FF BAP/YAOI/BANGHIM & All Couple/ONE SHOT/Part 2
Title: One Shot
Author: Bang Young Ran
Rating: T (diubah dulu, ne~)
Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Crime(?)/AU
Length: Chaptered
Main Cast:
Kim Him Chan *(^3)(0.0)*
Bang Yong Guk~~
Support Cast:
DaeLo (Jung Dae Hyun & Choi Zelo/Jun Hong)
JongJae (Moon Jong Up & Yoo Young Jae)
Disclaimer: BAP is TSEntertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*
Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!
Summary: Kim Him Chan adalah seorang polisi yang ditugaskan untuk menyamar, menjadi salah satu anggota geng yang disebut The Mato's. Dalam penyamarannya, Him Chan berperan sebagai kekasih Bang Yong Guk, si pemimpin geng The Mato's. Lalu, akankah Him Chan berhasil menjebak The Mato's? Atau dia harus terjebak, terperosok begitu dalam atas kasih sayang dari seorang Bang Yong Guk?!
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?
.
.
~~( ^3)(.o )~~
.
.
TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT
HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^
.
.
.
One Shot
Part 2
Apakah kau tahu akan hatiku yang menginginkanmu?
Aku merasa bodoh...
Berusaha untuk tidak peduli,
Namun aku peduli...
Berusaha untuk tidak melihat,
Namun aku melihat...
Kau bagaikan matahari,
Tanpamu, aku mati...
Tanpamu, hidup ini hampa...
Jadi, dengarkanlah, Sayang...
Berilah aku satu kesempatan.
Karena kuyakin,
Kita, kau dan aku, akan mencapai kebahagiaan itu...
Aku, akan membuatmu bahagia...
"Kupikir kau akan melarikan diri."
Bang Yong Guk mendelik. Ia menatap lelaki tua berbadan subur di hadapannya dengan pandangan meremehkan. Huh! Melarikan diri!? Itu bukanlah Bang Yong Guk.
"Hei, Pak Tua. Untuk apa aku melarikan diri dari makhluk hampir bau tanah sepertimu?!"
Lelaki tua itu menatap sinis Yong Guk yang dengan kurang ajarnya memanggilnya dengan sebutan hampir-bau-tanah. Namun sesaat kemudian lelaki tua tersebut tertawa keras. Dari wajahnya terpancar sebuah kepuasan. "BUAHAHAHA, Bang Yong Guk, kau memang bajingan. Tapi kuakui, aku kagum dengan sikapmu."
Yong Guk menyeringai, "terima kasih atas pujianmu, Pak Tua."
Lelaki tua itu tertawa keras sekali lagi. Ia menikmati sikap kurang ajar yang seringkali Yong Guk tunjukkan padanya. Bajingan yang begitu membuatnya kagum akan semua hasil kerjanya. Tepat, akurat, dan selalu memuaskan.
"Bagaimana? Kau sudah siap menerima tugas dariku?"
"Beritahukan saja, Pak Tua. Apa umur selalu membuatmu lupa hingga terus-terusan menanyakan hal yang sama?"
"HAHAHAHA, oke, oke. Aku tidak akan bertele-tele lagi." Lelaki tua itu mengangkat tangannya ke atas dan bertepuk. Sesaat kemudian, sesosok pria bertubuh kekar menghampiri Yong Guk dengan selembar kertas di tangannya. "Dia adalah targetmu. Tidak terlalu sulit, kau hanya butuh sedikit berhati-hati. Dia memiliki banyak anjing penjaga di istananya."
Sebelah alis Yong Guk terangkat. Ia tahu betul 'anjing' penjaga yang dimaksud si lelaki tua bukanlah anjing dalam konotasi yang sebenarnya. "Kenapa pejabat sepertinya butuh banyak anjing penjaga?" tanya Yong Guk heran sembari memperhatikan kertas pada tangannya. Pada kertas itu terdapat sebuah foto lelaki paruh baya, lengkap dengan segelintir biodata dan keterangan kecil lainnya.
Si lelaki tua menyeringai. Tampaknya ia telah menunggu-nunggu pertanyaan Yong Guk yang satu ini. "Kau tahu kenapa seseorang butuh banyak anjing penjaga di sekitarnya?" Lelaki tua itu balik bertanya. Bukan benar-benar bertanya karena sedetik kemudian ia menjawabnya sendiri. "Karena dia takut mati, Yong Guk-ah. Seseorang akan berubah menjadi pengecut bila sudah dihadapkan pada kematian."
Yong Guk menyilangkan kaki, sebuah seringai menyeramkan terlukis jelas di wajah tampannya. "Kalau begitu, kurasa sekarang dia hanya bisa berdoa. Karena sebentar lagi, malaikat kematian akan mendatanginya. Tidak ada manusia yang bisa lolos dari cengkraman malaikat kematian."
~~~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~~~
"Him Chan Hyung, kenapa?" Zelo bertanya suatu kali saat mereka tengah duduk santai di sofa ruang televisi.
"Ne?" sahut Him Chan linglung. Ia kaget karena tiba-tiba saja si maknae pemalu ini berbicara dengannya.
Zelo menghela nafas panjang. Ia sudah menduga kalau Him Chan sedari tadi tengah melamun. "Aku bertanya, Him Chan Hyung kenapa? Kuperhatikan sekembalinya kita dari berlayar dua hari lalu, sikap hyung jadi aneh. Hyung jadi pendiam, tidak ceria seperti biasanya."
Sial. Him Chan tampaknya telah lengah terhadap maknae yang satu ini. Di luar dugaan, Zelo ternyata orangnya sangat peka. Seorang pengamat. Him Chan harus lebih berhati-hati tampaknya.
"Ah? Benarkah?! Nan gwenchana, Zelo-ah~ Hyung hanya... sedikit tidak enak badan setelah berpanas-panasan kemarin."
"Benarkah, Hyung?! Hyung mau kubelikan obat? Ah, atau kita ke rumah sakit saja!?" tawar Zelo yang langsung mendapat penolakan dari Him Chan.
"Tidak usah, Zelo. Hyung hanya butuh istirahat saja."
"Jinjja? Ah, kalau begitu cepatlah hyung beristirahat. Kalau hyung kenapa-napa, Yong Guk Hyung pasti cemas!"
Mau tidak mau Him Chan terkekeh sendiri melihat tingkah laku lucu Zelo. Bocah itu begitu tulus memperhatikannya. Seperti halnya Yong Guk. Ah, bicara soal Yong Guk... namja itu di mana?
"Zelo-ya, Yong Guk ke mana?"
"Oh, tadi pagi Yong Guk Hyung sudah keluar. Dia tidak memberitahu kami mau ke mana."
Tidak memberitahu? Aish, ini aneh. Bukan, keanehan telah terjadi sejak pelayaran itu. Yong Guk tidak lagi membawa Him Chan pergi bersamanya. Bukan hanya Him Chan, Yong Guk bahkan tidak membawa anggota yang lainnya. Yong Guk lebih sering pergi sendiri. Entah kemana.
"Hanya perasaanku saja, atau memang Yong Guk tengah menyembunyikan sesuatu?" Him Chan berspekulasi. Ia bahkan tidak sadar kalau kebiasaannya berbicara sendiri malah ditanggapi Zelo sebagai pertanyaan.
"Hahaha, bukan menyembunyikan sesuatu, Hyung! Lebih tepatnya, 'mempersiapkan' sesuatu."
Kata-kata Zelo menarik perhatian Him Chan. "Mempersiapkan sesuatu? Maksudmu?" tanya-nya menyelidik.
"Oh, iya, aku sampai lupa kalau Him Chan Hyung masih baru. Begini, tiap kali ada misi besar, Yong Guk Hyung pasti akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan."
'Aish, memangnya kalian apa? Tim SWAT 'kah!?' batin Him Chan meledek. "Jadi maksudmu... saat ini Yong Guk sedang memantau 'lapangan'? Sendiri?"
"Ne, Yong Guk Hyung lebih suka melakukannya sendiri. Berkat Yong Guk Hyung, kami satu kalipun tidak pernah gagal menyelesaikan misi. Selalu rapi dan tidak terdeteksi oleh polisi." Zelo mengatakan semuanya seolah-olah hal itu adalah hal paling membanggakan di dunia.
Tidak sadarkah kalau yang dibicarakan di sini adalah perihal nyawa manusia? Apa sebegitu tidak berharganya nyawa manusia di mata mereka? Bahkan Zelo yang terkesan polos pun...
"Ah, Zelo, sepertinya hyung harus ke kamar. Kepala hyung pusing sekali," pamit Him Chan tiba-tiba. Bukannya apa-apa, Him Chan hanya... tidak suka 'pembunuh'. Perutnya mendadak mual. Zelo memberikan respon dengan menganggukkan kepalanya cepat. Khawatir.
##########^0^##########
"Bos?"
"Oh! Him Chan! Ada apa kau meneleponku duluan? Tumben sekali."
Him Chan tidak akan memikirkan ejekan omong kosong yang telah dilayangkan atasannya tersebut. Ada hal yang lebih penting, "Bos! Aku punya kabar terbaru! Yong Guk dan komplotannya melakukan gerakan. Kali ini aku yakin sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya. Bisa jadi ini mengenai pembunuhan salah satu orang penting lagi," lapornya beruntun.
Sang atasan di seberang pesawat telepon sana melebarkan matanya. Sedetik kemudian senyuman lebar menghiasi wajah paruh bayanya yang masih terlihat tampan. "Bagus. Tampaknya penyamaranmu tidak sia-sia, Him Chan. Terus ikuti pergerakan mereka, araso!?"
"Ne, Bos. Kalau begitu, aku tutup du—"
"Ah, Him Chan! Tunggu!" Kening Him Chan berkerut heran karena tiba-tiba sang atasan menyela.
"Ne, Bos? Waegeure?"
"Mmm... kau baik-baik saja?"
Oh, ada apa dengan atasannya yang cerewet ini? Tidak ada angin, meskipun sering hujan(?), tiba-tiba saja dia menanyai keadaan Him Chan?!
"Err... nan gwenchana?" Him Chan menjawab kikuk. Bukan salahnya. Hanya saja sang atasan bersikap di luar kebiasaan. Namja paruh baya tersebut perhatian padanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengarkan nada khawatir dari namja itu. Terakhir kali ia mendapatkan perhatian ini saat... oh, apakah sekarang tanggal 12 Juli? Him Chan benci bulan Juli, apalagi bila sudah memasuki tanggal 12. Tanggal 12 mengingatkannya akan mimpi buruk, ah, bukan mimpi buruk, lebih tepatnya... takdir buruk.
Meski terdengar ragu, sang atasan berkata dengan suara pelan, "kau akan datang?"
Deg~
Jadi benar, hari ini tanggal 12 Juli?
"Aku berharap kau dapat hadir, tapi... Daniel akan datang ke sana."
Deg~
Deg~
Daniel. Kenapa nama itu seolah menghantuinya. Dia benci nama itu. Dia. Benci. Daniel!
"Aku tidak akan datang. Kalau tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, aku tutup teleponnya."
PIP.
Him Chan menekan fitur merah dengan kasar. Ingin rasanya dia membanting smartphone di tangannya, jika saja ia tidak mengingat betapa pentingnya benda canggih itu dalam penyamarannya.
Tidur. Him Chan butuh tidur. Kepalanya benar-benar terasa sakit dan pusing. Kenapa begitu banyak hal yang harus dipikirkannya?! Penyamarannya, Yongguk, dan sekarang... Daniel...
~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~~
~~~~~#######~~~~
Malam di kota Seoul yang padat. Seperti halnya kota besar lainnya, semua orang tampak sibuk memacu kendaraan pribadi mereka di luar batas yang seharusnya ditentukan. Entah apa yang membuat tiap manusia sibuk itu merasa dirinya penting hingga mereka tidak memikirkan keselamatan orang lain yang akan terancam oleh kendaraan pribadi milik mereka.
Di antara semua kendaraan tersebut, terdapat satu kendaraan yang mencolok dan memacu lajunya lebih cepat dari kendaraan lain. Sebuah Bentley hitam yang pastinya mewah.
"DANIEL! Hentikan! Kau ingin membuat kami berdua terbunuh?!" Namja cantik yang duduk pada kursi di sebelah pengemudi berteriak keras. Satu tangannya yang kurus dan ringkih memukul-mukul lengan kekar seorang namja tampan yang tengah mengemudi mobil dalam kecepatan tinggi.
Namja tampan itu melirik remeh si cantik. Matanya kemudian menatap ke arah salah satu tangan si cantik yang tengah mengusap perutnya yang sedikit membesar. "Huh! Ada apa denganmu, Himchanie~ kemana jiwa petualanganmu yang menggebu-gebu itu?"
Kim Him Chan, namja cantik yang menyukai petualangan dan hal-hal berbahaya lainnya, berubah dalam sekejap menjadi sosok 'ibu' rumah tangga penuh kasih saat mengetahui dirinya hamil. Him Chan sangat mencintai sesuatu yang bisa disebutnya sebagai keluarga, mengingat kalau dirinya dulu tidak mengenal apa itu keluarga saat dibesarkan di panti asuhan. Ia bersumpah akan menjaga putra ataupun putri yang kini tengah tumbuh di dalam perutnya. Dan, tidak akan dibiarkannya Daniel, kekasih sekaligus ayah dari sang jabang bayi, menghancurkan semua hal yang telah diimpikan Him Chan selama ini.
"YAK! HENTIKAN MOBIL INI, BRENGSEK! Turunkan aku!" teriak Him Chan mendarah daging. Namun Daniel tertawa. Bukannya berhenti, namja tampan blasteran itu malah menambah kecepatannya. Him Chan terpekik ngeri.
"DANIEL! AWAAAASSSS!"
BRAK.
Cahaya yang begitu menyilaukan, adalah hal terakhir yang dapat Him Chan ingat.
~~~~~~#######~~~~~
"...hhh... hhhh... ANDWAEEEEE!"
Kamar yang sebelumnya sunyi, dalam sekejap menggemakan jeritan Him Chan. Namja cantik itu terduduk dengan keringat bercucuran, nafasnya terputus-putus seperti habis berlari. Kedua tangannya langsung ia larikan ke perut, seolah memastikan sesuatu. Tidak ada. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya perut rata dengan abs yang sedikit terbentuk.
Tidak ada, Kim Him Chan!
Tuhan telah mengambilnya darimu!
Mendadak tangisan frustasi menguasai Him Chan. Ia menangis, memukul-mukul dadanya keras jika sekiranya hal itu dapat mengurangi sesak yang ia rasakan. Hari ini, 12 Juli, dua tahun lalu, Kim Him Chan direnggut mimpinya oleh Yang Maha Kuasa. Ia kehilangan sang bayi dalam sebuah kecelakaan tragis. Daniel-lah pembunuhnya. Him Chan membenci seorang pembunuh.
Cklek~
"Hime, aku pu – ASTAGA! Apa yang terjadi?!" Yong Guk tampak syok begitu dirinya memasuki kamar, ia mendapati Him Chan tengah menangis hebat sembari memukul keras dadanya sendiri. Namja tampan di pintu langsung menghambur ke atas tempat tidur dan berusaha memegangi kedua tangan Him Chan. Ia tidak ingin namja cantik itu melukai dirinya sendiri.
"HIME, apa yang terjadi? Ada apa denganmu, Baby~?" tanya Yong Guk nyaris memohon pada Him Chan yang berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.
Him Chan tidak menjawab, ia terus menangis, memberontak, dan sekarang mulai berteriak layaknya orang gila. "Lepas! LEPASKAN AKU! Menjauh dariku! GET THE FUCKING OFF FROM ME!"
Yong Guk semakin mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Him Chan. Sungguh, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi pada kekasihnya ini. Apakah Him Chan sakit? Tapi sakit apa? Ini bukan demam seperti yang diasumsikan Zelo padanya barusan, 'kan? Ini lebih pada... oh, Tuhan, apa ini semacam trauma? Tapi, trauma apa?
"DAE HYUN! YOUNG JAE! CEPAT KEMARI!" teriak Yong Guk memanggil dua temannya keras. Daripada ia sibuk memikirkan hal-hal memusingkan semacam apa dan kenapa, lebih baik ia menolong Him Chan terlebih dahulu.
BRAK!
Pintu dibanting terbuka, menampilkan dua orang namja yang langsung menganga lebar saat melihat Yong Guk, sang pimpinan, tengah kesusahan memegangi pergelangan tangan seorang namja cantik yang terus-terusan memberontak dan berteriak-teriak tidak jelas.
"YA! Jangan berdiri saja! CEPAT BANTU AKU, BABBO!"
Dae Hyun dan Young Jae langsung berhamburan untuk membantu Yong Guk.
"Hyung, ada apa dengan Him Chan Hyung?" Young Jae bertanya panik. Tangannya memegangi kedua kaki Him Chan sementara Dae Hyun membantu memegangi kedua tangan Him Chan hingga namja cantik berambut hitam tersebut sekarang berbaring di ranjang.
Yong Guk tidak menjawab. Namja tampan itu bergerak menuju lemari di sebelah meja nakas dan meraih sebuah serum suntikan.
"Hyung, apa yang akan kau lakukan? Kau ingin membius Him Chan Hyung?"
Tatapan tajam dan lurus dari Yong Guk sekiranya menjawab pertanyaan Dae Hyun. Namja berkulit tan itu hendak protes namun segera dihentikan oleh penjelasan Yong Guk.
"Aku tidak punya pilihan lain, Dae Hyun-ah. Setidaknya obat ini akan menenangkan Him Chan dan membuatnya tidur untuk sementara waktu." Setelah berkata itu Yong Guk langsung menyuntikkan serum obat penenang pada lengan kiri Him Chan. Beberapa menit kemudian pemberontakan namja cantik tersebut melemah, dan dalam hitungan detik hanya menyisakan suara hembusan nafas lembut dan teratur. Him Chan tertidur, di bawah pengaruh obat bius.
Setelah saling bertukar pandang, Yong Guk akhirnya menyuruh Dae Hyun dan Young Jae untuk keluar, meninggalkan ia dan putri tidur-Nya berdua saja. Namja tampan tersebut kemudian menaiki ranjang, memposisikan dirinya untuk berbaring di sebelah Him Chan, menatap wajah cantik namja itu sendu.
Tangan Yong Guk kemudian bergerak menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Him Chan. "Hime~ kau kenapa? Beritahu aku, Sayang. Jangan membuatku kebingungan seperti ini. Apakah aku tidak cukup membuatmu merasa nyaman? Apa yang membuatmu trauma? Apa yang harus kulakukan agar kau bahagia, Baby?" Yong Guk terus-terusan bertanya lirih.
Tes~
Tes~
Untuk pertama kalinya, Bang Yong Guk, namja sangar pemimpin geng The Mato's yang sangat ditakuti itu, menangis. Menangis dan bermonolog tanpa henti mengutarakan kegelisahan yang dirasakannya pada malaikat tidur di sampingnya.
#########^0^#########
"Hyungdeul, Yong Guk Hyung kenapa? Apakah terjadi sesuatu pada Him Chan Hyung?" Zelo, si maknae, adalah orang pertama yang merongrong Dae Hyun dan Young Jae dengan pertanyaan begitu kedua namja itu keluar dari kamar BangHim. Jong Up di sebelah Zelo hanya ikut-ikutan mengangguk setuju, atau lebih tepatnya sependapat dengan sang maknae.
Dae Hyun dan Young Jae saling bertukar pandang. Bingung. Sebenarnya mereka juga tidak mengerti dengan apa yang tadi terjadi di kamar BangHim. BangHim bertengkar? Tidak. Him Chan mendadak gila? Ah, itu mungkin lebih tepat.
"Mmm... Yong Guk Hyung hanya memanggil kami karena Him Chan Hyung sedikit demam. Hanya itu." Dae Hyun lah yang akhirnya menjawab meskipun terdengar konyol.
Sedikit demam? Apa maksudnya? Lalu, kenapa Yong Guk Hyung berteriak memanggil kalian? Huft~ kira-kira pertanyaan itulah yang terlukis di kedua wajah dongsaeng mereka.
"Ah, maksud Dae Hyun, tadi Yong Guk Hyung memanggil kami untuk membelikan obat demam. Ayo, Dae! Kita pergi!" ucap Young Jae berpura-pura antusias dan segera menyeret Dae Hyun bersamanya. Namun namja manis tersebut kembali, menatap Jong Up dan Zelo yang terbengong-bengong. "Kalian jangan masuk ke kamar Yong Guk Hyung, ya!? Kalian tidak mau 'kan, kena semprot saat Yong Guk Hyung sedang bad mood seperti ini?!" kata Young Jae memperingatkan dengan tampang serius, membuat kedua orang yang serasa di bawah ancaman langsung mengangguk patuh. Namja manis itu kemudian tersenyum sekali lagi dan mengacak gemas rambut kedua makhluk polos itu, lalu benar-benar menyeret Dae Hyun pergi keluar dari bengkel.
#########^0^##########
"Ya, Young Jae! Kenapa kita harus ke apotik segala?! Bukankah tadi kita hanya beralasan pada Jong Up dan Zelo?!" Dae Hyun mengedarkan pandang. Semua dinding di cat putih dan berbagai macam obat-obatan berbaris rapi di balik lemari kaca. Belum lagi bau obat-obatan yang menyengat hidung, tempat ini tidak ubahnya seperti rumah sakit!
Young Jae memutar bola mata malas. Sekalipun tidak berniat untuk menjawab ocehan tidak penting Dae Hyun. Ia hanya tersenyum ramah pada apoteker yang menyerahkan satu kantong plastik biru berisi obat-obatan padanya. Lalu dengan santainya namja itu pergi tanpa memperdulikan keberadaan Dae Hyun yang mengekorinya layaknya anjing kecil.
"YA! Dasar menyebalkan. Jangan meninggalkanku, Babbo!"
"Kau itu terlalu lamban. Seperti yeoja saja!" celetuk Young Jae tanpa dosa. Dae hyun sontak menghentikan langkahnya dan memberikan tatapan membunuh pada makhluk manis di sebelahnya. Beginilah hubungan mereka. Selaluuuuu... saja ribut. Young Jae bahkan dengan begitu entengnya memanggil Dae Hyun yang jelas-jelas lebih tua setahun darinya tanpa embel-embel 'hyung'.
"Apa kau bilang?!" Demi Tuhan, apa Young Jae tidak bisa melihat betapa tampan dan mempesonanya seorang Jung Dae Hyun?! Bahkan, banyak sekali yang memuji keseksian kulit tan-nya ini! "Tarik kembali kata-katamu, Yoo Young Jae. Atau aku—"
"Aku, apa?" potong Young Jae dengan berani. Perlu diketahui, sehebat apapun Dae Hyun dalam menggunakan senjata, Young Jae tidak akan pernah sedikitpun takut padanya. Young Jae cukup percaya diri dengan kepintaran otaknya, tidak seperti Dae Hyun yang dia anggap hanya menggunakan 'konsentrasi' konyol dan otot semata.
Dae Hyun terbelalak kaget dengan sikap Young Jae yang berusaha mengintimidasinya. "Huh! Atau aku akan mengatakan pada Jong Up kalau kau suka setengah mati padanya!"
Kali ini giliran Young Jae yang melebarkan matanya syok. Dari mana Dae Hyun mengetahui hal itu? Tapi... bukan Young Jae namanya kalau dia tidak bisa berpikir cerdas. Namja itu tersenyum meremehkan, sama sekali tidak takut dengan ancaman Dae Hyun. "Huh~ katakan saja. Aku juga ingin lihat bagaimana reaksi Zelo kecil kita begitu tahu kalau sebenarnya Jung Dae Hyun, hyung-ke-sayangan-nya, telah lama jatuh cinta padanya."
Skakmat.
Jung Dae Hyun, si seksi yang tampan itu, tidak bisa berkata-kata lagi. Sial, kenapa makhluk bernama Young Jae ini begitu cerdik?
~~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~~
Him Chan terbangun keesokan paginya dengan kepala sakit beserta mata sembab. Namja cantik itu sedikit meringis, mencoba bangkit duduk namun terhalang oleh sebuah tangan kekar yang melingkar erat di perutnya. Ia berpaling dan menemukan Bang Yong Guk yang tertidur dengan berpakaian lengkap. Benar-benar lengkap mulai dari jas, dasi kupu-kupu, dan bahkan sepasang sepatu resmi yang masih terpasang di kakinya.
"Eunggh~ Bbang...?" panggil Him Chan lirih, membuat Yong Guk yang belum lama ini tertidur, langsung tersentak dan menatap penuh khawatir padanya.
"Hime Baby, kau sudah bangun?!"
Him Chan hanya mengangguk bingung. Ia sepenuhnya tidak mengerti, memangnya apa yang terjadi kemarin? Akh, kepala Him Chan benar-benar sakit, ia bahkan tidak bisa mengingatnya. "Bbang, kenapa kau tidur berpakaian lengkap seperti ini?" tanya Him Chan sembari menatap Yong Guk nanar.
Namja tampan yang ditanya malah menganga lebar. Apa-apaan ini? Apakah Him Chan tidak ingat dengan kejadian semalam?
Him Chan memiringkan kepala dengan bingung karena Yong Guk tidak kunjung menjawab pertanyaannya dan malah menganga lebar. Dia ingin mengulangi pertanyaannya saat tiba-tiba Yong Guk menariknya dalam sebuah pelukan erat.
"Syukurlah~ gwenchana, Hime. Aku senang kau baik-baik saja. Syukurlah~" Yong Guk menutup kedua matanya. Dia lega. Biarlah, kejadian kemarin malam akan dianggapnya tidak pernah terjadi. Dia tidak suka melihat Him Chan terluka. Dan kalau Him Chan saja melupakan kejadian itu, kenapa Yong Guk harus mengingatnya?
Him Chan semakin kebingungan dengan sikap Yong Guk. Namun dia hanya membiarkan namja tampan itu memeluknya. Ia bahkan juga ikut menutup mata saat dirasakannya kedua tangan lebar Yong Guk mengusap punggungnya lembut disertai ciuman butterfly kiss yang sekarang menyusuri sisi leher Him Chan.
#########^0^#########
Semua mata di ruang makan saling bertukar pandang saat Yong Guk memasuki dapur dengan membopong Him Chan di lengannya. Pemandangan ini bukanlah yang pertama kali, tapi tetap saja terlalu romantis hingga membuat wajah siapa saja yang melihatnya akan memerah padam.
"Hai. Apa masih ada sarapan untuk kami?" sapa Yong Guk ceria sembari mendudukkan Him Chan pada salah satu kursi. Namja itu sama sekali tidak menyadari tatapan nanar yang diberikan oleh seluruh penghuni meja makan padanya.
Young Jae-lah yang pertama kali tersadar dari keterpanaan dan segera menyahut. "Ne, Hyung. Tentu saja ada. Aku sudah menjaga jatah hyungie dengan baik dari jangkauan Dae Hyun."
Ucapan Young Jae mengundang delikan sebal dari Dae Hyun. Ayolah, dia 'kan tidak serakus itu. Ekhem, mungkin.
Him Chan tersenyum manis menyaksikan perdebatan tidak langsung yang dilakukan dongsaeng-dongsaengnya. Keceriaan Him Chan tampaknya telah kembali. Yong Guk dan Zelo menatap wajah cantik itu nanar. Tunggu, Zelo? Ya, dia juga mengkhawatirkan keadaan Him Chan. Ia ikut senang melihat hyung yang diam-diam dikaguminya itu kini telah kembali ceria, seperti pertama kali Zelo bertemu dengannya dulu.
"Him Chan Hyung sudah tidak demam lagi?" Kali ini Jong Up yang mengeluarkan suara.
Him Chan terlihat kebingungan, ia menatap penuh tanya pada pemuda yang tengah duduk di sampingnya tersebut. "Ne? Demam? Aku?"
"Iya. Kemarin Dae Hyung dan Jae Hyung—"
"Oh, Him Chan sudah sehat Jongupie. Sekarang kau biarkan hyungmu makan, ne?" sela Yong Guk menengahi sebelum Jong Up mengungkit-ungkit perihal kejadian semalam. Meskipun tidak paham, namja yang lebih muda lima tahun dari Yong Guk itu akhirnya hanya mengangguk patuh dan kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
"Nah, Hyung, ayo makan spaghetti buatanku. Hyung suka sekali spaghetti, 'kan? Aaa~" Young Jae dengan riang menyodorkan satu gulungan spaghetti di depan mulut Him Chan, bermaksud menyuapinya. Atau lebih tepatnya... mengalihkan perhatian.
Tanpa curiga Him Chan membuka mulutnya. Namja cantik itu mengunyah makanan tersebut dengan antusias. Entah kenapa Him Chan tidak menyadari betapa kosongnya perutnya. Dia benar-benar lapar. Terakhir kali perutnya diisi... bukankah itu saat ia sarapan kemarin pagi dengan sepotong roti berlapis selai stroberi? Dan, jangan lupakan americano favoritnya.
'Kau akan datang?'
DEG.
'Aku berharap kau dapat hadir, tapi... Daniel akan datang ke sana.'
Deg~
12 Juli...
Mendadak kunyahan Him Chan melambat seiring dengan kembalinya memori di otaknya. Ingatan-ingatan tentang kejadian kemarin berbondong-bondong memasuki kesadarannya. Oh, Him Chan bahkan ingat kalau semalam... dia... MENGAMUK!
Kunyahan Him Chan sepenuhnya terhenti sekarang. Ia menatap Yong Guk waspada. Ya, Tuhan... apakah Yong Guk sekarang mencurigainya? Ataukah penyamaran Him Chan telah terbongkar? 'Akh~ kau Pabbo, Kim Him Chan!'
Namun yang mengejutkan, Yong Guk tersenyum lembut membalas tatapan nanar Him Chan padanya. Namja tampan itu malah mengulurkan tangannya untuk mencubit lembut pipi kanan Him Chan. "Kenapa menatapku seperti itu, eoh? Kau ingin kusuapi?"
Him Chan sontak menggeleng cepat. Sial. Sial. Sial. Pipinya malah memanas! Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Tidak boleh ada perasaan sedikitpun di sini.
Tunggu,
Perasaan?
YA! KIM HIM CHAN!
Oh, baiklah, ini pasti semacam perasaan... simpati.
Ya, ini hanya simpati semata. Hanya simpati.
"Karena kalian semua sudah berkumpul, aku akan membicarakan misi baru kita sekarang." Yong Guk berkata dengan nada serius. Mereka telah meyelesaikan sarapan dan berpindah ke tempat rapat—atau meja billiard lebih tepatnya—di lantai dua.
Him Chan membuka telinga lebar-lebar. Dia tidak akan melewatkan satupun informasi ini. Sekaranglah penentuannya. Tiket Him Chan untuk keluar dari... neraka ini.
Yong Guk menempelkan foto sebesar pamflet pada papan tulis kapur di sudut ruangan. Foto seorang pria paruh baya. Semua mata di ruang rapat menatap penuh tanya pada foto tersebut. Semua mata, kecuali Yong Guk dan Him Chan.
'Pejabat Samuel James...?'
"Namanya Samuel James. Dia pejabat pemerintahan. Dialah target kita berikutnya. Lusa kita akan menyelinap ke kediamannya. Kita hanya perlu menumbangkan beberapa 'anjing', lalu..." Yong Guk mengeluarkan pistol dari sabuk belakang celananya. Bahkan di rumahnya sekalipun, Yong Guk selalu membawa-bawa sepucuk pistol bersamanya. Namja tampan bermata tajam itu kemudian mengarahkan pistolnya pada foto.
DOR!
Foto si pejabat sukses berlubang tepat di kening. Yong Guk menembaknya dengan akurat, meskipun ia melangkah cukup jauh dari papan tempat ia menempelkan foto barusan. Zelo dan Young Jae sontak menutup telinga mereka akibat suara bising yang ditimbulkan oleh letusan pistol. Lain halnya dengan Dae Hyun dan Jong Up yang malah terkekeh, menyeringai senang atas ulah sang leader. Mereka tinggal di pinggiran kota Bangkok. Dan seperti halnya daerah pinggiran lainnya, suara ledakan pistol itu adalah hal biasa. Tidak akan ada orang yang berteriak-teriak histeris memanggil polisi.
Him Chan diam-diam menggeretakkan giginya. Jadi benar, Yong Guk itu adalah pembunuh? Oh, betapa bodohnya dirimu, Kim Him Chan. Kau telah tertipu oleh... 'cinta' dan kelembutan yang ditunjukkannya padamu. Pembunuh adalah penjahat. Penjahat harusnya ditangkap dan masuk neraka.
'Got you, Bang Yong Guk~'
Siapapun tidak akan menyadarinya. Wajah cantik Him Chan yang begitu dipuja-puja, kali ini menampakkan sebuah seringai licik penuh kebencian.
~~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~~~
DOR.
DOR.
"Ck, bukan begitu, Junhongie. Kau seharusnya lebih menaikkan lenganmu lagi saat membidik sasaran. Buka lenganmu lebar-lebar." Dae Hyun memegangi kedua lengan Zelo aka Choi Jung Hong dari belakang, membantunya melebar seperti instruksinya.
Zelo memang termasuk anggota baru sebelum Him Chan. Berbeda dengan Him Chan yang bisa dengan begitu cepat belajar, Zelo dan umurnya yang terbilang muda, 18 tahun, sedikit kesulitan menggunakan senjata. Mungkin anak-anak seumuran Zelo akan langsung gemetar bila benda berbahaya tersebut berada di tangan mereka. Namun Zelo tidak. Hanya saja namja manis itu tidak pandai membidik sasaran dengan baik. Bila satu anatomi tubuh manusia yang dijadikan sasaran adalah hidung, maka Zelo pasti akan menembak pada lutut. Melenceng jauh memang. Oleh karena itulah Dae Hyun diperintahkan untuk mengajarinya.
"Sekarang tembak," perintah Dae Hyun setelah dirasanya posisi lengan beserta arah tembakan Zelo tepat. Namja manis yang diperintahkan langsung menarik pelatuk dan...
DOR!
PRANNGG!
Botol bir bekas 25 meter jauhnya, hancur lebur menjadi serpihan. Mata zelo melebar, ia kemudian berbalik menatap Dae Hyun antusias. "HYUNG, AKU BERHASIL!" pekiknya senang. Tidak dapat dipungkiri kalau Zelo memanglah hanya seorang bocah polos hingga meloncat-loncat riang melampiaskan euforianya.
Sementara Dae Hyun hanya tersenyum lembut. Dengan gemas digusaknya rambut Zelo yang berwarna abu-abu. Belum lama ini rambut halus itu berwarna biru, sekarang sudah berganti lagi. "Kerja bagus, Jun Hong-ah~"
Wajah Zelo memanas. Oh, ini bukan salahnya, bukan juga salah hormon masa mudanya. Zelo hanya... apakah salah bila si kecil Zelo sekarang sudah beranjak dewasa dan jatuh cinta pada Dae Hyun, Hyung kesayangannya?
"Aw, aw, aw... lihat siapa yang tengah memanfaatkan kesempatan saat ini~~"
Dae Hyun terlonjak kaget dan menjauhkan tangannya dari rambut Zelo. Saat berbalik ia mendapati Young Jae dan Jong Up di dekat pintu. Tidak perlu diragukan lagi, yang meledek tadi pastilah Young Jae. Namja itu dan otak jeniusnya, benar-benar menyebalkan!
"Hahaha, tidak usah menatapku seperti itu, Jung Dae Hyun. Aku tidak takut, kau ingat?" ujar Young jae dengan santainya memasuki ruang latihan. Kedua tangan namja manis itu terlihat penuh membawa satu kotak besar berwarna hitam. Jong Up juga membawa kotak hitam yang sama.
"Itu apa?"
"Ini suku cadang baru, Hyung. Him Chan Hyung akan memodifikasi Range Rover," jawab Jong Up sambil tersenyum lima jari seperti biasanya.
Dae Hyun mengangguk-angguk paham. Dia kemudian menarik tangan Zelo untuk ikut bersamanya mengikuti Young Jae dan Jong Up ke garasi belakang.
"Him Chan Hyung, kami sudah bawa suku cadangnya."
"Bagus. Kalau begitu ayo kita lakukan, Youngie. Dan, kalian yang berdua di sana, bisa bantu aku?"
Zelo dan Dae Hyun, yang berdiri di pintu garasi saling berpandangan. "Kami, Hyung? Tapi... aku dan Zelo sama sekali tidak mengerti mesin," kata Dae Hyun entah kenapa sedikit malu karena saat ini Young Jae juga ada di sana. Kekanakan memang, karena Dae Hyun sama sekali tidak rela kalau Young Jae merendahkannya.
"Kkkkkk~"
Dan Young Jae pun terkikik. Ia memandang Dae Hyun penuh kemenangan. Sudah dibilang 'kan, Jung Dae Hyun hanya bisa bekonsentrasi dan menembak?
"Aku tidak menyuruh kalian untuk membantuku di sini, Babbo. Yong Guk memberi instruksi, kau, Dae Hyun, pergilah bersama Jong Up. Kita butuh senjata tambahan. Kalian akan melakukan 'pertukaran' di stasiun bawah tanah. Dan, Zelo-ya, hari ini kau akan memantau lokasi bersama Yong Guk. Temui hyung-mu di kamarnya, ne?"
Kedua orang yang diperintahkan mengangguk patuh. Tanpa banyak bicara Zelo langsung melesat kembali ke dalam rumah, menemui Yong Guk di lantai dua. Sementara Dae Hyun tetap berdiri di sana. Maksudnya, sih, menunggu Jong Up karena hari ini dia akan melaksanakan misi dengan bocah itu.
Namun apa yang terjadi sekiranya cukup membuat mata namja tampan berkulit tan tersebut terbelalak lebar. Pasalnya, Jong Up saat ini malah sibuk memijat tungkai lengan Young Jae. Mungkin si manis berpipi chubby itu terkilir karena mengangkat kotak suku cadang tadi. Ada hal lain lagi, wajah Jong Up tampak begitu cemas saat Young Jae meringis kesakitan akibat pijatannya.
Huh, meskipun tidak mau mengakui, namun melihat hal ini, Jung Dae Hyun tidak bisa menyangkal kalau perasaan Young Jae sepertinya tidak bertepuk sebelah tangan. Jong Up juga menyukai Young Jae! SIAAALLLLL! Lagi-lagi dia kalah selangkah dari si Pipi Chubby Young Jae itu.
"Ayo, Hyung! Kita pergi!" ajak Jong Up yang telah selesai dari ayo-penuh-perhatian-pada-Young Jae-Nya.
Dae Hyun hanya mengikuti bocah itu dari belakang. Tidak ada yang mengetahui betapa galaunya namja tan itu saat ini.
Sepeninggal Dae Hyun dan Jong Up. Him Chan dan Young Jae mulai menyibukkan diri dengan mengotak-atik mesin Range Rover. Kedua namja manis ini memang ahlinya. Tak jarang mereka berdua bekerja sama.
"Aku melihatnya. Jadi... kalian sudah mengalami kemajuan, eoh?" tanya Him Chan menatap Young Jae dengan senyuman jahil. Hanya kepada Him Chan lah Young Jae selama ini menceritakan perasaan pribadinya tersebut. Yang sayangnya, Jung Dae Hyun ternyata juga mengetahuinya tanpa diiizinkan.
Young Jae tersenyum lima jari. Matanya yang bulat sampai membentuk garis lengkung bulan sabit. "Hehehe, kurasa begitu, Him Chan Hyung. Hyung tahu tidak? Malam ini Jong Up mengajakku latihan bertarung. Gyaaa~ aku senang sekali!"
"Wah, wah... kau akan dihajarnya, tapi kau malah sesenang ini? Ckckck, kau sudah tidak waras, Youngie?"
"Kkkkkk, hyung tidak tahu saja dimana letak keromantisan dari latihan bertarung. Kami saling menyentuh, Jong Up memegang pergelangan tanganku dengan erat—"
"Memelintir, maksudmu, Youngie? Kau terlalu banyak terbuai fantasi aneh. Apa jangan-jangan, karena itu selama ini punggungmu sakit? Kau terlalu banyak berkhayal saat dia melancarkan serangan. Terakhir kali aku masuk ke ruang latihan, kulihat kau tersungkur karena dibanting Jong Up. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri," tutur Him Chan panjang lebar sembari mengelap tangannya yang dipenuhi oli. Baju bengkelnya yang berwarna biru dongker dan sedikit longgar terlihat begitu pas di tubuh namja cantik tersebut. Entahlah, mungkin baju apapun terlihat indah jika Him Chan yang mengenakannya. Young Jae sampai tidak bisa mengalihkan perhatiannya.
Merasa diperhatikan, Him Chan mengangkat wajah dan balas menatap Young Jae. "Ada apa, Youngie? Ada masalah dengan desain mesinnya?"
"Oh, aniyo, Hyung. Mmm... hyung baik-baik saja, 'kan?"
Him Chan masih belum mengerti maksud dari pertanyaan Young Jae. Dia hanya mengangguk bingung, "ne, aku baik-baik saja." Jawaban polos beserta ekspresinya yang lucu membuat Young Jae kembali tersenyum. Sungguh, tidak heran kenapa Yong Guk yang berwatak keras bisa luluh pada namja cantik ini.
"Syukurlah, kalau begitu. Hyung tahu? Hyung bisa menceritakan masalah apapun padaku. Rasanya tidak adil kalau selama ini hanya aku yang berkeluh-kesah pada hyung. Aku juga ingin jadi pendengar yang baik untuk Him Chan Hyung."
Kata-kata tulus Young Jae membuat Him Chan bergeming. Apakah Young Jae akan tetap bersikap sebaik ini jika nanti dia tahu kalau Him Chan sebenarnya hanya berpura-pura? Menjebak mereka menuju penjara?
########^0^########
At Somewhere Street in Bangkok
"Zelo-ya, kau lihat perempatan jalan di sana?" Yong Guk menunjuk perempatan jalan yang tidak terlalu ramai di sudut keramaian kota Bangkok. Zelo hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya. "Di sanalah nanti kita memulai misi. Kau dan Him Chan akan menunggu di dalam mobil. Berjaga. Kediaman Samuel James satu blok dari sana. Setelah selesai, aku akan menghubungi kalian dan menentukan lokasi tempat kita bertemu."
Satu anggukan lagi yang Zelo berikan pertanda ia mengerti dengan instruksi sang pemimpin. Namja manis itu kembali mengambil foto dengan kamera SLR yang menggantung di lehernya. Hingga kemudian ia teringat sesuatu.
"Hyung," panggil Zelo.
"Mmm?"
"Ng... hyung dan Him Chan Hyung baik-baik saja 'kan?"
"Tentu. Kenapa kau bertanya begitu?"
Zelo menghentak-hentak tanah layaknya anak kecil dengan salah satu ujung sepatunya. "Mmm... bukan apa-apa. Hanya saja akhir-akhir ini Him Chan Hyung aneh. Dia terlihat tidak tenang. Seperti memikirkan sesuatu."
Deg~
Zelo benar. Akhir-akhir ini entah kenapa Him Chan seperti larut dalam pikirannya sendiri. Apakah memang terjadi sesuatu? Mengingat semalam Him Chan... mengamuk? Dan kembali kata 'trauma' terlintas dalam pikiran Yong Guk. Tidak ada penjelasan lain dari perilaku yang kekasihnya tunjukkan selain akibat dari trauma. Tapi... trauma apa?
"... hyung? YONG GUK HYUNG!"
Yong Guk sontak terlonjak kaget karena suara tinggi Zelo. Ah, lagi-lagi dia buntu pada kata 'apa' dan 'mengapa'.
'Bang Yong Guk, kau harus berhenti melamun! Just focus, Dude~' wanti-wanti Yong Guk pada dirinya sendiri. Mungkin dia dan Him Chan memang berjodoh karena tanpa mereka sadari, bermonolog dengan pikiran sendiri sudah menjadi suatu kebiasaan. Sesuatu yang biasanya sama itu disebut jodoh, bukan?
########^0^########
At the Left Subway Station in Bangkok
"Ini barangnya?"
TAP! BRAK!
Baru saja Dae Hyun hendak membuka peti kayu itu saat sebuah kaki menapak pada permukaan atas peti, memaksa benda kubus tersebut tertutup kembali. Tentu saja hal ini membuat Dae Hyun jengkel dan menatap si pemilik kaki dengan tatapan membunuh. "YA!"
Lelaki bertubuh tambun berkaca mata hitam itu menyeringai. Ingin rasanya Dae Hyun menarik rambut cepol namja itu, tapi eww, tidak jadi. Rambut si tambun penyelundup senjata illegal ini bahkan terlihat mengkilat oleh minyak. Menjijikkan!
"Kkkkkk~ kau ingat dengan pepatah, ada uang ada barang? Sekarang mana uangku?!" ucap lelaki tambun itu mengisyaratkan kata uang dengan jemari tangannya yang saling bergesekan.
Dae Hyun melirik Jong Up, yang langsung mengangguk dan mengeluarkan gulungan uang yang tentu jumlahnya tidak sedikit dan memberikannya pada si tambun. Lelaki itu tampak bahagia sekali saat meninggalkan Dae Hyun dan Jong Up beserta peti berisi senjata api yang dibawanya tadi.
"Ukh, kalau Yong Guk Hyung tidak butuh si brengsek itu, sudah kutembak dari dulu kepala besarnya!" Dae Hyun sempat-sempatnya menggerutu padahal tangannya saat ini tengah menggenggam berbagai macam bentuk benda berbahaya; senjata api. Adalah kewajiban Dae Hyun untuk memeriksa setiap persenjataan yang akan mereka gunakan. Walaupun Jong Up juga ikut membantu, tapi tidak lebih dari sekedar merasakannya saja. Tidak benar-benar mengecek luar-dalam seperti yang Dae Hyun lakukan.
"Hahaha, tapi harus kita akui, Hyung, senjata-senjata yang kita beli darinya semuanya bermutu tinggi."
"Huft~ ne, kau benar."
~~~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~~~
Suara deru mesin yang lembut dan pelan membuat Him Chan menahan senyum puasnya, mencoba memastikan sekali lagi apakah suara mesin yang dikeluarkan sudah pas seperti apa yang ia mau. Walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu, mengingat betapa kompeten dan ahlinya Him Chan dalam bidang ini.
Young Jae juga ada di sana, tetapi melihat Him Chan yang seolah terlarut dalam dunianya sendiri, ia tidak mau menginterupsi dan lebih memilih untuk mengecek laptopnya yang menampilkan desain mesin mobil secara keseluruhan. Ketika ia kembali melihat ke arah namja cantik bermata marble itu, yang ia temukan sekarang hanyalah wajah bercahaya yang menyeringai. Yah, tentu saja Him Chan berhasil. Seringaiannya menunjukkan hal itu.
"Hyung, jangan menyeringai seperti itu. Paling tidak, tidak di hadapan Yong Guk Hyung," celetuk Young Jae jahil. Namun tanpa diduga bibir merah Him Chan malah membentuk sebuah pout yang sangat lucu.
"Ya!"
"Hahaha~"
Cklek~
Keduanya menoleh ke arah pintu garasi yang dibuka seseorang. Him Chan langsung tersenyum lebar saat melihat sosok tersebut adalah Yong Guk. Namja tampan itu datang sembari menenteng sebuah box karton minuman.
"Hei~ kau sudah pulang, Bbang," sambut si cantik ceria. Sedikit terseok, ia melangkah ke arah Yong Guk, membuat sang kekasih kebingungan akan kelakuannya.
"Hei, ada apa dengan kakimu? Kau terluka?"
"Hehehe, ani. Kakiku kram. Hanya sedikit."
Yong Guk mengulurkan tangannya yang bebas dan meraih pinggang Him Chan agar namja cantik tersebut bisa bertumpu padanya. Tidak ada yang dapat Him Chan lakukan selain tersenyum dan berterima kasih. Entah kenapa, akhir-akhir ini Him Chan merasa tubuhnya mudah lelah. Belum lagi rasa kram di beberapa bagian. Ini aneh, selama hidupnya Him Chan tidak pernah mengalami gangguan kesehatan. Secara ajaib, tubuhnya yang kurus dan ringkih dapat dengan mudah melewati tantangan alam seperti pergantian musim. Lalu? Apa yang terjadi sekarang? Apa stress dapat membuat daya tahan tubuh seseorang melemah?
"Kurasa kau butuh istirahat. Lihatlah, kau semakin pucat. Biarkan Young Jae yang menangani mobil ini sendiri." Dan Yong Guk seakan menyadari keadaan Him Chan. Tentu saja. Kemana lagi mata tajam itu akan mengarah kalau tidak pada Him Chan?
Menyingkir bukanlah benar-benar keahlian Young Jae. Bukannya meninggalkan dua 'love birds' di sana, dia malah menyela dengan tertawa keras sembari mendekat. "Hahaha, Hyung, kau sedikit terlambat. Kami bahkan sudah menyelesaikan mobil ini," celetuknya.
"Itu benar, Bbang. Kami bahkan menambahkan beberapa suku cadang baru. Dan kau tahu? Hasilnya luar biasa! Suara yang begitu lembut, dan—"
"And I think, 'My Princess' have to take a nap," potong Yong Guk cepat. Ia kemudian memberikan box minuman di tangannya pada Young Jae. Tanpa menunggu, namja tampan tersebut kemudian membopong tubuh Him Chan dalam gendongannya. Si cantik sempat memekik protes, berkata bahwa ia bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Tetapi Bang Yong Guk adalah Bang Yong Guk. Namja itu tidak akan berhenti hingga Him Chan benar-benar menuruti apa yang ia mau. Alhasil, Him Chan hanya bisa pasrah dalam pangkuan Yong Guk saat 'kekasih'nya tersebut membawanya ke kamar mereka.
"Kau tidak perlu melakukan itu, bukan!? Aku malu sekali di hadapan Young Jae, tahu!?" Him Chan mengomel di balik selimut birunya. Yong Guk sudah membantunya berganti pakaian. Sekarang hanya ada kaus tipis putih dan celana jins pendek yang melekat di tubuh kurusnya. "Dan apa ini? Aku tidak suka selimut!"
Berbanding terbalik dengan si cantik yang cemberut, Yong Guk malah terkikik geli. Bagaimana tidak?! Adakah namja dewasa yang terus-terusan menggerutu mengenai tidak-mau-memakai-selimut? Belum lagi kakinya yang menendang-nendang selimut dengan kesal dari dalam. Hahaha, aigo~
"Tidak ada penolakan." Yong Guk mengucapkan 'titah' finalnya sambil menaiki tempat tidur, ikut menelusup ke dalam selimut dan memeluk Him Chan dengan erat. Wajahnya sengaja ia sembunyikan pada ceruk leher putih itu, menikmati wangi stroberi dan citrus yang bercampur jadi satu. Inilah kebiasaan Yong Guk bila sudah berbaring di sebelah sang kekasih.
"Ya, Bang Yong Guk! Aku tidak ingin tidur~" Lagi-lagi Him Chan merengek seperti anak kecil. Jauh di dalam hati, ia pun kebingungan dan tidak mengenali sikapnya yang satu ini. Apa sekarang sikap dan kelakuan Him Chan dapat 'menipu' dengan sendirinya? Sudah ia duga penyamaran ini akan mengacaukan hidupnya.
Yong Guk menjauhkan wajah dari leher milky skin favoritnya untuk menatap wajah cantik sang pemilik, "lalu kau mau melakukan apa?"
"Apa saja. Terserah. Kau tahu betapa konyolnya ini? Bagaimana bisa ketua geng sepertimu hobi sekali tidur siang? Kau anak kecil?!"
"Hahaha, oke, oke, Your Highness, kalau begitu... ah, bagaimana kalau makan siang? Seingatku ada coffee shop terbaru. Banyak yang datang ke sana. Kau mau?" tawar Yong Guk antusias. Ia tersenyum sangat lebar dan menggusakkan puncak hidung mereka. Namun Him Chan malah menggeleng tidak bersemangat.
"Aku tidak berselera, Bbang."
Hah? Seorang Kim Him Chan menolak kesempatan untuk meminum ice americano kegemarannya?! Sungguh, ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Jinjja?! Tumben sekali Hime-ku menolak ke coffee shop. Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Hening.
Tidak ada dari kedua insan di atas ranjang yang mengeluarkan suara karena sibuk berpikir. Melakukan sesuatu? Oh, bisa dikatakan... tidak ada yang tidak pernah mereka berdua lakukan. Dari hal biasa, sampai hal 'tidak biasa'. Seks di tempat umum, misalnya. Him Chan bahkan pernah nyaris telanjang di sebuah sofa klub malam dengan Yong Guk yang topless di atasnya. Ck, liar, memang. Dan ngomong-ngomong soal 'liar'...
"Ah! Aku jadi ingat, bukankah kau ingin dibuatkan sebuah tato, Hime?!" Yong Guk berseru dan nyaris melompat terduduk di ranjang.
Hal itu tentu saja membuat Him Chan kaget dan reflek menjitak kepala sang namjachingu. "Ya! Jangan tiba-tiba duduk begitu, Bbang. Kau mau membuatku terkena serangan jantung, ya?!" omelnya.
Yong Guk berpura-pura meringis kesakitan. Padahal, bukannya merendahkan, pukulan Him Chan tidak ada apa-apanya bagi pemimpin geng The Mato's seperti Yong Guk. Dia pernah mendapatkan pukulan yang jauh beribu-ribu lebih parah hingga nyaris membuat nyawanya melayang.
"Ssshhhh... Baby, kau ini berani juga, ya, memukul pemimpin geng terkenal sepertiku? Kau tidak sayang nyawa?" ancam Yong Guk dengan tatapan mengintimidasi—namun terselip kilatan jahil di sana—sembari bergerak ke atas Him Chan yang masih berbaring. Reaksi yang sangat menggemaskan, si cantik di bawah naungan tubuh atletis tersebut melebarkan matanya lucu.
Blush~
Him Chan tidak dapat menolong dirinya jika sekarang kedua pipinya diselubungi rona pink. Pemandangan seperti ini bukanlah yang pertama kali. Ia bahkan selalu melihat tubuh atletis Yong Guk tanpa sehelai benangpun di atasnya. Namun saat ini... celana jins selutut beserta kaus longgar tanpa lengan yang Yong Guk kenakan terlihat lebih memprovokasi.
"Y-ya! Apa yang kau lakukan? Cepat minggir!"
"No," tolak Yong Guk keras kepala. Bibirnya mulai menelusuri rahang sang namjachingu. Membuat bibir merah namja cantik di bawahnya mengeluarkan erangan dan desahan rendah.
"Eungh... Bbangh... ahh~ b-bukankah k-kau i-ingin membuatkanku se-sebuah t-tato?" tanya Him Chan terbata-bata karena Yong Guk dan lidahnya yang luar biasa saat ini menggodai perpotongan lehernya.
"Oh. Kau benar."
Him Chan bersyukur karena akhirnya Yong Guk mau menjauh dari lehernya. Ia segera bangkit duduk sebelum namja itu berubah pikiran dan 'menyerang'nya lagi.
Tato.
Him Chan tidak pernah terobsesi akan hal seperti ini sebelumnya. Melukai dan menodai kulit lembutnya yang cantik tidak pernah terlintas dalam benak Him Chan. Namun itu dulu. Dulu sebelum dirinya bertemu dengan Bang Yong Guk. Namja itu memiliki tato salib yang menghiasi hampir seluruh tulang punggungnya. Entah bagaimana Him Chan menemukan pemandangan tersebut sangat indah. Otot-otot yang terbentuk sempurna, dipertegas dengan tato salib, seolah mempertegas karakter seorang Bang Yong Guk. Oh, lupakan mengenai makna agama karena berbentuk salib. Yong Guk hanya... terlihat bebas. BEBAS merupakan salah satu kata dengan makna terfavorit bagi Him Chan.
Tidak.
Him Chan tidak menyukai Yong Guk.
Berhenti.
Dia juga tidak mengaguminya.
Pokoknya. Tidak.
"Karena kau sebegitu inginnya kubuatkan tato... katakan, tato apa yang diinginkan oleh Hime-Ku?" Yong Guk menekankan kata 'hime-ku' dengan penuh percaya diri. Membuat Him Chan mengerutkan puncak hidungnya geli.
"Eww, you're so corny, Bbang," ledek Him Chan sembari bergerak turun dari ranjang. Ia kemudian mengambil duduk pada sofa hitam besar yang terletak di kamar mereka. Disusul oleh Yong Guk yang sepertinya tidak bisa jauh-jauh dari sang Hime hingga langsung memeluk pinggang ramping tersebut erat. Layaknya anjing kecil, Yong Guk kembali mengendus dan membelai sisi leher Him Chan dengan puncak hidungnya. Ugh, namja cantik dalam pelukannya bahkan tidak bisa menyangkal kalau sentuhan-sentuhan lembut yang dilakukan Yong Guk terasa menyenangkan. Sulit untuk ditolak.
"All of my corny ready for serve, only for you, Princess. So, what pictures that you want? Should I make the same one with mine?" tawar Yong Guk tanpa menjauhkan wajahnya. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa leher Him Chan hingga membuatnya sedikit merinding.
'Tidak, Kim Him Chan... fokus, fokus...'
"Ah, ng... boleh!"
Hendak rasanya Yong Guk tertawa keras. Dia tahu kalau sebenarnya Him Chan terpengaruh oleh sentuhannya dan mencoba mengalihkan perhatian. "Baiklah. Akan kubuatkan. Tapi untukmu yang ukurannya kecil saja. Aku tidak mau merusak si milky yang lembut ini."
Him Chan memperhatikan bagaimana telapak tangan Yong Guk yang besar dan kasar menyapu kulit lengan bawahnya. Yong Guk memiliki warna kulit tan tercantik yang pernah Him Chan lihat—selain Dae Hyun dan Young Jae, tentunya. Warnanya tidak gelap, namun tidak pula putih.
"Kau mau kuberi saran di mana tato ini harusnya diabadikan?"
"Boleh. Di mana?"
Tangan Yong Guk menelusup masuk ke dalam kaus yang Him Chan kenakan dan meremas bagian kanan pinggul belakangnya. "Yogi. Kau akan terlihat outstanding bila mengukirnya di sini," bisik namja tampan itu seduktif.
########^0^########
Seperti tidak pernah merasa jengah, Jong Up lagi-lagi menatap wajah manis yang terlihat sedang bergumul dalam dunianya sendiri itu. Young Jae yang berotak cerdas. Young Jae yang tidak pernah lepas dari laptop dan komputer tabletnya. Dan sekali lagi Jong Up dibuatnya sadar, dia sama sekali tidak pantas untuk Young Jae. Siapa dia berani menyukai Young Jae? Dia bahkan tidak memasuki bangku sekolah menengah akibat selalu berkelahi dan membuat masalah hingga orang tuanya menyerah dan memilih angkat tangan terhadapnya. Berbeda dengan Young Jae yang super jenius. Namja manis itu bisa saja melamar ke perusahaan besar manapun dia mau. Semua orang pasti akan menerimanya dengan senang hati.
"Jongupie, daripada kau hanya berdiri di sana, bisakah kau membantuku menguji mobil ini? Aku butuh data lapangan," tegur Young Jae tanpa menoleh.
'Eh? Dia tahu aku di sini?'
"N-ne, Hyung!"
Dengan sedikit linglung, Jong Up mendekat dan duduk pada kursi pengemudi. Menyusul setelahnya Young Jae—bersama laptop—yang melompat duduk di kursi depan, di sebelah Jong Up.
"Nah, aku mau kau ngebut, oke?! Aku ingin lihat seberapa hebatnya suku cadang mahal ini." Lagi-lagi Young Jae berkata tanpa menoleh untuk sekedar menatap Jong Up. dia hanya fokus pada laptop di pangkuannya.
'Sebegitu pentingnyakah laptopmu itu?'
Menyedihkan, Jong Up sekarang malah cemburu pada benda tidak bernyawa.
########^0^########
Monster makanan.
Itu adalah gelar yang sama sekali tidak bisa dibanggakan. Namun mau bagaimana lagi kalau seorang Jung Dae Hyun harus menyandang gelar tersebut?! Dae Hyun memang suka makan. Di balik sosok kurusnya, Dae Hyun tak ubahnya seperti orang hamil yang selalu merasa kalau dirinya lapar. Bahkan mungkin, dia lebih parah.
"Hyung, perutmu tidak sakit?" Zelo bertanya sembari menuangkan adonan pan cake ke loyang. Zelo tidak ahli dalam memasak, tapi untunglah Him Chan dan Young Jae selalu menyiapkan adonan pan cake di kulkas. Kalau masalah memanggangnya di pan, Zelo tidak mengalami masalah sama sekali.
"Em, ani. Kau seperti tidak tahu hyung saja, Junhongie. Jung Dae Hyun si 'monster' makanan. Kau ingat?!" kata Dae Hyun bangga. Mungkin manusia yang merasa bangga akan gelar tersebut hanyalah Dae Hyun seorang.
"Kkkkk~ ne, ne, aku ingat. Kalau begitu makanlah yang banyak, ya, Hyung~" Zelo berkata riang sembari memasukkan beberapa lembar pan cake yang telah jadi ke piring Dae Hyun.
Dan mungkin hanya bocah manis polos ini yang menemukan kemaniakan si monster makanan adalah hal terlucu dan menggemaskan di dunia. Ckckck~
#########^0^#########
Plak!
"Ouch... YAK! Appo~" Him Chan terpekik sekaligus merengek karena sedang asyik-asyiknya berkonsentrasi pada rasa perih akibat tusukan jarum di pinggulnya, Yong Guk malah dengan tega menampar bokong kirinya cukup keras.
"Kkkkkkk, habis kau, sih. Masa ditusuk jarum sekecil ini saja terus-terusan meringis kesakitan!? Ternyata Kim Him Chan tidak se'garang' yang kupikirkan. Hahaha~"
Ledekan Yong Guk membuat Him Chan mengerucutkan bibir. "Habis, yang namanya jarum, ya tetap saja jarum, Babbo," gerutunya pelan. Membuat Yong Guk semakin tertawa keras.
Posisi keduanya saat ini, Him Chan tengah berlutut di sofa dengan perut dan dada yang menyandar pada sandaran sofa. Namja cantik itu membelakangi Yong Guk yang duduk menghadap pinggul kanannya di sofa.
"Sudah kuduga, tato ini terlihat cocok di pinggulmu."
"Benarkah? Apa sudah jadi?!" Him Chan tidak bisa menyembunyikan euforia lega dalam nada suaranya. Ia tidak menduga kalau membuat tato sekecil ini saja bisa membuatnya menderita. Lalu, bagaimana dengan Yong Guk yang seluruh tulang punggungnya diukiri tato?! Ugh~ itu. Pasti. Sangat. Menyakitkan.
"Hahaha, apa sebegitu menyakitkan, ya? Sayangnya, ini belum selesai, Hime."
Kata-kata Yong Guk membuat kening beserta hidung kekasihnya berkerut. Ugh, sepertinya Sang Hime harus bersabar menahan rasa sakit lagi.
Yong Guk menatap ukiran tato berbentuk salib di kulit yang sangat putih itu. Bagian kulit di sekitar tato tampak memerah lebam. Yong Guk hanya bisa meminta maaf diam-diam di dalam hatinya. Sebenarnya tato salib sudah selesai diukirnya di sana. Hanya saja... Yong Guk ingin menambahkan sesuatu.
"Sssshhhhhh..."
Ukiran-ukiran yang tercetak miring pada tangkai salib, membentuk sebuah kata yang menyatakan akan kekuasaan, kepemilikan.
Mine
TBC
