Disclaimer :

BTS belongs to ARMY, Big Hit, God and their parents

But this story is MINE! :D

Genre : Romance, Humor, Friendship

.

Rate : T (?)

.

Pair : Vhope/TaeSeok slight KookMin and NamSeok

Character(s) : Kim Taehyung, Jung Hoseok, Min Yoongi, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Jeon Jungkook, Park Jimin

Warning : OOC, Typo(s), YAOI!

.

Don't like, Don't read!

.

.

Be Mine?

.

.

.

Everybody has a weakness.

And you just happen to be mine

.

.

.

Chapter 2

"Ehem." Jimin berdehem, mencoba menarik perhatian sahabatnya yang kini masih memakan sepotong roti isi dengan santainya. "Hei! Kau ini kalau makan lama sekali! Mulutku sudah gatal ingin bertanya!"

Taehyung menatapnya dengan tatapan masa bodoh, kemudian menyodorkan kotak bekalnya yang masih berisi sepotong roti isi pada Jimin. "Kau mau?"

"Aku tidak lapar."

Taehyung mengangkat kedua bahunya. "Baiklah. Hei, Jungkook, kau mau?" kali ini ia menawarkannya pada Jungkook yang sedari tadi bersandar pada jendela kelas Taehyung.

"Tidak. Aku sudah makan, hyung."

"Baiklah. Kalau begitu aku habiskan saja." masih dengan wajah masa bodohnya ia kembali meneruskan kegiatan makan siangnya, hingga Jimin dengan paksa merebut potongan terakhir roti isi Taehyung.

"Kim Taehyung! Cepat ceritakan tentang apa yang terjadi di toko kue itu atau aku akan membuang roti isimu ini!" Jimin berteriak, membuat seisi kelas memandangnya dengan tatapan aneh.

Taehyung menghela napas. "Jangan berteriak Jimin. Ingat ini bukan kelasmu."

"Ya, kalau begitu cepatlah bercerita! Kookie, ayo bantu aku agar Taehyung mau berceritaaa…"

Jungkook kemudian menatap Taehyung, "Ayolah, hyung. Telingaku juga sudah sakit mendengar rengekan Jimin."

"Yah! Aku tidak merengek! Dan ingat aku ini masih hyungmu!" Jimin melempar salah satu buku Taehyung pada Jungkook yang tentu saja dengan mudahnya dapat ia hindari.

Kembali satu helaan napas terdengar. "Kau ini tidak sabaran ya? Baik, baik. Aku akan bercerita dasar kau bajingan kecil." Taehyung menyentil dahi Jimin, membuat si empunya meringis pelan.

"Hei, kau tidak perlu melakukannya." Jungkook bersuara, terlihat sedikit tidak senang.

Taehyung menyeringai, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti kekasih kecilmu ini, Jungkook-ah~"

Jungkook hendak membuka mulutnya kembali, namun sudah lebih dulu dipotong oleh Jimin. "Sudahlaaah. Langsung saja, Taeee~"

Taehyung kembali menghela napas, menatap Jimin cukup lama, sebelum ia akhirnya bersuara, "Cinta itu bisa datang dari mana saja dan kapan saja bukan?"

"Iya, tentu saja. Lalu?"

"Jadi, sewaktu kita ke toko itu untuk yang pertama kalinya, kalian ingat kan salah satu pegawai yang menyapa kita? Yang tersenyum dengan sangat aah aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kat─aww! Ya, Tuhan! Park Jimin, apa kau sudah gila?!" Taehyung mengelus pipinya yang kembali memerah, sebuah tamparan baru saja mendarat di sana.

"Wajahmu itu sangatlah mesum dan aku tidak tahan melihatnya, jadi tolong hentikan sebelum aku muntah." ucap Jimin yang sudah bersiap menampar pipi Taehyung lagi.

"Ya memangnya kenapa?! Yang penting aku mesum pada Hoseok-hyung, bukan padamu!" Taehyung berteriak murka, tak terima dirinya di tampar untuk yang kedua kalinya di hari yang sama.

"Tapi tetap saja kau tidak bo─"

"Tenanglah, hyung." Jungkook kini telah berdiri di belakang Jimin, menahan kedua bahunya dan mengelusnya sesekali agar menenangkannya. "Silahkan dilanjutkan, Tae hyung."

"Ehem, jadi, ya kalian tahu kan jika sedang jatuh cinta, kalian pasti bingung jika ada yang bertanya, 'Bagaimana bisa?' atau 'Kenapa harus dia? Bukankah ada yang lain yang lebih baik?', dan itulah yang saat ini sedang aku alami. Tapi aku rasa, aku sangat menyukai senyumannya. Ya, aku sangat menyukainya!" jelas Taehyung dengan mata berbinar, menatap secara bergantian pada Jimin dan Jungkook.

"Jadi intinya kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang bernama umm siapa tadi?"

"Hoseok-hyung, Jimin. Hoseok yang sebentar lagi akan menjadi Kim Hoseok."

Jimin menatap Taehyung datar ketika mendengarnya. "Kau jatuh cinta pada Hoseok-hyung karena senyumannya. Begitu?"

"Yah, bukan hanya itu saja. Kau ingat kan jika pada saat kita ke sana, ada seorang pegawai yang mengejar kita untuk mengembalikan uang yang ternyata kelebihan."

"Ah, karena si penjaga kasirnya yang katanya waktu itu sedang mengantuk dan dia salah hitung, kan?" tanya Jungkook mencoba meningatnya.

"Iya! Kau ingat kan bagaimana wajah pegawai itu? Pegawai itulah yang bernama Hoseok-hyung! Ah, dia begitu lucu dan menggemaskan ketika membungkuk untuk meminta maaf padaku." kenang Taehyung seraya tersenyum. "Dan dia bahkan memberikanku sepotong cupcake sebagai permintaan maaf. Ah, dia benar-benar malaikat."

Jimin terlihat sedang berpikir, mencoba mengingat kejadian yang terjadi sekitar seminggu yang lalu itu. "Hoseok-hyung itu yang ketika tersenyum bibirnya berbentuk hati itu kan?"

Pertanyaan Jimin sama sekali tak di indahkan Taehyung. Ia masih saja berceloteh tentang betapa sempurnanya sosok Hoseok yang sangat ia sukai itu.

"Aku juga menyukai wangi tubuhnya. Ketika aku mencium wanginya, rasanya kupu-kupu diperutku semakin bertambah. Hah…aku penasaran bagaimana ya wangi tempat tidur Hoseok-hyung? Aku jadi ingin menidurinya." ucap Taehyung seraya mengingat kembali wangi tubuh Hoseok.

Jimin menatap Taehyung malas, kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan Taehyung.

"Dan jangan lupak─hei, kau mau kemana?!"

Jimin menoleh, "Aku harus bicara pada Hoseok-hyung dan bilang jika ia harus segera pindah dari toko itu atau ia akan kehilangan keperjakaannya sebentar lagi."

Taehyung ikut berdiri, mengikuti Jimin dan Jungkook─yang juga ikut pergi mengikuti Jimin─untuk menarik tangan Jimin agar membuatnya berhenti.

"Oh, ayolah. Aku tidak akan melakukannya, Jimin-ah." ujarnya memelas. "Dan aku pikir kau tadi bilang kalau kau akan membantuku karena kita ini teman. Benar kan?"

Jimin menatap Taehyung cukup lama, memukul kepalanya cukup keras setelahnya.

"Hei, apa yang ka─"

"Sepulang sekolah aku akan pergi ke toko itu. Sendirian. Aku akan bicara dengan Hoseok-hyung." ucap Jimin. "Dan kau, pergilah dengan Jungkook. Aku yakin Jungkook dapat membantumu." titah Jimin sebelum pergi begitu saja meninggalkan Taehyung dan Jungkook yang masih terdiam di depan pintu kelas Taehyung.

.

.

.

Park Jimin benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa sahabatnya yang terkadang lemot dan aneh itu jatuh cinta dengan begitu mudahnya? Bahkan ketika sudah banyak perempuan dan juga beberapa laki-laki di sekolah mereka yang mencoba untuk mendekatinya, ia hanya bersikap seolah tidak peduli dengan kehadiran mereka.

Ya, Kim Taehyung memanglah tampan, sehingga tidak ada yang berani mempersalahkan dirinya yang cuek seperti itu. Bahkan para penggemar rahasianya pun semakin bertambah karena bagi mereka Kim Taehyung adalah orang yang sangat keren.

'Dan si keren tolol itu kini telah jatuh cinta.' batin Jimin ketika tiba di toko kue dimana Hoseok bekerja.

KLINING

"Ah, selamat datang! Silahkan memilih kue-kue lezat yang tersedia di toko kami!" sapaan ramah itu terdengar sesaat setelah Jimin melangkahkan kakinya ke dalam toko itu, sempat terkesima ketika melihat senyuman yang sangat cerah─secerah mentari pagi─meskipun hari sudah mulai gelap di luar sana.

Jimin mengedipkan matanya beberapa kali, teringat cerita Taehyung tentang Hoseok-hyung yang terkenal dengan senyumannya. Ia pun semakin yakin ketika membaca nama yang tertera di name tag yang dipakai oleh pekerja tadi. "Ho-hoseok-hyung?"

Si pekerja dengan senyuman berbentuk hati itu sedikit kaget ketika mendengar namanya disebut, namun kembali tersenyum ketika dirinya ingat jika ia sedang mengenakan name tag sehingga itu hal yang wajar jika orang lain mengetahui namanya. "Ya. Itu namaku. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, Tuhan! Akhirnya aku bertemu denganmu, hyung!" Jimin berteriak girang, namun wajahnya seketika berubah menjadi khawatir. "Hyung, apa Tae Tae melakukan sesuatu yang buruk padamu? Apa dia membuatmu merasa tidak nyaman? Apa dia mengganggu─"

"Hei, hei, tenanglah." Hoseok terkekeh ketika melihat pemuda di depannya berbicara tanpa berhenti sedikit pun. "Dan soal pertanyaanmu tadi, apa Tae Tae yang kau maksud itu umm Kim Taehyung?"

"Ya! Ya! Dia yang aku maksud hyung!" seru Jimin. "Jadi, apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu hyung? Apa dia menyakitimu? Apa di─"

"Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap sahabatku ini, tapi yang jelas dia sudah menciumnya dan aku menganganggap itu sebagai awal yang cukup bagus bagi bocah ingusan sepertinya." ujar seorang pekerja lain yang tiba-tiba berdiri di sebelah Hoseok dengan seringaian yang tercetak jelas di wajanya.

"Yah! Min Yoongi! Bisakah kau tidak berbicara seperti itu?! Kau membuatku malu!" Hoseok memekik, memukul lengan Yoongi karena merasa malu.

Yoongi mengedikkan kedua bahunya, bersikap seolah tak peduli dengan perkataan Hoseok barusan. "Yah, begini saja ya. Aku peringatkan untuk temanmu atau siapa pun itu yang bernama Tae Tae atau semacamnya. Jika dia berani-berani mempermainkan sahabatku ini, aku tidak peduli ia masih siswa SMA atau bukan, yang pasti aku akan memukulinya habis-habisan." ucap Yoongi dengan nada suara yang mengancam, membuat Jimin bergidik ngeri. "Tapi," ucapnya kembali bersuara, "jika ia bisa membahagiakan sahabatku, aku akan menjamin keselamatan hidupnya bahkan jika ada yang berani mencampuri hubungan mereka, aku yang akan mengurus semuanya. Kau paham?"

Jimin membatu, kemudian mengangguk beberapa kali setelah Hoseok menepuk-nepuk bahunya─mencoba menyadarkannya.

"Hei, apa kau baik-baik saja? Maafkan sahabat bodohku itu. Dia memang selalu seperti itu. Dan tolong tidak usah terlalu di pikirkan. Toh, aku dan Taehyung tetap akan berteman meskipun kami tidak jadi berkencan."

Jimin menatap Hoseok, memegang kedua bahunya dengan cukup kuat. "Hoseok-hyung, aku mohon jaga Taehyung baik-baik. Dia benar-benar menyukaimu ah tidak, dia menyayangimu. Aku yakin dia serius terhadapmu. Oleh karena itu hari ini aku datang kemari untuk memastikan jika dia tidak melakukan hal yang buruk padamu."

Hoseok kembali merasa terkejut, kemudian dirinya mengelus surai kehitaman milik Jimin. "Tenanglah. Dia tidak melakukan hal yang buruk. Dia anak yang baik, jadi kau tidak perlu khawatir."

"Tapi aku hanya khawatir padamu, hyung!" teriak Jimin. "Ah, tapi aku rasa semua akan baik-baik saja. Dan soal kencan, kau tidak perlu khawatir karena aku yang akan mengurus semuanya. Hyung berikan nomor ponsel dan alamat rumahmu padaku."

"Eh? Untuk apa?"

Jimin tersenyum. "Aku akan membuat kencan kalian benar-benar sukses dan aku jamin kalian akan jadian di hari itu juga." ucap Jimin dengan sangat yakin. "Ah, dan ngomong-ngomong namaku Park Jimin. Aku adalah sahabat kecil Taehyung. Salam kenal, Hoseok-hyung."

Hoseok terkekeh, "Baiklah, Jimin-ah. Aku hanya akan memberikan nomor ponselku padamu. Untuk alamat rumah, aku rasa aku tidak perlu memberikannya padamu karena aku akan baik-baik saja. Tidak masalah bukan?"

Jimin terlihat berpikir, kemudian mengangguk sebagai jawaban. Dan setelahnya ia telah mendapatkan nomor Hoseok di ponselnya, membungkuk beberapa kali sebelum meninggalkan toko kue itu. Terlihat berlari seraya menelpon seseorang di seberang sana.

"Kookie, kau harus benar-benar mengurus Tae ya, mengerti?"

Dan kemudian hanya dibalas dengan satu kata iya dari seberang sana.

.

.

.

"Hei, barusan itu Jimin kan?" tanya Taehyung yang saat ini tengah duduk di lantai kamar Jungkook seraya mengetuk-ngetuk meja kecil yang berada tepat di tengah ruangan itu.

Jungkook menatapnya malas, "Iya. Dan tolong lanjutkan latihannya sendiri. Aku ingin pergi keluar sebentar." ucap Jungkook yang langsung mengambil sebuah jaket dan pergi meninggalkan Taehyung.

"Yah! Hei, Jeon Jungkook! Aku yakin kau pasti ingin menemui Jimin si bajingan kecil itu kan?! Hei, cepat kembali kemari, dasar adik kelas sialaaan!" teriakkan Taehyung menggema disana, namun sama sekali tak di indahkan oleh Jungkook yang terlihat telah berlari kecil di jalanan luar rumahnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Huahaha, akhirnya selesai juga chapter 2-nya! Dan Jei sangat berterima kasih bagi kalian yang sudah mau repot-repot mampir dan meripiu FF tak berfaedah milik Jei ini lol. Dan sebelumnya, Jei juga mau membalas ripiu ripiu dari para readers sekaliaaan ^^

hopekies : Ohoho, Tae Tae sudah mulai menyerang hati dari seorang Jung Hoseok! Silahkan ditunggu ya momen jadiannya /?

Hobagijung : Wkwk, bahkan saya sendiri yang bikin ketawa pas baca ulang dialognya Jimin yang salah tanggap itu xD Aduh sini unyel unyel saya aja /? Dan ini udah di lanjut yaaa ~

Park RinHyun-Uchiha : Hmm sejak kapan Jikook pacaran? Yah, itu masih misteri /? Bahkan ada kemungkinan Jikook belum pacaran :3 /smirk/ /gak woy/ Haha, doakan saja kencan mereka lancar tanpa adanya halangan yang berarti /eaaak

dhope : Ohoho, dan Jei bahkan sempet gak percaya kalau pada akhirnya bakalan bisa bikin sequel ini :"v Aduh awas tuh pas baca ketauan sama bosnya bisa bahaya /gak/ Oya dan ini udah di lanjut yaaa wkwk xD

hope : Cie yang berharap sama saya /bukan woy/ Wkwk Jhopenya masih bobo cantik di chap awal, tapi di sini dia udah muncul kok. Semoga memuaskan yaa? :3

Dekon927 : Yas! Vhope di sini ohoho. Ini sudah di lanjut yaaa ~

Guest : Haha, aduh Jei beneran gak nyangka kalau bakalan ada yang bilang FF Jei manis :"3 Thank you so much /deep bow/ Padahal udah sempet mikir gak bakal ada yang mau baca lol. Ah, dan ini udah di lanjut yaa ~ Selamat menikmati (?)

jiii : Aduh iyanih soalnya bikin sequelnya aja sebenernya mendadak banget /krik/ Wah sama nih saya juga malah jadi pengen ngetik FF KookMin jadinya /gak/ Aww, makasih yang udah mau nunggu yaa. Ini udah di lanjut. Semoga paling tidak bisa jadi penyemangat dirimu yang mau ujian disana~ Fighting!

JungHona : Ketika duo rusuh masih sok rahasia-rahasiaan biar keren gitu kan ya. Biar ala ala backstreet gitu /? Ohoho, awalnya juga mau saya bikin one shot, tapi gak tau kenapa kok kayaknya lebih enak kalau di bikin chapter gitu. Jadilah rencananya FF ini bakal Jei bagi jadi 3 atau 4 chapter. Dan ya, yang TOP di sini si Tae Tae ^^

Oke, itu saja dari Jei, sampai bertemu di chapter selanjutnyaaa ~ /lambai lambai/