Maaf minna jika terlambat publish karena flasdishknya hilang. Heheehe

Maaf jika cerita ini sama dengan random lain tapi ini murni pemikiran saya

Cerita ini terinspirasi dari begitu salah begitu benarnya dewi dewi

Terima kasih atas review kalian semua.

Daripada saya banyak ngemeng ;ebih baik baca langsung aja

checkidot

Chapter 2

Naruto menatap ke luar jendela kantornya. Pandangannya lurus kearah jalan tapi pikirannya melayang entah kemana.

Cklek..

Suara pintu terbuka membuat lamunnya berhenti. Tatapannya tertuju kearah pintu, seorang pemuda berambut emo hitam berkulit putih masuk keruang Naruto.

"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu teme" suara protes Naruto cuman dianggap angina lalu yang di panggil teme oleh Naruto.

"Hm"

"cih..ada apa kau kemari ?"

"Cuman ingin menemui sahabat lama" Naruto tak menggubris ucapan pemuda emo itu. Tatapannya kembali kearah jalan di luar.

"Apa yang kau pikirkan dobe? Biasanya kau terlalu malas untuk berfikir"

"Sasuke, kenapa berlaku adil itu susah" pemuda emo itu terhenyak jika sahabatnya telah memanggil namanya berarti dia tengah serius.

"Hm..apa kau merasa tak adil dengan ketiga istrimu?" Sasuke tidak menjawab malah kembali bertanya.

"Entahlah aku juga tak tau, aku merasa menyakiti Hinata jika aku bersama dengan kedua istriku dan aku tak mau melakukan itu"

"ceraikan saja kedua istrimu dan hiduplah dengan tenang dengan Hinata." Jawab Sasuke santai

"Cih, enak benar ucapanmu"

"jika kau tak mencintai kedua istrimu dan hanya mencintai Hinata kenapa kau harus ragu dengan jawabanku"

"Aku tak bisa menceraikan mereka berdua dengan alas an tak mencintai mereka aku seperti lelaki brengsek"

"Emang kau brengsek"

"Sialan kau teme, pergi kau dari kantorku"ucap Naruto kesal. Sasuke berjalan keluar dari ruangan Presdir Namikaze Corp. itu dengan wajah stoicnya.

.

.

.

Wanita bersurai kuning tengah menunggu seseorang di bangku taman. Pandangannya sesekali mnengok kearah jam tangan mahalnya.

"Sasori-kun pasti dia ketiduran lagi" ucap wanita pirang dengan sebal. Namun, tiba tiba matanya di tutup seseorang dari belakang.

"Hah…siapa kamu?"

"Hayo tebak aku siapa…." Ucap seseorang dengan manja.

"Sasori-kun!"

"Cih, kenapa kau selalu tau ini aku Shion-chan"

"Hihihi….aku tak pernah melupakan suara merdumu Sasori-kun". Sasori mengerucutkan bibirnya sebal, dan mendudukkan pantatnya di samping Shion.

"Sudahlah tak usah seperti itu kau terlihat menggemaskan Anata, harusnya aku yang kesal karena kau terlambat hampir satu jam." Shion memasang wajah ngambek untuk menggoda kekasih gelapnya tersebut.

"Maafkan aku Hime, aku terlambat karna memilih ini untukmu"Sasori mengeluarkan kotak kecil dengan beludru merah membalut kotak kecil itu. Shion sedikit menutup mulutnya karna terkejut dengan hadiah yang diberikan kekasihnya ketika Sasori membuka kotak itu sebuah cincin putih dengan berlian yang menghiasinya.

"Ini untukku?" Sasori mengangguk dan memasangkan cincin di jari manis Shion.

"Terimakasih Anata" ucap Shion lalu memeluk kekasihnya. Tanpa mereka berdua sadari seseorang tengah memotret kegiatan mereka yang tengah berpelukan.

.

.

.

"Yesha-sama anda ingin langsung ke kantor atau anda ingin makan siang terlebih dahulu?"

"Berhentilah memanggilku dengan Yesha-sama Kakashi-kun" protes Yesha kepada orang kepercayaannya.

"Lalu apa aku harus memanggilmu dengan Yesha-Hime, atau Anata?" goda Kakashi

"Mou…berhentilah menggodaku Kakashi-kun" Yesha bersemu merah dengan perlakuan kakashi

"Baiklah Hime mau keman kau,aku akan menemanimu?"

"Pulang ke rumah aja dulu aku merindukan tempat itu"

"Baiklah". Kakashi langsung menancap gas untuk kekediaman kedua orang tua Yesha.

.

.

.

Hinata tengah menyiram bunga di kebun bunga belakang Mansion. Dia selalu menyibukkan diri untuk mengisi waktu bosan di Mansion Namikaze yang sangat besar.

Pluk..

Tiba tiba ada yang menepuk pundaak Hinata. Hinata menoleh untuk mencari siapa yang menepuk pundaknya.

"Sakura-chan"

"Hai,Hinata-chan" Sakura membalas sapaan Hinata sambil tersenyum manis bertengger di wajah cantiknya

"Kau melupakan kami Hinata-chan?" suara seseorang di belakang Sakura membuat Hinata menolehkan kepalanya ke kanan.

"Ino-chan,Tenten nee ,dan Temari nee" Hinata terkejut dengan kedatangan sahabat sahabatnya

"Hai, Hinata-chan" sapa mereka bertiga kompak.

"Ada apa kalian kemari?"

"Mou, kau tak merindukan kami Hinata-chan?" Protes Ino. Hinata tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya berambut pirang panjang.

"Aku sangat merindukan kalian semua". Mereka berlima berpelukan untuk melepas rindu mereka.

"Ayo kita duduk di gazebo itu" ajak Hinata kepada empat sahabatnya.

"Hinata-chan, apa kau tak merasa bosan tinggal di Mansion sebesar ini?" tanya wanita bercebol dua

"Tidak Tenten nee…" Hinata memberi sedikit jeda pada kalimatnya. "aku senang tinggal di sini apalagi aku tinggal bersama Naruto-kun" jelas Hinata. Tenten tidak melihat kebohongan di wajah adik iparnya. Tenten adalah Istri dari Neji Hyuga kakak dari Hinata Hyuga.

"Jika kami jadi kau kami tak sanggup menerima kenyataan bahwa kami harus tinggal bersama madu kami di satu atap." Ucap wanita bersurai pink yang sangat mengerti keadaan sahabatnya yang sejak duduk dibangku taman kanak kanak itu.

"Hm..aku tak dapat berbohong jika aku tidak merasa sakit hati jika Naruto-kun sedang bersama kedua istrinya, tapi aku juga tau bukan hanya aku yang akan sakit hati jika Naruto-kun bersama yang lain." Jelas Hinata sambil menyunggingkan senyum manisnya.

Mereka tau bagaiman cintanya Hinata dengan Naruto, mereka saksi bagaiman Hinata menyimpan perasaan kepada Naruto. mereka juga tau gimana cinta Hinata terbalas dan mereka juga tau bagaimana saat Naruto meninggalkan sahabat bersurai indigonya.

Flashback On

"Ne, Hinata-chan cepat kau ungkapkan perasaanmu pada si dobe itu" ucap Sakura

"Ta…pi…"

"Udahlah, dia mumpung lagi di taman sendirian mumpumg tidak dikelilingi para gadis gadis bodoh" paksa Ino

"Huh.." Hinata menghembuskan nafasnya, dengan langkah berat ia berjalan menghampiri pemuda bersurai pirang jabrik. Ke empat sahabatnya tengah bersembunyi di balik semak semak, melihat sahabat indigonya menyatakan perasaan kepada pemuda yang sudah lama disukai Hinata.

"Naruto-kun" Naruto menengok kebelakang mendapati gadis cantik tengah tertunduk sambil memainkan jarinya di depan dada memangil dirinya.

"Ada apa Hinata?" tanya Naruto dengan senyum manis yang membuat siapapun gadis yang melihatnya klepek-klepek.

"Aku….Su..su…"Naruto terdiam menunggu apa yang ingin di ucapkan Hinata.

"AISHITERU NARUTO-KUN" teriak Hinata dan kembali menundukkan kepalanya kembali. Naruto tersenyum dan berjalan menghampiri Hinata agar lebih dekat.

"Maafkan aku Hinata,…"Naruto menghentikan kalimatnya, Hinata langsung mengangkat kepalanya terkejut hatinya tiba tiba merasakan sakit, namun ia coba untuk menahannya.

"Aku tak bisa un.."Hinata menghentikan kata kata Naruto "Aku tau Naruto-kun,aku cuman ingin mengungkapkan perasaanku,aku tak mengingginkan balasan darimu, karna aku tau gadis sepertiku tak pantas untuk pria popular macam kau" Hinata menundukkan kepalanya kembali ia menahan air matanya untuk tidak keluar.

Naruto mengangkat kepala Hinata saphier bertemu amethyst. Naruto tersenyum dan kembali berucap "dengarkan aku Hinata, jangan kau potong ucapanku." Hinata tak menjawab matanya tetap menatap Naruto.

"Maafkan aku Hinata, aku tak bisa untuk mengatakan perasaanku kepadamu terlebih dahulu,aku takut jika kau menolakku, aku juga mencintaimu saat pertama kali kita bertemu". Hinata terkejut dengan pengakuan Naruto. ke empat sahabat Hinata pun juga tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Jadi…"

"Iya Hime saat aku menolongmu dari preman preman waktu kita di junior school". Hinata menangis bahagia mendengar pengakuan Naruto. Naruto memeluk Hinata untuk melepas hasrat yang tengah terpendamnya. Dan dengan akhirnya bibir mereka bertemu melakukan ciuman sayang tanpa nafsu.

Sudah hampir tiga tahun mereka berpacaran, mereka menjadi pasangan paling serasi di university Konoha. Namun, Naruto harus pindah ke Korea untuk belajar mengelola salah satu perusahaan Uzumaki Corp. di Korea.

"Hime..aku harus pergi untuk belajar mengelola salah satu perusahaan Kaa-san"

"Berapa lama kau pergi Naruto-kun?"tanya Hinata dengan menahan air mata yang akan tumpah.

"Entahlah Hime akupun tak tau". Mereka berdua terdiam cukup lama. Naruto memandang wajah kekasih tercintanya dengan tatapan sendu, tak ingin meninggalkan kekasihnya.

"Pergilah Naruto-kun,jika itu demi kebaikan Naruto-kun aku tak akan merelakan kau pergi. Dan aku akan menunggumu" tak terasa air mata tengah membasahi wajah cantik Hinata.

"aku tak akan melupakanmu,aku akan kembali dan melamarmu" Naruto menghapus air mata di wajah cantik kekasihnya.

Hampir tiga tahun tak ada kabar dari kekasihnya Hinata tetap berharap kepulangan kekasihnya. Namun yang paling mengejutkan kabar kecelakaan pesawat yang menewaskan kedua orang tua kekasihnya. Hinata datang bersama keluarga dan kawannya untuk mrnghadiri pemakaman Minato Namikaze dan Kushina Namikaze. Disana Hinata melihat kekasihnya tengah berduka namun yang paling mengejutkan kehadiran seorang wanita berambut merah panjang bermata biru brtubuh tinggi putih tengah memeluk dan menenangkan Naruto. hinata pun meninggalkan kediaman Namikaze dengan berlinang air mata. Tanpa menghiraukan teriakkan Sakura.

Naruto yang mengetahui ada seseorang yang meneriakki nama Hinata langsung melepas pelukan Istrinya dan berlari keluar untuk mencari kehadiran wanita yang sangat dirindukan dari lubuk hatinya.

Selang dua tahun berlalu perusahan Hyuga mengalami ke bangkrutan. Dan tanpa Hinata sadari Hiashi ayah Hinata menjodohkan dengan seseorang untuk membantu kesulitan Hyuga Corp. dengan kata lain Hinata dijual.

"Apa tou-sama aku tidak setuju, aku berhak mencari jodohku sendiri"

"Maafkan tou-sama Hinata, ini demi kebaikan kita, Hanabi masih butuh biaya yang banyak untuk sekolah sedangkan kau juga masih butuh biaya untuk hidup,dan sekarang tou-san tak punya uang sama sekali." Jelas Hiashi

"Biarkan aku yang menggantikan Hinata tou-sama"sela Neji

"Tidak bisa Neji, dia tak mempunyai putri dia hanya menginginkan Hinata"

" tidak rela jika Hinata menjadi istri ketiga dari lelaki itu" bantah Neji. Hinata tak mau melihat kakaknya bertengkar dengan ayahnya.

"Baiklah tou-sama aku mau menikah dengan lelaki itu" semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengan keputusan Hinata.

"Tapi…Hinata?kau berhak mendapatkan yang lain…"

"Tak apa Neji nii aku rela semua demi keluarga kita."

"Baiklah Hinata, berdandanlah yang cantik malam ini calon suamimu akan datang melamarmu". Hinata hanya menggangguk dan berjalan menuju kamar meninggalkan semua.

Hiashi menghela nafasnya "Maafkan ayah Hinata" gumam Hiashi.

.

.

Hinata menatap dirinya di cermin melihat dirinya yang cantik terbalut kimono berwarna indigo dan bergambar bunga dengan riasan yang natural membuat ia semakin cantik.

Cklek..

Neji menghampiri adik kesayangannya, dan memeluknya sejenak.

"Turunlah tou-sama sudah memanggilmu". Hinata menganggukkan kepala sambil berjalan keruang tamu yang disana sudah ada calon suaminya, Hinata tak tau seperti apa calon suaminya yang jelas sudah tua karna dia di jadikan istri ketiga.

"Hinata…ini calon suamimu Naruto Namikaze" ucapan ayahnya membuat Hinata sedikit terkejut dan langsung mengangkat kepalanya dan terkejutlah dengan apa yang dilihatnya. Seorang pemuda dengan surai kuning yang sudah di pangkas rapi tiga garisan di masing masing pipinya. Lelaki yang lima tahun ini dirindukannya.

"Naruto-kun" gumam Hinata

"Hinata kau semakin cantik, tak salah aku menjadikanmu istri ketigaku" ucap naruto yang membuat hati Hinata terasa di pelintir.

"Hiashi-san,bolehkah aku ngobrol berdua dengan calon istriku?" pinta Naruto

"Silahkan"

Naruto mengajak Hinata untuk duduk di bangku taman milik keluarga Hyuga.

"Jangan macam-macam dengan adikku Namikaze-san" ucap Neji

"Baiklah Neji nii-san"

"Cih,,"

Hinata berjalan di belakan Naruto sambil menahan sakit di dadanya. Sesampainya di gazebo Naruto menghampiri Hinata dan langsung memelukknya. Hinata yang terkejut dengan perlakuan Naruto hanya membelalakan matanya.

"Aku sangat merindukanmu Hime"

"Aku juga merindukanmu Naruto-kun" ucap Hinata yang sudah sadar dari keterkejutannya dan membalas pelukan calon suaminya. Walaupun hatinya masih sakit dengan kenyataan yang terjadi.

Naruto melepaskan pelukannya dan menatap amethyst Hinata dengan intens. Hinata berjalan menjauhi Naruto dan duduk di bangku. Naruto menhampiri Hinata.

"Kenapa kau menikahi wanita lain jika kau merindukan diriku?" ucap Hinata tanpa sadar. Naruto berjalan dan duduk disamping Hinata.

"ceritanya panjang, dan aku akan menepati janjiku untuk melamarmu"

"tapi bukan untuk jadi yang ketiga?"

"Bukan waktu yang tepat untuk bercerita Hime" keheningan melanda mereka berdua. Dan keputusan Hinata yang membuat keheningan itu pecah.

"Baiklah aku juga tak butuh penjelasan darimu, tetapkan tanggal pernikahan kita ini semua demi tou-sama" Hinata berlalu meninggalkan Naruto yang tengah menatap sendu Hinata.

"Maafkan aku Hinata"

Flashback Off

"Hinata-chan" Hinata terperanjat dari lamunannya ketika suara Temari masuk kedalam pendengarannya.

"Gomen Temari nee"

"Apa yang tengah kau pikirkan?"

"Tak ada apa apa,"

"Naruto mengkhawatirkan dirimu" ucap Ino

"aku tahu"

.

.

.

"Tadaima"

"Okaeri" Hinata menghampiri suaminya yang baru pulang dari kerjanya dan mengambil tasnya.

"Mau makan dulu atau mandi dulu Naruto-kun?"

"Aku mau mandi dulu Hime"

"Baiklah…" sebelum Hinata pergi Naruto menarik tangan Hinata. Hinata pun berhenti dan kembali menatap suaminya.

"Malam ini aku tidur denganmu"

"Tapi semalam kan…"

"Tidak ada tapi tapian jangan kau kunci pintu kamarmu, lagian Yesha dan Shion tak pulang malam ini"

"Baiklah…" ucap Hinata dan tersenyum

.

.

.

Setelah membersihkan peralatan makan Hinata berjalan masuk ke kamarnya, ia tutup pintu kamar dan berjalan menaiki ranjang. Hinata mencoba memejamkam matanya, namun pintu terbuka membuat kesadarannya kembali.

"Naruto-kun"Hinata hendak beranjak dari ranjangnya namun, segera Naruto mencegahnya.

"Sudahlah tidur kembali"Hinata kembali tidur dan naruto tidur di samping Hinata.

"Bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Naruto sambil memeluk pinggang Hinata dengan intents.

"Tanyakan saja Naruto-kun?"

"Apakah kau masih mencintaiku?" pertanyaan Naruto-kun membuat wanita bersurai indigo terkejut.

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bolehkah aku bertanya?"

"Hm"

"Apakah Naruto-kun mencintaiku?Yesha-san,dan Shion-san?"pertanyaan mbalik dari Hinata membuat ia terperanjat. Setelah cukup lama terdiam.

"Entahlah Hime, aku merasa nyaman denganmu tapi jika dengan Yesha ataupun Shion aku hanya merasa biasa saja. Aku juga merasakan sakit jika aku bermalam dengan Yesha ataupun Shion, aku merasa mengkhianatimu" jawaban dari Naruto membuat Hinata tak percaya. Dan Hinata tersenyum simpul dengan jawaban Naruto.

"kenapa kau menikahi mereka jika kau tak mencintai mereka?"

"mungkin ini saatnya aku bercerita padamu Hime". Hinata terdiam mendengarkan cerita suaminya

Flashback On

"Aku tak mau menikah dengannya tou-san, aku sudah memiliki kekasih di jepang dan aku berjanji akan melamarnya" bantah Naruto

"Putuskan dia, dan kau menikah dengan Yesha anak dari teman tou-san"

"Aku mencintai dia, dan aku tak mau memutuskan dia."

"Terserah kau, yang penting sebulan lagi kau menikah dengan Yesha". Naruto pergi meninggalkan ayahnya dan ibunya.

"Kau mau kemana Naru-kun?"

"Biarkan dia" cegah Minato pada Istrinya.

.

.

.

Naruto POV

Aku tak mau memutuskan Hinata aku sangat mencintainya, aku tak ingin pernikahan ini terjadi aku tak mau menyakiti Hinata, tapi jika aku tak menikah dengan Yesha sebagian saham dari perusahan akan diambil oleh Cullen Corp. maafkan aku Hinata aku tak tau apa yang harus aku lakukan.

Naruto POV End

Naruto mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi, dan ia berhenti di taman. Naruto memarkirkan motornya dipinggir taman. Naruto berjalan mengelilingi taman ia mendudukan tubuhnya di bangku taman dekat air mancur. Pikirannya melayang pada kekasihnya di jepang.

"Hiks..Hiks.." tiba tiba Naruto mendengar suara seorang gadis menangis, ia menengok kanan kiri mencari suara tangisan.

Kepalanya berhenti pada bangku samping kiri ia melihat seorang gadis berambut merah panjang mirip kaa-sannya tengah menangis. Ia mencoba menghampiri gafis tersebut.

Pluk…

"Eonni" panggil Naruto dengan bahasa korea yang tak lancer, gadis itu menoleh matanya yang biru mirip dengan dirinya terlihat sembab.

"Ada apa?"tanya gadis itu

"Kenapa Eonni menangis?"

"Apa urusanmu?"

"Cih,…"Naruto beranjak meninggalkan gadis yang terlihat lebih tua dari dia sendiri.

"Tunngu!" Naruto menghentikan langkahnya.

"Kau orang jepang kan?"

"memangnya kenapa jika aku orang jepang, dan kau juga lancar berbahasa jepang"Naruto terkejut karna baru sadar kalou ia daritadi ngomong bahasa jepang.

Gadis tadi berdiri berjalan menghampiri Naruto dan menamati wajah Naruto.

"Kenapa kau melihatku begitu?"

"Wajahmu mirip seseorang"

"cih,,bilang saja kau suka padaku"

"PD banget kau,dasar bocah" akhirnya dengan pentengkaran kecil mereka berdua jadi akrab

"Oh, ya Nee-san aku Naruto, Naruto Namikaze"

"Aku Yesha Cullen" mereka berdua terdiam sejenak berfikir dengan kejanggalan yang terjadi. Dan tiba-tiba….

"Kau anak dari Edward Cullen dan Sara Cullen?"

"Dan kau jangan jangan anak dari Minato Namikaze dan Kushina Namikaze?"

"Jadi kau orang yang akan dijodohkan denganku" ucap mereka serempak

"TIDAK!"teriak Yesha

"Aku juga tak mau menikah denganmu, gimana caranya kita batalin pernikahan kita?"

"Entahlah,pernikahan kita sudah di daftarkan pada Negara, dan sebenarnya kita sudah menikah secara Negara cuman kurang secara Agama" ucap Yesha lesu

"APA!"

"Kenapa kau terkejut apa tousanmu tidak bilang?"

"Sialan kau tousan"

"Aku juga baru tau dari mommy, makanya aku kesal dan menangis disini"

Mereka berdua terdiam taka da lagi yang harus dijelaskan karna semua sudah terjadi tinggal melakukannya.

.

.

.

Sebulan sudah terjadi dan pernikahan pun tak dapat di hindari, sekilas tampak bahagia namun ternyata hanyalah semu.

Naruto tak kembali ke jepang ia menetap di korea bersama istrinya. Naruto dan Yesha tinggal di apertemen mereka tak mau tinggal di kediaman Uzumaki ataupun di kediaman Cullen. Karena mereka tak mau tinggal satu kamar. Mereka tidur secara terpisah, hatinya sedih Naruto merasa mengkhianati Hinata. Namun ia tak dapat berbuat apa apa. Di sisi lain ia takut jika Hinata tau ia menikah ia tak mau Hinata menangis terlebih ia tak mau jika nanti ia melihat Hinata bersanding dengan pria lain.

Tok..tok..

Suara ketukan pintu kamar membuat lamunan Naruto buyar.

"Masuklah Yesha". Seorang gadis bersurai merah masuk ke dalam kamar Naruto.

"Bisa kita bicara sebentar?"

"Hm…masuklah"

"gimana kerjaanmu?"

"Baik..kamu?"

"Baik juga…hm…kita sama sama terpaksa untuk menikah aku tau kau punya kekasih dank au pun tau aku juga sudah mencintai orang lain."

"Lalu"

"Aku tak ingin kau menyentuhku"

"Iya aku tahu…percayalah padaku" Naruto tersenyum dan Yesha pun pergi keluar kamar dengan lega.

"Anggap saja kita menikah karna bisnis" ucap Naruto enteng

Setelah menikah selama tiga tahun Naruto mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal dalam perjalanan ke airport jepang menuju Korea. Dan setelah tiga tahun tak pernah pulang ke jepan ini pertama kalinya ia kembali ke jepang dengan duka mengawalnya.

"Hinata…" Naruto mendengar seseorang memanggil nama kekasih yang sudah lama di rindukannya, ia lepaskan pelukan Yesha berlari keluar kediaman Namikaze, tak peduli tatapan orang orang. Namun, ia tak menemukan kekasih yang dirindukannya. Setelah pemakaman orang tuanya, Naruto dan Yesha pergi ke London untuk mengurus salah satu perusahan Uzumaki yang hampir bangkrut.

Selama dua tahun disana Naruto-kun tak pernah melupakan kekasihnya, namun perasaan frustasi karena perusahaan mengalami jatuh ia sering ke bar untuk menghilangkan sters. Disana ia bertemu Shion salah satu model majalah dewasa. Shion tau Naruto Presdir dari beberapa perusahan terbesar di 3 negara Jepang Korea dan London.

"Hai, tampan" Naruto menatap mata Shion ia terperangah

"Hinata" gumam Naruto. tanpa aba aba Naruto langsung memeluk tubuh Shion, Shion yang mendapat angina segar segera membalas pelukan Naruto. tanpa banyak protes Shion langsung membawa Naruto ke apertemen Shion karena tubuh Naruto sudah hampir pingsan.

.

.

Shion memasukki apertemennya, dan memapah Naruto menuju kamarnya dan meletakkan ke atas ranjang. Saat ingin Shion pergi Naruto menarik Shion untuk memeluknya. Tatapan shapier Naruto menghipnotis Shion sehingga Shion memejamkan matanya. Seketika bibir mereka bertemu ciuman penuh nafsu. Naruto menghentikan ciuman panas mereka segera tubuh Shion ia pindah ke bawah tubuhnya. Ia lanjutkan ciuman panas mereka.

"Engh…ah.."desahan Shion terdengar desahan suara Hinata yang dirindukannya. Naruto berganti menjilati leher jenjang Shion. Desahan Shion membuat Naruto semakin menggila, dengan cepat ia lepas baju Shion hingga Shion terlihat telanjang dadanya yang indah membuat Naruto tak tahan untuk menjilati Putting merah muda Shion, tak mau ketinggalan tangan satunya sibuk memelintir putting sebelah kanan Shion.

"Ah….sshhh…sss"merasa panasd Naruto melepas kemeja yang di pakainya di bantu Shion. Shion pun melepa celana panjang dan celana dalam Naruto. dan mengelus kejantanan Naruto.

"Shhh..Hinata…jangan kau menyiksaku"Shion yang tau namanya tak disebut hanya cuek karna yang penting kepuasaan.

"Shhshh…ah…engh..jilat Hinata" tanpa komando kedua Shion langsung mengulum kejantanan Naruto

"Ah…kau..selalu..membuatku gi..la" Shion terus mengulum kejantanan Naruto karna tak tahan Naruto langsung mendorong Shion untuk telentang. Dengan cepat ia jilati kewanitaan Shion.

"Ahh..Shhh"desahan Shion membuat Naruto segera melanjarkan aksinya untuk memasukkan kejantanannya ke lubang kewanitaannya Shion.

"Ah…"segera Naruto memaju mundurkan kejantanannya dan malam yang panjang mereka lewati berdua.

To be continued

Maaf minna jika mengecewakan

Mohon reviewnya