"Bawa Jongin ke mall ubahlah penampilannya. Aku tidak bisa membawanya bertemu dengan investor dengan baju seperti itu. Dia terlihat tidak layak"

"Ne sajangnim"

"Replace"

Warn: Gs!Kai, Gs!Baekhyun, Typo(s)

Pair : Hunkai

Disclaimer : Cast(s) milik diri mereka sendiri

.

.

.

.

.

"Jong kau sakit?" Tanya Krystal karena sejak keluar dari ruangan Sehun tadi Jongin diam saja.

"Tidak. Aku baik-baik saja" Jongin menjawab sambil melempar senyum kecil ke Krystal.

"Benarkah?"

"Iya sungguh"

Krystal masih setengah tidak percaya pada Jongin, dia menatap Jongin dengan khawatir.

"Krys aku baik-baik saja sungguh" kata Jongin lagi menenangkan Krystal.

"Baiklah kalau kau bilang begitu. Ah kita sudah sampai" kekhawatiran Krystal segera menghilang ketika mereka sampai di depan mall terbesar di kota mereka. Dengan semangat dia menarik Jongin masuk ke mall itu.

"Ayo Jong buruan. Kita mulai misi meng-make over Kim Jongin" Krystal benar-benar excited. Jarang-jarang dia bisa keluyuran di mall saat jam kerja meskipun sekarang adalah pekerjaan juga, tapi lumayan kan bisa sekalian cuci mata di mall.

Seperti yang Krytal katakan tadi misi meng-make over Kim Jongin dimulai. Mereka memasuki toko pakaian satu persatu mencoba mencari pakaian yang menurut Krystal cocok pada Jongin. Jongin sendiri sebenarnya lelah ditarik kesana kemari keluar masuk toko untuk mencoba baju-baju mahal disana. Sebenarnya Jongin suka berbelanja. Tentu saja dia kan wanita. Tapi tidak seperti ini juga, hanya membeli satu pasang baju saja sudah memasuki 5 toko lebih. Sepertinya keputusan Sehun menyuruh Krystal yang menemaninya adalah sebuah kesalahan besar mengingat Krystal yang pada dasarnya memang seorang shopaholic.

"Sudahlah Krys aku lelah, pilih lah satu baju dan ayo segera kembali" Jongin merengek pada Krystal karena sudah tidak kuat lagi menangani Krystal.

"Ah kau tidak asik Jong. Baiklah pilihlah baju yang kau suka. Aku akan memilih sepatu" Krystal akhirnya mengalah melihat Jongin memanyunkan bibirnya imut. Dia menyuruh Jongin memilih baju dan dia sendiri melangkahkan kakinya menuju rak sepatu untuk memilih-milih sepatu yang cocok untuk Jongin.

Jongin yang sudah sangat malas dan lelah segera meraih baju yang berada di dekatnya tanpa melihat model baju itu.

"Aku selesai Krys"

"Eh? Secepat itu?" protes Krystal sambil menyerahkan sebuah sepatu pada seorang pelayan disana. "Tolong ukuran 38 satu pasang" katanya pada pelayan itu.

Setelah membayar belanjaannya tadi Jongin kira mereka akan langsung kembali ke kantor tapi perkiraannya salah besar. Dia sekarang malah berada di salah satu salon dengan beberapa orang pegawai memoles wajahnya dan menata rambutnya. Setelah selesai di dandani Jongin masuk ke kamar mandi salin itu dan mengganti pakaiannya.

Kriiiiing.

Ponsel Krystal berbunyi saat dia menunggu Jongin berganti baju.

"Halo sajangnim?"

"Kalian sudah selesai? Sekarang sudah hampir waktunya aku menemui para investor"

"Sudah sajangnim. Sebentar lagi kami akan segera kembali ke kantor"

"Tidak perlu. Biar aku saja yang kesana sekalian berangkat. Dimana kalian sekarang?" tanya Sehun.

"Di Olympic Mall sir"

"Baiklah tunggu aku di lobby" Sehun memutus sambungan telpon mereka berbarengan dengan Jongin yang keluar dari kamar mandi.

Dan Damn.

Jongin cantik sekali.

Krystal bukanlah seorang lesbian. Duh, dia seratus persen suka lelaki. Tapi melihat Jongin sekarang dia benar-benar terpesona.

Dress polos berwarna cream yang berhenti tepat diatas lututnya ditambah dengan blazer hitam yang elegan benar-benar pas ditubuhnya apalagi dress yang digunakan press body sehingga lebih menekankan bentuk tubunyya yang memang sudah indah menjadi terlihat lebih sexy. Make up natural yang disesuaikan dengan warna kulitnya ditambah rambut halusnya yang terurai dengan sedikit ikal diujungnya menambah kecantikannya.

"Astaga Kim Jongin! Kurasa kau benar-benar akan mencuri posisiku sebagai pegawai tercantik di kantor. Harusnya aku tidak membawamu kesini" mulutnya berkata seperti itu tapi mata Krystal tak henti-hentinya memancarkan sorot kekaguman atas kecantikan Jongin.

"Tenanglah Krystal Jung aku tidak pernah berminat mengambil posisimu itu" balas Jongin santai.

"But seriously Kim you're so fucking pretty"

"Thank you" Jongin tersenyum membalas pujian Krystal.

"Eh kau mau ngapain?" tanya Krystal saat melihat Jongin mencegat taksi.

"Mencari taksi untuk balik ke kantor tentu saja" jawab Jongin.

"Nggak usah habis ini Sajangnim datang kesini. Nah itu dia mobilnya" Krystal spontan menunjuk mobil mewah milik bosnya yang sekarang sedang menuju ke arah mereka.

"Apa? untuk apa dia kesini?" tanya Jongin.

"Katanya sekalian langsung berangkat menemui investor" jelas Krystal membuat Jongin melirik sekilas jam tangannya. Sudah hampir waktunya memang. Mobil mewah Sehun berhenti dihadapan mereka. Sehun menurunkan kaca mobionya dan menatap kedua pegawainya. Atau lebih tepatnya menatap Jongin.

Sehun akui Jongin cantik.

Cantik sekali sebenarnya.

Terkutuklah mulut kurang ajarnya yang mengatakan Jongin tidak layak. Dan lihatlah sekarang mulut yang sama yang mengatakan hal menyakitkan tadi kini berusaha mati-matian untuk tidak menganga melihat Jongin. Untung Sehun memiliki pengendalian diri yang baik sehingga dia bisa menutupi tingkahnya.

"Krystal segeralah kembali ke kantor dan bekerja" perintah Sehun membuat Krystal memasang wajah 'Wtf dude, jadi kau menyuruhku kembali ke kantor sendiri'.

"Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Ti-tidak sajangnim. Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Krystal segera meninggalkan mereka. Sehun kembali mengamati Jongin lagi.

"Apa penampilan saya masih tidak layak sajangnim?"

Jleb.

Jongin bertanya kalem tapi serasa menusuk Sehun. Mengingatkannya pada tingkah kekanak-kanakkannya tadi.

"Tidak. Cepatlah masuk kita bisa terlambat" Sehun mengalihkan pembicaraan dan menyuruh Jongin segera masuk. Yang langsung dipatuhi oleh Jongin.


Pertemuan dengan investor berjalan lancar dan membawa keuntungan besar untuk perusahaan Sehun.

"Apakah kita langsung kembali ke kantor sajangnim?" tanya Jongin.

"Tidak, aku harus menemui seseorang sebentar lagi. Sambil menunggu dia lebih baik kita makan siang dulu" tawar Sehun yang hanya dibalas anggukan oleh Jongin.

Mereka berdua segera pergi ke salah satu cafe disana dan makan siang bersama. Makan siang mereka berjalan hening dan canggung. Sehun sebenarnya merasa tidak nyaman dan ingin mengajak Jongin berbicara tapi dia bingung topik apa yang harus mereka bicarakan.

"Jadi apa kau suka bekerja di perusahaanku?" Sehun akhirnya buka mulut.

"Ne. Saya suka. Pegawai lain sangat baik dan ramah pada saya" jawab Jongin.

"Lalu bagaimana denganku?"

"Maaf?" Jongin memiringkan kepalanya bingung mendengar pertanyaan Sehun. Bagaimana dengannya? Bagaimana apanya?

"Kau bilang pegawai lain baik dan ramah" Jongin mengangguk.

"Lalu bagaimana denganku? Apa aku juga seperti itu?" Sehun menghentikan acara makannya. Dia sekarang menumpukan kedua sikunya di meja dan mencondongkan tubuhnya kedepan. Membuat wajah mereka sangat dekat sekarang.

"Erm itu... " Jongin bingung sekarang. Harus menjawab apa dia kalau sudah begini? Sebelumnya Jongin tidak akan ragu untuk menjawab iya. Tapi mengingat kejadian tadi pagi membuatnya mengurungkan niatnya. Karena ucapan bosnya tadi sangat menyakitinya.

'Ini salah' batin Jongin. Dia harus bersikap profesional. Dia tidak boleh mengikutsertakan perasaan dalam pekerjaannya.

Sehun tau dia sudah melukai perasaan Jongin. Dia salah. Dan dia tau itu. Dia menyesal. Sangat menyesal sebenarnya. Wajah terluka Jongin tadi pagi sukses membuat paginya berantakan. Sepanjang pagi dia terus-terusan teringat wajah Jongin dan rasa bersalahnya semakin menumpuk di hatinya. Apalagi ketika Jongin bertanya 'Apakah aku masih terlihat tidak layak sajangnim?'.

Sehun sendiri bertanya-tanya sejak kapan dia jadi sensitif seperti ini. Hanya karena Jongin yang menghindari sentuhannya dia jadi marah dan membiarkan mulutnya melaju tanpa rem sampai melukai sekertarisnya itu.

"Maaf"

Sehun berujar lirih sembari menegakkan tubuhnya menjauhi Jongin. Jongin sendiri yang tadi menunduk karena menghindari tatapan Sehun langsung mendongak.

"Eh?" Apa Jongin salah dengar? Benarkah tadi Sehun meminta maaf?

"Tadi pagi. Aku tidak bermaksud seperti itu sungguh. Moodku sedang buruk jadi mulutku berbicara tanpa kendali" Sehun berkata pelan penuh penyesalan. Jongin sendiri diam seribu bahasa. Perasaannya campur aduk antara tidak percaya Sehun meminta maaf, bingung mau menjawab apa, dan senang juga -meskipun dia mati-matian mengelak yang satu ini.

"Maukah kau memaafkanku?" tanya Sehun kini menatap Jongin lekat-lekat. Dia kembali mencondongkan badannya lagi. Jongin sendiri seperti merasa tersesat. Tersesat dalam mata hitam menawan milik Oh Sehun.

"Ne" gumam Jongin pelan tanpa dia sadari karena terhipnotis mata indah Sehun.

Mendengar jawaban Jongin membuat ujung bibur Sehun terangkat.

"Wah seingatku kau bilang akan bertemu investor tapi ternyata sedang berkencan"

Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka membuat Jongin menoleh dan Sehun berdecak tidak suka.

"Aku memang bertemu investor Kris" kata Sehun judes pada Kris Wu atau Wu Yifan salah satu pengusaha tersohor di Asia sama seperti Sehun.

"Investor apanya kau jelas sedang makan siang romantis dengan kekasihmu" ucap kris melirik Jongin.

"Dia sekertarisku" jelas Sehun singkat.

"Selamat siang. Kim Jongin imnida" Jongin memperkenalkan diri dan membungkuk sopan kepada Kris.

"Selamat siang nona" kata Kris tersenyum dan mendudukkan badannya di hadapan Sehun. Di kursi Jongin tadi. Yang mau tidak mau membuat Jongin harus berpidah dan duduk di samping Sehun.

Sehun dan Kris mulai bercakap-cakap mengenai bisnis dan perusahaan mereka. Percakapan klasik yang biasa terjadi saat dua pengusaha besar bertemu. Jongin yang menganggur menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas hasil bertemu investor tadi.

"Apa yang kau lihat?" tanya Sehun ketus saat melihat arah pandangan Kris yang tidak bisa lepas dari sekertarisnya yang sedang bekerja.

"Wah hun sekertarismu benar-benar cantik. Apakah kau sudah punya pacar nona?" tanya Kris menggoda Jongin.

"Eh? Belum sir" Jongin menunduk menghindari tatapan Kris. Mendengar jawaban Jongin membuat seringaian Kris mengembang.

"Jangan macam-macam Kris atau kuadukan noonaku kau" ancam Sehun melihat tingkah Kris yang terus-terusan menggoda sekertarisnya.

"Noona anda?" tanya Jongin bingung pada Sehun.

"Dia kakak iparku. Suaminya Joonmyeon noona" Ah suami dari kakak tunggal Oh Sehun, Oh Joonmyeon sekarang sudah berganti marga menjadi Wu Joonmyeon yang seorang designer ternama itu. Jongin mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

"Sayang sekali nona aku sudah menikah. Andai kita bertemu sebelum aku menikah pasti kau sudah kunikahi sekarang" Kris menyeringai kuda melihat wajah terkejut Jongin.

"Seriously Wu Yifan ingatlah anak dan istrimu. Berhentilah besikap seperti ini atau aku akan benar-benar menghajarmu kalau kau melukai noona dan keponakanku" Oke sekarang Sehun benar-benar geram melihat tingkah genit Kris.

"Wow relax bro. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku melukai Suhoku dan putri kecilku Yixing. Lagipula aku bisa di-wushu Tao kalau aku melukai mama kesayangannya itu" Kris mencoba menenangkan Sehun tapi dia tetap menyeringai melihat tingkah Sehun yang menahan diri untuk mematahkan hidungnya.

"Walaupun sekertarismu cantik tapi di mataku hanya Suhoku lah yang paling cantik" Kris berkata sambil tersenyum membayangkan wajah istrinya.

"Dasar menjijikkan" cibir Sehun.

"Hei aku tidak menjijikkan, ini normal. Kau saja yang terlalu lama menduda jadi ini terdengar menjijikkan"

"Ya ya terserahmu ge" balas Sehun malas.

"Tapi serius Hun apakah kau tidak kepikiran untuk menikah lagi?" tanya Kris langsung membuat mood Sehun buruk.

"Aku tidak ingin membahasnya" selalu begini. Ketika membicarakan masalah menikah lagi Sehun selalu mengelak. Tapi Kris tidak akan putus asa kali ini untuk meyakinkan Sehun agar menikah. Dia sudah lelah melihat tingkah Sehun yang seperti duda kesepian. Dan juga karena istrinya yang sudah berulang kali menyuarakan kekhawatirannya tentang adiknya satu-satunya itu.

"Nona Jongin bisakah kau membelikan aku Americano di Starbuck lantai atas?" tanya Kris tiba-tiba, membuat Jongin mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya. Dan alis Sehun mengerut melihat gerak-gerik mencurigakan kakak iparnya itu.

"Kau tau di cafe ini juga menjual Americano Kris ge" kata Sehun dengan mata menyipit penuh kecurigaan.

"Aku hanya menyukai Americano milik Starbuck. Kau bisakan nona Jongin?" tanya Kris lagi sambil tersenyum.

"Iya sir" balas Jongin. Setelah menerima uang dari Kris dia segera beranjak menuju starbuck.

"Apa-apaan kau ge?" tanya Sehun melihat raut wajah Kris berubah serius setelah tersenyum pada Jongin.

"Aku ulangi lagi pertanyaanku lagi Hun. Tidakkah kau pernah berpikir untuk menikah lagi?" Kris bertanya lagi tapi Sehun tak langsung menjawab.

Hening.

"Tidak" Sehun menjawab Kris menghela nafas.

"Oke kau tidak ingin menikah dan punya istri. Tapi bagaimana dengan anak-anakmu? Tidakkah mereka ingin punya ibu?" Kris bertanya lagi dan Sehun bungkam.

Apakah anak-anaknya menginginkan ibu?

"Aku... Tidak tau ge" jawab Sehun pelan.

"Mereka menginginkan seorang ibu Hun"

"Tidak, ralat. Mereka membutuhkan seorang ibu Hun" Sehun tetap diam mendengar ucapan Kris.

"Percayalah padaku . Aku juga memiliki anak. Aku mengerti rasanya"

"Bahkan anak-anakku yang dari bayi bersama ibunya sampai mereka remaja seperti sekarang masih manja dengan mamanya. Demi tuhan mereka bahkan masih tidur di ketiak Suho tiap malam"

"Lalu bagaimana dengan anakmu yang dari dulu tidak punya ibu?"

"Aku tidak tau ge" balas Sehun lirih sambil memikirkan anak-anaknya.

"Kau tau Hun. Kau tau jelas jawabannya. Haowen sejak bayi tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dia membutuhkannya hun. Dan Baekhyun juga, dia bukan lagi anak-anak. Dia remaja sekarang, dia sedang dalam masa labil dan emosinya meledak-ledak. Dia membutuhkan seseorang untuk membimbingnya dan juga tempat meluapkan emosinya yang tidak stabil itu" jelas Kris panjang lebar.

"Aku yang akan membimbing Baekhyun dan menjadi tempatnya meluapkan perasaannya. Aku juga yang akan memberikan kasih sayang pada Haowen" jawab Sehun meyakinkan Kris bahwa dia bisa merawat anak-anaknya sendiri. Atau dia meyakinkan dirinya sendiri? Entahlah.

"Jangan bercanda Hun. Kau sibuk dengan pekerjaanmu. Mereka membutuhkan banyak perhatian dan waktu. Kalau kau hanya mengurusi mereka bagaimana dengan pekerjaanmu? Bagaimana nasib ratusan pekerjamu? Berhentilah bersikap egois" Kris memaki Sehun tanpa tega. Karena ya ampun sungguh dia sudah tidak tahan dengan sikap Sehun.

"Baekhyun sendiri bilang dia tidak ingin dan tidak butuh ibu tiri ge" Sehun terus mengelak tapi tidak seyakin tadi karena jujur sekarang pun dirinya juga bimbang.

"Dia butuh Hun. Dia hanya keras kepala sepertimu. Egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Tapi jauh didalam hatinya dia sangat membutuhkannya"

"Aku tau kau sangat menyayangi Baekhyun. Tapi ada saatnya dia juga membutuhkan seorang ibu. Ada beberapa hal yang kita sebagai ayah tidak bisa lakukan. Entah itu urusan yang hanya wanita tau atau hanya sekedar memilih warna cat kuku atau mengepang rambutnya yang jelas dia butuh sosok ibu yang selalu ada disampingnya" Kris melirik sekilas kearah Jongin yang sudah kembali dan terlihat mematung mendengarkan percakapan mereka.

"Pikirkan baik-baik Hun" katanya terakhir sebelum dia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Jongin yang masih terdiam.

"Maafkan saya sir. Saya tidak bermaksud untuk-"

"Tenanglah Jongin itu bukan apa-apa" Kris berkata ringan sambil tersenyum dan mengambil Americano di tangan Jongin. Dan menunduk hendak berbisik ke telinga Jongin.

"Tolong jaga Sehun untukku" bisik Kris. Menjaga? menjaga dari apa?

"Hun aku duluan. Harus menjemput Yixing dari kelas balet. Berkunjunglah kalau kau punya waktu" pamit Kris lalu melangkah meninggalkan Jongin dan Sehun.

Jongin jadi bingung sendiri sekarang melihat Sehun yang menunduk sambil memijat pelipisnya pusing. Dengan canggung Jongin mendudukkan dirinya di depan Sehun.

"Anda baik-baik saja Sajangnim?" takut-takut Jongin bertanya pada Sehun.

"Menurutmu?" Jongin langsung bungkam mendengar jawaban singkat Sehun. Menjadi sekertaris Sehun selama 2 hari sudah cukup membuat Jongin mengetahui bahwa Sehun sangatlah Moody. Ketika Moodnya baik dia bisa menjadi lelaki paling baik dan manis di dunia. Tapi jika sudah bad mood begini sikapnya bahkan lebih dingin daripada es di kutub utara. Jangan lupa mulutnya yang kadang tidak pakai rem itu.

"Argh" Sehun mengerang sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri memikirkan perkataan Kakak iparnya.

"Kata nenek saya memijat kepala bisa mengurangi pusing" kata Jongin tiba-tiba setelah melihat Sehun yang kepalanya seperti siap meledak kapan pun.

"Kau mau memijat kepalaku?" tanya Sehun sambil mengangkat satu alisnya.

"Kalau anda tidak keberatan"

"Lakukanlah" perintah Sehun singkat. Dia lalu menyandarkan tubuhnya di kursi yang diduduki. Jongin sendiri segera bangkit dan berjalan ke belakang kursi Sehun.

Dengan gugup Jongin mengulurkan tangannya memegang kepala sehun. Mengelus pelan kepala Sehun sambil merapikan rambut Sehun yang berantakan. Lalu memijat kepala dan pelipis Sehun dengan lembut.

Sebut Jongin gila tapi dia benar-benar suka memijat kepala Sehun. Sensasi rambut lembut Sehun ditangannya benar-benar sesuatu. Ditambah wajah Sehun yang sedang menengadah terlihat sangat tenang dengan mata yang terpejam. Dan yang paling penting dalam jarak sedekat ini benar-benar membuat jantung Jongin berdebar-debar.

Sementara Sehun entah mengapa merasa sangat rileks dipijat oleh Jongin. Tangan-tangan Jongin yang dengan lembut memijat kepalanya membuatnya sangat ringan. Dan merasa tidak memiliki beban sama sekali-suatu hal yang sudah tidak pernah dirasakannya beberapa tahun terakhir ini.

Ditengah acara memijat kepala Sehun tiba-tiba Sehun membuka matanya yang langsung bertemu dengan mata Jongin yang sedari tadi memang sedang memperhatikan wajah Sehun. Jingin yang kepergok memandangi Sehun buru-buru mengalihkan pandangannya. Menatap apapun kecuali mata Sehun.

"Jongin?" panggil Sehun.

"Ya?" jawab Jongin masih tidak berani menatap mata Sehun.

"Tataplah mataku ketika aku berbicara padamu Jongin"

"Maaf" kata Jongin lirih sambil menatap mata Sehun malu-malu. Sehun hanya diam dan memperhatikan wajah Jongin lama. Mulai dari mata Jongin yang indah, bibir penuhnya, hidungnya yang mungil, dan rambut Jongin yang menjuntai ke bawah karena kepala Jongin yang memang sedang menunduk. Melihat wajah Jongin entah mengapa membuatnya bahkan jauh lebih tenang lagi.

Setelah puas memandang wajah Jongin sudut bibirnya terangkat tipis dan Sehun kembali memjamkan matanya sambil berkata lirih.

"Terima kasih"

Kau cantik sekali by the way" sambil terus tersenyum tipis. Yang membuat Jongin mau tidak mau juga ikut tersenyum dengan pipi yang merona

.

.

.

.

TBC


A/N :

Yahooo saya kembali lagi~ ini fast update nggak sih? nggak ya? Oke maaf.

Anyway aku seneng banget sama respon yang saya dapet nggak nyangka ff saya bisa kayak gini :') dan maaf saya nggak bisa bales review satu-satu tapi saya seneng banget /pelukcium

Untuk si Nini saya nggak nyangka ternyata hidupnya udah cukup miris padahal saya ngerasa cobaan hidupnya kurang parah. Saya pengennya nyiksa dia lagi :"D /ditabok sehun/ Dan untuk Sehun maafkan dia dan kelabilannya u.u

Chapnya kurang panjang? Aduh maaf saya nggak bias buat panjang-panjang :'3 ini udah panjng menurut saya yg kurang lbh 2.5K words

Dan di chap ini Nini terkesan terlalu lemahkah? Saya pinginnya buat Nini strong dan nggak mudah terpesona sama si Ohseh tapi nggak bisa T.T

Udahlah curhatan saya. RnR yaa~~