Terima kasih sudah me-review KNG 4 chapter 1; Putri, ochan Malfoy, Rise, DarkBlueSong, SpiritSky, Cecilia Chang, Nafau Chance, bluish3107, megu takuma, zean's malfoy, SeiraAiren, widy, Reader Biasa, Devia Purwanti, Atacchan, CN Bluetory, Vallerina Lovegood:D

Tentang rekan Lucy: ada di chapter ini; tentang KNG berikutnya: KNG 5 Fred, KNG 6 Roxy, q bikin KNG sesuai urutan umurnya; tentang typo: thanks, q kan cek-cek lg sblum posting:D


Selamat membaca chapter 2 dan review (apa saja), ya!

Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 2

Tanggal: Sabtu 24 Juni 2020

Lokasi: London Heathrow Airport

Waktu: 10. 15 – 11 pm

Dear Diary,

Buongiorno, come stai?

Tadi itu adalah bahasa Italia yang artinya Selamat siang, apa kabar? Itu adalah kata-kata yang aku pelajari dari kursus kilat bersama Molly dengan biaya lima Sickle sejam. Bayangkan dia meminta lima Sickle pada adiknya sendiri, benar-benar keterlaluan! Tetapi lumayanlah aku sudah bisa beberapa kata seperti, Io sono Lucy, piacere di conocerla, yang artinya, saya Lucy senang berkenalan dengan anda. Oke, jangan tertawa! Aku tahu propounciation-ku tidak sebagus Molly, tapi aku sedang berusaha, kan?

Lalu, mengenai Io sono Lucy tadi sebenarnya sangat salah karena saat ini aku bukan lagi Lucy. Aku adalah Luke Spencer (Spencer adalah nama gadis Mom), cowok tinggi berambut pirang halus dengan mata cokelat jernih, dan berbaju kaos hijau dan jeans hitam. Aku telah meminum ramuan Polijus dosis besar berisi rambut seorang cowok Muggle dari desa Ottery St Catchpole, yang diambil James dengan mantra panggil. Kami telah membubuhkan helain-helain rambut itu dalam dua botol besar ramuan Polijus yang telah kubeli dengan harga 200 Galleon di pasar gelap Hog's Head. Dua botol ramuan ini akan membantuku bertahan dalam dua bulan liburan musim panas.

Diary, kurasa aku pasti sangat tampan, lihat saja dua cewek yang duduk di pojokan terminal ini, mereka telah sepuluh kali melirikku dalan lima belas menit ini. Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa cowok tampan sepertiku bepergian sendirian, tapi banyak Muggle yang bekergian sendirian. Lihat saja, orang berambut gimbal yang duduk di empat kursi di sebelah kananku, lalu cowok keriting di belakangku, dan masih banyak lagi kalau mata Muggle-ku mampu melihat mereka seantero terminal.

Saat ini, aku memang sedang duduk di ruang tunggu terminal lima Heathrow Airport untuk naik pesawat Boeing 747SP yang langsung menuju Marco polo International Airport di Venete Region, tempat kota Venesia berada. Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku tahu banyak tentang Marco Polo Airport, Venete Region dan sebagainya. Itu karena sepupuku yang sangat baik hati, Rose, telah membuat catatan singkat tentang kota Venesia untukku. Dan saat ini aku sedang membacanya lagi.

KOTA VENESIA

Terletak di sebelah timur laut Italia. Kota ini terdiri dari 118 pulau kecil yang dipisahkan oleh canal dan dihubungkan dengan jembatan yang berjumlah 409 di seluruh kota. Transportasinya adalah gondola kalau kita ingin bepergian di sekitar kota, dan kita harus naik bus air atau vaporetti (perahu motor) kalau kita ingin pergi ke pulau yang agak jauh. Di sana kita akan sulit sekali menemukan mobil karena wilayahnya terdiri oleh air.

"Karena itulah, Venesia di sebut kota air," kata suara halus di sampingku.

Aku mengangkat muka dan melihat satu dari dua cewek Muggle tadi sudah menghampiriku. Cewek ini berambut hitam panjang dengan mata hijau yang jernih. Jelas sekali cewek Muggle ini telah ikut membaca catatan Rose selama beberapa detik yang lalu.

"Oh," kataku segera, melipat catatan dan memasukkannya ke saku jeansku.

"Kau mau ke Venesia?" tanya si cewek Muggle.

"Ya," jawabku, tak tahu harus bicara apa.

"Kenalkan aku Sara," dia menjabat tanganku. "Dan di sana itu adalah temanku, Linda," dia melambai pada temannya di pojokan yang tersenyum dan aku balas tersenyum. "Kami hendak ke Roma, lalu ke Milan dan kami mungkin akan singgah di Venesia kalau ada waktu. Kau bisa memberikan alamat hotelmu, sehingga kalau kami benar-benar ke Venesia, kami bisa mengunjungimu."

"Oh―"

Ya, ampun, cewek ini, dia bahkan belum tahu siapa namaku dan apa tujuanku ke Venesia, tetapi dia sudah menanyakan alamat hotelku!

Dia masih memandangku dan aku merasa tubuhku seakan tidak bisa bergerak. Bukan karena aku gugup atau mati rasa, tapi karena tubuh ini. Aku belum terbiasa dengan tubuh cowok ini, maklum saja, aku kan cewek dan aku baru 30 menit yang lalu meminum ramuan Polijus itu.

"Jadi?" tanya Sara memandangku.

"Er, namaku, Luke―Luke Spencer," jawabku. "Aku sedang menunggu temanku dan aku belum tahu kami akan menginap di mana."

"Kalau begitu aku minta nomor teleponmu saja," kata Sara, mengeluarkan sebuah benda segi empat pipih berlayar dengan tombol-tombol kecil. Dan sekarang dia sedang memencet tombol-tombol itu sambil memandang layarnya.

"Nomor telepon?" ulangku tak mengerti.

"Ya," katanya, masih memencet tombol benda segi empat pipih itu.

Apa sih yang dimaksudnya dengan telepon?

Jujur saja, aku tidak pernah ikut kelas Telaah Muggle karena menurutku kelas itu sama sekali tidak berguna. Namun, di saat-saat seperti ini aku merasa bahwa kelas itu mungkin berguna. Aku bukannya menyesal tentang hal ini, aku hanya merasa kesal. Seumur hidupku aku tidak pernah menyesal, aku adalah pribadi yang bisa menerima semua yang terjadi dengan tangan terbuka tanpa penyesalan. Aku tidak pernah menyesal, meskipun aku telah menghabiskan ratusan Galleon untuk berjudi, meninju cowok-cowok Hogwarts yang keterlaluan, atau hanya mendapat tiga OWL, yang menyebabkan Dad marah besar.

Kau mungkin mengira aku adalah cewek bodoh, Di, dan kalau mau jujur, keadaanku memang seperti itu. Aku adalah yang paling bodoh dalam keluarga. Kemampuan otakku memang di bawah rata-rata, tidak seperti ayah dan kakakku, Molly, yang keduanya memiliki volume otak jauh di atas rata-rata. Kurasa aku lebih mirip ibuku. Mom bukan orang pintar, dia kadang-kadang sering lupa bagaimana caranya melipat kaos kaki dengan tongkat sihir. Aku bertanya-tanya bagaimana akhirnya dia bisa menikah dengan Dad yang perfeksionis,

Karena aku bodoh, aku berusaha untuk terlihat bersemangat dan ceria, agar orang-orang tidak tahu aku bodoh. Saking semangatnya cowok-cowok Hogwarts memanggilku Cewek Preman. Sebenarnya ingin marah, tapi mau bagaimana lagi, itu kan hak mereka. Lagi pula, aku tidak mungkin meninju semua cowok di Hogwarts gara-gara itu. Tetapi Dom tahu bagaimana aku sebenarnya, dia tahu aku bukanlah orang pintar, karena itulah dia menemaniku ke Italia. Aku tidak akan pergi ke Italia tanpa ditemani oleh sepupu-sepupuku.

"Berapa nomormu?" Sara bertanya lagi, rupanya cewek ini tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Tidak ada," jawabku singkat, menggelengkan kepala. Kuharap itu cukup dan dia segera meninggalkanku.

Sara memandangku dengan penuh perhatian, kami saling bertatapan selama beberapa detik, kemudian dia berdiri.

"Aku mengerti," katanya. "Sampai jumpa!"

Dia kembali pada temannya Linda dan keduanya memberi pandangan sebal padaku. Aku mengalihkan pandangan dari mereka dan memandang berkeliling mencari-cari Dom, Rose, dan Al di antara puluhan Muggle yang sedang menunggu pesawat di terminal lima ini.

Muggle-Muggle ini tampaknya berasal dari berbagai negara di dunia, karena di mana-mana tampaklah Muggle-Muggle yang jelas sekali bukan orang Inggris. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa dan logat yang tidak kuketahui. Misalnya, keluarga yang ada di hadapanku sekarang, mereka berkulit hitam legam seperti pantat kuali, dan si ibu sedang berbicara pada anaknya yang kira-kira berumur lima tahun dengan bahasa aneh yang kebanyakkan menggunakan huruf H yang dipanjangkan.

Tetapi Dom, Rose dan Al di mana? Padahal mereka sudah berjanji untuk mengawasiku dan menjagaku kalau aku terlibat dalam masalah, tapi sekarang mereka malah menghilang. Aku memandang melewati keluarga hitam ini dan melihat Dom, Rose, dan Al sedang duduk di deretan paling belakang, mengawasiku di balik kacamata hitam yang mereka kenakan. Rose mengedikkan kepalanya padaku sedikit. Aku balas mengedik, berdiri dan berjalan menuju bagian belakang terminal, berharap dalam hati agar mereka mengikutiku.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Rose segera, saat kami tiba di lorong sepi yang menuju kamar mandi, dia memandang berkeliling untuk memastikan bahwa kami cuma berempat. "Mengapa kau bicara dengan cewek Muggle itu? Aku kan sudah bilang kau tidak boleh berbicara dengan siapa pun kecuali rekanmu itu datang."

Rose berdiri di dekatku, sudah tidak memakai kacamata hitam dan tampak sebal. Dia mengenakan baju jingga tanpa lengan dengan rok hitam lebar yang panjangnya sampai ke bawah lutut, dan mencengkram sebuah tas tangan manik-manik di tangan kirinya. Al, yang sekarang sudah melepaskan kacamata hitamnya juga dan memandangku dengan bosan, mengenakan kaos hitam bertuliskan Bombastick Love dengan tinta putih dan celana jeans pudar warna cokelat. Sedangkan Dom mengenakan gaun musim panas tipis tanpa lengan yang panjangnya sampai ke lutut.

"Kita kan sudah sepakat bahwa kau tidak boleh berbicara dengan para Muggle dan pastikan kau juga tidak boleh terlihat berbicara dengan kami," katanya, menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala dan memandang berkeliling seperti Rose.

"Mengapa kalian menyalahkan aku?" kataku jengkel. "Cewek Muggle itu yang berbicara padaku... Dia berbicara tentang letepon dan aku tidak mengerti benda apa itu."

"Telepon..." kata Rose.

"Lupakan itu," kata Al, memandangku dengan penuh perhatian. "Lucy, ingat, kau sekarang cowok, usahakan berjalan lebih tegap dan gagah. Karena caramu berjalan seperti, seperti―"

"Seperti apa?" tanyaku.

"Seperti Philip Montgomery, anak Hufflepuff itu," kata Al.

"Cowok melambai itu?"

"Ya, kau tampak seperti dia," kata Al.

"Kita kan sudah pernah latihan jalan, Lucy," kata Rose. "Fred dan James pasti akan tersinggung kalau mereka tahu kau masih berjalan melenggang. Mereka kan sudah melatihmu dengan keras."

"Kurasa cara jalanmu yang biasa tidak seperti itu," kata Dom.

"Itu karena tubuh ini," kataku, membela diri. "Aku belum terbiasa dengan tubuh ini, semua orang pasti akan kaku kalau tiba-tiba tubuhnya berubah jadi lebih tinggi dari tubuh aslinya."

"Baik, kita tidak akan membahas itu, sekarang kau harus kembali ke tempat dudukmu dan―" Rose mengamatiku sekarang. "Lucy, mana ranselmu?"

"Aku meninggalkannua di kursiku!"

"Lucy, aku kan pernah bilang untuk tidak meninggalkan ranselmu sembarangan!" kata Rose. "Ingat, Lucy, Muggle itu kelakuannya aneh, sama seperti penyihir, ada yang pencuri, pencopet, penipu, dan―"

"Aku tahu," kataku, menyelanya, mengeluarkan tongkat sihirku, dan sudah akan mengucapkan mantra panggil untuk memanggil ransel itu saat Rose merebut tongkat sihir dari tanganku.

"Aku akan menyimpan tongkat sihirmu," katanya, dan langsung menyimpan tongkat sihir itu dalam tas manik-maniknya.

Aku yang hendak memprotes langsung terkejut menyadari tongkat sihirku bisa masuk ke dalam tas manik-manik kecilnya.

"Bagaimana?" tanyaku, memandang tas manik-manik itu.

"Ini punya Mom," kata Rose. "Aku menemukannya di gudang saat membantu Mom bersih-bersih dan aku sadar bahwa tas ini sangat berguna untuk perjalanan kita. Semua barang-barang kita ada dalam tas ini; pakaian kami, uang Euro, tongkat sihir kami, ramuan Polijus, Jubah Gaib, Telinga-Terjulur, Detonator-Pengalih-Perhatian dan masih banyak lagi."

"Tapi bagaimana tas itu bisa lolos pemeriksaan?" tanyaku. "Maksudku barang-barang kita kan diperiksa."

"Yah, karena Al dan aku masih 14 tahun, tidak bisa menggunakan sihir karena masih meninggalkan Jejak, jadi―"

"Aku meng-Confundus penjaga-penjaga itu," kata Dom, melanjutkan kata-kata Rose.

Aku tercengang memandang mereka semua, sedangkan Rose mengintip ke dalam tas manik-maniknya, kemudian menarik keluar sebuah botol berukuran sedang, bertuliskan Orange Juice.

"Ini," katanya, menyerahkan botol itu padaku.

Aku menerima dan mengamatinya.

"Mengapa aku harus minum jus jeruk? Aku―"

"Botol itu cuma tipuan, isinya adalah ramuan Polijus," kata Rose tak sabar. "Kau harus meminumnya setiap sejam sekali."

"Oke," kataku, memandangnya, "tapi aku memerlukan tongkat sihirku."

"Kau di sini adalah Muggle, Lucy, dan kau tidak bisa menyihir," kata Dom.

"Tapi bagaimana aku bisa menghubungi SAI kalau kau mengambil tongkat sihirku?"

"Aku akan memberikannya padamu saat kita tiba di hotel," kata Rose.

"Kau harus kembali sekarang, Lucy," kata Al, melirik arloginya. "Rekanmu mungkin sudah menunggumu"

"Baik," kataku jengkel.

"Dan Lucy, ingat, jangan terlalu sering menoleh ke arah kami, nanti rekanmu curiga," kata Dom. "Kau harus yakin bahwa kami tidak akan meninggalkanmu..."

"Baik," kataku lagi, lalu berjalan menuju ruang tunggu terminal.

Syukurlah, ranselku masih ada. Kecurigaan Rose bahwa seorang pencuri telah mencurinya ternyata tidak terbukti. Ransel itu masih tegak di atas kursi di sebelah tempat dudukku tadi. Aku segera mengenyakkan diri di kursi, menarik ransel ke arahku dan memeriksa isinya; pakaian-pakaian Muggle, dompet (Rose memaksaku untuk memilikinya) dan sebuah buku kecil tentang Venesia, semuanya masih ada. Setelah itu, aku segera memasukkan ramuan Polijus ke dalam ransel, menutupnya dan memandang berkeliling lagi. Dom, Rose dan Al sudah kembali ke kursi mereka, lengkap dengan kacamata hitam dan topi lebar (Dom dan Rose), juga topi pet (Al)

Aku melirik arlogiku dan mencoba untuk tidak mengumpat. Sebentar lagi kami harus naik pesawat, tapi rekanku belum juga muncul.

"Hai," kata suara dari sampingku, suara ini rasa-rasanya pernah kudengar.

Aku berpaling dan melihat Dustin Wood dengan kaos hitam bertuliskan I Love Venice, celana Jeans biru dan ransel.

No way! Ini tidak mungkin terjadi! Rekanku pasti bukan dia.

Dengan panik aku memandang berkeliling mencari orang lain yang berkaos hitam dan berjeans biru. Di tiga kursi di sampingku ada seorang berkaos hitam dan jeans biru, tapi dia sudah beruban; di pojok dekat dua cewek Muggle tadi, ada seorang berkaos hitam, tapi dia mengenakan celana panjang kain yang sedikit melambai. Setelah mencari-cari sekitar 20 detik aku menyadari bahwa Dustin Wood adalah rekan kerjaku. Melirik ke depan, aku melihat Dom, Rose dan Al, memperbaiki letak topi dan kacamata mereka agar Dustin tidak mengenal mereka.

"Terrius Krum?" kata Dustin Wood.

Ya, benar sekali! Itu kata sandinya. Terrius Krum. Sial!

Aku mengangguk.

"Aku Dustin Wood," katanya setelah itu.

Kami berjabat tangan dan dia langsung duduk. Dua cewek Muggle di pojokan memandang Dustin dengan terpana, kemudian saling berbisik, sementara aku membuang muka. Apakah sekarang mereka berpikir bahwa Dustin Wood dan aku adalah gay?

"Aku Luke Spencer," kataku.

"Maaf, aku terlambat, aku harus pergi ke Scamander Research Laboratory untuk berbicara dengan pamanku sebelum berangkat dan―"

"Scamander Research Laboratory?" ulangku.

"Iya, pamanku bekerja di sana, dan dia memintaku untuk membantunya mencari Terrius Krum―"

"Apa? Jadi yang menyewa kita adalah Scamander Research Laboratory?"

"Tentu saja, kau tidak tahu?" Dustin Wood tampak terkejut.

"Tidak, aku baru tahu sekarang."

"Aku sudah mendengar tentangmu dari pamanku," kata Dustin Wood. "Katanya kau sangat ahli dalam hal seperti ini. Dia bilang kau adalah kurir permata ilegal dan pernah beberapa kali mengintai orang-orang terkenal. Kurasa kita berdua pasti akan berhasil menemukan Krum."

Dia tertawa sambil meninju lenganku dengan bersahabat.

"Aduh," jeritku pelan, menyentuh lenganku yang terasa sakit.

Biar bagaimanapun aku kan cewek, kalau ditinju seperti itu tentu saja sakit.

"Maaf," kata Dustin Wood tampak sangat terkejut. "Aku tidak mengira, maksudku―"

"Tidak apa-apa," kataku.

Dustin Wood sekarang sedang memandangku dengan teliti. Apakah dia sedang berpikir apakah aku benar-benar kurir permata ilegal?

"Berapa umurmu?" dia bertanya.

"20 tahun," jawabku singkat, sesuai kesepakatan yang telah kami bicarakan dalam pertemuan keluarga.

"Aku tidak pernah melihatmu di Hogwarts," katanya.

"Aku di Durmstrang," kataku.

"Oh..."

Kami terdiam.

"Ceritakan tentang pengalamanmu menjadi kurir permata ilegal!" katanya lagi.

Sial, apakah cowok ini tidak pernah berhenti bicara?

"Aku tidak ingin menceritakannya, pengalaman itu adalah pengalaman yang tidak pantas untuk dikenang... Dua kali aku lolos dari SAI..." kataku, berpura-pura memandang jauh ke depan seolah merenung.

"Oh ayolah, jangan pelit terhadap teman, Luke, aku senang mendengarkan pengalaman orang lain," katanya sok akrab.

Nah, benarkan, cowok ini sok akrab.

"Aku sudah melupakan pengalaman itu, Wood," kataku, mengelak lagi.

"Panggil aku Dustin," katanya. "Wood terdengar sangat formal, dan kebalikan dari itu, kita harus akrab dan bekerja sama dengan baik."

Dia tersenyum lebar, aku meringis, melirik Dom, Rose dan Al di depanku yang sedang memperhatikan kami.

"Siapa-siapa orang terkenal yang ada dalam daftar pengintaianmu?"

"Banyak," kataku, mengelak lagi.

"Sebutkan beberapa?"

"Er―yah, Harry Potter dan Ronald Weasley," kataku, menyebut nama-nama yang kuanggap aman karena mereka tidak mungkin menuntutku di pengadilan sihir.

"Golden Trio," katanya. "Untuk apa kau mengintai mereka?"

"Aku disewa seseorang yang kelihatannya adalah ahli Sejarah dan dia ingin aku mencari informasi tentang Golden Trio," jawabku ber-improvisasi.

"Ahli Sejarah yang mana? Ahli Sejarah kan banyak?"

"Aku tidak bisa memberitahumu, aku menyimpan rahasia klienku dengan baik," kataku, percaya diri. Dengan begini aku bisa menutup mulut Dustin.

"Lalu siapa lagi?" tanya Dustin, tak menyerah.

Rasanya ingin sekali aku kabur darinya secepat mungkin, tapi syukurlah aku tidak perlu kabur karena suara wanita tanpa wujud terdengar dari pengeras suara,

"PENUMPANG DENGAN NOMOR PENERBANGAN 305 TUJUAN VENESIA, DIPERSILAHKAN MENUJU GERBANG 13!"

"Itu penerbangan kita," kata Dustin, sementara wanita itu masih terus memanggil penumpang-penumpang yang ke Paris, Milan dan kota-kota lain.

Beberapa orang mulai bergerak, sementara Dustin juga berdiri dan memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Tanpa membuang waktu, aku segera mengikutinya, dan dari sudut mataku aku melihat Dom, Rose, dan Al mengikuti kami. Yeah, akhirnya berangkat!

Venice, I'm coming! Venesia, aku datang!


Tanggal: Sabtu, 24 Juni 2020

Lokasi: Pesawat Boeing 747SP

Waktu: 11 – 12 pm

Dear Diary,

Bagaimana ini? Aku belum pernah naik benda besar mengerikan ini. Lalu, bunyi apa yang terdengar berisik di belakang benda ini? Mengerikan!

"Kau baik-baik saja?" tanya Dustin. "Sebentar lagi kita akan lepas landas."

Dia duduk di dekat lorong dan memandangku dengan khawatir.

"Oh ya, aku sangat baik," kataku, tersenyum suram.

"Wajahmu sangat pucat," katanya.

"Aku baik...aku baik," kataku lebih pada diriku sendiri.

Dustin mengangguk, kemudian memandang ke depan lagi, sementara benda ini mulai berbunyi kencang dan bergerak. Aku mencengkram lengan Dustin dengan kuat, memejamkan mata, mendengarkan deruman yang semakin kencang dan perasaan seolah jantungku terjatuh ke tanah menghantamku saat benda ini tiba-tiba melayang.

"Oke, oke, kita sudah terbang sekarang," kata Dustin, menepuk keras jari-jariku yang ada di lengannya.

Aku memang merasa bahwa kami sedang melayang, namun bunyi berisik di belakang pesawat ini tidak berhenti. Pesawat ini terus bersuara keras, berisik, membuat telingaku berdengung, terus berdengung dan mulai sakit. Aku melepaskan tanganku dari lengannya dan menutup kedua telingaku, tapi telingaku suara berisik keras itu masih terus terdengar. Sedetik kemudian dua tangan telah merenggut tanganku dari telingaku.

Aku membuka mata dan memandang wajah Dustin tepat di dekat wajahku.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, menyentakkan tanganku, tapi dia mencengkram ke dua tanganku dengan kuat. "Lepaskan aku!"

"Telingamu berdengung?"

"Kalau sudah tahu, buat apa tanya?" gertakku, menyentak tanganku lagi.

Dia melepaskan tanganku dan mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Aku melupakan dengung di telingaku untuk sementara dan memandang benda yang baru saja dia keluarkan. Benda itu adalah penutup telinga berwarna hitam yang agak mirip headset, tapi tanpa mikrofon, dengan tombol-tombol kecil di penutup sebelah kiri. Dia memasangkan benda itu di kepalaku dan telingaku langsung berhenti berdengung. Namun pada saat yang sama, aku mendengar suara lain, yaitu suara musik keras dan suara orang bernyanyi lagu yang rasanya pernah kudengar.

Aku mencintaimu... aku begitu mencintaimu

Mengapa kau pergi dengannya? Apakah karena ramuan cinta?

Kumohon lupakan ramuan cinta itu, aku bersedia bersamamu selamanya

Meskipun tanpa ramuan cinta.

Aku segera melepaskan benda itu dari telingaku dan memperhatikannya.

"Benda apa ini?" tanyaku.

"Earphone biasa, tapi aku telah menyihirnya sehingga kau bisa mendengarkan lagu-lagu meski tanpa disambung ke radio. Tombol-tombol berfungi sebagai tombol Volume, tombal Star, tombol Stop."

Aku memasang earphone itu kembali ke telingaku dan mendengarkan,

Aku lebih mencintaimu... aku lebih membutuhkanmu

Meskipun tanpa ramuan cinta

"The Shadow Men," kataku, melepaskan earphone lagi.

"Ya, kau menyukai mereka?" tanya Dustin. "Mereka adalah grup band yang sedang terkenal saat ini."

"Cinta tanpa Ramuan Cinta, James menyukai lagu ini," kataku tanpa sadar.

"James?" tanya Dustin menaikkan alis.

"Ya, er, dia adalah adik laki-lakiku," kataku cepat.

"Oh, aku juga sangat menyukai lagu ini," kata Dustin semangat. "Aku punya lagu-lagu mereka yang lain, tetapi Cinta tanpa Ramuan Cinta ini adalah lagu mereka yang menurutku sangat bagus dan―"

Aku memakai earphone lagi dan memejamkan mata. Suara Dustin menghilang dan suara Sean Ogbourne, vocalist The Shadow Man, terdengar merdu di telingaku.

Aku melihatmu tersenyum, hatiku bergetar bahagia

Aku melihatmu sedih, hatiku menangis.

Aku melihatmu melakukan apa saja, aku sadar aku mencintaimu

Melihatmu memandangnya aku cemburu

Melihatmu berbicara dengannya hatiku sakit

Mendengarmu mencintainya, aku tahu pasti itu ramuan cinta

Apakah dia memberimu ramuan cinta,

Benarkah ini karena ramuan cinta?

Jangan pergi bersamanya karena kau menghancurkanku.

Aku mencintaimu... aku begitu mencintaimu

Mengapa kau pergi dengannya? Apakah karena ramuan cinta?

Kumohon lupakan ramuan cinta itu, aku bersedia bersamamu selamanya

Meskipun tanpa ramuan cinta.

Aku lebih mencintaimu... aku lebih membutuhkanmu

Meskipun tanpa ramuan cinta

Setelah beberapa saat, aku membuka mata dan melihat Dustin sudah tertidur di kursinya. Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi di belakang pesawat. Beberapa saat kemudian Dom dan Rose muncul. Aku tersenyum pada mereka dan melepaskan earphone.

"Kenapa telingamu?" tanya Dom.

"Telingaku berdengung dan sakit," kataku.

"Mungkin karena tekanan udara," kata Rose.

Dom mengacungkan tongkat sihirnya padaku sambil menggumamkan mantra, dan telingaku langsung berhenti berdengung.

"Terima kasih," kataku.

"Dustin Wood, eh," kata Rose.

"Yah, " kataku. "Siapa sangka ternyata pamannya bekerja untuk Scamander Research Laboratory."

"Jadi mereka memang mencari Terry," kata Dom, merenung.

Aku mengangguk.

"Dom, kita harus segera pergi," kata Rose, "Kita tidak boleh terlihat di kamar mandi ini, para Muggle bisa curiga. Lucy, ingat minum ramuan Polijusnya!"

Mereka kemudian keluar, aku menyusul beberapa menit kemudian.

"Telingamu tidak berdengung lagi?" tanya Dustin saat aku kembali ke kursiku dengan earphone di tanganku.

"Tidak lagi, terima kasih untuk earphone-nya," kataku, memberikan earphone padanya.

Dia menyimpannya di ransel, kemudian memandangku.

"Dengar, Luke, kita harus menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin di antara kita. Dan, karena kau tidak bisa berbahasa Italia maka akulah yang akan menjadi pemimpin, dan―"

"Un momento, per piacere!" kataku cepat dalam bahasa Italia yang kupelajari dari Molly sambil memelototinya. "Parlo Italiano un po', jadi jangan-jangan coba-coba menentukan bahwa kau adalah pemimpin di sini."

"Certamente," kata Dustin tampak jengkel sekarang, kemudian mengucapkan sesuatu dalam bahasa Italia dengan cepat sehingga aku tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya.

Aku melongo memandangnya.

"Caspisce?" dia bertanya. "Apa yang baru saja kukatakan?"

"Er, entahlah," kataku. "Tetapi walaupun kau lebih pintar bahasa Italia aku tidak akan mengakuimu sebagai pemimpinku."

"Touch!" katanya, mendengus, kemudian memandang ke depan lagi.

Aku memandangnya selama beberapa waktu dan sadar bahwa Dustin pasti tersinggung karena aku tidak mengakuinya sebagai pemimpin. Tetapi, walaupun aku bodoh, aku tidak mau diperintah-perintah oleh orang lain, apa lagi oleh cowok cerewet ini.

"Dengar, kita tidak boleh bertengkar," kataku. "Aku minta maaf karena tidak bisa mengakuimu sebagai pemimpin, tapi aku rasa kita ini rekan kerja, bukan pemimpin dan anak buahnya."

Dustin memandangku sekarang, pandangannya terasa aneh.

"Apa?" tanyaku.

"Mengapa kau minta maaf?"

"Apa? Mengapa aku minta maaf?" tanyaku agak bingung.

"Tadi kau minta maaf padaku, kan?"

"Er, ya, aku minta maaf karena tidak mengakuimu sebagai pemimpinku. Aku ingin kita bertindak sebagai―"

"Aku tahu, tapi mengapa kau minta maaf?"

"Ha?"

Apakah cowok ini sedang bermain kata denganku, untuk menguji apakah aku cerdas atau tidak? Baiklah, jadi mengapa seseorang minta maaf?

"Kau minta maaf karena kau merasa bersalah... Kau merasa bersalah karena kau tidak setuju aku jadi pemimpin."

"Ya," kataku, meskipun agak bingung.

"Mengapa kau merasa bersalah? Padahal kau berhak untuk menyampaikan pendapatmu."

"Oke... oke, bisakah kita berhenti bicara tentang ini. Aku tahu kau pintar, tapi kan tidak perlu―"

"Darimana kau tahu aku pintar?" dia bertanya.

"Kau kan di Ravenclaw... anak-anak Ravenclaw biasanya pintar-pintar."

"Darimana kau tahu aku di Ravenclaw, aku tidak bilang padamu di asrama mana aku di Hogwarts..." kata Dustin, menatapku dengan curiga.

Sial! Bodoh... Bodoh! Idiot!

"Er, yeah, karena aku merasa kau pasti di Ravenclaw... aku pernah baca tentang Hogwarts di Panduan Pendidikan di Eropa dan buku itu berkata bahwa asrama Ravenclaw―"

"Sudahlah," kata Dustin, mengalihkan padangan ke depan lagi.

Oh, syukurlah! Aku bisa bernafas lega sekarang. Kebiasaanku adalah suka keceplosan kalau orang membuatku bingung. Semoga sepanjang musim panas ini Dustin tidak selalu membuatku bingung.


Tanggal: Sabtu 24 Juni 2020

Lokasi: Di luar Bandara Marco polo -

Waktu: 11 – 12 pm

Dear Diary,

I Love Venice. Itu adalah kata-kata yang tertulis di baju Dustin, tapi itu adalah perasaanku sekarang. Aku cinta Venesia, kota ini adalah kota yang benar-benar indah dan cantik. Aku langsung menikmati udara laut dan pemandangan indah laut luas, setelah keluar dari bandara. Perahu-perahu motor dan bus-bus air berderet rapi di sepanjang dermaga. Beberapa bus air sedang berlayar di tengah laut menuju ke pulau lain yang tampak sangat dekat. Udaranya bersih, bebas asap kendaraan bermotor seperti di London, dan orang-orang yang ada di sekitar sini tampaknya ramah-ramah. Aku tersenyum dan menyakinkan diriku bahwa aku akan baik-baik saja, asalkan aku tetap semangat. Lagi pula, Dom, Rose dan Al tidak akan meninggalkanku sendiri atau membiarku hilang di Venesia ini.

Aku memandang berkeliling mencari Dom, Rose dan Al dan melihat mereka sedang berdiri tak mencolok di ujung dermaga. Aku tersenyum senang, kuharap mereka bisa menikmati keindahan kota ini, bukannya khawatir dengan apa yang terjadi denganku.

Sementara itu Dustin mengeluarkan peta Venesia dari ranselnya dan memberikannya padaku.

"Kita tidak boleh membuang-buang waktu," katanya, menutup ranselnya dan segera menggantungnya di punggung. "Cari letak Caffè Florien, Uncle Jo pasti sudah menunggu kita."

"Tapi―"

"Tenang, peta ini dalam bahasa Inggris, aku membelinya di Heathrow Airport," kata Dustin.

Aku menunduk memandang peta itu; titik-titik yang seperti tahi lalat, garis-garis keriting, melengkung, lurus, oval seperti coretan anak kecil, dan nama-nama tempat dalam tulisan-tulisan kecil. Lalu, mataku langsung berkunang-kunang dan pandanganku menjadi buram. Sebentar lagi, Dustin akan tahu bahwa aku adalah cewek bodoh, yang kemampuannya di bawah rata-rata, karena Aku Tidak Bisa Membaca Peta. Aku juga tidak tahu mana Utara, Selatan, Timur, Barat, dan lebih parah lagi aku sedikit bingung membedakan mana arah kiri dan mana arah kanan.

Setelah beberapa detik, aku menyerah dan berhenti memelototi peta Venesia. Sementara itu, Dustin berjalan ke arah seorang Muggle berbaju hitam dan bertopi aneh yang berdiri sambil memandang sebuah bus air di tepi dermaga.

"Mi scusi!" kata Dustin, saat tiba di dekat si Muggle.

"Si," kata si Muggle.

"Dov'e l'bus per la citta?" tanya Dustin.

"Quello," jawab Muggle Italia itu sambil menunjuk bus air yang ada di dekatnya.

"Grazie."

"Prego," kata si Muggle.

Dustin melambai, yang dibalas oleh si Muggle dan berjalan kembali ke arahku.

"Kau bicara apa dengannya?" tanyaku, saat Dustin sudah berdiri di dekatku.

"Aku bertanya mana bus air yang menuju ke kota," jawab Dustin. "Jadi, di mana letak Caffè Florien?"

"Er, yeah―" aku mengulur waktu.

"Ayolah, kita tidak punya waktu untuk―"

"Sebenarnya aku tidak bisa membaca peta," kataku cepat.

"Apa?" Dustin tampak terkejut.

Aku mengangguk,

"Peta itu penuh dengan tulisan–tulisan kecil dan garis-garis aneh, yang menurutku sangat tidak artistik, juga―"

"Kau menderita Diklesia?" kata Dustin.

"Tidak," kataku keras. "Aku tidak menderita Diklesia, aku hanya tidak bisa membedakan kiri dan kanan, Utara dan―"

"Nah, itu bukannya Disleksia?"

"Bukan," kataku tegas. "Disleksia itu untuk anak-anak yang tidak bisa―"

"Sudahlah, mana petanya," kata Dustin, lalu menarik peta dari tanganku.

Aku memelototinya, sementara dia memandang peta selama beberapa detik, kemudian berkata,

"Caffe Florian terletak di sekitar Piazza San Marco," menunjuk tulisan Piazza San Marco di peta.

Aku mengangguk, tidak begitu mengerti.

"Ayo!" katanya setelah memasukkan peta kembali ke ranselnya.

Dustin dan aku naik bus air yang ditunjukkan si Muggle tadi. Bus air mirip dengan bus biasa, dengan kursi-kursi nyaman yang disusun berderet ke belakang. Bedanya adalah bus ini berjalan di air, dan dikelilingi oleh pagar terali untuk menjaga agar penumpangnya tidak jatuh ke air.

Kami duduk di deretan nomor empat dari depan dan memandang pemandangan laut yang indah, juga pemandangan pulau di kejauhan. Bus air itu berjalan cepat meninggalkan riak-riak air di belakang kami. Saat memasuki kota, bus itu menurunkan kecepatan dan berjalan pelan agar penumpangnya bisa menikmati pemandangan kota Venesia yang cantik. Bangunan-bangunan kuno terlihat di mana-mana, jembatan-jembatan dari batu yang tampak kokoh, restoran-restoran dan pertokoan, juga gondola-gondola yang sedang memuat penumpang.

Sementara melihat pemandangan ini aku merasa mual dan kepalaku pusing. Aku mengalihkan pandanganku dari lautan di bawah dan memandang Muggle-Muggle yang duduk dalam bus. Ada banyak Muggle dalam bus ini; ada yang berdiri di depan pagar terali untuk memandang pemandangan di luar; ada yang sedang makan makanan ringan sambil mengelus perut; ada yang sedang minum, kemudian bersendawa; ada juga yang sedang merokok membuat kepulan asap di mana-mana; dan ada yang sedang saling berbicara dengan ributnya menggunakan bahasa-bahasa aneh yang tidak kumengerti. Kepalaku semakin pusing dan aku semakin mual, lalu―

"Dustin," kataku lemah.

"Ada apa?" tanya Dustin, memandangku.

Aku memandangnya dan sedetik kemudian aku memuntahkan makan siangku di pakaiannya.

"SIAL!" teriak Dustin lalu berdiri, sementara aku bersandar lemah di kursi.

"Maaf," kataku, lalu memejamkan mata, menahan diri untuk tidak muntah-muntah lagi.

"Ayo, berdiri," kata Dustin kasar dan menarikku berdiri.

Masih memejamkan mata, aku berdiri dan merasakan tangan Dustin mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat dan menarikku dengan kasar. Aku membuka mata dan melihatnya sedang menyeretku melewati lorong antar kursi, di bawah tatapan aneh Muggle-Muggle, menuju ke kamar mandi dan membanting pintu di belakangnya.

"Mengapa kau tidak bilang padaku bahwa kau mabuk laut?" dia bertanya, tampak marah, kemudian mengeluarkan tongkat sihir dari ranselnya dan membersihkan diri dari muntahan di pakaian dan lengannya.

Aku ingin menjawab bahwa aku juga tidak tahu, tapi aku mual lagi. Menunduk di wastafel, aku muntah-muntah lagi mengeluarkan seluruh isi perutku. Dan, setelah menyalakan kran, aku bersandar lemah di wastafel sambil menatap bayanganku. Sedetik tadi rasanya aku ingin menjerit saat melihat bayanganku sendiri. Yang berdiri di dalam cermin bukanlah Lucy Weasley yang berambut merah, tapi seorang cowok Muggle berambut pirang. Yah, aku kan sedang menyamar jadi cowok. Dan, wajah itu sekarang putih pucat tanpa darah dengan mata kuyu dan lemah. Tiba-tiba saja, aku sudah jatuh terpuruk di lantai kamar mandi karena tulang-tulang kakiku seakan tidak mampu menahan tubuhku.

"Berdiri!" perintah Dustin kasar, kakinya yang bersepatu olahraga putih melangkah ke arahku.

Tetapi, aku terlalu lemah untuk berdiri dan terlalu lemah untuk memarahinya karena telah bersikap kasar padaku.

"Kau ini, apakah kau memang mampu untuk pekerjaan ini atau kau hanya akan merepotkanku saja nantinya?" tanya Dustin tajam.

Apa? Merepotkan? Merepotkan?

"Telinga berdengung, mabuk laut, apa lagi, hah? Apa lagi? Supaya aku bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang akan kuhadapi nanti."

Kepalaku masih pusing, tubuhku lemas, namun aku mencengkram wastafel dan berusaha untuk berdiri menghadapinya.

"Jangan... jangan coba-coba bilang aku merepotkan atau―"

Bus air ini tiba-tiba berbelok, aku memejamkan mata lagi dan menarik nafas dalam-dalam untuk mengusir mual dan pusing yang tiba-tiba menyerangku.

"Atau apa?" tanya Dustin, tampaknya tidak peduli dengan keadaanku. "Kulihat kau sama sekali tidak berguna. Kau bahkan tidak bisa membaca peta?"

"Kau... kau mengatakan aku tidak berguna?"

"Memang... aku tidak melihat kau melakukan sesuatu untuk membantuku."

Mataku terasa panas dan airmata mengalir di pipiku. Belum pernah aku sesengsara ini. Jauh dari keluarga yang menyayangi dan melindungiku, tubuh lemah, kepala pusing, dan dibilang merepotkan dan tak berguna. Oke, aku memang tidak bisa bahasa Italia dan membaca peta, tapi telinga berdengung dan mabuk laut kan bukan keinginanku. Aku kan tidak tahu kalau telingaku akan berdengung dan aku akan mabuk laut.

"Hapus air matamu!" perintah Dustin kasar.

Aku terus menangis dan tangisanku berubah menjadi isakan. Seharusnya aku tidak boleh menangis, aku adalah si Preman Lucy, yang paling tegar dari semua sepupu Weasley/Potter. Namun kenyataannya, aku hanyalah Lucy Weasley, sama sekali bukan preman. Dan aku, selain paling bodoh, juga paling lemah di antara semua sepupu. Ternyata perlu ke Venesia untuk membuatku sadar siapa sebenarnya aku. Aku yang sebenarnya adalah penakut (tidak berani pergi sendiri ke Italia, tanpa Dom, Rose dan Al), cengeng (padahal selama ini aku menganggap Molly-lah yang cengeng), lemah (aku bahkan tidak bisa meninju Dustin saat dia mengatakan aku merepotkan). Aku juga tidak berguna dan hanya merepotkan.

"Maaf!" kataku, terisak.

"Mengapa kau minta maaf?"

"Karena aku tidak berguna dan merepotkanmu."

"Bagus kalau kau sadar, sekarang berhenti menangis!"

Airmataku semakin deras mengalir.

"Ya ampun, kau ini laki-laki atau bukan, sih?" kata Dustin tak sabar.

Sebenarnya aku cewek

Aku tidak mengatakan hal itu, aku takut dituntut di pengadilan sihir dengan tuduhan penipuan demi 2000 Galleon.

"Cepat cuci muka, aku akan tunggu di luar," kata Dustin jengkel dan membanting pintu kamar mandi.

Aku terisak lagi dan tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi terbuka lagi, namun tidak ada siapa-siapa yang masuk. Beberapa detik kemudian Dom dan Rose muncul dari balik Jubah Gaib.

"Ada apa?" tanya Dom, tapi aku sudah berlari memeluknya dan menangis lagi.

"Nah, nah," kata Rose.

"Aku sakit," kataku, setelah melepaskan diri dari Dom. "Kepalaku pusing dan aku mual."

"Mabuk laut," kata Rose. "Coba Unseasickjinx, Dom!"

Dom menggumamkan mantra itu padaku dan aku merasa lebih baik.

"Bagaimana perasaanmu, Lucy?" tanya Dom.

"Aku baik-baik saja," jawabku. "Jauh lebih baik."

"Nah, sekarang hapus airmataku dan bersikap tegar. Tidak ada Weasley yang penakut!" kata Rose.

Aku tersenyum dan merasa seperti aku yang biasa lagi.

"Boleh aku minta tongkat sihirku, Rose?" tanyaku. "Sepertinya, aku memang tidak bisa hidup tanpa tongkat sihir."

"Sampai di hotel, Lucy," kata Rose. "Kau biasanya suka lupa bahwa kau tidak boleh menggunakan sihir."

"Baiklah..." kataku kecewa.

"Nah, sekarang kembalilah, sebelum Dustin curiga!" kata Dom.

Aku mengangguk, kemudian melangkah keluar, sementara Dom dan Rose menyelubungi diri dengan Jubah Gaib.


REVIEW PLEASE! See you in KNG 4 ch 3

Riwa Rambu :D