Hanji duduk dengan bibir mengerucut. Melirik atasan sekaligus sahabatnya yang tengah menyatukan jemari sebagai penopang dagu. Masuk menit ketujuh dan keheningan sudah membuat Hanji berulah seperti cacing kepanasan.
"Erwin, mau sampai kapan kau berpose seperti itu?" ujar Hanji tak sabar dengan tingkah satu dari dua lelaki pirang yang kini duduk pada sebilah sofa ruang berkumpulnya Mentor khusus Class A. "Cepat bicarakan tujuanmu memintaku kemari." Lanjutnya gemas ingin cepat angkat kaki dari pertemuan dadakan yang diadakan Erwin.
Hanji berdecak tak sabar begitu melihat kedua jarum waktu di sudut ruang untuk yang kesepuluh kalinya. Tinggal duapuluh menit berjalan untuk menghadiri penyambutan pertama para kadet yang kini telah terpisah menjadi tiga Class sesuai dengan kemampuan mereka saat tes uji masuk.
Mike Zakarius sebagai lelaki pirang terakhir buka suara demi melihat Erwin yang tidak menunjukan tanda-tanda keluar dari pemikirannya sendiri. "Bersabarlah sebentar Hanji. Masih ada cukup waktu jadi kau tak akan terlambat."
Wanita berkuncir kuda itu merengut tak setuju. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah-wajah baru yang menarik untuk diuji coba itu Mike." Lagi-lagi menampilkan cengiran lebar Hanji lantas memperhatikan sekeliling. Baru sadar ada yang hilang. "Oh, ngomong-ngomong kemana Levi?"
"Kau terlampau bersemangat dan melupakan komponen penting keberadaan seseorang." tanggap Mike. "Lagipula saat ini terlalu beresiko melibatkan Levi."
"Setidaknya belum." imbuh Erwin sambil tersenyum tipis. Mike mulai menggunakan kemampuan mengendusnya. Mencari pemikiran akhir seorang Erwin Smith. "Aku tahu Mike. Kau tidak perlu menegasnya." lanjut Erwin santai.
Si lelaki berjenggot tipis itu mengerdikan bahu mempersilahkan.
"Ahh, benar juga." Hanji menanggapi dengan angguk. "Posisi Levi terbilang sedang sulit. Lalu apa yang ingin kau katakan Erwin?"
Bulatan kedalaman birunya laut memberikan tatapan lurus. Bersuara lamat untuk Hanji. "Aku punya tugas untukmu. Kau bisa menyertakan Levi untuk ini. Levi seratus persen ikut andil jika kau berniat memintanya ikut bahkan kurasa dia sudah bergerak sendiri sekarang."
Hanji berkedip-kedip kebingungan. Secercah kebiasaan sintingnya keluar dengan cepat dua detik terlewat. Raut girang bukan kepalang sudah membingkai wajah androgininya. "Oh, oke. Jadi apa itu?"
.
.
.
Soul Engine
a FanFiction by Rin fuKa
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Warning: AU, OOC, Sho-ai, typo, M for heavy plot.
.
.
#2 the Rumors
.
.
Berdiri kaku bagai patung. Pandangan mata lurus kedepan. Menghadap langsung jajaran Mentor yang menampilkan raut bengis tanpa ampun. Kedua tangan turun lurus dengan patuh di samping tubuh. Yang jelas diberi tatapan tak tanggung-tanggung menekannya menjadikan ratusan kadet baru membatu di dalam ruangan serbaguna di gedung belakang bagian barat.
Di tengah puluhan Mentor dengan atribut serupa namun beberapa simbol berbeda pada bagian dada kiri‒jika diamati lebih ada sekitar tiga jenis simbol yang tersedia. Eren yakin tiga simbol dengan background sama‒kepala unicorn berwarna hijau‒ itu merupakan pemisah tugas Mentor di setiap Class. Terbukti dengan hanya simbolik huruf yang membedakannya, yakni A, B dan C.
Seperti halnya para Mentor para kadet pun memilikinya. Diyakini berdasar pada tes sehari sebelumnya karna Eren mendapatkan seragam yang sudah diberi simbol itu pada bagian dada kirinya setelah pengumuman peraturan yang berlaku dari setiap Mentor Asrama. Sedikit berbeda karna milik kadet berupa pin dan hanya dapat dilepaskan dengan alat khusus. Sejujurnya Eren sendiri sudah pernah berusaha melepaskannya dengan tangan kosong dan tak berhasil.
Ini kali pertama mereka dikumpulkan kembali setelah menjalani serangkaian tes dari fisik sampai mental dan dijelaskan seluk beluk singkat Akademi Sina serta segala peraturan yang dijunjung tinggi di dalamnya.
"Harap berbaris sesuai tingkat kalian masing-masing."
Wanita berpembawaan tegas sesuai dengan sorot matanya yang tajam dan berkilat antisipasi baru saja menyuarakan perintah setelah lebih dari sepuluh menit membuat para kadet mengheningkan cipta. Helaian perak pendek dijepit di sisi telinga tak lupa sebuah kacamata membingkai baik wajahnya.
Eren jadi ingat Hanji hanya karna melihat kacamata wanita bername-tag Rico Brzenska itu. Dimana si makhluk berkuncir kuda sendiri tengah dadah-dadah tak jelas kearahnya namun sukses terabaikan oleh si objek karna arahan lainnya dari Rico.
"Dari sisi ini diisi Class A, disusul B, dan terakhir C." tuturnya merentangkan tangan kiri sebagai petunjuk dengan jeda-jeda pendek sesuai dengan dirinya yang menyebutkan setiap Class saat berpindah mengarahkan sisi tempat. "BERGERAK LEBIH CEPAT! SIPUT SAJA MASIH LEBIH CEPAT DARI KALIAN!"
Tak disangka juga rupanya suara wanita itu bisa lantang bergema ke seluruh ruangan luas yang bersih dari barang apapun‒tak lebih dari ruangan luas yang kosong‒sambil menuding dan berkacak pinggang. Dari simbol di dada kirinya ia termasuk ke dalam Mentor Class C.
Alhasil, gerakan saling tabrak tak terhindarkan. Beberapa Mentor berdecih melihat tingkah-tingkah menyedihkan kadet baru itu. Layaknya mengurusi bocah yang tak bisa sigap dan cepat mengerjakan perintah sepele.
Eren tak luput dari gerakan serampangan kadet yang membubarkan barisan awal mengikuti ruang tidur mereka demi mengikuti barisan baru ketetapan Class yang mereka harus diami minimal empat bulan mendatang.
Nyaris jatuh akibat tersandung dan didorong Eren memaki pendek. Menjadi orang terakhir yang berdiri bersisian dengan pemuda jangkung kelewatan yang meliriknya sebentar tak lupa beramah tamah dengan senyuman kilatnya.
Anggukan canggung secara refleks yang Eren berikan. Membentuk dirinya berposisi istirahat kembali. Hingga saatnya sepasang obsidian menjadi titik tumpu matanya tanpa sengaja.
Awalnya Eren mengira kedua bulatan hitam menajam itu segera berpaling darinya namun Eren sudah memilih menurunkan pandang lebih dulu dengan kaku sebelum perkiraannya jadi nyata.
Rasanya masih sama dengan yang pertama. Seperti dibor dan dijatuhkan dalam lingkaran hitam tak berujung seakan refleksi diri tak pernah muncul di lapisan bola itu.
Seorang pria tua berjanggut hitam cukup panjang. Berkepala botak lebih mengkilap dari si pendek Connie Springer. Cekungan mata yang dalam memberi kesam suram karna aksen gelap yang mengelilingi kedua bola mata tengah melotot ganas menyiram para kadet. Baru saja maju tiga langkah kedepan tepat di tengah tiga barisan yang diberi jarak cukup lebar sebagai pemisah.
"Sebagai perwakilan para Mentor aku adalah Keith Shadis." Mata Eren memberikan perhatian bergeming. "Seorang Mentor bagian Ketahanan Diri. Bertugas memberikan bentuk pelatihan dasar ketahanan fisik." Sampai sini tak ada yang menyeramkan selain raut wajahnya yang berkerut lapisan pada dahi. "Dari detik ini kuucapkan sejelas mungkin.., bersiaplah untuk mati."
Kini Eren dan ratusan kadet lainnya mengerti peringatan yang disebar setiap Mentor Asrama Ruang. Bahwa Keith tak memiliki alasan lain kenapa ia memiliki nama serupa sebuah kata bermakna mengerikan‒Sadis.
Karna sepertinya itu memang bukan hanya rumor bahwa Keith memang terkenal sadis.
Eren tidak tahu harus berkomentar bagaimana begitu melihat ruangan besar dan luas yang terletak di lantai dasar gedung barat serupa gimnasium namun dengan tampilan lebih kasar dimana tidak ada satupun lapisan cat yang melapisi dinding juga lantai plesteran kasar.
Jauh lebih suram ketimbang ruangan kosong pengumpulan kadet sebelumnya.
Beberapa alat berat olahraga umum, tonggak setinggi satu meter lebih sedikit yang diberi cabang bersilang tak teratur, dua lapisan matras lantai tipis di beberapa bagian yang dibuat lurus berjajar berjarak dua meteran jadi pengisi yang paling mencolok disana.
Puluhan pasang mata dengan kaos hitam tanpa lengan yang mengetat dan mencetak bentuk tubuh berkat keringat yang muncul menjadi pemandangan pertama saat Mentor pria tinggi berambut pirang dengan sedikit gulungan rambut membuka pintu daun dua bermaterialkan besi.
Diberikan sebuah instruksi jelas Eren dan kesepuluh kadet baru berjajar patuh di pinggir ruangan. Memberikan sikap istirahat umum dengan pandangan lurus kedepan. Nafas tertahan jadi imbangan begitu beberapa orang yang tadinya sibuk melatih otot telah menggeserkan diri berdiri mensejajari mereka dengan jumlah yang setara.
Pria papan, Levi, berdiri menjadi titik pusat kesepuluh rekan Mentor lainnya. Tak ada suara begitu pula ekspresi wajah darinya. Setidaknya masih ada yang berwajah ramah dari sepuluh orang lainnya. Terutama Hanji yang berdiri di sebelahnya malah menampilkan cengiran luar biasa sintingnya.
Eren yang entah bagaimana kondisinya bisa jadi orang yang satu garis lurus berhadapan dengan Levi memusatkan pandang mata pada sudut kosong di antara kedua bilah alis Levi yang berkerut sedikit. Bentuk pengalihan jika tak ingin ketahuan tak memandang lawan tatap.
Seluruh aktivitas berhenti. Timbul hening panjang.
"Selamat bergabung dalam Class A untuk kalian bersebelas. Angka yang berhasil menembus jumlah kadet untuk Class ini sejak Akademi ini dibentuk sepuluh tahun silam." Pria pirang tinggi menjulang dan jadi bertolak belakang dengan Levi yang berdiri tepat di sebelahnya angkat bicara. "Kuharap ini merupakan titik tolak awal kemajuan."
Eren pikir pria berwajahkan serius berwibawa yang diyakininya memiliki ribuan pemikiran tak tercerna di awal merupakan orang yang penting disana.
"Aku adalah Erwin Smith. Ketua Mentor Class A. Bertugas memberikan pengawasan sekaligus Mentor Perencanaan Strategi."
Dugaan Eren tak meleset rupanya.
"Mulai saat ini kalian akan menjadi bagian Class ini untuk minimal empat bulan kedepan dengan bimbingan kesepuluh Mentor yang bersisian denganku." lanjutnya tenang. "Kalian pasti sudah mengenal Hanji sebagai orang yang diberikan tanggung jawab sebagai penguji kalian sebelumnya sekaligus sebagai Mentor Penanganan Emosi. Sisanya akan kubiarkan mereka mengenalkan diri."
Sebuah tolehan ke kiri. Mengarah tepat pada Levi sebagai bentuk mempersilahkan dirinya mengenalkan diri yang pertama.
Decihan datang lebih dulu. "Levi Ackerman. Kedisiplinan."
Singkat dan padat tanpa embel-embel ramah tamah baik dari segi muka atau minimal intonasi suara. Eren mengerjapkan mata cukup takjub pada sikap dingin terang-terangan Levi.
"Aku Petra Ral. Pembantu medis khusus Class A. Salam kenal."
Setidaknya ada senyum ramah nan sejuk yang meneduhkan setelahnya.
"Gunter Schulz. Mentor Keahlian Penggunaan Senjata."
"Perkenalkan, aku Erd Gin. Aku juga Mentor Keahlian Penggunaan Senjata."
"Auruo Bossard. Sama dengan Gunther dan Erd."
Eren mengernyit. Merasa dari pola kalimat sampai jenis nada kata yang dikatakan orang terakhir yang diperhatikannya mirip dengan Levi yang tanpa disadarinya juga telah ikut mengalihkan gerak bola mata mengikuti objeknya langsung.
Turquoise sukses bergeser ke kiri sedikit begitu dapat obsidian fokus dengannya.
Sungguh Eren sedikit berpikir jadi titik atensi obsesif karnanya.
.
.
.
Rintihan datang seiring dengan gerakan terbanting. Eren mengerang kecil merasa punggungnya mati rasa. Matras lantai setebal 11 inci itu tak memberikan efek pengurangan nyeri jika ada yang dibanting keras ke arahnya. Eren bersiap jadi saksi jika perlu.
"Konsentrasimu buyar. Tetaplah fokus atau tak kujamin rusukmu bertahan lebih lama dari seminggu jadi patnerku."
Eren mengerjap. Menerima uluran tangan untuk bangun dari posisi rebah terpaksa dalam sesi latihan beladiri pertama yang dimulai setengah jam berselang. Membuat posisi duduk dengan payah Eren merintih kecil.
Perempuan pirang di depannya berekspresi datar. Rekan satu tingkat sekaligus juga patner bertarungnya untuk dua bulan itu hanya meliriknya sebentar. Beralih melirik beberapa kadet lainnya yang sedang berjuang adu piting, pukul, dan tangkis demi menjatuhkan lawannya di atas matras.
Sayang Eren belum sempat sekalipun menangkis sudah kena sikutan di perut juga tendangan di kaki lebih dulu.
"Maaf. Sekali lagi, Annie."
Eren meyakinkan diri berdiri. Memperkuat kuda-kuda kakinya untuk kembali bertarung. Kedua manik fokus pada bulatan biru menyiratkan tatapan monoton bosan kearahnya.
Tertohok. Merasa diremehkan seketika sebagai lelaki oleh seorang wanita.
Kedua tangan terkepal erat. Lurus dengan perut Eren bersiap menerima serangan. Mengamati gerakan Annie yang memposisikan kedua tekukan tangan ke depan badan dengan mata menyipit siaga.
Telat sedetik Eren lengah kena tinju di rahang bawah bagian kiri. Menyipitkan mata beradaptasi berhasil menghalau pukulan dari sisi kiri Annie yang datang tak berjeda. Cukup senang melanda tapi jejakan lutut menabrak pinggang kiri.
Eren merosot jatuh berlutut. Terbatuk keras. "Sial."
"Kubilang fokus. Berhentilah membuat pikiranmu bercabang jika kau tidak bisa memusatkan keduanya sekaligus."
Kernyitan jadi reflek pertama Eren. Ia tidak tahu dari mana Annie mengerti kalau sebenarnya pikirannya memang tengah bercabang saat ini. "Ya, aku tahu."
Masalah fokus memang kunci utama dalam setiap jenis kegiatan terutama saat berhadapan langsung dengan lawan tarung. Namun kali ini Eren tak bisa menumpukan total fokusnya berkat tatapan layaknya melubangi punggung. Berasal dari satu pojokan ruang yang mana merupakan base bagi para Mentor untuk mengawasi dan menilai polah tingkah setiap kadet.
Tidak tahu dimana letak salahnya padahal setiap mentor melakukan hal yang serupa tapi Eren merasa kikuk sendiri. Mungkin memang perasaannya saja yang kelewatan menganggap bahwa si pria papan itu hanya memfokuskan diri melihat ke arahnya‒
Kembali berusaha mengabaikan Eren mendongakan kepala melihat gerak-gerik Annie.
Perempuang pirang itu berkata lagi, "Meski kau jadi titik atensi seseorang sekalipun."
‒atau memang itulah kenyataannya.
"Tetap konsentrasikan dirimu untuk lawan yang kau hadapi atau kau akan berakhir diremukan Doll nantinya."
Eren terdiam. Annie melenggang pergi meninggalkannya. Sesi uji coba latihan pertama berakhir cepat. Erd yang jadi mentor pelatihan pertama memberikan instruksi berkumpul pada mereka.
Memegangi sisi pinggang yang kena lutut Eren melangkahkan kaki mendekat.
"Hasil yang cukup menarik saat kuamati bagaimana kalian bertarung tadi." Erd memulai dengan senyuman. "Beberapa dari kalian ternyata sudah memiliki teknik tersendiri yang baik. Well, itu bagus. Terimakasih untuk Nona Leonheart."
Eren melirik si empunya nama. Annie memberikan anggukan kecil pada Mentor lelaki pirang itu. Ya, Eren setuju soal teknik itu. Annie memang mumpuni dan jadi patner yang pertama kali dari ahlinya adalah kejadian yang terbilang naas.
Terlebih predikat itu melekat pada satu dari dua wanita yang ada saat ini. Mungkin bukan hanya Eren yang menyatakan diri sebagai lelaki tulen akan tertohok karnanya. Setidaknya Eren bisa berkilah sedikit soal kekalahan telak dari wanita pirang itu jika ada yang menyindirnya.
Oh, Eren baru dapat alasan mujarab.
"Ymir kau menempati posisi kedua." Erd menebar senyum ramah yang sesungguhnya menyiram kejam kesembilan kadet pria disana. "Dan kita lihat bagaimana usaha para pria untuk menaklukan kedua posisi atas pertama yang kujatuhkan pada kedua wanita yang ada sampai empat bulan kedepan."
Eren merasa tertimpa beban berat dua kali. Satu kalah telak dari Annie. Kedua disindir langsung oleh Erd soal kemampuan payahnya dalam beladiri sebagai seorang lelaki.
.
.
.
Jam makan malam berjalan sepi. Kebanyakan kadet tampak makan tanpa berbincang ricuh seperti tadi pagi. Mayoritas orang malah menyisakan kursi kosong di beberapa celah. Yang lainnya memiliki tampang kusut tak lupa lebam-lebam parah di sepanjang wajah atau mungkin lengan dan kaki. Terlihat dari rintihan juga cara jalan timpang mereka.
Eren cukup bersyukur meski pinggang dan punggungnya masih nyeri luar biasa ia masih bisa beraktivitas normal. Mengingat kembali bagaimana kondisi ruang pemulihan yang terdiri dari tiga ruang di lantai dasar gedung asrama pria itu penuh sesak saat Eren berniat meminta pengobatan ringan untuk nyerinya.
"Oi, Eren," Connie memanggil pendek sambil makan dengan cepat. Jam makan hampir berakhir. "Bagaimana pelatihanmu hari pertama?"
"Tidak buruk tapi rusukku nyaris patah."
Connie tertawa setelah minum banyak air. "Siapa yang membantingmu? Pria kekar di sana?" tudingnya sembunyi-sembunyi pada kepala pirang cepak yang memiliki postur berisi. Diketahuinya bernama Reiner Braun, satu Class dengan Eren.
"Bukan," Eren menopang pipi sambil menusuk wortel rebus. "Annie yang melakukannya. Peringkat pertama seni beladiri Class A untuk saat ini, Annie Leonheart." Memakan tusukan wortelnya Eren langsung menuding perempuan pirang yang duduk bertolak punggung darinya.
"Huh? Kau dibanting oleh seorang‒pfft, wanita?" si botak menahan tawa tapi pecah kemudian, "Hahaha~ kau menakjubkan Eren."
"Ya, ya, terserah katamu saja."
"Serius, kau lelaki yang dengan gamblang membicarakan kekalahan dari wanita dalam bertarung tanpa ekspresi terluka dan kurasa itu keren."
Mengerdikan bahu Eren menyudahi acara makan malamnya. "Aku hanya berkata kenyataan. Kekuatannya tak main-main bahkan kurasa aku masih dapat belas kasihannya sejauh ini. Entah untuk seminggu kedepan seperti yang dia bilang."
"Berusahalah. Memang bukan hal mudah membuang predikat payah tapi mencoba bukan hal salah. Yang terpenting jangan sampai kau terdepak dari sana." nasihat Connie. "Walau setiap uji tingkat dilakukan lagi jumlah Class A mungkin bertambah tapi jadi hal sulit untukmu jika tersingkir dari sana."
Eren berdehem kecil saja.
"Kau tahu, kondisi Class-mu terbilang lebih bagus ketimbang nasib dua Classlainnya. Kau sadar bukan nyaris seluruh penghuni Class C masuk ruang pemulihan sekarang?" desisnya tak perlu jawaban. "Lihat, kepalaku benjol-benjol dipukul terus oleh Sir Keith."
Eren tertawa melihat jelas bulatan-bulatan timbul di beberapa permukaan kepala Connie.
"Lalu bagaimana dengan pelatihan pertamamu Connie?"
Si botak Springer nyengir pendek. "Yeah, aku tidak mendapat luka yang berarti selain benjol di kepalaku ini. Sir Hannes bilang gerakanku cukup gesit."
"Cocok dengan tubuh kecilmu." ledek Eren, dihadiahi potongan kentang dari piring sebelah.
Eren terkekeh.
"Oh ya, sudah dengar soal rumor Gedung Selatan?"
Turquoise Eren memberikan perhatian langsung pada si cerewet cilik Connie Springer. "Rumor? Soal apa?"
"Ada han…" Connie sengaja menjeda kalimatnya. Dua detik berselang ia berteriak heboh. "..‒TUU!" Eren menarik ketertarikannya dari omongan Connie namun gelak tawa si botak kemudian membuatnya bingung juga. "Bercanda. Aku tahu kau bukan tipe yang perduli soal hantu dan sejenisnya. Rumor ini jadi pembicaraan dari setiap kadet pemula."
Mata Eren menatap. Selain karna penasaran ia cukup takjub akan Connie yang memperdulikan pembicaraan sekeliling. Sungguh tidak bisa dibandingkan dengannya yang tak cukup perduli.
"Katakan padaku."
"Bayarannya?" tawar Connie menyeringai jahil.
"Connie," Nada Eren dibuat mengancam. "Katakan padaku sekarang atau garpu ini berakhir tertancap di kepalamu." tudingnya lengkap dengan alat makan yang disebut.
Bahu si pendek dibuat bergidik takut, pura-pura. "Aku tidak tahu kau punya bakat sadis, Eren."
"Tidak, kau tahu itu."
"Hahaha, baik. Oh ya, tolong jangan katakan hal mengerikan begitu lagi Eren. Kau akan menakuti kadet lainnya." Connie memberikan kerlingan pada beberapa pasang mata yang bersisian dengan keduanya tengah melotot horor.
"Itu tidak berlaku untukmu." Eren menelengkan kepala cuek. "Jadi apa rumornya?"
"Ada yang bilang pernah ada penyelinap di sana." Sempat Eren berniat benar-benar melemparkan piring makannya ke muka Connie sebelum ucapannya menyambung kembali, "Dan penyelinap itu disinyalir adalah Doll."
.
.
.
Kedua kaki jenjang Eren menapak satu-satu membuat irama di lantai marmer. Berpose serius berpikir Eren tidak perduli sekitar. Beberapa kadet yang masih berlalu lalang untuk menuju kamarnya melirik sekilas dan bersikap tak perduli pula.
"Doll?" gumamnya. "Di Akademi Sina?"
Pertanyaan serupa lagi-lagi lolos dari bibir Eren sepanjang jalan menuju ruang asrama pria nomor Sembilan di Gedung Timur sisi kanan. Berpisah dari Connie yang punya jadwal malam ia melangkah sendirian.
"Menyelinap ke Gedung Selatan," Eren menyentuhkan jemarinya pada dagu. "..untuk ap‒!"
Sebuah tepukan yang mendarat di bahu kanannya nyaris membuat Eren memberikan sikutan keras pada ruang di samping kanannya yang sejak tadi kosong jika tidak segera sudut matanya menangkap pemuda bersurai hitam dengan wajah khas berbintik sekitar hidung. Diingat Eren bernama Marco Bodt.
"Oh, hallo Eren." sapanya, "Aku mengejutkanmu?"
Eren menghela nafasnya yang sempat tertahan tak sengaja. "Kau tahu jawabannya."
"Haha, maaf. Sebenarnya aku sudah memanggil tiga kali tapi kau terus asik dengan duniamu sendiri dan tak mendengar."
Kerjapan datang dari si pemuda samping Marco. "Ah, benarkah? Maafkan aku."
"Bukan masalah." Senyum Marco ramah. "Sepertinya kau sedang memikirkan hal yang serius. Setidaknya jangan terlampau hanyut hingga melamun sambil jalan jika tidak ingin menabrak pilar koridor."
"Eh?"
Telunjuk Marco terangkat lurus. Mengarah tepat kedepan Eren yang memberitahukan letak pilar terujung koridor berjarak sekitar empat puluh senti lagi dari muka Eren.
Lantas yang diberi nasihat nyengir panjang. "Ahh, terima kasih sudah mencegah wajahku menabrak pilar koridor."
Marco hanya tertawa meresponnya.
Bergeser dua langkah ke kanan begitu pula dengan Marco yang memberikan ruang gerak untuk Eren mereka kembali melangkahkan kaki beriringan menuju kamar asrama. Sudah sekitar pukul setengah delapan malam. Yang tidak berkepentingan sesuai jadwal memang diharuskan segera beristirahat karna kemungkinan ada jadwal tengah malam yang menunggu.
"Jadi," Eren memutuskan memecah sunyi. "Kau juga tidak ada jadwal saat ini?"
Yang ditanya menggeleng. "Tidak tapi aku punya jadwal dini hari nanti pukul 2. Kuharap tubuhku segera mengimbangi aktivitas harian baru seperti ini." Ia tertawa lagi. "Bagaimana denganmu?"
"Ehm, aku tidak ada lagi sampai besok."
"Class A memang menjamin." komentarnya. "Tidak sepertiku yang baru bisa berada di Class C."
Lirikan Eren jatuh pada pin seragam Marco. Memastikan sendiri simbol C yang terkait disana. Juga meneliti keadaan Marco spesifiknya. "Kurasa kau bisa naik tingkat dengan cepat. Tampaknya kau tidak punya luka berarti di hari pertama pelatihanmu."
Gerakan Marco berubah canggung. "Ahahaha, yaah mungkin.., aku beruntung."
Eren tidak tahu kenapa Marco memberikan jeda pada kalimatnya namun akhirnya memutuskan menyahut cepat. "Jangan begitu. Aku tahu pelatihan Class-mu pasti berat melihat begitu banyak kadet Class C yang berdiam di ruang pemulihan dengan tubuh kaku. Minimal lebam parah yang kulihat ada pada tubuh mereka tapi kau terlihat baik-baik saja, tanpa luka malahan."
"Ye‒yeah~ lumayan, aku juga merasakan beberapa nyeri dan kaku di tubuhku." Marco berucap, "Kau tahu Sir Shadis memberikan latihan dasar fisik yang mengerikan. Memaksa maksimal kinerja tubuh sampai batasnya begitu juga stamina. Aku nyaris tidak bisa bernafas disuruh berlari keliling Gedung Utara lima puluh putaran dengan iringan Mentor pembawa cambukan guna memberi peringatan untuk terus membuat kecepatan lari stabil seperti awalan."
Eren tersenyum ngeri. "Cepatlah naik Class Marco. Meski tubuhmu akhirnya terbiasa namun kurasa untuk sebulan pertama tubuhmu akan mati rasa."
"Hahaha, begitulah."
"Hei, Marco. Apa Sir Keith tidak menjadi Mentor Class A? Aku tidak melihatnya di ruang latihan meski sekilas tadi. Padahal Connie dapat pelatihan juga darinya."
Marco tampak berpikir. "Hm, kurasa tidak. Sir Keith Mentor Ketahanan Diri untuk Class B dan Class C. Sedangkan Class A punya Mentor Ketahanan Diri sendiri, bukankah begitu?"
"Benarkah? Aku tidak tahu itu." ‒entah jika aku tidak mendengarnya.
Eren terpekur mengingat-ingat. Sayang buntu duluan mengingat sorot obsidian Levi yang mengalihkan perhatiannya dari sekitar.
"Um, maksudmu tidak ada yang mengenalkan diri demikian?" Eren reflek mengangguk tak sadar. "Haha, itu aneh."
"Eh? A‒ ahahaha~"
Berakhir dengan tawa aneh Eren yang terpaksa berkat kesadarannya yang kembali.
.
.
.
Ada tiga orang yang telah lebih dulu berdiam dalam kamar asrama bernomorkan sembilan itu. Setidaknya bertambah diimbuhi Eren dan Marco yang baru datang.
Waktu menunjukan pukul delapan lebih sedikit. Menyadarkan Eren kalau laju gerak kakinya lambat berjalan. Butuh lebih dari dua puluh menit menyusuri koridor tersambung dari Gedung Utara lantai bawah tempat ruang makan berada menuju Asrama pria di Gedung Timur sisi kanan yang seharusnya bisa ditembuh sekitar limabelas menit saja berjalan santai.
Connie yang tahu pertama kali sadar kehadiran kedua rekan sekamarnya menyapa singkat. Eren menggangguk saja sedangkan Marco tersenyum ramah.
"Bukannya kau ada jadwal malam?" tanya Eren baru ingat. Melangkahkan kaki mendatangi ranjangnya yang berada paling ujung bagian kiri dari pintu masuk.
"Yeah, tapi dibatalkan." sahut Connie, "Kudengar ada sedikit masalah sehingga jadwal malam ditiadakan khusus hari ini."
"Oh, masalah apa?" Marco nimbrung heran.
Si plontos mengangkat bahu. "Entah pastinya tapi kudengar berhubungan dengan Distrik Stohess."
"Distrik kedua dalam wilayah Rose, apa yang terjadi?" Selaan datang dari arah pemuda bersurai coklat pudar dengan postur tinggi tegap yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di leher. Wajahnya menunjukan arogansi yang cukup membuat banyak orang memandang jengkel padanya. "Mungkinkah ada serangan Doll?" terkanya to the point.
"Jangan mengada-ada Jean." sergah Connie memberikan gerakan telunjuk menempel di bibir. Bermaksud menyuruh pemuda bermarga Kirschtein itu mengecilkan suara. "Stohess termasuk Distrik tersisa dari Rose, merupakan titik penting kedua setelah Sina. Jelas dilindungi ketat pemerintah dan kau seharusnya berpikir apa mereka cukup bodoh menyerangnya dengan basis militer setara Sina?"
Jean mengangkat bahu acuh. "Kau tidak tahu bagaimana pola pikir Doll dan setiap kemungkinan selalu ada jika itu berhubungan dengan mereka, botak."
Marco menggelengkan kepala menengahi sebelum Connie membalas. "Ayolah, jangan memulainya."
"Seperti kau memposisikan diri mengetahui segalanya Tuan Muda kuda." Ucapan Marco tadi tidak dapat tempat di telinga Connie. "Setidaknya mereka jauh lebih rasional ketimbang manusia pada umumnya. Pertimbangan mereka jauh lebih rumit dan tertata dari yang bisa kau bayangkan. Dan menyerang terbuka Stohess bukan pilihan bijak."
Seringai terlihat dalam raut wajah pemuda Kirschtein. "Dan kini siapa yang memposisikan diri seolah mengerti pola berpikir mereka?" sindirnya. "Orang yang belum pernah melihat kebengisan mereka tak bisa membandingkan bagaimana mereka berkerja hanya berdasar pada pengetahuan umum yang dibeberkan Akademi ini saat kelas umum." Jean berdecih muak. "Oh, dan apa kau baru bilang rasional? Menurutmu serasional apa sosok yang bisa membunuh manusia selayaknya menggencet semut, huh?!"
"Teman-teman, kumohon henti‒"
"Apa kau bilang?!" Connie memotong ucapan lembut menengahi Marco yang jelas kalah volume suara. "Memangnya kau sudah lihat jelas bagaimana Doll memenggal kepala korbannya? Pernah melihat aksi mutilasi brutal dengan lihainya menggunakan tangan kosong tepat didepan mata? Diciprati darah berbau amis sarat aroma besi dalam volume melimpah ruah, huh?!"
Eren yang tak masuk sesi debat itu kini mulai mual. Seakan irisan wortel rebus makan malam yang belum sempat dicerna itu berubah jadi seonggok daging manusia ukuran mini yang tercecer di setiap jalanan tak kala satu desa habis dijamah sekelompok Doll.
"Sudah. Sudah, cukup!" seru Marco ikut menggerakan lengan untuk menahan Jean dari belakang dan Connie dari depan yang siap saling adu tinju. "Berhentilah memperdebatkan hal yang bahkan belum bisa dibuktikan. Sampai kini belum ada satupun Doll yang berhasil tertangkap untuk diselidiki bagaimana pola pikir mereka selain yang terlihat sampai detik ini."
Marco tersenyum tenang membiaskan aura menurunkan suhu pada dua pemuda itu. "Jadi simpan segala argumen kalian soal mereka sampai ada Doll yang bisa membuktikan kebenarannya, oke?"
Jean mendengus keras buang muka. Connie tak jauh berbeda dengannya sambil menyilangkan tangan. Memberikan gerakan mundur menjauh satu sama lain sehingga Marco punya gerakan lebih bebas. Sedangkan Eren masih berkutat pada penopang sudut ranjang yang dicengkeramnya.
"Ah, Eren? Kau baik?" imbuh Marco sadar kondisi Eren yang diam saja tanpa gerakan berarti juga tidak ikut bicara.
"Kau sebegitu takutnya sampai tak bisa bergerak? Muntahkan saja kalau kau mual hanya karna mendengar pengalaman Connie barusan."
Jean cari ribut lagi dengan orang lain.
"Jangan mengganggunya Jean." Connie mewanti, "Kalau dia mau kau bisa saja sudah ditancapi beberapa pulpen yang masih bertengger di meja berjarak dua meter darinya itu."
"Huh?!" kedut jengkel muncul di dahi Jean.
Connie mengangkat bahu cuek. "Aku bicara fakta."
"Dia?" Jean secara nyata menuding Eren yang belum merubah posisi membelakangi mereka. "Lelaki yang bahkan terus dibanting seorang wanita? Jangan bercanda!"
Bukan aneh Jean tahu kondisi Eren dalam bertarung mengingat dia masuk jajaran Class teratas dengan patner Reiner Braun dua bulan kedepan. Eren masih memilih berpaku di posisinya.
"Astaga. Jean, baru sepuluh detik kau tenang." Marco mengurut pipi menorehkan senyum menyiratkan 'aku lelah mencegahnya mendebat orang'. Kemudian mengusulkan, "Bagaimana jika kita saling mengakrabkan diri? Seperti bercerita apa motivasi kita bisa berada di sini."
Semuanya tidak menyahut tapi terlihat setuju-setuju saja.
.
.
.
Guyuran air yang datang dari shower sedikit banyak melenyapkan lelah yang mendera tubuh Eren. Menghela nafas pendek memukul beritme kedua bahu dengan kepalan tangan kanan. Memilih membasuh tubuh yang lengket lebih dulu ketimbang langsung nimbrung dengan obrolan rekan-rekannya.
Memutuskan mengeringkan tubuh setelah melewati waktu sepuluh menit lebih mandi. Tanpa sadar begitu Eren membalikan badan‒dimana terpampang cermin sebatas perut yang merefleksikan dinding marmer berikut punggungnya‒tangan kanan yang semula memutuskan memberi pijat relaksasi malah berakhir mencengkeramnya.
Eren mendesis menitikan pandang pada tanda yang melekat di bahu kirinya yang sejujurnya hanya terlihat ujungnya saja. Sebuah tato permanen yang didapatnya dari tempat pelelangan budak sebulan silam. Si remaja coklat tahu tanda itu sudah terlanjur melekat ditubuhnya meski raganya belum mengecam pahitnya label itu. Terima kasih pada pria paruh baya yang menyelamatkannya waktu itu.
Hanya saja simbol yang digunakan sebagai tanda itu aneh. Teramat menurutnya.
Kenapa harus menggunakan sepasang sayap untuk menyimbolkan tanda budak pada seseorang? Dua sisi sayap tertumpuk dengan dua warna yang berbeda sebagai dua kutub makna yang berbeda?
Putih dan Biru‒nyaris menyentuh hitam.
Lalu untuk yang nyata terkungkung macam budak itu bukankah tak berarti apa-apa? Sayap adalah untuk mereka yang bebas. Dan kurungan harusnya yang pantas untuk mereka yang terkurung.
Seharusnya simbol semacam itu untuk mereka yang mengenyam kebebasan. Yang mampu mengayam dua perbedaan hingga menemukan titik temu yang mendongkrak kedua sisi yang bertolak belakang jadi satu dan terikat menopang. Atau yang memang memiliki motivasi untuk bebas.
Sedangkan budak sendiri nyaris tak dapat kesempatan mengenyam kebebasan. Jangankan mengayam dua sisi berbeda, menikmati rasanya hidup dengan pikiran sendiri saja tak mungkin jika manusia yang membanggakan diri sebagai tuannya itu telah mengeluarkan segepok uang untuk membeli mereka.
Cih, alangkah sialan babi-babi buncit bawah tanah yang mengemis harta menggunakan cara kotor memperdagangkan manusia sebagai patner bisnis rendahan sang tuan kurang ajar.
Yeah, ironi ditengah krisis ancaman monster sewujud serupa. Dimana sesama manusia pun tak bisa saling menopang untuk terus mempertahankan diri sampai alasan mendasar serangan timbul tenggelam lebih dari dua dekade itu mencapai titik terang.
Sering Eren berpikir kenapa para Doll itu tidak membabat habis saja manusia-manusia hina yang seharusnya tak dapat tempat karna menggunakan sesamanya demi memperbesar perut mereka sendiri. Laksana aksi kanibalisme terselubung. Ketimbang menghabisi manusia satu distrik yang belum tentu semuanya salah.
Dan itulah satu dari sekian hal yang tak Eren mengerti sampai sekarang.
Apa yang mereka pikirkan? Inginkan? Terpenting, tujuan? Berdasar pada apa mereka melakukan tindakan penghakiman brutal tanpa toleransi satu kepalapun?
Eren terus bertanya-tanya atasnya.
Memutuskan mengistirahatkan pikiran Eren bergegas melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi begitu memakai kaos putih lengan panjang beserta celana hitam training. Menyipitkan mata melihat empat kepala pemuda asik berkerumun di lantai kayu‒yang memang dapat desain berbeda dari ruangan lainnya‒ membentuk kurva dengan sisi terbuka menghadapnya. Belum bertambah dari terakhir ia tinggal padahal jam malam setengah jam lagi.
"Masih bernostalgia?" kata Eren sembari duduk di pinggir kasur bawah rekan satu ranjang susun dengannya, Jean.
Marco yang memiliki peringai pengertian dan baik lebih tebal dari lainnya menyahuti, "Kurasa masih masuk jika membicarakan psikotes masuk kemari."
Dahi Eren berkenyit. "Maksudnya uji mental itu?"
"Bukan, tapi tes tertulisnya." Kali ini Connie lah yang merespon ditanggapi anggukan cepat dari si penanya. "Jangan bilang kau tidak mendapatkan tes tersulit ini Eren?"
Gelengan sekali.
"Masuk jalur khusus, eh?" Jean nimbrung dengan nada tak enak alias menyindir.
Si kepala pirang satu-satunya disana, Thomas, ambil suara juga. "Oh, kau beruntung Eren."
"Jalur khusus?"
Bukan hal salah Eren bertanya jikalau nyata ia tidak tahu benar namun si pemuda muka kuda berkata dengan sengaknya. "Apa saja yang kau tahu? Kenapa kau begitu bodoh sampai tidak mengerti apapun begitu? Tidak heran kau lebih banyak diam, rupanya kau lemot."
Helaan memperpanjang hembusan nafas demi menebalkan urat sabar dilakukan si brunette.
"Jean, hal itu termasuk informasi cukup khusus kalau kau mau memutar otakmu sedikit. Wajar jika Eren tidak tahu mengingat ia berada jauh dari Distrik Sina." Connie menimpali pembelaan untuk rekannya, "Dan Eren, perlu kau ketahui ada jalur khusus dengan tiga ketentuan di sini untuk bebas psikotes tertulis saat masuk‒kudengar menggagalkan nyaris tujuh puluh persen dari pendaftar kadet."
Eren ingat belum pernah bicara asal usulnya tapi Connie mengerti bahwa dirinya datang jauh dari Sina. Pertanyaan muncul dalam kepala tapi memilih menomorsekiankan untuk terus melanjutkan pembicaraan yang tidak dipahami ini.
Marco mengangguk membenarkan. "Satu, ada Petinggi Akademi yang nyata menjamin dirimu masuk." Eren mengerti dirinya masuk kategori pertama. "Dua, kau sudah dapat nilai plus dari hasil pengamatan Mentor yang berkeliaran merangkap Penjaga Distrik. Terakhir, kau masuk dalam silsilah keluarga yang memang menyandang keluarga militer di sini. Dimana mencantumkan jelas bahwa setiap anggotanya pasti masuk militer dengan keahlian tinggi."
Gerakan angguk dari Eren beriringan dengan benaknya yang memikirkan alasan Pak Tua waktu itu bisa memberikan jaminan untuknya lolos masuk tanpa tes tertulis ini. Yah, terserah. Sudah berlalu juga pikirnya.
"Dua cukup masuk akal dan adil‒mungkin, tapi yang ketiga bukankah terlalu muluk? Tidak setiap orang punya keahlian senilai meski satu garis keturunan bukan?" pendapat Eren lancar begitu saja keluar.
"Memang," Jean yang tanggap duluan. "Tapi jika kau melihat kemampuan mereka yang dapat kategori ketiga kau pasti mengerti."
"Betul. Yang terkuat keluarga Ackerman kan?" Marco mengimbuhi.
Barusan, apa… Ackerman?
Eren mengerjap. Bukannya itu marga si pria papan beriris obsidian yang sukses menebarkan intimidasi kemana-mana?
Pantas saja!
"Yeah~" Connie membenarkan. "Mereka yang terbaik di sini. Sayang mendapati kecurigaan serius sehingga dapat pengawasan ketat dari pemerintah sekarang. Meski masih dalam tahap prasangka tetap saja segala hal yang menyangkut Doll walau hanya secuil akan jadi titik sensitif pemerintah."
Eren jadi heran bagaimana bisa Connie dapat informasi sebegitu banyak.
Pemilik marga Kirschtein menampakan raut tertarik. "Jelaskan."
"Aku tidak tahu jelasnya, ini hanyalah apa yang kudengar tanpa sengaja sebelum masuk kemari. Bagaimanapun ini berita lama yang muncul kembali." Si kepala plontos bergumam, "Ada satu anggota keluarga Ackerman yang menghilang sepuluh tahun lalu tanpa jejak. Awalnya masalah itu dianggap sebagai kasus penculikan namun ada juga yang berpikiran anak itu kabur dari rumahnya. Yah, berbagai praduga terjadi saat itu sementara pihak Ackerman sendiri tidak berkomentar apa-apa sebagai satu dari sekian keluarga yang merupakan poros inti pasukan tentara melawan Doll.
"Mungkin antara kabur dan hilangnya bocah itu sudah jadi aib buruk untuk mereka jadi memilih tak perduli akannya. Kau tahu, hidup dalam lingkup keluarga penjunjung tinggi militer itu keras dan kupikir alasan paling masuk akal adalah kabur jika kau nyata tidak tertarik pada dunia militer itu sendiri. Kemudian kasus itu memudar meski belum ada kabar atas anak yang hilang tersebut.
"Setidaknya sebelum sebulan lalu ia menampakan diri dan dikenali jelas oleh salah seorang pemimpin skuat Penjaga Distrik menjadi bagian kelompok Doll yang menyerang Distrik Trost. Dan BOOM! Kasus itu mencuat lagi sekarang dengan embel curiga yang lebih parah dari sebelumnya dengan menuding langsung Ackerman terlibat dengan Doll."
Eren berpikir keras. Belum habis hari kedua menginjakan kaki ke Akademi Sina sudah ada setidaknya tiga hal yang menyeruak minta penjelasan rinci di otaknya.
Pertama. Perkataan tegas Levi yang tampak menggantung. Meski Eren telah membersitkan bentuk pemahamannya atas hal itu tetap saja ada satu hal yang masih tertinggal disana menurutnya. Inti penting tujuan ucapan Levi lebih tepatnya.
Kedua. Rumor aneh yang mengatakan kemungkinan bahwa Doll pernah menyelinap di Gedung Selatan Akademi Sina untuk alasan yang belum diketahuinya.
Ketiga. Praduga soal keterlibatan keluarga Ackerman dengan kelompok Doll. Berkat anak yang telah menghilang sepuluh tahun menampakan diri kembali diantara jejeran Doll dalam penyerangan Distrik Trost sebulan lalu.
"Oh ya, Eren, bukankah kau berasal dari Trost?"
Empat pasang mata tertuju lurus pada pemuda yang menumpukan titik pandang kosong menembus jauh ke belakang tanpa sahutan.
.
.
.
a/n:
Yap, saya disini. Maaf atas keterlambatan yang keterlaluan ini, koneksi sulit diajak kompromi X'D
Ahh, benar. Sejujurnya saya punya inspirasi tinggi dari sebuah film berjudul Divergent yang ambil bagian dalam alur di fic ini seperti reviewer pertama saya yang menyadarinya dan sungguh saya mohon maaf belum sempat membalas review sekalian X"D.
Tapi bukan itu inti fic ini, tentu saja . . XDD
Sejujurnya saya kehilangan mood untuk melanjutkan fic dengan tema yang terbilang berat berikut tatanan alur deskriptif macam ini. Well, saya mampu menciptakan alurnya tapi dalam proses pembuatan itu yang secara kurang ajar tingkat kemalasan saya bertambah. X'''D
Jadi saya sendiri tidak cukup yakin fic ini bisa selesai tapi sungguh saya berterima kasih sebanyak mungkin untuk yang bersedia mereview fic abal saya ini ^^
Salam,
_rinfu
