Hexagon

Main Cast : EXO

Genre : GS

"Just by hearing your name makes me feel good

I like you so much, what do I do?"

Chapter 1

Byun Baekhyun, gadis kelas 2 SMP di Seoul, sedang merapikan rambutnya di depan cermin, memastikan penampilannya rapi hari ini. Ia selalu mengusahakan poninya menutupi wajahnya yang menurutnya..yeah..jelek. Matanya yang kecil dan turun membuat setiap penampilannya terasa kurang menarik, karena trend kecantikan di sekolahnya adalah mata bulat dan besar tampak lebih imut dan cantik, tidak seperti Baekhyun.

"Baekhyun-ah! Kyungsoo sudah menunggumu!" teriak ibu dari luar kamar.

"Iya, tunggu sebentar! Aku segera keluar!" jawabnya lalu cepat-cepat memakai sepatu serta mengambil tasnya.

Baekhyun tiba di depan rumahnya, lalu dilihatnya Kyungsoo menghampiri dan tangan Baekhyun langsung ditarik kasar. Kyungsoo berlari, membuat Baekhyun juga ikut berlari mengikuti langkah Kyungsoo. Baekhyun berusaha melepaskan genggaman tangan Kyungsoo.

"Yak! Kau ini apa-apaan, sih?" tanya Baekhyun, menepis tangan Kyungsoo.

"Kau bodoh atau bagaimana? Kau tidak tau sekarang pukul berapa?!" Kyungsoo balik bertanya lalu berlari meninggalkan si sipit itu sendirian.

Baekhyun terbengong, ia melirik jam tangannya. Matanya membulat. "Astaga! Lima belas menit lagi?! Kyungsoo-ya, tunggu aku!" teriak Baekhyun.

Mereka berlari bersama menuju halte bus, beruntung masih keburu memasuki kendaraan besar tersebut. Mereka terengah-engah, berusaha mengatur napasnya. Baekhyun mengeluarkan cermin dari tasnya, mengecek poninya sebelum memasuki sekolah. Sedangkan Kyungsoo, sahabatnya, mengambil sisir lalu mengikat rambutnya seperti ekor kuda.

"Beruntung sekali kita tidak tertinggal bus," ujar Kyungsoo.

"Benar. Tetapi kau membuat rambutku berantakan lagi," protes Baekhyun.

"Harus berapa kali aku katakan padamu? Kau cantik, Baekhyun-ah. Jangan tutupi wajahmu dengan poni sialan itu," kata Kyungsoo dengan nada ketus.

"Kau hanya berusaha menghibur," Baekhyun memanyunkan bibirnya.

Tiba-tiba saja bus berhenti mendadak, membuat kepala Baekhyun membentur kursi penumpang di depannya, dan berakibat juga dengan poninya. "Astaga.." geram Baekhyun.

"Kurasa terjadi sesuatu," Kyungsoo melongok ke luar jendela. Benar saja, sebuah truk menabrak mobil dan sedang ada cekcok mulut sekarang. "Baekhyun-ah, ayo kita turun. Sebaiknya kita berlari, kita bisa terlambat," Kyungsoo langsung bangkit dari tempat duduknya.

"Apa kau sudah gila? Kenapa kita ha.." Baekhyun belum menyelesaikan kata-katanya. "Aw! Yak, Kyungsoo-ya! Aku ikut!" teriaknya setelah Kyungsoo melangkahi tempat duduk Baekhyun dan berlari meninggalkannya.

Astaga, yang benar saja, kenapa aku sangat sial hari ini, batin Baekhyun. Mau tidak mau ia harus berlari agar sampai di sekolah tepat waktu. Tenaganya tidak terlalu kuat seperti Kyungsoo, ia tidak bisa berlari secepat Kyungsoo.

Tinggal beberapa meter lagi, dari kejauhan Baekhyun bisa melihat gerbang sudah ditutup. Ia berlari lebih cepat lagi, ini baru beberapa menit, tetapi sungguh ia tidak sanggup. Ia berusaha untuk sampai di gerbang, namun ia terjatuh dan menabrak Kyungsoo yang entah mengapa berhenti berlari. Kyungsoo tersungkur lalu meringis kesakitan.

"Kyungsoo-ya, kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun dengan nada panik.

Kyungsoo menangkat kepalanya, dagunya berdarah. "Ah, perih sekali," ringisnya.

"Kau berdarah! Haduh, bagaimana ini?!" Baekhyun merangkul Kyungsoo menuju depan pagar.

"Hei, kau! Tunggu di sana sampai dua jam pelajaran, setelah itu baru boleh masuk," kata seorang guru piket.

"Mr. Choi, dia berdarah. Bisakah kami masuk sekarang? Kalau tidak, lukanya bisa infeksi," pinta Baekhyun dengan wajah memelas.

Mr. Choi melihat ke arah Kyungsoo, dagunya memang benar berdarah cukup banyak. Lalu Baekhyun melihat Mr. Choi mengirim pesan suara melalui intercom, memberitahu ada siswi yang terluka untuk segera diobati. Setelah Mr. Choi meembukakan gerbang, tiba-tiba terdengar suara langkah siswa lain juga berlari karena terlambat.

"Yak, kemarin terlambat dan hari ini juga terlambat? Ingat, kau tinggal satu tahun lagi di sini, kau harus lebih disiplin!" tegas Mr. Choi, Baekhyun tidak menghiraukan ocehannya.

"Maaf," jawab siswa itu. Tubuh Baekhyun mematung, ia kenal suara ini.

Kyungsoo menoleh ke arah sumber suara lalu terkekeh dan menatap Baekhyun. "Semoga beruntung!" ujarnya menyemangati.

Petugas kesehatan datang dan membawa Kyungsoo masuk, sedangkan Baekhyun tetap menunggu di luar bersama siswa itu.

Oh Sehun namanya, siswa kelas 3 yang Baekhyun sukai semenjak di sekolah dasar. Baekhyun masuk ke sekolah menengah yang sama dengan Sehun agar tetap bisa bertemu dengan cowok pujaannya itu. Sehun sangat populer dan juga tampan, banyak murid yang menyukai ketampanannya. Tetapi Sehun sangat tertutup dan misterius, ia hanya berteman dengan segelintir orang, membuat Baekhyun benar-benar penasaran. Namun Baekhyun cuma murid biasa yang tidak populer dan nilainya pas-pasan. Hanyalah mimpi untuk bisa mendapatkan Sehun. Jangankan mendapatkan, bertegur sapa juga sepertinya tidak mungkin.

Baekhyun melirik Sehun dari ekor matanya, Sehun sedang bersandar di pagar sambil memakai earphone. Astaga, kenapa Sehun sangat mempesona. Jantung Baekhyun berdegub kencang, bingung harus berbuat apa agar Sehun mau berbicara atau melihatnya sekilas saja. Ia tipe yang sulit ditaklukan, ada ratusan siswi yang menyukainya, bahkan yang paling cantik seperti Minseok pun tidak mampu menarik perhatian Sehun. Baekhyun benar-benar merasa minder.

Baekhyun melirik Sehun lagi, ia sedang mengelap keringatnya. Ah, seksi sekali. Baekhyun hanya bisa menggerutu dalam hati, kenapa sosok Sehun selalu membuatnya mati kutu?! Baekhyun harus bisa berpikir untuk melakukan cara apa saja agar Sehun melihatnya. Baekhyun mengeluarkan botol air dari tasnya, karena Sehun berkeringat dan ia pasti haus. Baekhyun sengaja meminum airnya dengan pose yang..bisa dibilang seperti bintang iklan. Sehun tidak melihatnya.

Mungkin Bekhyun harus menggunakan cara yang lain, berharap dua jam pelajaran bisa membuat Sehun merasa bosan dan mau mengobrol dengannya. Baekhyun mengeluarkan buku catatan, dan berpura-pura belajar. Ia menghapal satu persatu kalimat yang ada di catatannya, kenapa ia malah belajar sungguhan? Bodoh sekali.

Baiklah cara yang ketiga. Baekhyun mengambil kertas not pelajaran seni musik dan memperlajari not-not balok tersebut. Baekhyun mulai bernyanyi, berharap suaranya yang..menurut orang lain..merdu ini bisa menarik perhatian Sehun.

Everyone can see

There's a change in me

They all say I'm not the same

Kid I used to be

Sehun tidak menoleh ataupun melepaskan earphonenya, mungkin Baekhyun harus menyanyi lebih keras lagi.

It's my first love

When I'm dreaming of

When I go to bed

When I lay my head upon my pillow

Don't know what to do

Ya Tuhan, Sehun sama sekali tidak bergeming. Membuat Baekhyun sangat malu, pasalnya beberapa orang yang berlalu-lalang memperhatikannya.

"Hei, kalian! Masuklah, dan potong rumput lapangan sekolah!" perintah Mr. Choi lalu membukakan gerbang.

Sehun berjalan lebih dulu sambil melepaskan earphonenya. Baekhyun hanya bisa memandang punggung Sehun yang mulai menjauh, tanpa menyadari bibirnya masih bernyanyi.

Mirror on the wall

Does he care at at all

Will he ever notice me

Could he ever fall

Ah, sepertinya Baekhyun diacuhkan.

Hexagon

Baekhyun terus memperhatikan Sehun. Sehun sedang memotong rumput-rumput yang sudah panjang dengan alat pemotong, sedangkan Baekhyun membersihkan sisa potongan rumput dengan pengki dan sapu lidi. Lapangan ini cukup luas untuk membuat Baekhyun hampir mati. Ia sangat kelelahan, tetapi masih ada beberapa meter lagi luas lapangan yang harus di bersihkan. Dan Sehun? Ia sudah hampir selesai dengan pekerjaannya.

Benar saja, Baekhyun masih di tengah lapangan, dan Sehun duduk di pinggir lapangan sambil menikmati minuman dingin. Sabar Baekhyun-ah, tinggal beberapa lagi, sabarlah, bantinnya. Baekhyun melanjutkan tugasnya, tinggal sedikit lagi.

Sehun sudah di perbolehkan masuk saat Baekhyun selesai dengan pekerjaannya. Ia butuh istirahat sejenak, air minumnya sudah habis, sepertinya ia harus membeli minum sekarang. Tepat saat ia mengangkat tasnya, satu botol jus jeruk menggelinding ke kakinya. Siapa yang meninggalkan minuman di lapangan? Baekhyun memungutnya, masih dingin. Mungkinkah ini milik Sehun? Haruskah ia mengembalikannya? Ah, tetapi ia sangat haus sekarang.

Sehun oppa, maaf aku menghabiskan minumanmu, ujar Baekhyun dalam hati.

Baekhyun membuka tutup botolnya, lalu air jeruk yang dingin yang segar membasuh tenggorokannya. Rasanya enak sekali. Setelah menghabiskan minumannya, Baekhyun hendak berjalan memasuki kelasnya, tetapi ia melangkah mundur dan berbelok ke sebelah kiri, arah UKS.

Baekhyun membuka pintu UKS dan mendapati Kyungsoo sedang berbaring dengan perban di dagunya. Kyungsoo sadar akan kehadiran Baekhyun, ia menoleh lalu tersenyum pada sahabatnya.

"Aku tau kau pasti datang," kata Kyungsoo.

Baekhyun mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidur Kyungsoo. "Maaf, aku tidak sengaja. Apakah lukamu sangat sakit?" tanya Baekhyun.

"Tidak terlalu, satu minggu juga akan sembuh," jawabnya. "Bagaimana tadi?"

"Bagaimana apanya?" Baekhyun tidak mengerti.

"Oh Sehun. Apa yang terjadi? Kau terlihat berkeringat."

"Eh, tadi itu.. Aku mencoba menarik perhatiannya, tetapi ia sama sekali tidak merespon."

"Lalu?"

"Mr. Choi menyuruh aku dan Sehun untuk memotong rumput di lapangan."

"Benarkah? Ah, teruskan ceritamu!" Kyungsoo bersemangat untuk mendengar yang terjadi tadi.

"Aku hendak mengobrol dengannya, sekedar menanyakan 'kau ingin memotong atau membersihkan' tetapi ia langsung mengambil alat pemotong. Kurasa cukup, aku dan dia tidak bicara apa pun."

"Dan, kau membeli jus jeruk tanpa membaginya denganku?" tanya Kyungsoo.

Ah, iya! Baekhyun lupa yang satu ini. "Aish aku lupa. Jadi begini," ia bingung ingin memulai dari mana. "setelah tugasku selesai, aku mengeluarkan botol air tetapi isinya sudah habis. Saat aku hendak mengangkat tas, tiba-tiba satu botol jus jeruk menggelinding di balik tasku. Masih dingin," jelasnya.

"Mungkinkah Sehun tidak sengaja meninggalkannya?" Kyungsoo menerka-nerka.

"Aku juga berpikir begitu," kata Baekhyun.

"Tapi, kenapa kau habiskan?! Bodoh sekali," tukas Kyungsoo sambil memukul pelan bahu Baekhyun.

"Aku sangat haus, kau tau," Baekhyun membela diri.

"Eh, sebentar. Mungkin saja Sehun meninggalkannya untukmu. Minuman ini menggelinding dari balik tasmu, benar kan?" tanya si mata doe. "Tetapi kemungkinannya kecil, mengingat bagaimana sifatnya," Kyungsoo menarik kata-katanya.

"Ya, kau benar. Tidak mungkin," Baekhyun meletakkan kepalanya di pinggir tempat tidur. "Kurasa, aku bisa mengobrol dengannya," senyum Baekhyun mengembang.

"Caranya?" tanya Kyungsoo.

"Mengganti minumannya,"

"Ide bagus!"

Hexagon

Setibanya jam makan siang, Baekhyun cepat-cepat ke mesin minuman, memilih jus yang sama untuk Sehun. Ia dan Kyungsoo segera berlari menuju kelas Sehun, murid perempuan sudah mengumpul di sana. Ini pemandangan biasa, karena di kelas tersebut ada tiga murid laki-laki terpopuler di sekolah. Murid perempuan berteriak histeris, memanggil nama mereka. Benar saja, mereka keluar dari kelas.

Oh Sehun, si paling tampan. Kim Jongin, dancer terbaik, Kyungsoo sangat menggilainya. Dan Park Chanyeol, si gitaris nomor satu.

Baekhyun bisa merasakan genggaman tangan Kyungsoo sangat erat di lengannya. "Yak, Kyungsoo-ya! Jangan memegangku seperti itu!" protes Baekhyun.

"Astaga, itu Jongin sunbae!" bisik Kyungsoo. "cepat, Oh Sehun sebentar lagi ke sini."

Baekhyun dan Kyungsoo berdiri di balik tembok yang mengarah ke kantin, berharap saat Sehun berbelok, ia akan melihat kehadiran dua makluk mungil tersebut. Namun sebelum itu, si paling cantik datang.

"Ah, lagi-lagi dia," cibir Kyungsoo. "kenapa dia selalu merebut perhtian semua orang?!"

Kyungsoo dan Baekhyun bisa melihat dengan jelas gelagat si cantik Kim Minseok. Banyak murid yang menyukainya karena parasnya yang sangat cantik, dan yeah dia memang cantik. Hanya dia satu-satunya murid perempuan yang beberapa kali digubris oleh Sehun.

"Sehun-ah, apa kau akan makan siang?" tanya Minseok.

"Hmm," jawab Sehun singkat.

"Aku membuatkan sesuatu. Apa kau suka pasta? Aku menambahkan banyak keju di dalamnya, aku membuat ini dengan susah payah," jelasnya sambil menyodorkan kotak makan pada Sehun.

"Aku alergi keju," kata Sehun.

"Haha! Tamatlah riwayatmu, Minseok," kata Kyungsoo dengan nada yang sangat pelan, tetapi Baekhyun bisa mendengarnya.

"Ah, begitu ya? Baiklah, tidak apa. Aku akan membuatnya lagi tanpa keju. Semoga makan siangmu menyenangkan!" pamitnya lalu pergi dengan langkah cepat.

Sehun bersama teman-temannya mulai berjalan ke arah kantin. Kyungsoo menyuruh Baekhyun untuk bersiap-siap, sedangkan Baekhyun bingung dengan apa yang akan di katakannya pada Sehun. Suara langkah mereka semakin dekat, dekat, mendekat, dan..

"Hai, Do Kyungsoo. Kau tampak cantik dengan perban itu," kata seseorang, Baekhyun tidak bisa melihatnya karena ia menundukkan kepalanya, ia sangat malu. Tanpa Baekhyun sadari, ada sepasang mata yang sedang menatapnya.

"Hah? Benarkah? Ah, terimakasih," jawab Kyungsoo sambil meremas seragam Baekhyun di bagian punggung, itu pasti Kim Jongin.

"Kau dan temanmu akan makan siang?" tanya Jongin.

"Y-ya, tentu, hehe" Kyungsoo terdengar canggung.

"Kalau begitu, kami duluan, dah," pamit Jongin.

"Oh ok, dah," Kyungsoo melepaskan remasannya di seragam Baekhyun, lalu menarik tangan Baekhyun menjauh dari kerumunan. "Yak, Baekhyun-ah!" bentaknya.

Baekhyun duduk di tangga, menutupi wajahnya dengan botol jus jeruk. "Aku sangat gugup, sungguh aku benar-benar gugup."

"Padahal ia sudah di depanmu! Kalau begitu, tadi aku saja yang memberikannya pada Sehun,"

"Ah, jangan! Kau jangan mencuri kesempatanku," protes Baekhyun.

"Kau harus memberikannya. Nanti sore Sehun ada ekstrakulikuler olahraga,"

"I-iya, aku tau,"

Hexagon

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Baekhyun dan Kyungsoo belum pulang karena misi yang harus di selesaikan. Mereka berdua duduk di pinggir lapangan sepak bola bersama murid lainnya, menunggu tim Sehun selesai bermain. Kyungsoo tak henti-hentinya memuji Jongin, yang ia sukai sejak awal masuk sekolah menengah.

Pluit berbunyi, tanda permainan sudah selesai. Murid laki-laki mulai mengambil barang-barang mereka dan berjalan keluar lapangan. Kyungsoo bisa melihat Jongin yang berjalan ke arahnya, ah pria pujaannya. Semu merah mulai muncul di kedua pipinya.

"Hai, kau lagi," sapa Jongin.

"Hai juga, bagaimana latihamu?" tanya Kyungsoo.

"Seperti yang kau lihat, aku ha..." jawabnya yang di potong oleh seseorang.

"Jongin-ah, kutunggu kau di ruang ganti. Aku tak tahan ingin buang air kecil," kata seseorang, Park Chanyeol.

"Ok," balas Jongin. "tadi sampai mana? Ah iya, aku hampir terjatuh karena kaki jenjangnya Chanyeol."

"Iya, aku melihatnya," kata Kyungsoo.

"Kau sendirian?" tanya Jongin.

"Tidak, aku bersama Baek..." Kyungsoo menyadari sesuatu. "di mana Baekhyun? Tadi aku bersamanya."

Hexagon

Baekhyun berjalan keluar dari sebuah ruangan, ruang ganti para siswa. Perasaannya sedikit lega sekarang, ia menaruh botol jus jeruk di sebelah tas Sehun dengan secarik kertas. Menyelinap di ruang ganti lebih mudah daripada berhadapan dengan Oh Sehun, bagi Baekhyun.

"Ah," lenguh Baekhyun saat seseorang menabraknya hingga terjatuh.

"Oh, kau temannya Kyungsoo. Maaf aku tidak mengaja," kata orang itu, membantu Baekhyun berdiri.

Baekhyun mengangkat kepalanya, itu Park Chanyeol. "Tidak apa, aku permisi dulu."

Baekhyun hampir sampai di lapangan tempat ia dan Kyungsoo tadi duduk, tetapi Kyungsoo tidak ada di sana. Mungkinkah Kyungsoo sudah pulang? Baekhyun meninggalkannya cukup lama tadi. Baekhyun berkeliling mencari Kyungsoo, sekolah ini cukup luas untuk mempersulit Baekhyun.

Plak!

"Aw!" ringis Baekhyun, lengannya terasa sakit.

"Ke mana saja kau?! Aku mencarimu, kau tau!" Kyungsoo terdengar marah.

"Maafkan aku," jawab Baekhyun.

"Bagaimana dengan bo.." Kyungsoo melihat tangan Baekhyun. "kau sudah memberikannya?"

"S-sudah,"

"Kapan?"

"Tadi,"

"Aku tidak melihatmu,"

"Aku menaruhnya di ruang ganti,"

Mata Kyungsoo melebar. "Kau menyelinap ke ruang ganti? Astaga!"

"Apakah aku salah?" tanya Baekhyun.

"Tidak juga. Setidaknya kau sudah memberikannya secara tidak langsung," jawab Kyungsoo. "ayo kita pulang."

Hexagon

Baekhyun merebahkan tubuhnya di tempat tidur, hari ini hari yang panjang. Baekhyun membayangkan reaksi apa yang akan diberikan Sehun setelah menerima jus darinya. Bayangan tentang Sehun membuatnya sedikit takut. Bagaimana kalau Sehun beranggapan buruk tentang dirinya? Apakah cara yang Baekhyun lakukan sudah benar? Pikirannya kalang kabut sekarang. Sebaiknya ia tidur, semakin cepat tidur maka akan semakin cepat Baekhyun mengetahui jawabannya.

Hexagon

Pagi ini Baekhyun berangkat bersama Kyungsoo seperti biasanya. Hari ini mereka tidak akan terlambat, karena Baekhyun tidak mengulur banyak waktu untuk merapikan rambutnya. Sesampainya mereka di gerbang sekolah, Baekhyun bisa melihat Sehun di tengah lapangan yang sedang berjalan sendirian dengan banyak perhatian dari murid perempuan di sekelilingnya. Lalu dari belakang Baekhyun bisa merasakan seseorang berlari cepat ke arah Sehun dan merangkulnya akrab, itu Park Chanyeol. Ah andai saja Baekhyun seorang pria.

"Selamat pagi. Hai selamat pagi. Iya selamat pagi, Minseok. Hai Kyungsoo, selamat pagi," sapa Jongin dengan ramah pada murid-murid perempuan.

"Selamat pagi juga, Jongin sunbae," balas Kyungsoo, Jongin melambai padanya lalu pergi. "Jongin sunbae menyapaku!" bisik Kyungsoo.

"Ya ya ya. Kau membuatku iri," kata Baeknyun. Ia memang sangat iri dengan Kyungsoo, sahabatnya bisa mendapat perhatian dari si pangeran hati. Sedangkan Baekhyun? Tidak perlu ditanya.

Baekhyun tetap memandangi punggung Sehun yang berjalan dengan teman-temannya. Lalu salah satu dari mereka menoleh ke belakang, ke arah Baekhyun, si jangkung Park Chanyeol. Kenapa malah Chanyeol? Padahal Baekhyun berharap Sehun yang menoleh. Ia hanya bisa mendengus dalam hati.

Jam pelajaran dimulai, Baekhyun ingat akan sesuatu. Buku pelajarannya tidak ada di dalam tas. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya, berharap buku itu terselip. Dahinya mulai berkeringat, Kyungsoo yang sadar dengan gegabahnya Baekhyun pun langsung menoleh.

"Kau ini kenapa?" tanyanya.

"Buku sains-ku tidak ada!" bisiknya pelan.

"Bukankah kau menaruhnya di loker?"

"Ah iya! Terimakasih sudah mengingatkan, aku ambil bukuku dulu," Baekhyun bangkit dari kursi dan maju ke depan, meminta ijin dari guru mata pelajaran untuk mengambil bukunya.

Baekhyun berjalan keluar kelas, ia mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal materi yang hari ini akan diajarkan. Suara sepatu Baekhyun terdengar jelas. Saat ia hendak berbelok menuju lokernya, tiba-tiba saja Chanyeol berlari dan hampir menabraknya.

"Kau lagi, senang bertemu denganmu," sapanya sambil membungkuk lalu pergi setelah Baekhyun juga membungkuk.

Kenapa ia lebih sering bertemu saat Chanyeol sedang berlari? Atau Chanyeol memang suka berlari? Entahlah. Bisa saja karena kakinya yang panjang membuat langkahnya terlihat seperti berlari.

Baekhyun sampai di depan loker miliknya, ia membukanya dan mengambil buku sains. Baekhyun menutup pintu lokernya, tetapi ia melihat sesuatu. Baekhyun membukanya lagi, ada permen yang ditempel dengan selotip di dalam pintu loker. Baekhyun melepaskan permen itu, di baliknya ada label yang tertempel dengan pesan.

"Go..ma...wo?" ejanya. Lalu Baekhyun membaca tiga huruf alphabet di bawahnya.

OSH

Tubuh Baekhyun langsung kaku. OSH? Oh Se Hun? Benarkah ini Oh Sehun? Apakah itu berarti Sehun sudah menerima jus jeruknya?

"Kyaa!" Baekhyun jingkrak-jingkrak senang.

Ia cepat-cepat kembali menuju kelas. Ia tidak tau ada seseorang yang sedang tersenyum.

Hexagon

"Sungguh?!" tanya Kyungsoo dengan nada terkejut.

"Coba kau pikirkan, siapa lagi orang dengan inisial OSH yang berurusan denganku akhir-akhir ini?" tantang Baekhyun, ia yakin Sehun yang memberikan permen ini.

"Akhirnya ia memperhatikanmu!" Kyungsoo mengacak-ngacak rambut Baekhyun dengan penuh semangat.

"Yak, kau! Jangan lakukan itu!" kata Baekhyun sambil menepis tangan Kyungsoo.

"Sekarang kita tinggal melihat bagaimana perkembangan usahamu pada Sehun sunbae," kata Kyungsoo yakin.

"Tetapi, aku agak ragu. Sangat mustahil orang seperti dia mau bicara denganku,"

"Apa-apaan kau mundur sebelum berperang. Kau harus optimis, Baekhyun-ah,"

"Ne, kurasa kau benar."

Hexagon

Beberapa minggu berlalu, kekaguman Kyungsoo pada Jongin selalu mengalami kemajuan, bahkan mereka sudah berpacaran. Baekhyun ingat jelas bagaimana raut wajah Kyungsoo saat menceritakan saat Jongin meminta Kyungsoo untuk menjadi kekasihnya. Dan kini karena kepopuleran Jongin membuat nama Kyungsoo menjadi lebih dikenal. Tidak dengan Baekhyun, setelah kejadian permen di lokernya, tidak ada tanda-tanda Sehun semakin meresponnya.

Baekhyun duduk disebelah Kyungsoo sekarang, menyantap makan siang bersama. Lalu Jongin datang menyapa Kyungsoo. "Hai, Kyungsoo-ya," sapanya.

"Oh hai. Kau tidak bersama temanmu?" tanya Kyungsoo.

"Tidak, aku sedang ingin makan bersamamu," jawabnya.

"Ah kau ini," balas Kyungsoo dengan malu-malu.

Baekhyun sibuk dengan makan siangnya, sedangkan Kyungsoo sibuk bersayang-sayangan dengan kekasih barunya itu. Membuat Baekhyun seperti obat nyamuk. Baekhyun hanya bisa berharap Kyungsoo akan mengerti bahwa Baekhyun merasa risih berada di tengah-tengah orang yang sedang dimabuk cinta.

Usai makan siang selesai, Kyungsoo dan Baekhyun kembali ke kelas. Kyungsoo terus tersenyum, merasakan indahnya hari bersama Jongin Bagaimana dengan Baekhyun? Yah bisa ditebak.

Hexagon

Semenjak Kyungsoo mempunyai kekasih, ia menjadi lebih sering membicarakan tentang apa saja yang ia lakukan dengan Jongin, ketimbang mendengarkan curhatan Baekhyun tentang Sehun. Baekhyun yang kini sedang berjalan sendirian tanpa Kyungsoo menuju rumahnya pun merasa harus terus terang pada Kyungsoo. Ia tidak bisa berlama-lama seperti ini.

Esoknya saat Kyungsoo datang menjemput Baekhyun untuk berangkat sekolah bersama, Baekhyun berusaha untuk mengacuhkan Kyungsoo. Ia merasa kesal dengan Kyungsoo.

"Baekhyun-ah, kau ini kenapa sih?" tanya Kyungsoo.

"Harusnya aku yang bertanya, kau ini kenapa? Kenapa semenjak kau berpacaran dengan Jongin, kau jadi lebih menghabiskan banyak waktu bersamanya? Kau tau kan kalau sahabatku hanya ada satu? Hanya kau!" kata Baekhyun dengan penuh penekanan.

"Baekhyun-ah, aku tidak bermaksud meninggalkanmu,"

"Lalu apa? Aku merasa sendirian, apa kau tau?"

"Baekhyun-ah, maafkan aku," Kyungsoo memeluk Baekhyun. "aku sangat menyukai Jongin, aku tidak sadar bahwa sahabatku juga membutuhkanku."

"Aku juga sangat menyukai Sehun..." lirih Baekhyun.

"Tenang saja, aku akan membantumu," ujar Kyungsoo yakin.

Baekhyun mengangguk, berharap bahwa Kyungsoo akan menepatinya.

Hexagon

Kekecewaan muncul di dalam hati Baekhyun. Lagi-lagi Kyungsoo melupakannya lalu duduk bergabung dengan Jongin, Chanyeol, dan tentu saja Sehun. Baekhyun harus makan siang sendirian lagi, ia merasa sangat sedih.

Dengan tenggorokan yang terasa pahit, Baekhyun tetap berusaha menelan makanannya dan kekesalan hatinya. Keraguan muncul dalam diri Baekhyun, apa benar Kyungsoo adalah sahabatnya? Mereka memang belum terlalu lama bersahabat. Baekhyun dan Kyungsoo mulai bersahabat ketika awal masuk sekolah menengah, mereka sudah saling mengenal dekat tetapi kenapa hanya bertahan sebentar? Padahal ia berharap bisa bersama Kyungsoo selamanya. Kenyataannya sekarang Kyungsoo asik bersama orang lain.

Sesampainya di kelas setelah makan siang, Baekhyun mengacuhkan Kyungsoo lagi. Ia berpura-pura mengantuk agar Kyungsoo tidak mengganggunya hingga pulang sekolah. Sedangkan Kyungsoo mulai menyadari bahwa dirinya diacuhkan oleh Baekhyun, ia pun juga merasa tidak suka dengan sifat Baekhyun yang menurutnya terlalu kekanakan.

Baekhyun sama sekali tidak berbicara dengan Kyungsoo hingga si mata doe itu mengalah dan mencoba menegur Baekhyun. "Baekhyun-ah," panggilnya, Baekhyun tidak menjawab.

"Baekhyun-ah," panggilnya lagi. "Si Jelek Byun Baekhyun!"

"YAK!" jawab Baekhyun dengan nada tinggi.

"Aku tidak suka kau mengacuhkanku seperti itu!" ujar Kyungsoo berterus terang.

"Bercerminlah, Do Kyungsoo!" balas Baekhyun.

"Baiklah, ini pasti karena aku bergabung dengan Sehun 'kan? Tetapi kau tidak tau bahwa aku membicarakanmu di depan Sehun!"

Baekhyun diam. "Benarkah?"

"Tentu saja! Jangan berpikir negatif dengan tindakanku itu, aku tidak mungkin sengaja meninggalkanmu,"

"Ah, terimakasih Kyungsoo-ya!" kata Baekhyun lalu memeluk Kyungsoo dengan erat.

Hexagon

Hari ini Baekhyun makan siang sendirian lagi, bukan kerena Kyungsoo mengacuhkannya. Kyungsoo tidak masuk sekolah, dan hal itu membuat Baekhyun makin merasa kesepian. Di tengah lamunannya sambil mengunyah makan siangnya, tiba-tiba seseorang menaruh nampan dan duduk tepat di hadapannya. Baekhyun mengangkat kepalanya, melihat siapa orang itu.

"Baekhyun-ah, kau sendirian?" tanya orang itu.

"Oh kau. I-iya, Jongin sunbae," jawab Baekhyun sedikit gugup, karena ia tau sedang berhadapan dengan siapa.

"Jongin saja. Sedari tadi aku tidak melihatnya. Apa kau berangkat bersamanya?" tanya Jongin lagi.

"Tidak, hari ini dia tidak masuk,"

"Oh ya? Kenapa?"

"Di sini kau rupanya..." kata seseorang yang mengambil tempat duduk di

sebelah Jongin.

Baekhyun melihat orang itu, ah itu Chanyeol dan...Sehun? Dan kini Sehun duduk di sebelah Baekhyun?

Astaga, mendadak wajah Baekhyun pucat pasi. Haduh, bagaimana ini? Jantung Baekhyung berdetak sangat cepat. Ini pertama kalinya Baekhyun berada di sekitar Sehun dengan jarak yang sangat dekat. Apa yang harus Baekhyun lakukan? Makan siang bersebelahan dengan Sehun? Ia benar-benar gugup. Apakah Baekhyun harus bersikap seperti biasa? Tolong aku!

"Baekhyun-ah?"

"Eh..?"

"Kau melamun?" tanya Jongin sambil menatap Baekhyun dengan intens.

"Ah, t-tidak. Maaf, tadi apa?"

"Kenapa Kyungsoo tidak masuk?" Jongin mengulang pertanyaannya.

"Lehernya sakit karena posisi tidur yang salah, jadi ia tidak masuk hari ini," jawab Baekhyun, memfokuskan dirinya pada pertanyaan Jongin.

"Oh begitu," gumam Jongin. "kudengar dari Kyungsoo, kau dan dia berteman baik."

"I-iya, aku dan dia sangat dekat,"

"Sangat dekat seperti apa?"

"Maksudmu?" Baekhyun sedikit canggung.

"Apakah seperti aku dengan Chanyeol dan Sehun? Biasanya kami akan menginap di rumah Sehun untuk menemaninya, lalu bertukar celana dalam. Asal kau tau, celana dalam Sehun sangat nyaman dipakai," oceh Jongin sambil terkekeh.

"Ya, itu benar sekali," tambah Chanyeol.

Baekhyun hanya tertawa kecil menunggu reaksi dari Sehun. Tapi sepertinya Sehun tidak ingin menanggapinya.

"Bagaimana denganmu?" tanya Jongin pada Baekhyun.

"Aku juga terkadang menginap di rumah Kyungsoo, atau Kyungsoo yang menginap di rumahku. Lalu kami bermain monopoli sampai larut malam," jawab Baekhyun.

"Memangnya menyenangkan hanya bermain berdua?" tanya Chanyeol.

"Karena dia teman baikku, jadi...menurutku tetap menyenangkan,"

"Aku selesai," tiba-tiba Sehun membuka suara, membuat Baekhyun langsung diam. "aku ingin kembali ke kelas."

"Yak, aku belum selesai!" protes Chanyeol.

"Biar aku saja yang ke kelas bersama Sehun. Kau habiskan makan siangmu dan temani Baekhyun," perintah Jongin.

"Haish, baiklah," balas Chanyeol.

"Baekhyun-ah, senang mengobrol denganmu. Sampai nanti," pamit Jongin.

"B-baik, sampai nanti," balas Baekhyun sambil sesekali melirik Sehun. Ah, mempesona sekali!

Hening

Tidak ada percakapan antara Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun hanya fokus dengan makan siangnya, sedangkan Chanyeol beberapa kali membalas murid-murid perempuan yang menyapanya. Orang-orang populer memang selalu seperti itu, dikenal banyak orang. Baekhyun melirik ke arah Chanyeol, sedekar ingin tau apa yang sedang dilakukan pria itu. Apakah ia hampir selesai atau belum. Namun lirikan Baekhyun berakibat dengan mata mereka berdua yang bertemu, saling menatap tanpa sengaja.

"Ah, maaf," kata Baekhyun.

"Tidak apa," jawab Chanyeol sambil tersenyum.

"Chanyeol sunbae," panggilnya.

"Tidak perlu seformal itu. Ada apa?"

"Bolehkah aku bertanya?"

"Tentu,"

"Apakah Sehun sunbae selalu seperti itu?" tanya Baekhyun.

"Maksudmu?"

"Apakah ia selalu diam? Maksudku, selama ini yang kulihat ia tidak banyak bicara dan jarang berinteraksi dengan orang lain," jelas Baekhyun.

"Hmm itu ya?" Chanyeol terlihat seperti sedang berpikir. "sulit untuk menjelaskan bagaimana karakternya. Dia memang seperti itu, tidak terlalu terbuka, tetapi aku berusaha memahami. Pasti akan sulit bagi orang lain yang mencoba akrab dengannya. Namun kalau kau penasaran padanya, saranku kau harus bersikap biasa saja. Jangan tunjukkan rasa ingin tau-mu,"

"Begitu ya, terima kasih,"

"Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kelas," kata Chanyeol lalu bangkit berdiri. "sampai nanti."

"Baiklah, sampai nanti," balas Baekhyun sambil tersenyum kecil.

Entah mengapa perasaan Baekhyun menjadi tidak tenang. Rasa penasaran tentang Sehun semakin kuat, Baekhyun merasa harus mendapat informasi untuk meredakan keingintahuan yang seakan tidak bisa dikendalikan. Chanyeol yang dekat dengan Sehun pun sepertinya kurang bisa memahami karakter Sehun. Ah kenapa seorang Oh Sehun penuh dengan misteri!

Mendadak nafsu makannya hilang, tetapi Baekhyun harus menghabiskan makan siangnya agar tidak terkena hukuman mencuci peralatan makan. Jam makan siang masih banyak, sepertinya Baekhyun harus makan sedikit demi sedikit hingga bel pelajaran dimulai.

Hexagon

"Baekhyun-ah!" panggil seseorang dari luar, itu suara Kyungsoo.

Baekhyun cepat-cepat memasukkan pakaian olahraganya ke dalam tas dan langsung menuruni tangga. "Appa, eomma, aku berangkat dulu!" pamitnya. Dengan tergesa-gesa Baekhyun memakai sepatun dan segera keluar dari pintu rumahnya.

"Selamat pagi," sapa sahabatnya.

"Selamat pagi. Lehermu sudah sembuh?" tanya Baekhyun.

"Belum, tetapi sudah lebih baik dari yang kemarin," jawab Kyungsoo. "Bagaimana harimu kemarin? Membosankan?"

"Sangat," Baekhyun mengingat-ngingat apa saja yang ia lalui kemarin. "Oh ya, kemarin Jongin sunbae menanyakanmu."

"Lalu?"

"Aku bilang padanya bahwa lehermu sakit sehingga kau tidak masuk, dan...ah itu adalah saat-saat paling menegangkan dalam hidupku."

"Memangnya kenapa?"

"S-Sehun..dia duduk di sebelahku. Aahh aku sangat malu!"

Kyungsoo terkekeh melihat sahabatnya yang tersipu. "Bukankah itu kemajuan besar?"

"Sepertinya begitu. Aku juga mendengar dari Jongin kalau mereka suka bertukar celana dalam dan milik Sehun sangat nyaman."

"Benarkah? Ah kekasihku sangat memalukan."

"Tetapi kau tetap suka 'kan?" goda Baekhyun yang berhasil membuat pipi Kyungsoo merona.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Baekhyun menceritakan apa saja yang dikatakan Chanyeol padanya dan mendiskusikan hal tersebut dengan Kyungsoo. Kyungsoo menyarankan banyak masukan untuk membantu jika Baekhyun akan berhadapan dengan Oh Sehun.

Mereka turun dari bus dan langsung disambut oleh Jongin yang kebetulan berpapasan dengan Kyungsoo. Jongin menanyakan keadaan Kyungsoo dan lain-lain, sangat perhatian. Kapan Baekhyun bisa seperti Kyungsoo? Ia sangat cemburu melihat sahabatnya bisa mendapatkan orang yang disukai. Mungkin karena faktor Kyungsoo adalah orang yang murah senyum dan mudah berteman.

Baekhyun hanya bisa menatap punggung Kyungsoo dan Jongin yang semakin menjauh di matanya, tanpa menyadari ada bola yang melayang dengan kecepatan tinggi hendak menghantam kepala Baekhyun dan..

BUK !

ADUH !

Kepalanya terasa pusing, berdenyut, pandangannya buram, pendengarannya terasa samar. Tubuhnya mulai hilang keseimbangan dan Baekhyun bisa merasakan ada tubuh yang menangkapnya saat ia hampir terjatuh. Baekhyun berusaha memfokusnya pengelihatannya dan ia mencoba menatap orang yang kini membantunya berdiri.

"Terimaka..O-Oh Sehun?"

TBC