Hello guys.

Senang sekali dengan respon kalian terima kasih banyak /bow/

Tapi saya juga sedih karna dikit sekali yang menanti cerita ChenMin.

Karna itu saya post pair ini pertama ya :D

Enjoy

.

.

.

Chenmin = Minseok punya online shop, Jongdae pegawai Bank.

Kyungsoo = Kyungsoo pintar masak nanti ngajarin uke yang masak, Kai wakil direktur diperusahaan ayah Kyungsoo.

Chanbaek = Chanyeol pegawai Kantor Swasta, Baekhyun CS Bank.

Sulay = Suho dan Yixing restoran serta flat tempat para tinggal pasangan lain.

Kristao = Kris manager di sebuah kantor swasta, Tao anak kuliah semester 4. (Tao adiknya Luhan)

Hunhan = Luhan anak orang kaya. Sehun Head CS Sebuah Bank (atasannya Baekhyun)

Orang tua Luhan sama Tao ada di China, pengusaha.

.

.

.

Wanita berparas cantik bertubuh seksi ini terus saja terfokus pada layar teve didepan matanya. Video yang memutarkan tentang proses persalinan itu adalah salah satu video terfavoritnya. Perut yang disayat, darah membanjir serta diakhiri dengan tangis bayi itu adalah sebuah film pendek dengan akhir bahagia bagi Minseok.

"apakah kamu seorang psikopat atau semacamnya sayang?"

Minseok memalingkan wajahnya tepat diman suara berasal. Didepan pintu sudah berdiri seorang lelaki dengan senyum menghiasi wajahnya. Minseok tersenyum memandang kepulangannya lalu menghampiri lelakinya oh maksudku suaminya.

Kim Jongdae seorang lelaki berusia dua puluh lima tahun dengan seorang istri bernama Kim Minseok berusia dua puluh tujuh tahun. Keduanya baru saja menikah tiga bulan yang lalu. Mereka tinggal disebuah flat sederhana serta minimalis dengan satu kamar didalamnya. Well untuk ukuran pengantin baru flat yang berada dilantai dua ini bisa dikatakan cukup besar.

Jongdae adalah seorang pegawai bank sedangkan istrinya Minseok adalah seorang ibu rumah tangga yang berbisnis kecil-kecilan dirumah. Hanya untuk teman dekat saja itupun.

"selamat datang suamiku" ucapnya seraya membantu Jongdae –suaminya- untuk membuka dasi dan seluruh kancing kemejanya.

"menikmati acaramu?"

Minseok menangguk malu. Bukan malu karna dia kedapatan (lagi) menonton film yang bagi suaminya menyeramkan itu tapi dia malu karna tidak menyambut kepulangan Jongdae.

Berulang kali Jongdae mengatakan kalau Minseok haruslah berhenti untuk menonton video menyeramkan semacam itu. Tapi Minseok tidak perduli. Ini hidupnya. Dan suatu saat nanti Minseok yakin dia akan merasakan apa yang dia tonton itu. Cepat atau lambat tapi setidaknya dia sudah mempunyai bekal. Ini sih teori Minseok.

Berbeda dengan teori-

"kau harus sungguh-sungguh berhenti menonton film menyeramkan semacam itu Min, aku serius ketakutan padamu saat ini"

Minseok hanya mengerutkan keningnya saat Jongdae berkata demikian saat keluar dari kamar mandi dengan wangi sabun yang menguar mengisi seisi ruangan.

"kau terlihat seperti seorang psikopat yang terobsesi kepada darah orang melahirkan, film itu tidak bagus-"

Belum juga Jongdae selesai bicara Minseok sudah menyelanya "itu untuk pelajaranku saat aku melahirkan kelak nanti"

"nanti sayang, bukan berarti kamu harus belajar setiap hari bukan?"

Minseok hanya mengerucutkan bibirnya. Merajuk.

"sekolah bahkan kantoran saja ada liburnya masa iya istriku tidak ada liburnya dari menonton film itu?"

Ucap Jongdae hati-hati dan segera naik keatas ranjang mengikuti Minseok yang sudah lebih dulu berbaring memunggungi suaminya.

"kamu akan terus terbebani dengan ide tentang kehamilan jika kamu terus saja menonton film itu" ucap Jongdae seraya mengusap punggung mungil istrinya.

Minseok tetap tidak bergeming.

"aku juga menginginkannya tapi aku tidak ingin membebanimu dengan membiarkanmu menontonnya terus menerus-"

Belum juga selesai bicara Minseok sudah membalikkan badannya kearah Jongdae dan memotong ucapan suaminya.

"kamu tidak ingin cepat-cepat punya bayi?"

Jongdae menghembuskan nafas menatap wajah Minseok yang sayu dengan genangan air mata yang siap tumpah juga bibirnya yang ia lengkungkan kebawah. Benar-benar seperti anak kecil yang tidak diberikan permen kepas.

"aku ingin-"

"lalu kenapa kau melarangku untuk mempersiapkan diri?"

Jongdae menghela nafas (lagi) "Min dengar. Ada kalanya kau harus menghentikan sesuatu yang kau sukai demi kebaikanmu. Bekerja saja butuh istirahat begitupun dengan belajar atau mempersiapkan diri dalam bahasamu"

Minseok terdiam.

"aku hanya tidak ingin membebanimu dengan ide tentang kehamilan"

Minseok tetap terdiam.

"lagipula pernikahan kita baru menginjak usia empat bulan, kenapa harus begitu terburu-buru?"

Minseok mengerjapkan matanya "memangnya kalau ingin hamil itu bagusnya diusia pernikahan berapa lama?"

Jongdae memandang wajah istrinya dan kembali menggumamkan kata sabar dalam hatinya.

"tidak ada patokannya sayang"

"lalu kenapa kita tidak cepat-cepat punya bayi saja? Lagipula usia kita sudah tidak muda lagi Jongdae. Kita termasuk telat menikah"

"jadi kau begitu menginginkannya?

Minseok mengangguk antusias.

"ada cara lain yang lebih cepat untuk dapat memilikinya dibandingkan dengan menonton film itu?"

Mata kucing Minseok berbinar menatap Jongdae menunjukkan keingin tahuannya.

"bagaimana?"

Jongdae mengambil tangan Minseok lalu mengarahkannya kebagian selatan tubuhnya "sering-sering bermain dengan ini" ucapnya dengan senyum mesum.

"mesum!" ucap Minseok diikuti dengan satu pukulan mendarah dilengan pria itu.

Sang pria hanya tertawa jahil melihat wajah merah istrinya yang seksi.

.

.

.

Minseok terbaring membelakangi Jongdae yang sedang sibuk memeluknya dari belakang dan mengusap seluruh tubuhnya. Dari pahanya sampai dadanya.

Minseok mengerang sesekali saat Jongdae mengecup tengkuknya dengan intim.

"Jongdae"

Yang dipanggil hanya bergumam.

"eum anu.."

"apa?"

Minseok kembali terdiam sedangkan Jongdae terus mengusap tubuh istrinya.

"yang kemarin masih terasa perih" ucap Minseok pelan. Sangat pelan.

Jongdae memasukkan tangannya kedalam piyama Minseok lalu meremas lembut bongkahan dada sang istri yang dibalas sebuah erangan tertahan.

"perih? Bagaimana kalau kita pakai lube? Atau lotion? Atau baby oil?" Ucap Jongdae tanpa tidak menghentikan kegiatannya.

Minseok menjawab ditengah erangannya "andwae!"

Jongdae tersenyum menang. Istrinya memang tidak pernah ingin menggunakan apapun saat dimasukki. Tidak baik katanya.

"semua pelicin itu dapat membunuh spermamu dan bila itu terjadi tandanya apa yang kita lakukan malam ini akan sia-sia saja"

Jongdae kembali tersenyum kemenangan mendengar ucapan istrinya.

"so?"

"eung.."

"langsung saja?"

"tapi Jongdae.."

"eum?"

"pelan-pelan ya"

.

.

.

Jongdae meningkatkan intensitas gerakan pinggulnya membuat Minseok semakin meleguh kencang serta mendesahkan nama suaminya dengan sangat keras.

"ah..ah.. Jongdae"

"yes.. uhh.. jangan diketatkan sayang"

Minseok memejamkan matanya merasakan perih bercampur nikmat yang dia dapatkan dari perlakukan Jongdae diatasnya. Begitupun dengan Jongdae yang memejamkan matanya merasakan remasan pada kejantannya.

"jongdae aku mau.. uhh"

Jongdae mempercepat gerakannya saat dirasakan dinding kewanitaan istrinya mengetat begitu mencengkram dengan sempurna kejantannya. Begitu nikmat.

"ya sayang"

"ohh Jongdae"

Lalu Jongdae merasakan cairan istrinya melumuri kejantannya. Dia memperlambat gerakannya seraya menciumin leher istrinya dan meremas dada kenyalnya. Membuat sang pemilih kembali medesah. Dirasa cukup Jongdae melanjutkan menggerakkan kenjantannya dalam.

"ah.. ah.. Jongdae cepatlah.. perihh"

Jongdae mempercepat gerakannya dengan lebih dalam dan dalam bebrapa kali hentakan akhrinya Jongdae mengeluarkan carirannya didalam Rahim sang istri bersamaan dengan Minseok yang kembali mencapai puncaknya untuk kegita kali. Jongdae memasukkan kejantannya dalam dan tak membiarkan setetes pun keluar dari kewanitaan Minseok.

Sang istri memejamkan matanya merasakan kepenuhan dalam dirinya serta kehangatan yang mengambil alih system tubuhnya.

Rasanya begitu nikmat.

"minseok"

Sang istri tak menjawab membuat Jongdae menaikkan wajahnya melihat wajah sang istri yang sudah memejamkan mata dengan nafas teratur.

Jongdae tersenyum lalu mengecup kening Minseok setelahnya berbaring disisi Minseok.

Jongdae memperhatikan wajah damai sang istri lalu mengecup keningnya kembali dan merapihkan surai yang menutupi wajah sang istri

"aku juga ingin sekali memiliki bayi darimu"

Jongdae kembali tersenyum menatap Minseok "semoga Tuhan memberikan kepercayaan kepada kita secapatnya" ucapnya seraya mengusap perut rata sang istri lalu ikut memejamkan mata menyusul Minseok.

..

How?

Masih penasaran chap berikutnya pair siapa?

Hahaha

Oh anw kemarin banyak yang bingung masalah tiap pair seperti apa ya?

Ada yang bisa jawab?

Eum nanti akan tahu sendiri jawabannya sejalan ceritanya

RnR ya guys terima kasih :D