WHISPER GREY
Chapter 2
"Pengantin seperti apa yang kau maksud, Jongin?" Baekhyun menatap Jongin dalam. Jongin tidak berkedip dibuatnya.
"Pengantin-" Jongin meyakinkan. Namun dengan nada yang membuat ragu. Setelah itu ia gedikkan bahunya lemah.
'Aku kalah' batinnya.
"Katakan…" Baekhyun berucap.
"Kukira kau-" Jongin kembali terdiam.
Matanya bergerak liar namun lemah. Mencoba mencari kata-kata yang sepadan dengan 'gila' tapi bukan itu.
"Kau kira aku gila?" Baekhyun meliriknya lawak, Jongin terbelalak.
Apaan-apaan pria ini? Ia baru saja menuduh Jongin.
Yang sebenarnya tepat sekali.
"Tadinya, tapi-" Jongin akhirnya menyerah.
Ia yakin Baekhyun gila.
Tadinya.
"Tapi?" Tatapannya kelam. Dan memaksa.
Jongin menggaruk tengkuknya. Ini rumit.
"Tapi, kali pertama kita bertemu tadi. Kau seperti sedang ada masalah.."
Akhirnya ada alasan juga.
Baekhyun tersenyum, sedikit aneh.
"Kenapa kau tak kembali berpikir, bahwa aku gila?" Baekhyun memindahkan matanya dari Jongin ke tali sepatunya yang sekarang berwarna krem burik.
"Jadi kau memang gila?" Jongin semakin tidak jelas. Bernapas saja ia hampir lupa.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Baekhyun terdiam. Ia putar tubuhnya 90 derajat dan berjalan meninggalkan Jongin yang termenung.
Namun Jongin tidak terlalu bodoh untuk membiarkan Si Bacon pergi.
"Bacon!" panggil Jongin lantang. Baekhyun tak mengindahknnya , terus berjalan dengan ritme pelan.
Jongin berhasil menyamai langkah Baekhyun, tangannya terjulur untuk menggenggam lengan Baekhyun yang terjuntai pasrah disamping tubuhnya.
"Maafkan aku karena telah berpikir yang tidak-tidak tentangmu." Dengan itu Baekhyun berhenti, walau tidak menoleh.
"Aku tidak apa-apa." Balas Baekhyun.
"Jadi kau-"
"Aku ikut denganmu." Baekhyun menatap Jongin.
Jongin tersenyum sumringah. Apapun yang ada dipikirannya pastilah sangat kuat sehingga ia telah merengkuh Baekhyun kedalam pelukannya.
"Aku mencintaimu." Gumam Jongin, membuat Baekhyun tertawa pelan didalam pelukan itu. Tangannya melingkar disekitaran pinggang Jongin.
"Aku memang gila, kau tahu?"
Jongin melepaskan pelukan aneh tersebut.
"Berarti aku lebih gila karena telah jatuh cinta dengan cara yang tak lazim dan pada orang yang tak terbaca sepertimu, Baconnie.." Jongin mengacak rambut Baekhyun pelan.
Mereka berdua tersenyum dan bergandengan tangan setelahnya.
Tak pernah terpikirkan oleh Jongin bahwa dia akan jatuh cinta pada seseorang yang akan ia jadikan pasien di rumah sakit tempat ia bekerja. Semua rasa yang bergelung dihati dan pikirannya menyatukan semua perintah untuk mengatakan bahwa ia harus bersama pria yang mengaku bernama Bacon itu.
EXO
Disinilah mereka, Jongin dan Baekhyun berjalan beririgan di lorong rumah sakit, menuju ruangan Kris.
"Kenapa aku sudah bisa menebak bahwa kau akan membawaku kerumah sakit jiwa?" Baekhyun bersuara setelah sekian lama mereka berdiam diri.
Jongin tersentak dan langsung menggeleng.
"Aku hanya ingin mengenalkanmu pada kakakku."
"Kakak?" Baekhyun heran. Ia hanya menaikkan alisnya untuk meminta penjelasan pada Jongin.
Jongin terpaku. Ia hanya diam menatap Baekhyun yang balas menatapnya.
Baekhyun memang sesuatu yang baru di hidup Jongin, dan hal satu-satunya yang dapat membuatnya hanya diam saat mata kelam dan 'sekarang' tak begitu suram itu membalasnya.
"Jongin?" terdengar suara, namun Baekhyun tak terlihat menggerakkan bibirnya. Mereka tetap bertatapan cukup lama hingga sebuah sentuhan dirasakan Jongin dibahu kirinya.
Jongin menoleh enggan, ia berani memukul orang yang sudah mengganggu acara'tatap menatap'nya dengan sang 'Baconnie'.
Namun niatan itu luruh, ketika indranya menangkap Kris, kakaknya lah yang telah mengusiknya.
"Hyung?" kata Jongin. Kris tak membalasnya dan malah menatap Baekhyun, aneh.
Baekhyun hanya tersenyum, selalu tersenyum. Namun ungkapan keramahan itu diartikan lain oleh Kris.
Ia menoleh pada Jongin yang terlihat gelisah.
"Dia-" Kris buka suara. Namun dipotong Jongin.
"Bukan, dia kekasihku." tanggap Jongin.
Kris mendelik kencang.
Bukannnya tadi Jongin akan membawa seseorang yang ia incar sebagai pasien?
Dan seingat Kris, adiknya yang satu ini tidak pernah bercerita tentang cinta. Apalagi kekasih.
Beakhyun masih menjadi perhatian utama Kris saat ini. Dari rambut coklat gelapnya, tatapan dan senyuman aneh, serta-
"Oh, tali sepatumu lepas." Tegur Kris pelan ditujukan pada Baekhyun. Tanpa mengubah ekspresinya, Baekhyun mengangguk dan menggerakkan bibirnya perlahan..
'Jangan katakan.' batin Jongin cemas.
Sekilas, terlihat Baekhyun melirik Jongin dan kembali pada Kris.
Jongin sampai meremat ujung kemejanya saat detik pertama suara Baekhyun menyeruak.
Apabila Baekhyun menjawab Kris seperti apa yang ia lakukan pada Jongin di taman tadi, sudah dipastikan hanya dengan waktu sesingkat mengedipkan mata, Kris, kakaknya itu akan mengurung Baekhyun di salah satu ruangan pasien disini.
Di rumah sakit jiwa.
"Jongin akan mengikatkannya untukku."
EXO
Kris dan Jongin meninggalkan Baekhyun di ruang tunggu runah sakit.
Alasannya adalah, mereka harus menangani seorang pasien. Dan dengan mudah serta senyumnya, Baekhyun menuruti segala permintaan Jongin.
Dan, disinilah Baekhyun. Ruang tunggu.
Disini sepi, cukup tenang dan bersih.
Baekhyun duduk disalah satu bangku, entah apa yang ia pikirkan dengan seringaian nya.
Mungkin karena dengan mudahnya Jongin dan Kris percaya bahwa Baekhyun tertipu. Namun, jangan remehkan bocah gila yang satu ini.
Apa lagi yang akan seorang kakak lakukan saat mengetahui adiknya menjalin hubungan dengan orang yang bahkan status sosialnya dalam masyarakat saja tidak jelas?
Apa mungkin hal itu adalah memeriksa salah satu pasien rumah sakit jiwa bersama?
Kembali ia menyeringai, sekarang terlihat penuh.
"Jika kau bisa merubah cara tatapan kakakmu terhadapku. Maka, dengan senang hati aku akan menyerahkan segalanya untukmu, Kim Jongin."
EXO
"Aku yakin kau tahu harus menjelaskan sesuatu, Kim Jongin?" Mendapati dirinya diintrogasi oleh kakaknya ini, bukanlah sesuatu yang diidamkan Jongin.
Apalagi dengan topik yang sangat sensitif seperti perasaannya terhadap seseorang yang pada awalnya ia anggap gila dan setelahnya ia jatuh cinta padanya dan ingin menjadikannya pasangannya dan-
Begitu banyak kata dan-
Dan sebanyak itu pulalah, Jongin harus menjelaskan.
Semuanya.
"Kurasa aku jatuh cinta padanya, Hyung.." dan ia memang mulai dan harus segera menjelaskan.
"Kau rasa? Berarti kau baru-"
"Iya, aku baru menemuinya tadi. Dan sebenarnya, dialah yang aku kira akan menjadi salah satu pasien disini. Kukira dia gila, Hyung." Jongin sedikit frustasi di akhiran kalimatnya.
Dan dengan jelas Kris tau itu.
"Lalu?" katanya minta penjelasan lanjut.
Jongin menghempaskan tubuhnya pada salah satu sofa disana, ruang kerja Kris.
"Aku cinta dia."
"Kau terdengar yakin Jongin!" suara Kris meninggi namun ia tahan. "Tatapannya aneh.."
"Aku tau!" teriak Jongin. Kris tersentak dan menatap Jongin aneh.
"Biarlah seperti itu, Hyung. Aku suka dia yang seperti itu."
Kris terdiam cukup lama dengan menatap Jongin. Tapi adiknya yang satu itu malah tegap dan balik menatapnya.
"Berhenti menatapku."
"Kau yang menatapku, Hyung."
"Jongin-" Kris menghela napas. "Apa yang terjadi?"
Tatapan kakaknya itu..
Jongin lumpuh.
"Maafkan aku, Hyung. Aku tidak tahu." Dia memeluk kaki Kris.
Kris merendah dan memeluk Jongin.
"Jelaskan padaku, Jongin."
"Aku hanya.. ingin menikahinya."
Sejujurnya Kris tidak mau menghalangi adiknya ini, tapi-
"Siapa namanya?"
"Bacon."
Kris membiarkan perutnya seperti diputar saat menahan amarah.
"Tinggallah bersama dirumah, aku akan memantau sebelum membiarkan kalian menikah."
Putusan final Kris. Jongin tak berhak membantah lagi.
Work In Progress
kayaknya bakalan banyak tanda baca yang hilang.
aneh, padahal udah saya edit
maaf kalau susah dimengerti
