Kembali lagi dengan kisah-kisah iseng yang membangun selera humor saya. Kali ini akan memasuki trilogi-nya yang mungkin tambah aneh dan luar biasa maboknya. Malam ini saya mengetik keras dengan humor yang berhamburan tapi garing, ditemani dengan sebuah lagu yang pelan dan cukup untuk menghibur para tokoh di KH. Yuk mari kita jalan-jalan melihat apa saja yang mereka kerjakan ditengah malam seperti ini sambil mendengarkan lagu kesukaan mereka...


Iseng 3: Scene in Night part 2 of 2

Warning: Sekali lagi saya peringatkan, kisah ini berisi santapan yang tidak habis dari iseng pertama dan kedua, harap bersiap dengan segala racun yang akan menyerang anda dari tiap teguk gelas yang anda minum dari cerita ini. Tak lupa Typo yang sedianya membuat anda tidur juga patut diwaspadai. Sekali lagi jangan anda tertipu oleh kegaringan Fic ini. Karena Fic ini telah digoreng dengan suhu lebih dari 1000 derajat dan ya tentunya tak lupa tepung roti agar fic ini sangat garing, crispy, dan crunchy ketika dikunyah. Tapi di sesi terakhir ini, biarkan author menuangkan isi hatinya yang paling dalam, rasa sakit dan juga sedih dari hatinya. Sebuah scene yang author ingin dapat capai ketika masa depan masihlah angan yang melayang.

Disclaimer: KH bukan punya saya


Scene 1: Kutunggu dibawah pohon jati

Roxas dan Namine night scene

Roxas: Namine kau lama sekali... *Menunggu sembari berdiri dibawah pohon jati , sungguh dingin tapi terasa hangat

Namine: Roxas-kun...

Roxas: Na-Namine!

Namine: Roxas, aku kemari hanya untuk-

Roxas: Kau tahu, aku sudah menunggumu lama sekali...

Namine: Roxas... ada sesuatu yang ingin kukatakan...

Roxas: Huh?

Namine: Roxas... aku... aku akan... *Dikala dia datang, tangisan itu hadir tanpa sebab

Roxas: Namine, apa yang terjadi? Kau tak terluka, lalu kenapa...?

Namine: Ro-Roxas, aku akan pergi meninggalkanmu hari ini *Kata yang kuharap tak ingin terdengar dari bibirnya kini telah terlontar didalam isak tangisnya

Roxas: A-apa!? Kenapa, Namine!? Kenapa kau akan pergi meninggalkanku!?

Namine: Aku tak bisa bilang...

Roxas: Kumohon Namine, aku hanya ingin bersamamu dibawah pohon ini- tidak, di malam ini! *Dan pelukan itu kini menjadi wali dari perasaanku

Namine: Roxas...

Roxas: ...-maaf jika harus jadi seperti ini... *Aku ingin menangis tapi tak bisa

Namine: Aku harus- *Kumohon jangan berpaling, sampai aku bisa mengatakan-

Roxas: Aku sayang padamu Namine, kumohon... *Ya, itu benar, aku akan melakukannya

Namine: Roxas, apa yang kau-

Roxas: Maukah kau menikah denganku, Namine? *Kini ku himpun semua harapanku pada satu momen ini

Namine: Roxas!? A-apa yang kau katakan barusan?

Roxas: Menikahlah denganku, Namine ...

Namine: ... Aku... *Sebuah jawaban yang kutunggu dalam detik-detik ini

Roxas: ...

Namine: Ba-baiklah! Aku mau menikah denganmu!

Roxas: Oh, Namine-

Namine: Oh, Roxas kemarilah- *Lengkap sudah semuanya, kebahagiaanku, akan kulindungi dikau, dan jika perlu kan kusilangkan keyblade ini dipersimpangan kisah kita yang penuh keanehan ini. Bersama kami berpelukan dibawah pohon jati yang kini tengah menggugurkan daunnya, membungkus kedua tubuh kami, dan kemudian menghilang... itulah kami, nobody memang seharusnya tak diciptakan untuk saling mencintai. Sekalipun ada, hanyalah hampa yang menunggu kami di masa depan.

-Roxas dan Namine END-


Scene 2: Tanyakan pada rumput yang bergoyang

Sora dan Kairi

Sora: Ah, angin yang sejuk ya... *Ditengah jalanan yang luas itu, deru angin menyapu lembut perasaan kami

Kairi: Sora, berhenti disini, ayo berfoto!

Sora: Ok! *Dan kami berhenti disebuah persimpangan jalan

Kairi: Wah, sore yang indah... aku tak sabar ingin melihat matahari terbenam dari sini!

Sora: Ayo kita terobos ilalang ini

Kairi: Iya! *Sore itu sungguh lelah namun diikuti nikmat yang menyenangkan hati

Sora: Indah sekali...

Kairi: Sora...

Sora: Hmm? *Membanting tubuhnya menuju diriku dan aku terbaring tak berdaya dibawahnya

Kairi: Aku sayang padamu...

Sora: Aku juga...

Kairi: ...

Sora: ...- *Disaat mentari terbenam itu menunjukkan indahnya dunia ketika menjelang malam, kami berpagutan terguling di padang ilalang yang menjadi teman kami. Entah sudah berapa menit sejak matahari terbenam tersebut habis masa aktifnya, dan kami mulai terus tertidur. Selamanya didalam tenang dan dingin dari malam itu sendiri.

-Sora dan Kairi END-


Scene 3: Es krim

Riku dan Xion

Riku: Kupikir es krim ini cukup untuk meminta maaf padamu... *Entah sudah sejak kapan aku mulai membelikannya es krim tersebut

Xion: Uh huh, aku sangat senang dengan es krim ini...

Riku: Um, kau benar-benar menyukai es krim ini tampaknya huh?

Xion: Kau bisa melihatnya... ah-

Riku: Ada apa?

Xion: Aku harus pergi dulu, sampai jumpa bocah spiderman hehe... selamat tinggal... *Firasatku bicara dan meraung

Riku: Ya... sampai jumpa dan selamat- tinggal *Semua itu terjadi dengan cepat hingga akhirnya kusadari kalau dia takkan pernah lagi duduk disini bersamaku dengan es krim miliknya.

-Riku dan Xion END-


Between the light and darkness

Sekarang semua telah hilang dan kosong. Sora dan Kairi telah tiada, jenazah mereka ditemukan dibalik ilalang dipersimpangan sebuah jalan yang memiliki sebuah pemandangan indah. Roxas dan Namine tidak dapat dtemukan. Beberapa mengatakan kalau mereka hanyalah jiwa yang menuntut janji mereka untuk bertemu dibawah sebuah pohon jati, tapi itu semua bohong. Aku tahu... Aku sangat tahu kalau mereka kini sudah merasa tenang disana, didalam kegelapan mereka berpelukan dan didalam terang mereka saling tersenyum. Sedangkan Xion- aku hanya menemukan sebatang stik yang tergeletak diatas lantai penuh debu. Usang dan kusam, dibalik sana tertera sebuah kata yang samar bertuliskan "Winner"...


ISENG 3 -END-


Author's Note: Setelah hari yang panjang dengan kesibukan kuliah yang penuh dan menumpuk akhirnya bisa update lagi ^^. Tapi untuk yang terakhir ini, author pingin banget sharing-sharing dengan chara KH tentang apa yang author rasakan sekarang, dan voyla! Jadilah part 2 yang sekarang. Seperti biasa author akan selalu mengatakan, membaca adalah satu-satunya yang manusia akan lakukan untuk menempatkan dirinya di dunia ini.

Salam, Lunar Metacore