AAAAAAAAAAA
Hal paling sial yang ke sekian kalinya adalah saat aku terbangun dan mendapat sekumpulan pria pria luar biasa tampan di hadapanku yang tengah menatapku penuh tanya. Parahnya adalah tatapan mereka yang menelanjangiku.
Aku seperti sedang striptease jika saja tidak ingat bahwa aku mengenakan gaun pengantin.
Kekagetanku yang heboh dan sial membuatku terjengkak kebelakang hingga bunyi benda jatuh yang keras terdengar di penjuru ruangan.
BRUUAAGHH
Ouch! Ini lebih sakit dari yang kubayangkan!
Punggungku dengan sempurna menghantam karpet beludru yang lembut itu. Walaupun tidak keras sekali tapi rasanya sangat sakit saat terjengkak. Apalagi dihadapan lima pria pria hot cover majalah Vogue.
Oh tidak!! Bersiaplah menerima ceramahan Amy!!
Aku mengernyit merasakan sensasi berdenyut-denyut di punggungku. Ditambah dengan semburat kemerahan karena melakukan adegan luar biasa memalukan.
Aku mengaduh kecil tapi tidak ada seorangpun yang membantu gadis malang sepertiku. Oh Tuhan! Apakah ini jawaban atas doaku tentang limousin itu?!
Salah satu dari mereka berjongkok. Seorang pria lain dengan telinga yang lebar dan lancip. Cengiran nakal menghiasi wajahnya.
U-oh!
Ia menumpukan pandangannya padaku tanpa berniat mengulurkan tangan. Tatapannya jelas sekali terlihat nakal. Ku tundukkan kepalaku supaya menutup wajah memalukan ini. Surai rambutku berhasil melindungiku dari mata kelabu pria bertelinga lebar—khas kaum peri—yang berada dihadapanku.
Aku mendengar suara dehemannya. "So-sorry..." Aku mencicit kecil.
Semoga mereka tidak langsung mengusirku. Aku kan gadis terlantar. Kalau mereka mengusirku dimana lagi aku akan tinggal. Amy adalah teman paling tega yang menitipkanku di bandara untuk semalaman. Dan sekarang aku akan diusir oleh mereka. Tidak adakah yang lebih buruk daripada hidupku?!
Suara baritone dalam bahasa Korea membuatku mendongak. Pria peri—kujuluki begitu karena telinganya yang lebar dan lancip—itu sedang berbicara dengan belahan jiwa Amy Clearwater.
Yah, Amy sudah mendeklarasikan bahwa Tobias Kim adalah belahan jiwanya dengan dramatis dan penuh nyanyian saat itu. Sial nya aku langsung mengamini nya dan tidak peduli. Namun begitu melihat rupa aslinya aku menjadi sangat kecewa jika Amy akan mengataiku Pelakor.
Amy sangat benar tentang pria ini. Dia rupawan dalam fisik aslinya. Ahh~ seandainya aku bertemunya lebih dulu aku mungkin bisa menolak perjodohan itu. Yahh... Walaupun itu sangat mustahil melihat mereka idola masa kini semua remaja di seluruh dunia sedangkan aku upik abu yang tidak kunjung lulus kuliah, huft :(
Tobias membalas ucapan pria peri itu sambil melirikku dari sudut matanya.
Waw! Suaranya sangat seksi dan sedikit serak. Aku jadi lapar sekali saat mendengarnya. Tentu saja! Aku belum makan dari kemarin.
Tobias menoleh menatapku. Menumpukan tepat pandangannya padaku.
"What's your name, miss?" Tanyanya dengan bahasa yang kumengerti.
Sepertinya Tobias adalah orang yang mahir berbicara bahasa ibuku. Aku berharap tidak ada kesulitan komunikasi setelah ini.
"Daniella Fienberg, you can call me Danny and..." Aku menggantung jawabanku beberapa saat. Ia menunggu ku berbicara.
Ragu aku menggaruk tengkukku yang tiba-tiba terasa gatal lalu berbicara, "...and i'm servant for this house...?"
Tobias menatapku dengan dahi berkerut. Seorang pria lain yang berwajah seperti orang Thailand berbicara menimpali nya dengan bahasa Korea lalu mereka kembali berdebat.
Setelah beberapa saat aku hanya menatap mereka yang sedang berdebat dalam bahasa Koreanya. Ucapan mereka terpotong karena dering ponsel. Aku merasakan pahaku bergetar beberapa saat. Pasti ini ponselku.
Nama Amy terpampang di layarnya. Aku mendesah lega sebelum akhirnya mengangkat panggilannya dengan cepat. "Kemana saja kau brengsek?! Aku sudah menghubungi dari kemarin! Apa kau ingin membunuhku, hah?! Kau sengaja melakukan ini bukan?! Kau membuangku Amy?! Katakan yang sejujurnya, sialan!!"
Amy bahkan belum menyapaku saat aku sudah menyemburnya mati-matian. Ya aku butuh pelampiasan pada keadaanku. Akibatnya sekarang jadi semakin rumit. Ditambah pekerjaan pelayan dan penyembunyian identitas?! Kill me!
Di seberang sana Amy justru terkekeh walau aku tahu dia tidak benar-benar tega melakukannya. Bagaimanapun juga aku masih teman baik Miss Clearwater itu.
Kudenguskan hidungku kesal. Amy licik Clearwater awas kau!
Perlahan setelah kekehannya mereda, Amy mulai bersuara "Dimana kau saat ini, Danny? Kenapa kau tidak mengatakan posisimu. Aku sudah menyuruh paman dan bibiku untuk berkeliling mencarimu namun kau tak ditemukan? Aku sangat khawatir padamu. Apalagi kedua orang tuamu baru saja kesini bersama dengan taipan kaya itu.
Mereka mencarimu disini namun harus kecewa karena tidak menemukannya. Aku tidak yakin apakah mereka benar -benar menyewa jasa FBI untuk melacak keberadaanmu atau justru menggertakku supaya aku memberitahu keberadaanmu?"
Amy menjelaskan. Nadanya sarat akan kekhawatiran. Seperti itulah Amy clearwater. Walaupun kadang menyebalkan dengan tingkahnya namun Amy bisa menjelma menjadi begitu dewasa seperti saat ini dan membantuku terutama.
"Amy temanku... Apakah kau tahu aku saat ini di Korea bukan LA! Hal yang sangat tidak kuketahui adalah komunikasi dan kebutaan pada negara ini. Tapi kau sangat baik Amy..." Aku menggantung ucapanku laku melirik Tobias dan ke empat temannya yang sedang menatapku.
Kukecilkan suaraku, "Mengirimkan lima pangeran antah berantah yang terjebak di kastil megahku..." Setelah itu tawaku pecah.
Amy terdiam beberapa saat setelah akhirnya aku bisa mengendalikan diri aku melihat Tobias sudah berada dihadapanku. Dia memberi kode untuk meminta telfon ku. Aku menunjuk telfon ku sendiri dan dia hanya mengangguk.
Memang apa yang akan di bicarakan dengan Amy?
Namun bukannya melarang aku justru tergoda untuk menyerahkannya siapa tau kami bisa skinship.
Dasar kau otak mesum Danny, huahahah
Kuserahkan ponselku padanya dan dia mengambilnya dengan jarak sejauh mungkin. Lalu mulai berbalik meninggalkan ruangan.
Ke empat flowerboy yang sayangnya seksi tiada tara itu kini menatapku. Mereka semua tersenyum.
Kutatap pria peri bertelinga lebar itu, "What's ur name Mr. Fairy?"
"Eh?" Dia menunjuk dirinya kebingungan. Aku mengangguk. Pria peri itu langsung berdiri tegap dan tersenyum.
Waduh! Jika aku saat ini gadis penggemar halyu wave mungkin aku sudah pingsan pasal nya senyum si pria peri manisnya pol-pol an.
Lah kok kaki ku berasa jadi agar-agar?
"Je ileum-eun Nam Jongdaeibnida. Daniel nam ttoneun Jongdaeblago buleul su issseubnida. Mannaseo bangabseubnida" (Namaku Nam Jongdae. Kau bisa memanggilku Daniel Nam atau Jongdae. Senang bertemu denganmu)
Apa artinya? Seseorang?! Bisa tolong terjemahkan bahasanya?!
Aku menyeringai bukan karena aku mengerti. Tapi tidak sama sekali. Tapi sepertinya aku mendengar nama Daniel? Atau apakah telingaku bermasalah?
"Daniel?"
Pria peri itu mengangguk laku bertepuk tangan disusul dengan teman temannya yang lain. Aku tersenyum lebar lalu membungkuk bungkuk.
Ya satu hal yang kuketahui dari korea adalah mereka suka membungkuk. Ha-ha...
Oh tunggu aku sepertinya tau part dimana aku akan berkata,
"Gomawo, gomawo eonni!!" (Terimakasih, terimakasih kakak perempuan)
Tiba-tiba mereka terdiam. Aku mendadak kaku. Tunggu apa aku?—
Ya kalian bisa menebaknya.
AHAAHAH AHAAHAHA AHAHHAAH
Bagus sekarang aku harus menahan wajahku yang sudah memerah darah karena ditertawakan oleh para pangeram keren. Sialan!
Apa salahku, wahai dewa Zeus~
"jeongmal? geunyeoneun hangugmal-eul moleunda." (Sungguh? Dia tidak bisa berbahasa Korea?)
Pria berwajah Thailand berbicara dengan temannya dan kemudian mereka sibuk berdiskusi hal absurd yang tidak kuketahui hingga akhirnya Tobias Kim kembali. Wajahnya tampak muram.
"Aku tidak tahu Miss apa yang kau inginkan dengan melarikan diri! Tapi aku berharap kau bisa benar-benar menjaga rahasia kami. XBC, penggemar dan dunia bukanlah hal mudah untuk ditaklukkan" Tobias berbicara sembari mengembalikan ponselku.
Daniel menoleh menatapku penasaran, "Kenapa kau melarikan diri Miss Daniella—ya?" Tanya nya dengan bahasa inggris yang lancar.
Oh sial! Jangan bilang Daniel bisa berbicara bahasa ku! Tapi kenapa dia berbicara bahasa Korea tadiiii?! Dasar siluman peri yang sialnya imut!
Aku mendengus kesal sembari mengantongi ponselku, "Bukan urusanmu!" Sarkas ku.
Pria bermata sipit dengan tindik ditelinganya menimpali, "Tentu itu urusan kami Miss Daniella—ya. Kau bekerja pada kami sekarang"
Oh great! Aku lupa itu
Dengan sangat terpaksa aku berbicara yang sebenarnya walau rasanya tidak rela, "Aku dijodohkan oleh pria tua. Aku tidak mau dan pergi"
Pria sipit bertindik tadi berseru pada Tobias, "Oh... Kau pasti sangat cocok dengan Soojinie, ya kan, hyung?"
Tobias mendengus kasar. Daniel menepuk pundak Pria sipit bertindik, "Zion—ah dia tidak terlihat berkelas sekalipun. Mana mungkin Soojin—ah suka padanya"
"Hey!" Aku memprotes mereka menyeringai. Enak saja mereka membicarakan ku. Dasar bocah bocah cantik yang tampan!
Pria sipit bertindik mengulurkan tangannya untuk berkenalan, "Zion, Danny—ah. Senang bertemu denganmu"
Kubalas uluran tangannya, pria Thailand lalu tersenyum padaku dan bergiliran berkenalan "Lee Boongsoon, Miss Daniella—ya. Tapi panggilnya saja L itu memudahkanmu"
Tidak salah pria Thailand yang paling mengena. Baik hati dan ramah
Lalu pria terakhir yang memiliki mata sedikit lebih lebar dan berwajah campuran. Entahlah seperti ras ku mungkin, "Saewoo, Danny—ah. Jangan lupa namaku ya..." Setelah mengatakannya dengan nada lucu ia lalu menjulurkan lidahnya dan membuat matanya menjadi lebih sipit.
Heh~apa yang dilakukannya?
Seolah menjawab pertanyaanku Daniel berkata, "Dia membuat aegyo sudah lupakan saja Danny—ah. Semua member tidak waras. Kau bisa bertanya padaku sesukamu"
Aku mengangguk.
"Cukup!" Bentakan Tobias membuat kami semua menoleh, "Silahkan pulang Miss. Kami butuh istirahat dan kau terlihat berantakan!"
"Ta-tapi... Aku tidak punya tempat tinggal bolehkah aku disini saja?"
"Apa?!" Mata Saewoo membulat, ia memekik sedangkan Zion tampak menyeringai lebar,
"Ide bagus Jung Soo Hyung..."
Daniel menimpali, "Yeah kurasa bisa juga. Kau bisa mulai membereskan tempat mengerikan ini..."
"Err...kasihan sekali kau miss, lebih baik memang kau disini. Kami akan bicara pada sunbae Nim segera" L menimpali sambil menggosok tengkuk nya pelan.
Tobias memutar bola matanya jengah. "Silahkan, kamarmu diatas pojok kiri sendiri..."
Sepertinya ia sudah tahu hal ini dari Amy. Tapi aku penasaran apakah Amy tahu siapa sebenarnya yang dia ajak bicara tadi? Amy pasti akan langsung menjerit jika ia tahu. Nampaknya Tobias tidak memberitahunya.
"Baiklah, kami harus pergi dulu. Cepat bersihkan rumah ini!" Tobias berujar acuh lalu mulai melangkah pergi meninggalkan kami.
Yang lainnya berjalan menyusul keluar, "Tunggu, eonni!" (Kakak perempuan)
Bukannya malah membalas ucapanku pria itu justru menggeram dan langsung melenggang pergi. Sedangkan mereka yang lain membuat ekspresi yang aneh. Apa salahku?
L menghela nafas, "Danny—ah seharusnya kau memanggil Jung Soo itu oppa bukan eonni"
Aku manggut-manggut mengiyakan. Apa sajalah terserah yang penting aku lapar sekali saat ini.
"L, aku lapar. Aku belum makan sedari kemarin. Bisakah kalian membelikanku makanan?" Kukeluarkan jurus andalanku, puppy face, terbaik yang kupunya.
Sambil kusatukan kedua tanganku.
Daniel terkekeh, Zion langsung heboh "Owhhh... Lucunya runaway bride"
"Baik miss, kami akan belikan"
L mengangguk mengiyakan.
Aku bersorak gembira. "Yeay!!"
"Tenang saja, Danny—ah Semangat bersih-bersih nya ya runaway bride!" Saewoo mengacungkan dua jempolnya padaku.
Setelah itu mereka lalu beranjak pergi menyusul Tobias si jutek pemarah.
Aku bersorak gembira. Yuhu! Mulai sekarang hidupku dikelilingi laki-laki perkasa berwajah imut ahahahah
Bahagianyaa
