.SASUHINA
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
My Heart and My Sigurd
.
.
Rated T
.
.
Genre : Romance & Supernatural
.
.
Bulan purnama memamerkan pesonanya di tengah kegelapan malam. Para bintang pun seakan juga ikut-ikutan menunjukkan kebolehannya dengan mengkerlap-kerlipkan cahayanya. Keadaan tersebut menggambarkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal baru saja di salah satu sudut bumi ini terjadi pertarungan antara dua mahluk yang berbeda dunia. Syukurlah dewi fortuna berpihak pada keturunan manusia bukanlah sebaliknya.
Bagai sang rembulan yang memamerkan keindahannya, saat seorang gadis bersurai indigo dengan perlahan mulai membuka kedua matanya. Entah sudah berapa lama sepasang lavender itu menyembunyikan keindahan sinarnya.
Tidur lelapnya seakan terusik ketika ada hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya. Rasa kantuk terlihat masih menghinggapinya walaupun dia telah beberapa kali mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Terlihat buram, perlahan namun pasti semakin terlihat jelas. Setelah penglihatannya kembali normal, yang pertama kali tertangkap oleh lavender-nya adalah wajah seseorang.
'Aku pasti sedang bermimpi,' pikir Hinata.
Kemudian dia kembali menutup kedua matanya. Hinata menganggap bahwa dirinya sekarang tengah berada di alam mimpi. Namun pemikiran itu segera terbantahkan, ketika Hinata merasa ada sesuatu yang bergerak di pinggangnya. Sesuatu tersebut menarik tubuhnya mendekat ke sesuatu yang lain.
'Hangat,' batin Hinata.
Merasa penasaran dengan apa yang ada di hadapannya. Hinata membuka kedua kelopak matanya. Kali ini sepasang mata Hinata langsung terbelalak lebar saat melihat ada wajah seorang pemuda asing berada persis di depan wajahnya. "Kyaaaa..."
Bruk!
"Aduh!"
"Si-siapa kamu? Kenapa ada di kamarku?" tanya Hinata. Raut ketakutan nampak jelas di wajahnya. Seseorang lebih tepatnya seorang pemuda yang sekarang tengah merasa kesakitan karena punggung dan pantatnya menabrak tembok Hinata. Hal itu karena dia terpelanting akibat terkena tendangan Hinata.
"Kau tidak mengingatku, Hyuuga-sama?" tanya pemuda tersebut.
"Kamu-..."
Brak!
Perkataan Hinata terputus saat Hizashi tiba-tiba membuka dengan kasar pintu kamar Hinata. Kemudian menyusul Neji yang kini ada di samping Hizashi. Kedua pria Hyuuga tersebut terlihat sangat khawatir. Itu mungkin karena tadi mereka mendengar teriakan Hinata.
"Ada apa, Hinata?" tanya Hizashi.
"Hi-hizashi-jiisan," panggil Hinata. "Siapa dia? Kenapa bisa ada di kamarku?" tanya Hinata sambil menunjuk ke arah pemuda yang sekarang mencoba berdiri dari posisi jatuhnya.
Hizashi dan Neji mengalihkan perhatiannya pada pemuda tersebut. Hizashi terlihat menghela nafasnya. Perhatiannya kini kembali lagi pada satu-satunya gadis yang ada di tempat tersebut. "Jii-san akan menjelaskannya," jawab Hizashi sambil berjalan mendekati Hinata. "Tetapi bukan di sini," lanjut Hizashi seraya mengulurkan tangannya ke Hinata.
"Hm, baik," balas Hinata dengan menerima uluran tangan Hizashi.
Hizashii menggenggam tangan Hinata dan membawa gadis itu keluar dari kamarnya. Ketika Hinata akan keluar dari kamarnya, perhatiannya tertuju pada pemuda asing yang tadi telah membuatnya terkejut.
Begitu juga dengan pemuda asing tersebut, dari tadi perhatiannya tidak pernah luput dari gadis beriris lavender itu. Wajah pemuda itu terlihat sedikit sendu saat sosok mungil Hinata menghilang di balik tembok.
Neji menatap datar ke arah pemuda asing tersebut. Namun tidak ada yang tahu di balik tatapan datar pemuda Hyuuga itu, tersimpan banyak arti.
"Keluarlah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Neji.
"Kau tidak berhak memerintahku," balas Sasuke.
"Ini mengenai Hinata," jelas Neji.
Apapun yang berhubungan dengan Hinata, pemuda asing itu akan segera menanggapinya. Jadi, mau tidak mau dia mengikuti langkah Neji keluar dari kamar Hinata.
.
.
.
.
.
Angin malam menerpa tubuh kedua pemuda yang sekarang tengah berada di halaman belakang rumah keturunan Hyuuga. Setelah beberapa saat terjebak dalam keheningan, akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara.
"Aku tidak menyangka bahwa Hinata yang akan menjalani takdir besar ini," ucap Neji. "Kalau bisa, aku ingin menggantikan posisinya," lanjut Neji.
"Hal itu sudah ditakdirkan. Tidak akan ada yang bisa merubahnya. Termasuk dirimu," jawab pemuda asing itu.
"Aku tahu," sahut Neji. "Oleh karena itu, kau harus melindunginya dengan segenap jiwa dan ragamu."
"Itu sudah menjadi tugasku."
"Hn. Aku juga akan berusaha keras untuk melindungi gadis itu."
Pembicaraan antara kedua pemuda tersebut harus terhenti karena kedatangan gadis yang menjadi objek pembicaraan di tempat itu. Hinata menatap lembut kakak sepupunya.
"Neji-nii, tolong tinggalkan kami berdua di sini," pinta Hinata. "Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," tambahnya.
"Hn. Aku mengerti," ucap Neji. Setelah mengatakan itu, Neji melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya.
.
.
.
.
.
"Lama sekali. Aku butuh tambahan kekuatan lebih banyak lagi," keluh pemuda itu sambil berjalan mendekati Hinata.
"Jangan mendekat!" cegah Hinata ketika pemuda asing itu sudah berada cukup dekat dengan dirinya. "Sebelum kamu memberitahuku siapa dirimu sebenarnya," lanjut Hinata.
"Itu salahmu sendiri," tuding pemuda itu.
"Kamu bilang ini salahku. Apa maksudmu?" tanya Hinata yang tidak terima atas tudingan pemuda asing itu.
"Hn. Kau sudah terlebih dahulu pingsan, sebelum aku dapat memperkenalkan diriku," jawab pemuda itu.
"Aku pingsan 'kan juga gara-gara dirimu!" Muncul raut kesal di wajah Hinata.
Pemuda asing itu hanya membalas Hinata dengan seringaiannya. "Namaku Uchiha Sasuke. Ada yang ingin kau tanyakan lagi padaku?"
"Tentu saja ada. Banyak yang ingin aku tanyakan padamu."
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Namun, dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Aku harus mengisi kekuatanku terlebih dahulu."
"Bagaimana caranya?"
"Seperti yang aku lakukan tadi. Ketika perubahan wujudku dari seekor kucing menjadi seorang manusia."
Hinata mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukan Sasuke padanya saat perubahan pemuda itu menjadi seorang manusia. Semburat merah langsung muncul di wajah Hinata, ketika dia sudah dapat mengingatnya.
"Sepertinya kau sudah mengingatnya," ucap Sasuke disertai seringaiannya.
"Mana mungkin aku mau melakukan 'itu'?" sahut Hinata. Raut kesal nampak jelas di wajahnya.
"Ya, itu terserah kau saja. Lagipula kalau aku sampai kehabisan kekuatan, itu juga akan berdampak buruk padamu."
Ctak!
Muncul sudah tanda perempatan di pelipis Hinata. Gadis Hyuuga itu benar-benar merasa kesal dengan pemuda yang baru dikenalnya ini.
Entah mendapat keyakinan darimana, sekarang Hinata sangat yakin bahwa yang bisa melindunginya dari mahluk aneh yang ditemuinya tadi adalah Sasuke. Jadi mau tidak mau, untuk sementara ini Hinata harus bersedia memenuhi keinginan pemuda menyebalkan itu.
.
.
.
.
.
"Apa tidak ada cara yang lain? Selain melakukan 'itu'?" tanya Hinata dengan sedikit malu.
"Tentu saja ada," jawab Sasuke.
"Apa?" tanya Hinata dengan sangat antusias.
"Pada dasarnya kekuatan Heart akan tersalurkan ke orang lain. Saat orang itu melakukan kontak tubuh dengan sang pemilik Heart."
"Kontak tubuh?"
"Hn."
"Tetapi kontak tubuh 'kan tidak dengan harus melakukan 'itu'."
"Hn, kau benar. Dengan hanya memelukmu saja, kekuatan Heart sudah bisa tersalurkan kepadaku."
"Kalau hanya dengan memeluk saja bisa, lalu kenapa kamu tadi melakukan 'itu' kepadaku?" Dada Hinata terlihat kembang kempis karena menahan rasa kesalnya terhadap Sasuke.
"Kekuatan Heart dapat cepat tersalurkan ketika diambil melalui lubang yang terdapat pada tubuh manusia. Kecuali kalau orang itu sudah dapat mengendalikan kekuatan Heart, dia dapat men-transfer kekuatan Heart hanya dengan menggenggam tangannya saja."
Mendengar itu, kekesalan Hinata jadi sedikit menurun. Dia mengerti kalau keadaan tadi begitu darurat, makanya Sasuke melakukan 'itu' kepadanya. Hinata terlihat menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Baiklah, aku mengerti. Tetapi kamu tidak boleh melakukan 'itu' lagi padaku," jelas Hinata.
Sasuke terlihat akan mengeluarkan protesnya, namun hal itu terlebih dahulu dipotong oleh Hinata.
"... Kecuali kalau keadaan mendesak. Kamu baru boleh melakukan 'itu'," lanjut Hinata dengan berat hati plus malu tentunya.
Sasuke tersenyum puas mendengar jawaban Hinata. Namun, senyuman indah Sasuke itu terlihat menyeramkan di mata Hinata.
'Apa-apaan senyumannya itu? Sungguh mencurigakan,' pikir Hinata.
Dengan tenang, Sasuke melangkahkan kedua kakinya untuk mendekat ke Hinata. Melihat itu, Hinata jadi perlahan-lahan melangkah mundur ke belakang. "A-apa yang akan kamu la-..."
Grep
Perkataan Hinata terpotong karena perbuatan Sasuke, yang dengan seenaknya memeluk dirinya. Tentu saja Hinata mencoba untuk melepaskan pelukan tiba-tiba pemuda ber-iris onyx itu. "Lepaskan! Mau kamu apa sih?" tanya Hinata yang tengah memberontak di dalam pelukan Sasuke.
"Ssst! Diamlah! Apa kamu sudah lupa dengan yang aku jelaskan tadi?" bisik Sasuke di telinga Hinata.
"Te-tentu saja tidak lupa," kilah Hinata.
"Kalau begitu diamlah."
'Hahhh... Apa boleh buat kalau begitu.' batin Hinata.
"Apa kamu tahu cara mengendalikan kekuatan Heart?" tanya Hinata dalam pelukan Sasuke.
"Hn," sahut Sasuke sekenanya.
"Bagaimana caranya?"
"Nanti aku ajari."
"Kapan?"
"Nanti saat kau sudah siap."
"Aku sudah siap."
"Hn."
"Aku bilang aku sudah siap."
"Hn."
"Sasuke!"
"Jangan cerewet. Kalau kau tetap cerewet aku tidak mau mengajarimu."
Hinata hanya bisa merengut mendengar jawaban Sasuke. Berbanding terbalik dengan pemuda bermarga Uchiha itu. Sasuke tampak senang ketika gadis yang sekarang ada di pelukannya terdiam seribu bahasa. Hal itu terlihat dari senyuman tipis yang menghiasi wajahnya. Dengan lembut pemuda Uchiha itu mengeratkan pelukannya pada Hinata. Sepertinya Sasuke sangat menikmati saat-saatnya kini bersama Hinata.
.
.
.
.
.
Perasaan tidak nyaman yang dirasakan Hinata akhir-akhir ini, entah kenapa perlahan menghilang. Saat dia berada dalam pelukan Sasuke seperti sekarang ini. Perasaan aman dan nyaman diam-diam merasuk ke dalam hatinya.
Hinata bingung, padahal pemuda Uchiha itu selalu membuatnya kesal. Seharusnya sekarang dia merasa kesal, marah ataupun benci. Tetapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya. Apakah ini pengaruh dari kekuatan Heart?
Suasana yang begitu terlihat romantis itu harus berakhir, saat lagi-lagi dada Hinata tiba-tiba merasa sesak. Bukan hanya itu, saja jantungnya berdetak lebih keras. Dan pernafasannya perlahan terdengar tidak beraturan.
Sasuke langsung melepas pelukannya saat merasa keanehan yang terjadi pada Hinata. Selain itu, dia juga merasakan ada aura negatif yang cukup besar menuju ke tempat mereka berada sekarang ini.
"Sa-sasuke i-ini..." ucap Hinata terbata-bata.
"Hn. Kita harus segera pergi dari sini, jika kau tidak ingin keluargamu terlibat dalam hal ini," jelas Sasuke.
"Hm," jawab Hinata seraya mengangguk.
Sasuke berjongkok membelakangi Hinata, dan mengisyaratkan kepada gadis itu untuk naik ke punggungnya. Karena keadaan yang mendesak walaupun sedikit malu, Hinata menuruti instruksi Sasuke. Setelah memastikan gadis itu sudah aman ada di punggungnya, Sasuke berdiri.
"Berpegang eratlah padaku," ucap Sasuke.
"Hm, baik."
Setelah itu, Sasuke membawa Hinata berlari dengan kecepatan yang tidak biasa. Hinata sempat menyipitkan kedua matanya saat Sasuke membawanya berlari melewati atap rumah satu dengan yang lainnya. Jujur saja Hinata merasa takut, karena sebelumnya dia tidak pernah diajak berlari dengan kecepatan yang seperti ini. Apalagi diajak berloncatan melewati atap rumah seperti sekarang ini.
Gadis Hyuuga itu semakin yakin bahwa Sasuke punya kekuatan aneh yang tidak biasa dimiliki oleh mahluk mana pun di dunia ini. Tetapi kalau dipikir-pikir, dia juga mempunyai kekuatan yang aneh.
'Heart... Apa itu?' pikir Hinata.
Beberapa saat kemudian, hamparan pohon yang lebat nampak di kedua lavender Hinata. Ternyata Sasuke membawanya menjauh dari area pemukiman penduduk, dan masuk ke dalam hutan yang ada di samping kota. Setelah dirasa cukup aman, Sasuke menurunkan Hinata.
"Jangan jauh-jauh dariku," ucap Sasuke.
"Hm."
Hinata terlihat sangat ketakutan, bahkan kedua tangannya sampai gemetaran. Karena ketakutannya itulah tanpa terasa Hinata mencengkeram erat pakaian yang melekat di punggung Sasuke.
Sasuke menoleh ke belakang, dia menyadari bahwa gadis yang tengah dilindunginya kini merasa ketakutan. Pemuda Uchiha itu mencoba menenangkan Hinata dengan tatapan lembutnya. Melalui sepasang onyx-nya, Sasuke seolah mengatakan bahwa dia akan melindungi Hinata dengan segenap jiwa raganya. Hinata sepertinya mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Sasuke.
Gadis Hyuuga tersebut mengangguk, dengan anggukan itu dia memberitahu pada Sasuke bahwa dia percaya pada pemuda Uchiha tersebut. Mengetahui itu, Sasuke tersenyum tipis.
Entah kenapa, Hinata terpana dengan senyuman pemuda yang ada di hadapannya ini. Rasa takut yang menggerayanginya tadi seolah menghilang. Sepasang lavender itu semakin melebar ketika mengetahui ada sinar kuning yang melesat cepat ke arah mereka.
"Sss-sa..." Melihat perubahan ekspresi Hinata itu, Sasuke langsung berbalik.
"Shit! Dia cepat sekali," umpat Sasuke.
Sasuke langsung membopong Hinata, dan membawanya meloncat jauh ke atas. Sebelum sinar kuning tersebut menghantam mereka berdua.
Duarrr!
Sasuke mendarat ke tanah dan menurunkan Hinata di tempat yang dirasa cukup aman. Setelah itu, Sasuke seperti merapalkan sebuah mantra. Bersamaan dengan itu muncul sebuah sinar yang menyelubungi Hinata.
"Tetaplah di dalam situ," ucap Sasuke. "Kau akan aman. Dan apapun yang terjadi, jangan sampai kau keluar dari pelindung ini," lanjut Sasuke.
"Tapi Sasuke-..."
Hinata menghentikan protesnya ketika tahu bahwa dirinya tidak akan digubris oleh pemuda Uchiha itu. Karena ketika selesai memperingatkan Hinata, Sasuke langsung berbalik meninggalkan gadis Hyuuga itu. Sasuke pergi untuk melawan mahluk yang akan menyerang mereka berdua beberapa saat yang lalu.
.
.
.
.
.
Tatapan Hinata terlihat kosong ketika melihat Sasuke berkali-kali dihajar oleh mahluk yang begitu menyeramkan. Pakaian Sasuke terlihat robek di sana sini dan seluruh tubuhnya terdapat banyak luka yang cukup parah. Melihat itu tanpa terasa setetes air bening jatuh di permukaan pipi Hinata.
"Inilah akibatnya telah berani menghalangiku." Suara baritone mahluk menyeramkan itu menggema di tengah hutan yang sunyi ini.
Mahluk itu mengumpulkan cahaya kuning di telapak tangannya. Semakin lama sinar kuning itu semakin membesar.
"Jangan," gumam Hinata.
Setelah dirasa cukup, mahluk itu mengarahkan sinar itu ke arah Sasuke yang sekarang tengah tergolek menyedihkan di atas tanah.
"Jangan," ucap Hinata.
Disertai senyum yang begitu mengerikan, mahluk itu melepaskan sinar kuning kekuatannya tepat menuju Sasuke.
"Jangaaaannn!"
Duarrr!
Teriakan Hinata begitu menyayat hati disertai dengan suara ledakan kekuatan mahluk menyeramkan itu yang menyerang ke Sasuke.
Kretek...kretek...prang!
Pelindung yang dibuat oleh Sasuke pecah. Tanpa memperdulikan keadaan yang dapat membahayakan dirinya, Hinata berlari menuju ke tubuh Sasuke yang terlihat tidak berdaya. Setelah sampai di tempat Sasuke, Hinata langsung memeluk pemuda Uchiha itu dan membawa kepala Sasuke ke pangkuannya. Pecah sudah tangis Hinata ketika melihat keadaan Sasuke yang begitu memilukan.
"Hiks...Sa-suke...Hiks..." isak Hinata. "Aku mohon sadarlah hiks..." pinta Hinata.
Tubuh Sasuke sama sekali tidak melakukan suatu pergerakan kecil apapun. Hal ini semakin membuat Hinata merasa ketakutan. Sedari tadi tangannya tidak berhenti bergetar. "A-apa yang harus aku lakukan? Hiks..." gumam Hinata. "Tolong katakan padaku, Sasuke. Hiks...apa yang harus aku lakukan? hiks... untuk dapat menolongmu?"
'Kekuatan Heart dapat cepat tersalurkan ketika diambil melalui lubang yang terdapat pada tubuh manusia.'
"Ah." Perkataan Sasuke terlintas di pikiran Hinata tepat saat dia begitu butuh jawaban seperti sekarang ini.
"Hmm... Bau kekuatan Heart tercium sangat kuat di tubuh gadis itu," gumam mahluk menyeramkan itu.
"Jadi kau, manusia pemilik Heart?" desis mahluk itu. "Cepat serahkan Heart padaku sekarang juga. Kalau tidak?" Untuk kesekian kalinya, sinar kuning terkumpul di tangan mahluk menyeramkan itu.
Untuk sekarang ini, Hinata seperti tidak mendengar ultimatum yang ditujukan kepadanya. Yang ada di benaknya saat ini, hanyalah menemukan cara untuk menyadarkan sekaligus dapat menyembuhkan Sasuke.
"Aku harus melakukannya," gumam Hinata.
Setelah menghela nafasnya, Hinata mendekatkan wajahnya pada Sasuke. Gadis Hyuuga itu menempelkan bibirnya ke bibir berdarah Sasuke. Hinata mencoba membuka bibir Sasuke dan bersamaan dengan itu dia merasakan bahwa ada sesuatu yang ditarik keluar dari tubuhnya.
"Jadi kau tidak mau menurut pada perintahku," ucap mahluk itu sambil mengarahkan sinar kekuatannya pada Hinata dan Sasuke. "Rasakan ini!"
Dengan sangat cepat sinar kuning itu melesat ke arah Hinata dan Sasuke. Alhasil suara ledakan kembali terdengar di tengah kesunyian hutan malam ini.
Duaaarr!
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Sebelumnya Meiru lupa mengucapkan minta maaf yang sebesar-sebesarnya
Karena banyak sekali typo bertebaran dimana-mana
Walaupun sudah Meiru perbaiki tapi tetap saja terasa ada banyak yang kurang
Mohon komentarnya untuk para reviewer
Terima kasih masih berkenan membaca dan me-review fic gaje ini
.
.
.
Balasan review untuk chapter 1 :
Namikaze Hikari : Ini sudah dilanjutkan
Sasuhina69 : Sigurd itu Meiru ambil dari bahasa Denmark yang berarti pelindung yang berjaya. Kalau ternyata kalau Sigurd itu adalah pahlawan legendaris mitologi nordik, Meiru baru tahu ini, heheee
NurmalaPrieska : penjelasan mengenai jati diri Sasuke akan dijelaskan di chapter2 depan
nurkoswara23 : jawabannya ada di chapter ini kan
hinataholic : yaps
Meiru ucapkan banyak-banyak terima kasih karena kalian telah bersedia meluangkan waktu untuk me-review fic ini.
Thank's a lot
Meiru masih sangat membutuhkan kritik dan saran dari Minna-san
Oleh karena itu...
MOHON REVIEWNYA
.
.
.
Arigatou Gozaimasu
