I Like Your Foot, Sir

(Meanie)

Wonwoo menggeliatkan tubuhnya begitu cahaya matahari mengusak melalui jendela. Wonwoo mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Setelah menguasai keadaan, matanya mengedar mencari tahu dimana ia berada dan matanya langsung membulat ketika mengetahui bahwa ia tidak berada dikamarnya. Wonwoo langsung bangun dan seketika ia memekik pelan karena bagian bawah tubuhnya masih ngilu. Perlahan ia sibak selimut yang menutupi tubuhnya dan untuk yang kedua kalinya matanya membola karena pakaian yang ia kenakan tidak sama dengan yang kemarin. Wonwoo perlahan turun dari tempat tidur, membenarkan rambut panjangnya dan melangkah hati-hati keluar kamar.

Setelah keluar, hal pertama yang Wonwoo lihat adalah luasnya rumah itu. Ia berjalan perlahan menuruni tangga. Ia menemukan sebuah ruang keluarga dengan banyak maid sedang membersihkan, tak jauh dari ruang keluarga ada ruang tamu, semua tembok di rumah ini semuanya di cat warna putih.

"Nona muda.." Wonwoo menolehkan kepalanya ketika seseorang bersuara dibelakangnya, seorang maid. Ia menunjuk dirinya sendiri sambil sesekali menolehkan pandangannya kebelakang. Siapa tahu bukan dia yang dimaksud oleh maid itu.

"Anda, Nona.." ucap maid itu menyakinkan. Wonwoo membulatkan matanya. ia berdehem sedikit dan menunduk samar.

"Uhm, aku bertanya ini dimana sekarang?" tanya Wonwoo setelah menguasai keadaan. Maid itu tersenyum lalu menggerakkan tangannya memberikan isyarat Wonwoo untuk mengikutinya. Tanpa banyak bicara, Wonwoo mengikuti maid itu.

"Ini adalah kediaman pribadi Tuan Muda Kim.." jelas maid itu. Wonwoo sekali lagi membulatkan matanya. Astaga, terlalu lama disini mungkin akan berdampak buruk bagi kesehatan matanya. Okay, Wonwoo memang tahu jika orang yang memakainya kemarin adalah Kim Mingyu, pewaris tunggal Kim Corp yang cabang perusahaannya hampir diseluruh dunia. Tapi mengetahui bahwa kemarin ia menggoda orang yang kedudukannya lebih tinggi darinya membuat Wonwoo mempunyai pikiran bahwa ia akan dibuang dijalanan karena Mingyu jijik dengannya. Okay, Wonwoo terlalu banyak berfantasi. Setidaknya ia harus berterimakasih karena Mingyu membawanya kerumahnya bukan ketempat terkutuk yang sudah menjerumuskan Wonwoo. Ah, ngomong-ngomong masalah Mingyu, Wonwoo tidak melihat namja pemilik kaki seksi itu disini. Wonwoo menolehkan pandangannya kepada maid disampingnya.

"Uhm, lalu dimana dia? Maksudku Kim Mingyu.." tanya Wonwoo. Maid itu menoleh dan tersenyum. Ia menghentikan langkahnya. Mereka sudah berada di depan pintu dapur dan Wonwoo baru sadar itu.

"Tuan Muda Kim berada didapur, Nona.. silahkan masuk untuk menemuinya.." ucap maid itu sambil membuka sebuah pintu kaca didepan Wonwoo. Wonwoo melongokkan kepalanya, dapur itu sangat luas dan merangkap sebagai ruang makan. Bibir Wonwoo tertarik sedikit begitu matanya menangkap sosok tegap sedang berdiri membelakanginya dan sibuk dengan peralatan masak. Wonwoo beralih menatap maid didepannya. Ia membungkuk sedikit untuk pamit dan masuk kedalam dapur.

"Sudah datang rupanya.." Wonwoo mendongakkan kepalanya begitu suara tegas Mingyu menginterupsinya. Wonwoo menganggukkan kepalanya walaupun tahu Mingyu tidak mengetahuinya. Wonwoo berjalan mendekati Mingyu dan berdiri disamping namja itu.

"Uhm, kau sedang memasak?" tanya Wonwoo. Mingyu menoleh sedikit lalu tersenyum. Tangannya terulur untuk mengusak rambut halus milik Wonwoo.

"Kalau aku memegang alat memasak apa kau pikir aku akan menulis esay?" tanya Mingyu. Wonwoo mengerucutkan bibirnya.

"Uhm, kau memasak apa?" tanya Wonwoo. Ia melihat Mingyu sedang sibuk sendiri dengan bahan dan peralatan masak. Mingyu menoleh.

"Apapun yang bisa kumasak.." jawab Mingyu. Wonwoo memajukan bibirnya lagi lalu berbalik dan menuju meja makan. Ada beberapa makanan ringan yang bisa ia makan disana. Matanya berbinar melihat itu. Ia mengambil salah satu toples dan mulai memakan isinya. Mingyu meliriknya sedikit lalu menggelengkan kepalanya.

30 menit kemudian, Mingyu menghampiri Wonwoo dengan membawa 2 piring yang masing-masing berisi makanan yang enak. Wonwoo menelah ludahnya berat ketika kedua piring itu berada didepannya. Nasi goreng, memang hanya nasi goreng, tetapi jika itu buatan Tuan Muda Kim akan terasa berbeda. Mingyu terkekeh kecil begitu yeoja didepannya ini melihat masakannya seperti melihat emas. Mingyu lalu berbalik dan mengambil kedua piring yang membuat cacing diperut Wonwoo makin berteriak menginginkan makanan. Bagaimana tidak, Mingyu kembali membawa 2 buah piring yang masing-masing berisi daging sapi mahal yang bahkan Wonwoo baru bisa memakannya 1 tahun sekali.

"Wow, kau memasak ini semua?" tanya Wonwoo takjub. Tangannya terulur untuk mengambil sendok dan mengambil suapan pertamanya. Lidahnya serasa dimanjakan dengan cita rasa yang Mingyu beri dimakanannya.

"Yup, aku tidak suka masakan maidku, rasanya hambar, dan aku juga bosan.." jawab Mingyu. Wonwoo menganggukkan kepalanya. Mulutnya penuh dengan nasi, membuatnya tersedak dan Mingyu buru-buru mengambilkan minuman. Wonwoo meminum air putih itu dengan tergesa.

"Pelan-pelan kalau makan, kau seperti tidak pernah makan saja.." ejek Mingyu. Wonwoo menggeleng dengan wajah lucu.

"Aku memang tidak pernah makan ini.." jawab Wonwoo jujur. Mingyu mengadahkan kepalanya. Wonwoo tersenyum.

"Kenapa bisa?" tanya Mingyu.

"Uhm, ceritanya panjang.." ucap Wonwoo. Mingyu mengerutkan keningnya.

"Kau berhutang cerita padaku.. setelah makan kau harus menceritakannya.." ucap Mingyu. Wonwoo mendelik kesal.

"Heol, bahkan kau bukan siapa-siapaku.." ucap Wonwoo setengah protes.

"Setidaknya kau akan membutuhkanku nantinya.." elak Mingyu. Wonwoo mengerucutkan bibirnya.

"Aku tidak membutuhkanmu, lagipula aku bisa menghidupi hidupku sendiri.." ucap Wonwoo. Mingyu menghela napas kesal.

"Setidaknya anggap aku orang yang sudah mengeluarkanmu dari jurang kegelapan itu.." ucap Mingyu. Wonwoo membulatkan matanya.

"Kau berhutang cerita padaku, Tuan Muda.." ucap Wonwoo tegas. Mingyu mengangguk sambil menyeringai.

"Kita sama-sama mempunyai hutang.." ujar Mingyu. Wonwoo menganggukkan kepalanya dan mulai memakan kembali makanannya.

TBC

::: Coretan Author :::

Hayo kenapa Wonu bakal membutuhkan Mingyu? Ada apa sama Wonwoo dulunya? Apa alasan Mingyu nolong Wonu dari club malam? Apa rahasia dari mereka berdua ya? Hehehehe.. author insyaallah bahas itu semua di chap depan.. doain author punya waktu buat apdet ya?

Kenapa coretannya dikit? Karena author pen jadi orang pendiam kaya Wonu #tampolpakesempol

Jan lupa like and reviewnya reader-nim #bungkuk