Dandelion Girl

Chapter 2 : A New Student

Disclaimer : PoT bukan punya saia. Kalo punya saia, sudah ane buat Ryo-Ryo jadi king harem dan shota++ XD

Warning : CharaxOC, gaje, abal, aneh, OOC, OOT, author nyelip-nyelip(?), Typo, bahasa nggak baku, plot gila dari author yang sarap, dll. Jangan lupa siapkan kantong muntah sebagai hiasan gadget(?)! /lha


No one POV

Karen angin sepoi-sepoi yang terus berdansa(?), ditambah cuaca yang hangat sebagai backgroundnya(?), sukses membuat Ryoma tertidur dengan wajah oh-so-cute. Sebenarnya sang bel tidak rela berbunyi –yang notabene bakal ngebangunin Ryoma–, tetapi mau gak mau dia harus berbunyi. Dengan sepersepuluh hati, akhirnya dia berbunyi.

"Maafkan aku Ryo-Ryo… Tapi aku harus–"

Kriiiiiiiinggggg!

"…berbunyi…"

Mendengar suara bel, Ryoma langsung terbangun. Tapi dia agak bingung, kenapa suara belnya naik-turun. Tentu saja. Karena perkataan bel pun, di telinga manusia tetap terdengar 'kriiiing' atau sejenisnya.

"Aaargh… Kenapa istirahat harus selesai sih?"

Dengan malas, Ryoma turun kembali ke kelasnya. Seperti tadi, semua orang memandang lukanya dengan khawatir. Hal ini membuat Ryoma menjadi bingung. 'Heh, memangnya mereka tidak pernah melihat seseorang yang kepalanya diperban?' Pikirnya. Tidak mau ambil pusing, Ryoma segera duduk di bangkunya dan kembali tidur hingga jam mata pelajaran terakhir.


"Bosannya…" Keluh Ryoma. Dia tidak diperbolehkan ikut latihan pulang sekolah, berkat lukanya. Alhasil dia cuman bisa duduk cengo di bench sambil nonton teman-temannya latihan. Yah, setidaknya dia diperbolehkan melihat latihan hari ini, walau itu hanya membuat tangannya gatal.

Sebagai penghibur, Ryoma mengambil DS[1]nya dan iseng-iseng mainin. Beuh… saking lamanya kagak dimainin, ntu layar sampe berdebu! Hebatnya, batrenya masih awet readers! Palagi rice crackers[2]nya kali ya, basi plus alot. Tapi ini masih krenyes-krenyes nikmat lho! Memang patut dipertanyakan. Eh, emangnya rice cracker enak ya dimakan sama soda? Lho, kok kita malah ngomongin barang-barangnya Ryo-Ryo sih?

Saking keasyikan main Swe*t & T*ar* (A/N : Wat!? Ryo-ryo, Lo mainin game dari anime lo sendiri!? OAO"), dia gak nyadar kalau ada seorang perempuan yang asyik ngeliat para regular latihan. Saat menoleh ke samping, barulah dia sadar.

Awalnya Ryoma kira itu hanyalah fans para regular, tapi melihat bajunya, Ryoma merasa agak aneh. Penasaran, dia mendatangi anak itu.

"Nee, sepertinya kau senang sekali menontonnya," Gadis itu kaget saat Ryoma tiba-tiba bertanya.

"A-a, gomen. Tidak boleh ya?"

"Boleh sih, asalkan tidak mengganggu. Sepertinya kau bukan anak disini,"

"He? Kau tahu dari mana?" Ryoma sweatdrop mendengarnya. Jelas-jelas dia memakai baju casual, bukan seragam Seigaku.

"Bajumu,"

"Oh… Ngomong-ngomong, dari jaketmu… kau regular kan? Kenapa tidak ikut latihan–ah, bodohnya. Kau sedang terluka, mana mungkin dibolehkan?"

Ryoma terkekeh dalam hati. 'Anak yang menarik,' pikirnya. Jarang dia bertemu perempuan seusianya yang tidak blushing saat bercakap-cakap dengannya.

"Kau tertarik sekali dengan pertandingannya, apa kau bisa bermain tenis?"

Perempuan itu tersenyum sedih. "Sayangnya… tidak bisa. Melihat pertandingan ini mengingatkanku kepada cowok itu…" Matanya menerawang ke lapangan.

"Eh?"

"Hanyalah masa laluku. Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku ya? Watashi wa Ichinose Himawari, yoroshiku… engg…"

"Echizen Ryoma. Yoroshiku,"

"A! Yoroshiku Echizen-kun. Panggil saja aku Ichi, kalau Himawari rasanya kurang cocok untukku, hehehe... Ah! Gomen, aku sudah dijemput. Semoga besok kita sekelas ya, nee, Echizen-kun? Jaa nee!"

Ryoma terdiam saat Ichi pergi meninggalkannya. Sekilas, bayangan kenangan dahulunya muncul.

Sementara Himawari, selama perjalanan pulangnya dia terus memikirkan Ryoma. Entah kenapa, dia merasa familiar dengannya.

"Aneh…" Kata Ichi dan Ryoma dalam waktu yang sama.

"Kenapa kalau melihatnya… aku langsung teringat dengan orang itu ?"


Nee, apakah kau percaya dengan takdir?

Katanya, kalau kau bertemu lagi dengan seseorang dalam kenangan manismu, berarti kalian adalah jodoh

Ya, bahkan walau kalian tidak mengetahui namanya


Keesokan harinya, Ryoma diperbolehkan ikut latihan setelah memaksa selama satu jam. Demi diizinkan, Ryoma sempat ngancem Ryuzaki-sensei dan Tezuka. Entah apa yang menjadi topik anceman tersebut. Hanya Ryoma, Ryuzaki-sensei, Tezuka, malaikat, dan tuhan yang tahu.

Sekarang, para regular dan anak-anak lainnya sedang latihan pagi seperti biasa. Para anggota tim tenis sedikit bingung saat melihat muka Tezuka dan Sumire-sensei yang sedikit pucat–lebih kearah takut. Ryoma tertawa jahat dalam hati melihat ekspresi mereka berdua saat bertatap dengannya. (A/N : Jangan-jangan dulu di SD Ryo-Ryo ada mata pelajaran untuk jadi mata-mata nih, makanya bisa dapet aibnya Ryuzaki-sensei dan Tezu-Buchou… O_O")

"Nee, Echizen, kau tahu kenapa Tezuka-buchou seperti itu?" Tanya Horio penasaran.

"Saa nee~"

Latihan hari ini setidaknya berlangsung normal. Eiji memeluk Ryoma hingga dia kehabisan napas, Mother hen si Oishi kumat, Kawamura masuk kedalam mode 'Burning', Inui mencatat sesuatu sambil bergumam 'li data', Momoshiro dan Kaidoh lagi-lagi berantem, Tezuka dengan wajah stoicnya (walau sedikit tegang), dan Fuji yang masih menutup matanya sambil tersenyum sedikit mengerikan.

"Yatta~ Latihannya sudah selesai, nya~ Fujiko, ayo kita ke kelas!" Ajak Eiji riang. Fuji terkekeh melihat keaktifan temannya satu ini. Dia mengancingkan satu per satu jaketnya sebelum mengambil tasnya.

"Baiklah…"

"Nee, minna. Kita berdua duluan ya," Fuji dan Eiji keluar dari ruang ganti, meninggalkan yang lain. Satu per satu dari mereka keluar hingga menyisakan trio ichinen[3] dan Ryoma. Mereka yang terakhir masuk karena kelas satu harus membereskan lapangan terlebih dahulu, tidak terkecuali Ryoma.

"Nee, aku dengar ada anak baru dia angkatan kita," Kata Kachiro membuka pembicaraan. Dia dan Ryoma masih mengancingkan bajunya, sedangkan Horio dan Katsuo sudah selesai.

"Hee… Hontou? Aku harap dia bisa senang sekolah disini…" Harap Katsuo. Ah, memang dasar anak polos. Bisa berharap baik kepada orang lain, masih suci jika dibandingkan dengan author yang sarap tingkat dewa ini. Ohok.

Ryoma merapikan bajunya. 'Pasti gadis itu,' pikirnya. Sedari tadi dia mengherankan sesuatu. Kenapa dia familiar kepada dia? Ah, sudahlah.

"Nee, lebih baik kita segera kembali ke kelas. Sudah jam segini," Kata Ryoma seraya melirik jam. Trio ichinen ikut-ikutan liat jam dan terkejut."Ah, benar! Ayo, kita ke kelas!"

Mereka berempat pun pergi ke kelas. Pas sekali saat mereka di ambang pintu bel berbunyi. Ryoma dan teman-temannya segera duduk di tempat masing-masing. Tak lama kemudian, Yuka-sensei, guru matematika[4] sekaligus guru BK, masuk ke kelas.

"Ohayou, minna-san. Hari ini kalian mendapat teman baru," Jelasnya membuat semua anak penasaran. Ryoma sedikit kaget mendengarnya. Di lubuk hatinya dia berharap semoga adalah anak itu.

"Ayo masuk," Seorang perempuan berambut coklat yang digerai masuk kedalam kelas. Saat Ryoma melihatnya secara tidak sadar dia tersenyum senang. Ya, tak lain dan tak bukan, yang masuk adalah Ichinose Himawari. Himawari tersenyum senang kemudian membungkukkan badannya.

"Hajimashite! Watashi wa namae wa Ichinose Himawari desu, yoroshiku onegaishimashita minna-san," Katanya masih memasang senyum lebarnya. Saat matanya bertemu dengan mata Ryoma, dia melambaikan tangannya.

"Yo, Echizen-kun! Tidak kusangka kita bisa sekelas, doa ku sepertinya terkabul ya," Ucapnya semangat mengagetkan semuanya. Semuanya mengalihkan pandangannya ke Ryoma. Yang ditatap cuek aja, pura-pura gak nyadar.

"Ara? Ichinose-san sudah kenal dengan Echizen-kun rupanya. Berarti… Ichinose-san, kau duduk disamping Echizen-kun,"

Ryoma terkejut. Bukan karena tidak suka, tapi… Argh, dia tidak tau cara mendeskripsikannya. Saat Himawari berjalan kearah tempat duduknya, seluruh kelas terus menatapnya. Untungnya,dia tidak menyadarinya.

"Echizen-kun, ohayou," Sapanya seraya duduk di kursi. Ryoma cuman ngangguk-ngangguk aja, mulai memasuki dunia lain. Merasa dicuekin, Himawari teplak-teplakin(?) kepala Ryoma pake selop warna kuning(?) entah darimana.

"Echizen-kun! Ayo bangun, sudah pagiiiiii! Ha! Ha! Bangun! Ciat! Ciat! Ayo bangun ayo! Kalo nggak bangun nanti rejekinya dipatok ayam!" Serunya masih neplak-neplakkin. Ryoma berusaha menghindari teplakan(?) selop, but you know, Himawari tidak akan pernah membiarkan mangsa(?)nya lepas.

"Itte! Ok, ok, aku akan jawa-itte! Baik, aku tidak akan tidur! Udah! Jangan teplak-teplakkin aku lagi!" Akhirnya Himawari berhenti, tapi tetap masih bersiap untuk menteplak.

"Janji?" Dia mengeratkan genggamannya. Dia bersiap-siap membuat Ryoma mencipok selopnya itu.

"Janji. Dan hilangkanlah selop itu,"

"Baiklah~," Himawari mengembalikan selop jahanam itu ke tempatnya. Jangan tanya dimana. Bahkan author maupun narrator tidak tahu. Hanyalah Himawari, malaikat, serangga yang numpang hinggap disitu, dan tuhan yang tahu.

Yuka-sensei tersenyum melihat kelakuan muridnya. "Baiklah, sekarang buka halaman…"


Ryoma POV

Nyesel. Sumpah nyesel. Kenapa aku harus nemenin ni anak keliling sekolah? Memang sih, awalnya aku terima-terima aja, tapi gak kepikiran ternyata ni anak KAYAK GINI. Emang kayak gimana? Liat aja.

1. Dia gadis BIPOLAR

Bagi yang nggak tau, itu jenis dimana sifatnya gampang berubah-ubah. Misalnya, 1 menit yang lalu dia itu sedih, kemudian 1 menit berikutnya sudah ketawa heboh sampe loncat-loncat. Yah… Ichi nggak sedastris gitu juga sih. Tapi tetap aja bipolar ya bipolar. Padahal tadi Himawari pundung-pundung gaje karena bentonya ketinggalan, sekarang asik guling-guling(?) di kasur UKS.

Masih untung tidak ada orang disini. Kalo ada, mau dikemanain ni wajah?

(Elpiji bochor level : aman)

2. Kudet level akut–bahkan lebih kudet dibandingkan author sedeng ini– (A/N : HEI! Maaf saja kau ane emang kudet :v)

"Nee, Echizen-kun, kenapa ruang ini penuh dengan barang-barang tidak berguna? Kenapa disini bedebu banget? Nee, nande?"

Aku bingung mau jawab apa. Jelas-jelas itu GUDANG, ya iyalah bedebu. Apa jangan-jangan ni bocah kagak punya –setidaknya melihat– gudang?

(Ellpiji bochor level : waspada)

3. Terlalu hiperaktif

Bayangkan aja, kita sudah 3 KALI keliling sekolah, dan dia belum puas!? Bahkan sedari tadi aku belum sempat memakan bentoku, untung saja tadi sempat beli jus kotak dan roti. Sedangkan dia yang daritadi belum makan masih sanggup leloncatan di matras.

Sekarang, dia ingin keliling lagi untuk keempat kalinya. Najis.

(Elpiji bochor level : berbahaya)

4. Nggak ada malunya–lebih tepatnya, udah putus urat malunya

"Eh? Ini ruangan apa? Aku buka ya~"

"Jangan!"

Terlambat.

"Oh… toilet laki-laki toh…"

Aku hanya bisa nutup muka. Serius deh, emangnya dia nggak liat tulisan 'Toilet Laki-laki'!? #$%^*&% AAAARRGGHHH!

(Elpiji bochor level : MELEDAK!)

"Hh… Hh…"

"Nee, Echizen-kun, daijoubu? Udah kecapean?" Kagak. Gue cuman lagi latihan napas kok.

"Hei… kita sudah 4 kali keliling sekolah, masih belum puas?" Dia menggeleng. Hh… sabar Ryo, sabar…

"Sebentar lagi bel masuk, kau juga belum makan kan? Nggak lapar?"

"Mm… Lapar sih, tapi aku tidak membawa uang dan bentoku…" Jawabnya sambil memainkan jarinya. Aku menghela napas. Kutarik tangannya kembali ke kelas.

"Nih, buatmu. Aku sudah kenyang," Kataku sambil menyerahkan bentoku. Matanya terbelalak kaget.

"Ho-hontou!?"

"Iya… Untukmu saja,"

Dia memberikan tatapan berbinar-binar kepadaku. "Yatta! Arigatou Echizen-kun!"

Aku mengangguk mengiyakan. "Doitta…" bisikku. Eh? Sejak kapan aku jadi peduli kepadanya? Ah, sudahlah.

Terlihat Himawari memakan bentoku dengan lahap. Lagi-lagi, secara tidak sadar aku tersenyum lembut.


[1] : DS itu salah satu barang yang bersarang(?) di tas Ryoma kan?

[2] : Bersarang di tas Ryo-Ryo~

[3] : Kachiro, Katsuo, dan Horio. Sekedar info belaka~ :)

[4] : Gak selamanya jadi mata pelajaran jam pertama, bukan? Karena kebetulan author ngetiknya waktu lagi pelajaran matek, makanya ane pilih itu.

Aaah~ Akhirnya selesai juga~ /padahallobaruseriusbikinsaatXinonreviewlokan\

Ohohohoho, OCnya akhirnya muncul~ Terimakasih kepada jam istirahat kedua dan pelajaran , sehingga ane berhasil menyelesaikan chapter ini. Untung Xinon, ini chapter untukmu~ Gomen kelamaan~ /3bulanblo

Mind to Review?