Title: Turun Ranjang

Cast: Kris Wu Yifan, Huang Zitao, Huang(Wang) Likun, Wu Shuya(Shopia)

Pairing: Kristao

Warning: GS for uke, typO, bahasa tidak baku

Disclaimer: Semua cast bukan milik saya tapi cerita milik saya

.

.

.

.

.

PART 2

#FLASHBACK#

6 YEARS EGO

Tangan Zitao bergetar setelah gadis itu selesai membaca diary milik kakak perempuannya. Hari ini adalah hari ke dua Zitao resmi menjadi istri kakak iparnya, Wu Yifan setelah sang kakak meninggal dua bulan yang lalu paska melahirkan anak pertama mereka Wu Shuya.

Tanpa sengaja Zitao menemukan diary lama milik sang kakak di kamar yang akan ia tinggali dengan Yifan. Akhirnya Zitao mengerti kenapa sang ayah bersikeras menikahkan dirinya dengan Yifan. Semua sudah jelas sekarang, tertulis rapi di diary milik Likun kakaknya. Bahwa ternyata selama ini Wu Yifan, atau yang selama ini Zitao anggap sebagai kakak ipar yang baik menyimpan perasaan padanya. Bahkan Yifan telah menyukai Zitao jauh sebelum pria itu menikah dengan Likun.

Zitao marah, merasa dibohongi. Sama sekali tidak pernah Zitao bayangkan bahwa Yifan memanfaatkan cinta tulus milik Likun untuk mendapatkan dirinya, memanfaatkan kondisi Likun yang tidak akan berumur lama. Beraninya Yifan mrlakukan hal itu pada kakak yang begitu ia cintai.

Air mata terus menetes di pipi halus milik Zitao, hanya dalam sekejap hidupnya terasa berporak poranda. Dengan bodohnya selama ini ia beranggapan bahwa Yifan adalah orang yang bisa memberikan kebahagiaan di masa-masa terakhir Likun. Padahal Zitao begitu percaya pada lelaki itu, Zitao sejak kecil mengidap sister complex, jarang sekali ia membiarkan Likun dekat dengan orang lain. Bagi gadis itu, ia tidak mau membagi kasih sayang Likun pada orang lain. Tapi entah mengapa dengan Yifan, Zitao merestui hubungan jiejienya dengan pria itu. Karena Zitao tau, mata Likun tidak bisa berbohong. Likun begitu mencintai Yifan.

Zitao merasa dihianati, dia tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Likun di saat-saat terakhirnya. Jiejie tersayangnya tidak bisa mendapatkan cinta yang ia inginkan karena keberadaan Zitao sendiri. Zitao benar-benar takut membayangkan jika mungkin saja selama ini Likun membenci dirinya.

"Jiejie...hiks...maafkan aku jie..."isak Zitao dalam tangis sambil memeluk erat diary milik kakaknya. Duduk bersimpuh didepan meja rias kamar itu.

'CKLEK!'

Suara pintu dibuka dan Yifan muncul dibaliknya.

"Zi-"Suara Yifan terputus saat ia mendapati Zitao bersimpuh di lantai dengan berurai air mata namun memandang benci kepadanya. Nafasnya naik turun isakan kecilnyapun sesekali masih terdengar. Yifan tahu ini bukan pertanda baik. Sebisa mungkin pria berusia 24 th itu mengusai dirinya.

"Zitao-"

"PERGI!"Teriak Zitao sambil melempar diary itu saat ia melihat Yifan ingin mendekat. Sungguh, saat ini Zitao begitu muak dengan pria itu.

Yifan memungut diary yang baru saja jatuh dihadapannya. Seperti yang ia duga, diary itu milik Likun. Tanpa membacapun Yifan sudah tahu bagaimana isinya

"Zi, aku bisa menjelaskan ini semua,"

"Aku tidak butuh penjelasan!"teriak Zitao,"Beraninya kau..hiks...beraninya kau melakukan ini semua..."dengan sedikit limbung, Zitao mencoba bangkit berdiri.

"Zi-"

"Aku mau pulang!"teriak Zitao sambil berjalan menuju pintu di belakang Kris. Namun tentu saja dengan mudah Kris menangkap tubuh Zitao.

"Pulang kemana? Mulai saat ini disini rumahmu,"cegah Yifan sambil mencengkeram kuat kedua bahu Zitao.

"Lepaskan aku! Ini bukan rumahku dan aku ingin ppulang!"ronta Zitao mencoba lepas dari cengkeraman Yifan.

"Tidak Zitao, disini rumahmu, kau tidak akan kemana-mana,"tentu saja Yifan tidak akan kalah tenaga dari tubuh remaja Zitao. Pemberontakan gadis itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.

"Lepas..hiks..lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini Wu Yifan!"teriak Zitao kesal, disaat seperti ini Zitao merasa menyesal kenapa ia dilahirkan sebagai wanita yang lemah.

"Tidak Zitao, kau tidak tahu berapa lama aku menunggu saat ini tiba dan berapa banyak yang sudah aku korbankan agar kau menjadi milikku,"suara rendah Yifan bergema di ruangan itu.

Mata Zitao nanar, dia menangkap sesuatu yang berbahaya dari ucapan Yifan barusan. Belum sempat ia memberikan balasan akan ucapan Yifan, Zitao kini merasa tubuhnya melayang. Ya, Yifan mengangkat tubuh Zitao bridal style.

"A-apa yang kau lakukan, turunkan aku, turunkan aku Wu Yifan!"teriak Zitao tak terima sambil berusaha turun dari lengan Yifan. Kedua kaki jenjangnya menendang-nendang udara tak beraturan.

'BRUGH!'

Yifan menjatuhkan tubuh Zitao di atas ranjang, tak memberi kesempatan bangkit bagi gadis itu karena Yifan dengan sigap menahan kedua lengan gadis itu dan mengurungnya di bawah kuasanya.

"K-kau mau apa, kau bilang pada Baba tidak akan menyentuhku sebelum aku berusia 20 th kan?"takut, saat ini Zitao benar-benar ketakutan. Sorot mata Yifan berubah, sorot mata yang belum pernah Zitao lihat selama ini.

"Aku memang mengatakan itu pada Baba, tapi kau tidak memberiku pilihan Zitao,"jawab Yifan ambigu.

Zitao menggelengkan kepalanya tak percaya,"Jangan bercanda, aku tidak mau, lepaskan aku!"teriak Zitao histeris, air matanya merebak lagi

"Sudah lama, sudah lama aku menginginkanmu Zitao,"ucap Yifan lembut sambil mengelus pipi gadis itu.

Zitao bergetar ketakutan, bagaimana mungkin kakak ipar yang begitu ia hormati selama ini berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak Zitao kenal. Menjijikkan, orang yang selama ini ia anggap saudara kini menginginkan dirinya. Tolong jelaskan pada Zitao, bagaiman dia harus bersikap jika orang terdekatnya ingin menggagahi dirinya. Zitao benar-benar jijik, tidak sekalipun ia berfikir akan melakukan hal intim dengan kakak iparnya.

"Tidak, ini salah, biarkan aku pergi, biarkan aku pergi..."saat dirasa cengkeraman Yifan mengendur Zitao berusaha berguling kesamping dan mencoba merangkak menjauh.

"Kau mau kemana Zitao, aku tidak akan mengizinkanmu pergi,,"

DEG!

Zitao menegang saat kini Kris tepat berada diatas punggungnya,posisi Zitao yang tengkurap berusaha untuk merangkak barusan mempermudah Kris untuk menahan pergerakan Zitao.

"J-jangan... arghhhh..."erangan lolos dari bibir kucing Zitao saat bibir basah Kris mencium belakang lehernya kuat. Zitao merasa goyah, kedua tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat. Deru nafas Kris di samping daun telinganya membuat Zitao takut.

"T-tolong...lepaskan aku.."cicit Zitao saat gadis itu merasakan ciuman Kris kini sudah turun di sepanjang bahunya. Dengan lihai Kris menyingkap lengan gaun tidur milik Zitao hingga menunjukkan bahu mulus gadis berusia 16 itu. Tangan lihainya menyusup ke dalam gaun itu hingga menemukan apa yang ia cari, apel hawa milik Zitao dan meremasnya lembut.

"Arghhh,,,hentikan.."tanpa sadar Zitao mengangkat kepalanya, yang justru memudahkan Yifan untuk mencium Zitao. Yifan sengaja menahan wajah Zitao menghadap samping agar ia yang kini berada di belakangnya lebih mudah menggapai bibir gadis bermata panda itu.

"Ught.."seumur hidup baru kali ini Zitao dicium dengan cara seperti ini. Gadis itu kuwalahan dan tidak mampu berbuat apa-apa, melawanpun tidak bisa. Karena tubuh Zitao melemas saat ini.

Yifan membalik tubuh Zitao kembali menghadap padanya tanpa melepas ciuman itu. Bahkan saat Zitao sudah terlentang sempurna di bawahnya Kris masih setia menciumi Zitao.

Setelah beberapa saat berlalu akhirnya Yifan melepas ciumannya, dan terlihatlah Zitao dengan dada membusung mencari udara sebanyak-banyaknya. Yifan meraih tangan kiri Zitao dan menciumnya lembut sambil menutup mata, membuat Zitao sedikit bingung dengan tingkah mantan kakak iparnya itu.

Perlahan Yifan membuka mata kembali, namun kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu setelahnya mampu membungkam Zitao,"Aku mencintaimu Zitao, sangat mencintaimu. .."

"A-apa...?"tidak ada yang lebih menakutkan daripada menerima pernyataan cinta dari kakak iparmu sendiri. Walaupun sekarang Yifan telah berstatus sebagai suaminya, tetap saja di dalam alam bawah sadarnya Zitao tetap menganggap Yifan sebagai saudaranya.

"Selama ini aku begitu mencintaimu, dan sekarang aku sungguh bahagia karena kau telah menjadi milikku,"bisik Yifan lembut, hatinya sudah mantap, dia akan menjadikan Zitao miliknya seutuhnya malam ini.

Katakan jika Yifan memang sengaja menulikan pendengarannya tak ambil perduli dengan teriakan gadis dibawahnya itu. Zitao meronta keras saat Yifan berusaha menanggalkan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Tapi, siapa yang bisa menghentikan nafsu laki-laki yang sudah menginginkan hal 'itu'. Yifan menginginkan Zitao, dan itu mutlak.

Tubuh perawan Zitao bergetar hebat, tiada henti ia menyerukan teriakan kesakitan. Memohon dengan sangat agar Yifan menghentikan semuanya. Tapi maukah Yifan mendengarkan rintihan gadis itu? Laki-laki itu sudah dibutakan cinta dan juga nafsu. Tubuh mungil Zitao begitu pas direngkuhannya, membuat Yifan merasa gila. Kegilaan yang mendorong pria itu untuk mengklaim seluruh tubuh Zitao.

"A..arghh..."Zitao mengerang tertahan saat Yifan menyentuh bagian terdalam dirinya. Matanya membesar dan mulutnya sedikit terbuka, rasanya begitu asing.

Sepertinya waktuku sudah hampir habis

Aku harus mengembalikan apa yang bukan menjadi milikku

Aku harus mengembalikan hati Yifan pada Zitao

Zitao, sayang...

Sebentar lagi Jiejie akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu

#FLASHBACK END#

.

.

.

.

#YIFAN POV#

Senyuman itu, kapankah senyuman itu akan menjadi milikku juga? Zitao, setelah sekian lama masih kah kau membenciku seperti dulu?

"Jadi pangeran kodok berubah menjadi manusia lagi setelah dicium sang putri?"Aku iri pada Shuya, yang selalu mendapat perhatianmu, bisakah sekali saja kau juga memperhatikanku.

"Benar, setelah itu pangeran dan putri hidup bahagia selamanya di istana yang indah,"aku selalu bermimpi berbicara denganmu dengan penuh kasih sayang seperti itu, bukan berteriak satu sama lain.

"Tapi mama, apa pangeran tidak akan berubah menjadi kodok lagi?"

"Tentu tidak sayang, karena sihirnya sudah dipatahkan oleh ciuman sang putri,"kau tidak tahu betapa aku memujamu Zitao, melihatmu seperti ini sudah cukup untukku, tak mengapa jika kau tak menyukaiku. Asal kau tetap disisiku aku akan baik-baik saja.

"Ahhh Shuya senang mendengar itu mama,"lihatlah gadis kecil kita itu, dia begitu menyayangimu.

"Bagus, sekarang waktunya kau tidur sayang,"

"Eumm, Shuya belum mengantuk,"

"Eisttt tidak boleh, kau harus pergi tidur atau besok kau bisa terlambat ke sekolah,"Aku hampir tertawa melihatmu mengancam Shuya dengan begitu lucunya.

"Tapi mama.."

"Papa, Shuya tidak mau tidur,"Kau sengaja mengadu padaku karena Shuya merajuk, tapi bolehkah aku meminta lebih, aku sudah bersyukur kau menganggapku ada walaupun hanya di depan Shuya.

Mendengar aduanmu, mau tak mau aku menghampiri kalian. Sedari tadi aku memang hanya memperhatikan kalian di atas sofa kamar Shuya,"Shuya, ayo tidur dan jangan membuat mama susah,"tegurku pada putri semata wayangku itu.

Kulihat Shuya sedikit merengut, kebiasaan anak itu jika keinginannya tidak terpenuhi,"Baik papa, Shuya akan tidur,"

"Anak pintar, nah sekarang tidurlah,"kukecup keningnya sayang dan mengusap helaian rambutnya. Disusul Zitao yang kini ikut mengecup kening Shuya.

"Selamat malam sayang, mimpi indah,"Zitao tersenyum teduh pada Shuya, senyum yang cantik.

Akhirnya akupun menarik Zitao keluar dari kamar Shuya, waktu untuk menidurkan sang putri telah usai.

'PLAKS'

Zitao langsung menarik tangannya kasar yang sedari tadi kugenggam setelah kami keluar dari kamar Shuya. Aku tidak terkejut, hal ini sudah biasa. Zitao akan memperlakukanku bagai wabah penyakit yang mematikan jika Shuya tidak ada diantara kami.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Zitao langsung meninggalkanku menuju kamar kami. Ku lihat punggungnya yang kini semakin menjauh, ada rasa hampa yang muncul dihatiku. Sampai kapan, sampai kapan kami akan seperti ini terus? Hati Zitao terlalu jauh untuk kugapai, terlalu tinggi untuk kuraih. Zitao, andai saja aku bisa hidup tanpamu, mungkin semuanya tidak akan sesulit ini. Tapi ternyata tidak bisa, membayangkan saja aku tidak sanggup jika harus terpisah darimu.

.

.

.

Satu hal yang paling Zitao benci dari gaya hidup kalangan atas, pesta jamuan. Kadang Zitao tidak habis pikir kenapa para orang kaya sangat suka sekali berpesta, hanya menghamburkan uang saja, begitu pikir Zitao.

Zitao bukan berasal dari keluarga bangsawan, ayahnya hanya pegawai perusahaan biasa. Itu kenapa Ayahnya setuju saja saat Yifan meminta Zitao untuk dijadikan istri. Ayah Zitao tidak mau kehilangan menantu kaya raya macam Kris Wu. Dan sebagai konsekuensi menjadi istri Kris, Zitao harus mengikuti gaya hidup pria itu. Tak terkecuali bersosialisasi dengan para koleganya yang menurut Zitao hanya penuh dengan penjilat.

Saat ini Zitao sedang berada di dalam bilik toilet Hotel tempat pesta jamuan diadakan. Zitao merasa asing ditengah orang-orang bergaya glamour itu. Gadis bermata panda itu merasa ini bukan tempat untuknya. Zitao benci jika Kris sudah mulai memaksanya untuk ikut di jamuan pesta. Zitao baru saja ingin keluar dri bilik toilet saat segerombolan wanita datang. Alhasil kini Zitao kembali masuk ke dalam toilet.

"Kris Wu akhir-akhir ini semakin tanpan ya?"kata sebuah suara,"Mungkin benar kata orang-orang jika pria itu seperti wine, semakin tua semakin tinggi nilainya,"

Terdengar tawa dari beberapa wanita yang lain mendengar penuturan si wanita pertama,"Kau benar, Kris Wu memang sempurna. Tapi sayang, he's taken!"

Kini suara kikikan yang terdengar,"Ahh kau benar, istri kecilnya itu sangat beruntung. Aku tidak tahu apa yang Kris Wu lihat dari istrinya itu,"

"Hei kudengar dia istri keduanya, istri pertama Kris Wu itu kakak dari istrinya yang sekarang. Turun ranjang istilahnya,"

"A-apa? Woahhhh pantas saja dia masih terlihat muda. Tapi kenapa Kris Wu mau menikahi adik iparnya sendiri, seperti tidak ada wanita lain saja,"

"Aku dengar gossip, mertuanya memaksa Kris Wu untuk menikahi anak keduanya. Mungkin dia takut kehilangan sumber uang,"

Lagi-lagi suara tawa terdengar,"Rendahan sekali, orang miskin memang sering berfikir seperti itu. Atau mungkin pak tua itu takut anak keduanya menjadi perawan tua?"

Gelak tawa terdengar lagi menyahuti suara barusan. Sedangkan di dalam bilik toilet, Zitao meremas tas tangannya kuat dengan gemuruh dihatinya. Saat ini gadis itu benar-benar merasa direndahkan.

.

.

.

Zitao kemabali ke dalam ball room dengan wajah mengeras, insiden di toilet tadi masih membekas dihatinya. Tanpa pikir panjang Zitao meraih gelas yang dibawa pelayan yang melewatinya dan menegak habis isinya. Tenggorokan gadis itu terasa terbakar tiba-tiba. Wajar saja, karena sebenarnya Zitao jarang sekali minum.

Mata pandanya kini sibuk menyapu ruangan mencari sososk Yifan. Disana, akhirnya Zitao menemukan sosok Yifan sedang berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerjanya. Mata Zitao memicing memandang sosok itu.

Wu Yifan, semua orang memandang tinggi dirinya. Tapi tidak begitu bagi Zitao. Bagi gadis itu Wu Yifan adalah sosok yang licik. Sosok yang suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Selamanya Zitao tidak akan lupa apa yang telah pria itu lakukan pada kakaknya. Sempurna kata mereka? Ha, rasanya Zitao ingin tertawa jika mengingat itu.

Saat ini mood Zitao benar-benar buruk. Dia ingin sekali saja mempermalukan Wu Yifan di depan koleganya, agar mereka tahu bagaimana sososk Wu Yifan yang sebenarnya. Zitao melihat kesekeliling mencoba mencari sesuatu. Saat disadari dia tidak menemukan apapun Zitao merasa kesal sendiri. Tidak ada pilihan lain, terpaksa Zitao menjatuhkan dirinya sendiri sambil menarik taplak meja disampingnya hingga semua yang berada diatasnya ikut terjatuh bersamanya.

'PPRRAAAAAAAAAANNNNGGGHHHH!'

Bunyi perabotan terjatuh yang mampu menyedot semua perhatian pada sumber suaranya. Kini Zitao terdusuk dilantai sambil menunduk dengan perabotan dan segala isinya tumpah disampingnya. Hening beberapa saat di ball rome yang awalnya ramai tersebut, bahkan musik pengiringpun kini dihentikan.

'Nah Wu Yifan, sekarang marahlah. Tunjukkan sifat aslimu, aku sudah membuatmu malu kan?'batin Zitao dalam hati masih dengan posisi menunduk di lantai.

TAP!

TAP!

TAP!

Zitao mendengar satu-satunya suara langkah diruangan itu menghampirinya, gadis bermata panda itu yakin langkah itu milik Yifan. Bahkan Zitao sudah bersiap diri jika tiba-tiba saja Yifan akan memukulnya dan membentaknya. Memang hal itu yang Zitao inginkan, kemarahan Yifan.

'GREP!'

Zitao membelalakan matanya saat sepasang lengan tiba-tiba merengkuhnya dan menenggelamkan wajahnya di dada orang itu. Ya, bukannya marah Yifan justru kini ikut berjongkok disamping Zitao dan memeluk tubuh istrinya itu.

"Tidak apa-apa, jangan menangis, ini bukan salahmu.."hibur Yifan lirih tepat di telingan Zitao.

DEG!

DEG!

DEG!

'A-apa-apaan ini?'gagap Zitao dalam hati, seumur hidupnya baru kali ini jantung Zitao berdebar saat berdekatan dengan Yifan.

'Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, jangan dengarkan omongan orang lain.."Yifan masih setia menenangkan Zitao sambil mengusap punggung istrinya itu.

Zitao bingung, kenapa semuanya menjadi seperti ini. Ini bukanlah yang ia mau. Tiba-tiba saja Zitao merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri, tanpa sadar gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya di dada Yifan dan mencengkeram kuat jas bagian dada milik suaminya itu.

"Aku mau pulang..aku mau pulang..."tanpa sadar Zitao merajuk dengan suara teredam, dia malu sekali. Gadis itu ingin cepat pergi dari tempat ini sekarang juga

Kris tersenyum maklum, pria itu berfikir mungkin istrinya itu masih syok dengan apa yang baru saja terjadi, "Baiklah, kita pulang sekarang," Kris mengangkat tubuh Zitao bridal style secara perlahan, sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Zitao langsung memeluk lehernya kuat dan menyembunyikan wajah cantiknya di ceruk leher Yifan. Mungkin Zitao benar-benar malu, begitu pikir pria itu

"Maaf mengganggu jalannya pesta ini, tolong dilanjutkan saja. Semua kekacauan ini akan saya bereskan,"ucap Kris lantang di tengah ruang pesta itu.

"Ahhh tidak apa-apa tuan Wu, namanya juga kecelakaan,"sahut salah satu tamu di ruangan itu.

Perlahan-lahann suasanya yang tadinya hening kini kembali mencair dan seperti tidak terjadi apa-apa. Mendengar Yifan meminta maaf untuk dirinya membuat Zitao merasa kecil. Mungkin benar kata-kata wanita di toilet tadi. Bahwa Zitao hanya menyusahkan kehidupan seorang Kris Wu.

.

.

.

Kris mendudukkan Zitao di atas ranjang setelah mereka sampai di rumah. Jam sudah pukul 11 malam saat ini. Pria berdarah China-Kanada itu duduk berjongkok di hadapan Zitao.

"Kau tidak apa-apa?"tanya Kris lembut sambil mengusap tangan Zitao. Sedangkan orang yang ditanya hanya diam. Entahlah Zitao merasa aneh malam ini, seperti bukan dirinya saja.

Tidak mendapat jawaban akhirnya Kris bangkit dari duduknya,"Sebaiknya kau tidur, aku ambilkan baju gantimu dulu,"pria tinggi itupun kini berjalan kearah lemari.

Zitao tak bergeming, tetap duduk dipinggir ranjang sambil menunduk. Bahkan sampai Kris kembali ke sampingnya Zitao masih tetap diposisi semula.

"Ganti bajumu dulu, agar tidurmu lebih nyaman,"saran Kris pada Zitao, tapi sepertinya istrinya itu tidak menyahutnya,"Zi, kau mendengarku kan?"tanya Yifan memastikan tapi tetap tidak ada jawaban. Dipandanginya Zitao lekat, istrinya itu kini sibuk meremas-remas jemarinya sendiri, seperti mencemaskan sesuatu.

"Kau benar-benar butuh tidur, biarkan aku membantumu berganti baju. Jika langsung tidur dengan keadaan seperti ini tidurmu tidak akan nyenyak,"tanpa menunggu persetujuan Zitao Kris mulai menarik tali pengait gaun yang Zitao kenakan.

SRET!

SRET!

SRET!

"K-Kris.."tahan Zitao

"Hem, kau mengatakan sesuatu?"tanya Kris yang lebih mirip bisikan, tangannya kini sudah berhasil meloloskan gaun Zitao ke bawah, meninggalkan bagian atas tubuh Zitao dalam keadaan polos, karena gaun yang Zitao kenakan tadi memang tidak mengharuskannya untuk mengenakan underwear.

"B-berikan gaun tidurnya padaku, aku bisa memakainya sendiri..."ini memang bukan pertamakalinya Zitao telanjang dihadapan Kris, tapi entah mengapa saat ini Zitao merasa sangat malu.

Kris dengan sengaja menjauhkan gaun tidur yang akan Zitao raih. Istrinya itu sepertinya akan berteriak protes, namun dengan cepat Kris membaringkan tubuh Zitao dan menindihnya,"Aku pikir lebih baik kau tidur tanpa gaun tidurmu malam ini,"jawab Kris sekenanya.

"A-apmphhh..."Kris langsung membungkam Zitao dengan ciuman dalam. Sedikit terkejut saat lidahnya mengecap rasa alkohol di mulut Zitao. Mungkinkah itu alasan istrinya itu sedikit jinak malam ini?

"Malam ini aku akan membuatmu tertidur pulas,"ujar Kris dengan bibir yang masih menempel pada bibir Zitao. Tangan kanannya mulai menyapu paha dalam milik Zitao dan terus ke atas, membuat si empunya mengerang tertahan.

TBC

a.n

dulu waktu aku cuma jadi reader di ffn, aku suka kesel kalo author fav aku ngepost ff baru padahal ff lama mereka belum kelar

and guess what I'm doing rn? Yeps aku ngelakuin hal yang sama so I feel you author,I feel you! Ternyata jadi author ga gampang, apalagi kalau uda ketemu writer's block, gezz suka bete juga

so, karwna aku lagi suka banget ma shopia ya uda ff ini yang aku update, tapi aku ga lupa ma ff aku yang lain ko, so tunggu updatan ff aku yang lain ya guys,,tanks and bye