Peliharaan Merepotkan
Chapter 2. Titipan
.
.
.
"HIIAAAAA!" Jeritan Taufan yang oktafnya menyaingi Hatsune Miku membahana seantero jagad raya ketika ia menyibak kain penutup akuarium itu dan melihat sesuatu yang langsung berdiri tegak, memamerkan motif kacamata putih di lehernya.
Bahkan kedua lutut Taufan berdisko dan menolak untuk menopang bobot tubuhnya. Dengan sangat tidak elitnya, Taufan mendarat pada bokongnya dan langsung berusaha membuat jarak sejauh-jauhnya dengan aquarium yang baru saja disingkapnya. "I.. Itu..." Taufan hanya bisa tergagap sambil menunjuk aquarium itu dengan jari yang gemetaran.
Halilintar ingin sekali menertawakan kelakuan adik kembarnya itu... Kalau saja sang kakak yang terkenal garang itu tidak sama takutnya dengan isi aquarium itu.
"S..Siapa?... Ide gila siapa ini membawa binatang ITU kemari?" Tanya Taufan yang masih duduk terpaku di lantai kamar dengan suara yang gemetar dan serak setelah sekuat tenaga berteriak tadi.
"... Aku..." Jawab Halilintar
"GILA!" Bentak Taufan sembari menunjuk kakaknya, masih dengan jari yang gemetaran.
"Aku dibayar Fang. Kalau kamu ngga suka, ngga usah lihat."
"Astaga, demi..." Taufan menarik napas, yah setidaknya ia sudah 50% pulih dari shock awalnya. "Kamu tahu binatang apa itu tadi, kan?".
"Ya..."
"Lalu ? Kenapa kau bawa ke kamar?"
"Supaya mudah diawasi..."
"Maksudmu?" Tanya Taufan yang dalam dirinya sangat yakin ia tidak akan suka apapun jawaban Halilintar.
"Fang kan pergi liburan... Dia titip semua binatang peliharaannya ke kita." Jawab Halilintar singkat, padat, jelas, dan tepat. "Hamster yang kamu temukan tadi itu untuk makanan binatang peliharannya... Masih ada beberapa lagi hamster yang belum ketemu."
"Aku betul-betul benci kalau firasat jelekku benar." Desis Taufan. "Lalu yang lain isinya apa?"
"Yang kamu lihat tadi itu... Kobra Jawa... di sebelahnya Retic Python... Sebelahnya lagi Python Albino.. Yang itu Blood Python... Yang terakhir bukan ular, untungnya, hanya beberapa ekor kalajengking..."
Sebuah jawaban yang membuat otot-otot kaki Taufan serasa runtuh. "Alamak... Habislah aku..." Gumamnya yang sudah terjatuh duduk lagi. "Y... Yang terlepas satu lagi apa?"
"Oh? Itu isinya ular pohon kecil... Yang di peti itu juga terlepas" Halilintar menunjuk pada sebuah peti besar yang sudah terbuka. Kebetulan sekali peti itu berada di sebelah ranjang Taufan.
"Duh... Apalagi isinya? Buaya?" Taufan mulai hilang sabar.
"Bukan lah, kan ngga ada airnya"
"Lalu ?"
"Ah... Cuma seekor saja koq..." Jelas sekali Halilintar berusaha untuk tidak menjawab detail.
"Seekor apa?".
"Binatang"
"Ya, seekor binatang apa?" Dengus Taufan. Tumben jadi mirip Halilintar kalau urat sabarnya mau putus.
"...Boa Air Amerika Selatan..."
"Oh, aku kira apa..." Taufan menghela napas lega dan mendaratkan bokongnya di atas ranjang Halilintar. "Eh? Tapi, apa itu Boa Air Amerika Selatan?"
"Coba tanya Solar..."
Tanpa membuang waktu, Taufan langsung menghubungi Solar melalui ponselnya. Dengan sengaja ia menggunakan speaker phone.
"Solar?"
"Eh? Kak Taufan ? Ada apa?"
"Ini, aku mau tanya... Boa Air Amerika Selatan itu apa ya?"
"Itu... Itu binatang langka kak, cuma ada di Amerika Selatan"
"Dari namanya aku juga tahu koq... Binatang apa itu ? Apa ada juga di Malaysia?"
"Hah? Ya, bisa saja ada kalau ada yang membawa tanpa ijin... Ilegal... Memang kenapa kak? Tumben nanya-nanya mengenai ular?"
"Ah, panjang ceritanya... Memang ular apa sih itu ? Boa Air Amerika Selatan.. Namanya formal amat?"
"Nama kerennya... Anakonda... Itu lho yang sempat ada filmnya"
-Tuuut... Tuuut... Tuuut-
"Halilintar?!" Taufan menggeram sembari melirik Halilintar dengan aura gelap menghampar darinya.
"Ya?"
"Kau... Melepaskan... Anakonda... Di... Rumah... Ini?"
"Secara tidak sengaja... Ya." Jawab Halilintar tanpa eskpresi di wajahnya dan dengan nada tanpa dosa.
"Dimana? Dimana ular itu?"
"Entah ?. Mungkin di lantai bawah ?. Mungkin di lorong ?. Mungkin di kamar yang lain. Mungkin juga disini... Makanya aku ngga turun kebawah tadi waktu kau panggil".
Seketika itu Taufan langsung menggelepar di ranjang Halilintar dengan tatapan mata yang hampa. "Habislah... Matilah aku..."
Bersambung.
