oO-TamaSa-Oo

Disclaimer: Around Us Ent., and more. But story and plot are mine.

Rated: T

Genre: Romantic

Pairing: JunSeob, DongSeob, and others.

Warning: AU, YAOI, Boyslove, OOC, typo. Don't like don't read!

oO-TamaSa-Oo

Junhyung mematut dirinya sekali lagi di cermin. Ia memperbaiki posisi rambutnya agar tidak berantakan. Setelah yakin dengan penampilannya, Junhyung tersenyum. Ini adalah hari kedua pertama libur musim dingin. Kemarin ia sudah mengatur janji dengan Yoseob. Mereka berdua akan pergi ke taman kota karena biasanya di hari libur seperti ini di sana akan sangat ramai.

Junhyung merogoh saku celananya, memastikan dompet dan handphone sudah ia bawa. Ia menengok jam dinding, masih setengah jam dari waktu janjian, tapi mungkin tidak ada salahnya ia berangkat sekarang. Junhyung mengambil jaket tebalnya yang tergeletak di kasur. Sekali lagi mematut dirinya di cermin, dan tersenyum lebar. Sempurna. Dengan mantap ia keluar dari kamar dan berpamitan sebentar pada eommanya. Eomma hanya tersenyum saat Junhyung berkata ingin pergi bersama Yoseob, sudah hafal dengan kebiasaan Junhyung dan sahabatnya.

"Hati-hati. Jika cuaca sudah terlalu dingin, segeralah pulang. Jangan sampai kalian berdua sakit sebelum Natal tiba," pesan Eomma sebelum Junhyung membuka pintu depan. Junhyung mengangguk patuh sebagai jawabannya.

Tepat ketika Junhyung membuka pintu, angin berhembus. Spontan Junhyung memakai jaketnya. Dingin sekali, padahal salju belum turun. Apakah tidak masalah kalau ia dan Yoseob tetap pergi ke taman? Ah, lebih baik ia segera menjemput Yoseob. Biar nanti Yoseob yang memutuskan mereka jadi pergi atau tidak.

Junhyung berjalan kaki sedikit cepat. Tujuannya adalah rumah Yoseob yang jaraknya tidak begitu jauh. Ya, Yoseob dan Junhyung bertetangga, rumah mereka berada pada kompleks yang sama. Hal itu pula yang membuat persahabatan mereka selalu erat. Kurang dari sepuluh menit, akhirnya Junhyung sampai di rumah Yoseob. Ia memencet bel, menunggu beberapa detik hingga pintu dibukakan oleh eomma Yoseob.

"Junhyung-ah... Masuklah...," Yang ahjumma membuka pintu lebih lebar. Junhyung membungkuk memberi salam, baru masuk ke dalam.

"Kalian akan pergi ke mana Junhyung-ah?" tanya Yang ahjumma sembari berjalan menuju bagian dalam rumah. Di belakangnya, Junhyung berjalan mengikuti.

"Ke taman, hanya berjalan-jalan, ahjumma. Mungkin kami akan segera pulang, apalagi kalau cuacanya tidak membaik."

"Bukannya ramalan cuaca hari ini bagus?"

"Memang..."

"Kalian hanya akan ke taman?"

"Ne, ahjumma."

"Ada kafe di dekat taman yang baru buka, kalian tidak ingin ke sana?" mereka berdua berhenti ketika sudah sampai di meja makan. Yang ahjumma mempersilahkan Junhyung duduk di kursi, sementara ia berniat membuatkan minuman hangat untuk sahabat anaknya itu.

"Kafe baru?"

"Ne. Berjarak kurang lebih 150 meter barat taman. Para tetangga banyak yang membicarakannya, tempatnya cukup nyaman, mungkin kalian akan menyukainya."

"Arraseo, nanti kami akan mampir ke sana...," Junhyung tersenyum. Setidaknya ia punya satu alasan lagi untuk berduaan lebih lama dengan Yoseob.

"Ini, Junhyung-ah," Yang ahjumma meletakkan cangkir teh di hadapan Junhyung yang dibalas gumaman terimakasih, "akan kupanggilkan Yoseob dulu. Tunggu sebentar ya." Junhyung hanya mengangguk, memperhatikan eomma Yoseob yang berjalan menuju ke lantai dua. Ia memperhatikan cangkir teh di hadapannya. Uap masih mengepul di atasnya. Junhyung mengulurkan kedua tangannya, mengangkat cangkir tehnya untuk menyalurkan rasa hangat teh ke tubuhnya. Ia meminum tehnya pelan-pelan. Lemon tea. Eomma Yoseob benar-benar mengerti dengan selera Junhyung.

Junhyung meletakkan kembali cangkirnya ke meja ketika sayup-sayup mendengar suara Yoseob dan eommanya bercakap-cakap. Ia menoleh ke arah tangga, menunggu. Ia penasaran bagaimana penampilan Yoseob kali ini. Dan detik berikutnya ia dibuat melongo karena apa yang dilihatnya benar-benar di luar ekspektasinya. Ia tadinya berpikir pria manis itu akan memakai sweeter dan syal seperti biasa, mengingat jalan-jalan dengan Junhyung pasti bukanlah momen spesial. Mereka terlalu sering hangout berdua. Tapi nyatanya apa yang ia lihat saat ini... astaga, Junhung seperti kehabisan nafas.

Pujaan hatinya itu memakai kaos putih dengan jaket tebal hitam berkerah bulu, terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Ia memakai celana jeans yang pas dengan ukuran kakinya, memperlihatkan kakinya yang jenjang. Ia memakai sepatu converse kesayangannya, warna hitam putih. Sepatu yang sama persis dengan yang dipakai Junhyung saat ini. Junhyung sedikit merona ketika menyadari sepatu yang mereka pakai sama, apakah mereka terlihat seperti couple? Tapi sungguh, saat ini Yoseob terlihat sangat... menggemaskan.

"Mian sudah membuatmu menunggu," sapa Yoseob begitu ia sampai di meja makan. Ia berdiri di samping Junhyung, sedikit bingung karena pandangan Junhyung terlihat kosong. Ia melambaikan telapak tangannya di depan wajah Junhyung.

"Ya! Junhyung-ah!"

"Mwo?" Junhyung tersentak. Ia berkedip bingung, sadar telah melewatkan perkataan Yoseob.

"Kau tidak membawa earmuff?" tanya Yoseob. Junhyung menggeleng.

"Tapi di luar dingin. Bagaimana kalau kau pakai punyaku?" Yoseob mengulurkan earmuffnya pada Junhyung. Junhyung memperhatikan earmuff Yoseob dengan masam. Earmuff dengan bulu tebal begitu akan membuat geli telinganya. Lagipula wajah joker miliknya mana cocok dengan benda imut seperti itu? Aksesoris itu akan jauh lebih cocok jika dipakai Yoseob.

"Kau saja yang pakai."

"Kau yakin? Lalu kau pakai apa?" tanya Yoseob. Junhyung tersenyum, kepalanya menggeleng pelan.

"Bagaimana kalau topi rajut? Kau mau kupinjami topi rajutku?" tanya pemuda manis itu lagi. Junhyung terlihat berpikir sebentar.

"Apa motifnya?"

"Maksudmu?"

"Kalau motifnya teddy bear, aku tidak mau."

"Ya!" Yoseob memukul pucuk kepala Junhyung pelan, "kau pikir aku bocah? Aku mana punya topi rajut gambar teddy bear?" Sebenarnya Junhyung sudah tahu kalau Yoseob memang tidak punya topi rajut bergambar. Ia memang hanya berniat menggoda sahabatnya.

"Kuambilkan dulu, ne," Yoseob hendak beranjak dari tempatnya tapi ditahan oleh eommanya.

"Sudah Eomma ambilkan," Yang ahjumma mengulurkan sebuah topi rajut berwarna hitam dengan garis kuning, yang jika dilihat dengan baik akan sangat cocok dengan jaket tebal milik Junhyung yang berwarna serupa, "ini Junhyung-ah. Pakailah!"

"Kamsahamnida, ahjumma," gumam Junhyung. Ia segera memakai topi itu, membuat helaian rambutnya tak lagi terlihat.

"Ya sudah, kalau begitu ayo berangkat," ajak Yoseob. Junhyung mengangguk. Ia meraih cangkirnya, menghabiskan tehnya, kemudian bangkit berdiri. Yang ahjumma menggeleng, melarang Junhyung yang hendak menaruh cangkirnya di wastafel.

"Kami pergi dulu, Eomma," pamit Yoseob. Yang ahjumma mengangguk. Ketika putranya dan Junhyung berjalan menuju pintu depan, wanita paruh baya itu turut mengantar.

"Hati-hati di jalan, ne. Jika cuaca sudah terlalu dingin, cepat pulang!" Yang ahjumma memperingatkan. Junhyung mengernyit, sempat dejavu. Ia merasa familiar dengan perkataan Yang ahjumma tapi lupa mendengarnya dari ma- oh! Eomma!

"Arraseo...," jawab Yoseob. Ia mencium kedua pipi eommanya sebelum membuka pintu. Melihatnya membuat pipi Junhyung memanas, merasa apa yang baru saja dilakukan Yoseob sangat manis. Ia memang sudah sering melihatnya, tapi tetap saja ia tak terbiasa. Yang selalu ada di otaknya adalah bayangan Yoseob yang akan mencium kedua pipi Junhyung.

"Kajja!" Yoseob menarik lengan Junhyung, membuyarka lamunan indah Junhyung. Junhyung membungkukkan tubuhnya, memberi salam pada Yang ahjumma sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan rumah Yoseob.

Mereka berdua berjalan santai menyusuri jalan. Yoseob sudah memakai earmuffnya, membuatnya makin terlihat menggemaskan. Sesekali tangannya menggandeng lengan Junhyung, tanpa sadar telah membuat jantung Junhyung berdebar. Kadang Junhyung merasa sebal dengan dirinya sendiri. Dulu sebelum ia menyadari perasaannya pada Yoseob, ia tak pernah merasa canggung jika bersentuhan dengan pemuda manis itu. Kenapa sekarang tubuhnya selalu memberikan reaksi yang kontras dibanding sebelumnya. Jika terus begini, ia jadi khawatir Yoseob akan segera menyadari perasaannya.

Sepanjang perjalanan Yoseob terus berceloteh. Mengenai appanya yang akan terus masuk kerja hingga dua hari sebelum Natal, mengenai anjing kesayangannya, mengenai teman sekelas yang berencana membuat pesta Natal sendiri, dan mengenai...-Junhyung benci mengatakan ini- Dongwoon, hoobae mereka. Junhyung tahu, Yoseob adalah tipe pemuda yang ramah terhadap siapapun, jadi sudah pasti ia disukai banyak orang, termasuk di sekolah. Bahkan meskipun itu Yong Guk dan teman-temannya, geng bully di sekolah, akan langsung tersenyum ramah jika bertemu Yoseob. Dia itu... charming dengan gayanya sendiri.

Sebanyak apapun teman Yoseob di luar sana, Junhyung tahu hanyalah ia pelabuhan akhir Yoseob. Si manis itu memang selalu jadi tempat curhat untuk teman-temannya, tapi hanya Junhyung, satu-satunya yang menjadi tempat keluh kesah Yoseob. Hanya pada Junhyung, Yoseob benar-benar jadi dirinya sendiri. Bukan berarti jika dengan orang lain Yoseob akan menjadi munafik, tapi terkadang kita tidak bisa mengungkapkan perasaan kita untuk menghargai perasaan orang lain kan? Itulah sebabnya, Yoseob selalu menjadikan Junhyung sebagai prioritas jika dibandingkan temannya yang lain. Sesibuk apapun Yoseob, ia akan selalu meluangkan waktu untuk Junhyung.

Soal Dongwoon, jika dilihat, Yoseob berusaha memperlakukan Dongwoon sama seperti lainnya. Masalahnya, entah ini hanya perasaan Junhyung saja atau apa, Dongwoon sepertinya tertarik pada Yoseob, itu jika dilihat berdasarkan cerita Yoseob. Cara Dongwoon menyenangkan hati Yoseob sedikit berlebihan, sampai-sampai Yoseob kerap tidak enak hati karena merasa tidak mampu membalas kebaikannya. Junhyung yakin, Dongwoon punya maksud tertentu saat memberi hadiah pada Yoseob. Mana mungkin dia melakukan itu tanpa pamrih? Lalu Yoseob... sepertinya Yoseob terlalu polos untuk menyadari itu. Sepertinya sih...

Ketika mereka sampai di taman kota, ternyata suasana di sana cukup rama. Ternyata masih banyak orang yang ingin menghabiskan liburan di luar rumah, meskipun cuacanya cukup dingin. Yoseob menarik tangan Junhyung agar berjalan lebih cepat menuju ke tengah taman. Ada beberapa anak kecil yang berlarian mendahului mereka berdua, membuat Yoseob makin gemas dengan cara berjalan Junhyung.

"Ya! Kau ini... lambat sekali!" Yoseob menyentak tangan Junhyung dengan gemas.

"Memangnya kau ini mengejar apa?" balas Junhyung heran. Yoseob mengerjap bingung.

"Tidak tahu. Aku hanya penasaran kenapa orang-orang menuju ke sana!" Yoseob mengarahkan telunjuknya ke bagian tengah taman. Ada banyak orang berkerumun, entah apa yang membuat mereka melakukan itu.

"Lalu kenapa buru-buru? Itu tidak akan pergi kemana-mana...," Yoseob memutar matanya, sudah menduga respon Junhyung akan sesantai itu. Ia memutuskan untuk berjalan lebih dahulu, meninggalkan Junhyung di belakangnya. Junhyung sedikit tertarik sebenarnya, apalagi setelah melihat wajah antusias Yoseob.

Junhyung tidak begitu terkejut begitu melihat apa yang telah menarik perhatian banyak orang. Di tengah kerumunan ada beberapa pemuda yang membawa beberapa alat musik, sepertinya mereka akan menampilkam live music. Penampilan fisik mereka di atas rata-rata, mirip anak boyband yang sering muncul di TV. Junhyung melirik Yoseob yang kini di sandingnya. Perasaan Junhyung saja, atau memang Yoseob yang memang kelewat antusias? Well, belakangan ini pertunjukkan musik akustik di tempat terbuka seperti ini memang mulai jarang. Tapi Yoseob tak perlu menunjukkan ekspresi excitednya sampai seperti itu kan? Itu justru membuat orang-orang di sekitar mereka menatap Yoseob dengan tertarik. Lihat itu pipinya yang merona... mata bulatnya yang seolah bersinar... bibirnya yang merah dan basah... Oh! Astaga! Lagi-lagi Junhyung memelototi pemuda manis itu.

Setelah menunggu beberapa menit, para musisi -oh Junhyung tidak percaya telah menyebut mereka dengan kata ini- itu mulai berdiri pada posisi mereka masing-masing. Dua pemuda membawa gitar akustik, satu pemuda duduk di atas cajon box seorang lagi membawa tamborin. Di depan keempatnya sudah ada stand mic. Gitar mulai dipetik bersamaan, membuka penampilan mereka, kemudian disusul si pembawa tamborin mulai bernyanyi. Ah, Junhyung tahu lagu ini! Sangat tahu!

Love Light. CNBLUE.

Ini adalah lagu yang paling berkesan untuk Junhyung, karena lagu inilah yang membuat Junhyung menyadari perasaan cintanya pada malaikat cantik di sebelahnya ini. Klasik bukan? Ia tidak begitu suka lagu romantis sebenarnya. Tapi saat ia sedang melihat-lihat video di situs, ada sebuah akun yang memposting video dengan lagu ini sebagai musik latar. Dan saat itulah, ia langsung menyukai lagu itu, memutarnya berungkali seolah tak akan pernah bosan. Lalu apa hubungannya lagu dengan perasaan cinta?

Saat pertama kali mendengar lagu itu, Junhyung menyukai nada dan ritmenya.

Kali kedua ia mendengarkan, ia mencoba memperhatikan liriknya. Manis. Ini tentang perasaan jatuh cinta.

Kali ketiga, ia mencoba meresapi liriknya. Ia memejamkan matanya, membayangkan ia sedang menyanyikan lagu itu di hadapan seseorang yang membuat nya jatuh cinta. Dan kau tahu, bayangan siapa yang pertama kali muncul? Benar, bayangan Yoseob! Junhyung sampai mencobanya berkali-kali, kali ini berusaha membayangkan gadis-gadis yang dikenalnya -bukan Hara, saat itu ia bahkan belum kenal Hara-, dan tetap saja yang terlintas adalah wajah Yoseob yang tersenyum manis padanya.

"Hoo... kau langsung tersenyum bahagia begitu lagu kesukaanmu dinyanyikan oleh mereka ya?" Yoseob menepuk pundaknya, mengembalikan fokus Junhyung. Junhyung mengerjap, menoleh pada Yoseob.

"Mwo?"

"Kupikir kau tidak tertarik dengan mereka...," gerutu Yoseob.

"Oh, akan jadi beda kalau ada lagu ini..." apalagi dengan tambahan melihatmu di sampingku, tambah Junhyung dalam hati.

"Aku jadi ingin ikut bernyanyi bersama mereka," gumam Yoseob. Pandangannya kembali tertuju pada grup musik di depan. Junhyung meliriknya. Yoseob sangat senang bernyanyi, semua orang yang mengenalnya pasti tahu itu. Dia memiliki suara yang indah, membuat siapapun seolah akan terhanyut saat mendengar ia bersenandung.

"Ikutlah bergabung dengan mereka nanti..." saran Junhyung.

"Kau gila? Aku mana berani?!"

"Kenapa harus malu? Suaramu bagus."

"Terimakasih. Aku tahu kau hanya bermaksud menghiburku!" rutuk Yoseob. Junhyung menyeringai, padahal ia sudah jujur.

"Ngomong-ngomong sepertinya sudah lama kita tidak pergi ke tempat karaoke. Bagaimana kalau besok kita pergi?" ajak Yoseob tiba-tiba memberi ide. Junhyung mengernyit.

"Mwo?"

"Oh, mian! Apakah kau sudah ada janji dengan Hara?' tanya Yoseob lagi. Junhyung terdiam. Sampai saat ini Yoseob belum tahu kalau hubungannya dengan gadis cantik itu sudah berakhir. Junhyung belum ingin memberitahunya. Dan terimakasih untuk Hara, karena gadis itu tidak pernah mengumbar clue apapun di akun sosial medianya kalau sekarang ini dia telah single. Junhyung tahu, gadis itu bukan tipe orang narsis, walaupun faktanya ia cukup populer di sekolah. Ia jarang membuat postingan di sosial media.

"Ya! Junhyung-ah!"

"Eh?"

"Kau ini ada apa sih? Kenapa kau sering melamun akhir-akhir ini?"

"Aku tidak-"

"Kau ada masalah dengan Hara?" tanya Yoseob. Ia terdengar khawatir.

"Tidak ada!" jawab Junhyung buru-buru, "hubungan kami berdua baik-baik saja!"

"Jinjja?"

"Ne!" Junhyung sedikit gugup ketika menyadari wajah tidak puas Yoseob. Tapi sungguh, ia masih belum ingin menceritakan semuanya pada Yoseob. Tidak di saat ini, tidak di mana akan ada banyak momen indah berdua indah dengannya. Ia tidak ingin kencan -oke, hanya Junhyung yang menyebut ini kencan- mereka jadi sesi curhat.

Mereka berdua kembali melihat pertunjukan musik di depan mereka, tanpa berbincang lagi. Yang dilihat Junhyung sih, Yoseob kembali menikmati itu. Sedangkan Junhyung, pikirannya melayang kemana-mana. Ck!

-oO-Tamasa-Oo-

Pertunjukan musik masih belum selesai, tapi Junhyung dan Yoseob sudah tidak bisa menahan lagi dinginnya angin yang berhembus. Mereka berdua memutuskan untuk pergi dari sana, menuju ke kafe baru seperti yang disarankan oleh eomma Yoseob. Mungkin mereka bisa mendapatkan secangkir caramel macchiatto di sana, dengan ditemani sepotong chocolate cake.

Sambil berjalan, Junhyung menggosok-gosokkan telapak tangannya, kemudian segera menempelkan telapak tangan ke kedua pipinya. Hangat. Yoseob memperhatikan sahabatnya dengan penasaran, kemudian mencoba menirukannya.

"Hangat!" seru Yoseob. Junhyung mengangguk. Mereka melakukannya berkali-kali, diiringi tawa kecil.

Junhyung menggosokkan kedua telapak tangannya lagi, kali ini sedikit lebih lama, dan ketika Junhyung hendak menempelkannya ke pipi, Yoseob justru meraih tangannya terlebih dahulu, kemudian menempelkannya di pipi Yoseob. Junhyung tentu saja terkejut, ia menghentikan langkahnya, memperhatikan Yoseob dengan wajah melongo.

"Tanganmu jauh lebih hangat," gumam Yoseob, senyum mengembang di wajahnya, tak menyadari perubahan ekspresi Junhyung. Di hadapannya, Junhyung berusaha menahan gemetar tangannya. Ia tak ingin Yoseob sadar kalau ia sedang gugup sekarang. Oh, bagaimana dengan wajahnya? Apakah memerah? Tapi... pipi Yoseob... lembut sekali... dan dingin. Eh?

"Kau kedinginan?" tanya Junhyung khawatir. Yoseob menggeleng pelan. Junhyung menarik tangannya, menggosok telapak tangannya, dan kembali menempelkannya di pipi Yoseob.

"Aniya Junhyung-ah... gwenchana...," Yoseob menepuk pelan telapak tangan Junhyung.

"Ah, kau mau juga?" tanya Yoseob tiba-tiba. Ia menggosok telapak tangannya, kemudian ikut-ikutan menempelkannya di pipi Junhyung. Tanpa sadar Junhyung menahan nafasnya. Jantungnya berdebar cepat, secepat rona merah yang muncul di wajahnya. Yoseob tertawa kecil melihat reaksi Junhyung, sudah terbiasa dengan sifat pemalu sahabatnya.

"Wajahmu jauh lebih hangat daripada aku," komentar Yoseob, berusaha menahan tawa geli di bibirnya. Junhyung masih menatapnya dalam diam, memperhatikan dengan detail wajah malaikat cantiknya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Kalau ini bukan di pinggir jalan, mungkin Junhyung sudah mengecup bibir merahnya yang terbuka itu. Oh tunggu, meski di tempat tertutup sekalipun, mana berani Junhyung melakukan itu? Junhyung tersenyum miris, mengolok dirinya sendiri.

"Yoseob-hyung!"

Junhyung tahu benar suara siapa yang baru saja memanggil Yoseobnya itu. Sangat mengenalnya. Dan begitu Junhyung menoleh ke belakang Yoseob, ia tahu... kencan awal liburan musim dingin ini tidak akan berjalan seindah yang ia bayangkan. Tentu saja, karena yang memanggil Yoseob barusan adalah...

Si pengacau...

Son Dongwoon...

To be continued...

-oO-Tamasa-Oo-

Agak panjangan dikit ya part ini. Waktu nulis ini mood saya lancar jaya. Tapi berhubung sibuk di kerjaan tetep aja selesainya lama. Hhaa...

Shoutout untuk stroberilongcake terimakasih untuk review penyemangatnya.

Yang udah fav dan follow cerita ini, terimakasih juga.

Makasih juga untuk reader yang udah mampir baca. Setidaknya saya tau shipper JunSeob nggak cuman saya aja.

Nah, mind to review again?

Ciao!