-o-

Rubi itu melirik pada benda persegi tipis dengan tuts keyboard. Layarnya menampilkan tugas yang akan ia kumpulkan besok. Tugas dari doesan bagasa yang apa bila tidak dikerjakan kau harus menulis tugas itu di selembar kertas folio.

Pemuda berambut merah beranjak dari tempat duduknya. Ia lempar pandangannya kea rah jam berbentuk burger di meja kecil disamping tempat tidurnya. Jarum jam menunjuk angka, yang pendek menunjuk angka tujuh dan panjang di angka sepuluh.

Cahaya matahari menerobos masuk melewati gorden putih yang menggantung di jendela. Cahaya yang hangat. Sudah sejak jam dua pagi dini ia mengerjakan tugas ini. Ia sudah kapok. Jari-jarinya trauma menulis berlembar-lembar tugas di kertas foli, memaksa sang surau merah untuk mengeciljan ukuan huruf agar muat dilembaran putih bergaris.

Dengan segumpal rasa malas menggelayut di kakinya, Ia paksa untuk berjalan demi segelas air putih yang menyegarkan. Tubuh setinggi 189 cm itu sudah banyak mengeluarkan keringat sejak dua jam yang lalu. Mungkin kau mengira aneh seseorang di ruangan ber-AC berkeringat. Itu memang aneh jika AC itu difungsikan, sayangnya AC di kamarnya sedang rusak.

Setelah dari dapur ia memutuskan kembali ke kamar. Tangan kekarnya menarik kursi berkaki empat itu kemudian menyamankan dirinya, agar lebih konsentrasi dalam berperang melawan laptop jadul pemberian ayahnya.

Ia lirik bingkai foto di meja belajarnya. Sosok gadis berwajah datar. Helai birunya menenangkan siapa pun yang melihatnya. Sialnya para mausia tak akan melihatnya karena hawa keberadaannya –sangat- tipis. Sungguh beruntung seseorang beralis cabang bernama Kagami Taiga bisa menyadari sosok malaikat bewujud manusia ini.

Foto terbingkai warna merah. Seolah-olah pemilik bingkai itu tak akan membiarkan sang gadis pergi. Ditatapnya foto itu. Ia merindukannya, sangat merindukannya.

-o-

-o-

Kuletakkan bingkai itu di atas meja belajar agar selalu bisa mengingatmu. Mengingat netra birumu. Merasakan perasaan yang ambigu. Yang telah menghantui hari-hariku. Dimana hanyalah kamu yang mengisi mimpi-mimpi malamku.

Kuambil smartphone dari saku. Kulihat beberapa kontak yang mungkin bisa membantu. Sosok gadis pinkcat yang biasa menemanimu. Mantan manager yang mempunyai kemampuan mengumpullkan informasi.

Melihat tugas sudah selesai, hati ini sedikit terasa lega. Tapi sayangnya beban perasaan yang kupendam tak pernah terasa hilang. Rasa kehilangan.

Tas hitam-merah menyampir di bahu. Laptop, buku dan alat tulis sudah kumasukkan sedari tadi. Sekarang adalah waktu yang tepat untukku mencari informasi. Tentang sosok yang kucintai.

Jangan memandangku seperti julukanku, Bakagami. Meski terlambat menyadari, tapi tak akan kuberi waktu diri untuk menyesali. Aku memang sedikit tak mengerti dan kalian sebut diriku bodoh, idiot, tapi aku tak peduli. Aku tak boleh mengotori pemberian tuhan yang suci. Yah, perasaan ini.

Kakiku menapak di kafe kecil. Beberapa pengunjung terlihat mengisi meja di luar kafe, lebih sedikit yang memilih untuk duduk menikmati sarapan di dalam restoran. Mungkin karena pagi hari yang cerah ini.

Mata ini sibuk mencari, dimana duduknya sang pengepul informasi.

"Kagamin! Disini!" teriakan melengking itu mengumpulkan atensi ke meja paling sudut dalam kafe. Aku tahu itu mempermudah untuk mencari perempuan itu. Sayangnya panggilan itu juga yang membuatku tak nyaman oleh pandangan pengunjung yang penasaran dengan sosok yang dipanggil oleh suara melengking tadi.

Dengan sedikit menunduk menahan malu, kulangkahkan kakiku. Segera duduk seraya melepas jaket hitam. Tak biasa aku membalut tubuh dengan jaket ini. Karena biasanya jaket berwarna merah gelaplah yang akan membalut diri.

"Lama tak jumpa, Kagamin," wajah cantiknya semasa SMA dulu kini semakin dewasa. Tapi tak bisa kupungkiri bahwa mata merah mudah itu masih menyiratkan jenaka.

Sapaan darinya hanya kubalas daheman. Dengan sedikit melirik seorang pria yang terlihat lebih tunggi dariku saat masa SMA –sekarang pun ia masih lebih tinggi dariku-, "Kenapa harus ada gangguro disini?"

Pemuda bernama lengkap Aomine Daiki itu menatapku tak suka. Percuma, tatapan itu tak akan mempan karena sudah terbiasa. Kami memang sering membuat keributan dalam kelas dan berakhir dengan adu tatapan tajam dengannya. Konyol.

"Dai-chan memaksa ikut. Akhir-akhir ini dia ketat sekali dalam menjagaku. Seperti bodyguard saja," ia ucapkan kalimat terakhir dengan tawa renyah. Kulihat jari manisnya terjerat cincin indah berwarna biru tua. Oh, rupanya dia sudah mengambil start dariku. Aku hanya bisa tersenyum miris.

Beberpa hari yang lalu dalam kotak lokerku terdapat undangan. Kata seorang tema kuliahku kertas berisi undangan pernikahan itu diberi oleh seorang pria berkaca mata dengan rambut hitam pendek. Teringat olehku kakak kelas yang pernah menjadi ketua tim basket semasa SMA.

Kukira sakit itu tak akan sesakit ini jika kau pernah merasakan detak jantung lebih cepat di dekat orang yang kau sayangi. Masalahnya adalah bagiku ini adalah yang pertama kali, dan aku berharap juga yang terakhir. Susah untuk melupakan gadis penunggu perpustakaan itu. Sering aku mencarinya di lorong rak buku dan berakhir dengan terikanku yang keras. Membuat semua atensi pengunjung terkumpul padaku, dia hanya tertawa. Ah, masa-masa yang indah sekaligus menakutkan.

Indah karena sering menghabiskan waktu dengannya. Menakutkan karena kedatangannya yang tidak terduga.

Pemuda tan* melihat jam tangannya, "Aku ada kuliah setengah jam lagi. Aku pergi dulu Satsuki," ia berucap sambil mengusap puncak kepala Momoi Satsuki. Gadis bersurai pink itu merajuk tak suka. Telunjuk rival basketku mengarah ke mukaku. Kemudain ia berucap, "Antar Satsuki pulang, ia harus selalu aman. Aku tak ingin ia lecet sedikit pun. Ingat itu Bakagami!" dengan tas menyelampir di pundak kiri ia pun ngeloyor pergi.

"Ada perlu apa Kagamin? Baru pertama kali ini bertemu setelah lulusan SMA. Apa kau mencari karena rindu dengan sang manager atau sang gadis bersurai biru?"

"Mungkin jika jawabannya untuk seseorang bersurai biru kau bisa membantu?"

Pembicaraan kami berakhir setelah mengetahui apa yang kucari. Tak akan rela aku melihatnya pergi. Aku tahu ini salahku yang meniggalkannya sendiri. Tiba-tiba meninggalkannya tanpa permisi.

"Yo, sekarang akan kuantar kau," setelah membayar di kasir kamu keluar dari kafe kecil itu. Menjauh dari kafe yang semakin siang semakin banyak pengunjung.

Kaki berhighills tak seberapa tinggi tiba-tiba berhenti. Membuatku turut menghentikan kaki. "Etto… Kagamin tidak perlu repot-repot untuk mengantarku sampai rumah. Setelah ini aku ada rapat dengan rekan kerjaku. Jadi Kagamin bisa meninggalkanku disini," tolaknya dengan halus. Aku mengerti.

Kubiarkan ia lepas dari pengawasanku. Ia yang meminta. Aku khawatir jika terjadi apa-apa. Aku hanya tak mau gangguro itu memarahiku karena tak menepati janji. Beberapa menit aku berdebat dengan wanita pink itu tapi hasilnya sangat bisa ditebak, wanita selalu menang.

Kuputuskan untuk kembali pulang. Hatiku terasa lebih tenang. Hanya ada rasa senang. Semoga hari esok adalah hari yang tepat untuk melakukan rencana yang baru saja ia rancang.

-o-

*Tan : gelap

AN : Terima kasih sudah mau membaca. Masih ada lanjutannya, loh! Tinggalkan kritik dan sarang untuk perbaikan.

Bye