepat di bibirnya.

" HMMMPPPHH!" rontah Kalawarner mencoba untuk melepaskan ciuman dari temannya itu.

" hah…Sayonara. Pelacur.." senyum Meme dengan melepaskan ciuman, dan pelukannya. Perlahan Kalawarner mulai merosot jatuh ke tanah. Melihat hal itu Issei mencoba untuk sedikit mendekat kearah Kalawarner yang tergeletak diam. Betapa terkejudnya ia saat melihat gadis berambut dark blue telah tewas, dengan mulut mengeluarkan darah segar, mata yang terbelalak, dan tubuhnya mulai menghitam. Sepertinya gadis tersebut terkena racun yang cukup mematikan.

" kau tidak apa-apa, Issie?" Tanya Meme dengan melangkah mendekati Issei. Tapi ia terhenti saat pemuda itu memasang kuda-kuda bertarung. Seolah mengerti, Meme melemparkan dua buah cincin yang ia rebut dari temannya tersebut.

" kenapa kau menolong ku, dan apakah kau juga yang menghabisi para Former-Exorcist tersebut, dan teman-teman mu yang lain?" Tanya Issei menatap tajam kearah Meme.

" yah begitulah, anggap saja sebagai penebusan dosa ku pada mu. dan aku tahu, karena aku kau terpaksa menjadi iblis. Dan satu hal lagi " Meme melangkah mendekati Issei dan langsung mencim bibir pemuda itu sekitar 5 detik.

" ini adalah permintaan ku yang sebenarnya di hari kita berkencan. Arigato untuk cinta yang kau berikan pada ku." sambung Meme dengan tersenyum tulus. Beda dengan Issei yang terlihat masih menaruh dendam pada gadis Da Tenshi tersebut. Pemuda itu berusaha menghapus bekas ciuman di bibirnya, dengan mengosok-gosokkan lengan jas sekolahnya ke bibir, khawatir gadis itu meracuninya juga. Tapi setelah beberapa detik terlewatkan, ia tidak merasakan apa-apa.

" aku tidak tidak mempercayai kata-kata bohong mu itu. Cepat pergi dari sini atau aku akan membunuh mu." ancam Issei yang sudah mengacungkan Boooster Gearnya ke hadapan Meme.

" kau tak perlu percaya. Hanya saja aku akan tetap mencintai mu seumur hidup ku. tolong juga kau lindungi gadis gereja ini, dan terakhir. Issei-kun, watashi wa anata o daisuki." Setelah berkata begitu, Meme menghilang di balik lingkaran sihir. Meninggalkan Issei yang terdiam di tempat, dengan membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.

Selang lima menit kemudian, Kiba dan Koneko dating, dan sempat terkejud dengan banyaknya mayat-mayat yang tergeletak di dalam gereja.

" apa kau sendiri yang melawan mereka, senpai?" Tanya Koneko pada senpainya itu. Issei pun menjawab kalau ada orang lain yang dating membantunya. Merasa puas dengan jawaban dari Issei. Kiba, maupun Koneko tidak melanjutkan pertanyaan mereka. Menyusul Rias, dan Akeno datng untuk memastikan keadaan para pelayanya yang pergi ke wilayah musuh. Walau ada rasa khawatir, tapi rasa itu menghilang saat tahu kalau semua pelayan manisnya dalam keadaan baik-baik saja.

" syukurlah kau baik-baik saja, Issei. Maaf kalau aku sem-"

" lupakan sajalah, Buchou. Aku tidak memikirkannya lagi." Potong Issei yang sudah tidak mau membahas masalah beberapa puluh menit lalu.

" ok. Sebagai permintaan maaf ku, kau boleh meminta apapun pada ku. katakana saja." Kata Rias yang menawarkan permintaan pad Issei. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu meminta pada Rias, untuk menjadikan Asia sebagai iblis. Rias pun menerimanya, dan melakuakn ritual kebangkitan untuk Asia. Dalam waktu 1 menit, ritual tersebut selasai, dan bidak untuk sang gadis gereja tersebut adalah Bishop. Juga gadis itu akan tinggal dengan Rias di gedung Klub.

Seminggu sejak kejadian itu, tampak Issei jadi sedikit sering melamun. Seakan tengah memikirkan sesuatu yang rumit untuk di cerna oleh otak pas-pasannya.

" kau kenapa Issei, apakah kau ada masalah? Kalau iya ceritkanlah, mugkin itu membuat mu sedikit lega." Kata Naruto yang menyadari perubahan sikap temannya itu.

" bukan apa-apa, sih. Mungkin kau tidak percaya kalau aku yang mesum ini pernah berpacaran dengan seorang gadis. Tapi karena suatu hal kami putus, namun anehnya ia masih mencinta ku, walau aku membencinya . tapi sudahlah itu masa lalu." Cengir Issei tak mau merepotkan orang hanya karena masalahnya.

" begitu. Tapi saran ku kau jangan terlarut dengan kebencian. Cobalah maafkan semua kesalahannya, dan walau berat tapi berusahalah memberikan kesempatan kedua padanya." Nasehat Naruto panjang lebar. Issei yang mendengar nasehat temannya itu menjadi tersenyum, ia merasa berutung memiliki teman yang bijaksana. Ketimbang dua temannya itu.

" oiya Naruto, apakah kau tahu ka-"

" ada seorang gadis manis yang pindah ke kelas kitakan." Potong Naruto menduga apa yang akan dikatakan oleh Issei.

" bagaimana bisa kau tahu itu…?" guma Issei pundung di pojok kelas dengan aura suramnya.

Naruto yang mendengar hal itu hanya mengatakan kalau itu pemuda itu terlalu sering membicarakan tentang gadis-gadis manis di sekolah mereka.

" iya aku tahu. Tapi setidaknya biarkan akau menyelesaikan perkataan ku !" kata Issei setengah mengomel pada Naruto. Pemuda kuning buta tersebut hanya cengengesan.

Sesuai dengan apa yang di katakana oleh Issei, di kelas mereka kedatangan seorang gadis manis bermabut kuning nama Asia Argento, yang pindahan dari Itali.

" Asia-san silahkan duduk di sebelah Naruto. Naruto angkat tangan mu." pinta sang sensei. Naruto pun mengangkat tangannya, dan kemudian Asia berjalan ke bangku kosong di sebelah Naruto.

" halo, nama ku Asia Argento. Salam kenal." Senyum Asia dengan mengulurkan tangannya kearah Naruto. Namun ada salah seorang siswa yang berceletuk, kalau Naruto itu buta. Sontak seisi kelas menjadi gaduh.

" DIIAAM, KALIAN BRENGSEK !" bentak Issei yang sudah hilang kesabarannya. Ia terlihat cukup marah. Nampak jelas ekspresinya yang menatap tajam kea rah teman-teman kelasnya. Suasana kelas yang semula gaduh, menjadi diam. Bahkan sang sensei juga ikut terdiam.

" Issei-san.." bisik Asia lirih yang pertama kali melihat ekpresi marah pemuda yang menolongnya seminggu yang lalu. Begitu pula Naruto yang terkejud dengan tindakan nekatnya itu.

" apa kalian tidak punya perasaan. Selalu saja kalian merendahkan Naruto yang berkekurangan, apa kalian tidak berfikir kalau kalian yang ada di posisi dia !? Dan Sekali lagi, kalian menghina sahabat ku, maka aku tanpa sungkan-sungkan menghajar kalian semua ! " Ancam Issei penuh penekanan di setiap katanya.

Tak ada yang berani melawan perkataan Issei saat itu. Mereka semua terlalu terkejud dengan perubahn sikap Issei yang terkenal sebagai siswa termesum di sekolah, menjadi orang yang berani.

" Hy, Hyoudo-san, sensei rasa itu cukup. Ayo kita mulai pelajarannya." Ujar sang sensei mencairkan suasana tegang kelasnya. Susana kelas yang semula tegang, perlahan mencair, dan kembali seperti semula.

" Issei, kau tadi berlebihan. Aku tidak apa-apa." kata Naruto pada Issei saat jam sekolah telah usai. Tapi pemuda berambut coklat itu, mengatakan kalau ia sudah tidak tahan kalu sahabat nya di hina teru-terusan oleh teman-teman, dan separuh sekolah.

" ano, maaf kalau aku ikut lancang. Tapi apakah Naruto-san selalu di perlakukan begitu?" Tanya Asia polos.

" begitulah, Asia-san. Oiya apakah kau juga anggota member klub penelitian hal gaib?"

" iya. Aku baru-baru saja menjadi anggota. Bagaimana kau tahu itu, Naruto-san?"

" mudah. bau yang menempel di baju mu, sama dengan bau di baju Issei. Bau bunga Mawar." Jawab Naruto dengan menatap kearah jendela gedung sekolah lama, yang bila di perhatikan seksama, Nampak seorang gadis berambut merah a.k.a Rias sedang mengawasi ketiganya.

ΨΨΨ

Rias Pov

Aku terkejud saat seorang wanita berambut perak, dan berpakaian Maid dating kekamar ku saat tengah malam. Setelah membungku hormat, ia meminta maaf karena merasa mengganggu tidur nyenyak ku. buru-buru aku menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh ku yang sedang tanpa pakaian. Tepatnya lagi aku sedang telanjang bulat, aku punya kebiasaan tidur seperti itu. Ok, abaikan itu. Sekarang mari kita tanyakan kedatangan wanita berpakaian Maid yang sangat ku kenal. Bahkan ia paling di hormati di rumah besar Gremory. Ia adalah kakak ipar ku, yang sekaligus kepala Maid di rumah. Ia beranama Grayfia Lucifuge, atau Grayfia Gremory. Ia menyandang nama Gremory semenjak menikah dengan Onii-sama, dan Entah karena alasan apa, Okaa-sama mengijikan Onee-sama menjadi seorang Maid.

" ada apa kau malam-malam dating ke kamar ku, Nee-sama?" Tanya ku heran.

" ini soal pertunangan mu dengan pemuda Phenex itu, Rias. Otoo-sama sudah mengatur hari baik kalian. Dalam waktu dua hari lagi, dia akan mengunjungi mu. sebaiknya kau beri tahu para budak mu." kata Nee-sama, memberitahukan soal perjodohan ku dengan si playboy Phenex itu.

" hah..biar aku saja. Sebenarnya apa sih yang di pikirkan orang tua itu? Sampai-sampai menjodohkan putrinya dengan terburu-buru begini. Manalagi yang di pilih paly boy lagi." Ujar ku agak mengomel. Mau bagaimana lagi, populasi iblis murni di neraka pasca perang saudara 100 tahun lalu, saat ini sedang menurun. Kalau tak percaya tanyakan saja Grayfia-nee yang korban peperangan itu.

" jaga bicara mu itu, Rias. Otoo-sama sengaja melakukan hal ini, karena usia mu sudah di rasa cukup untuk menikah. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Ingat kau itu adalah Heiress di keluarga Gremory" Tegur Grayfia-nee dengan berwajah datarnya itu. Namun tegurannya itu hanya ku anggap angin lalu saja.

" cih. Kalau sudah selesai, pulanglah. Aku mau tidur lagi, oyasumi." Decit ku yang sudah muak dengan peraturan keluarga. Aku ingin menikah dengan orang yang ku cintai dengan tulus. Bukan karena paksaan.

" hah..kau masih saja keras kepala Imouto. Baiklah aku pulang dulu. Jaga diri mu baik-baik." Nee-sama pun akhirnya pulang.

" seharusnya dari tadi kau pulang, baka obaa-san! BWEE.. !" umpat ku meleletkan lidah, dan mengacungkan jari tengah ke arahnya. Persetan dengan tata karma.

Dan dua hari kemudian, si play boy keparat itu benar-benar dating ke ruang klub, sekaligus rumah kecil ku ini. Namanya Riser Phenex, putar kedua dari keluarga Phenex, dan Jangan lupakan Onee-sama yang juga dating.

" jadi Phenex, cepat singkirkan tangan kotor mu dari rambut ku. kau tahu aku butuh 2 jam untuk membuatnya wangi seperti ini." Bentak ku menepis tangan tunangan ku. tapi emang dasar play boy. Nih setan gak, ada ciut-ciutnya. Malah ia semakin berani pada ku.

Tapi aku beruntung memiliki Pawn yang punya sifat bodoh. Ia malah dengan nekatnya, menantang Riser yang jelas-jelas iblis tingkat atas seperti ku. tapi biarlah, nanti akan ku beri dia hadiah, atas keberaniannya itu.

" oh. Kau lancang sekali menantang ku, bocah. Katakan siapa nama mu?" Tanya Riser tersenyum angkuh.

" Hyoudo Issei. Dan Pawn milik Rias-oujo." Jawab Issei, melesat maju kearah Riser. Tapi serangan pemuda itu di tahan oleh salah seorang dari bidak wanita milik Riser, dengan tongkatnya.

Namun entah mengapa Issei malah terlihat mulai tersenyum. Pukulan yang semula di tahan oleh budak wanita itu. Tiba-tiba saja meledak, dan membuat sang gadis terlempar, kemudian menghantam dinding, hingga menciptakan sebuah kawah kecil disana. Semua mata terbelalak terkejud, menyaksikan kekuatan Issei yang terbilang lumayan, untuk iblis kelas rendah sepeti dia.

'' Ryuu ken no Bakuhatsu.''

Riser yang melihat hal itu, hendak memukul Issei. Namun di tahan oleh Grayfia-nee, dengan mengatakan kalau ia tidak bisa membiarkan perkelahian kami lebih dari ini. Ia langsung mangatakan, kalau kami boleh bertarung, namun itu hanya di lakukan pada Rating Game.

" dan siapa pun yang menang boleh, meminta apapun pada pihak yang kalah. Mengerti. Pertandingannya akan di lakukan 1 minggu dari sekarang. Baiklah kami permisi dulu." Grayfia-nee, dan Riser, beserta budaknya pulang kembali ke neraka.

" jadi Rias, bagaimana tindakan mu sekarang. Kau tahukan kalau si play boy itu sudah berpengalaman di banding kita." Komentar Akeno angkat bicara, soal pertandingan yang akan mereka hadapi 1 minggu kedepan.

" mana ku tahu, baka. Kau yang ratu ku seharusnya membantu ku berpikir. Bukannya malah bertanya !" kata ku setengah menghardik Akeno. Tapi gadis yang mengikat rambut ala pony tail itu, hanya terkekeh santai saja.

" mau bagaimana lagi. Kita harus berlatih keras, dan memikirkan rencana matang untuk menghadapi mereka." Sambung Knight ku yang bernama Yuuto Kiba ikut menimpali.

" aku setuju saja. Mengingat majikan kita yang keras kepala, dan pemberontak ini tidak mau di nikahkan paksa, jadi kita harus membantunya untuk menang." Sambung Issei yang tumben-tumbennya berkata bijak. Biasanya pemuda berotak ecchi itu, paling lelet bila di suruh berpikir.

" apakah kau sedang sakit, Issei-senpai ? bicara mu aneh hari ini." Kali ini Koneko yang biasanya cuek, langsung mengomentari perkataan Issei yang tumebn-tumbenan bijak. Pemuda itu malah pundung di pojok ruangan dengan aura suramnya.

" Issei-san. Aku tidak berpikir begitu kok. Bagi ku kata-kata mu sudah cukup bijak. Aku juga akan berusaha untuk membantu sebisa ku." Sambung Asia tidak mau ketinggalan.

Hah…rasanya senang juga punya pelayan unik seperti mereka-mereka ini.

Rias POV End

Seminggu kemudian. Rating Game antar tim Rias, dan Tim Riser, melakukan pertandingan untuk menentukan apakah Rias akan meneriamah perjodohan dari keluarganya, ataukah membatalkannya. Namun semua latihan keras, dan perencanaan matang mereka ternyata tidak cukup untuk menghadapi tim Riser.

( lihat aja hasil pertandingan di Prologe)

Rias kini Nampak duduk di depan meja rias kamarnya bersama para pelayan yang sedang merias dirinya. Hari itu adalh hari dimana ia harus menikahi Riser, karena kekalahannya di pertandingan antar iblis 3 hari yang lalu. Walau begitu, dirinya sudah mempersiapkan suatu rencana gila, yaitu melarikan diri dari tempat pernikahannya. Tentunya para budaknya akan membantu dalam pelarian tersebut. Bahkan teman masa kecilnya yang bernama Sona Sitri turut membantu dalam rencana tersebut, walau awalnya gadis itu menolak untuk membantu, tapi setelah di bujuk. Akhirnya ia mau juga membantu dalam rencana gila temannya. Tapi bila rencana A gagal, Rias sudah mempersiapkan suatu rencana gila lainnya sebagai antisipasi.

Di ruang acara tampak para undangan pesta sudah mulai. Setelah semua undangan pesta telah hadir. Maka pesta pun segera di mulai.

" para hadirin sekalian, saya uncapkan terima kasih atas kehadiran kalian di pernikahan ku ini. Sekarang akan ku perkenalkan calon istri ku!" seusai Riser member kata sambutan, dari pojok pintu masuk muncul sebuah lingkaran sihir berwarna merah. Dan dari lingkaran tersebut muncul Rias dengan pakaian seorang pengantin berwarna senada dengan merah, dan tak lupa gadis itu membawa backet bunga mawar di tanganya. Gadis itu pun mulai berjalan menuju altar pernikahan.

Semua tamu pesta Nampak mengagumi kecantikan Rias yang cukup mempesona. Dan itu membuat mereka berpikir kalau putra kedua dari ketua klan Phenex tersebut jatuh hati pada gadis berambut merah tersebut.

" kau Nampak cantik sekali hari ini, saying." Kata Riser memuji kecantikan calon istrinya itu.

" arigato, Riser." Jawab Rias tersenyum palsu. Menanggapi pujian dari Riser tersebut.

Acara sakral pernikahan antara Rias Gremory, dengan Riser Phenex segera di mulai. Dimana sang tetua klan Gremory yang akan mensahkan pernikahan tersebut. Namun saat ikral suci di ucapkan. Issei beserta Kiba langsung memulai aksinya, yaitu membuat kekacauan. Sementara Akeno dan Koneko bertindak sebagai yang membawa lari Rias denga portal sihir. Sementara Asia, gadis mantan suster gereja itu menunggu di ruang klub.

" apa yang kalian lakukan, iblis-iblis rendah. Penjaga cepat bereskan mereka!" perintah Riser kepada beberapa penjaga, untuk menghentikan Issei dan yang lain. Tapi sebelum para prajurit istanah bertindak, seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun, berambut merah, dan mengenakan pakaian seorang raja. Dating dan menghentikan kekacauan tersebut.

" cih. Akhirnya kau mau keluar juga dari kandang mu itu, Sirzechs !" teriak Rias menyerang pemuda yang bernam Sirzech tersebut dengan power of destructionnya. Namun serangan itu berhasil di halau oleh seorang Maid berambut perak a.k.a Grayfia.

" Rias-Oujosama. Tolong jaga sikap anda di depan Sirzechs-sama." tegur Grayfia berwajah datar.

" sudahlah Grayfia, biarkan saja. Semua undangan, maaf atas ketidak nyamanan ini. Tapi kalau boleh jujur aku sengaja melakuakannya loh. Maaf ya." Cengir Sirzech dengan watadosnya. Pemuda yang bernama Sirzechs Gremory atau bisa di katakan sebagai seorang Maou Lucifer. Ia di angkat sebagai Maou semenjak terjadinya perang saudara antar sesame iblis. Kubu anti old Maou, dan old Maou.

" Luficer-sama, sebenarnya apa maksud anda melakukan hal ini ?" tanya salah satu kerabat keluarga Phenex yang merasa heran dengan tindakkan sang Maou tersebut.

" tentu saja. Aku ingin menguji sekali lagi calon suami adik ku. kau tidak keberatan kan, Riser?" kata Sirzechs menjelaskan alasan mengapa membuat kekacauan di hari pernikahan adiknya.

' bilang aja kau memanfaatkan kami semua.' Batin Issei dan yang lain, saat mendengar alasan dari sang Maou yang senak jidatnya mengatakan kalau kekacauan yang mereka buat itu atas perintahnya.

Riser pun bertanya, ujian apa lagi akan di berikan oleh sang Maou agar mengijinkan dirinya untuk menikahi adiknya tersebut. Sirzechs pun tersenyum kecil, ia lalu mengatakan kalau ujiannya adalah menghadapi Issei sekali lagi.

" ok, aku terima. Lihat saja aku akan menghadapinya lagi. Toh, itu cukup muda, haha…." Tawa Riser merendahkan Issei. Sementara Issei menatap tajam kearah putra kedua dari ketua klan Phenex tersebut, ia ingin membalaskan kekalahannya tempo hari.

Maka di suatu tempat bekas reruntuhan istanah, kedua pemuda tersebut akan bertarung.

" Issei-senpai. Berjuanglah." Kata Koneko member semangat. Begitupula Kiba dan Akeno yang turut member semangat.

" baiklah. Peraturan Pertandingan cukup sederhana yaitu bila ada salah satu yang pingsan, atau menyerah, maka pertandingan kan di hentikan. Dan saya harap kalian bertandingan dengan sprotif. Khususnya anda Riser Phenex-sama. satu hal lagi, dilarang untuk saling membunuh." kata Grayfia menjelaskan aturan pertandingan diantara Issei dengan Riser.

Riser yang merasa ada penekanan pada namanya hanya mengendus kesal, sementara Issei. Pemuda berambut coklat itu terkekeh tanpa suara. Grayfia yang bertindak selaku wasit pertandingan, segera memberi aba-aba mulai.

" Riser. Kali ini aku akan membalas kekalahan ku kemarin. !" Issei melesat kearah Riser dengan cepat, dan langsung memukul wajah lawannya dengan keras.

" jangan harap iblis rendah!" sahut Riser juga membalas pukulan Issei.

Keduanya pun sama-sama terlempar kebelakang, dan kembali mengadu tinju, tendangan, dan juga kemampuannya masing-masing. Semua penonton yang menyaksikan pertarungan keduanya di buat terkesima. Bahkan beberapa penonton ada yang terlihat mendidih darahnya, saat melihat pertarungan sengit antara Issei, dan Riser yang nyaris seimbang.

Hmm, mungkin ada pertanyaan mengapa Issei bisa kalah saat melawan Riser di Rating Game. Jawabanya cukup mudah, saat itu stamina Issei sudah tidak memadai untuk mengahadapi Riser yang terkenal sebagai iblis abadi. Itu karena para budak Riser menggunakan 'Phonix tear', yaitu air mata penyembuh khusus yang di buat oleh klan Phenex, dimana fungsi air itu tidak hanay menyembuhkan luka, tapi bisa juga menumbuhkan anggota tubuh yang terpotong sekalipun. Dan bidak Riser menggunakan itu saat Rating Game. Mangkanya Issei dan teman-temanya bisa kalah.

[BOOTERS!]

" Karyuu No Tekken!"

dari tangan kiri dan kanan Issei, muncul percikkan api yang membara, dan dengan kemampuan Booster Gearnya. Issei memukul Riser, hingga pemuda berambut pirang tersebut terlempar sejauh 4 meter.

" percuma sa-Ouhek !" tiba-tiba Riser terbatuk darah, dan anehnya luka akibat pukulan Issei membuat kemampuan reenerasi Riser berjalan lambat.

" ku, kurang ajar kau. Bagaimana bisa kau membuat ku terluka iblis rendahanan!?" bentak Riser setengah bertanya pada Issei.

" hehe…aku gunakan salah satu dari kelemahan iblis." Jawab Issei setengah menyeringai dengan menunjukan sebuah kalung salip di tangan kirinya yang terbungkus Gauntletnya. Semua yang melihat Issei yang dengan mudahnya memegang salip, bertanya-tanya apakah pemuda berambut coklat itu memakai semacam trik atau apa.

" kau, dan semua yang menonton pastih bertanya-tanyakan bagaimana cara ku bisa memegang salip. Jawabannya adalah tangan kiri ku ini adalah tangan Naga, dan itu berarti tangan kiri ku ini kebal terhadap salip, maupun air suci. Ok waktunya penghabisan!" Issei kemudian merogo saku celanya, dan mengeluarkan sebotol 'Holy Water' dan menyiramkannya ke Gauntlets.

" Booster Gear Gift !"

[TRANFER!]

Melihat Issei yang bersiap menyerangnya, Riser segera menciptakan sebuah bola api besar dan melemparkannya kea rah Issei. Sebelum pemuda itu menyerangnya. Namun serangan Riser sia-sia saat tiba-tiba Issei sudah berada di hadapannya.

" ini balasan untuk Koneko-chan !" Issei tepat memukul perut Riser, hingga pemuda itu terlempar ke udara.

" AARRGG…!"

" ini untuk Kiba!" dari atas Riser yang masih terlempar di udara, Issei menendang pemuda tesebut kebawah. Dan membuat pemuda itu menghantam tanah, dan membuat sebuah kawah kecil.

" ini untuk Akeno-senpai !" kembali Issei muncul dan menendang Riser, kali ini menggunakan lututnya.

" ini juga untuk Buchou yang kau buat menangis, dan mengemis pada mu !"

" Guren Karyuuken!"

Issei memukul Riser yang tak berdaya tersebut dengan beruntun, hingga membuat kemampuan regenerasi pemuda tersebut benar-benar melambat.

" Karyuu no Saiga!"

Kembali Issei menyerang Riser dengan mengepalkan jari-jarinya seperti mulut hewan buas, dan menghantamkannya ke dada Riser. Tampaknya Issei benar-benar dalam kondisi amarah tinggi. Sampai-sampai membuat Riser di ambang kematian. Rias yang melihat Riser yang sekarat, menjadi tertawa keras. Membuat kakak, dan beberapa penonton yang menyaksikan tawa Rias mengerutkan dahi. Bagaimana tidak, salah satu budaknya nyaris membunuh seorang heire klan Phenex, dan Rias selaku sang majikan Issei malah tertawa santai saja.

" cotto Rias. Mengapa kau tertawa saat salh satu budak mu nyaris membunuh Riser ?" Tanya Sirzechs keheran.

" tentu saja Baka-nii. Mana mungkin aku tidak tertawa melihat si play boy itu sedang sekarat disana. Ah, ku pikir pelayan manis ku harus beri apa ya sebagai hadiah? Hmm aku tahu, bagaimana kalau seperempat wilayah ku, pastih itu ok. Hahaha…!" kembali Rias tertawa keras, sambil mengaktifkan sihir teleportnya, menginggalkan sang kakak beserta istrinya yang tampak tak percaya dengan perubahan sikap adiknya yang aneh.

" Sirzechs-sama. kenapa Rias-oujosama menjadi seperti itu?" Tanya Grayfia pada Sirzechs.

" entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa ia menjadi jahat seperti ini. Sebaiknya kita pikirkan dulu masalah permohonan maaf pada keluarga Phenex, baru setelahnya kita selidiki mengapa adik ku menjadi seperti sekrangan ini." Jawb Sirzechs yang juga tidak tahu dengan perubahan adiknya itu.

Sementara itu di lain tempat. Tampak seorang gadis berambut hitam yang di gulung setengah, dan berbaju Miko turut melihat hasil pertarungan antara Issei dan Riser di sebuah cermin bulat berhiaskan mutiara hijau di atasanya. Cermin itu bernama 'Yata no Kagami'

" sepertinya aku terlalu banyak memberikan obat itu. Tapi untung saja dia tidak membunuhnya, dan lagi aku harus..hihihi" mendadak Miko tersebut tertawa pelan, entah apa yang sedang di pikirkannya, hingga ia tertawa.

" Hyoudo Issei, teruslah menjadi kuat, dan buatlah Goshuji-sama bangga telah memilih mu." guma sang Miko itu lagi yang ternyata adalah Meme, memandang Issei yang terlihat serius.

TBC

Moga ini cukup memuasakan, bagi para reader.

Ok, See you next time…..!

Please review