Hiyama Kiyoteru menangih tugas murid-murid tercintanya. Bial disesuaikan dengan janjinya, hari ini peserta didiknya hanya mengumpul tugas dalam bentuk makalah. Namun berhubung mood sang sensei tampan itu sedang buruk, janji itu menguap percuma.

"Hari ini, dua kelompok akan maju dan mempresentasikan tugasnya."

Satu kelas kompak berseru, "Ha?!" Sedang Kaito hanya tersenyum kecil. Seluruh isi makalah sudah ada dalam kepalanya. Jadi bukan masalah bila ia harus maju ke muka kelas sekarang juga untuk menjelaskan materinya.

Seorang yang cukup berani dalam kelas tersebut mengangkat tangannya dan meluncurkan protes. "Tapi hari ini kami tidak ada yang membawa laptop untuk presentasinya, Sensei. Sekalipun ada, pasti dia belum selesai membuat ppt(power point)-nya."

Kiyoteru malah makin pewe di kursi guru. Punggungnya bersandar lemas. "Tidak apa-apa. Jelaskan saja apa yang ada di makalah kalian ini," ucapnya sambil mengipaskan salah satu makalah di tangan kanannya.

Oke, itu masuk akal. Sang murid yang pemberani, inisial Leonardo Leon—err…, oke, itu bukan hanya inisial lagi—akhirnya kalah telak. Namun ternyata, kelas XI-B dihuni oleh lebih dari satu anak manusia yang pemberani.

"Pak, bagaimana kalau urutan kelompok yang maju diacak saja? Supaya lebih seru. Takutnya di tengah pelajaran saya ketiduran karena presentasinya membosankan."

Seluruh murid mendelik tajam ke arah sang pemberani kedua, Utatane Piko yang mengungkapkan seluruh gagasan dalam kepalanya secara blak-blakan. Tak sulit untuk menebak maksud Piko hingga mengajukan usul semacam itu. Bahkan ada yang mengucapkannya dengan nada dongkol. Ring contohnya.

"Dia berkata seperti itu supaya ada kemungkinan kelompoknya tidak maju hari ini, ya? Dasar sialan!"

Tapi tentu saja. Pro-kontra selalu terjadi bersamaan.

"Oh, yeah! Kau licik sekali, Piko! Great!" Ritsu justru berseru dalam hati. Tak punya cukup kerendahan hati untuk memuji orang lain secara langsung.

Kiyoteru membuat gekstur tangan menyuruh mendekat pada Sweet Ann, sang sekretaris kelas. "Kelompok yang maju ditentukan dengan undian. Dan yang akan mempresentasikannya, cukup satu orang di antara kelompok tersebut," ucap guru tersebut. Senyum Kaito luntur di sini.

Lelaki bersurai biru lautan ini memantapkan mata melihat ke punggung di depannya. Kegelisahan tercermin jelas di sana. Sekali lagi, dalam hidupnya, Kaito menyesal mendapatkan Miku sebagai rekan satu kelompok.

"Oi, Kaito!" Ted menusuk punggung Kaito menggunakan pensil mekanik.

Dengan gerakan lambat dan malas, Kaito menghadapkan tubuhnya ke belakang. "Apa?" ketusnya.

"Menurut ramalan zodiak yang kudengar dari radio hari ini, Aquarius ada di urutan kedua dari atas yang sial besar hari ini."

Perempatan imajiner muncul di kening Kaito. Ted salah mengajak orang berbicara. Mestinya si merah dari keluarga Kasane yang kakek dari kakeknya bersaudara dengan kakek dari kakek Kaito ini (ya, mereka saudara jauh) bicara dengan pemilik zodiak Aquarius selain dirinya karena seorang Shion Kaito tidak percaya sedikit pun dengan ramalan buah pikiran seorang manusia biasa.

Namun entah mengapa—Kaito sendiri pun tidak paham—ia menanggapi, "Oh. Lalu, urutan pertama?"

Ted tersenyum misterius. "Virgo."

Melihat senyum Ted, entah mengapa perasaan Kaito jadi tidak enak. Ia kembali memandang ke depan, tak memiliki niat untuk membahas ramalan zodiak lebih lanjut. Di depan, Rouro Yuuma, sang ketua kelas sedang mengambil dua kertas berisi nomor undian mewakili seluruh kelas.

"Yang maju hari ini," Kiyoteru membuka kertas pertama yang telah dipilihkan Yuuma. "Kelompok 6." Jeda karena Kiyoteru membuka kertas yang kedua. Lamanya waktu yang digunakan sang guru hanya untuk membuka selembar kertas yang dipotong kecil-kecil hingga sekarang hanya berukuran 3x3 sentimeter itu telah membuat adrenalin Kaito berpacu. Tidak tahukan Kiyoteru bahwa hari ini ia telah membuat seorang anak manusia menderita kelainan bunyi jantung?

Oh, tentu saja guru tampan itu tidak akan tahu.

"Dan kelompok 10." Akhirnya kalimat sang sensei berlanjut juga.

Kaito bersandar lemas di bangkunya. "Sial!"

oOo

BAGIAN DUA

-Misscomunication and New Task-

oOo

Miku Hatsune masih sibuk meremas perutnya karena rasa gugup. Matanya menatap Al yang tengah menjelaskan fase-fase pada siklus mestruasi wanita dengan pipi bersemu merah. Ia merasa kagum sekaligus iri pada sosok Al. Setelah ini, kalau bukan ia, maka Kaito-lah yang akan maju ke muka kelas menggantikan Al.

Seandainya Kaito yang maju sih, tidak apa-apa. Masalah baru akan muncul bila Miku yang mendapat mandat dari Kiyoteru untuk menerangkan isi makalah yang bahkan sampai hari ini, cover-nya pun belum ia lihat.

"Hatsune-san!" seseorang di belakangnya memanggil. Miku mungkin bodoh, namun ia tidak cukup pikun untuk melupakan bahwa yang duduk di belakangnya adalah Shion Kaito. Ada perasaan tidak enak karena nada suara Kaito terdengar cukup cemas. Dari sekian banyak persepsi, otak dangkal Miku hanya dapat mengira bahwa Kaito ingin mengancamnya agar ia mempresentasikan isi makalah hari ini dengan bagus (itupun bila Miku benar-benar maju).

"A-ada apa, Shion-san?"

Kaito tak menjawab. Malah menyodorkan buku catatan setebal dosa ke wajah melongo Miku. Dan karena Miku bodoh, ia menerima buku tersebut dan hanya memperhatikan sampul depan bertuliskan nama SHION KAITO yang ditulis tangan. Bodohnya lagi, ia malah mengkritik tulisan tersebut.

"Dia berbakat jadi dokter. Tulisan mereka setipe."

Detik berikutnya Miku terpengkur. Terlepas dari betapa berantakannya tulisan tangan Kaito, pemuda bersuai ocean blue itu memang cocok jadi dokter. Seingat Miku, nilai Kaito selalu bagus dan peringkatnya selalu tertinggi di kelas.

Andai saja Kaito sedang goodmood, mungkin ia akan berpura-pura tidak mendengar ktitikan Miku dan lebih memperhatikan wajah melankolis sang gadis. Sayang sekali, hari ini ia sedang badmood. "Buka bukunya, Hatsune-san! Lalu dibaca! Isi makalah kita sudah kusalin di bukuku."

Alamak! Terkejut karena bentakan Kaito, tangan Miku terserang tremor hingga menjatuhkan buku di tangannya. Suara berisiknya membuat Al berhenti menjelaskan.

"Hatsune-san?" Kiyoteru memanggil pelan.

"Go-gomen, sensei," Miku bicara setelah memungut kembali buku Kaito. "Aku tidak sengaja menjatuhkan buku ini. Silakan lanjutkan kembali, Big Al-san," perintahnya, padahal ia sedang tidak dalam posisi bisa memerintah.

Al sebenarnya berharap gangguan kecil barusan membuat presentasinya terhambat cukup lama. Kalau bisa sampai jam pelajaran biologi selesai. Namun sayang sekali, Kiyoteru tidak mau ambil pusing pada kecerobohan Miku sehingga pelajaran dilanjutkan dengan Al yang sekarang harus menjelaskan apa yang terjadi di rahim saat pengeluaran hormon progesterone dipacu oleh hipofisis.

Kembali pada Miku. Saat ini ia tengah membolak-balik lembaran buku Kaito. Malangnya, berapa kali pun ia membalik hingga ia bertemu pandang dengan sampul buku, materi mengenai sistem reproduksi manusia tak kunjung ia temukan.

Sadar akan kekurangan dirinya, Miku mencoba membaca tiap kata dalam buku tersebut. Siapa tahu saat ia membaca sekilas keseluruhan isi buku, materi yang dicarinya malah terlewat. Pokoknya, demi nilai Kaito yang sudah sempurna, ia harus berjuang. Namun kemalangan memang tidak bisa ditolak. Pilihan terbaiknya malah membuatnya kehilangan waktu dan Kiyoteru terlanjur mengeksekusinya.

"Dari kelompok 10, yang akan maju adalah Hatsune Miku."

Baik Miku maupun Kaito menahan napas tanpa sadar. Miku menolehkan kepalanya ke arah Kaito dengan pelan. Tatapan matanya menyiratkan permintaan maaf.

Kiyoteru memberikan makalah milik kelompok 10 pada Miku, cukup mengerti bahwa belum ada kelompok yang membawa fotokopian makalahnya hari ini. Miku menerimanya tanpa banyak berkata-kata. Ia memulai bicara di muka kelas.

"Baiklah. Saya Hatsune Miku, hari ini akan mempresentasikan hasil kerja kelompok saya dengan Shion Kaito mengenai…," Miku mengangkat makalah dan membaca judul di cover pembuka. "Sistem Indera pada Manusia."

Miku menarik napas, bersiap untuk membacakan secara singkat apa yang tertulis dalam makalah yang telah susah payah dibuat oleh Kaito. Namun selang beberapa detik kemudian, Miku melotot. Ia menutup kembali makalah di tangannya dan membaca ulang judul yang dicetak dalam font Times New Roman dalam ukuran 14.

Kok…?

Miku secara terang-terangan menepuk dahinya dengan keras. Tak peduli di hadapannya duduk 19 manusia berumur sama dengannya dan seorang pria dewasa yang menaikkan alis karena heran. Ia teringat kembali pada kejadian satu minggu lalu setelah Kiyoteru membagi seluruh kelompok. Jumlah materi dalam bab reproduksi manusia tidak seimbang dengan jumlah kelompok yang telah dibentuk. Alhasil, tiga kelompok yang menempati urutan bawah mendapatkan materi dari bab selanjutnya; sistem saraf. Dan kelompoknya mendapat sub materi sistem indera.

Astaga, Miku ingin menangis setelah teringat lagi, bahwa materi tentang sistem indera di buku catatan Kaito telah ia lewatkan sebanyak 4 kali.

Realita! Setidaknya sekali saja, berjalanlah sesuai keinginanku!

Perjuangan Hatsune Miku pun berakhir dengan sia-sia. Well…. Ucapkan selamat tinggal pada nilai sempurna, Shion Kaito.

..

oOo

..

Mikou bersenandung kecil sepanjang koridor menuju ruang kelas sang kekasih, XI-B. Sepanjang jalan, tak berhenti orang-orang menyapa dan menggodanya. Namun Mikou sangat berbeda dengan Miku. Ia cukup bijak untuk menanggapi semua ucapan dengan senyum mengembang, bukan dengan wajah memerah yang malah membuat orang-orang jadi semangat ingin menggoda lagi.

Di pertengahan jalan, Mikou bertabrakan dengan seorang siswa bersurai kuning cerah yang tampak sedang terburu-buru. Mikou mengenalinya, jadi ia menyapa.

"Yo, Len! Kau tidak apa-apa?"

Len menggeleng. Lalu tersenyum saat melihat bahwa yang ia tabrak adalah Mikou. "Mau menemui Miku, Senpai?" Len menyapa balik Mikou dengan pertanyaan.

Mikou mengangguk. "Apa dia ada di kelasnya?"

"Tidak," jawab Len ringkas. Membuat Mikou mengerutkan kening karena keterbatasan informasi yang diberikan Len.

"Jadi di mana ia?"

"Miku sedang berada di ruang guru bersama Kaito. Mereka dipanggil Kiyoteru-sensei."

Kerutan kening Mikou pun bertambah dalam. Gagasan Kaito yang pergi ke ruang guru bersama Miku terdengar aneh. Ia kenal dengan Kaito. Ia dan makhluk pecinta es krim itu berada dalam klub sepak bola yang sama, begitu pula dengan bocah bersurai pirang di hadapannya. Memang apa yang dilakukan Miku dan Kaito hingga mereka dipanggil ke ruangan terlaknat itu?

"Memang kenapa mereka dipanggil Kiyoteru-sensei?" Agak ragu, Mikou mencoba menebak juga. "Apa mereka membuat masalah?"

"Kelas kami mendapat tugas berkelompok dari Kiyoteru-sensei. Dan kelompok mereka—Kaito dan Miku—ternyata tidak mengerjakan tugasnya bersama." Len mendekat ke telinga Mikou. Agak tidak enak menyebar aib pacar si surai teal. "Miku tidak ikut mengerjakan tugasnya."

Len kemudian menjauh. Ia menghela napas. "Kau tahu, Senpai? Karena ulah pacarmu itu, bukan hanya Kaito saja yang kena hukum. Kami sekelas pun dapat hukuman selama dua minggu ini." Len mendadak curhat. "Dan aku akan terjebak dengan si cebol berisik dari klub karate itu lebih lama. Mana tugasnya berat lagi. Tentang…."

Mikou tak mendengarkan lagi ucapan Len. Pemuda keturunan Hatsune ini lebih memilih larut dalam pikirannya sendiri daripada jadi tempat sampah dadakan. Seingatnya, satu minggu ini Miku memang lebih sering menghabiskan waktu dengan kencan bersamanya (yang Miku anggap hanya jalan biasa). Miku tidak mengatakan apapun mengenai kerja kelompok. Tunggu! Apa mungkin….

"Hora, Kagamine Len! Apa yang kaulakukan di sana, Baka!?"

Pikiran Mikou terputus bersamaan dengan terpentalnya Len karena sebuah tendangan. Gadis bertubuh pendek dengan surai pirang yang diurai bebas berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya menampilkan ekspresi marah yang tidak tanggung-tanggung.

"Apa yang kaulakukan, Himekaga Rin?" ucap Len sambil menatap sengit penyerangnya barusan. Masih dalam posisi terduduk karena tertendang.

"Itu pertanyaanku, Kagamine Len! Bukankah sudah kukatakan kalau hari ini kita harus mengerjakan tugas Kiyoteru-sensei?! Kau mencoba kabur ya?!"

Len meringis. "Aku tidak mencoba kabur kok." Bohong besar! Ia memang sedang mencoba kabur. Namun pertemuannya dengan Mikou membuatnya lupa sesaat dengan tujuannya yang sesat.

"Aku tidak peduli!" Rin menjewer telinga Len. "Ayo ikut aku kembali ke kelas, Bakayaro!" Sambil menjewer, Rin menarik paksa sang rekan kerja kelompoknya ke kelas.

Meski sosok Len dan Rin sudah menghilang, Mikou masih berdiri di tempatnya. Wajah polos Miku yang tersenyum manis kemudian terbayang dalam benaknya. Secara tiba-tiba, hatinya dirambati oleh perasaan bersalah.

"Miku…"

..

oOo

..

Sementara itu di ruang guru, Hiyama Kiyoteru tengah memijat pelipisnya. Dua peserta didiknya berdiri dengan wajah yang tak terlihat bersalah sedikit pun. Yang satu, Hatsune Miku, berdiri dengan wajah yang menyiratkan rasa bingung. Sesekali ia melirik jam dinding, menyiratkan dengan jelas bahwa ia tidak peduli pada apa yang diucapkan oleh Kiyoteru. Yang penting ia bisa keluar secepatnya. Apa ia memiliki janji dalam waktu dekat?

Yang satu lagi, Shion Kaito, malah lebih parah. Bukan hanya menyiratkan ketidakpedulian pada ucapan Kiyoteru, Kaito bahkan menguap untuk memperjelaskan rasa bosan.

"Hoi! Kalian mendengarku, hah?!" Kiyoteru akhirnya meledak.

"Iya, Sensei!" jawab keduanya kompak. Namun Kiyoteru bisa menangkap bahwa Miku sejujurnya tidak terlalu paham. Ya sudahlah…. Kiyoteru angkat tangan pertanda menyerah.

"Keluarlah. Nanti kaujelaskan lagi perintahku pada Miku ya, Kaito?" Kaito mengangguk. Selanjutnya, pemuda itu balik kanan dan berjalan menuju pintu keluar. Miku mengiringinya dengan langkah bimbang. Begitu sampai di luar, Kaito mengajak sang gadis bersurai teal bicara.

"Hatsune-san, tentang tugas dari Kiyoteru tadi…"

"Ya?"

"Kau kosong setelah ini?"

Miku menaikkan alisnya. Ada apa?

"Iya." Dalam hati ia menambahkan, kurasa. "Kenapa?"

Kaito menghembuskan napasnya dengan berat. Saat presentasi tadi, Kiyoteru mengetahui bahwa Miku tidak membantu mengerjakan tugas sama sekali. Dan dari pertanyaan singkat "Apa kelompok lain juga tidak mengerjakan tugasnya bersama?", Kiyoteru berhasil mengetahui bahwa tak satupun kelompok yang mengerjakan tugasnya secara berkelompok.

Alhasil, khusus untuk kelompok 10 mendapat hukuman dan untuk seluruh kelompok mendapat tugas baru. Hukumannya hanya berupa menulis surat permohonan maaf. Sementara tugas barunya yaitu membuat penelitian mengenai sub materi presentasi masing-masing kelompok.

Belajar dari pengalaman, Kaito menolak mengerjakan sendirian lagi. Miku terlalu bodoh, dan tidak mustahil Kiyoteru akan menyuruh Miku lagi yang melakukan presentasi. Jadi lebih baik ia mencekoki kepala Miku dengan tugas mereka. Secepatnya.

"Bagaimana kalau kita-"

"Miku!"

Kaito dan Miku secara serempak menolehkan kepala ke ujung koridor di sisi kanan mereka. Sosok pemuda berpenampilan menyerupai Miku berdiri di sana. Kehadirannya dalam sekejap membuat Kaito menghapus seluruh idenya.

Sudah jelas apa yang diinginkan oleh seorang lelaki saat menemui pacarnya sepulang sekolah 'kan? Tentu saja mengantar pulang.

"Kudengar kau dihukum oleh Kiyoteru-sensei. Kau tidak apa-apa?" Kecemasan Mikou membuat Kaito jengah. Sebentar lagi akan terjadi adegan lovey-dovey. Kaito rasa sebaiknya ia segera menghilang sebelum mual.

"Eh, Kaito! Kau mau ke mana?" Miku justru lebih memperhatikan Kaito daripada Mikou.

"Pulang," jawab Kaito singkat.

"Eh?" Miku bingung. Mikou benar-benar tidak ada dalam jarak pandangnya, padahal pemuda itu hanya berjarak satu meter darinya. "La-lalu, yang mau kaukatakan tadi? Tentang tugas?"

Mikou terhenyak. Sedang Kaito meruntuki mulutnya yang terlanjur bicara tadi. Langkahnya tak berhenti, hanya sedikit diperlambat. Ia mengacak rambutnya dengan geram."Kita bahas lain kali. Oke?" katanya, tak ingin diprotes sama sekali.

Miku mengerucutkan bibirnya. Bahunya turun dan lemas. Saat itulah Mikou bertanya, "Kau punya tugas kelompok dengan Kaito?"

"Eh?" Miku berjengit karena terkejut. Bukan karena Mikou mengetahui sesuatu sebelum ia memberitahu, melainkan karena sentuhan lembut pemuda itu di pundaknya.

Mikou tersenyum lembut. Kaito yang terlihat tidak menyukainya, Miku yang mendadak gugup karena pertanyaannya… Sekalipun makna yang ia telaah salah, Mikou yang berpendirian bahwa persepsinya benar dapat merasakan jantungnya berdebar.

Miku ternyata begitu pengertian!

Gadis yang sehari-hari selalu tampil dengan gaya twintail itu tidak mengerjakan tugas kerja kelompoknya dengan Kaito. Dan itu karena Miku ingin berkencan dengan Mikou! Gadis itu ingin menghabiskan waktu bersama Mikou!

"Miku," nada seduktif secara tidak sengaja keluar dari bibir Mikou, membuat wajah Miku panas dan jantungnya berdetak resah. "Kau tak perlu memaksakan diri seperti ini. Kau juga harus mengejar nilai-nilaimu, tahu."

Miku berkedip. Mimik wajahnya tiba-tiba kaku. Ia tak mengerti arah pembicaraan Mikou.

"Besok, kau harus mengerjakan tugasmu bersama Kaito. Kita 'kan bisa menghabiskan waktu berdua setelah tugasmu selesai. Nee?

Kami-sama!

Inner Miku berlari sambil mengacak rambut dengan kedua tangan. Ia benar-benar tidak mengerti. Namun Miku tak diberi banyak waktu untuk frustasi memikirkan ucapan Mikou yang terkesan tidak nyambung baginya. Karena segera setelah kata terakhir Mikou terucap, sebuah kecupan singgah di kening Miku yang tertutup poni.

"Itu agar kau tidak merindukanku."

Mikou lalu mengedipkan sebelah mata. Senyumnya mengembang sempurna. Lalu dengan tingkah tanpa dosa, ia berbalik dan berjalan menjauh, tak peduli pada jantung Miku yang sudah melakukan konser rock level internasional.

"A-aku… tadi-tadi Mikou-nii…." Miku bicara tergagap. Tangannya diletakkan di atas dada. Saat ia mendapatkan sedikit ketenangan, tangannya perlahan naik menuju tempat bibir Mikou menyentuhnya. Lalu…

"KYAAAAA!"

Bahkan untuk hal semacam ini pun, Miku perlu proses berpikir yang lama hingga akhirnya menjerit malu. Wajahnya merah padam sekarang. Untunglah Mikou sudah menghilang dari pandangannya.

Miku mencoba 'tuk bernapas dengan teratur. Siapa tahu efektif untuk menetralkan fungsi jantungnya yang abnormal. Satu tangan menyelinap ke dalam kantung depan tas yang tidak ditutup. Ponselnya diambil. Meski tak menangkap dengan jelas maksud Mikou, Miku paham akan satu hal.

Besok, kau harus mengerjakan tugasmu bersama Kaito.

Miku harus memberitahu hal ini kepada Kaito. Kini, Miku telah memegang ponselnya. Ia menyalakan sang ponsel dan membuka kunci. Setelahnya, Miku membuka daftar kontak dan mencari nama Shion Kaito.

Telah selesai satu putaran mencari dalam kontak dari A sampai Z, namun Miku tak menemukan nama Kaito. Oh, mungkinkah ia menyimpan kontak Kaito dengan nama yang berbeda? Seperti ia menyimpan kontak sang ayah dengan nama alay "Papa Beruang" supaya terkesan imut, begitu?

Kalau memang begitu ceritanya, maka Miku harus membaca ulang daftar kontaknya dan mengingat dengan jelas siapa pemilik nama kontak tersebut.

Hitungan menit telah berlalu, namun Miku belum mengalami kemajuan atas pencariannya. Gadis bersurai teal itu menghela napas. Sejurus kemudian, ia teringat sesuatu yang sangat penting—kunci dari pencarian tanpa akhir ini.

"Shimatta! Aku 'kan memang tidak memiliki nomornya!"


.

.

A/N :

Oke, cukup segini dulu untuk chapter 2. Baru kali ini saya membuat cerita alurnya lambat. Ah, saya mau mengucapkan terima kasih untuk MiKai-san dan agerazoides-san.

Untuk MiKai-san, terima kasih atas review, foll, dan fav-nya, juga untuk pujiannya. Saya sudah menentukan kalau pairingnya MikuxKaito kok #senyum lebar#. Selama saya belum mencantumkan "complete" maka fic ini masih akan berlanjut. Hehe. Saya tidak terlalu yakin, tapi apa chapter dua sudah cukup greget?

Dan untuk agerazoides-san, terima kasih atas review, foll, dan fav-nya, juga untuk pujiannya. Iya, masih lanjut. Rencananya #saya tekankan lagi, RENCANANYA# fic ini akan saya update seminggu sekali. Mungkin sekitar Minggu atau Senin. ^_^

Yak! Sampai jumpa di BAGIAN TIGA: -Not Him, It's You!-