Kyuhyun yang tinggi badannya satu meter delapan puluh senti serta Yesung yang lebih pendek sepuluh senti dari Kyuhyun dan lebih tinggi lima senti dariku memandangiku dengan tatapan sok lurus, sok mengintimidasi. Seolah-olah ada yang aneh denganku. Ada yang membuatnya berpikir kalau aku ada apa-apanya dengan Donghae. Padahal sebenarnya, Donghaelah yang mendadak menjadi malaikat resmi buatku, dan menjadikan delapan jam waktu kerja Kyuhyun seperti gelombang neraka yang panas! Otomatis tidak akan ada Hyuk Jae yang pecundang, malah Kyuhyun yang sekarang menjadi anak bawang, disuruh membuatkan kopi sekelompok karyawan training yang mau kerja. Dan mereka pikir aku sudah memanipulasi Donghae, bahwa aku menjelek-jelekkan nama baik Kyuhyun dan harga dirinya. Terlepas dari rasa tidak terima Kyuhyun, dia pantas mendapatkannya. Kalau karma tidak lepas dari eksistensi hidupnya. Kyuhyun itu barang rongsok kalau kalian mau tahu. Sudah segenap kejahatan manusia yang dia lakukan meski tidak ada kejahatan kelas menengah, dia pernah menghacurkan hidup seseorang, contohnya adalah merusak reputasi seorang gadis yang tidak disukainya karena bawel.

Donghae memberi Kyuhyun tugas tambahan, dia bertanggung jawab melakukan promosi besar-besaran seminggu lagi di sebuah supermarket kejayaan (Kyuhyun bertugas membagikan sampel gratis buat masyarakat untuk mempercayai kualitas produk perusahaan) dan aku berani jamin, aku bakal membuatnya makin kesusahan. Kyuhyun akan kubuat terbakar teriknya kesengitan balas dendamku.

Aku kemudian dibawa mereka ke suatu ruangan hangat, yang lembab dan terhindar dari jangkauan Donghae. Maka Donghae tidak akan dapat memata-matai kami seperti apa yang pernah dia lakukan; secara magis muncul dari sebuah bilik tak terduga diantara sesi bergosip kami.

Tentu saja aku bisa membayangkan apa yang akan dikatakan dua kutu busuk ini. Yang tidak bisa dilepaskan karena mereka adalah sepasang teman sejati. Bagaimanapun situasinya, meski kadang kali Yesung adalah orang yang asyik, dia pasti selalu memihak pada Kyuhyun. Walau Kyuhyun, pernah secara tidak sengaja (kubeberkan rahasia busuk ini kepada kalian semua) mengencingi celana Yesung sebab dia dilanda mabuk berat. Akulah yang membopohnya pulang, sehingga diantara kepelikan batin dan rasa berat hati, aku bertemu tunangan Kyuhyun yang cantik jelita. Penderitaan pun terbayar sudah.

Kyuhyun cemberut dan melotot, "kau! Aku tahu Hyuk Jae! Ada yang tidak beres. Kau dan otak dungumu itu," marahnya.

Aku memutar mataku karena jengkel, mendelik sebab Yesung ikut-ikutan. "Kyuhyun, aku ini orang yang bersih. Berpendidikan," jengahku dan balas memelototi mereka berdua, "aku itu bukan kalian yang suka bermain curang. Kalian kan lintah darat!"

Kyuhyun tersedot oleh gelora marah yang makin membesar. Dia mengumpat, "Demi Tuhan Hyuk Jae, kau pasti memonopoli bos busuk itu. Pasti ada apa-apa diantara promosi berkedok cari untung yang menyiksaku ini!"

Yesung tak tahan menahan tawanya sehingga dia terpingkal-pingkal dan dihadiahi sentilan yang menyakitkan di dahinya. "Aku akan membuktikannya dengan kedua mataku sendiri, bahwa kau memang bermain curang! Tega sekali!" katanya bersungguh-sungguh.

Aku bersungut balik, selagi berpaling darinya, "well kupikir kita teman," desahku. Bila aku boleh membandingkan rasa puas dan keenggananku, aku merasa ini tidak adil juga buat Kyuhyun. Aku kasihan padanya. Dia pula sudah membantuku dalam masa-masa sulit sehabis lepas dari masalah dituduh menggunakan uang perusahaan. Dia bersaksi dengan gagah berani, penuh kejujuran dan keinginan untuk membela bahwa aku bersih dari korupsi kecil-kecilan, meski dia pada akhirnya minta dibelikan sebuah tas gendong kulit yang harganya setengah gajih seorang karyawan baru dan aku terpaksa membelikannya karena tidak enak hati. Itu juga sebuah kilasan balik sewaktu Kyuhyun masih menjadi teman sebaya yang manis.

Yesung pun ikut panik padahal pada dasarnya masalah ini bukanlah masalah serius dan berjangka panjang, melainkan niat bercandaan Kyuhyun saja yang naik pitam, pasti dia hanya ingin mengolok-olokku. Jadi Yesung menengahi kami, seperti sedia kala sekali waktu Kyuhyun memiliki kecemburuan yang aneh sehabis aku bertamu ke rumah Kyuhyun. Yesung adalah pria yang baik hati dan bijaksana, walau dia agak autis karena tidak bisa mengeja sejumlah kosa kata sederhana. Penglihataannya pun buruk. Kata Yesung, "Kyuhyun, tidak ada baiknya saling menuduh. Lagi pula sehabis promosi besar-besaran," Yesung menatapku beberapa kali untuk meyakinkan Kyuhyun bahwa aku tidak terlibat sama sekali dengan keganjilan ini, "semua orang akan mengalami masa sulit. Inikan dunia kerja, kalau kau mau sukses kau harus bekerja keras."

Aku menahan gelak tawaku karena sepatah kata yang berasal dari kesungguhan Yesung yang sebenarnya bernuansa kampungan sekali. Meski begitu, anehnya, dia dapat merubah suasana hati Kyuhyun dalam hitungan detik. Wajahnya cerah lagi, senyumannya juga berkilau sewaktu Yesung menepuk bahu Kyuhyun dan aku memegangi bahunya yang gemetar karena marah. Akhirnya beginilah kami berbaikan. Kalaupun aku secara langsung adalah dalang dari ketersiksaan Kyuhyun, aku berani jamin bila Kyuhyun akan naik pangkat seperti apa yang Donghae janjikan padaku supaya tidak ada yang curiga dengan kelakuan bos baru yang mendadak sangar. Aku hanya berusaha menghindarkan diriku dari masalah.

Aku serius tak bisa menebak sejengkal pikiran Kyuhyun, sehabis tersenyum wajahnya kembali kotor dengan seringai khas dirinya yang mengjengkelkan. Dia menatapiku dengan intens, lagaknya agak aneh. "Hyuk Jae, dengar ya baik-baik. Aku masih mencurigaimu." Kyuhyun menunjuk-nunjuk wajahku, namun dia tidaklah sungguhan marah. "Kau pasti ada apa-apanya dengan Donghae."

Aku terkesiap, tetapi Yesung menampik kecurigaan Kyuhyun yang kurang berdasar. "Kyuhyun, itu namanya menyumpahi teman!"

Di atas segalanya—karena kami tengah membicarakan Donghae aku menjadi lebih takut dan cemas, yang membuat Kyuhyun menyadarinya—dan pria ini sudah terlanjur curiga terhadapku.

.

.

.

Selesai dengan masalah Kyuhyun, Tiffany mendapatiku tengah berlama-lama menatapi bokongnya yang seukuran telapak tangan yang sebenarnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bokong Donghae. Yang kemarin tak sengaja bersentuhan pula denganku karena aku meremasnya sebab sodokannya di bibirku makin aneh. Bukannya aku tengah memikirkan bokong bulat Donghae, tetapi rasa sombong Tiffany membuatku jengah setengah mati. Aku tidak terima mendengar tuduhannya, yang kurang berdasar, dan sok tahu, dan seorang pemuda baru kerja juga ikut-ikutan, dia pikir aku adalah seonggok pria berotak cabul. Atas dasar apa Tiffany berbesar hati dengan bokong yang kurang kenyal itu?

Aku memakinya karena sok pahlawan dan mengatai Tiffany sok cantik. Kalau sesungguhnya aku tidak sedang memandangi kecentilannya, mengayunkan pahanya yang tebal sewaktu duduk, melainkan membayangkan semacam keanehanku selama bertemu dengan seorang bos yang merayuku. Terlebih kami adalah sesama pria. Tiffany kembali ke tempat duduknya selagi mencemoohku, hingga aku balas memelotinya. Seorang Manager Personalia, yaitu Ryeowook yang badannya seukuran jangkrik, mengataiku dan melerai kami berdua, bila dipikir-pikir, kalau kuadukan bocah tengik ini kepada Donghae, maka habislah sudah kenekatannya. Donghae adalah GM yang wewenangnya setinggi langit. Kau bukanlah tandingannya kutu!

Tadi pagi juga Donghae mulai ketus dengan Kyuyun, Jung Soo yang memberinya salam hormat sekali waktu Donghae lebih awal datang dari mereka tidak disahuti dan diberikan senyum miris, seolah-olah Donghae akhirnya mendapatkan karunia tentang kejujuran dan pegawai yang dikucilkan. Dan Donghae hanyalah tersenyum kepadaku seorang, berkedip seperti ingin menggoda, dan menawariku selusin donat yang rasa buahnya bervariasi. Aku cepat-cepat mengambilnya karena dideliki oleh Kyuhyun.

Aku akhirnya kembali ke layar komputer milik perusahaan, seharusnya hari ini aku terjun ke lapangan buat membantu Kyuhyun bersama salah seorang pegawai juga. Orang-orang bilang istilahnya aku adalah sales berbudi luhur resmi yang terikat dalam perusahaan Internasional, namun aku lebih suka menyebut diriku sebagai seorang pegawai marketing yang handal. Untungnya, orang-orang bisa dikelabuhi dengan istilah-istilah asing, yang mana kemudian membukakan pola pikir mereka. Kalau sales dan pegawai marketing memiliki sebuah perbedaan dan aku sepekat akan itu.

Aku kelinjangan lagi di tempat dudukku karena sudah sepuluh menit terlwati tetapi aku malah memikirkan Donghae dan penisnya yang berlendir. Bahwa aku kemarin malam bertanggung jawab dalam proses orgasme pria dewasa, pria dewasa itu memimpikan sebongkah bokongku yang lurus dan tak berlemak yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan miliknya sendiri. Aku membenari kacamata yang membuat tulang hidungku sangat sakit, dan bengkok permanen, dan aku beralih kepada kopi yang dipesankan Kyuhyun untukku. Oleh karena kopi itu berasal dari Kyuhyun, mereka memiliki kualitas nikmat yang dramatis. Maksudku, malah lebih manis.

Aku meminum seteguk kopi putih yang sirupnya lima sendok, dan full milk, kemudian aku membuka pesan yang muncul di ponselku. Aku sepenuhnya yakin kalau Kyuhyun dalam mode jahilnya, dan sedang iseng dan marah terhadapku atau Yesung yang mengusuli gagasan ini. Jadi aku sama sekali tidak memikirkan niatan jahatnya yang bisa mengancam kewarasanku. Paling-paling gambar porno, Yesung yang tengah ileran atau Sekertaris pribadi Donghae duduknya mengangkang, wanita yang sebaya denganku yang matanya sipit sekali serta dalamannya itu bewarna nyentrik dengan pola-pola yang unik. Tetapi setelah aku membuka pesan, yang berisi ungkapan hati dan pengendalian diri, aku menyemburkan kopiku yang tepat mengenai rok Tiffany (mengenai bokongnya detailnya) sewaktu wanita bawel ini lewat di dekat bilikku.

Begini Tifanny yang sekarang makin naik pitam bukanlah masalah, dia meneriakiku, "kubilangkan! Pria ini cabul dan penisnya sudah hilang akalnya! Pecat saja dia!" sambil lari terbirit-birit menuju ruang ganti yang disusul salah seorang teman wanitanya yang pula mencibirku.

Yang membuatku tersedak sampai terpingkal-pingkal adalah sebaris kalimat menggoda dari Donghae yang nakal, dan foto kemaluannya yang terpampang seperti tiang listrik konslet di sekitar perumahaan menuju Taman Kanak-Kanak berbasis Kristen menuju rumahku. Dan setiap tetesan kopi yang melekat menuju daguku, aku dan Kyuhyun terheran-heran menatapiku, tetapi terkejutnya mereka tidaklah sepadan dengan syok yang ada di hatiku. Aku memandangi fotonya, bila mana kuyakini bahwa dia mengambilnya di kantornya karena tempat duduk yang hitam dan bergoyang serta meja teras yang dekat dengan kakinya! Dan sebuah stiker bergambarkan beruang kutub adalah murni merk perusahaan.

Bagaimana mungkin ereksi seorang pria bisa setajam mata pisau?

Aku buru-buru minta maaf kepada atasanku, dan berlari tunggang-langgang, kemanapun pokoknya menjauh dari suasana ramai teman sebaya dan Donghae. Aku melewati kamar mandi yang awalnya adalah destinasi utamaku, malahan aku berbelok dari ruang meeting menuju ruang pribadi Donghae. Aku bergetar membayangkan sperma Donghae dan keanehan baunya, meski aku amatlah menyukai bau menyengat itu kalau teman kencanku bercinta dengan sisa kelengketannya. Dan anehnya, aku baru saja memikirkan bila sperma Donghae akan berkilau di permukaan kulitku!

Aku membuka pintunya, seperti pria barbar yang dilanda kejang otot yang hebat, menggedor-gedornya karena pintunya dikunci, mungkin karena takut dia ketahuan berbuat tidak senonoh di ruangan pribadinya, atau hanya ingin memberikan kesan nakal dan gagah. Aku makin kewalahan, aku sungguh tidak mengerti apa yang membuatku seperti dilanda euforia dan tegang. Aku hanya ingin melihat wajah Donghae (perkasa dan penuh keringat itu) memperingatkannya supaya tak lagi menggodaku! Akhirnya pintu dibuka dalam hitungan menit yang amatir. Persetan!

Rambut pria ini acak-acakkan, kemeja putihnya pun marah dan kancingnya lepas, dadanya basah oleh keringat memerah layaknya warna perunggu yang dikobar api. Untungnya dia masih mengenakan celana sebatas mata kaki, meski pusat selangkangannya berbentuk seperti tenda yang akan meledak. Sedetik kemudian, aku merutuk keanehanku yang seperti kesetanan mencari-cari eksistensinya dan sekarang aku malah menyesalinya. Aku menawan Donghae seperti gadis yang baru puber. Aku tidak segan-segan menjilati bibirku, dengan nuansa dilanda keinginan untuk menyerang Donghae dan napas memburu. Walau sekarang aku sebal sekali dengan geliat ingin berciuman dan penis yang nyeri.

Sungguh, apa yang baru saja merasukiku? Mengapa kehadiran Donghae dapat membuat penisku nyeri?

Oke, Hyuk Jae, pikirkan jalan keluar. Janganlah mau di olok-olok Donghae! Dia pasti memiliki motif menghina yang terselubung! Dia sekarang memiliki sebuah transaksi bisnis dengan Kyuhyun, dimana Kyuhyun mengusulkan kalau Donghae boleh merayu Hyuk Jae yang setengah homo itu dan lajang dan Kyuhyun akan mengerjainya mati-matian. Atau pria ini sama sekali tidak mengambil hati ciuman kemarin maupun oralnya juga. Secara spesifik, pria ini hanya ingin tidur dengan kutu buku yang aneh. Dan sekelebat ingatan mengenai penis Donghae membuatku pusing tujuh keliling.

Aku selangkah lebih cepat masuk ke ruangannya, dia menangkap lenganku, menggenggamnya, kelima jarinya merekat di sana, berbisik kepadaku, "kau suka hadiahnya?"

Aku menatapnya heran, meski keherananku bukanlah keheranan yang emosional dan yang dapat membuat pria ini merasa tidak enak hati. Kubisikkan padanya balik, "jangan main-main," dengan senyum yang pilu. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Donghae gelagapan, merasa kalau ini bukanlah reaksi yang sewajarnya dariku. Jadi dia sesegara mungkin menarikku masuk ke dalam, kemudian mengunci pintu dengan kecepatan yang hebat. Dia siaga menatap wajahku yang penuh banjiran keringat dan air muka takut. Dia menghela napas, merengut, menghela napasnya lagi, lalu menatapku. "Apa yang salah dari itu Hyuk Jae? Kau seharusnya tidak mengambil di hati, aku hanya ingin mencandaimu. Kenapa kau bersungut-sungut begitu?"

Ini bukanlah respon yang sah, sehingga aku menampik tangan Donghae, dan pria itu beralih mengitariku yang seperti lingkaran ayunan biang lala, membuatku merasa di atas angin oleh wajahnya yang setengah marah setengah tidak mengerti, tatapannya yang mengintai membuatku merasa diserang kejang. Dan aku tidak sanggup lagi berdiri setegap nyaliku terhadapnya. Bulu matanya yang lengket mengawasi kegetaran hatiku, Donghae sama sekali tidak terkesan. Ambekanku tidak bisa menggerakkan hatinya. Jadi dia berupaya untuk tidak mengukapkan kengiluannya. Siapa yang tahu kalau Donghae pernah berkeluarga? Pernah bercerai? Aku pun juga yakin terhadap kepercayaan diriku yang tersisa lima puluh persennya bahwa aku straight. Meski aku suka sekali dengan sensasi menyentrum penis Donghae kalau klimaks.

Donghae canggung menatapku, "Hyuk Jae kenapa kau pikir kalau aku cuma sekedar lucu-lucuan, yang mana bila pria merayumu maka secara garis besarnya aku hanyalah ingin bercanda belaka? Mengapa kau memiliki konsep berpikir yang menyedihkan?" katanya lebih sedih dari apa yang dia sebenarnya ingin dia rasakan.

Aku salah tingkah, tidak sependapat dengannya. "Donghae aku adalah pria lurus yang suka selingkuh," aku mengibaskan rambutku yang hitam. "Akhlakku tidak mudah digoyahkan oleh lelaki tulen, bos," menyindir Donghae kemudian.

Donghae akhirnya melangkah lebih dekat dari hanya dekat, sekarang wajahnya berjarak dua senti saja dariku, dan selangkangan kami saling menjempit, paha saling menyentuh. Dia mengekangku ke tembok yang keras, memenjarakan tubuhku dan mentalku. Aku sepenuhnya dimonopoli Donghae. "Aku tidak suka ditolak, apalagi olehmu," dia mencium bibirku dan aku terpejam ketakutan oleh pandangan penuh kukungan itu.

Donghae tertawa terbahak-bahak, serupa dengan kasus Kyuhyun yang seminggu lalu menjahiliku. Donghae melangkah menuju mejanya, dan aku membuka mata kembali dibuatnya. Dia duduk di sana sambil bersedikap dada, memandangiku, persis sewaktu insiden 'Hyuk Jae perlu bimbingan menggunakan mesin fotocopy' yang merupakan awal dari kemalangan. Donghae mengacungkan jari telunjuknya, tersenyum secara sensual, yang adalah senyum yang esensial. Dia menyuruhku mendekat dengan telunjuknya, aku seperti terhinoptis menurut! Aku pula makin dibuat mabuk dengan wajahnya yang mempesona, dengan kemilau gagah dan bayangan tubuhnya yang tinggi menjulang dan rambut gondrong yang berkibar ke belakang sewaktu ditimpa angin. Ini adalah fenomena mistis yang membuat sekujur tubuhku merinding.

Donghae memelintir dasiku selagi meniup-niup mataku, yang sama sekali tidak legal buat dilakukannya, dia menariknya dengan sepenuh hati hingga aku mengenai ujung hidungnya yang mancung. Pipiku dicium oleh Donghae berulang kali, turun ke leherku yang tadi berminyak sehabis lari-lari, jakunku digigit yang meninggalkan sensasi dibakar matahari. Dia menerjang tubuhku, kakiku dililitkan ke pinggang yang seukuran sepasang paha perempuan. Kami bertatapan mata layaknya kami tengah dimabuk cinta, dilanda kasmaran, kalau dunia ini hanyalah milik berdua. Dan kesan-kesan lain yang menghebohkan dan terasa ngeri.

Donghae memberikan secubit kasih sayang dengan ciumannya, dia kini menyuruhku duduk di antara mejanya supaya dia punya akses yang aman agar bisa memegang bokongku. Dia pun tidak lupa mengerling, dan kerlingan itu adalah ritual sakral untuk membangkitkan gairah. Dia makin keranjingan, dari memijat jadi meremas, menampar dan memukul, aku melenguh. Lebih terlena lagi sewaktu dia menghisap leherku. Aku akan bersenggama dengannya. Bersenggama sepenuh hati.

Aku memandanginya dengan pikiran melayang, bila seumpama aku sungguhan homo maka Donghae akan masuk kualifikasi pria menengah atas yang asyik diajak bercinta. Dan pikiran itu membuatku dilanda perasaan pasca klimaks yang heboh, karena aku bisa memikirkan untuk bercinta dengannya walau sekarang aku bukan penyuka sesama pria. Aku beralih lagi, bangun dari bayang-bayang kelabu Donghae yang sesat, dia menatapku sewaktu aku membuka mata. Wajahnya penuh damba.

Ya Tuhan, apa yang baru saja aku pikirkan? Donghae tadi menatapku penuh damba dan aku menyukainya.

Donghae menyisir sisa keringat di keningku, mereka turun ke bawah melintasi daguku yang runcing yang membuat Donghae menelan ludahnya karena aku membangkitkan keperkasaannya. Jakunnya naik turun, seperti sebuah lift ekspres, kami berpandang-pandangan. "Hyuk Jae kau lihat, aku tidak pernah main-main. Apalagi kalau itu tentang dirimu," dia mencium kelopak mataku, aku terlena, "aku memiliki kesungguhan Hyuk Jae," lanjutnya ingin meyakinkanku yang setengah hati ini.

Aku menggaruk kepalaku yang gatal dibasahi oleh rasa cemas, perasaan ini adalah perasaan yang difilmkan! Aku memiliki kesamaan dengan seorang gadis rumahan yang membayangi kisah cinta abadi. Dan aku menginginkan romansa yang nyata dengan Donghae! Perasaan ini tidak main-main, dan Donghae ternyata seratus persen lebih tampan ditatapi di kedekatan, hidungnya mancung, pipinya diterpa sinar kecokelatan, bibirnya yang tipis teramat lembut sewaktu kubelai. Apalagi suara napas yang putus-putus, mengenai hidungku, merupakan sumber percaya diri yang mengagumkan. Yang mana aku semenjak sebelas tahun menyukai wanita penuh semangat hidup, yang tidak goyah, tidak goyah nyalinya seperti Donghae.

Donghae menggenggam kedua tangaku, panasnya membara seperti ketinggian kawah yang menjulang ke bawah, penuh dengan asap mengepul, sesuai dengan suasana hatiku. Aku tersipu-sipu, Hyuk Jae melakukannya. Donghae tidak segan-segan membuatku lebih kemayu dari seorang gadis, aku ingin dicium lagi olehnya yang ganteng dan gagah.

Aku minta dicium olehnya, dan Donghae menyadarinya sehingga dia geleng-geleng kepala selagi menartawaiku. Dia menyanggahku yang hendak menyapu bibirnya. "Hyuk Jae katakan dulu," Donghae pasti ingin menjebakku, seringainya menembus akal sehatku. "Kau mau bercinta denganku," lirihnya penuh keinginan nakal yang tidak dibuat-dibuat, menciumiku sekali dua kali, tiga kali pula, "dan kita akan punya hubungan yang sehat. Pacaranlah denganku, sayang," Donghae memberikan jaminan sosial yang lebih dari cukup mengingat besarnya pengaruh kehendak Donghae yang berkuasa. "Kalau kau khawatir mengenai aku yang suka selingkuh," ucapnya terbata. Oh, aku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Gagahi sajalah aku, "aku adalah pria yang berkomitmen penuh," yang merupakan sindiran terlunta-lunta buatku. "Aku semenjak sebulan lalu menginginkan lembabnya dirimu," diakhiri dengan kerasnya dia meremas bokongku membuatku terkesiap centil. Dan aku bersumpah kepada Jesus yang penuh suka cita, aku tidak tengah sengaja melakukannya.

Aku mengangguk, aku sudah hilang akalnya. Aku penasaran dengan seks sesama pria, lebih dari itu, aku penasaran dengan seks bersama Donghae, aku tidak bohong. Donghae kegirangan menyahutiku, berulang kali memelukku, aku sempoyongan nyaris terjungkal dari mejanya. Pelukannya berkekuatan lembut, tidak mengada-ada. Aku persisnya terbuai. Namun, ketika aku hendak melepaskan kacamataku yang basah-basah ini, Donghae menahanku. Aku tergagap memandanginya.

"Kau pikir pacaran yang bagaimana yang aku suka Hyuk Jae?" Donghae beralih meremas kejantananku, "aku suka yang gila, liar, penuh tantangan," karena dia pikir sehelai rambut di kepalaku yang menggantung diantara hidungku lucu, dia menggigitnya gemas. Dan ditarik olehnya, putus karena giginya, "aku pria jantan yang mengidamkan seks tangguh Hyuk Jae," katanya perhitungan.

"Donghae, kalau kau pikir aku amatir, kau perlu beberapa cek personal," aku menggunakan macam-macam taktik, yang membuat Donghae girang, tak putus semangat dan eksklusif. "Kau salah besar." Aku meraba dadanya yang sekeras tembok beton, anehnya, sensasi keras yang dramatis itu membuatku lebih kesenangan. Dadanya yang bidang seperti pintu kawat yang penuh akan proteksi, yang membuatku merasa aman dari jahilnya Kyuhyun.

Donghae menggigit jariku, menghisapnya, hisapan yang bergaya sedotan dan basah, yang membangkitkan semangatku karena Donghae untunglah tidak punya bulu di dadanya sedetik dia menghempaskan kemeja ketatnya dan sapu tangannya hinggap di sepatu kulitnya yang berdetak seperti jantungku. Tetapi Donghae dan aku sama sekali tidak peduli, dia menginjaknya. Jantan sekali. Dia menginjaknya dengan usaha menggoda, dan tubuh gagah itu sesegera mungkin menjatuhkanku kepelukannya. Dia mendaratkan jilatan ringan ke jaringan motoriku sampai aku menggelinjang, dan membuatku seratus persen tegang. Dia pula bergaya ingin menggenjot supaya aku tergerak menyentuh tubuhnya.

Aku terbuai, secara refleks kugenggam penisnya yang seukuran sepasang ketimun, yang sudah licin dan sebercak kelengketan muncul di permukaan celananya yang resmi. Aku memijatnya sesuai ciuman Donghae dan cubitannya, kakiku sampai berada diantara punggungnya karena sensasi yang menggila ini. Penuh dengan ragam kesenangan. Kami bercinta seperti berada dalam pengaruh obat, Donghae membawaku menuju dinding, menuju lantai dan berakhir lagi di mejanya. Dia mencari jati dirinya yang hilang ketika melihat ketelanjanganku tertekan di antara lututnya yang gemuk, dan semangat bercinta itu sama sekali tidak dibuat-dibuat keberadaannya. Begini, Donghae sungguhan terasang. Dia sampai menggeram sekali waktu aku terengah-engah dan berpaling dari penis menuju sejumlah rambutnya. Dia diserang keinginan yang besar, dia ingin aku bersiap-siap dengan sesi bercinta kami karena dia sudah melepaskan celananya.

Tato di tubuh Donghae membawa kilasan balik yang hebat, aku menyegani sebaris kalimat Perancis bernuansa merayu itu, kubisikkan padanya bahwa aku ingin dia memiliki tato namaku, atau separuh wajahku dan ukiran Negara tropis, Donghae pun setuju-setuju saja. Asalkan kami sudah melewati fase mencari cinta dan luput dari kegoyahan, dan aku bakal terus melihatnya seorang.

Dia dengan terus terang memperingatkanku bahwa kami akan menuju klimaks bersenggama itu, kalau dia jujur sepenuh hatinya tidak akan menggunakan taktik yang curang, yang hanya mengedepankan kesenanganya semata. Dan gayanya yang sungguhan jantan itu membuatku terbuai. Kelembutannya mengena di hatiku sehingga aku memiliki inisiatif sendiri buat melepaskan pakaianku. Untungnya, Donghae punya kondom dan pelumas, yang kutakutkan kalau Donghae tidaklah bersih, meski aku tidak akan melewatkan kesempatan bercinta dengannya seumpama Donghae benar-benar tidak punya kondom. Dan Donghae membuatku makin terkesan dengannya. Aku memasangkannya kondom, dengan sengaja kutekan dan kucubit miliknya karena gemas. Dia terkekeh dengan tingkahku. Demi memuaskan khayalanku terhadap machonya Donghae, dia tidak lupa menggerai rambutnya yang lengket karena keringat, dan bulu wajahnya mengenai pipiku, aku kelinjangan.

Donghae bilang kepadaku kalau aku harus fokus terhadap kesenangan yang merangsang diantara kulitku, pokoknya jangan pikirkan perih yang menjalar yang membuat bokongku mati rasa, yang lumpuhnya berpusat diantara dinding ketat yang hendak diruntuhkan oleh Donghae. Sehingga aku dengan senang hati mengikuti kata-katanya, mengikuti kata hatiku. Kami pun bercinta dengan berbagai teknik, dan sakitnya hilang sehabis Donghae memberikan perhatian yang khusus terhadap bokongku. Dia menyodokku dengan gaya yang seragam, dengan Donghae yang naik turun, miliknya menekan seluruh tubuhku, aku mengerang karena tidak dapat menahan desahan, sentuhan semata menjadi aksi cubit-mencubit, dan dia tidak lupa pula menggigitku. Aku menekan miliknya dengan centil, dan respon berkedut-kedut yang dahsyat membuatnya tidak tahan. Kakiku nyaris kram dan aku terkesima sekali dengan kemampuannya menahan orgasme, pria ini merupakan pria sejati. Pria tulen yang sesungguhnya.

Donghae berkata, "Hyuk Jae, kangkang kakimu lebih lebar, aku perlu akses yang luas," katanya dengan intonasi patah-patah, sedetik kemudian Donghae mendesah. Aku melakukan apa yang disuruhnya. Dia melepaskan penisnya dan mengenai pahaku yang merosot sedetik aku menghindar darinya, namun aku memasukannya kembali ke dalam diriku, kakiku melayang-layang, dan Donghae mengelusnya, menawan ketelangjanganku dengan bias muka memuja, pokoknya yang kelihatan sekali kalau Donghae mabuk kepayang karena diriku.

Donghae tersenyum nakal, selama beberapa detik melakukan manufer yang tepat, dan setelah itu meludah, ludahnya mengaliri sumber kelengketanku, aku tak henti-hentinya meneriakkan namanya ketika dia memulai permainan yang lain. Memulai sesi memadu kasih yang damai, aku kegirangan menatap wajahnya yang berkonsentrasi penuh menemukan setitik kesenangan kami. Betapa tampannya dia, yang seorang pria gagah dan perkasa, bertutur kata cerdik, serta pria yang romantis. Hyuk Jae kau telah sepenuhnya terjebak ke dalam pesonanya.

Yang membuatku lebih terlena dipelukannya, terlelap oleh cintanya, dan romansa yang diberikannya kepadaku pun tidak basi. Aku meneriakkan namanya disela desahanku yang kian mengeras, dan akhirnya aku orgasme. Ini kedua kalinya aku mencapai orgasme!

.

.

.

Sewaktu aku membuka pintu ruangan Donghae, terkutuklah nasib buruk ini, mengapa ada Kyuhyun yang kelihatan tidak percaya, wajahnya memerah dan kulitnya basah karena keringat, kusam sebab dia dilanda syok yang hebat. Dia memandangiku yang tertangkap besah tengah mengunjungi sarang bos galak yang pelit ampun, dan Kyuhyun pun berhak untuk merasa curiga. Apalagi diriku ini pastilah nampak tidak baik-baik saja sehabis Donghae menyelinap diantara kakiku, jadi aku berdalih kalau Donghae ingin dibuatkan kopi, tetapi kuyakini kalau Kyuhyun kurang percaya karena sedari tadi Yesung tengah berada disekitaran sini, jadi Kyuhyun memelototiku, dari atas ke bawah, memasang tampang sangarnya. Aku semakin merasa agak biadab karena Kyuhyun sudah menemukan kedokku yang curang ini. Dan aku takut disebut-sebut punya hubungan tidak sehat dengan seorang bos macho, dan orang-orang bakal mengira kalau aku terlibat dalam usaha menggaet pria kaya, apalagi dengan noda sperma dipermukaan kemejaku yang tidak mau hilang dan pastilah tidak wajar.

Kyuhyun berputar-putar, ingin sekali mengintimidasiku yang setengah mabuk kepayang sehabis efek bercinta dan setengah takut dipergoki olehnya. Aku kewalahan sekali menghadapi Kyuhyun, apalagi tanpa eksistensi Yesung di sampingnya, karena Kyuhyun orangnya pintar sekali menjebak. Orang yang picik dan sulit ditaklukkan, dan bila Kyuhyun sudah curiga, itu berarti prediksinya akan selalu benar. Dan aku tidak bisa membayangkan aksi balas dendam apa yang hendak diberikannya kepadaku. Tiada hal-hal semacam memaafkan di kamus Kyuhyun. Dia orang yang sukar memaafkan.

Sehingga aku melintasinya secepat angin, dan dari gerakan tak terlihat itu dia menggapai tanganku, menahanku, tak lupa mencubit lenganku terlebih dulu sehingga sakitnya menyebar diantara lenganku. Aku memandanginya tak percaya. "Kyuhyun aku tahu kau tengah dilanda kemarahan, tetapi sentimenmu yang liar terhadapku sama sekali tidak masuk akal. Kau akan mendapat promosi gila-gilaan, jangan lampiaskan kemarahanmu terhadapku."

Kyuhyun tampak tak terhibur jadi dia makin jengah, dia tak melepaskan genggamannya terhadapku. "Hyuk Jae aku tahu kau berada dibalik kebusukan ini, aku tahu ada yang tidak beres, kau mudah sekali ditebak, kau akan berada dalam masalah kalau kau benar-benar terlibat dengan neraka yang diciptakan keledai berbulu domba itu," ancamnya.

Aku memutar mataku. "Aku sama sekali tidak bekerja sama dengan Donghae, dan bila itu benar semua, bukannya kau harusnya bersyukur dinaikkan gajihnya sehabis proyek ini kelar?"

Reaksi Kyuhyun membuatku tercengang, dia tertawa terbahak-bahak tetapi bola matanya mendelik. "Serius Hyuk Jae, apa yang harus disyukuri dari kerja sepuluh jam dan dibudaki olehnya?"

Aku mendesis kepadanya, menepis genggamannya dari tanganku. "Kau akan menikah dengan Sungmin—"

"Nona Sungmin untukmu,"

Aku memutar mataku jengkel. "Dia curhat padaku kalau kau tak lebihnya pria yang suka membual-bual janji ingin menikah, padahal kalian harusnya punya hubungan rumah tangga yang asyik, tapi kau tak kunjung pula menikahinya—" kataku berapi-api.

Kyuhyun memotong kalimatku, "aku ingin menjadikan pernikahan kami menjadi pernikahan yang indah. Dan perlu dana yang besar untuk mewujudkannya! Hyuk Jae tahu apa kau tentang Sungmin?"

Aku tersenyum kecut. "Kyuhyun aku hanya ingin memberikan saran terbaik untuk seorang teman, Sungmin adalah gadis yang jelita, yang mungkinlah perawan pula belia serta pintar memasak. Dia wanita yang akan menjadi satu-satunya di hidupmu," aku berjalan menjauh darinya dan berhenti di dekat pintu, "jangan lewatkan kesempatan buat menikahinya, karena sebagai lelaki yang berakal sehat, dia adalah perempuan yang tidak ada duanya. Semangat, bung!" sebelum segera menghilang dan meninggalkan Kyuhyun yang tenggelam dalam bualanku.

Kalau boleh jujur, aku busuk sekali karena sudah menghasut Kyuhyun buat memercayaiku. Apalagi sudah melibatkan Sungmin ke dalamnya.

.

.

.

Sedari tadi aku sudah kehilangan kontak terhadap kesadaran duniawiku karena aku larut sekali dalam pemikiranku yang pendek ini. Sudah ke tujuh kalinya Donghae masuk dalam lamunanku, yang terdapat kisah kasihku bersamanya, dan kami adalah pasangan sejoli yang harmonis sekali, kami duduk bersebelahan seraya menatap birunya langit di sebuah taman imajinir, dan tak henti-hentinya memuji satu sama lainnya. Yang aneh sekali karena dengan memikirkannya saja membuatku merasa berbunga-bunga, khususnya sewaktu Donghae bilang kalau wajahku yang bersinar adalah pusat jantungnya, aku kegingaran selagi melangkah menuju rumahku, menghidupkan lampu sehabis membuka pintu. Dan sejumlah orang yang berlalu lalang tidak menyadarkanku dari ilusi cinta bersama Donghae. Ayolah, Donghae mengambil setengah napasku pergi. Meski secara harfiah, keberadaan Donghae lah yang membuatku mampu bernapas.

Donghae mengirimiku pesan pendek bila dia sedang berada tak jauh dari rumahku, dan dalam lima belas menit akan sampai karena dia perlu mampir dulu ke rumah kerabatnya yang bermata biru. Sulit dipercaya kalau dia sesungguhnya pria berdarah setengah bule, meski wajahnya memiliki susunan tulang rahang yang dramatis, namun dia tidak terlampau tinggi. Katanya kakeknya adalah veteran perang yang berjuang sewaktu perang Amerika-Vietnam. Dan aku mengambil kesimpulan kalau Donghae pastilah pria mapan yang banyak duit, gaya berjalannya menunjukkan harga diri seseorang, serta kepiawaiannya dalam menarik hati seorang pria perlu diapresiasikan.

Aku mencuci piring, sehabis itu bergegas memberikan kucing kecilku yang bewarna kebiruan camilan karena dia terus menggeram, kucing berjenis Scottish fold yang kepalanya mencapai ukuran tubuhnya, telinga melipat dan mata yang bulat, yang dibelikan oleh mantan pacarku dan aku tidak tega buat membuangnya. Walau ingatan tentang perempuan yang doyan sekali makan itu melekat dalam pikiranku, Donghae malah mengalihkan perhatianku, dan bukan waktunya buat memikirkan masa lalu sebab Donghae baru saja membunyikan bel.

Aku bergegas membuka pintu, nyaris tersandung kaki meja yang ada diantara pintu dan jendela rumahku. Aku melihat bayangannya yang sekilas gugup, dia melintasi halaman dengan pandangan nanar, melangkah ke kanan dan ke kiri, yang dikiranya aku main-main dengan hubungan kami yang seharusnya manis ini. Hingga aku membuka pintu dengan kecepatan penuh, secepat keinginanku buat melihatnya.

Disinilah Donghae, satu-satunya pria yang jatuh hati kepadaku, satu-satunya pria yang membuatku terpesona, rambutnya berkibar diterpa angin, jas kerjanya ketat sekali melekuk di antara pinggangnya, dan rokok yang identik sekali dengannya. Dia mengecup bibirku, menghadiahkanku anggur merlot yang dibungkus dalam kotak kecekolatan berpitakan namaku. Aku tersenyum malu-malu padanya.

"Hyuk Jae, sayang, apa yang kau ingin makan malam ini?" katanya sambil menutup pintu dengan kakinya. Aku menyuruhnya pula buat mengunci pintu karena aku tidak menginginkan situasi yang darurat, contohnya kedatangan Yesung dan Kyuhyun. Yang merupakan pertanda dari malapetaka.

Dia tersenyum getir, namun kegetiran itu bukanlah pertanda buruk, melainkan reaksi awal buat menggoda pasangannya. Aku menyerang bibirnya dan dia membawaku duduk menuju sofa, aku kegelinjangan karena bisikannya terhadap kesungguhan hubungan kami. Kalau kami sudah menjadi pasangan sesama pria yang resmi saling mencintai dan dia pastilah tidak akan membiarkanku pergi dari hadapannya.

Aku nyengir dan menyingkirkan sehelai poni keemasan dari dahinya, menghusap-husapnya. "Donghae, aku belum memberikan hatiku sepenuhnya padamu tetapi percayalah, semenjak kau mencurangiku dengan konsep merayu ini, belum ada wanita yang dapat menggetarkan hatiku. Dan efek dari pesonamu yang menakjubkan membawa segenap sengatan listrik yang aneh terhadapku," aku menghela napasku, tidak mengalihkan fokusku dari wajahnya, "keanehannya membuatku yakin kalau kau sudah menginfeksi otakku menjadi berkeping-keping, dan melengkapinya."

Dia terkesima sebelum akhirnya mencium hidungku, menahan kakiku sehingga mereka mengayun di udara karena aku tengah duduk dipangkuannya. "Buat aku percaya sayang," bisiknya.

Dengan sapuan yang lembut aku terhanyut dalam sentuhannya, aku mendesah di telinganya, dan tanganku menggelinjang di bahunya yang kuat itu, saking kerasnya sakit sekali menggenggamnya dengan kedua tanganku.

Aku semakin tidak berdaya sewaktu dibisikinya dengan lembut, katanya aku adalah satu-satunya pria yang dapat membuatnya tergila-gila, menjelang malam yang dipikirkannya hanyalah Hyuk Jae seorang. Keterusterangannya memberikan efek menggigit yang memukulku menuju surgawi tertinggi, dan dia bakal sepenuhnya mencintaiku asalkan aku tidak menyelingkuhinya dengan orang lain (ancamannya membangkitkan rasangan ragawiku) dan kalau aku berani melakukannya maka dia tak akan segan-segan buat memporak-porandakanku dan rencana balas dendamnya mutlak adanya. Tetapi tunggu dulu, nyaris tak terpikirkan olehku buat berpaling darinya.

Oh, Hyuk Jae ternyata kau sudah gila.

Aku mencubitnya dengan centil, dengan kesan manja yang agak kemayu tetapi tetap membangkitkan semangatnya. Aku menyuruhnya untuk mengangkang, dan dengan begitu aku bakal memanjat turun menuju lututnya, menelan miliknya yang luar biasa tegang, membasahinya dengan selendir kehangatan, turun melalui daguku dan mulutku yang terbuka lebar ini nyaris kram dibuatnya. Tapi beginilah aku, yang kegirangan menjilatinya sewaktu kulepaskan celananya yang ketat, aku menggitinya sedikit, berusaha meninggalkan kesan agak nakal, dan kami kemudian memandangi mata satu sama lain, aku melihatnya merespon dengan gairah cinta yang senapas.

Donghae menjambak rambutku, katanya tersengal-sengal, "sayang aku ingin memilikimu sekarang juga."

Aku melepaskannya, sehingga penisnya menampar pipiku dan aku kesenangan akan sensasinya. "Persetan, sayang. Aku milikmu seutuhnya," aku bergerak ke atas tubuhnya, dia melemparkan seluruh pakaianku terlempar ke meja makan yang berjarak seratus meter dari tempat kami bersenggama, rambutku yang basah karena keringat membuat napasnya kian memburu. Dia seperti pengidap penyakit asma akut ketika aku mengangkang lebar di antara kakinya, duduk di atasnya, dia setengah mati, dan disebabkan olehku.

Aku perlahan-lahan membiarkan dirinya masuk seutuhnya ke dalam diriku yang licin dan berkeringat (ingatlah bahwa ini adalah seks yang higienis) dan sensasi lateks yang dingin menyebarkan reaksi listrik, yang agak perih tetapi menyenangkan, sehingga aku segera mencari manufer yang asyik, yang menguntungkanku dan Donghae pula. Sehabis itu aku menjatuhkan diriku ke pahanya, Donghae yang sudah berada di ujung dunia mendesahkan namaku disela-sela napasnya, suaranya penuh dorongan memuji, tetapi karena dia tidak mau mengkait-kaitkan prosesi bercinta yang sakral ini menjadi aksi pornografi, dia menahan kecabulannya dalam bentuk desahan yang tertahan. Meski aku tahu dia ingin sekali berkomentar akan jagonya aku bercinta dengan sesama pria, dan hebatnya itu adalah kemampuan yang otodidak.

Aku terjatuh ke punggunya, merasa pusing tujuh keliling, dan pahanya yang basah-basah hangat membuatku hampir tergelincir. Untunglah Donghae tanggap, dia langsung membawaku ke dalam pelukannya. Aku memeganginya dadanya yang berisikan tato.

Anehnya, sewaktu aku berpikir untuk tidak terlena terhadap kegantengan Donghae, diwaktu itulah orgasmeku sampai di dadanya, dan miliknya mengalir dalam tubuhku.

Hebat sekali!

.

.

.

Aku menyadari kalau misteri tentang seorang bos galak hanyalah mitos belaka karena lihatlah sekarang, Donghae sudah memecahkan stereotip gila-gilaan mengenai pimpinan perusahaan yang garang, sifat utamanya malah hangat-hangat yang menenangkan seluruh ragawi, yang sepenuhnya enak sekali dipandang sebab dia hobi bangun pagi dan punya kemampuan memasak yang handal, jus miliknya punya cita rasa yang auntentik, padahal dia bilang dia memasukkan sejumlah sayur yang kubenci sekali, dan dia menghilangkan kepahitan yang bisa memunculkan kebencian itu. Sewaktu aku menghabiskan nasi omelet yang dibuatkannya, Donghae keluar dari kamar mandi dengan gaya barbar selagi mengedip kepadaku, celananya yang sebatas paha dan telanjang dada membangkitkan semangatku, sehingga aku mengalihkan sumber perhatianku dan menggapai tangannya, menciuminya selamat pagi. Dia bilang segera habiskan sarapan.

Aku membantunya mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk yang menjuntai di perpotongan lehernya, dan menghusap segenang air di punggungnya. Donghae terkesiap karena sensasi gelinya yang membuatnya menggelinjang hebat. Aku menyentil pinggulnya dan menariknya ke dalam ciuman lagi, bersama kekuatan yang lebih agresif. Oh ayolah, Donghae tampan sekali! Aku sulit memecahkan pandangan subjektifku terhadap kegantengannya, sungguh, Donghae tengah mengenakan sepasang kacamata bundar sehabis sesi ciuman kami, minum kopi dan membaca koran, mungkin dia juga memiliki maksud terselubung yang liar, dan Donghae berhasil! Donghae sudah separuhnya memenuhi fantasi seksualku mengenai pria seksi yang gagah perkasa tetapi memiliki sikap keibuan yang kuimpi-impikan.

Hyuk Jae yang dulu suka mengintip celana dalam selebihnya sudah hilang, ketertarikanku terhadap wanita pula dienyahkan seratus persen oleh hasratku terhadap Donghae, khususnya beberapa bagian tubuhnya yang memiliki keseksian tiada tara. Aku dengan sengaja melintas ke belakang punggungnya yang telanjang dan mencubitnya, mencari celah ke tatonya yang mengukir separuh bagian di dadanya. Donghae terkekeh, astaga suara kekehannya bagaikan signyal mengajak kawain. Aku gemas dan menciuma bibirnya.

Sialan, seharusnya aku sudah dijatuhkan olehnya ke ranjang kalau saja tidak ada orang usil yang suka mengganggu ketenangan sepasang sejoli yang hendak bercinta. Aku menahan Donghae agar mengabaikannya saja, abaikan suara bel yang berisik dan segera serang aku, sayang! "Donghae, lanjutkan saja," erangku menahan bibirnya. Tetapi gema bel yang dipencet dengan kemarahan agaknya mengusik kondisi batinihannya, dan Donghae melepaskan dirinya dari ciumanku.

"Sebentar sayang," jawabnya, aku cemberut lalu dibalas tawanya yang renyah.

Dia berjalan dengan pinggul yang digoyangkan, setiap langkahnya penuh perhitungan karena pahanya bergerak dengan gaya mengayun yang seksi. Dia membuka pintu tetapi aku tidak bisa mengalihkan pesonanya dari mataku, dan aku tidak menyadari kondisi darurat apa yang sudah menunggu di depan mata.

Ada Kyuhyun dan Yesung di antara pintu yang terbuka sepenuhnya, dengan mata selebar bola kasti menjatuhkan sekantong bir dan camilan, serta Donghae yang setengah tak berpakian, menatapiku selagi membenahi kondisi mental mereka yang di porak-porandakan penampiln fisik kami yang kehilatan seperti pasangan yang habis bercinta, terlebih Donghae yang nyaris telanjang! Aku buru-buru menarik Donghae masuk ke dalam kamar dan membawa dua rusa dungu ini menjauh dari rumah, sebelum mengunci pintu buat menghindari kaburnya Donghae dari insiden tertangkap basah mendapati dua pria yang akir-akhir ini kumpul kebo. Selain kemungkinan dari reputasi Donghae yang dapat anjlok, tidak ada lagi yang bisa kupikirkan.

Kyuhyun ogah-ogahan kubawa seratus meter jauhnya dari pintu masuk dan Yesung yang masih melongo tak percaya, tetapi aku harus lebih waspada. Kyuhyun bisa saja mencemarkan reputasi seorang teman baik karena dendam pribadinya terhadap jam kerja lembur dan janji promosi, terlebih Donghae adalah pria yang dibencinya, Kyuhyun akan menghancurkan karir cemerlang Donghae. Oh tidak, itu tidak boleh terjadi. Apalagi terjadi padaku juga.

"Well, apa yang itu tadi," Kyuhyun mengatakannya dengan suara yang kecil yang nyaris hilang dibawa angin, Yesung pun menggaruk tengkuknya karena kehabisan kata-kata, "aku tidak tahu tapi aku percaya dengan apa yang kulihat," sambung Kyuhyun, lebih goyah dari sebelumnya. Dan merupakan tanda sakit hati dari sisi Kyuhyun yang tidak dapat kuprediksi, dia pasti akan marah besar terhadapku, lihatlah bagaimana tangannya bergetar hebat sebab merasa dibenani oleh pengkhianatan oleh kawan lamanya.

"Aku tidak punya apapun untuk dibilang," desahku, menatapiku Kyuhyun bergantian dan Yesung. "Yang kau lihat adalah apa yang benar-benar terjadi dan aku tidak punya semacam pembelaan diri apapun," aku menyerah, mereka tidak bersuara.

Karena khawatir dengan reaksi keterkejutan Kyuhyun, Yesung akhirnya buka mulut. Meski setiap kata yang keluar dari mulutnya acak-acakan, "aku seperti dilanda depresi akut, Donghae dan dirimu Hyuk Jae." Yesung menutup mulutnya, mendelik, tetapi delikannya hilang sedetik aku menatap matanya.

"Tetapi sungguh Kyuhyun, aku bukan orang yang berada di balik kesengsaraanmu, aku adalah sahabat yang mencintaimu, aku ingin kau sukses dengan pekerjaanmu makanya—"

Kyuhyun memutar matanya jengah, "omong kosong, Hyuk Jae, semua yang keluar dari mulutmu itu adalah kotoran binatang, yang penuh dengan bau busuk dan kesetiakawanan itu mustahil adanya karena kau adalah teman yang suka sekali menikung!"

Aku menutup mataku, tangaku mengepal karena semua yang dikatakannya benar adanya, "tetapi Kyuhyun, hubungan kami tidak ada kaitannya sama sekali dengan kesengsaraan yang menimpalimu. Dan bila itu memang benar-benar terjadi, kau pantas mendapatkannya karena kau adalah karyawan yang bandel tetapi memiliki ketekunan yang tinggi dan Donghae tidak salah—"

Aku terjatuh menghantam tanah semenit Kyuhyun menjauh dari genggaman tangan Yesung dan bogemannya menyapu pipi kiriku yang kebas. Meski aku pantas mendapatkannya, aku merasa jengah. Ini adalah perasaan yang luar biasa kelabu, yang lebih sakit dari patah hati. Mendapati sepasang teman yang kucintai saling memusuhiku, tetapi kemarahan Kyuhyun dan Yesung malah menguatkan sayangku kepada Donghae. Anehnya, mereka bertambah besar setiap detik dan kobaran api yang berada di dalam mata Khuhyun sama sekali tidak menakutiku.

Aku memegangi pipiku yang bengkak, Yesung menarik Kyuhyun dari kegaduhan yang dibuatnya sebelum berseru, "kau sudah gila!"

"Dia pantas mendapatkannya!" balas Kyuhyun tak kalah sengit. Kyuhyun memukul sekali lagi, dan menendang perutku, wajahnya dihiasi kemilau bahagia. "Bilang pada si penghisap kejantanan itu kalau semua hal yang dilakukannya sudah kelewat batas!" Kyuhyun meludah di samping tubuhku.

Aku tersengal-sengal, dari kejauhan kutatapi Donghae yang histeris ingin membuka pintu, kuyakini adalah motif ingin membela dan melindungiku yang membuatku pusing tujuh kelililing. Dia sampai ingin menghancurkan pintu selangkah Kyuhyun mendekatiku kembali, "dan katakan kepadanya aku benci orang yang suka pamer maka dari itu promosi kerja ini pantas untukku dan terimakasih, bos!" Kyuhyun menendangku sekali lagi, tepat dibagian dadaku, tetapi tidak cukup keras buatku memuntahkan darah. "Dan apapun orientasi seksualmu, kau seharusnya sadar bila kami adalah teman sejati yang mendukungmu, jalan apapun yang kau pilih!"

Aku menatapinya seperti ingin menangis, tetapi aku tidak jadi melakukannya karena Kyuhyun sudah kabur duluan, malah dialah yang tampak menahan airmata yang menetes menuju dagunya. Yesung membantuku bangun dan mengacak rambutku, membiarkan Kyuhyun menenangkan dirinya, "kau adalah orang ketiga yang dapat membuatnya hilang kendali, selain Sungmin, dan aku tentunya."

Aku tergelak, ya ampun!

.

.

.

Aku menghadapi masalah yang lebih unik lagi—supervisor Kyuhyun—dalam wewenangnya yang kekal dan keinginan untuk balas dendam, menyuruhku buat mencetak ulang ratusan lembar laporan tahunan di sebuah mesin fotocopy yang rusak karena ditendangi seorang pegawai wanita yang mogok kerja sehabis gajihnya dipotong sebab dia ketahuan menerima suap dari karyawan yang menggunakan uang bersih perusahaan, dan maka dari itu dia kehilangan jabatan menengah yang sah lalu digantikan oleh seorang pria kelahiran Cina-Kanada yang pasif bahasa Korea bernama Henry, suka sekali jahil, nampaknya klop dengan Kyuhyun.

Aku menghela napas, aku sudah mengganti tinta, memformat ulang mesin scan, tetapi tidak ada dari sekian taktik curang itu yang berkerja, karena kesal kutendangi bagian kipas yang berada paling bawah, meski tidak membuatnya berhasil sama sekali. Aku menegang sebab nyerinya menyebar dengan dramatis. Tetapi toh, Kyuhyun tetap Kyuhyun yang dulu, meski dia orang yang jahil, dia sama sekali bukan orang yang suka berkomentar jahat akan hubungan orang lain, apalagi menebar isu-isu homophobia yang menyakiti hati, dan dia senang-senang saja terhadap hubunganku dengan Donghae, dia mendukung kami sepenuh hati, sebab Donghae menjajikannya posisi yang strategis, Kyuhyun akan memiliki jabatan manager marketing dua bulan sehabis masa kerjanya sebagai supervisor. Kyuhyun kegirangan tetapi sifat jahatnya kepadaku tidak mudah pupus.

Aku menggaruk bibirku yang gatal sebelum akhirnya bersin, debu mesin fotocopy menancap di antara lubang hidung yang menimbulkan reaksi alergi. Aku dibuat menukik karena besarnya dorongan geli sehingga sewaktu aku maju ke depan secara spontan, aku merasa sebongkah daging yang halus berada di antara bokongku yang strategis, dan ini adalah gaya bersin yang nakal, yang membuatku kegelian karena terdapat pula karyawan lain yang sama cabulnya denganku. Jadi aku segera berbalik, ingin menangkap basah tersangka pencabulan pria yang nyaris bertunangan dengan sesama pria juga, tetapi kemarahanku sirna sudah setelah senyum orang itu berkilau dengan sensasi mencubit dibokongku.

Katanya berbisik, "sayang, jangan suka menungging bila aku tidak sedang bersamamu, sebab kau seksi sekali."

"Donghae!"

.

.

.

Author note:

Selesai lebih ngaret dari ekspektasi, padahal awalnya mau di post pas ulangtahun Donghae. Ngaret tapi gak memuaskan, yasudahlah DX.