Seorang wanita dengan setelan baju oranye yang dipadukan rok sepanjang lutut memasuki ruangan Presdir kemudian menghampiri meja atasannya.

"Sajangnim, Saya sudah mengumpulkan data keuangan tiga bulan terakhir." Ucapnya seraya meletakkan beberapa map keatas meja Sajangnim-nya.

"Ah, Gomawo."

"Saya permisi, Sajangnim." Wanita itu membungkuk hormat lalu mundur dari hadapan atasannya.

Seorang laki-laki dengan rambut ikal itu mengangguk meski matanya tidak lepas dari dokumen yang sedang diselesaikannya. Setelah pintu ruangannya tertutup, laki-laki itu menyandarkan punggungnya yang terasa sangat pegal karena seharian ini dia mengurusi dokumen dari salah satu cabang perusahaan keluarganya di Jepang.

Dia mencoba untuk menyamankan diri, berusaha untuk serileks mungkin. Matanya menutup perlahan. Meski sebentar, tidak apa kan jika ia tidur? Masih ada beberapa dokumen yang belum selesai, namun rasa lelah yang menghampiri membuatnya mengantuk. Terlebih dengan suasana nyaman dan hening malam itu.

Kepalanya menoleh sisi dinding ruangannya yang terbuat dari kaca transparan, sehingga dia bisa melihat suasana Seoul ketika malam hari. Tidak terasa sudah memasuki bulan Desember. Mata caramel itu perlahan meredup, menandakan ia benar-benar lelah karena hari yang padat seperti biasa.

Ia berharap bisa menyambung lagi mimpi yang selama ini menjadi bunga tidurnya. Mimpi masa dua puluh tahun lalu, ketika dibawah pohon natal disebuah pusat pertokoan, dia bertemu dengan seorang pemuda yang mengubah jalan hidupnya keseluruhan. Seorang pemuda yang sudah dengan seenaknya menanamkan sesuatu dalam dadanya.

###

In The Christmas Tree

.

WonKyu

Anak kecil itu menyedot segelas Fruit Punch yang biasanya dibuatkan oleh Sang Umma dengan senang hati. Beberapa minggu ini dia dilarang untuk menikmati makanan ataupun minuman manis karena beberapa gigi susunya yang tanggal harus berganti dengan gigi-gigi baru.

Siwon sesekali melihat kearah bocah berusia enam tahun itu lalu mengelus kepalanya pelan. Dia kembali menghela nafas. Pikirannya lagi-lagi harus berkemelut rumit saat sisi baiknya tidak tega melihat anak laki-laki yang barusan menjadi korban culiknya. Dia memandang kedepan, dimana orang-orang lalu-lalang. Untuk yang kesekian kalinya dia menghembuskan nafas.

Dia tahu bagaimana kehilangan orang tua. Sangat tahu malah. Dan dia sungguh tidak tega dengan anak yang dibawanya. Namun sisi jahatnya kembali berbisik mesra, bahwa ia melakukan ini karena terpaksa. Terdesak. Jika tidak, maka hidupnya yang akan semakin terluntang lantung tidak jelas. Layaknya ubur-ubur dilepas pantai.

"Ugh~"

Siwon kembali melihat bocah disampingnya sedang mengucek mata, dan dimata Siwon, itu benar-benar lucu ketika melihat bibir mungil itu mengerucut dan matanya yang sayu.

"Hyung, Kyunnie ngantuk~"

Eh? Siwon mulai resah. Apakah jalan yang dia ambil ini benar? Ah, jika bertanya benar atau salah, tentu jawabannya adalah Salah. Bodoh sekali dirinya.

"Hung?" Kyuhyun memandang laki-laki yang dipanggilnya 'Hyung' sedang berjongkok dan memunggungi dirinya.

"Jja, naiklah."

Karena pada dasarnya Kyuhyun anak yang penurut, kecuali jika Umma-nya memaksa untuk menghabiskan semangkuk salad, pun beringsut kepunggung Siwon lantas melingkarkan tangan kecilnya keleher pemuda itu. Lalu menumpukan dagunya diatas bahu kiri Siwon.

Merasa nyaman dengan kehangatan yang menyentuh tubuhnya membuat Kyuhyun semakin mengantuk. Anak laki-laki itu mengusel dipunggung Siwon, mencari posisi yang enak lalu memejamkan matanya.

Bibir tipis itu mengulas senyum ketika mendengar dengkuran halus dan alunan nafas yang teratur di dekat telinganya. Entah kenapa, meski baru sebentar, dia merasa begitu nyaman dengan anak kecil. Cepat sekali terlelap.

Apa seperti ini rasanya memiliki adik?, batinnya bahagia.

Perlahan dilangkahkan kakinya menyusuri jalan yang tidak begitu ramai menuju apartemen lusuh miliknya. Sesekali dia melirik kebelakang dan seperti otomatis, bibirnya terseyum melihat anak laki-laki dalam gendongannya terlihat pulas. Untung boneka beruang yang dibawa Kyuhyun memiliki tali dikedua sisinya, sehingga boneka itu bisa disampirkan ke punggung seperti ransel.

Dia menghela singkat, menimbulkan uap tipis disekitaran wajahnya. Kepalanya mendongak keatas, melihat malam dengan hamparan bintang. Jarang sekali dia bisa menikmati malam seperti ini, karena biasanya bulan yang menggantunglah yang tampak.

Bintang-bintang seolah saling berbisik berisik melihat dua insan dengan umur yang terpaut jauh itu terlihat begitu manis. Mereka memainkan tirai sandiwara, layak atau tidak mereka geser, membuat sebagian penonton merengut terganggu.

Bintang-bintang itu cekikikan dengan merdu, karena beruntung mampu menggeser bulan malam itu. Ya, hanya malam itu. Karena malam setelah malam itu, mereka tak lagi punya kuasa apapun.

.

.

"Hyung, Kyunnie mau pulang."

Siwon yang sedang melahap satu cup ramyun instan langsung menghentikan kegiatannya. Dia kunyah ramnyun dalam mulutnya seperti mengunyah batu, kemudian menelannya dengan tidak ikhlas karena rasanya seperti melenan jarum. Sakit sekali.

Alasan apa yang harus dia berikan? Tiga hari lagi bibi pengurus apartemen akan menagih uang, dan di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar. Itupun mungkin hanya cukup untuk biaya makan selama beberapa hari kedepan.

Saat itu, Siwon hanya mampu tersenyum kikuk pada seorang bocah yang tengah menatapnya dengan polos sambil memeluk boneka beruang berwarna cokelat milik anak itu. Tatapan yang membuat Siwon semakin sadar, dia benar-benar jahat kali ini. Kedua orang tuanya disurga pasti menangisi prilakunya sekarang.

.

.

.

Dengan perlahan, pemuda itu membaringkan tubuh Kyuhyun yang tengah pulas keatas sofa berwarna biru diruangan karyawan di bar tempatnya bekerja. Dia mengambil boneka beruang milik Kyuhyun lalu memposisikannya dalam pelukan bocah itu. Siwon tersenyum gemas memandang wajah lucu didepannya. Kyuhyun mudah sekali tertidur, apalagi jika anak itu habis makan. Rasanya Siwon jadi tahu kenapa tubuh bocah berusia enam tahun itu terlihat buntal.

Entah apa yang mendorongnya, perlahan wajah itu semakin maju, kemudian bibir tipisnya mengecup bibir kecil didepannya. Diam beberapa saat, melihat wajah manis Kyuhyun hanya berjarak beberapa centi. Ia baru tahu kalau Kyuhyun memiliki bulu mata lentik. Perlahan juga dia menarik wajahnya, tidak ingin mengusik tidur anak itu. Siwon mengelus rambut ikal Kyuhyun, menyampirkan jaketnya ditubuh anak kecil itu lalu keluar ruangan untuk bekerja.

"Siwon-ah, bisa keruanganku?" seorang pria paruh baya mendekati Siwon yang baru saja menutup pintu ruang karyawan.

"Ah Ye, Master."

.

Pria paruh baya itu, Master, mengambil segumpalan uang dalam brangkasnya, lalu berdiri dihadapan Siwon. "Kudengar dari Kangin, kau membawa seorang anak laki-laki."

Siwon terdiam. Dia menunggu Master menyelesaikan kalimatnya.

Pria itu mengamit tangan Siwon dan meletakkan segumpal uang yang langsung membuat pemuda berusia enam belas tahun itu tercengang karena melihat jumlah uang yang tidak sedikit.

"Aku tahu kau sedang butuh uang, dan kau juga tahu aku sedang butuh anak kecil untuk melunasi hutang-hutangku pada para Yakuza dari Jepang itu. Anggap kita saling membantu." Master tersenyum dengan wajahnya yang sudah sedikit mengeriput.

Siwon sudah bekerja dengan Master sejak usia sepuluh tahun, membuat pria itu cukup berharga dalam hidup Siwon. Setidaknya, Master seringkali bersikap hangat layaknya ayah padanya.

"Kamsahamnida, Master." Beberapa kali Siwon membungkukkan tubuhnya, yang hanya dibalas dengan tepukan dibahu pemuda itu.

.

"Bagaimana?"

"Huh?"

"Kau tak ingin mentraktirku, begitu? Tega sekali."

Siwon tersenyum. Tangannya terus mengelap gelas-gelas Kristal kemudian meletakkannya pada rak yang sudah tersedia. "Besok aku akan mentraktirmu di kedai Bibi Han." Balas Siwon.

Kangin, sahabat Siwon dengan usia lebih tua lima tahun dari pemuda itu tersenyum. "Boleh aku mengajak Sungmin?"

Siwon mengangguk, "Dia bahkan boleh makan sepuasnya nanti."

Kangin memukul bahu laki-laki yang sudah dianggapnya adik itu. "Aish! Sepertinya Master kelewat baik dalam pembayaranmu." Canda pria itu.

Kini keduanya sudah siap melayani beberapa tamu yang duduk didepan meja.

"Ah iya, aku baru ingat ingin menanyakannya padamu. Sebenarnya, untuk apa para Yakuza itu mengumpulkan ana kecil?" Siwon menuang segelas anggur putih ketika seorang wanita yang biasa dilayani Siwon duduk. Dan tanpa pertanyaan, Siwon yang sudah hapal melalui senyuman langsung menghidangkan pesanan wanita itu. Begitupun dengan Kangin.

Suasana yang masih temaram dan music yang mengalun pelan membuat keduanya tidak kesulitan mengobrol. Tapi jika diatas jam 8, maka music akan berubah menjadi dentuman keras ditambah lantai dansa akan menjadi penuh sesak oleh orang-orang yang meliukkan tubuh mereka.

"Tentu saja untuk bisnis, Siwon-ah."

Alis pemuda bermarga Choi itu mengkerut. "Bisnis? Menggunakan anak kecil?". Tidak mungkin para Yakuza itu menyuruh anak-anak mengemis, kan?

"Yap. Bisnis prostitusi."

Seketika tubuh pemuda disamping Kangin membatu. Pros-titusi?! Yang benar saja!

"A-anak sekecil itu…?"

Kangin tertawa. "Kau masih baru, jadi tidak tahu segelap apa dunia ini, Siwon-ah. Pelacuran adalah portal uang Yakuza selain judi, narkoba dan pencucian uang. Para pria di Jepang justru menyukai anak-anak. Bisa dibilang mereka terserang sindrom Lolita Complex. Bayaran yang ditawarkan juga tidak pernah murah untuk pelayanan anak-anak dan juga remaja. Asal kau tahu, banyak pria di Jepang yang melakukan penyimpangan sex." Jelas laki-laki bermarga Kim disebelah Siwon.

Bola mata Siwon bergerak gelisah. Ba-bagaimana ini? Dia benar-benar tidak tega jika terjadi sesuatu pada Kyuhyun. Kini dirinya merasa sangat berdosa, mengingat jika nantinya Kyuhyun yang masih sangat kecil itu dijadikan budak sex pria mesum di Jepang sana.

Kangin menoleh lalu menepuk Siwon yang terdiam. "Biasanya untuk anak yang kau bawa itu, hanya akan disuruh melakukan Live Chatting. Mereka menyiapkan jaringan internet dimana para pria hidung belang bisa mengobrol dengan gadis-gadis dan anak-anak di bawah umur. Awalnya cuma mengobrol, lalu bisa saja para pelanggan meminta mereka untuk melepaskan baju. Terakhir kabar yang kutahu, bahkan seorang gadis berusia 17 tahun harus sedikitnya melayani pria hidung belang setiap harinya."

Penjelasan Kangin membuat tubuh Siwon bergidik ngeri. Dia tidak bisa membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada anak kecil yang selama dua hari ini hidup bersamanya. Dia memang jahat, bahkan sudah sering kali mencuri dibeberapa toko. Tapi membuat seorang anak kecil menjadi pelacur…? Rasanya Siwon masih memiliki hati nurani untuk itu.

"A-aku ketoilet sebentar."

Kangin hanya menatap Siwon yang menuju belakang. Dia mengangkat bahu, tidak peduli. Dia masih harus melayani beberapa pelanggan tetapnya.

.

Siwon langsung masuk keruang karyawan, menghampiri sofa biru dimana Kyuhyun sedang terlelap pulas. Dengan hati-hati, dia menggendong tubuh kecil itu kepelukannya. Tidak lupa tubuhnya dibalut jaket merah hati miliknya.

Sudah dia putuskan untuk pergi dari Seoul apapun akibatnya. Hatinya berontak tidak rela jika Kyuhyun harus terlibat prostitusi yang dikelola oleh para Yakuza itu. Dia tidak bohong, meski baru sebentar mengenal Kyuhyun, namun bocah manis itu sudah membuat hidupnya yang datar dan gelap menjadi hangat dan berwarna.

"Unghh~ Noona, Kyunnie masih mengantuk~ Jangan ganggu Kyunnie~~"

Siwon mengelus pelan rambut Kyuhyun, lalu mengecup pelipis anak itu. Dia tidak akan menyerahkan Kyuhyun pada Master, meski uang pria itu sudah ada dalam dompetnya. Dia putuskan untuk pergi dari sini. Dari Seoul, menuju desa dikawasan Choengnam. Setidaknya, ketika kecil dulu dia dan keluarganya pernah kesana karena kedua orang tuanya memiliki sahabat disana. Mungkin saja Keluarga Kim bisa membantunya menyembunyikan diri juga menyembunyikan Kyuhyun.

Sebenarnya dia ingin mengembalikan Kyuhyun pada keluarganya. Mereka pasti sangat mencemaskan keberadaan Kyuhyun. Tapi Siwon takut keluarga anak itu akan memasukkannya kepenjara. Ia masih berusia enam belas tahun, dan ketika menengar cerita dari beberapa narapidana yang berhasil bebas dari penjara Seoul, itu adalah tempat yang tak ubahnya neraka. Para penjaga yang memperlakukan para narapidana lain seperti binatang. Dipaksa bekerja dengan makan yang tidak layak. Mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduk Siwon meremang.

Bahkan ada beberapa yang mengalami kejadian mengerikan. Menjadi budak nafsu dari beberapa opsir yang tengah berjaga. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan harus tewas dipenjara karena disodomi dengan tidak lazimnya.

Siwon melewati pintu belakang, dimana tidak ada penjaga yang berjaga disana.

Merasakan tubuhnya berguncang, Kyuhyun membuka matanya yang masih terasa lengket. "Hung~?"

"Kyu, kau bangun?"

Kyuhyun menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri karena bingung. Siwon menggendongnya sambil berlari. Apa terjadi sesuatu? Bukankah tadi sosok yang dipanggilnya 'Hyung' itu akan bekerja?

Mereka sampai disebuah halte, dimana sebuah bis kebetulan berhenti. Siwon makin mengeratkan gendongannya pada Kyuhyun dan memilih duduk di barisan ketujuh. Bis itu lumayan sepi, hanya ada beberapa orang karena ini hampir tengah malam.

"Hyung, kita mau kemana? Apa kita akan pulang?" Tanya bocah yang memiliki marga Cho itu, masih dengan mata yang setengah terbuka. Mengerjap kecil kepada Siwon.

Pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun, agar anak itu merasa nyaman dan tidak kedinginan. Dan Kyuhyun kembali terlelap merasakan pelukan hangat seperti pelukan Noona-nya.

"Kita akan pergi jauh, Kyu. Kau dan aku, akan memulai semuanya dari awal." Dikecupnya kening Kyuhyun yang mengusel pada dadanya. "Maaf, aku tidak bisa mengembalikanmu pada Umma dan Appa-mu. Aku terlalu pengecut untuk itu. Mulai sekarang, kau adalah adikku, Choi Kyuhyun." entah kenapa ketika mengucap nama baru untuk anak dalam gendongannya, Siwon merasa hangat. Disisirnya rambut ikal kehitaman milik Kyuhyun yang terasa selembut benang sutra. Dia bahkan masih bisa merasakan aroma apel yang menguar dari surai anak itu.

Bibirnya kembali mengulas senyum, lalu membuang muka kearah jalanan Kota Seoul yang selalu padat. Sebentar lagi, tak akan ada pemandangan seperti ini dalam bola matanya. Meski berkali-kali mengalami kesulitan hidup sebatang kara ditengah Kota besar, Siwon nyatanya bisa bertahan hidup hingga sekarang, diusianya yang sudah hampir tujuh belas. Dia pasti akan merindukan kemerlip lampu-lampu mobil, juga bangunan yang menjulang tinggi ini.

"Mulai sekarang, hanya akan ada Choi Siwon dan Choi Kyuhyun."

Still TBC~~ ^^v


Ternyata ceritanya makin ngelantur kemana-mana ^^a