Enam bulan kemudian...

Sudah enam bulan berlalu sejak Jimin dan Ibunya tinggal bersama Jungkook dan Ayahnya. Ya, mereka adalah keluarga sekarang. Ayah kandung Jimin meninggal ketika Ia berusia sebelas tahun, meninggalkan Jimin dan Ibunya yang kesepian. Setelah kepergian Ayahnya, Ibu Jimin memutuskan untuk pindah ke Seoul dan memulai hidup baru. Ibu Jimin adalah seorang wanita yang pintar dalam bidang manajemen, Ia diterima di perusahaan besar milik seorang pengusaha kaya di Seoul. Di kantor barunyalah Ibu Jimin bertemu dengan atasannya, Ayah Jungkook.

Jika Jimin kehilangan Ayahnya ketika berumur sebelas tahun, berbeda dengan Jungkook yang kehilangan Ibunya ketika berumur tujuh tahun. Ibunya bukan pergi meninggalakannya ke dunia baru seperti yang Ayah Jimin lakukan, namun Ia pergi meninggalkan Ayah Jungkook dan Jungkook yang masih kecil bersama pria lain. Semenjak saat itu, Jungkook menjadi anak yang pemberontak. Bahkan terkadang Ayah Jungkook akan kebingungan ketika Jungkook sudah marah dan tak terkendali.

Bekerja di tempat yang sama dan sering bertemu satu sama lain membuat Ayah Jungkook dan Ibu Jimin menjadi dekat. Mereka mulai mengenalkan anak masing-masing ketika Jimin berusia enambelas tahun dan Jungkook empatbelas tahun. Hubungan mereka berjalan dengan lancar hingga jenjang yang lebih tinggi. Awalnya Jimin ragu dengan keputusan bahwa keduanya akan melangsungkan pernikahan. Ayah Jungkook sungguh orang yang baik, namun setiap kali Ia melihat senyuman di wajah Tuan Jeon, Jimin selalu teringat oleh Ayah kandungnya sendiri. Jimin ingin Ibunya membatalkan pernikahan, namun Ia tidak tega menghilangkan senyum bahagia dari wanita yang sangat disayanginya itu.

Dan akhirnya, kini mereka tinggal bersama sebagai satu keluarga. Semua berjalan dengan lancar. Tuan Jeon mulai bisa menggantikan posisi Ayah kandung Jimin yang selama ini selalu terbayang-bayang olehnya. Ibu juga terlihat semakin bahagia dengan adanya seorang pria mapan yang selalu setia berada di sampingnya. Jimin bahagia dengan keluarga barunya sekarang. Namun ada satu hal...

"Hyung!"

Jimin tersadar dari lamunannya. Setelah mengedipkan mata beberapa kali, Ia menyadari bahwa Jungkook sudah melihat dengan kesal kearahnya.

"Apa sudah selesai melamunnya, hyung? Kita harus cepat berangkat jika tidak ingin terlambat!" Jungkook bangkit dari kursi dan mengenakan tas yang Ia letakan disofa.

Sekali lagi Jimin mengedipkan matanya sebelum melakukan hal yang sama dengan Jungkook, bangkit dari kursi dan mengenakan tas. Jimin melirik sekilas pada makanan yang tersisa di atas meja makan.

"Sebentar Jungkook-ah, aku akan membersihkan sisa sarapan kita dulu," dengan cepat Jimin membersihkan meja makan dan meletakan piring-piring kotor diwastafel. Jungkook berdecak tidak sabaran, Ia memutuskan untuk menunggu di luar rumah sambil merapikan tali sepatunya.

Jimin berlari kecil menuju Jungkook yang sudah mulai berjalan meninggalkannya setelah menutup pagar rumah. Jarak sekolah mereka tidak begitu jauh dari rumah yang mereka tempati. Hanya perlu berjalan kaki selama lima menit menuju pemberhentian bus dan lima belas menit untuk sampai di sekolah menggunakan bus.

Jungkook memperlambat langkahnya, mencoba menyeimbangi langkah kaki Jimin yang kecil. Pada awalnya Jungkook merasa kesal dengan langkah Jimin yang lambat, tapi Ia mulai terbiasa menyeimbangi langkah kaki itu. Sebelum ada Jimin, perjalanannya menuju sekolah terasa begitu lama dan melelahkan. Tapi semenjak Jimin berangkat ke sekolah bersamanya, semua terasa begitu cepat.

"Jungkook, bagaimana nilai ujianmu di sekolah? Semua baik-baik saja kan?" Jimin memulai pembicaraan sambil menolehkan kepalanya pada Jungkook yang berdecak tidak suka.

"Hyung, tidak usah menanyakan hal itu. Aku tidak mau membahasnya," jawab Jungkook tanpa membalas tatapan Jimin.

"Kenapa? Jangan bilang kau dapat nol lagi?!" Jimin berseru ditelinga Jungkook, membuat si empunya mendorong pelan bahu Jimin.

"Aish, Hyung! Kau tidak perlu teriak ditelingaku!" protes Jungkook. Ia kembali melanjutkan langkahnya.

"Jungkook-ah, sudah berapa kali aku katakan, jika kau ada kesulitan, kau boleh bertanya padaku. Aku akan selalu membantumu jika aku ada waktu," Jimin menatap dengan penuh kepedulian kearah Jungkook, namun si lelaki jangkung itu tidak menyadarinya.

"Dan sudah berapa kali juga kukatakan Hyung, aku tidak berniat belajar sama sekali," Jimin menggigit bibir bawahnya dan sedikit memasang wajah merengut. Susah sekali membuat Jungkook ingin belajar.

"Nah, sudah sampai." Jungkook dan Jimin menghentikan langkah mereka ketika sampai di pemberhentian bus. Tidak menunggu lama lagi, sebuah bus berhenti di depan mereka. Jimin menoleh pada Jungkook sebelum naik ke bus.

"Tidak mau naik bersama?" tanya Jimin.

"Ingat perjanjian kita?" Jungkook balik bertanya dan Jimin hanga menghela nafasnya sebelum benar-benar naik ke bus yang sudah menunggunya dan meninggalkan Jungkook yang menunggu bus selanjutnya. Jungkook tak melepaskan pandangannya dari sosok Jimin yang sudah duduk di dalam bus sampai bus tersebut hilang dari pengelihatannya.

Jimin duduk dikursi bagian tengah bus, menatap keluar kaca sambil sesekali membersihkan kacamatanya yang berembun karena nafasnya. Memang selalu seperti ini, Jungkook dan Jimin akan jalan bersama menuju pemberhentian bus, namun keduanya akan menggunakan bus yang berbeda. Kata Jungkook, itu adalah salah satu dari perjanjian mereka untuk berpura-pura tidak mengenal satu sama lain di sekolah. Jungkook tidak ingin ada yang berpikiran macam-macam jika mereka selalu turun dari bus yang sama setiap harinya. Sampai saat ini, Jimin masih belum paham tentang apa yang membuat Jungkook ingin berpura-pura seperti ini. Terkadang ini menjadi sulit ketika Jimin ingin menyampaikan sesuatu pada Jungkook saat berada di sekolah tetapi si lelaki tinggi itu selalu menghindar darinya.

Jimin masih menatap keluar kaca bus ketika dirasa ponselnya bergetar di dalam sakunya. Jimin segera melihat layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan dari Taehyung, sahabatnya.

From: Taetae pabo:)

Jimin, aku tunggu di perpustakaan ya! Ada yang ingin kusampaikan. Jangan lama-lama~~~

Jimin tersenyum kecil membaca pesan dari sahabatnya. Taehyung benar-benar menggemaskan, membuat Jimin terkadang ingin mencubitnya dengan kuat. Tapi apa yang ingin Taehyung bicarakan dengan Jimin sepagi ini?

Beberapa jawaban muncul dibenak Jimin. Mungkin Taehyung lupa mengerjakan tugas penting yang harus segera diselesaikan, atau Taehyung ingin Jimin menemaninya sarapan. Anak itu memang jarang sekali menyempatkan dirinya untuk sarapan di rumah.

Ketika Jimin sedang asik dengan pikirannya, bus yang Ia naiki berhenti di sebuah pemberhentian. Beberapa anak yang berseragam sama dengan Jimin turun dari bus dan mulai melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah yang sudah terlihat. Menyadari hal ini, Jimin langsung mengikuti apa yang dilakukan anak-anak tadi. Turun dari bus dan berjalan memasuki gerbang sekolah.

Ketika Jimin sudah sampai di tangga sekolah menuju perpustakaan, Ia mendengar suara langkah kaki berat dan cepat di belakangnya. Jimin sangat familiar dengan langkah kaki ini. Jimin menundukan kepalanya sedikit dan berkata, "Semangat, Jungkook-ah."

Jungkook tak menoleh sedikitpun pada Jimin, tapi dibibirnya terukir senyum tipis dan terdengar bisikan kecil, "Kau juga Hyung."

TBC! Jangan lupa untuk tinggalkan komentar, karena itu akan sangat berarti bagi saya dan kelanjutan fanfict ini:))