Summary: Ketika Uchiha Sakura mendapat jatah libur dari pekerjaannya.


She's Home
by Kwenda

Chapter 2
In The Day


Hari beranjak semakin siang. Panas matahari semakin menyengat di luar sana. Tapi, Sakura tidak peduli.

Dia sedang menonton drama Korea Descendants of The Sun di ruang tamu saat suara bising vacum cleaner masuk ke dalam indra pendengaran Sakura. Drakor ini sedang hangat-hangatnya diperbicangkan oleh dokter-dokter muda di rumah sakit. Selalu, setiap dokter muda itu mendengar judul drama ini, pekikan 'Song Joong Ki tampan sekali!' selalu terdengar mengiringi. Karena penasaran dengan ketampanan Song Joong Ki itu, akhirnya Sakura memutuskan untuk mencoba saran rekan dokternya. Yah, hitung-hitung mengisi waktu senggang karena tidak bisa tidur lagi.

Beberapa waktu terlewat sejak Sakura mulai menonton. Song Joong Ki memang sangat tampan, sangat romantis, lucu, dan senyumnya sangat manis. Dan Sakura menjadi gemas sendiri di tempat duduknya. Ingin dia memekik menjeritkan nama Song Joong Ki seperti fangirl-fangirl lainnya, tapi, Ayame datang dengan vacum cleaner-nya. Kebisingan itu membuat Sakura kehilangan konsentrasinya dan akhirnya memutuskan untuk berhenti menonton. Toh, percuma. Nggak bisa menikmati ketampanan Song Joong Ki dengan puas, cibir Sakura.

Dan karena itulah hal yang sekarang Sakura lakukan hanya melamun. Memperhatikan Ayame yang sibuk berseliweran ke seluruh penjuru rumah untuk merapikan tempat tinggal mereka. Iya, pasangan Uchiha ini memang memakai jasa pembantu untuk membersihkan rumah mereka. Tidak ada yang sempat membersihkan rumah, sehingga Mikoto, Ibu Sasuke, mengutus satu pelayan dari istananya, ehm rumah besar, ke rumah mereka. Sengaja dipilih yang sudah menikah agar Sasuke tidak selingkuh dari Sakura. Mikoto tidak tahu saja sikap anak bungsunya terhadap Sakura. Mana mungkin pria itu mau selingkuh.

Sakura mendesah malas dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Tangannya hebat dalam menyelamatkan nyawa seseorang, tapi, untuk melakukan pekerjaan rumah saja dia benar-benar tidak bisa. Menyedihkan.

Manik klorofilnya melirik jam yang dipasang di dinding bewarna merah tua. Sudah jam sebelas dan sebentar lagi jam makan siang. Tadi pagi dia sudah berjanji ke Sasuke akan datang ke kantor sang suami, tapi, Sakura kepikiran, biasanya Sasuke makan apa, ya?

Biasanya, Sakura cuma pergi makan di restoran yang dekat dengan rumah sakit. Wajar saja, istirahat di rumah sakit hanya sejam. Jam istirahat mereka pun bersamaan dengan kantor-kantor lain, jadi sudah bisa dipastikan bahwa restoran yang dekat dengan tempatnya bekerja akan selalu penuh. Makanya jika sudah tidak keburu, mau tidak mau Sakura akan makan di kantin yang rasanya hambar. Yah, yang penting kenyang sajalah.

Untung saja akhir-akhir ini rekan kerjanya sering menawari pesan makanan secara delivery. Sakura akhirnya bisa memakan makanan yang enak tanpa harus tergesa-gesa keluar rumah sakit setiap jam istirahat. Dia juga tidak perlu repot-repot menunggu. Semuanya sudah diatur rekan kerjanya. Sakura hanya perlu membayar bagiannya dan perut sudah terisi. Haah, enaknya.

Tapi, bagaimana dengan Sasuke?

Sekali pun jam istirahat kantor Sasuke lebih lama dibandingkan tempat kerja Sakura, Sasuke pasti bosan dengan restoran yang itu-itu saja. Tidak mungkin 'kan Sasuke memasak? Bagus kalau ada yang menawari Sasuke ikut delivery juga. Tapi … Sasuke orangnya 'kan cuekan? Mana ada karyawan yang dekat dengan Sasuke sampai-sampai berani mengajaknya ikut delivery.

Tunggu, itu juga kalau Sasuke makan. Bagaimana jika tidak?

Sasuke itu workaholic. Dia bisa lupa waktu kalau sudah bekerja. Hanya sarapannya saja yang teratur, itu juga karena ada Sakura. Makan malam pun kadang Sasuke tidak memasak karena Sakura lembur atau tidak pulang. Apalagi makan siang? Sakura semakin khawatir dengan pemikirannya. Bagaimana jika maag pria itu kambuh? Terakhir kambuh saja sampai membuat suaminya tidak masuk kerja seminggu.

Sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Dia bangkit dan berjalan menghampiri Ayame. "Ayame," Ayame menoleh, menyauti panggilan majikannya. "Bisa tolong bantu aku memasak?" Senyuman tidak luput dari wajah Sakura saat mengucapkannya.

Ayame ikut tersenyum, "Tentu saja, Nyonya." ujarnya segera menaruh kain pel di dinding dan berjalan mengikuti Nyonya Uchiha ke dapur.

Sakura memiringkan kepalanya, menatap Ayame polos. "Aku ingin membuatkan Sasuke-kun sesuatu. Apa, ya, yang mudah?"

"Mm.. bagaimana dengan omelet?" usul Ayame.

Sakura mengangguk setuju. "Boleh, apa saja bahannya?" tanyanya sembari berjalan mendekati lemari penyimpan. Matanya menelusuri bahan masakan yang ada di sana.

"Telur, daging sapi, sosis, mentega, buncis, wortel, dan keju." ujar Ayame sementara Sakura mengambil bahan-bahan tersebut.

"Bagaimana dengan tomat?"

"Boleh juga,"

Mereka akhirnya memulai memasak dengan Sakura yang dibimbing Ayame. Omelet hasil buatan Sakura sudah setengah jadi saat sebuah telepon menginterupsi kegiatan mereka. Ayame mengangkat telefon itu dan wajahnya yang panik membuat Sakura menghentikan kegiatannya. "Ada apa?" tanyanya, ikut cemas.

"Anakku pingsan karena demam dan aku diminta pihak sekolah membawanya pulang." jawab Ayame cepat. Wanita bersurai coklat itu sudah mau menangis karena panik.

Sakura kaget dan refleks tangannya terangkat menutup mulutnya yang terbuka. "Astaga! Ayo, aku antar ke sekolah anakmu." Sakura dengan cepat melepas apronnya dan mengambil kunci mobil. Ayame segera mengikuti langkah majikannya dengan pikiran kacau.

.

.

Jam sudah berada di angka 12 saat Sakura teringat janji makannya dengan Sasuke. Anak Ayame baru saja selesai di periksa dan syukurlah ternyata dia hanya terkena demam tinggi. Tidak terlalu parah. Sakura segera pamit pergi setelah anak Ayame menempati kamar rawat.

Masih ada satu jam sebelum jam istirahat kantor Sasuke. Sakura segera mengendarai mobilnya kembali ke rumah. Dia berencana akan datang ke kantor suaminya dengan membawa hasil masakannya yang sudah hampir jadi.

Atau mungkin juga tidak.

Sakura bersandar lemas ke counter. Tatapannya kosong. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Dia melanjutkan acara memasaknya sesampainya di rumah, menggorengnya seperti yang diajarkan Ayame, lalu tiba-tiba api itu muncul dan makin lama makin besar sampai akhirnya menyambar ke daerah sekitarnya. Sakura dengan segera mengambil alat pemadam kebakaran kecil yang tersedia di gudang dan setelah api itu padam, Sakura dapat melihat jelas keadaan dapurnya. Dapur kesukaan Sasuke dibuatnya hancur. Benar-benar hancur.

Suara notifikasi chat membuat Sakura tersentak tersadar dari ratapannya. Dia menyambar handphone-nya cepat. Perasaan gelisah semakin menyelimuti wanita itu ketika melihat nama suaminya.

"Hai sayang, aku merindukanmu."

Sasuke menunggu balasan Sakura. Sasuke kira Sakura akan membalas pesannya dengan menyampaikan keberadaan wanita itu sekarang. Tapi, balasan yang ia terima membentuk sebuah kerutan halus di keningnya. "Semuanya baik-baik saja."

Apa hubungannya pertanyaan dia tadi sama jawaban Sakura? Aneh. Jari pria itu bergerak menekan tombol telefon dan dalam hitungan detik telefon itu sudah tersambung. "Ad-"

"Semuanya baik-baik saja. Rumah kita tidak kebakaran. Aku bersumpah." sela Sakura cepat. Suaranya terdengar panik dan gugup. Sasuke semakin bingung. Kebakaran? Oh, sial. Hening sejenak sebelum bilang "Okay, kau jadi datang ke kantorku?"

Sakura di sana menghela nafas lega. Setidaknya dia bisa menghindari topik ini untuk beberapa saat. "Tentu, tunggu aku. 20 menit lagi aku sampai."

"Okay, hati-hati. Bye."

"Bye."

15 menit berlalu dan kaki jenjang Sakura yang terbalut stiletto hitam menapaki ubin bangunan sepuluh lantai tersebut. Kantor Sasuke masih cukup ramai saat ia sampai, padahal beberapa menit sudah berlalu sejak mereka memasuki jam istirahat.

Semua karyawan yang melihat kedatangan Sakura kini memperlebar senyuman menggodanya sambil memberi salam pada nyonya CEO. Haah, sebentar lagi CEO mereka pasti akan kegirangan. Sakura sendiri bingung sepanjang perjalanannya menuju ruangan Sasuke. Bagaimana bisa semua karyawan suaminya mengenal dirinya? Memangnya suaminya memajang fotonya di lobby kantor sampai bisa dikenal dalam sekali lihat begitu.

Lift yang membawanya ke lantai paling atas berhenti, dan ketika pintu terbuka, seseorang di balik meja sekretaris suaminya menjadi fokus Sakura. Perut wanita itu membuncit. Tubuh Uzumaki Karin juga lebih gemuk dibanding yang terakhir ia ingat. Sakura berjalan mendekati Karin dengan senyum di bibirnya.

Karin yang sedang makan langsung menghentikan kunyahannya dan bangkit dari duduk. Dia membungkuk hormat pada Sakura. "Sasuke-sama ada di dalam, Sakura-sama. Langsung masuk saja," jelasnya.

Bukannya berjalan lurus ke ruangan Sasuke, Sakura malah berjalan ke samping Karin. Kedua tangannya menyentuh bahu wanita itu dan mendorongnya duduk. "Makan saja," ucapnya santai. "Sudah hamil berapa bulan, Karin?" tanyanya melihat gundukan di perut wanita bersurai merah itu.

"Lima bulan," Karin tersipu manis.

Sakura mengusap perut itu, perlahan dan penuh kehati-hatian. "Bagaimana kabarmu di sana, bayi kecil?"

Karin terkekeh. "Dia baik-baik saja, Nyonya. Dia sehat dan kuat." Tangan Karin ikut mengusap perutnya, membelainya lembut.

Sakura menatap Karin. Tatapan kekaguman tersirat dibalik kelembutan yang ada. "Itu bagus. Nah, sekarang kau makan. Aku mau menemui Sasuke dulu. Baik-baik di sana, bayi kecil," ujarnya sebelum beranjak menyusuri lorong berlapis kayu.

Sakura menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang menghubungkan dirinya dengan Sasuke. Wajahnya menunduk, memperhatikan perutnya yang terbalut choker tank putih dengan tatapan sendu. Meraba bagian itu sebentar dan menghela nafas sebelum menekan gagang pintu. "Hai, sayang," sapanya ceria. Berjalan mendekati suaminya yang langsung berdiri dari duduknya.

"Hei," Sasuke maju dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. "Macet?" Tangannya mengusap pinggang ramping Sakura.

Sakura menggeleng, membuat kunciran rendahnya ikut bergoyang mengikuti kepalanya. "Tadi aku mengobrol dengan Karin. Aku baru tahu dia hamil. Padahal mereka baru menikah beberapa bulan lalu, kan?" tanyanya dengan sebuah senyuman miris. Mengasihani dirinya sendiri.

Sasuke mengeratkan pelukannya pada Sakura, membawa wajah wanita itu bersandar di dadanya sementara dirinya memberikan usapan lembut di kepala. "Mereka sudah hampir setahun." ralatnya di pucuk kepala Sakura. "Lagipula, kata Suigetsu, mereka kebloblosan."

"Kau sudah makan siang?" tanya Sakura mengalihkan topik.

"Belum, aku menunggumu datang."

Sakura melepas pelukan mereka dan tersenyum. "Kalau begitu, ayo, aku lapar." Tangannya mengait lengan Sasuke dan berjalan keluar.

Karin kembali berdiri menyambut kedatangan mereka. Sakura memberhentikan jalannya. "Kau mau menitip sesuatu, Karin? Kami mau pergi makan di luar." Sakura mengangkat bahu. "Kalau-kalau kau ngidam," tambahnya sambil memberikan senyum lebar.

Karin tersenyum malu. "Tidak, terima kasih, Sakura-sama. Aku tidak mau merepotkan." tolaknya.

"Baiklah kalau begitu. Aku pinjam dulu Sasuke-nya, ya!" pamit Sakura melanjutkan jalannya ke dalam lift. Sasuke hanya mengikuti istrinya pasrah.

Karin tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Betapa akurnya mereka. Hatinya berharap semoga nanti kehidupan rumah tangganya juga sama seperti bosnya yang selalu dipenuhi dengan kenyamanan, keakuran, dan keromantisan.

.

.

"Ada apa dengan dapur?" tanya Sasuke. Mereka berdua sedang ada di dalam mobil. Perut keduanya sudah terisi dengan makanan restoran dekat kantor Sasuke yang baru dibuka.

Sakura menelan ludahnya gugup. Dia tahu saat ini akan datang. "Hancur," lirihnya, tapi masih cukup jelas untuk didengar Sasuke.

Sasuke langsung menepikan mobilnya. "Bisa kau ulangi?" Suara pria itu dalam, membuat Sakura meringkuk ketakutan seperti anak umur 5 tahun yang dimarahi ibunya.

Jemari wanita itu meremas-remas jogger pants-nya. "Aku menghancurkan dapur."

Sasuke memutar tubuh Sakura menghadapnya. "Kau terluka?" Matanya langsung mencari-cari luka yang disembunyikan istrinya. Nihil. Tapi, dia masih panik. "Apa kau terluka?" ulangnya, masih dengan nada panik yang sama.

Sakura menggeleng, "Aku baik-baik saja." Dia menyentuh lengan Sasuke, mencoba meyankinkan pria itu. "Tapi, dapurnya benar-benar hancur. Aku tadi ingin membuatkanmu omelet dengan dibantu Ayame, lalu tiba-tiba dia ditelepon sekolah bahwa anaknya sakit, jadi aku melanjutkannya sendirian." jelasnya. "Aku benar-benar minta maaf. Tanganku memang tidak berguna." Sakura menatap Sasuke dengan penuh rasa bersalah. Tangan di sebelah sisi tubuhnya terkepal.

"Aku tidak peduli dengan dapurnya, Sakura. Aku juga tidak peduli rumah kita hancur. Yang penting keselamatanmu. Aku tidak mau kau terluka." Sasuke menatap dalam-dalam ke manik hijau yang gundah itu, mencoba meyakinkan pemiliknya untuk tidak merasa bersalah. Sasuke mengambil kepalan tangan Sakura ke depan wajahnya. Satu per satu jari itu dicium oleh Sasuke. "Dan tanganmu berharga. Tanganmu telah menyelamatkan nyawa banyak orang. Tanganmu yang selalu menyentuhku, memberikanku perasaan nyaman." Sasuke beralih mengusap lembut wajah Sakura. "Hanya karena kau tidak bisa memasak, bukan berarti tanganmu tidak berguna, Sakura."

Sakura langsung memeluk Sasuke. "Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu." gumamnya di telinga Sasuke.

Sasuke membalas pelukan Sakura. "Aku juga mencintaimu."

.

.

Mobil yang berisi pasangan Uchiha itu melaju menembus jalanan. Sakura semakin heran melihat jalanan yang dilaluinya malah menuju rumah mereka. Dia kembali menoleh menghadap pria yang mengemudi sambil memegang tangannya. "Loh? Kau tidak kembali ke kantor?"

"Hn? Tidak. Aku ada meeting habis ini."

"Aku bisa menunggumu di kantor."

Sasuke menggeleng. "Meeting-nya bukan di kantor." Mobil mereka sudah berhenti di depan rumah. Sasuke mematikan mesin mobil dan berjalan ke teras rumah diikuti Sakura.

Kakinya mengikuti langkah Sakura yang memasuki rumah. Sebenarnya waktu meeting-nya sebentar lagi, tapi Sasuke penasaran dengan kondisi dapurnya. "Sakura, nanti kita makan malam di luar. Kau reservasi jam tujuh. Tempatnya terserah." ujar Sasuke sebelum Sakura pergi mengganti baju. Sakura hanya membalasnya dengan "Aye aye captain." Kebiasaan kalau disuruh Sasuke.

Sasuke berjalan ke arah dapur. Matanya memperhatikan keadaan dapurnya. Ucapan Sakura benar. Dapurnya benar-benar hancur.

Counter mereka sebagian besar hangus. Dinding bewarna kuning itu juga kini dihiasi noda bewarna hitam arang. Kompor dan oven-nya rusak. Kulkasnya mereka ... Sasuke membuka pintu lemari penyimpan dan lampunya tidak menyala, alias rusak.

Sasuke mengusap wajahnya gusar. Ini dia alasan Sasuke tidak membiarkan Sakura memasak. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Untung saja kali ini Sakura-nya tidak terluka (Sasuke juga tidak mengerti bagaimana wanita itu bisa lolos dari satu luka pun dengan kehancuran yang parah ini, tapi itu bagus). Sasuke tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Sakura memasak atau mengambil les kursus. Saat Sakura membantunya memasak saja, Sakura masih bisa menggosongkan makanan, sup menjadi kering, atau jarinya terpotong dalam, apalagi jika tidak ada dirinya? Sakura terlalu lincah, tidak bisa diam, dan sering mencoba sesuatu yang berbahaya hanya karena penasaran, dan hal itu sering membuat Sasuke khawatir, apalagi jika menyangkut urusan dapur.


T B C


Thankyou to:

Guest, desypramitha26, Ita, Sa, daisaki20, sjxjs, Qren, Athena, aulia3, 5a5u5aku5ara, lightflower22, poetri-chan, donat bunder, Kirara967, kakikuda, nuniisurya26 daan semua yang udah favorite dan follow :D