When I Lonely 2

.

..

Catatan author :

Shanaz akui kalau shanaz pandai bikin awal story yang wah, tapi shanaz ga janji sama kelanjutannya, entah mengapa baca yang ini agak kecewa dengan diri sendiri. Storynya kok kaya gini sih? Sedikit kaku atau kaku banget.

.

Untuk masukannya terima kasih, untuk judul.. biarkanlah apa adanya :v..

Yah sebenarnya shanaz punnya 2 fic yang siap up. Satu RomCom dan satu lagi ini. Tapi yang keluar malah ini.. hehe..

.

Padahal shanaz udah nulis box review tapi karena reviewnya diluar prediksi Shanaz, shanaz hapus lagi..

.

.

Happy reading.

Ketika waktu kamisama tak bisa dipungkiri manusia, mereka hanya bisa menerimanya. Keduanya berpapasan tanpa saling menyapa, apakah benar sudah berakhir?

Seorang badut berbentuk beruang berpakaian maid membagikan selebaran yang dia pegang didepan restoran bernama Kuma Bear.

"Silahkan mampir" ucapnya dengan wajah tersenyum permanen. Banyak diantara mereka yang mengabaikan sang beruang dan menolak brosurnya.

"Silahkan mampir" ucapnya lagi dengan penuh semangat. Dia harus memberikan ini, atau dia tak akan punya uang sedikitpun untuk kehidupannya.

"Hinata, tukar!" ucap seorang wanita dengan kostum maid dari dalam restoran. Dia memberikan tanda kalau sekarang Hinata dapat bertukar dengan pegawai lain. Kalau gilirannya menjadi badut selesai maka pekerjaan selanjutnya adalah mencuci piring di dapur.

"Baik" ucap Hinata lemas, dia berjalan dengan tertatih karena kostum ini cukup berat dan kakinya pegal berdiri selama 4 jam menjajakan brosur.

Segera setelah membuka kostum kuma bear yang membuat seluruh tubuhnya berkeringat, seseorang datang ke ruang ganti karyawan. "Sara-san, saya akan segera berganti pakaian." ucap Hinata padanya.

Hinata tidak beruntung sebenarnya, pekerjaan pertama yang dialakukan dalah menjadi pelayan bar, tapi karena tidak terbiasa dengan asap rokok, sepanjang dia bekerja, dia hanya batuk-batuk sampai membuat dirinya kesal sendiri. Sampai disana dia masih bisa bekerja dan dipindahkan ke dapur. Namun, dapur sebuah bar adalah dapur paling menjijikan yang pernah Hinata lihat. Dia tak tahan lagi dan mengundurkan diri.

Pekerjaan di kuma bear bisa saja berat namun tidak menjijikan seperti bekerja di bar. Tidak ada pekerjaan yang mudah.

"Kau harus bersuara lebih keras, Hinata. Jika kau tidak melakukannya kita tak akan punya pelanggan yang otomatis akan membuatmu dan pegawai lainnya tak mendapatkan gaji. Kau mengerti?" ucap Sara dengan wajah tidak suka. Dialah sang manajer. Sara Uchiha.

"Maaf" ucap Hinata.

"Cepatlah ganti kostummu dan pergi ke dapur" ucapnya lagi sebelum meninggalkan Hinata.

"Baik"

Di dapur yang sedang sibuk, Hinata menyelinap menuju bak cuci piring. Satu-satunya orang yang harus dia hindari adalah chef yang cerewetnya tak tertandingi di dapur kuma bear.

"Hinata kau lambat. Cepat cuci semua wajannya. Aku tidak bisa memasak kalau semuanya kotor" omel kepala chef dengan wajah marahnya. Namanya Teuchi. "Kau, kau salah memasukan daun basil itu. Rasanya akan berbeda" omelnya pada pegawai lain.

Suara alat masak dan teriakan chef Teuhi memenuhi udara dapur selama beberapa jam kedepan hingga restoran tutup tepat tengah malam. Hinata menggosok wajan terakhir yang baru diantar ketempat cuci piring.

"Terima kasih atas kerjasamanya hari ini" ucap semua pegawai satu persatu meninggalkan restoran.

"Hinata, kau sudah selesai?" tanya Sara mengintip dapur.

"Aku baru selesai" ucap Hinata mengeringkan tangannya dengan lap dan segera berlari keruang ganti pegawai untuk mengambil barang-barangnya.

oOo

Malam sudah larut dan Hinata sekarang sedang berjalan sendirian menuju apartemennya. Sudah hampir 2 minggu dia bekerja di restoran itu dan dia akan mendapatkan gaji pertamanya besok.

Hinata mengeratkan kepalan tangannya dan berhenti sesaat sembari bertumpu pada tiang listrik. Perutnya sakit lagi, semakin lama semakin melilit sampai Hinata tak mampu berdiri untuk beberapa saat.

"Apa kau sedang balas dendam padaku?" ucap Hinata. "Hei Kau!" omel Hinata pada perutnya sendiri. "Kau fikir aku akan menyerah karena kau mengeluh sakit? Kita butuh kerja untuk makan."

Bukannya mereda perutnya malah semakin terasa sakit. "Sial, padahal sebentar lagi sampai rumah." Umpat Hinata memaksakan diri untuk berjalan dan sampai dengan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya.

"Baiklah sekarang terserah kau" ucap Hinata merebahkan diri diatas karpet.

Hinata tak dapat bergerak. Bibirnya meringis selama hampir 2 jam sampai dia terlalu lelah untuk merasakan sakit dan tertidur hingga pagi menyambutnya.

"Astaga!" teriak Hinata bangun dan segera melihat jam. Hari ini perkerjaan akhir pekannya dimulai. Jika hari sekolah Hinata akan bekerja di Kuma Bear setelah pulang sekolah. Dan jika selama hari libur dia akan bekerja di W.O. (wedding organizer) milik Tsunade Senju.

Buru-buru Hinata mengambil handuknya dan mandi kilat, kemudian berlari sampai kakinya terasa pegal, dengan nafas terengah dia akhirnya sampai ke gedung resepsi.

"Maaf aku terlambat" ucap Hinata membungkuk dihadapan Tsunade yang sedang sibuk mengarahkan anak buahnya.

"Hinata jika kau tidak sanggup bekerja disini, sebaiknya kau tidak perlu datang"

"Aku sanggup. Mohon maafkan aku!" ucap Hinata.

Tsunade melihat Hinata yang masih membungkuk, "Semangat masa muda itu memang baik," ucapnya.

"Aku akan bekerja keras hari ini" ucap Hinata.

"Kau memang harus melakukan itu, tapi pertama kau ganti pakaianmu dulu."

"Ha- eh?" Hinata menatap Tsunade bingung, biasanya dia akan bekerja seperti ini. Karena dia bekerja menata dekorasi.

"Kemarin penerima tamu mengundurkan diri, aku belum mendapatkan orang untuk bagian itu. Kau cukup cantik dan menarik, jadi anggap ini keberuntunganmu" jawab Tsunade.

"Terima kasih. Aku akan bekerja sangat giat"

"Tak perlu giat, kau hanya perlu bekerja" ucap Tsunde meninggalkan Hinata. "Cepat ganti pakaianmu Hinata!" teriaknya setelah cukup jauh.

Resepsi hari ini akan dimulai pukul 10.00 pagi, Hinata menatap jam tangannya kemudian cermin dihadapannya. Pakaiannya berupa jas hitam dengan rok selutut. Sedikit mengeluh karena dia harus memakai sepatu berhak tinggi yang membuat perutnya kram. Haruskah dia meminjam yang tanpa hak? Tapi waktunya tidak cukup untuk mencari.

Hinata mendekatkan kepalanya ke arah cermin dan memoles bibirnya yang terlihat sedikit pucat. Ini pasti karena semalam dia sakit perut.

"Dengar, kau harus baik hari ini." Ucap Hinata. "Aku baru saja dapat posisi bagus dan tentu saja aku akan dapat cukup uang untuk membeli daging kesukaanmu itu" tambahnya.

Akhir – akhir ini, Hinata selalu tergoda dengan daging steak yang disajikan direstorannya. Dia bahkan hampir meneteskan airmata karena rasa sedih melihat daging itu lari kemulut orang lain dan bukannya dirinya.

"Maaf membuatmu menunggu. Hari ini aku akan bekerja dibagian ini" ucap Hinata melihat seseorang sudah menunggu dimeja tamu.

"Kebetulan yang sangat aneh ya, Hinata" ucap orang itu.

Hinata sangat tahu suara itu dan segera menatap Naruto dengan tidak senang. "Ah memang menyebalkan." Ucap Hinata berdiri disamping Naruto.

Naruto senang dapat melihat Hinata yang berbeda sedekat ini, kalau itu Hinata yang dulu dia pasti akan berkata. "Naruto-kun aku senang bisa berdiri disampingmu" dengan wajah bersemu merah.

"Kau tidak bertanya kenapa aku disini?" ucap Naruto, mencoba lebih akrab pada Hinata disampingnya.

"Tidak perlu." Jawab Hinata singkat, kalau saja dia tidak butuh uang. Dia pasti akan segera mengundurkan diri, agar tak bertemu dengan Naruto.

"kau yakin tidak mau tahu?"

Hinata ingin sekali memukul wajah senpainya ini. Bukankah dia sendiri yang mengatakan harus membatasi komunikasi mereka?

"Hinata, berbaik-baiklah pada Naruto. Dia akan menjadi partnermu disetiap akhir pekan" ucap Tsunade sembari berlalu.

"Kau dengar itu? Kita harusnya berteman sekarang." Naruto mengulurkan tangannya pada Hinata. Awal yang bagus.

"Mohon bantuannya senpai" ucap Hinata dengan formal sembari membungkukan tubuhnya, tangannya rapat disamping badan. Hinata tak pernah bermaksud untuk berteman akrab dengan Naruto. Ini hanyalah soal pekerjaan.

Naruto terperangah, ada apa dengan Hinata? Baiklah jika itu yang dia inginkan. Lagi pula mereka memang harusnya seperti ini. Mahkluk penghubung diantara mereka pasti sudah lenyap sekarang.

"Selamat datang, bisa tunjukan kartu undangannya" ucap Hinata ramah pada tamu yang mulai berdatangan.

Naruto sesekali melirik pada Hinata, dia sedang memasang wajah palsu sekarang. Entah mengapa ramah tak cocok untuk Hinata sekarang. Oke, awalnya Naruto berpacaran dengan Hinata karena wajah polosnya yang membuat Naruto penasaran untuk menjamahnya.

Tapi sekarang, wanita itu seolah tahu bagaimana selera Naruto, dia ingin kembali menjamah Hinata dengan tangannya dan menaklukan Hinata lagi.

"Silahkan." Ucap Hinata membuyarkan lamunan Naruto. Bibirnya sekali-kali Hinata gigit, tubuhnya oleng.

"Hinata apa kau sedang sakit?" bisik Naruto.

"Aku baik-baik saja senpai. Sebaiknya kau membantuku daripada hanya melamun" ucap Hinata kembali tersenyum saat ada tamu.

Hinata tak baik-baik saja, sepatu ini benar-benar membuat perutnya kram dan dia mulai merasakan sakit yang melilit itu datang lebih awal. 'Kau jangan mengacaukannya. Aku tahu kau hanya ingin cari perhatian' batin Hinata.

Naruto tak bisa terus memperhatikan Hinata, dia sedang diawasi Tsunade sekarang, dan nampaknya dia tak senang karena Naruto hanya diam dan memandang Hinata sejak tadi.

Tsunade Senju adalah bibinya yang berteman akrab dengan ibunya. Mereka seperti satu paket yang mengerikan dalam hal kekuatan dan kemarahan. Naruto bekerja disini juga karena permintaan ibunya juga. Bersyukur atau tidak dia akhirnya bisa berdekatan dengan Hinata yang baru. Kenapa dia jadi malah bersyukur? Aneh sekali.

"Maaf" ucap Naruto pelan dan menerima kartu undangan dari tamunya.

Hinata mengintip ke dalam ruang resepsi, acara akan segera dimulai karena mempelai pria sudah berdiri di ujung karpet merah. Itu berarti sebentar lagi Hinata bisa beristirahat.

"Hinata, duduklah" ucap Naruto sembari menarik Hinata ke tempat duduk tak jauh dari sana.

Hinata menarik tangannya yang dipegang Naruto. "Aku baik-baik saja" ucap Hinata.

"Wajahmu pucat Hinata, aku harus bilang apa kalau Tsunade bertanya jika kau pingsan"

"Aku hanya belum terbiasa. Aku akan kembali"

"Aku penasaran"

Hinata berhenti melangkah.

"Apa yang membuatmu berubah sedrastis ini? Jika kau bermaksud membalasku. Kau tepat sasaran, aku tak tahan melihatmu bersikap manja dan berani bicara pada pria lain"

"Hah? Bukankah kau sendiri yang memutuskanku?"

"Kau benar, tapi kau yang sekarang lebih menantangku"

"Aku tak pernah berniat menantangmu. Aku hanya ingin berubah."

"Jika saja kau berubah sebelum ayahmu menamparku, aku pasti akan mempertahankanmu."

"Lalu dengan kehamilanku?"

"Itu juga tak pernah aku harapkan. Jika dua kejadian itu tidak muncul dan kau berubah seperti sekarang. Aku akan mempertahankan hubungan kita."

Hinata menahan perasaan sakit yang menyebar dari dadanya, bukan Hinata yang merasakan sakit ini tapi dia. 'kau dengar itu? Dia bahkan tidak mengharapkan kau ada. Jadi berhentilah berharap kalau dia akan mengakui keberadaanmu' batin Hinata.

"Tapi kau sudah melakukannya kan? Jadi tak ada salahnya aku mencoba berhubungan kembali denganmu" ucap Naruto dengan sedikit tertawa.

Kali ini rasanya hati Hinata sudah tak berbentuk lagi. Perkataan itu membuatnya terasa dihujani batu, teganya laki-laki itu. "Meskipun begitu tak akan pernah ada kesempatan untuk laki-laki berngsek seperti dirimu" ucap Hinata dingin.

'Kau dengar itu hah? Kau sama sekali tidak berharga untuknya' umpat Hinata.

oOo

"Hinata, kau masih marah padaku?" teriak Naruto mengejar Hinata yang berjalan di koridor, karena sepi Naruto berani menyapanya huh? Laki-laki pengecut.

Hinata berhenti hanya untuk memandang dingin pada Naruto. "Maaf senpai, ini sekolah bukan tempat kerja. Tolong hargai privasiku" ucap Hinata.

Sejak percakapan mereka kemarin Hinata semakin bersikap dingin pada Naruto. Padahal dia tak bermaksud menyinggungnya seperti itu, apa dia salah?

"Ah Kuso! Semakin dia bersikap dingin, aku semakin ingin menjamahnya" umpat Naruto sembari berbalik adan menuu kelasnya sendiri.

"Naruto, kau kenapa?" Tanya Kiba.

"Aku sedang kesal"

"Sayang sekali, padahal hasil ulanganmu cukup bagus" ucap Kiba memperlihatkan kertas hasil ulangan Naruto.

"Uah" teriak Naruto melihat kertasnya. Dia berhasil merangsek masuk kedalam 10 besar. "Ini tangkapan besar" ucap Naruto pada Kiba yang dibalas sebuah adu kepalan tangan.

"Kau harus traktir aku" ucap Kiba. "Apa kita harus ke kantin sekarang?"

"Tentu saja" ucap Naruto sembari menggiring Kiba keluar kelas.

"Aku ingin roti isi daging ya?"

"Kau ingin membuatku bangkrut huh?" ucap Naruto.

Kedua pria itu tertawa sepanjang perjalanan. Sampai melihat Hinata yang sedang menengadah sembari menutupi hidungnya.

"Itu si Hime-kan? Ada apa dengan posisinya itu?" ucap Kiba.

Hinata melirik kedua pria yang berhenti sejenak tak jauh dari tempatnya berdiri. Darah merembes dari sela-sela jemarinya, dia tiba-tiba mimisan, dan kepalanya sedikit pening.

"Hime kau tidak apa-apa?" tanya Kiba disebelah Naruto.

Hinata menggeleng dan berjalan ke arah yang berlawanan. Sekarang tetesan darah menetes ke atas seragamnya.

"Dia mimisan, apa kita antar saja ke UKS?" tanya Kiba melihat darah diatas lantai dimana Hinata sempat berdiri.

"Hinata" panggil Naruto

"Aku baik-baik saja" teriak Hinata berlari menjauh, oke ini lebih baik daripada terjebak di UKS yang bisa membuatnya ketahuan.

"Hime kau baik?" tanya seorang siswa sekelas Hinata.

"Aku baik-baik saja" ucap Hinata untuk kesekian kalinya.

"Ini ambil tisu yang banyak, kau mau ke UKS?"

"Astaga! Kenapa kalian suka sekali dengan UKS. Kalau kalian mau kalian pergi saja sendiri" ucap Hinata kesal sembari menyumbat hidungnya dengan tisu.

"Kami khawatir padamu"

"Geh"

"Oke Hime tak perlu ke UKS tapi kau pasti akan menodai ini dengan darahmu. Tadi sensei membagikan hasil ulangan." Ucap seorang siswa menaruh lembar hasil ujian Hinata diatas mejanya. "Kau peringkat pertama dengan hasil sempurna."

Sekarang Hinata yang melongo tak percaya, astaga ini hasil kerja kerasnya yang sampai mimisan ini. Setidaknya dia bisa mengukir sejarah sebelum menghilang selamanya dari sekolah ini.

"Dia pasti curang" bisik seorang siswi.

"Kau hanya iri padaku, iyakan? Mengaku saja, aku takkan marah" ucap Hinata membalas sindirannya.

"Beraninya kau, Sadako" ucapnya dengan kesal.

Hinata hanya tersenyum mengejek. Mau berkelahi? Ayo. Hinata sudah biasa berkelahi dengan wanita. Mau dijahili? Sayang sekali sekarang dia dengan mudah tahu siapa dan dimana dia akan dijahili.

Hari ini berjalan seperti biasanya. Loker Hinata dipenuhi paku payung dan tulisan yang mengutuknya. "Pagi-pagi, kata cinta. Sore hari, kutukan" ucap Hinata tak berniat membersihkan lokernya sendiri. Toh besok pagi akan bersih dengan sendirinya.

"Sebaiknya aku belanja apa? Persediaan apa yang harus aku stok terlebih dahulu?" ucap Hinata sembari menulis beberapa kata dalam note kecilnya. "Mungkin rempah-rempah dapur. Sayuran. Buah dan-" Hinata menghentikan langkahnya didepan restoran tepatnya dia melirik banner steak yang nampak menggoda imannya.

"Ini bau steak yang paling enak. Ada sedikit piterselli dan keju leleh" ucap Hinata tanpa sadar mengatakannya. Walaupun belum lama kerja di Kuma Bear tapi hidung Hinata sudah terbiasa dengan bau steak yang sering dimasak dengan bumbu-bumbunya.

"Kau mau steak? Aku akan membeli daging untuk makan malam kita" tapi meskipun sudah berkata seperti itu, Hinata merasa luapan emosi yang membuatnya bingung.

Hanya dengan melihat gambar steak dan mencium baunya, Hinata dengan mudah meneteskan airmata seperti anak kecil yang tak diperbolehkan makan permen.

"Hiks ada apa denganmu huh? Steaknya tak akan lari kemanapun." Ucap Hinata mulai menangis dan berjongkok didepan banner steak itu. Dia ingin steak itu sekarang tapi dia malah menangis. Memalukan sekali. "Akan aku belikan. Tapi berhentilah membuat perasaan sedih" Hinata menyerah, hanya kali ini saja sebelum tangisnya menjadi. "Hiks"

Tapi tubuhnya tak mau menuruti perintahnya, dia masih menangis sembari berjongkok didepan banner itu membuat orang-orang memandanginya.

"Berhentilah membuat perasaan aneh" ucap Hinata geram, tapi airmatanya tetap mengalir. Dia pasti ingin dihukum dengan berpuasa selama 3 hari.

"Hinata" panggil Naruto pada gadis itu. Aneh sekali melihatnya berjongkok didepan restoran steak sambil menangis pula.

Hinata mengangkat kepalanya, "Naruto-kun hiks" lirih Hinata.

Naruto gelagapan dipandangi dengan wajah berurai airmata milik Hinata, ada apa dengannya? Aneh. "Ke-kenapa Hinata? Kau sakit? Tadi kau mimisan kan?"

Kepala Hinata menggeleng pelan sembari menunjuk banner steak dihadapannya. "Hiks aku mau ini" ucap Hinata.

"Kau tinggal membelinya Hinata. Kenapa kau menangis hanya gara-gara itu?" ucap Naruto tak habis fikir. Dia mau steak dan menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.

"Hiks.. Hiks..." Hinata sekarang ingin memakannya. Dia tahu itu, tapi kenapa dia malah jadi curhat pada Naruto dan tidak segera berdiri dan masuk memesan steak. Dia malah semakin sedih mendengar ucapan Naruto.

"Kenapa kau malah semakin menangis?" tanya Naruto mendekati Hinata.

"Hiks aku juga tidak tahu. Kau menyebalkan" ucap Hinata pada perutnya sembari memandang gambar steak itu lagi.

"Dari mana aku menyebalkan? Aku baru datang dan melihatmu seperti anak kecil menangis minta permen." Ucap Naruto tak terima dikatai menyebalkan.

"Steak..."

Naruto ingin sekali menyadarkan wanita yang sedang membuat malu dirinya sendiri ini tapi kenapa dia malah terlihat semakin putus asa? Kenapa juga dia merasa ikut bersedih melihat airmata Hinata?

Tanpa sadar, Naruto menarik lengan gadis itu untuk berdiri dan berjalan masuk kedalam restoran. Menarik sebuah kursi agar Hinata dapat duduk dan melihatnya menatap dengan wajah sedih buku menu dihadapannya.

"Pesan steak yang kau inginkan. Jangan yang terlalu mahal. Aku tidak punya banyak uang." Ucap Naruto membantu Hinata membuka buku menu.

"Aku akan bayar sendiri" ucap Hinata masih memiliki kesadarannya sendiri. Airmatanya mulai berhenti keluar.

"Aku yang akan mentraktirmu hari ini. Cepat pilih" ucap Naruto memaksa

"Aku akan pesan yang ini saja." Ucap Hinata membalik dan menunjukan steak yang ingin dia makan.

"Tolong pesan itu satu" ucap Naruto pada pelayan yang sudah berdiri menunggu pesanan mereka.

"Kau tidak mau makan?" ucap Hinata.

"Aku terpaksa masuk ke sini." Jawab Naruto mengambil beberapa tisu dan menyerahkannya pada Hinata. "Bersihkan dulu wajahmu"

"Aku akan membayar steak ini saat gajianku yang berikutnya." Ucap Hinata mengambil tisu itu dengan kasar dari tangan Naruto.

"Hmm tidak perlu"

"Tidak perlu bagaimana? Aku berhutang uang padamu, dan aku wajib membayarnya padamu"

"Aku tidak butuh dalam bentuk uang" ucap Naruto menopang dagunya dengan tangan diatas meja.

"Lalu kau mau apa?" tanya Hinata.

"Kepribadianmu yang sekarang membuatku tertarik Hinata, aku tahu mungkin sedikitnya masalah kita kemarin membuatmu berubah tapi apakah benar hanya karena itu?"

"Aku tidak berkewajiban membeberkan apapun pada orang asing"

"Lihat, aku benarkan? Masalah apa itu Hinata?"

"Naruto senpai, tidak baik mengorek informasi seseorang dengan cara memaksanya." Ucap Hinata tersenyum tipis. Itu adalah sebuah kode agar Naruto tak bertanya lagi.

"Kalau begitu sebagai ganti steaknya, kau jangan menghindariku disekolah dan bersikap ramahlah padaku"

"Tidak bisa." Tolak Hinata. "Pertama karena kau sendiri yang bilang untuk membatasi komunikasi kita didepan umum sejak kita pacaran dan menjadi mantan. Kedua, seperti yang kau bilang masalah kita membawa andil dalam perubahan yang terjadi padaku, atau aku harus menyebutnya sebagai kemarahan padamu. Jadi banyak bicara, tidak menghindarimu dan bersikap ramah itu tidak bisa aku lakukan"

"Kalau begitu sapa aku dengan wajahmu yang seperti sekarang," ucap Naruto melihat Hinata mulai kesal dengan percakapan mereka.

"Steak anda, Nyonya." Ucap pelayan menghidangkan Steak diatas meja dihadapan Hinata.

Melihat wajah antusias Hinata dan cara makannya yang antusias membuat Naruto tidak bosan melihatnya. Dia sedikit bersinar dan lebih menarik perhatian daripada malu-malu kucing. Rasanya perut Naruto ikut merasakan lezatnya steak yang dia makan. 'Kau itu sebenarnya sedang melakukan apa, Hinata? Dari polos berubah lebih menantang? Siapa lagi yang sudah menyakiti hatimu, selain aku?' batin Naruto.

oOo

Hinata melirik seluruh halaman sekolah sebelum masuk, dia benar-benar tidak ingin bertemu dan menyapa orang itu. Meskipun Hinata memaksa membayar steak yang dia makan hari itu juga, Naruto tetap menolak mengambil uangnya. Dia mencari kesempatan dalam kesulitan Hinata.

"Ohayou Hinata," sapa Naruto dari belakang.

'Sial'

"Sepertinya kau bersemangat sekali ingin menyapaku duluan."

"Ja-jangan narsis ya, ini hanya karena steak itu. Oke Ohayou, dan goodbye" ucap Hinata langsung berlari masuk kedalam gedung.

"Jadi kau serius padanya? Apa kau yakin? Kepribadiannya sedikit menakutkan" ucap Kiba, dia hanya melihat dari jauh keduanya saling berinteraksi.

"Yang kedua haruslah serius"

"Kedua?"

"Kau tidak akan mengerti."

"Oh ya, kudengar ayahmu sakit?"

Naruto menghentikan langkahnya. Dan tak langsung menjawab pertanyaan Kiba, "Darimana kau tahu?"

"Kau berubah cukup drastis bagiku Naruto, ibumu sudah galak sejak lahir. Mana mungkin dia bisa merubah sikapmu hanya dalam sehari, jadi aku bertanya pada Karin, sepupumu itu"

"Hmm kau benar. Ayahku, memang sedang sakit."

"Baiklah aku sudah tahu sekarang, semangatlah."

"Oh makanya aku kerja keras untuk nilai-nilaiku, kau fikir aku tidak semangat" ucap Naruto mengembangkan senyum 5 jarinya.

Makanya Naruto tidak bisa menerima mahkluk hasil perbuatan dirinya pada Hinata, dia tak bisa melakukannya. Bertanggung jawab sementara dirinya masih belum dewasa. Mahkluk itu pasti akan hidup sengsara jika dibiarkan hidup lebih lama.

Namun melihat Hinata kemarin, apa keputusannya sudah benar? Hinata berubah jauh dari dirinya yang dulu, dia terasa asing dan membuat Naruto takut.

"Hei, kau dengar, seorang siswi dikelas kita di keluarkan dari sekolah. Katanya dia dihamili oleh pacarnya yang sekarang."

'Gosip dan wanita memang gabungan yang mengerikan' ucap Naruto duduk dibangkunya dan melihat keluar jendela. 'Ah itu Hinata. Kelihatannya sedang serius bicara.'

Dibawah sana, Hinata berdiri berhadapan dengan gadis bercepol dua, matanya menatap tajam pada Hinata. Sepertinya Hinata tidak punya salah apapun padanya. Atau bisa jadi pacarnya sudah memutuskan dia karena tertarik pada Hinata?

Awalnya dia berlari untuk menjauhi Naruto dan kenarsisannya yang tingkat akut itu, ditengah jalan gadis ini menarik Hinata dan sekarang mereka berhadapan.

"Eto siapa kau?" tanya Hinata sopan.

"Hime, itu julukanmu kan?"

"Ya begitulah"

"Hime aku mendengar dua detak jantung dari dirimu,"

"Eh, ya? Bagaimana bisa manusia punya dua jantung?" tanya Hinata tak mengerti arah pembicaraan ini.

"Kau sedang hamil sekarang"

Tanpa disadari seorangpun, ada orang yang peka terhadap sekitarnya dan mengetahui rahasia yang sudah dijaganya baik-baik. Akhirnya, dia ketahuan hanya dengan dua detak jantung. Wanita bercepol dua ini cukup horror.

.

.

.

.

TBC...

Katakan kekecewaan kalian pada chapter ini, shanaz kayana mau perbaiki lagi.. kalo sempet.