Semilir angin dingin menerpa tubuhku yang hanya berbalut kaus berlengan panjang dan celana tidur. Rambutku berayun-ayun ke belakang, terbelai oleh angin yang menyambut malam.

Aku menghembuskan napas. Malam ini begitu dingin, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk berdiam diri di balkon rumahku. Rasanya begitu tenang dan tentram.

Sebenarnya, banyak sekali yang aku pikirkan saat ini.

Salah satunya adalah Ali.

Beberapa saat yang lalu aku mendengar bahwa sahabat seperjuanganku itu mempunyai riwayat penyakit.

Sekitar 2 hari yang lalu, aku dan Seli berkunjung ke rumah Ali untuk hanya sekedar main dan melihat-lihat penelitian yang sudah ia buat. Salah satu pelayan disana bercerita padaku dengan nada prihatin dan gelisah, bahwa Ali mengidap kanker otak. Kedua orangtuanya tahu, tetapi Ali menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Aku tahu, Ali memang orang yang seperti itu. Aku yakin dia juga banyak memikirkannya.

Aku tidak tahu apakah Seli sudah mengetahuinya atau belum, tetapi sebuah fakta bahwa kanker otak merupakan penyakit yang sulit untuk disembuhkan benar-benar menghantuiku.

Aku tidak bisa membayangkan jika pada suatu hari nanti, Ali, si biang kerok berpenampilan kusut yang jenius, cuek, suka bercanda dan diam-diam peduli itu tiba-tiba saja menghilang. Menghilang dari kehidupan kedua orangtuanya, para pelayan dirumahnya, para penggemar dan tim basketnya di sekolah, juga dari kehidupan Seli. Terutama, dari kehidupanku.

"Argh! Sudahlah."

Erangku frustasi.

Aku memeluk kedua tungkaiku, dan membenamkan wajahku di dalamnya.

Tiba-tiba saja, bunyi berdesing yang terdengar begitu dekat masuk ke telingaku.

Saat aku mengangkat kepala dan melihat sekeliling, aku melihat kapsul ILY milik Ali terbang sekitar satu meter di atas balkon rumahku. Eh, apakah sejak tadi Ali melihatku merenung?

Pintu ILY terbuka, dan keluarlah seorang laki-laki berjaket merah marun dan dengan sandal jepit menjadi alas kakinya. Salah satu tangannya meraih rambutnya yang berantakan, menyisir sedikit rambutnya ke belakang.

"Hai, Ra."

Sapanya sambil mengaktifkan mode menghilang untuk ILY agar tidak ada orang yang bisa melihat benda aneh tersebut.

"Ali? Sedang apa disini?"

Tanyaku sambil bergeser. Siapa tahu pemuda bercelana tidur itu mau duduk.

"Aku bosan, Ra. Awalnya aku mau meminta balik buku novel yang kubawa dari kota Tishri, dipinjam Seli. Tapi kurasa Seli sudah tidur, jadi aku memutuskan untuk mengunjungimu saja. Eh, kebetulan kau sedang diluar. Sendiri, merenung, lalu berteriak seperti orang kesetanan."

Apa? Jadi Ali sudah melihatku sejak tadi? Dasar kurang ajar!

Aku memukul kakinya pelan, yang lalu disambut dengan tawa kecil Ali yang licik.

Tak perlu menunggu Ali untuk segera duduk, ia malah melepas sandal jepitnya agar ia bisa meluruskan kedua tungkainya dengan mudah.

Kami berdua menatap ke arah yang sama--langit gelap yang tengah memancarkan cahaya rembulan.

Tiba-tiba saja, aku kembali teringat tentang apa yang aku renungkan sebelum Ali menampakkan dirinya. Lagi-lagi aku larut dalam renungan. Kepalaku mulai menunduk, aku membuang napas.

"Ali?"

"Iya, Ra?"

Kami berdua menoleh ke arah satu sama lain, dan aku langsung memalingkan wajah karena malu. Tapi, Ali tidak mengalihkan wajahnya sedikit pun. Ia masih menunggu jawabanku.

"Aku ingin bertanya sesuatu. Tapi, berjanjilah untuk menjawabnya dengan jujur."

Lanjutku, memberanikan diri untuk menatap wajah laki-laki di sampingku.

Ali mengangguk mantap.

"Mana mungkin aku akan berbohong pada orang yang aku percaya?"

Tanya Ali.

Aku sedikit lega mendengarnya. Hampir saja aku tersenyum mendengar kalimat tersebut.

"Aku pernah mendengar dari salah satu pelayanmu,"

Aku mendadak tercekat. Apa aku harus benar-benar menanyakan hal ini? Sementara Ali masih terlihat menunggu dengan tidak sabar.

"Bahwa kau mengidap--"

"Kanker otak."

Aku melotot, menatap kedua mata Ali yang begitu jernih.

Jadi, itu semua benar?

Ali mengangguk-angguk pelan, lalu sedikit menunduk. Ada sedikit penyesalan di wajahnya.

Aku mengalihkan pandanganku ke depan, lalu menunduk. Mataku mulai berkaca-kaca. Oh, aku benci menangis. Terutama di depan Ali.

"Maaf. Aku memang belum memberitahumu, dan Seli. Tapi tidak perlu khawatir, belum parah kok, Ra--"

Sepertinya ia telah melihatku yang hampir menangis, itu sebabnya ia menghentikan kata-katanya.

Apa maksudnya "belum parah"? Bisakah sekali saja ia tidak menggampangkan sesuatu dengan mudah? Apalagi perihal masalah ini.

"Ra, jangan menangis."

Perlahan, Ali mulai merangkul bahuku.

"Kita akan tetap bertualang ke klan parallel lainnya, aku janji--"

Aku menggeleng. Bukan itu yang dipermasalahkan.

Air mataku mulai jatuh, dan Ali sepertinya mulai mengerti maksudku.

"Aku akan baik-baik saja, Ra. Jika aku yakin, kau juga harus yakin!"

Ucapnya menyemangatiku. Tangannya meremas bahuku, tapi itu tidak cukup untuk membuatku tenang. Tangisanku semakin pecah, aku mulai terisak.

Tiba-tiba sesuatu meraih leherku yang bagian samping. Tangan Ali. Ia menyandarkan kepalaku di atas bahunya. Dan pada saat itulah, aku mendengarnya terisak.

"Maafkan aku, Ra."

Lirihnya.

"Aku tidak bisa berbohong padamu, aku pun tidak yakin. Kumohon jangan menangis lagi."

Aku dan Ali sama-sama terisak, dan Aku merengkuh di dalam dekapannya. Kepalaku terbenam di salah satu bahunya.

Ali, orang yang biasanya gemar menghiburku dan Seli disaat kami sedang terpuruk--kini lemah tak berdaya akibat teringat akan sesuatu yang akan mengubah hidupnya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mendekapku, mencoba agar membuatku tetap tenang.

Aku menyesal telah menangis. Tidak, seharusnya aku membantunya untuk sembuh dan tetap positif, bukannya malah membuatnya semakin down.

Aku perlahan meraih tangan Ali yang menyentuh leherku, dan cahaya tiba-tiba memancar dari tanganku. Aku menyalurkan perasaan tenang kepada Ali--berharap bahwa itu akan membantunya tenang.

Dia berhenti terisak--dan itu membuatku sangat lega.

Aku melepaskan diri dari dekapan Ali, dan bisa kulihat bahwa ia langsung mengusap wajahnya yang basah menggunakan kedua tangannya, lalu tiba-tiba tertawa kecil.

"Maaf, Ra. Aku terbawa emosi."

Ucapnya yang kemudian menoleh ke arahku. Wajahnya yang cerah sedikit meredup saat melihat wajahku yang sembap.

Tapi itu semua tergantikan dengan senyuman lebar setelah aku menyunggingkan senyum padanya.

Ali meraih wajahku dengan kedua tangannya, menghapus air mata yang membasahi wajahku.

"Sudah, Ra. Wajahmu tidak akan cantik lagi jika kau menangis."

Aku tertawa dengan suara parau. Ali juga ikut tertawa sementara ia menghapus sisa-sisa air mataku.

Setelah itu, hanya ada keheningan diantara kami. Tapi kali ini, kami tidak menatap ke arah langit. Kami menatap ke arah satu sama lain lekat-lekat. Manik hitamnya berbinar-binar jernih saat bertemu mataku.

Ali menghembuskan napas, lalu tersenyum lebih lebar.

"Kurasa aku akan mengambil pengobatan di rumah sakit. Aku ingin hidup lebih lama dan menghabiskan banyak waktu bersama kedua orangtuaku, tim basketku, Seli,"

Ali perlahan menggenggam tanganku dengan lembut.

"Dan bersamamu, Raib, si Putri Bulan cantik yang sangat beruntung."

Sambung Ali.

Oh, kuharap wajahku tidak sewarna dengan kepiting rebus, karena pipiku mulai menghangat. Dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku sekarang.

"Kenapa sangat beruntung?"

Tanyaku. Aku tahu, dia pasti menunggu untuk ditanya.

"Karena, dia memiliki sahabat laki-laki terbaik se-galaksi bima sakti!"

Jawab Ali, membentangkan tangan yang satunya ke arah langit.

Aku tertawa kecil melihat tingkahnya, syukurlah, ia mulai berpikir bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang patut untuk disepelekan. Dan ia masih sempat-sempatnya menghibur orang lain disaat ialah yang seharusnya membutuhkan hiburan dan penyemangat.

"Atau...,"

Ali terdiam, berpikir sejenak.

Dan tiba-tiba saja, ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku.

"Bagaimana menurutmu jika aku ingin menghabiskan sisa hidupku yang sangat berharga ini dengan perasaan yang dibalas olehmu? Maukah kau melakukannya?"

Dan sejak saat itu, si biang kerok Ali tidak pernah menyebutku hanya sebagai sahabatnya saja. Ia juga menambahkan beberapa kata.

"Oh, kau mau tahu siapa dia? Raib--sahabat terbaik yang pernah ada. Dan seorang rembulan bercahaya yang akan selalu menerangi hatiku. Oh--dan dia juga cantik! Jangan lupakan itu."

Fin.