Akhirnya update juga setelah lama tidak ku kerjakan, nih fic! Hehehe…maaf banget, minna updatenya luaaamaaa syekaliii! Akhir-akhir ini kompinya sering dipake maen game terus sama Nee-chan dan ponakan-ponakanku, jadinya susah kalau mau ngetik, hehehe…
Ya, udahlah…silakan dibaca aja, deh chapter 2 nya. Maaf kalau ada banyak kesalahan dan kekurangan. Apalagi ceritanya malah tambah aneh, hahaha…
Special thanks to:
Karu Naku SunSpring • Sabaku Tema-chan • Eliana Coil • Sakura 'Cherry' Snowfalls • Riku88 • Michael inoe the UZ • Mushamusafir • Kecis: hmm…spirit di sini bisa dibilang sebagai jiwa, gitulah^^• The RED Phantom • Thia2rh • Masahiro 'Night' Seiran • Deidei Rinnepero13 • Fidy Discrimination • Amamia • Ultach Fussy Chan • NaruSaku LuffyNami IchiRuki • Haruno Namikaze: Yupz, bener banget! hehe... •
Warning : AU, Typo, OOC, aneh, gaje, de el el. Don't like? Just go back!
Disclaimer :Naruto belong to Masashi Kishimoto
:: ::
Tales From Myobokuzan
~Chapter 2~
:: ::
Naruto terkejut ketika melihat sesosok gadis berambut merah muda yang ditemuinya waktu itu sedang duduk di atas dahan pohon membelakangi Naruto sambil bernyanyi.
Perlahan sang gadis menoleh dan menatap lurus ke arah Naruto yang hanya bisa menatap gadis itu dengan takut. "Ma-maafkan aku… A-aku tidak bermaksud mengganggumu…" ucap Naruto terbata-bata.
"Siapa kau?" tanya gadis itu akhirnya.
"A-aku…Naruto. Namikaze Naruto."
"Mau apa kau ke tempat seperti ini? Kau…mau memohon agar Fukasaku mengabulkan permintaanmu seperti yang lainnya? Lalu kau membayarnya dengan penderitaan orang lain, bukan begitu?" tanya gadis itu dengan nada datar.
"Ha-haah…? Tidak! Bukan seperti itu! A-aku memang mengetahui legenda tentang Myobokuzan dan…tentang permohonan pada patung katak itu, tapi…aku sama sekali tidak bermaksud untuk meminta sesuatu!"
"Lalu?"
"A-aku datang ke sini karena aku ingin mencari tahu tentang mimpi yang akhir-akhir ini selalu datang menghantuiku. Dan aku pikir di ujung bukit ini ada sebuah gua tempat para katak melakukan upacara…" Naruto menatap sang gadis sambil mengerutkan alis.
Mata sang gadis tiba-tiba saja membulat mendengar pernyataan Naruto. Perlahan dia pun turun dari dahan pohon dan berjalan menghampiri Naruto. Naruto terkejut dan mulai bergerak mundur dengan perlahan, khawatir sang gadis akan melakukan sesuatu yang kasar kepadanya.
Dalam sekejap si gadis sekarang sudah berada di hadapan Naruto. Bisa dia lihat dengan jelas di leher gadis itu terikat sebuah rantai, persis bagaikan seekor anjing piaraan. Naruto merasa heran dibuatnya.
"Dari mana kau tahu tentang adanya gua tempat upacara para katak?"
"A-aku melihatnya dalam mimpiku. Aku ingin memastikan apa mimpiku itu benar ataukah hanya sekedar mimpi biasa saja?"
Sang gadis menatap Naruto dengan wajah serius. "Lebih baik kau jangan mendekati tempat itu kalau kau masih sayang nyawamu!" perintahnya dengan tegas.
"Ja-jadi maksudmu…tempat itu benar-benar ada?"
"Yang kau lihat dalam mimpimu adalah Myobokuzan…"
"A-apa? Jadi benar-benar Myobokuzan? Tempat itu bukan sekedar legenda?"
Gadis itu mengangguk pelan.
Naruto sesaat terdiam dengan wajah yang masih tidak percaya. Dan berusaha untuk mencerna kenyataan itu. Ternyata mimpinya memang memberitahunya sesuatu. Lalu gadis yang berteriak kesakitan itu…jangan-jangan memang gadis ini? batin Naruto.
"Kau sebaiknya cepat kembali! Seperti yang kubilang sebelumnya, jangan pernah mendekati tempat itu!"
Gadis itu berbalik dan mulai melangkah menjauhi Naruto. Naruto yang masih mempunyai banyak pertanyaan dalam kepalanya berusaha memanggil gadis itu. naruto yakin kalau gadis berambut merah muda itu mengetahui sesuatu tentang Myobokuzan.
"He-hei, tunggu dulu!"
Naruto mencoba mengejar sang gadis, namun dia tidak melihat jejaknya sama sekali. Naruto menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tak ada tanda-tanda keberadaan sang gadis. Hal ini membuat Naruto semakin merasa aneh. "Kemana perginya dia? Cepat sekali menghilang…"
Naruto melanjutkan pencariannya. Namun tiba-tiba saja kakinya tersandung akar pohon sehingga tubuhnya jatuh terjerembab. "Aduuhhh!" ringisnya kesakitan.
Naruto melihat kakinya yang tersandung dan dia semakin mengerang ketika dilihatnya kakinya mengeluarkan cairan merah. "Ugh, sial…"
Dengan segera, Naruto mengeluarkan saputangan dan dibalutkannya pada lukanya. Perlahan, saputangan berwarna krem itu mulai tampak kemerahan karena darah yang terus keluar dari lukanya. "Apa boleh buat, kalau begini aku harus kembali dan segera mengobati lukaku…"
Naruto perlahan mulai berdiri dengan susah payah. Dia mulai berjalan dengan tertatih-tatih keluar dari bukit.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"Aduh, pelan-pelan, Kaa-san! Sakit…"
"Bagaimana bisa kau sampai terjatuh begini, Naru-kun? Kau ini tidak hati-hati!" ujar Kushina saat dirinya mengobati kaki Naruto.
"Haahh~ Naruto, kau ini baka sekali, sih! Sampai terjatuh begitu! Benar-benar mirip anak SD saja, hahaha…" Deidara tertawa dengan jahil ketika melihat luka Naruto.
"Cerewet!" Naruto cemberut karena terus-menerus diejek oleh Deidara.
"Hei, sudah, sudah, Dei-kun! Jangan terus menggoda adikmu!" tegur Kushina yang sudah bosan melihat tingkah laku adik kakak yang sering bertengkar bagaikan kucing dan anjing itu.
Deidara akhirnya menuruti perintah ibunya dan beranjak menuju kamarnya karena dia sudah mulai mengantuk. Minato sendiri sepertinya tidak pulang hari ini, karena harus lembur.
Selesai mengobati luka Naruto, Kushina menyuruhnya untuk istirahat di kamar karena hari sudah mulai larut malam. Dengan langkah perlahan, Naruto pun berjalan ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya ke kasur dengan hati-hati. Dia menatap kakinya yang kini sudah terbalut perban.
"Hh~ sungguh sial sampai terjatuh begini. Besok ada pelajaran olahraga, sepertinya aku akan absen dulu. Padahal aku sangat suka pelajaran olahraga, payah…" Naruto menghela napas panjang dan mengalihkan pandangannya menatap langit-langit kamarnya. Dia kembali mengingat saat berada di bukit tadi siang.
"Gadis itu…apa yang berada di lehernya itu, ya? Lalu kenapa aku tidak boleh mendekati tempat itu? Memangnya ada apa di sana?" Naruto menggumam sendiri. "Ini semakin membuatku penasaran! Aku yakin gadis itu tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh penduduk kebanyakan, bahkan Kiba sekalipun! Aku harus menemui gadis itu lagi dan menyelidikinya! Eh, tapi…aku lupa menanyakan siapa namanya, aduh, baka, baka!" Naruto merutuki dirinya sambil memukul-mukul kepalanya pelan.
Saat sedang asyik melamun, tiba-tiba saja Naruto mendengar suara dari arah belakang rumahnya. Naruto sontak terhenyak dari tempat tidurnya dan mulai terdiam di tepi kasur sambil mendengarkan dengan seksama suara apa yang barusan di dengarnya tadi.
"Suara apa itu?"
KLEK…KLEK…
Dengan perasaan sedikit ketakutan, Naruto bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar menuju taman belakang rumah, tempat pohon sakura berada. Dengan gemetaran, dibukanya pintu geser itu dan mencoba mengintip ada apa di balik pintu itu. Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman yang gelap itu. Dan terlihatlah sesosok tubuh wanita yang sedang berdiri di dekat pohon Sakura. Karena sangat gelap, Naruto tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di sana malam-malam begini.
"Siapa di sana? Kaa-san?" panggilnya pelan dengan nada ragu.
Naruto perlahan mencoba menghampiri sosok itu, sehingga jarak mereka sekarang tidak begitu jauh.
"Si…siapa kamu?" tanya Naruto. Bisa dilihatnya sekarang rambut sang wanita yang berwarna merah muda.
Naruto terbelalak seketika saat sang wanita menolehkan wajahnya ke arah Naruto. Matanya yang berwarna hazel menatap Naruto dengan lurus. "To…long…" ujarnya dengan lirih.
Naruto sangat ketakutan setengah mati. Badannya gemetaran dengan hebat. Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipisnya. Namun, pandangannya sama sekali tidak bisa dia alihkan dari wajah wanita yang pucat pasi itu.
'Ha-hantu…? Aahhh…ba-badanku tidak bisa bergerak!' Naruto menjerit dalam hatinya, namun dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaranya sedikit pun. Dia benar-benar seperti terhipnotis begitu saja. Naruto mengatupkan matanya rapat-rapat, dan tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"Naru-kun! Apa yang kau lakukan? Kenapa tidur di lantai begini, sih? Kau pasti jatuh dari tempat tidurmu, ya?" teriakan heboh Kushina membangunkan Naruto yang kini sudah tergeletak di lantai kamarnya.
"Ng…Kaa-san?" Naruto mulai mengumpulkan kesadarannya dan seketika itu juga matanya membulat ketika teringat peristiwa mengerikan semalam. "Kaa-san…aku…?"
"Kamu tidak apa-apa? Kaa-san mau membangunkanmu, tapi kau sudah tergeletak di lantai!" jelas Kushina.
"Semalam…" Tanpa menghiraukan tatapan bingung Kushina, Naruto tiba-tiba saja berlari ke taman belakang rumah.
"Hei, Naru-kun!"
Naruto memandang sekeliling taman. Tidak ada yang berbeda sama sekali. Dia pun melangkahkan kakinya mendekati pohon sakura. "Apa semalam itu hanya mimpi? Tapi aku tidak merasa kalau itu mimpi…aku melihatnya dengan jelas…"
"Naru-kun, kau tidak apa-apa? Kau ini benar-benar aneh sekali!" ujar Kushina yang muncul di belakang Naruto.
"Ah, ti-tidak, kok, Kaa-san! Sepertinya aku cuma bermimpi, hehe…" Naruto nyengir kaku.
"Mimpi? Mimpi itu lagi?" Kushina terlihat cemas.
"Bukan, bukan. Mimpi yang berbeda. Mimpi yang menyeramkan."
"Dasar, kau ini bikin cemas saja. Sudah cepat mandi sana, nanti kau terlambat berangkat sekolah! Oh, iya ngomong-ngomong kakimu sudah tidak apa-apa, Naruto? Kau sudah bisa berlari tadi. Baguslah kalau begitu." Kushina tersenyum sambil berbalik menuju ke dapur.
"Eh?" Benar juga, Naruto sama sekali tidak menyadari kalau sekarang kakinya tidak terasa sakit lagi. Tapi kenapa bisa sembuh secepat ini, ya? Batin Naruto bertanya-tanya.
Saat akan melangkahkan kakinya, Naruto menginjak sesuatu yang keras. Dilihatnya benda apa yang diinjaknya itu. "Eh, apa ini? Jepit rambut? Punya Kaa-san? Tapi kalau tidak salah Kaa-san tidak punya jepit rambut seperti ini…" Naruto memerhatikan jepit rambut berbentuk bunga sakura yang sangat bagus itu. Warnanya berwarna merah maroon dengan dihiasi hijau muda sebagai warna putiknya.
Tak ingin berpikir macam-macam lagi, Naruto segera masuk ke dalam rumah dan bergegas untuk mandi.
Di meja makan kini sudah terhidang roti bakar yang uap panasnya mengepul. Deidara yang bersiap untuk berangkat kuliah, kini sudah duduk di kursinya dan segera menyambar roti bakarnya. Sementara itu Naruto yang sudah selesai berpakaian, segera bergabung di meja makan dan mulai menikmati sarapannya.
"Hei, Baka, kudengar kau jatuh dari tempat tidurmu, ya? Haha…bodoh sekali, sih!" Deidara mulai memancing emosi Naruto.
"Ah, cerewet! Jangan memulai pertengkaran denganku, Dei-nii!" Naruto menatap tajam Deidara.
"Tapi, itu benar-benar memalukan sekali, Naruto! Aku tidak habis pikir, sebenarnya bagaimana caramu tidur sampai jatuh begitu. Jangan-jangan kau bermimpi bisa terbang, ya? Hahaha…" Deidara tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya dia tersedak karena tawanya begitu lebar, membuat roti yang sedang dimakannya tersangkut. "Ohok! Ohok!"
"Bwahahaha…rasakan! Aku tidak habis pikir, bagaimana caramu makan sampai tersedak begitu, gyahaha…" Naruto membalikkan kalimat Deidara sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat kakaknya yang kini sedang sibuk meneguk segelas air dengan wajah yang memerah dan mata yang terlihat berair. Dia benar-benar bisa membalas ejekan kakaknya sekarang.
"Sial kau, Naruto! Beraninya menertawakan aku!"
Sementara Kushina yang melihat hal itu hanya memutar matanya dan menggelengkan kepala. "Dasar, kalian berdua ini tidak ada akur-akurnya sedikit pun! Kami-sama, kenapa aku tidak diberi anak perempuan saja?"
"Kalau Kaa-san punya anak perempuan, bisa gawat!" ujar Deidara.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto.
"Yah, pukulan Kaa-san seorang saja sudah bisa membuat kepala pening, apalagi ditambah satu orang lagi!"
"Gyahahaha…!" tawa dua orang anak laki-laki itu kembali membahana, membuat urat-urat di jidat Kushina bermunculan. Dan…
BUGH! BUGH!
"Kalau memang begitu, aku benar-benar berharap punya anak perempuan!"
Deidara dan Naruto meringis memegangi kepalanya yang terkena jitakan super mom yang dahsyat itu.
"Oh, iya, aku baru ingat! Saat bangun tadi, pintu menuju taman belakang sudah terbuka! Apa kemarin aku lupa menutup pintunya, ya?" ucap Kushina tiba-tiba.
DEG! Jantung Naruto berdegup kencang. Dia terdiam dan matanya membulat, terkejut.
"Ah, Kaa-san pasti lupa menutupnya," ucap Deidara tidak mau ambil pusing.
"Tapi aku yakin sudah menutupnya! Jangan-jangan ada pencuri yang berniat masuk ke rumah kita dan mencuri barang-barang!"
"Aduh, Kaa-san, jangan berlebihan, ah! Tidak ada yang hilang sama sekali 'kan?"
"A-aku…pergi dulu, Kaa-san…" Naruto segera bangkit dari kursinya dan langsung menyambar tas yang tergeletak di meja sambil terus berlalu.
"Eh? Naruto?" teriak Kushina.
Tiba-tiba saja mata Deidara terbelalak lebar ketika matanya sekilas melihat sebuah sosok halus seorang wanita berambut merah muda yang mengikuti Naruto.
"Kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja…benar-benar aneh…" Kushina mengerutkan alisnya bingung, sambil membereskan piring bekas makan Naruto.
'Astaga! Apa yang baru saja kulihat tadi?' batin Deidara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya tadi. Deidara mulai berdiri dan bergerak mengambil tasnya. "Kaa-san, aku juga pergi dulu, ya!"
"Eh, baiklah."
"Oh, iya. Hari ini mungkin aku pulang agak sore. Aku mau bertemu dengan kenalan temanku yang mengerti tentang hal-hal mistik dan sejenisnya. Aku harap dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto akhir-akhir ini."
Ya, walaupun Deidara sering menggoda Naruto, namun bukan berarti dia tidak menyadari keanehan yang terjadi pada Naruto setelah kepindahan mereka ke rumah baru ini.
"Apa? Ma-maksudmu paranormal?"
"Yah, semacam itulah."
"Tapi kenapa? Memangnya Naruto diganggu roh halus?" Kushina mulai tampak khawatir.
"Aku juga tidak tahu, Kaa-san. Tapi Kaa-san juga tahu sendiri kalau sejak pindah ke sini Naruto sering mengalami mimpi buruk setiap malamnya. Aku hanya ingin memastikan saja apa yang sebenarnya terjadi."
Kushina menatap Deidara dengan raut cemas. "Naruto…"
"Kaa-san jangan khawatir. Baiklah, aku pergi dulu, ya?"
"Eh, ya. Hati-hati!"
Deidara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Kushina. Kemudian dia pun berjalan meninggalkan rumah.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"Kabuto, ikat gadis ini dan bawa ke mobil!"
"Baik, Tuan!"
"Tunggu! Jangan! Kumohon lepaskan aku!" sang gadis meronta-ronta dari pegangan laki-laki berkacamata yang disebut-sebut sebagai Kabuto.
"Diam dan jangan cerewet!" Tanpa belas kasihan sedikit pun, Kabuto segera menyeret gadis berambut merah itu dengan kasar ke dalam mobil.
"Tidak! Lepaskan akuuu! Kau laki-laki tidak tahu diri! Tidak punya hati! Laki-laki terkutuk! Kau akan menerima balasan atas semua yang telah kau lakukan ini!" teriaknya dengan keras. Namun Kabuto segera menutup mulutnya dengan lakban.
"Khukhukhu…berteriaklah sesuka hatimu sampai pita suaramu putus. Tidak lama lagi hidupmu akan berakhir, Nona! Lalu dengan begitu, keinginanku akan tercapai, hahahaha…" Laki-laki berambut hitam panjang yang merupakan majikan Kabuto tertawa terbahak-bahak.
Dari dalam mobil terdengar suara geraman sang gadis yang mulai menangis, meratapi nasibnya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mayat. Sementara Kabuto tersenyum sinis ke arah sang gadis dari balik kemudinya.
"Kita berangkat sekarang juga ke tempat itu, Kabuto!" perintah majikannya.
"Baik, Tuan Orochimaru."
Kabuto segera menghidupkan mesin mobilnya dan mobil pun mulai melaju.
'Sebentar lagi…keinginanku akan segera terwujud… Benar-benar siluman katak yang hebat, hahaha…' gumam Orochimaru sambil tertawa nista.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
'Jadi…kejadian kemarin itu bukan mimpi? Lalu…siapa sebenarnya wanita itu? Dan apa yang dilakukannya di situ? Dia juga berkata minta tolong…' pikiran Naruto benar-benar tidak bisa lepas dari kejadian semalam. Padahal tadi pagi, dia mulai tidak mempermasalahkannya. Tapi saat ibunya berkata tentang pintu yang terbuka itu, Naruto benar-benar merasa agak ketakutan.
"Hei, Naruto! Kau melamun? Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?" tanya Kiba yang duduk di depan bangku Naruto. Ya, suatu kebetulan ternyata Naruto sekelas dengan Kiba. Walaupun belum kenal terlalu lama, namun mereka berdua sepertinya sudah menjadi teman baik satu sama lain.
Naruto yang tersentak dari lamunannya karena suara Kiba, terlihat kaget dan segera nyengir. "Eh? Ti-tidak, kok, Kiba. Bukan apa-apa, ahaha…"
"Hmm…kau ini aneh sekali!"
"Ehm…Kiba, apa kau percaya kalau tadi malam aku bertemu dengan hantu?"
"Hah? Hantu?" Kiba menatap Naruto dengan raut wajah bingung, namun sesaat kemudian bibirnya menyunggingkan senyum yang tertahan sampai akhirnya tawanya meledak. "Bwahaha…hantu katamu? Oh, ayolah, Sobat! Kau pasti sedang bermimpi, hahaha…"
"Tidak, Kiba! Aku serius! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Awalnya, aku juga berpikir itu hanya mimpi. Tapi, saat ibuku berkata bahwa pintu menuju taman belakang sudah terbuka, aku benar-benar terkejut, karena malam itu akulah yang membuka pintu saat aku mencoba mengintipnya. Dia, hantu wanita berambut merah muda…dia juga menyebutkan kata 'tolong' padaku."
"Entahlah, Naruto. Kau tahu sendiri kalau aku tidak begitu percaya pada hal-hal mistik seperti itu." ujar Kiba setelah berhenti dari cekikikannya. "Tapi, aku rasa kau punya kemampuan spesial."
"Kemampuan…spesial?"
"Ya, semacam indera keenam…mungkin."
"Hmm…apa benar begitu?" Naruto menggumam pelan. "Oh, iya, Kiba apa kau tahu gadis berambut merah muda di desa ini?" tanyanya kemudian.
"He? Gadis berambut merah muda?"
"Iya. Usianya aku rasa sebaya dengan kita. Matanya berwarna emerald."
Kiba berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat. Namun tak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Aku rasa aku tidak tahu, Naruto. Memangnya kenapa dengan gadis itu? Kau…naksir padanya, ya?" Kiba tersenyum jahil dan memukul lengan Naruto pelan.
"E-eh? Apa maksudmu, Kiba? Dasar, sok tahu!" Naruto mulai memerah. Kiba yang melihatnya hanya terkikik geli.
"Jadi, kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Tidak…aku hanya berpikir kalau gadis itu tahu sesuatu tentang Myobokuzan…"
"Haaahhh? Apa maksudmu, Naruto?"
"Ya, kemarin aku ke bukit itu untuk mencari tahu tentang mimpiku dan di sana aku bertemu dengan gadis berambut merah muda itu."
"Apa kau bilaaanggg? Kau…kau pergi ke bukit itu? Ke tempat patung-patung katak itu? Sendirian?" tanya Kiba bertubi-tubi. Dia benar-benar terkejut dengan pernyataan Naruto.
"Hei, tenanglah, Kiba! Kau membuat kita menjadi pusat perhatian!" Naruto segera menganggukkan kepalanya sambil nyengir pada semua orang di kelasnya yang kini menatap mereka dengan heran. Namun sesaat kemudian, mereka semua kembali pada aktivitasnya masing-masing.
"Oh, oke, baiklah. Tapi apa yang kau katakan itu tidak bohong 'kan? Maksudku kau benar-benar pergi ke tempat itu?"
Naruto mengangguk. "Gadis itu bilang bahwa Myobokuzan benar-benar ada, dan itu bukan legenda belaka!"
"Hah? Itu tidak mungkin, Naruto! Gadis itu pasti cuma ngarang saja!"
"Aku rasa tidak, Kiba. Aku melihatnya sendiri dalam mimpiku kalau tempat itu benar-benar ada."
"Tapi itu 'kan hanya mimpi, Naruto! Kau ini jangan bercanda!"
"Aku sama sekali tidak bercanda―"
"Oke, baiklah. Itu menurutmu, Naruto. Tapi tidak menurutku, ya? Lebih baik sekarang kau kembali pada tugasmu dan cepat selesaikan sebelum bel berbunyi," Kiba berbalik ke mejanya dan mulai menutup buku tulisnya untuk kemudian dibawanya ke depan kelas, mengumpulkannya bersama buku-buku tulis lain yang sudah menumpuk di sana.
Guru yang mengajar pelajaran sejarah hari itu tidak bisa hadir di kelas, sehingga siswa hanya diberikan tugas yang tidak cukup banyak. Naruto merasa agak kesal pada Kiba karena dia tahu kalau Kiba sama sekali tidak memercayai ceritanya. Dia pun akhirnya kembali pada buku tugasnya dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
'Aku akan membuktikannya lagi hari ini! Aku yakin kalau tempat itu benar-benar bukan legenda belaka,' batin Naruto.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Seperti biasa, hari itu matahari bersinar dengan teriknya, membakar kulit tan Naruto dengan ganasnya. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat Naruto untuk terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit legenda. Dengan peluh yang bercucuran membasahi tubuhnya, Naruto menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari sang gadis berambut merah muda yang Naruto bahkan tidak tahu namanya itu.
Saat dirinya melewati jalan setapak tadi, dia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut hitam panjang yang memakai setelan jas hitam ―yang Naruto tahu kalau harganya sangat mahal― dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger di matanya. Laki-laki yang bisa dibilang cukup kurus namun terlihat kuat itu ditemani oleh seorang pria berambut putih dengan kacamata bulat yang berjalan mengekori sang laki-laki berambut hitam sambil memayunginya.
Mereka sempat saling bertatapan satu sama lain. Laki-laki itu terus berlalu tanpa memedulikan Naruto. Namun bisa dilihat oleh Naruto, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Sebuah senyum licik yang mencurigakan bagi Naruto. Naruto berpikir, apa yang dilakukan seorang kaya di tempat seperti ini?
Tanpa memikirkan hal itu lebih jauh, Naruto terus berusaha mencari sang gadis di tempat biasa. Namun Naruto sama sekali tidak melihat siapapun di balik rimbunnya pepohonan di sana. Suasananya sunyi. Hanya terdengar suara-suara serangga yang memenuhi bukit.
"Halooo! Kau di sana?" teriak Naruto dengan keras, mencoba memanggil sang gadis, berharap ia akan mendengar suara teriakannya. "Ini aku Naruto. Yang kemarin bertemuuu. Halooo! Kau mendengarkuuu?"
Hening. Tak ada tanda-tanda sang gadis sama sekali.
"Aneh, kemana dia? Apa hari ini dia tidak ke sini, ya?" pikir Naruto dengan nada kecewa.
Akhirnya, Naruto memutuskan untuk mencari tahu sendiri daripada tidak membawa hasil apa-apa, padahal sudah jauh-jauh datang ke tempat itu. Dia pun mulai berjalan tanpa tahu sama sekali kemana arah langkah kakinya akan membawa dirinya. Naruto mengawasi kakinya dengan lebih hati-hati agar tidak tersandung akar pohon lagi seperti kemarin.
Naruto semakin masuk ke dalam bukit lebih jauh lagi. Dia tidak tahu berapa lama sudah berjalan. Memang, Naruto menyadari kalau baru beberapa puluh menit sudah berlalu, namun teriknya cuaca siang itu benar-benar membuatnya cepat lelah. Bagaikan berjalan di gurun pasir saja.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Naruto tiba di depan sebuah terowongan yang besar dan gelap ―yang sepertinya merupakan ujung dari bukit―. Tepat di tengah-tengah jalan masuk menuju terowongan itu terdapat sebuah patung katak yang besar. Patung batu itu terlihat usang dan banyak ditumbuhi lumut.
Naruto mengamatinya dengan seksama. Rasa takut mulai memenuhi dadanya. Entah kenapa dirinya merasakan satu perasaan aneh yang menyelimuti tempat itu. Terasa diselimuti oleh aura yang tidak biasa.
Naruto kemudian menatap lurus terowongan besar di hadapannya. Angin yang berhembus lembut menerbangkan daun-daun yang berjatuhan ke tanah terbang menuju terowongan. Naruto memperhatikan hal itu. Entah kekuatan apa yang mendorong Naruto sampai akhirnya dia melangkahkan kakinya masuk melewati patung katak menuju jalan masuk terowongan. Tangannya mencengkeram kuat-kuat baju seragamnya.
Di dalam terowongan semakin gelap, namun masih Naruto masih bisa melihat keadaan sekitar terowongan. Matanya semakin difokuskan ke depan. Dia terus berjalan dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang sambil melirik kanan kirinya dengan penuh waspada. Khawatir kalau-kalau di dalam terowongan ada seekor beruang yang tiba-tiba saja menyerang.
Tak lama kemudian, Naruto akhirnya sampai di ujung terowongan dan tiba di sebuah hutan yang benar-benar aneh! Naruto terbelalak kaget saat melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah hutan asing yang ditumbuhi oleh tumbuhan-tumbuhan raksasa!
Pohon-pohon berbentuk daun raksasa yang terlihat aneh, jamur-jamur yang juga raksasa tumbuh berkelompok di sisi-sisi hutan, benar-benar mirip dengan negeri dongeng yang pernah dilihatnya di buku-buku cerita. (a/n: Bayangkan saja bagaimana keadaan di Myobokuzan, hehe…). Sungguh baru kali ini Naruto melihat sesuatu yang sulit masuk diakal seperti ini.
Naruto menampar-nampar pipinya, memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Namun, ternyata hal itu memanglah kenyataan. Dirinya telah berada di sebuah tempat asing yang aneh! Kakinya berniat untuk kembali ke tempat dia datang tadi, namun entah kenapa hati kecilnya malah mengajaknya untuk mengeksplor tempat aneh itu lebih jauh.
Didorong oleh rasa penasarannya, Naruto akhirnya memutuskan untuk meneruskan perjalanannya. Tempat itu terlihat sangat sepi. Tidak ada seseorang yang berjalan ataupun sekedar lewat. Agak menyeramkan juga sebenarnya.
"Sebenarnya tempat apa ini? Apa aku ada di negeri dongeng?" pikir Naruto.
"Kamu!" pekik seorang gadis tiba-tiba. Tangannya mencengkeram lengan Naruto dengan kuat.
Naruto tersentak dari posisinya dan ketakutan saat lengannya dicengkeram seseorang. Dia berpikir kalau tertangkap basah saat ini betul-betul gawat! Dirinya bisa dianggap sebagai penguntit.
::
To be continued…
::
Thanksf or reading, minna-san!^^v
Review?
