That girl!

Main cast : Luhan, Oh Sehun

Other cast : You'll find it.

Warning : cerita ini merupakan genderswitch yang murni berasal dari khayalan tingkat tinggi ku sendiri :v. jika ada kesamaan cerita dan alur, sungguh itu tidak disengajai. aku membuat ini murni atas kemandatan mengerjakan novel hingga memilih menulis ff berdasar cinta pada Luhan.

Selamat membaca!


"Jadi.. siapa gadis tadi, Hun?" Jongdae bertanya entah keberapa kalinya pada Sehun yang masih duduk tak bergeming semenjak pulang dari kedai.

"Sehun?" kali ini Chanyeol yang berusaha menyadarkan Sehun namun tetap tidak dihiraukan. "Bagaimana ini, Dae?" bisik Chanyeol pada Jongdae.

"Aku juga tidak tahu, Yeol. Kita kagetkan saja?" saran Jongdae yang mendapatkan kerlingan jahil Chanyeol. Kedua pria ini bertingkah mencurigakan dengan bangkit perlahan dan berniat meninggalkan Sehun yang masih berdiam di sofa.

"Jangan coba-coba." Sebelum Jongdae maupun Chanyeol melaksanakan aksinya, Sehun yang memang sedari tadi mendengar segalanya memperingati duo sahabatnya itu.

"Eo, kau berbicara juga, Hun!" pekik Chanyeol senang dan langsung duduk di samping kiri Sehun.

Sehun berdecak karena gerakan tiba-tiba Chanyeol. "Menyingkir dariku, Yeol!"

"Eiiy, jadi-jadi, siapa dia, eo? Jika diperhatikan manis juga. Dimana kau mengenalnya? Aku baru pertama kali ini melihatnya." Chanyeol menaik turunkan alisnya dengan jahil membuat wajah Sehun yang sudah datar semakin datar melihat tingkah konyolnya.

"Bukan urusanmu." Sengit Sehun seraya bangkit menuju dapur untuk mengambil botol minuman.

"Oh jangan pelit begitu, Sehun-ah~ Ceritakan pada kami, eo?"

"Ne, Sehun. Kami sangat penasaran."

Duo pengganggu itu mengekori Sehun hingga kedapur dengan muka penuh harap. Bahkan Jongdae yang umumnya kalem kini menekankan kata 'sangat' pada ucapannya. Hahh, benar-benar cobaan punya sahabat macam mereka kan, Hun?

"Dia, dia."

Dua kata itu membuat Chanyeol dan Jongdae merengut tidak mengerti. Apa maksudnya dia adalah dia? Sehun sedang mengerjai mereka, ya?

"Hun, tolong dijelaskan lebih rinci." Ucap Jongdae dengan sebelah alis terangkat, mencoba memberitahu bahwa jawaban Sehun sangat tidak bermakna.

"Beijing girl, that she is." Jawab Sehun tanpa intonasi, seakan hal itu bukanlah hal yang penting. Bukan penyebab ia diam seribu bahasa dengan dahi berkerut selama sekitar sejam yang lalu.

"Kau serius, Hun?!" pekik Chanyeol dan Jongdae bersamaan.

"Hn."

Chanyeol masih terbengong dengan mulut menganga sementara Jongdae termangu di tempat. "Pantas saja kau tiba-tiba menghampirinya. Jadi apa kau akhirnya sudah berterimakasih?"

Pertanyaan Jongdae sukses membuat Sehun tersedak ludahnya sendiri. Inilah penyebabnya bungkam. Jika diingat kembali, Sehun kembali merasa malu dan kesal.

"Permisi, satu bubble tea rasa Taro, nona?" suara pelayan membuyarkan keterkejutan Sehun dan gadis di depannya.

"Ah, ye. Gamsahamnida." Ucap gadis tersebut sambil meraih bubble tea-nya.

"Chogiyo.. jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi." Gadis itu beranjak dari kursinya dan dengan segera menuju pintu keluar.

Sehun masih belum pulih dari keterkejutannya hingga Chanyeol dan Jongdae menepuk bahunya. "Sehun-ah, gwaenchana?"

Sehun mengerjapkan matanya dan langsung berlari menuju pintu keluar. Sayang sekali, sosok gadis berkemeja hijau rumput dan tas ransel abu-abu itu telah lenyap. Sehun menendang tong sampah di depan kedai dengan keras. Ia sungguh kesal sekarang.

"Sehun!" panggil Jongdae. "Yah, Sehun ada apa denganmu?"

"Ck, mana kunci mobilmu? Cepat berikan!" pinta Sehun keras yang membuat Jongdae langsung melemparkan kunci mobilnya.

"Yah, yah, yah. Mau kemana kau, Hun?" tanya Chanyeol sambil mengikuti hentakan kaki Sehun.

"Pulang!"

Chanyeol dan Jongdae berjengit kaget di teriaki oleh Sehun. Dapat mereka lihat dengan jelas kekesalan di raut muka sahabatnya dan tanpa banyak tanya mereka langsung menaiki mobil. Setidaknya mereka tidak ingin ditinggal pergi oleh Sehun. Terutama Jongdae yang notabene pemilik resmi mobil tersebut.

"Dia bahkan tidak ingat padaku, Dae. Ah, sudahlah aku mau tidur!" Sehun melewati kedua temannya dan langsung menuju pintu kamar tidurnya. "Dan kalian!" Sehun menunjuk kepada Chanyeol dan Jongdae, "Pulang ke apartemen masing-masing! Besok rapat audit tepat pukul 8 pagi, mengerti?!"

Sebelum Chanyeol dan Jongdae memproses perkataan Sehun, ia telah membanting pintu kamarnya dengan keras membuat suara dentuman yang mengerikan.

"Eh, Dae. Sehun sedang patah hati ya? Dia sensitif sekali." Chanyeol berucap pada Jongdae menghasilkan cengiran menyebalkan di wajah masing-masing.

"Sepertinya. Hebat sekali gadis itu ya. Pengaruhnya besar sekali pada si dinding berjalan." Sahut Jongdae yang mendapat respon anggukan berulang dari Chanyeol.

"Kalau di ingat-ingat, gadis itu manis sekali tapi terlihat seperti masih anak sekolah. Apa.. jangan-jangan Sehun sukanya yang daun muda seperti itu?!" tanya Chanyeol sedikit histeris menyadari sahabatnya kemungkinan orang seperti itu.

"Dalam hitungan sepuluh, security yang akan menendang kalian keluar." Teriakan Sehun dari dalam kamar membuat Chanyeol dan Jongdae bergidik ngeri. Mereka secepat kilat mengambil mantel masing-masing dan keluar dari apartemen Sehun. Meskipun bersahabat belasan tahun, sifat kejam Sehun memang tidak pandang bulu.

"Baiklah-baiklah. Kami pulang Tuan Direktur!" seru Chanyeol yang disertai kekehan Jongdae sebelum pintu tertutup dan keheningan melingkupi apartemen mewah tersebut.


Jika sebelumnya Sehun adalah seseorang yang dingin dengan emosi sedatar dinding, kini ia berubah menjadi iblis kejam yang kerjanya memarahi bawahannya setiap saat. Sudah seminggu aura mematikan Sehun seperti ini. Baik Chanyeol yang seorang wakil direktur dan Jongdae yang seorang komisaris keuangan, sikap Sehun ini sudah membuat kepala mereka sakit. Pasalnya, Sehun seperti sengaja mencari-cari kesalahan. Hal kecilpun bisa menjadi alasan kuat memecat seseorang. Untungnya Chanyeol dan Jongdae segera mengusahakan pemecatan tersebut tidak terjadi. Karena memang alasannya tidak separah itu.

"Sehun-ah, kau datang ke acara pernikahan Kim Suho sore ini?" Jongdae yang memasuki ruangan Sehun bersama dengan Chanyeol bertanya pada sang direktur.

Ini merupakan jam makan siang, niatnya kedua orang ini ingin mengajak sang direktur makan bersama namun yang ditemukan adalah direkturnya bekerja seperti orang gila di ruangannya.

"Entahlah. Kalian?" Sehun bertanya balik tanpa mengangkat pandangannya dari laptop di depannya.

"Tentu saja, ia kan teman baik kita selama SHS, Hun." Jawab Chanyeol.

"Hmm, dengan siapa Suho menikah?" tanya Sehun kembali yang membuat Chanyeol dan Jongdae menggelengkan kepalanya.

"Sifat cuekmu itu, Hun. Pasti kau tidak melihat kartu undangannya kan?" cibir Chanyeol.

Sehun hanya mengendikan bahunya sebagai respon. "Zhang Yixing. Ketua cheerleader dan pacar Suho semenjak SHS. Kau masih ingat padanya?" terang Jongdae.

"Aah, gadis berlesung pipi itu? Hebat juga Suho pacaran segitu lamanya." Ucap Sehun.

"Oke, jadi apa kau serius tidak mau makan siang, Hun? Perutku sungguh sudah lapar, ayolah~" Chanyeol menghentikan pembicaraan mengenai Suho dan merengek kelaparan membuat Sehun menatap tajam kearahnya.

"Sana pergi makan! Jangan merengek padaku seakan aku indukmu, Yeol."

"Lalu kau tidak makan? Kau itu direktur Sehun, tidak ada yang akan mengejar-ngejarmu untuk menyelesaikan laporan itu sekarang. Perhatikan juga kesehatanmu!" nasehat Chanyeol yang diangguki Jongdae.

"Haah baiklah-baiklah. Kepalaku mau pecah mendengar ocehanmu, Yeol. Kajja," Sehun dengan berat hati beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu yang langsung disambut rangkulan di bahu oleh Chanyeol.

"Beruntungnya kau punya sahabat perhatian sepertiku, ya kan Dae?"

Jongdae terkikik geli, "Terserah kau saja tiang listrik."

"Yah, Kim Jongdae kotak! Dasar pendek."

"Aku tidak pendek! Kau dan Sehun saja yang tingginya kelewatan." Kilah Jongdae.

"Ish, kau ini−" belum sempat Chanyeol membalas Jongdae, Sehun sudah berdiam di tempat menatap dengan tatapan membunuh pada keduanya.

"Diam!" desis Sehun yang membuat kedua sahabatnya merapatkan bibir mereka.

Tidak baik melanggar ancaman Sehun. Dengan suasana hati yang buruk, Sehun bisa sungguhan memenggal kepala mereka tanpa ragu. Masih sayang dengan hidup masing-masing, membuat Jongdae maupun Chanyeol berubah diam menjadi anak baik.

'Hah, kepalaku.' Keluh Sehun dalam hati.


"Kau ingatkan sore ini pesta pernikahan, hyung ku?" pria tampan ini bertanya pada gadis di depannya begitu mereka sampai di depan rumah gadis

"Tentu saja, kau sudah ratusan kali bilang padaku." Ucapnya sambil melepas helm motor dari kepalanya dan memberikannya pada pria di depannya.

"Aku jemput nanti, ne?"

"Ck, tidak usah. Aku bisa pergi naik taksi."

"Tidak-tidak bahaya! Kalau kau bertemu pria aneh seperti waktu itu lagi bagaimana?"

Gadis ini memukul lengan pria di depannya. "Jangan berlebihan. Aku bahkan tinggal di luar negeri sendiri selama empat tahun. Tenang, aku bisa jaga diriku."

"Ya jaga diri, hingga tangan kananmu patah di hari ujian akhir yang hampir saja membuatmu tidak lulus sarjana," cibir pria ini yang membuat gadis itu merengut lucu.

"Tapi buktinya kan aku lulus, bodoh. Sudah aku mau siap-siap dulu. Sampai ketemu nanti, ne?"

Pria itu menghembuskan napas panjang. Gadis ini memang keras kepala sekali dan selalu ingin mandiri padahal dirinya begitu ceroboh, polos, dan seperti anak kecil. "Arraseo, kabari aku jika kau berangkat nanti, oke? Oh, jangan lupa. Dandan yang cantik!"

Kalimat terakhir sukses membuat gadis itu bersemu tipis membuat si pria gemas luar biasa dan mengacak rambut gadis tersebut. "Ish, kau kan tahu aku bukan tipe gadis seperti itu, Jongin!"

"Hehe, kau pakai kaos dan jins pun menurutku itu sudah sangat cantik, Lu."

"Jangan menggodaku! Uugh." Gadis itu kini menggembungkan pipinya kesal dan menghentak-hentakan kakinya menjauh dari pria bernama Jongin. Tingkahnya kembali membuat Jongin terkekeh dan gemas.

"Bye, Lu!" teriak Jongin yang dibalas lambaian tangan sekenanya oleh gadis itu. Setelah sosoknya menghilang dibalik pintu rumah, Jongin kembali menyalakan motornya dan berlalu dari rumah gadis tersebut.


Suasana garden party yang ditemani sinar temaram matahari membuat keromantisan pesta pernikahan tersebut semakin melimpah. Kim Suho sang mempelai pria tampak begitu mempesona dalam balutan tuxedonya. Sementara sang istri, Zhang−ah kini telah berubah menjadi Kim Yixing−terlihat bagaikan putri dalam balutan dress putihnya.

Sehun datang sedikit terlambat akibat lupa waktu saat bekerja. Kini ia telah mengganti setelannya dengan jas berwarna abu-abu metalik yang sangat serasi dengan warna rambut platinanya, membuat semua mata menatap takjub. Benar-benar seperti titisan dewa.

"Chukae, Suho-ya, Yixing-ssi." Ucapnya kepada mempelai.

"Wah, Sehun-ah kau tidak berubah. Tetap tampan, eo?" puji Suho yang disambut senyuman tipis Sehun.

"Kau rajanya hari ini, Suho-ya."

"Terimakasih sudah mau datang ditengah kesibukanmu, Sehun-ssi." Jawab Yixing yang tersenyum menawan menampilkan lesung pipinya.

"Ne, lagipula Suho teman baik ku."

"Apa kau datang sendiri? Kau masih betah jadi player, huh?" Suho memberikan seringaiannya membuat Sehun membalasnya.

"Aku tidak separah Chanyeol. Eh omong-omong, apa Chanyeol dan Jongdae sudah tiba?"

"Eum. Tadi aku sudah bertemu dengan mereka, mungkin sedang mencicipi hidangan makanan." Sahut Suho.

"Oppa, eommonim memanggil kita." Yixing yang merangkul pada lengan Suho memberi tahu suaminya bahwa ibu mertuanya memanggil mereka mendekat.

"Ah, Sehun sepertinya aku harus pergi. Kau nikmati pestanya, eo? Nanti kita teruskan bicaranya."

"Kami duluan, Sehun-ssi."

"Eum," anggukan Sehun mengiyakan. Ia mengedarkan pandangannya mencari sahabat tiangnya dan sahabat kotaknya.

Bukannya menemukan letak sahabatnya, ia malah menemukan sosok yang menghantui pikirannya. Sehun menganga memperhatikan gadis yang sedang berjalan tertunduk tidak jauh darinya. Sepertinya gadis itu baru datang.

'Mengapa ia bisa ada disini?' tanya Sehun pada dirinya sendiri. 'Apa aku sedang berhalusinasi?'

Gadis itu tampak begitu mempesona. Rambutnya disanggul dalam bentuk kepangan rumit yang dibuat sedikit berantakan meninggalkan kesan natural. Dress satin sepanjang lutut yang dipakainya berwarna turqois polos dengan hiasan bunga perak di bagian bawahnya yang bagian lengannya dihiasi kain chiffon transparan yang mempertontonkan bahu dan leher putih jenjangnya. Sangat manis, sederhana namun elegan. Gadis itu terlihat lebih dewasa saat ini.

"Lu!" seseorang berteriak membuat gadis itu mendongakkan wajahnya dan tersenyum manis. Rasanya Sehun berhenti bernapas ketika melihat senyuman itu.

Sedetik kemudian, raut wajah Sehun berubah mengeras. Emosinya kembali mendidih hingga ubun-ubun. Bagaimana tidak? Seorang pria tiba-tiba merangkul bahu gadis itu dan berdecak kagum membuat gadis itu merona malu.

Ugh, Sehun ingin sekali mencabik tangan pria itu dan membekap sang gadis agar tidak ada yang berani menyentuhnya. 'Eh, kenapa aku berpikir begitu?' Perlukah, author jawab, Hun?

Setelah ia teliti, wajah pria itu tidak asing. 'Tunggu, bukankah itu adik Suho?'

Tanpa pikir panjang, Sehun melangkahkan kaki menuju tempat gadis itu dengan tatapan tajam menancap hanya pada sosoknya. Namun, tinggal lima langkah lagi jalannya terhalau oleh sosok Chanyeol.

"Yo, bro! akhirnya kau datang juga."

"Ck, minggir. Kau menghalangi jalan." Ketus Sehun. Chanyeol menaikan sebelah alisnya tak mengerti.

"Yeol, ini champagnemu. Eh, Sehun kau sudah tiba?" Jongdae muncul dari arah samping membawa dua buah gelas champagne.

Sehun berniat menubruk kedua temannya namun sosok gadis yang sebelumnya ada dibalik Chanyeol telah hilang. Sehun mendengus kasar dan berbalik menatap temannya. "Ini semua gara-gara kau!" sungutnya lalu segera meneguk habis champagne di tangan Jongdae dan berjalan menjauh.

"Kenapa lagi si albino?" tanya Jongdae sementara Chanyeol mengendikkan bahunya tidak tahu. "Eh Yeol! Bukankah itu gadis itu?" Jongdae dengan semangat menunjuk kearah tempat mempelai membuat Chanyeol menyipitkan mata.

"Wah, iya! Cantik sekali dia." Puji Chanyeol ternganga. "Dae, yang merangkulnya bukannya adiknya Suho? Siapa namanya? Jongeon?"

"Jongin, Yeol. Iya benar itu adik Suho. Eh, apa mereka pacaran?!" seru Jongdae.

"Aah, aku tahu kenapa si albino marah-marah sekarang. Mungkin ia melihat mereka tadi." Ujar Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya seperti seorang ahli yang berhasil menemukan teori baru.

"Mau berkenalan dengannya?" tawar Jongdae yang langsung dibalas cengiran lebar Chanyeol.

"Tentu saja~"


Drrt.. drrt

Getaran pada ponselnya membuat Sehun merogoh kantong celananya. Ia mengerenyit melihat nama Chanyeol pada layar.

"Mwo?"

"Dimana kau, Hun?"

"Taman belakang." Jawaban singkat Sehun membuat Chanyeol berdecih.

"Cepat kedekat air mancur!"

"Malas." Geraman kesal Chanyeol terdengar jelas dan bisa Sehun dengar Chanyeol menyerahkan ponselnya pada orang lain.

"Yeobseyo, Sehun?" kali ini suara Jongdae yang terdengar.

"Hn."

"Kau tidak mau berkenalan dengan Luhan?" pertanyaan Jongdae membuat Sehun mengerenyit. Luhan? Siapa itu?

"Tidak." Meskipun dalam hati Sehun penasaran dengan nama tersebut tapi ia sungguh malas beranjak dari kursinya.

"Aah, begitukah? Sayang sekali padahal ia bilang ia mengingatmu, loh." Jika Chanyeol adalah tipe ekspresif yang meletup-letup, Jongdae adalah tipe kalem dengan seribu makna dibalik kalimatnya.

Mengingat? Tunggu, Luhan? Lu? Sehun mengumpat begitu menyadari kelambatannya.

"Aku kesana!" serunya tiba-tiba mematikan sambungan telepon dan sedikit berlari menuju air mancur.

Dilain pihak, Jongdae terkikik geli karena berhasil menghasut Sehun. "Bagaimana? Dia mau kesini?" tanya Chanyeol.

"Tentu saja. Aku kan tidak sepertimu yang bodoh, Yeol."

"Sial kau kotak." Umpat Chanyeol menjitak sahabatnya membuat orang tersebut mengaduh sakit.

"Chogiyo, hyungdeul. Sebenarnya orang yang ingin bertemu Luhan siapa?" Jongin yang berdiri di samping Luhan menatap bingung pada teman-teman kakaknya ini.

Hal ini dikarenakan beberapa saat yang lalu, kedua pria ini muncul di depannya dan Luhan dan mengajak Luhan berkenalan. Meskipun Jongin sedikit tidak rela namun ia merasa tidak berhak melarang. Lagipula kedua pria ini teman kakaknya. Luhan yang menjadi tokoh utama hanya tersenyum polos saat mengetahui kedua oppa tersebut adalah teman dari Suho-oppa. Namun, pernyataan Chanyeol-oppa yang mengatakan ada satu lagi teman mereka yang perlu Luhan temui ia sedikit merasa bingung juga.

Tidak sampai satu menit, sosok wajah familiar tertangkap pandangan Luhan. Sialnya, mereka melakukan eye contact selama si pria berjalan mendekat kearahnya. Luhan tidak kuasa mengalihkan pandangannya karena mata setajam elang itu seolah memakunya.

"Ah, Sehun-ah!" Chanyeol melambai semangat hingga Sehun tiba dihadapan mereka. Tatapan matanya tidak lepas dari mata Luhan bahkan ia tidak menghiraukan sapaan Chanyeol.

"Nah ini dia teman kami, Oh Sehun." Ucap Jongdae begitu Jongin menatap tak suka pada pria dihadapannya yang memandang Luhan intens. Ia langsung menyembunyikan Luhan dibalik punggungnya membuat kontak mata dua insan itu terputus.

"Kenapa kau melihat Luhan seperti ingin memakannya?" tanya Jongin protektif.

Sehun benar-benar ingin melenyapkan bocah ini dan meraih sosok yang berada di punggung si bocah. "Jadi kau sudah ingat padaku? Apa perlu aku mengembalikan botol minum birumu biar kau ingat?" Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Jongin dan lebih memilih mengajak bicara gadis dibelakangnya yang mengintip bak anak kecil.

Ugh, kilauan matanya membuat Sehun membenarkan dalam hati ucapan Jongin, mungkin memang ia ingin 'memakan' Luhan.

"Botol minum biru? Ah!" tiba-tiba saja Luhan memekik dan menepuk tangannya. Seakan ia baru teringat sesuatu. "Kau ahjussi sok keren yang menyebrang jalan seenaknya itu ya? Jongin, dia pria yang aku tolong waktu itu!"

Sehun sedikit merutuk mendengar gadis ini kembali memanggilnya ahjussi. Sungguh, memangnya usia mereka terpaut sejauh itukah? Lagipula apa tadi, sok keren? Hell! Sehun memang sedari lahir sudah keren, bukan sok. Namun ia agak lega juga ketika akhirnya gadis ini mengingatnya.

"Aku Oh Sehun." Ucapnya merentangkan tangan. Tanpa ragu kini gadis itu menjabat tangan Sehun. "Xi Luhan-imnida. Bangapseumnida, Sehun-oppa!"

Di chapter sebelumnya bahkan belum ada cast dan warning, maklum newbie akut :v

Mohon review nya jika berkenan, kakak-kakak! Juseyo~

Terimakasih!