Chapter 2 : Kekuatan dan Penyusup.
Lightning Inquisitor.
Disclaimer: Naruto dan Charakter yang lainnya 100% bukan punya saya, namun cerita dalam fic ini 100% buatan saya...
Rate: T
Genre : Adventure, FriendShip, Family, Romance.
Pair: Mystery
Warning : Typo, AlurPasaran, OC, OOC, StrongNaru.
Summary : Datangnya sang Hakim adalah awal dari sebuah kejadian yang besar, dia akan terus berusaha untuk merubah alur dunia. BadSummary
Masamune : Ettooo, mungkin akan saya ikuti saran anda terima kasih masukannya.
Da Discabil Worm N.A : terima kasih akan masukannya, saya akan perbaiki kembali.
Razor04 : Mungkin belum saatnya.
Terima kasih untuk yang telah memberikan saya saran dan masukan serta kritik dalam cerita ini. Masukan dan kritik anda akan saya gunakan untuk membuat cerita saya lebih baik lagi.
At Training Ground 44
BUGH DUAAR
Sebuah ledakan yang tercipta, suara menggema cukup keras ditanah Tranining Ground 44 ini, disana nampak tiga orang bocah yang tengah beradu pukul atau tepatnya berlatih disana, mereka nampak terlihat jika umur mereka berkisaran tujuh sampai delapan tahun, dari ketiganya dua diantaranya adalah anak berjenis kelamin laki laki dan sisanya adalah seorang gadis.
Kini nampak bocah laki laki berambut silver tengah beradu kunai dengan gadis berambut merah darah yang berdiri didepannya, dentingan kunai terdengar sangat nyaring sampai seorang bocah laki laki berambut kuning cerah melompat tinggi seraya menembakkan peluru peluru petir dari ujung jari telunjuk kedua tangannya yang dia bentuk menyerupai pistol yang terbalik.
Kedua bocah tersebut meloncat menjauh, mereka tak ingin jika tubuh mereka tersengat sekaligus berlubang oleh peluru peluru petir yang ditembakkan bocah berambut kuning barusan, gadis berambut merah yang melihat bocah berambut kuning yang kini mulai terkena gaya gravitasi pun tak tinggal diam, dia melemparkan dua buah kunai kearah pemuda tersebut dengan hentakan keras setelahnya dia merapalkan handseal dengan cepat.
Kunai KageBunshin no Jutsu
Gadis tersebut meneriakkan nama jutsunya alhasil kunai yang tadinya hanya berjumlah dua kini mulai bertransformasi menjadi puluhan kunai, pemuda berambut kuning pun tak tinggal diam dia pun juga merapalkan handsealnya dengan cepat pula.
Fuuton : Tase no Kaze
Dari tiupan pemuda berambut kuning tadi muncullah sebuah dinding angin yang berhasil menghalau serangan kunai kunai gadis tadi, namun tak mereka ketahui jikalau...
BUGH BUGH
Pemuda yang barusan mengeluarkan jutsunya pun terlempar kuat begitu pula dengan gadis berambut merah, dua buah pukulan keras bersarang tepat dipungung mereka berdua dan kini mereka berdua nampak menatap kearah siapa yang memukul mereka barusan, dikedua sisi yang berbeda berdiri seorang pemuda yang sama dengan rambut silver yang menatap mereka berdua dengan mata kirinya tak lupa dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya.
Kedua pemuda dan gadis itu menggerang kesal, mereka pun merapalkan handseal mereka kembali dengan lebih cepat dan kuat, dan setelah selesai mereka berdua melompat tinggi...
Fuuton : Kaze no Yaiba.
Katon : Goryuuka no Jutsu
Puluhan belati angin dan seekor naga api muncul dari kedua jutsu yang diciptakan keduanya, pemuda berambut silver tersebut hanya menyungging senyum kecil diwajahnya seraya merapalkan handseal dengan cukup cepat...
Doton : Doryuuheki
Dua buah suara dari tempat berbeda terdengar keras, dua buah dinding tanah yang cukup besar tercipta dikedua pemuda yang sama itu alhasil dinding dinding tersebut dapat menahan belati belati angin dan naga api yang akan menyerangnya, gadis dan pemuda yang baru saja mengeluarkan tehniknya pun mendarat dengan sempurna, namun tak mereka sadari jikalau seseorang telah menunggunya diatas...
Shuriken KageBunshin no Jutsu
Katon : Housen Tsumabeni
Teriakan dari dua jutsu barusan sukses membuat gadis dan pemuda tersebut terkejut, teriakan tersebut berasal dari pemuda berambut silver yang tengah berdiri dengan posisi kepala dibawah dengan kaki yang memijak pada sebuah cabang pohon yang cukup tinggi, dari dua jutsu tersebut puluhan shuriken yang terselimuti api melesat kearah keduanya, gadis dan pemuda yang ada dibawah benar benar terkejut saat ini, namun beruntung...
Suiton : Suijinheki
Sebuah dinding air yang memutari tubuh keduanya berhasil membuat shuriken shuriken api tadi terhenti, keduanya nampak lelah saat ini karena chakra mereka yang harus terkuras habis oleh jutsu jutsu yang mereka keluarkan terlebih lagi saat keduanya ingin menyerang pemuda berambut silver yang berhasil ditahan dengan jutsu tanah miliknya, namun nampak serangan dari pemuda berambut silver jabrik tadi belum saatnya berhenti.
SRRET BUGH BUGH
Saat dinding air yang dikeluarkan gadis tadi hilang dua buah pukulan berhasil bersarang diperut pemuda berambut kuning cerah dan gadis berambut merah tadi, namun pukulan tersebut sama sekali tak membuat mereka merasakan sakit. "Kalian kalah, Naruko, Menma." Keduanya menatap kearah kepalan tinju tadi, dan disana nampak dua pemuda berambut silver yang tengah mengarahkan kepalan tinju berlapis besi dengan ujung tajam (Knuckle) hampir mengenai perut mereka.
Naruko dan Menma mendecih keras saat melihat apa yang dilakukan pemuda berambut silver tersebut, mereka pun jatuh terduduk dengan nafas yang tengah berusaha mereka atur, bagaimana tidak walau memang mereka kini cukup memumpuni untuk bertarung namun fisik mereka berdua masihlah tetap bocah berumur tujuh tahun.
"Baiklah baiklah, kami mengaku kalah Naruto." Naruto nama pemuda berambut silver itu, dia kini hanya menyeringai seraya memasukkan Knuckle miliknya kedalam kantung ninja yang memang sudah dia miliki, dia pun mengambil tiga buah botol air jernih yang memang mereka siapkan sebelumnya dibawah salah satu pohon didekat mereka, Naruto melemparkan kearah kedua sahabatnya tersebut.
"Cukup baik untuk hari ini, walau fisik kalian masih sangat sangat buruk." Naruko dan Menma hanya membuang nafas panjang seraya membuka tutup botol mereka, setelah meminum beberapa teguk mereka pun menatap Naruto kembali. "Kau terdengar seperti Kakashi-nii." Naruto hanya tertawa mendengar ucapan dari Naruko barusan, dia pun ikut duduk dengan sahabatnya yang kembali meminum air mereka.
Naruto menatap kearah pungung tangan kanannya, tepatnya dia menatap kearah tanda lahir yang berbentuk seperti petir, entah kenapa kenangan buruk kembali menyeruak kedalam fikiranya akan petir. Naruko dan Menma yang tahu apa yang difikirkan Naruto pun menepuknya pelan.
"Jangan kau fikirkan lagi Naruto-kun, semua itu masa lalu dan kini kau telah berusaha untuk memperbaikinya jadi jangan buat apa yang kau fikirkan saat ini menghalangi jalanmu." Naruto tersenyum mendengar ucapan Naruko barusan, Menma yang melihatnya pun berdiri dengan semangat yang membara dia menatap kearah Naruto dan Naruko secara bergantian dalam beberapa detik.
"Jika dilihat lihat kembali wajah kita bertiga seperti kembar ya." Naruko dan Naruto yang mendengarnya tertawa lepas, begitu pula dengan Menma tawa seperti ini adalah hal yang sangat ingin mereka jaga terlebih bagi Naruto. "Bagaimana tidak Menma, kita hampir selama dua tahun terakhir selalu bersama jadi secara tidak langsung kita terlihat sama." Menma dan Naruko kembali tertawa mendengar ucapan Naruto barusan, namun...
BOFT
"Naruto, Menma, Naruko-sama, kalian semua dipanggil oleh Sandaime-sama dan Yondaime-sama, mereka menunggu kalian dikantor Hokage." Seorang anbu berkode name Fox muncul didepan mereka bertiga, mereka bertiga pun secara bersamaan berhenti untuk tertawa dan mulai menatap satu sama lain, setelahnya anbu tersebut menghilang dengan kepulan asap.
"Anbu sialan, kenapa tak membawa kita pergi kesana dengan Shunsin!" Menma nampak mengumpat keras dan umpatan tersebut membuat Naruto dan Naruko tertawa lepas kembali sekali lagi.
Pindah Scene.
At Kantor Hokage.
Sandaime dan Yondaime Hokage tengah duduk dengan santai dibangunan tertinggi Desa Konoha saat ini, pekerjaan Yondaime telah selesai beberapa saat yang lalu sedangkan untuk Sandaime memang dia sudah pensiun dari jabatan tersebut namun dia masih tetap berada disana guna untuk sedikit mengobrol dengan Hokage termuda ini sekaligus untuk membimbingnya menjalani pekerjaan sebagai orang tertinggi diDesa Konoha.
Tapi, tak berapa lama sebuah kepulan asap muncul didepan mereka berdua disanalah seorang anbu dengan topeng dan kode name Fox tengah mengambil posisi melapor.
"Lapor Sandaime-sama, Yondaime-sama, saya telah memberitahukan pada Naruto, Menma, dan Naruko-sama untuk datang kemari."
"Arigatou Fox, silahkan kembali bertugas." Anbu tersebut mengangguk dan menghilang kembali dengan kepulan asap, Sandaime yang sedari tadi diam disofa yang memang disediakan dikantor tersebut pun berdiri dan mulai berjalan menuju jendela yang berada disisi kirinya, dia menatap keluar dengan sesekali menghisap dan menghembuskan asap rokoknya.
Tatapan Hiruzen tertuju pada tiga orang bocah yang tengah berjalan dengan sesekali bercanda ria, Hiruzen tersenyum saat melihat peluh yang membasahi tubuh mungil mereka bertiga, Hiruzen tahu siapa mereka dan dari mana mereka bertiga tadi. "Lihatlah Minato, lihat kondisi mereka bertiga saat ini, lihatlah keringat hasil latihan mereka, lihatlah kotoran dibaju mereka akibat latihan mereka."
Minato yang memang sedari tadi berada disamping kanan Hiruzen tak kuasa untuk tak menyungging sebuah senyum kecil diwajahnya, dia dan Hiruzen tahu mereka akan membawa sebuah perubahan pada Desa Konoha ataupun seluruh Elemental Nation.
Cukup lama Hiruzen dan Minato menunggu mereka bertiga, mereka mengerti jika mereka bertiga hanya berjalan dari tempat latihan mereka menuju kantor Hokage yang berjarak cukup jauh. Namun tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar oleh kedua kage tersebut, setelah Minato memperbolehkan untuk masuk terbukalah pintu tersebut.
Ketiga bocah tersebut masuk kedalam ruangan tersebut, Hiruzen dan Minato yang melihatnya hanya tersenyum simpul kearah ketiga bocah yang baru saja tiba diruangan tersebut. "Selamat datang Naruto-kun, Menma-kun, Naruko-chan." Ketiga bocah tersebut menangguk mantab setelah sapaan yang barusan diucapkan oleh Minato barusan.
"Sebenarnya, ada apa sampai Sandaime-sama dan Yondaime-sama memanggil kami bertiga?" Pertanyaan dari bocah berambut silver barusan membuat Hiruzen tersenyum kecil, dia sangat paham akan sifat Naruto yang To The Point, dia tak ingin jika waktunya terbuang percuma, Hiruzen pun kembali meniupkan asap rokoknya dengan santai.
"Baiklah, kalian bertiga besok sudah bisa memasuki Akademi untuk pertama kali seperti teman temanmu yang lainnya." Ketiganya tersenyum sumringah atau ya hanya Naruto saja yang tersenyum kecil kearah Minato yang tengah dalam mode berfikirnya, Minato dari ketiga bocah didepannya Minato hanya menatap kearah Naruto yang tengah tersenyum seraya menatap kearah luar jendela Kantor Hokage.
"Dan untuk Naruto aku ada sebuah pertanyaan." Hiruzen tersenyum mendengar Minato yang langsung menuju hal yang memang membuatnya dan Minato sedikit penasaran, Naruto yang mendengar ucapan Minato barusan mengangguk tanda siap untuk menjawab pertanyaan apapun dari Minato, Naruko dan Menma sedikit merasakan jikalau jantung mereka berdua berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Apa perubahan jenis chakramu?" Pertanyaan Minato barusan membuat Menma dan Naruko dapat membuang nafas lega, sedangkan Naruto dia nampak tak percaya akan pertanyaan dari Yondaime Hokage tersebut, otaknya yang memang sangat sangat cerdas pun mulai memproses apa yang akan terjadi jika dia memberitahukan akan kekuatannya pada sang Yondaime.
"Baiklah Yondaime-sama, akan saya jelaskan. Untuk saya, saya memiliki dua perubahan jenis chakra Api dan Tanah, untuk Menma dia memiliki tiga perubahan jenis chakra Api, Petir dan Angin, dan untuk Naruko-chan dia memiliki Angin dan Air." Yondaime tersenyum lebar mendengar ucapan Naruto barusan, begitu pula dengan Minato dia tersenyum simpul dibalik kedua tangannya yang memang dalam posisi berfikirnya..(?)
"Aku akan melatihmu Naruto, seluruh perubahan elemen chakra milikmu sama denganku." Naruto nampak terkejut saat mendengar ucapan langsung dari Hiruzen Sarutobi barusan, Menma dan Naruko pun tak jauh berbeda dengan Naruto mereka pun juga nampak terkejut mendengar ucapan dari Hiruzen barusan.
"Dan Menma, kau juga akan ikut dalam pelatihanku walau aku hanya dapat melatihmu Jutsu Katon dan beberapa seni Taijutsu." Menma pun nampak tersenyum mendengar ucapan Hiruzen barusan, sedangkan Naruko dia nampak menatap Hiruzen penuh harap, ya dia tak ingin jauh dari kedua sahabatnya ini.
"Ruko-chan, kau akan berada dipelatihanku dan Kushina lho." Ucapan Minato barusan sukses membuat kedua pipi Naruko menggembung, Naruto dan Menma nampak tertawa melihat kelakuan sahabat perempuannya ini, bagi mereka berdua wajah kesal Naruko memang yang terbaik dan paling imut seantero Konoha, menurut mereka.
"Tenang saja Naruko-chan, Yondaime-sama dan Hokage-jiji tak mungkin bisa melatih kita setiap hari pasti akan ada saatnya mereka tak akan bisa melatih kita karena kesibukan atau kondisi mereka, dan saat itulah kita dapat berlatih bersama atau jika salah satu guru kita tak dapat melatih kita, kita dapat saling mengunjungi bukan dan saat itulah kita juga dapat saling membagi ilmu yang kita dapati."
Minato dan Hiruzen nampak tersenyum mendengar ucapan yang terlontar dari Naruto barusan, mereka nampak senang sekaligus terkejut mendengar ucapan bocah tujuh tahun yang sudah dapat berkata bak orang dewasa ini, mereka tak meragukan lagi jika bocah ini adalah seorang prodigy tanpa clan, Menma yang memang berada didekat Naruto pun juga tersenyum akan usul itu.
"Aku setuju, memang ada kalanya kita tak akan selalu bersama Naruko-chan tapi hal tersebut tak akan membuat kita semakin menjauh tapi akan membuat kita untuk semakin mempererat persahabatan kita, dan jika saatnya tiba kita akan mengambil jalan masing masing." Dan satu lagi bocah yang membuat kedua Hokage ini tersenyum, Naruko yang mendengarnya pun tak jauh berbeda.
"Kalian memang yang terbaik." Naruko melompat kearah kedua sahabatnya ini dan memeluk mereka erat, Naruto dan Menma nampak terkejut akan hal tersebut namun kejadian tersebut tak berlangsung lama setelah Naruko melepaskan pelukannya kembali. "Jadi boleh kami kembali berlatih Tou-san?" Minato menangguk mantab menjawab pertanyaan anak gadisnya ini, namun Hiruzen nampak menatap kearah mereka bertiga tajam.
"Hush hush, Cepat pergi aku mau meneruskan acaraku yang tertunda." Minato nampak tertawa gugup mendengar ucapan dari Hiruzen barusan, namun tidak dengan ketiga bocah ini mereka nampak hanya menatap tajam kearah kakek Hokage ini. "Paling paling kau hanya membaca buku laknat sama seperti Kakashi-nii." Ucapan dari ketiga bocah yang mereka ucapkan secara bersamaan ini sukses membuat Hiruzen tertawa lepas.
Setelah ketiga bocah tersebut keluar dari ruangan tersebut Hiruzen nampak tersenyum begitu pula dengan Minato. "Mereka akan menjadi Shinobi dan Kunoichi yang sangat terkenal akan kerjasama mereka bukan, Minato." Minato hanya mengangguk seraya menatap dimana ketiga bocah tadi tengah berjalan diluar.
SKIP TIME
Pagi hari telah tiba diKonohagakure no Sato, kini diAkademi Konoha telah nampak puluhan murid murid baru yang akan mengikuti Akademi ini sampai tiga tahun mendatang, dari keseluruhan murid murid tersebut hanya dua orang yang nampak hanya berdiri dengan tenang disana pungung mereka berdua nampak mereka senderkan didinding gedung Akademi, memang mereka kini masih berada diluar kelas karena mereka belum mendapatkan perintah untuk masuk kedalam ruangan.
Banyak para gadis gadis calon Kunoichi yang ada disana menatap kedua bocah tersebut dengan tatapan siap memangsa, namun nampak sama sekali tak membuat kedua bocah tersebut bergeming dari tempat mereka berdiri, bahkan salah satu dari mereka berdua lebih memilih untuk menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada mereka.
Namun tak berapa lama seorang pria dengan sebuah luka horizontal diwajahnya berjalan dengan langkah yang nampak berat, seluruh siswa siswi disana nampak menatap takut kearah Chunnin tersebut, tak berapa lama pria tersebut berhenti didepan para calon siswa siswi yang ada disana.
"Kalian boleh masuk kedalam kelas, cari tempat yang kalian rasa nyaman dan lakukan cepat." Calon siswa siswi disana berlari cepat kedalam kelas, sedangkan kedua bocah laki laki yang tadi menyenderkan tubuh mereka kedinding hanya berjalan santai walau tatapan tajam Chunnin tersebut menjadi penghantar perjalanan mereka.
Setelah seluruh siswa siswi yang ada disana telah duduk dibangku mereka masing masing Chunnin tersebut masuk kedalam, setelah sampai didepan meja guru yang memang disediakan disana Chunnin tersebut meletakkan sebuah buku panjang yang memang adalah daftar nama dari para murid murid disana, dia kini berdiri didepan papan tulis seraya menatap satu persatu murid murid disana.
"Perkenalkan namaku Umino Iruka, aku akan menjadi guru pembimbing kalian selama tiga tahun kedepan, dan kalian dipersilahkan untuk mengenalkan diri kalian dimulai dari kau." Iruka nama Chunnin tersebut, dia menunjuk kearah salah satu gadis dengan rambut pink yang memang duduk dibagian depan sisi kiri kelas tersebut.
Perkenalan pun dimulai, satu persatu murid murid disana mulai memperkenalkan diri dan kini sampailah pada pemuda yang tadi berdiri didepan kelas dengan tenang, pemuda berambut silver tepatnya.
"Namaku Naruto." Singkat dan padat, perkenalan dari bocah bernama Naruto tersebut sukses membuat seluruh kelas menatapnya dengan tatapan bingung, Iruka nampak menatap tajam kearah Naruto dia memang tahu siapa bocah ini, bocah yang terkenal dengan sebutan Jelmaan Iblis Petir. "Bisa kau perjelas seperti teman temanmu Naruto." Naruto mengangguk dan kembali berdiri dari tempatnya duduk tadi.
"Namaku Naruto, hal yang kusukai bukan urusan kalian begitu pula hal yang tidak kusukai, hobiku akan terjawab seiring berjalannya waktu dan cita cita atau tepatnya keinginan dan ambisiku adalah membersihkan nama baikku." Iruka nampak membuang nafasnya cukup panjang sedangkan seluruh kelas kini nampak sweatdrop berjama'ah akibat perkenalan Naruto yang sama saja dengan perkenalan awal, namun tidak dengan dua bocah yang memperkenalkan diri mereka sebagai Namikaze Naruko dan Menma.
"Baiklah, selanjutnya." Seorang bocah berambut biru dongker dengan pakaian yang memiliki lambang clan Uchiha berdiri, dia memang mengambil posisi disamping kanan Naruto yang memang Naruto berada dipojok kiri paling belakang, dia nampak menarik nafas pelan seraya memandang kearah Iruka dengan tatapan datar.
"Namaku Uchiha Sasuke, hal yang kusukai adalah hal yang tidak kusukai begitu pula sebaliknya, hobiku bukan urusan kalian dan cita citaku atau tepatnya ambisiku adalah menemui seseorang dan menanyakan sebuah kebenaran." Iruka kembali menatap bocah bernama Sasuke Uchiha tersebut dengan tatapan yang kini berubah menjadi sedikit datar, ya dia tahu Clan Uchiha dibantai selama satu malam oleh kakak dari bocah ini dan hanya menyisakan dia serta Uchiha Shisui.
Naruto yang mendengar ucapan dari Sasuke nampak menatapnya datar begitu pula dengan Sasuke, sedetik berikutnya tatapan mereka berdua berubah menjadi tajam dengan seringai mereka masing masing. Perkenalan kembali berlangsung, dan setelah hal tersebut selesai pelajaran dimulai dengan berbagai teori yang membuat hampir beberapa murid disana TERTIDUR.
SKIP
Pembelajaran diAkademi Konoha telah selesai, seluruh murid disana telah berhamburan keluar dari dalam kelas begitu pula dengan Naruto dan kedua sahabatnya, mereka bertiga nampak berjalan santai dengan beberapa kali canda tawa mereka lalui, namun itu semua terhenti saat seorang pemuda berambut biru dongker bernama Uchiha Sasuke nampak tengah duduk sendiri ditepi sungai.
Naruto yang melihatnya pun berhenti begitu pula dengan kedua temannya ini. "Uchiha Sasuke bukan?" Menma berucap atau tepatnya bertanya pada Naruto, Naruto yang mendengarnya pun mengangguk membenarkan pertanyaan dari Menma barusan, Naruko yang melihatnya pun hanya memasang wajah bingungnya, namun tak disangka jika Naruto berjalan menuju kearah bocah Uchiha tersebut.
"Uchiha Sasuke." Bocah bernama Sasuke tersebut mengalihkan perhatiannya, menatap kearah bocah berambut jabrik berwarna silver yang tengah menatap datar kearahnya, dia pun juga menemukan dua orang lain yang sangatlah dia kenali, Namikaze Naruko dan Menma, dia tahu dan sangat tahu jika ketiga bocah dengan latar belakang yang berbeda ini memang terlihat sering bersama, namun dia tak tahu kemana perginya ketiga bocah ini.
Naruto berjalan semakin mendekat kearah Uchiha muda tersebut, dia pun duduk disisi kiri Sasuke dan berusaha mengambil posisi yang menurutnya nyaman seraya memandang kearah depan kearah sungai yang mengalir tenang didepan mereka, Menma dan Naruko yang tak begitu mengerti maksud Naruto saat ini lebih memilih diam dan ikut duduk dikiri Naruto.
"Suasana yang tenang, mungkin aku mulai tahu kenapa kau lebih memilih menyendiri dimanapun kau berada." Sasuke nampak tak menghiraukan penuturan bocah dengan mata yang hanya terbuka satu tersebut, namun didalam hati Uchiha ini dia merasa tertarik akan pembicaraan yang sudah mulai terjadi antaranya dan Naruto.
Sasuke tahu seperti apa latar belakang pemuda disampingnya ini, dia hampir sama dengannya sendiri walaupun dia memiliki dua orang sahabat yang selalu bersamanya, dan Sasuke ingin itu. Naruko yang melihat Sasuke hanya terdiam sedikit memasang wajah kesalnya seraya melayangkan tatapan tajamnya pada pemuda Uchiha yang tengah menatap datar kearah depannya, namun hal itu terhenti saat Naruto mulai angkat bicara lagi.
"Bisakah kita berteman?" Menma dan Naruko sedikit tersentak kaget mendengar ucapan pemuda silver ini, Sasuke yang mendengarnya hanya mengalihkan pandangannya kearah Naruto dengan tatapan datar walau memang inilah yang dia inginkan, teman ya teman dia tak ingin jika sepanjang hidupnya dia hanya dapat bersama Shisui yang notabenya adalah Anbu tersibuk yang pernah ada, ya walau hanya menjaga Sandaime Hokage.
"Hn" Ucapan ambigu itu saja yang keluar dari mulut Uchiha muda ini, Naruto hanya tersenyum mendengar ucapan Sasuke, dia tahu jika Sasuke menjawab 'ya' untuk pertanyaannya barusan, Naruto kembali mengalihkan pandanganya kearah sungai yang memantulkan cahaya matahari senja ini, dia sangat suka warna dan kehangatan ini.
Naruko dan Menma nampak mulai mengerti akan kejadian ini, mereka mengenal betul dan sangat tahu kepribadian pemuda tanpa marga ini, dia tak ingin melihat orang sendiri walaupun itu adalah kebiasaan dan hobi yang dia miliki, Naruko dan Menma hanya dapat memberi dukungan pada bocah yang sangat ingin membersihkan nama baiknya ini.
Namun perhatian mereka teralihkan tatkala sebuah benda mengapung didepan mereka, mereka berempat tahu apa itu dan dengan gerakan cepat keempat bocah ini berlari diatas air sungai yang jernih sedalam tujuh puluh centimeter ini tanpa adanya sebuah kesulitan sedikitpun, dari mereka berempat hanya Sasukelah yang nampak terkejut saat melihat ketiga teman barunya ini dapat melakukan hal yang sama dengannya.
Menmalah yang pertama kali tiba ditubuh tak bernyawa yang masih terus melaju pelan akibat aliran sungai ini, dia membalik tubuh tersebut dan sebuah Hittae atte berlambang daun yang menandakan jikalau mayat ini adalah salah satu Shinobi Konoha, mereka berempat saling berpandangan satu sama lain sedetik berikutnya mereka berempat mengangguk cepat dan langsung berlari dengan kecepatan tinggi melawan arus sungai.
Sudah hampir lima menit keempat bocah ini berlari tanpa henti dengan kesiagaan yang terus mereka pasang, keempat pasang mata mereka tak henti hentinya mengeksplore daerah sekitar arus sungai guna mencari sesuatu hal yang mencurigakan, namun nihil, mereka tak menemukan satu pun hal mencurigakan, mereka berhenti seketika.
"Bagaimana menurut kalian?" Naruto angkat bicara, bertanya pada ketiga temannya ini untuk mulai meminta pendapat akan hal ini, mata kiri Naruto bergantian menatap ketiga bocah yang dia panggil sahabat itu bergantian. "Kita berpencar, satu orang membuat satu bunshin dan kita menuju delapan penjuru mata angin, namun tubuh asli kita menuju arah Barat, Timur, Utara, dan Selatan."
Naruto, Menma, dan Naruko mengangguk mengerti mendengar ucapan Sasuke barusan dengan segera Naruto, Menma, dan Naruko membuat satu KageBunshin sedangkan Sasuke membuat satu Bunshin biasa, mereka saling berpandangan satu sama lain. "Jika salah satu dari kita bertemu dengan musuh buat sebuah ledakan besar dan walau aku baru saja kenal denganmu Sasuke aku tahu jika kau dapat melakukan hal itu."
Sasuke hanya mendecih mendengarnya namun tak dapat dipungkiri lagi jikalau senyum kecil mengembang diwajahnya serta rasa senang yang sangat besar tengah merambah hatinya. "Jangan remehkan aku, Uban." Naruko dan Menma tertawa cukup keras mendengar ucapan Sasuke barusan, sedangkan Naruto dia hanya memasang wajah datar dengan sedikit tambahan bumbu kesal diwajahnya.
"Lebih baik kita bergerak, aku akan menuju Utara melawan arus sungai ini, Sasuke menuju arah Timur jika aku tak salah disana kau akan menemukan padang rumput yang cukup luas, Naruko-chan kau masuk kedalam hutan diarah Barat sensor milikmu sangat menguntungkan didalam sana, Menma kau kembali ikuti arus sungai ini bukan hal yang mustahil jikalau Shinobi yang melakukan hal pada mayat tadi mengikuti arus sungai ini untuk menghilangkan jejak, aku tahu jika mereka bukan orang bodoh."
Sasuke nampak tertegun mendengar ucapan Naruto barusan, dia tak menyangka pemuda yang saat berkenalan diakademi nampak tak perduli akan hal hal yang ada dapat membuat stategi secepat ini.
"Untuk para bunshin kalian ambil arah berlawanan, bunshinku akan mengambil jalur Barat Daya, bunshin Sasuke ambil arah Barat Laut, bunshin Menma menuju Timur laut dan milik Naruko-chan ambil Tenggara, ulur waktu sebisa mungkin namun tetap kalian buat sebuah sinyal yang dapat kita ketahui dan jangan sampai kalah." Semuanya mengangguk mendengar ucapan Naruto barusan, dan sedetik berikutnya mereka segera melesat tanpa menunggu waktu lebih lama.
Kantor Hokage...
Sang Raja Siang sudah mulai menghilang diufuk Barat, puluhan lampu lampu diKonoha sudah mulai menerangi malam diKonoha, namun ketenangan ini berbeda dengan apa yang terjadi diKantor Hokage, Kushina Uzumaki Istri sang Yondaime Hokage tengah mencak mencak didepan meja Kantor Minato karena dia belum menemui Naruko yang sedari tadi belum pulang dari Akademi, Minato, Hiruzen dan Jiraiya yang baru saja datang berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkannya.
Namun hal itu sangat sangat sulit, bahkan wanita yang dikenal dengan sebutan Akai Chiso no Habannero saat Perang Dunia Shinobi ke-Tiga ini tetap bersikeras untuk mencari Naruko bahkan salah satu Anbu yang berusaha menghadangnya atas perintah Minato barus menerima jikalau wajah dibalik topengnya merasakan pukulan ibu beranak satu ini, terlebih lagi dia sudah masuk kedalam moda Habanneronya.
"Kushina-chan, tenanglah aku sudah memerintahkan anbuku dan anbu Sandaime-sama untuk mencari Naruko-chan." Dengan wajah yang terlihat antara takut dan sedih Minato berusaha untuk memberi pengertian pada istri tercintanya, ya walau memang didalam hatinya dia sangat ingin mencari Naruko yang sedari tadi dia susul dengan Hiraishinnya namun tak berfungsi entah karena apa.
BRAK
"Bagaimana aku tenang Kiiroi Senko, bahkan jutsu kuningmu itu tak berfungsi bodoh!" Kushina nampak benar benar dalam kondisi yang buruk, dia bahkan menggebrak meja Hokage dengan keras, Hiruzen bahkan harus terbatuk batuk karena terkejut saat dia menghisap rokoknya, wajah Minato cukup terkejut melihat kemarahan istri tercintanya ini, namun hal itu tak berlangsung lama saat seorang anbu muncul.
"Lapor Yondaime-sama, Naruko-hime ditemukan dalam keadaan pingsan saat dibawa oleh Uchiha Sasuke, Menma, dan Naruto." Wajah Kushina dan Minato serta Jiraiya dan Hiruzen yang baru saja tersenyum kini digantikan oleh wajah yang terkejut bukan main, fikiran negative mulai terngiang dikepala mereka, dan dengan cepat keempatnya segera menghilang dengan Shunshin serta Hiraishin.
Beberapa menit yang lalu didalam Hutan Konoha.
Namikaze Naruko kini tengah menyusuri hutan Konoha dengan sangat berhati hati, sensor miliknya baru saja mendeteksi chakra yang berjumlah puluhan disalah satu titik didalam hutan ini, Naruko kini tengah berusaha menekan chakra miliknya sampai titik terendah agar tak ada satu pun yang mengetahuinya walau memang Naruko sadar jikalau hal itu tak dapat mengelabuhi para Shinobi yang dia rasakan jikalau kapasitas chakra mereka setara dengan Chunnin dan Jounin.
Cukup lama Naruko melompati setiap cabang pohon yang dia tapaki, dan saat ini Naruko sudah sampai lima puluh tujuh meter dibelakang para Shinobi yang berada didepannya, cukup tersentak kaget memang saat melihat Shinobi yang berjumlah dua puluh enam saat dia hitung, dia ingin memberikan sinyal pada teman temanya namun dia bingung jutsu apa yang akan dia gunakan.
Namun pemikiran Naruko harus terhenti saat sebuah Kunai melesat kearahnya, beruntung saat detik terakhir Naruko sempat menghindari Kunai yang mengincar kepalanya, saat kedua matanya menatap kearah Shinobi dibawahnya dia melihat sebuah simbol hittae atte yang dia kenali. "Iwagakure." Berguman pelan, ya pelan karena sebuah kunai baru saja melesat kearahnya lagi namun bedanya kini sebuah kertas peledak menggantung dipangkalnya.
BUUMMM
Sebuah ledakan tercipta, beruntung Naruko sempat menggantikan dirinya dengan tehnik Kawarimi yang sudah dia kuasai, para Shinobi Iwa yang melihatnya bukannya terkejut namun nampak tersenyum senang, mereka tahu jikalau Naruko saat ini tengah bersembunyi disalah satu pohon yang berjarak tujuh puluh meter dari mereka. Mereka menyebar cepat guna menyergap Naruko dari berbagai sisi.
Disisi lain, Naruko saat ini tengah mengambil dua buah kunai dari kantung ninja miliknya dan menggenggamnya dikedua tangan dan hal itu memang membantunya karena sebuah Katana baru saja mengincar kepalanya beruntung Taijutsu miliknya sudah dia latih sedemikian rupa dan serangan lemah dari salah satu Chunnin Iwa barusan dapat dia tepis dengan cukup sulit, ya cukup sulit karena tubuh kekar dan tenaga besar tersebut membuatnya harus mengeluarkan energi ekstra untuk sekedar menahan serangan.
Namun baru saja Naruko ingin menjauh dua buah shuriken melesat cepat kearahnya, dengan gerakan yang halus Naruko menghindarinya, dia tak ingin membuang buang tenaga untuk menghalaunya, berhasil menghindari Naruko pun melompat menjauh seraya melemparkan dua buah kunai yang tadi dia pegang kearah dua Jounin yang baru saja ingin menyerangnya, namun hal tersebut dapat dengan mudah mereka hindari sampai mereka sadar...
BUUUMMMM
Ledakan yang cukup besar tercipta saat kunai yang digantung dengan dua buah kertas peledak yang memang Naruko pasang saat bersembunyi tadi meledak keras, dua Jounin Iwa yang menjadi sasaran serangan Naruko harus merelakan tubuh mereka terluka saat kebodohan mereka yang meremehkan Target mereka, tunggu? Target?
"Tak disangka target yang akan kita tuju menyerahkan dirinya sendiri kemari." Naruko yang berdiri disalah satu cabang pohon nampak mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari Shinobi yang dia ketahui berpangkat Jounin tersebut, tubuh mungil Naruko cukup bergetar saat merasakan aura intimidasi dari kedua puluh empat Shinobi Iwa yang berjarak sekitar dua puluh meter darinya.
"Apa sebenarnya tujuan kalian." Setelah mengumpulkan keberanianya Naruko membalas ucapan para Shinobi Iwa tadi, dia memang tak mengetahui maksud dari perkataan target itu, atau memang?
"Kami diperintahkan untuk menyandra Putri Yondaime Hokage Namikaze Minato! Dia adalah musuh besar dari Tsuchikage karena dia Iwagakure harus kehilangan sepuluh ribu Shinobi berbakat saat perang dunia!" Naruko nampak tersentak kaget mendengar ucapan dari Jounin Iwa tersebut, ya memang Naruko tahu jikalau ayahnya memiliki banyak sekali musuh dari Iwagakure namun dia tak mengetahui jika Shinobi Iwa akan melakukan hal sejauh ini.
"Oleh karena itu kau harus kami tangkap, SERANG DIA!" Atas teriakan dari sang pemimpin hampir dua puluh Chunnin dan Jounin Iwa yang berada disana melesat kearah Naruko, Naruko yang melihat hal tersebut nampak terkejut bukan main, dia masih dalam tahap pembelajaran bahkan belum menjadi seorang Genin Konoha namun dia harus melawan hampir dua puluh Chunnin dan Jounin yang memiliki niat membunuh yang besar padanya.
Tak ingin jika dia menyerah sampai disini Naruko pun sesegera mungkin merapalkan handsealnya guna sedikit menghadang pergerakan musuhnya, setelah selesai Naruko pun melemparkan dua Shuriken miliknya yang baru saja dia ambil dari kantong ninja miliknya..
Shuriken KageBunshin no Jutsu
Dua Shuriken tadi bertransformasi menjadi puluhan dan kini mulai menyerang kearah para Shinobi Iwa yang mulai berusaha menepis Shuriken Shuriken tersebut, walau memang chakra milik Naruko sangatlah besar namun tubuhnya masih tetap seorang bocah berumur tujuh tahun, chakranya terkuras cukup banyak saat ini, namun dia tak menyerah dia kembali merapalkan handseal miliknya...
Fuuton : Kaze no Yaiba
Ya memang menguntungkan mengeluarkan jutsu dengan ruang lingkup serangan yang besar untuk melawan musuh yang berjumlah cukup banyak, dan hal itu Naruko sangatlah mengerti kini puluhan belati angin tercipta disekitar tubuh Naruko dan mulai melesat kearah Shinobi Iwa yang baru saja selesai menghalau Shuriken milik Naruko, namun mereka tidaklah bodoh untuk merelakan tubuh mereka tersayat oleh serangan Naruko.
Doton : Doryuheki
Hampir sepuluh dinding tanah tercipta hasil dari jutsu berbasis tanah yang dikeluarkan oleh para Shinobi Iwa barusan alhasil belati angin milik Naruko dapat tertahan dengan mudah, namun itulah yang diinginkan oleh gadis berambut merah darah ini, dia pergi menjauh berusaha untuk mencapai pinggiran sungai agar ketiga temannya dapat menemui dan mambantunya, dia mulai melompat cepat dengan chakra yang dia tambahkan dengan komposisi banyak pada kedua kakinya.
Merasa jika belati angin milik Naruko sudah terhenti dinding tanah tadi kembali masuk kedalam bumi, namun para Shinobi Iwa disana sangat kesal saat mengetahui jikalau buruannya menghilang dan tanpa buang buang waktu lagi mereka kembali melesat mengejar Naruko dengan arah yang ditunjukkan oleh salah satu Shinobi sensor dalam kumpulan Shinobi Iwa disana.
Tak butuh waktu lama para Shinobi Iwa menyusul Naruko yang masih berusaha untuk kabur, namun hal itu tak berlangsung lama karena sebuah tendangan keras yang bersarang dipinggang kiri Naruko alhasil Naruko harus menggerang kesakitan ditambah lagi saat tubuhnya yang terlempar akibat tendangan salah satu Shinobi Iwa barusan menabrak pohon yang cukup besar.
Beberapa tetes air liur dimuntahkan oleh Naruko saat kedua kakinya sudah menapak tanah walau memang tubuhnya harus terhuyung beberapa saat akibat efek tabrakannya dengan pohon barusan, dengan sedikit bersusah payah Naruko mengedarkan pandangannya menatap sekitarnya dan karena apa yang dia lakukan barusan Naruko harus membulatkan matanya saat melihat disekitarnya telah menunggu para Shinobi Iwa yang sudah bersiap dengan senjata masing masing.
Naruko kini berusaha untuk bangkit kembali dengan sedikit tertatih karena rasa sakit yang masih menjalar pada beberapa bagian tubuhnya para Shinobi Iwa yang melihat kesempatan pun tak tinggal diam, beberapa dari mereka melesat kearah Naruko dengan kunai dan tanto yang akan menjadi alat untuk menyerang Naruko, gadis berambut merah tersebut pun nampak tak tinggal diam walaupun dia masih merasakan sakit ditubuhnya namun dia tak ingin menyerah begitu saja.
Naruko kembali mengambil beberapa sebuah kunai yang berada dikantong ninjanya, dan suara berdenting pun mulai terdengar tatkala Naruko mulai menahan dan menyerang pada para Shinobi Iwa tersebut, walaupun dia adalah salah satu bocah berbakat namun jika dia melawan lima Shinobi yang setara dengan Chunnin dan Jounin dia pastilah kuwalahan.
Dan benar saja, dia kini sudah terlempar jauh akibat dari sebuah tendangan keras yang bersarang pada perutnya, para Shinobi Iwa disana pun nampak tertawa melihat kejadian tersebut tepatnya melihat Naruko yang merintih kesakitan karena mendapat serangan dari salah satu dari mereka. Mereka pun mulai berjalan pelan kearah Naruko yang nampak kembali berusaha bangkit, namun...
AWAS
BUUUMMMM
Sebuah teriakan keras dari beberapa Shinobi Iwa berhasil mengintruksi pada temannya yang akan menyerang Naruko barusan, dan karena hal tersebutlah para Shinobi Iwa tadi berhasil selamat dari serangan bola api besar yang mengarah kearah mereka berlima dan tak berapa lama muncul tiga orang bocah yang berdiri didepan Naruko yang tengah kembali terjatuh karena tak kuat untuk bengkit kembali.
"Sialan, kita tak dapat melawan mereka level mereka berbeda dengan kita." Menma nampak menggeram marah karena apa yang dia lihat didepannya saat ini, Naruto dan Sasuke hanya memandang datar kearah para Shinobi Iwa disana walaupun memang dalam hati mereka berdua nampak menggeram marah ditambah lagi saat mereka melihat kondisi Naruko yang tubuhnya nampak dipenuhi oleh darah akibat sayatan yang diterimanya.
"Yo-yokkata, ka-kalian datang." Dan setelah ucapan tersebut terlontar dari mulut mungil Naruko dia pun mulai menutup kedua matanya dan jatuh pingsan ditempat tadi dia tergeletak, ketiga sahabatnya yang melihat kejadian itu menggeram marah seraya melayangkan tatapan membunuh pada para Shinobi Iwa yang hanya tertawa melihat apa yang terjadi saat ini.
"Oy bocah, karena kalian telah melihat adanya kami disini makan dari itu kalian harus mati!" Salah satu Shinobi Iwa berteriak keras, dan setelah selesainya teriakan tersebut seluruh penyusup dari Iwa yang ada disana melesat cepat kearah dimana ketiga bocah tadi berdiri, ketiga bocah tersebut tak tinggal diam mereka pun segera merapalkan handseal mereka dengan cepat.
Katon : Goryuuka no Jutsu
Katon : Gokakyuu no Jutsu
Fuuton : Daitoppa
Menma yang melihat Naruto dan Sasuke mengeluarkan jutsu katon mereka pun memberikan bantuan dengan jutsu angin yang memang dia kuasai, sebuah dorongan angin yang sangat kuat berhasil membuat naga api milik Naruto dan bola api milik Sasuke bergabung sempurna dan karena hal tersebutlah tercipta seekor naga berbalut api sepanjang lima belas meter yang dengan cepat mengarah kepara Shinobi Iwa yang tengah terkejut melihat jutsu tersebut.
Mereka pun dengan bersamaan membuat puluhan dinding tanah guna menahan jutsu katon yang cukup besar itu, namun tak mereka sadari jikalau ketiga pemuda Konoha yang mengeluarkan jutsu barusan berlari menjauh dengan Naruko yang berada dipundak Menma, Naruto berdiri dibagian paling belakang sedangkan Sasuke dia menujukkan jalan guna untuk kabur dari tempat ini.
Para Shinobi Iwa yang sibuk menahan jutsu gabungan yang baru saja terhenti nampak kesal karena mereka baru saja dibodohi oleh tiga orang bocah yang memang belum menggunakan hittae atte, mereka pun memilih untuk segera pergi karena daerah ini sudah mulai menggelap mereka tak ingin ambil resiko jikalau ketiga bocah tersebut memberitahukan pada Kage mereka jikalau ada penyusup dari Iwagakure.
Ketiga bocah tadi telah sampai dirumah sakit Konoha, dan tanpa membuang waktu lagi Menma segera menyerahkan Naruko yang memang sedari tadi berada dipungungnya untuk segera menerima pertolongan pertama pada putri tunggal Yondaime Hokage tersebut, mereka bertiga pun mengikuti Suster Konoha yang membawa Naruko menuju salah satu kamar dirumah sakit ini.
Setelah Naruko masuk kedalam ruangan ketiganya lebih memilih untuk menunggunya diluar, mereka sangat merasa bersalah saat ini karena mereka tak dapat melindungi gadis tersebut, terlebih Naruto dia yang memerintahkan pada Naruko untuk pergi kedalam hutan karena kemampuan Sensor miliknya yang cukup bagus, dan ketakutan mereka bertambah saat dua buah kepulan asap serta sebuah kilatan kuning muncul didepan mereka.
Mata ketiga bocah ini membulat lebar saat mengetahui siapa yang datang barusan, mereka menunduk dalam terlebih Naruto tatapan matanya nampak sangat sangat takut saat ini bahkan untuk menatap salah satu bagian tubuh dari keempat orang yang baru saja muncul ini dia tak berani.
"Naruto-kun, Menma-kun, Sasuke-kun, bagaimana keadaan Naruko saat ini." Sarutobi Hiruzen, dialah orang yang pertama kali mengeluarkan suaranya saat melihat ketiga bocah didepannya ini menunduk, Kushina dan Minato hanya terdiam melihat ketiga bocah ini, Jiraiya yang berada dibagian paling belakang sama dengan Minato dan Kushina, mereka berempat membutuhkan informasi dari ketiga bocah ini.
"Ma-maafkan saya Yondaime-sama, Sandaime-sama, Kushina-sama, dan Tuan, Naruko pingsan saat melawan dua puluh Shinobi Iwa yang menyusup dari arah Timur Konoha tepatnya diHutan bagian Timur." Mata keempat orang dewasa yang mendengar ucapan dari Menma barusan sangatlah terkejut, Shinobi Iwa.
"A-Apa kau bercanda Menma!" Menma menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan yang lebih tepat dikatakan teriakan dari Hiruzen karena terkejut mendengar penuturan Menma barusan, Kushina dan Minato nampak menuju pintu yang salah satu bagiannya terbuat dari kaca dan menatap kearah dalam, mereka saat ini menemui Naruko yang tengah tertidur atau tepatnya pingsan diatas ranjang dan baru saja menerima sebuah suntikan dari Dokter disana.
"Kami tidak berbohong Hokage-Jiji, dan sebelumnya untuk Yondaime-sama dan Kushina-sama saya mohon maaf yang sebesar besarnya karena tak sanggup menjaga putri anda, sebenarnya saya yang memberikan pengarahan untuk menyebar dan mencari tahu dimana letak para musuh yang membunuh salah satu Shinobi Konoha dan membuangnya disungai Timur Konoha, saya memerintahkan pada Naruko-chan untuk pergi kearah Hutan karena kemampuan sensornya yang cukup baik, namun..."
"Tunggu Naruto!" Kushina berucap dengan nada yang cukup keras, dan karena hal itulah Naruto segera menundukkan kepalanya dalam dalam karena mendengar ucapan Kushina yang cukup keras barusan, Minato bahkan menatap tak percaya pada bocah silver didepanya ini, bahkan Hiruzen dan Jiraiya pun juga sama halnya dengan Minato dan Kushina.
"Ka-Kau bilang jika Naruko-chan memiliki kemampuan sensor?!" Naruto mengangguk pelan, Menma dan Sasuke hanya diam sedari tadi dan memilih untuk mendengarkan percakapan ini. "H-Ha'i, Kushina-sama Naruko-chan memiliki kemampuan sensor yang cukup baik bahkan dia dapat mendeteksi keberadaan musuh yang berjarak sekitar dua ratus sampai tiga ratus meter dengan pusat dirinya."
Kini keempat orang dewasa yang ada disana nampak terkejut mendengar penjelasan Naruto barusan.
"Kami bahkan tidak tahu jika Naruko-chan memiliki kemampuan sensor, dia tak pernah mengatakannya pada kami berdua." Minatolah yang berujar sedemikian rupa, ucapannya nampak sangat sangat tenang bahkan dia menyelipkan sedikit senyum kecil didalam ucapannya tadi, namun hal yang lebih mengejutkan lagi adalah disaat Minato menepuk kepala Naruto dan Menma dengan lebut.
"Anbu!" Seorang anbu muncul saat mendengar Minato memanggilnya. "Perintahkan satu batalion Anbu khusus untuk mengejar para penyusup Iwa, bawa mereka kemari hidup hidup dan jika memang kalian dalam posisi sulit bunuh mereka." Anbu tersebut mengangguk patuh akan perintah yang dilayangkan Minato padanya, namun tak sampai disitu saja Hiruzen pun juga memanggil anbu kepercayaannya, Taka.
"Bantu mereka, gunakan Genjutsu untuk melemahkan mereka." Anbu berkode name Taka tersebut pun menghilang setelah mengangguk menerima tugas dari Sandaime Hokage tersebut. Naruto dan Menma masih dalam posisi bingung karena apa yang dilakukan oleh Minato pada mereka berdua, begitu pula dengan Sasuke walau memang dia masih tetap memasang wajah stoic miliknya namun didalam hatinya dia tengah memfikirkan apa yang terjadi barusan.
"Kalian tenanglah, aku dan Minato tak marah pada kalian bertiga tapi bagi para murid Akademi seperti kalian menghindar dari para penyusup tanpa ada nyawa yang melayang adalah suatu hal yang hebat." Ketiga bocah tersebut nampak membulatkan matanya mendengar penuturan dari Kushina barusan, bahkan Jiraiya dan Hiruzen hanya tersenyum seraya menatap kearah mereka bertiga.
Namun perhatian mereka teralihkan saat...
"Naruko-hime telah sadar"
.
.
.
.
.
To Be Continue
Yo, chapter dua fic pertama ane telah up mungkin pada akhir ceritanya sedikit buruk. Maaf jika ada beberapa kata yang mungkin salah pengetikan ataupun beberapa bagian yang terlihat cukup aneh hehe.
Terima Kasih telah membaca karya saya, dan jangan lupa meninggalkan jejak berupa Review.
.
.
.
.
~.~Magnetism Out~.~
