Title : Love Departure

Author : LyA-Qii

Cast : Mark Tuan (GOT7), Park Jinyoung (GOT7)

Other Cast : GOT7 Members

Genre : Romance, School Life, Friendship, Drama, OOC

Rating : Teen

Lenght : Chapter

Bel pulang baru saja berbunyi, seluruh siswa sekolah ini berhamburan keluar kelas dengan wajah senang mereka. Tanpa kecuali Park Jinyoung, pria bahkan sangat antusias mendengar bel pulang ini. Bahkan ia keluar kelas sambil menutup resleting tasnya lalu fokus pada langkahnya. Jinyoung melangkah begitu cepat hingga tak terasa sudah berada di halaman sekolah

"Kau tidak lupa hari ini latihan kan?" ucap seseorang yang Jinyoung rasa ditujukan padanya, lantas ia menoleh mendapati Mark yang sedang duduk di bangku taman

"Aku absen hari ini, boleh kan?" Mark melepas earphone lalu menyimpannya di saku blazer, ia merupakan tipikal yang tidak suka jika seseorang melanggar peraturan

"Tidak." jawab Mark sedikit ketus langsung mengundang ekspresi masam Jinyoung, orang seperti ini bagaimana bisa menjadi ketua

"Aku izin padamu, hari ini aku harus berkemas. Barang-barang ku-"

"Siapa yang peduli tentang itu?" sela Mark membuat Jinyoung semakin bermuka masam

"Yakk! Orang tua ku bahkan sudah menelpon." Jinyoung menunjukkan ponselnya yang berbunyi dan dilayarnya tertulis eomma. Mark menghela nafas beratnya lalu mengangguk kecil pertanda ia mengizinkan Jinyoung untuk absen

"Ahh... kamsahamnida sunbaenim." ucap Jinyoung sambil membungkukkan tubuhnya lalu melenggang pergi, Mark menatap punggung Jinyoung dengan senyuman samar dibibirnya. Lalu kembali mengontrol dirinya

"Eomma... aku pulang!" teriak Jinyoung setelah membuka pintu utama rumah baru nya, didepan rumah sudah terdapat mobil pick-up yang mengangkut properti rumah

"Ohh.. Jinyoungie akhirnya kau datang, bantu ahjussi-ahjussi itu mengangkut barang nde? Pembantu rumah baru bisa datang besok pagi." pinta eomma setelah menunggu Jinyoung cukup lama, properti rumah sudah datang sekitar 30 menit yang lalu namun belum semua properti itu turun dari mobil karena kurangnya orang untuk mengangkut. Appa Jinyoung yang hari ini kerja dan akan pulang petang nanti.

Cukup lama Jinyoung dan para pegawai suruhan ini mengangkut semua properti rumah hingga bajunya basah kerena keringat. Ia sangat antusias melihat kamarnya sudah tertata rapi dan tempat favoritnya adalah meja belajar yang berada di dekat jendela kamar. Jinyoung menduduki kursi meja belajarnya lalu sedikit menata aksesoris yang sengaja ia bawa dari Busan beberapa diantaranya adalah aksesoris lama yang memiliki kenangan berharga

"Sehari tanpamu rasanya sangat aneh." ujar Jinyoung sambil mengambil plugy berbentuk rilakuma kesayangannya, ia sudah menyebutnya seperti benda keberuntungan untuknya. Berlebihan memang

"Terlihat lebih baik." Jinyoung tersenyum manis setelah memasang pluggy di ponselnya. Beberapa saat ia melihat pluggy yang sudah terpasang di ponselnya, kebiasaan yang jarang orang liat adalah Jinyoung yang sering melihat pluggy berbentuk pikachu ini seperti sedang melihat orang yang dirindukannya. Entah siapa dia

"Jinyoungie..." panggil eomma setelah membuka pintu kamar Jinyoung, lantas pria ini menoleh

"Ya?"

"Cepat turun, kita makan siang bersama." ucap eomma mengingatkan putra yang seharian ini belum makan siang

"Baik eomma." Jinyoung lantas meletakkan ponselnya lalu keluar dari kamarnya menuju ruang makan

.

"Bagaimana sekolah baru mu?" tanya eomma membuka topik pembicaraan

"Eumm.. lumayan hanya perlu beradaptasi." jawab Jinyoung sambil mengunyah makanannya

"Kau akan cepat memperoleh teman." Eomma tersenyum menyemangati Jinyoung yang seperti belum terbiasa dengan suasana sekolah barunya

"Baik... cepat selesaikan makanmu, eomma akan menata kamar." Jinyoung mengangguk lalu sang eomma melenggang pergi dari hadapannya

From : +82492829xxx

Sudah selesai beres-beres kan? Cepat datang ke sekolah pukul 4!

Baru saja Jinyoung membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ia mendengar ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ia mengernyitkan dahinya merasa asing dengan nomor ini

From : +82492829xxx

-mark

"Ish..." desis Jinyoung melihat siapa pengirim pesan ini, laki-laki menyebalkan yang mengganggu acara istirahatnya. Ia berniat untuk tidak membalas pesan ini dan Jinyoung sudah menyiapkan seribu alasan untuk ini, namun baru akan ponselnya ia letaknya. Benda putih ini berdering terlebih dahulu, Jinyoung hanya memutar bola matanya malas melihat nomor asing milik Mark ini

"Yeoboseyo.." ucap Jinyoung dengan nada malas

'Yakk... bisakah kau balas pesanku?!' ia sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Tidak mengira telinga sehatnya ini akan diserang oleh suara sekeras ini

"Kenapa? Aku sangat malas untuk latihan, menari hanya membuatku semakin cedera."

'Itu hanya alasanmu, ingatlah walau kau hanya sebagai cadangan tapi peraturan tetap peraturan. Datang pukul 4 tepat!' detik selanjutnya sambungan telepon terputus, Jinyoung hanya mengendikkan bahunya acuh dengan omelan Mark tadi

"Aish.. tidak mungkin aku menari lagi." Jinyoung mendudukan dirinya di tepi ranjang lalu menarik celana training nya memperlihatkan pergelangan kakinya yang terbalut perban. Ini alasannya untuk berhenti beberapa waktu di dunia menari yang sudah membesarkan namanya, karena keteledorannya sendiri ia melukai kakinya.

Namun disisi lain, ia juga merindukan melakukan dance yang sudah menjadi bagian hidupnya. Sekarang ia harus pintar-pintar menyembunyikan cederanya ini dari eomma untuk meminta izin nantinya

"Hhhh..." hembusan nafas Jinyoung terdengar sangat berderu, ini akibat dari lari maratonnya. Beruntung ia sampai di ruang latihan tepat pukul 4, bahkan ia melupakan kakinya yang mulai terasa sakit karena berlari tadi

"Argh.." rintih Jinyoung saat melangkah masuk ke dalam ruang latihan, namun rintihan itu hanya rintihan samar

"Beruntung kau datang tepat waktu." ucap Mark dibelakang Jinyoung, sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya? Mark memandangi Jinyoung yang seperti menahan sesuatu, dahi tampak berkerut dan cara berdirinya yang sedikit aneh

"Kau sedang akting?" tuding Mark dengan wajah dinginnya membuat Jinyoung sedikit tersinggung, ayolah dia sama sekali tidak tahu perjuangannya demi datang latihan tepat waktu

"Cepat bersiap, kita hanya tinggal menunggumu." Jinyoung mengangguk pelan lalu meletakkan ranselnya dan mulai bergabung dengan lainnya

"Hyung... gwenchana?" tanya Yugyeom memastikan, ia melihat Jinyoung berjalan sedikit tertatih tadinya

"Eumm..." Jinyoung mengangguk pelan sambil tersenyum meyakinkan

Dua jam lamanya waktu berjalan, tampaknya Jinyoung masih bisa menyembunyikan rasa sakit dipergelangan kakinya. Beruntung hari ini baru memperlajari gerakan dance dasar untuk persiapan kompetisi tahunan. Jinyoung menjatuhkan tubuhnya sambil mengatur deru nafasnya, sungguh ini melelahkan. Dua jam menari tanpa berisitirahat sangat tidak manusiawi walaupun ia pernah melakukan hal ini

"Sekarang kalian boleh pulang." ucap Mark berdiri diantara teman-teman dance nya, wajah pria itu basah di penuhi keringat namun entah kenapa ia terlihat sangat tampan berkali lipat dimata Jinyoung jika seperti ini. Yakk! Apa yang kau pikirkan Park Jinyoung?!

"Jinyoung-ah, kau tidak ingin pulang?" lamunan Jinyoung tersadar saat Jackson menepuk bahunya, aishh... apa-apaan ini? Bisa-bisa ia terpesona dengan pria menyebalkan itu

"Ahh.. ya.." respon Jinyoung sedikit linglung, maklum ia baru saja sadar dari lamunannya

"Kajja!" ajak Yugyeom sambil menyampirkan ranselnya, disusul Jinyoung dan Jackson

.

"Hyung... aku duluan ya? Ahjussi sudah menjemputku." pamit Yugyeom pada Jinyoung dan Jackson

"Hati-hati." ucap Jinyoung sambil melambaikan tangannya

"Aku juga duluan, dah..." kini tinggal Jinyoung yang berada di halaman sekolah yang luas ini setelah Jackson ikut berpamitan untuk pulang. Ia berjalan sedikit pincang, apalagi saat menuruni anak tangga ini sangat menyulitkan langkah kakinya. Dan...

HAP

Jinyoung membelalak matanya merasakan tubuhnya terhuyung kesamping karena ia terpeleset saat menuruni anak tangga. Syukurlah ada seseorang yang baik hati menangkap tubuhnya, pria yang otomatis memeluk Jinyoung ini membantunya untuk berdiri dengan normal lagi. Memalukan sekali

"Ahh... terimakasih." ucap Jinyoung sambil membungkuk, pria didepannya ini mengangguk kecil lalu tersenyum

"Tidak masalah... apa kaki mu sedang sakit?" tanya pria ini melihat kaki Jinyoung yang terpalut perban

"Hanya sedikit tapi tidak masalah."

"Jinjja?" Jinyoung mengangguk

.

"Ehem..." sebuah suara menginterupsi dua pria yang sedang berbincang ini

"Ahh.. Youngjae-ya.." sapa Jinyoung setelah menolehkan kepalanya mendapati Youngjae yang berdiri satu tingkat tangga diatasnya

"Kalian sedang apa?" tanya Youngjae sedikit ketus, mendengar hal ini Jinyoung merasa aneh dengan nada bicara Youngjae

"Dia baru saja menolongku, aku hampir saja jatuh jika dia tidak menangkapku." jawab Jinyoung apa adanya, ngomong-ngomong ia belum tahu siapa nama pria yang baru saja menolongnya ini

"Im Jaebum. Namanya Jaebum." ucap Youngjae mendengar Jinyoung memanggil Jaebum dengan sebutan 'dia'

"Ahh... Jinyoung, namaku Park Jinyoung." Jinyoung mengulurkan tangannya pada Jaebum mengajaknya untuk berkenalan, pria Im lantas menerima uluran tangannya dan tersenyum sebentar

"Sudah malam... apa kalian tidak pulang?" ucap Youngjae mengintruksikan kegiatan berkenalan pria didepannya ini

"Ahh ya... Aku duluan." pamit Jinyoung sambil melambaikan tangannya, ia berjalan berlahan menuruni anak tangga berharap tidak terpeleset lagi. Perlahan tubuh Jinyoung menghilang diantara pohon-pohon rindang di halaman sekolah

"Kau hampir membuatku cemburu." Youngjae melipat kedua tanganya bersikap seolah sedang kesal

"Uri Youngjae sedang cemburu eoh?" Jaebum mencubit pipi chubby milik Youngjae gemas

"Yakk... aku serius hyung." teriak Youngjae kesal sambil melepas tangan Jaebum dari wajahnya

"Ahh... terimakasih berarti kau sangat mencintaiku." tanpa seizin Youngjae tiba-tiba Jaebum mengecup bibir merah milik kekasihnya ini

"Yakk... bagaimana jika ada yang melihat?!" Youngjae memukul lengan Jaebum atas perbuatannya tadi, memiliki kekasih yang suka menggoda itu sangat menyebalkan

"Wae? Lagipula kau belum aku cium seharian ini."

"Hyung...!" seketika Jaebum tertawa pelan melihat tingkah Youngjae yang sudah malu karena ia goda habis-habisan

"Baiklah... ayo kita pulang." Jaebum merangkul tubuh Youngjae, menempelkan tubuhnya tanpa ada sekat sedikit pun. Insiden kecil tadi membuat Jaebum tahu sifat lain dari Youngjae-sang kekasih-yakni pencemburu

Jinyoung berhenti sebentar di sebuah minimarket untuk membeli minuman kaleng, ia sudah kehabisan bus sore ini membuatnya harus berjalan kaki menuju rumah namun ditengah perjalanan Jinyoung merasa haus karena sudah berjalan selama 10 menit. Rumah dan sekolahanya terpaut 15 menit lamanya jika ia berjalan kaki, Jinyoung memutuskan untuk beristirahat sebentar ia menghempaskan tubuhnya ke atas kursi yang disediakan pihak minimarket. Kakinya terasa lebih sakit dari sebelumnya, Jinyoung merasa ia harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Namun kakinya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi untuk berjalan lagi, jadi mau tidak mau ia harus memesan taksi untuk membawanya ke rumah sakit.

Tak butuh berapa lama, taksi yang Jinyoung pesan sudah datang. Tanpa ia sadari dari dalam minimarket keluarlah pria yang seharusnya bertanggungjawab atas rasa sakit kakinya ini. Dia Mark, pria itu baru saja keluar dari minimarket dengan membawa kantung plastik yang berisi makanan. Mark melihat Jinyoung kesulitan untuk berjalan, apa latihan tadi membuat Jinyoung menjadi seperti itu? Jika iya, maka ia merasa sangat bersalah. Ingin sekali Mark membantu Jinyoung berjalan menuju taksi di pinggir jalan itu namun sepertinya tidak mungkin. Ia hanya bisa melihat Jinyoung dari kejauhan saat pria itu sudah masuk ke dalam taksi yang membawanya pergi

"Maafkan aku jika itu karena ku."

Jinyoung meringis kesakitan saat dokter menyentuh pergelangan kakinya, terdapat memar hebat disana

"Ini sangat parah, bagaimana bisa kau menahannya?" tanya dokter ini sedikit heran dengan Jinyoung yang kuat menahan rasa sakit ini

"Aku barusaja merasakannya, aku tidak tahu jika separah ini."

"Tulang pergelangan kakimu renggang, jangan banyak bergerak aku akan memasang gips dikakimu." ucap sang dokter sambil mempersiapkan segala keperluannya

"Apa akan terlihat di kaki sedang di gips?"

"Tidak.. hanya gips ringan tapi berjanjilah jangan terlalu bergerak setelah ini. Hilangkan latihan dancemu." Jinyoung hanya menganggukan kepalanya bersedia mengikuti semua perkataan dari dokter muda ini

"Apa orang tua mu tahu soal ini Jinyoung-ah?"

"Hyung... jangan sampai kau memberitahu mereka." tangan Jinyoung sudah bersiap untuk memukul tubuh dokter muda ini yang tak lain adalah pamannya sendiri. Karena memiliki wajah yang terlihat masih muda, Jinyoung memutuskan untuk memanggilnya 'hyung'

"Sudah selesai, sekarang kau boleh pulang. Hati-hati dijalan."

"Nde..."

-TBC-

Haii... aku balik lagi dengan ff chapter 2 ini, maaf klo konflik ini kurang menarik apalagi yang suka baca ff nc jujur aku gk bisa buat nc -_- ini pertanda kalo aku bukan author profesional *maaf* soal kaki Jinyoung yang sakit itu bingung udah bener belum kalo pergelengan kaki renggang itu di gips apa enggak, karna ini hanya fiksi dimohon untuk tidak dibuat baper :v

Review nya jangan lupa, aku sangat menerima kritik yang membangung dan saran untuk kelanjutan ff ini. Yang markjin besoknya mau digimanain tinggal koment aja, ntar aku pikir" buat diselipin di ff ini