"Kami berhasil mengembalikan detak jantungnya."

Osomatsu adalah orang yang memasang wajah paling horor ketika mendengar ucapan sang dokter. Haruskah ia senang? Apakah ini keajaiban?

"Sebenarnya, dia tidak meninggal. Detak jantungnya benar-benar lemah nyaris tak terdeteksi. Setelah melakukan beberapa check up, sepertinya bagian dalam tubuhnya memiliki masalah serius ..." Lalu, dokter itu meneruskan percakapannya tentang kondisi Karamatsu yang tak pernah ia mengerti dalam benaknya. Apa yang ia tahu, Karamatsu sedang kritis. Sang ibu yang sama tak mengertinya masih berusaha menyimak untuk memahami.

Sudah ke sekian kali, Osomatsu mengepal tangannya kuat-kuat. Berengsek, batinnya menjerit. Kalau saja orang yang menghajar Karamatsu bertemu dengannya—dan memang ia berharap seperti itu—ia akan membalas mereka habis-habisan. Ia benar-benar tak terima saudaranya dibeginikan.

Osomatsu kuat? Jago bela diri? Tidak juga. Dia cuma pemuda biasa yang setengah dirinya termakan amarah akibat keadaan sang adik. Adik pertamanya. Adik yang selalu menjadi pendampingnya untuk mengurusi adik-adik yang lain. Osomatsu memikirkan apa dosanya sampai Karamatsu harus mengalami hal seperti ini.

Apakah mengabaikannya beberapa kali termasuk dosa besar?

Kakak-adik Matsuno sisanya berada di balik ruangan Karamatsu yang berbeda, yang kini lebih dipenuhi berbagai peralatan medis di badan lelaki biru itu. Semua mata mereka sembab.

"Kak, aku lapar." Todomatsu memecah keheningan. Ketiga saudaranya tak menyalahkan.

"Ayo, kita beli makan. Kita tunggu Ibu keluar dari ruang dokter," ujar Choromatsu.

Jyushimatsu dan Ichimatsu duduk berdampingan, berdiam diri. Beberapa saat kemudian, suster yang tadi memeriksa Karamatsu dengan papan di dekapan tangannya keluar. Mereka berdua menoleh. Wanita itu menyadarinya.

"Apa kami sudah boleh masuk?" tanya Ichimatsu dengan suara yang agak serak, juga dalam.

"Oh, iya. Silakan," jawabnya. Ia segera pergi dan Ichimatsu membuka pintu pelan.

Karamatsu diberi ruangan khusus karena kondisi kritisnya, pun ia harus dirawat secara intensif. Ruangan tersebut gelap. Dindingnya berwarna hijau kebiruan yang tua. Kelam. Ichimatsu selama ini salah karena ternyata ada sesuatu yang lebih kelam dari dirinya—dan menurutnya—dan hidupnya.

Tak ada hiasan apa pun, cuma meja tinggi tak berlaci di sebelah ranjang Karamatsu. Sengaja diperlukan untuk menaruh peralatan yang nantinya digunakan oleh paramedis. Ini bukan ruangan kunjungan, tetapi suster tadi tampaknya masih manusiawi untuk membiarkan anggota keluarga pasien masuk sebentar. Ichimatsu mendudukkan dirinya di lantai bersandar dinding alih-alih berdiri di samping ranjang. Ia melihat kakaknya dari bawah bersama Jyushimatsu di sampingnya. Oh, seketika Ichimatsu penasaran, apakah adiknya itu masih memasang senyum lebar di balik tangan yang menutupi mulutnya?

Lama kalau memang menunggu sampai Choromatsu membuka pintu dan menyuruh mereka keluar hanya dengan gestur tangan.

"Tidak ada makanan di sekitar sini," ujarnya pada kedua adiknya saat sudah di luar, dan di saat yang sama Osomatsu dan sang ibu muncul di antara mereka. Keenamnya saling memandang.

"Kalian pulang saja," ujar ibunya. "Ibu yang jaga Karamatsu di sini."

"Tidak, Ibu saja yang pulang bersamaku." Choromatsu tahu ia harus tetap membantu ibunya di rumah. "Kalian ada yang mau ikut?"

Mereka semua tak menanggapi—menoleh pun tidak. Saat Choromatsu ingin berkata lagi, tiba-tiba adik bungsunya bersuara.

"Aku mau pulang," katanya.

Choromatsu paham adiknya yang satu ini takkan tahan berlama-lama di sini. Buat apa kalau bawaannya hanya ingin menangis saja.

"Ya, sudah. Kami pulang dulu, ya." Lalu, ia menatap Osomatsu. Ada kesan dari tatapannya yang seolah mengatakan lebih baik kakak tertua yang tidak pernah punya kerjaan itu di sini saja. Osomatsu tak membalas, berwajah kaku. Choromatsu seketika merasa tidak enak. Ketika mereka hendak pergi, suster yang tadi memasuki ruangan Karamatsu kembali hadir.

"Maaf, Bu. Apakah anggota keluarga ada yang hendak menginap?" tanyanya.

"Iya, saya dengan kedua adik saya. Kenapa?" tanya Osomatsu balik.

"Maaf, tapi ruangan ini sebenarnya bukan ruang inap. Ruang lingkup pasien harus benar-benar tenang dan steril."

"Kami tidak akan berisik," ucap Osomatsu mencari alasan.

Suster tersebut mencoba untuk memasang senyuman. "Maaf, tetapi tetap saja tidak bisa. Kami dari pihak rumah sakit akan memberi kabar ketika saudara Karamatsu sudah dipindahkan ke ruang inap."

Lebih dalam lagi jika ingin menilik wajah Osomatsu yang seolah transparan, ada rasa berat hati di sana.

"Baik, Suster. Terima kasih," ucap Matsuyo menutup pembicaraan. Suster itu pun permisi untuk pergi. Matsuyo tersenyum pada anak-anaknya, meyakinkan bahwa Karamatsu pasti bisa berjuang dan bertahan di dalam sana.


"Karamatsu-niisan sudah sadar! Karamatsu-niisan! Kau dapat mendengarku?" Jyushimatsu langsung heboh—walau masih dalam anggapan wajar mengingat kondisi Karamatsu yang bisa saja tiba-tiba terkena serangan jantung mendadak—melihat kedua mata kakaknya mengerjap. Hanya ada satu selang infus, dan alat bantu pernapasan pun sudah dilepas karena Karamatsu sudah membaik dibanding sebelumnya. Mata Karamatsu terbuka lebar dan melihat ketiga adik terakhirnya sedang menatapnya haru.

"Yo, brothers. Sudah berapa lama aku tertidur? Apakah seorang putri menciumku sehingga aku bisa terbangun dari sleeping beauty-ku?" Karamatsu mendudukkan badannya, bersandar pembatas ranjang yang diberi bantal.

"Sleeping beauty apanya," komentar Ichimatsu.

"Jangan banyak bergerak, Kak. Aku mendengar tulangmu berbunyi barusan." Todomatsu membantu kakaknya untuk memposisikan setengah baringnya dengan benar.

"Kalau begitu malah kaku, dong. Terima kasih, Todomatsu," ucap kakak keduanya itu, yang kali ini, terdengar lembut.

"Sama-sama, Kak." Todomatsu membalas tulus. Bukan saatnya untuk bertingkah seperti biasa, karena ia sendiri tahu Karamatsu bukan dalam keadaan yang biasa.

Tak lama, Osomatsu dan Choromatsu masuk. Suara pintu yang bergeser menyebabkan mereka semua menoleh, Karamatsu pun dapat melihatnya. Satu hal yang ia tangkap di matanya, kantung mata Osomatsu yang terlihat begitu jelas entah sejak kapan, mengalahkan dirinya yang sempat bergadang beberapa hari ketika masih ikut klub drama sewaktu SMA. Ia tahu, bahkan penyebabnya pun berbeda.

"Karamatsu, kau sudah bangun—" Osomatsu tak dapat melanjutkan perkataannya karena Choromatsu memotongnya.

"Hei, kalian ini kenapa tidak panggil dokter?! Kakak kalian baru saja bangun!" Choromatsu berlari dan menekan tombol untuk memanggil suster ke ruangan Karamatsu. Ya, Karamatsu sudah berada di ruang inap semenjak beberapa hari yang lalu, tetapi tidur matinya nyaris seperti koma. Terhitung sampai saat ini belum ada seminggu. Lelaki biru itu menatap adiknya terpana. Seorang dokter dengan dua orang perawat masuk dan menyuruh mereka semua keluar.

Kelimanya duduk di kursi tunggu. Choromatsu yang duduk di sebelah Osomatsu, dapat melihat lelaki itu tersenyum tipis. Tipis, memang, namun penuh arti.

Dokter berkata bahwa Karamatsu memiliki kemampuan memulihkan diri yang mengagumkan. Padahal, saat pertama ia memeriksa tubuh Karamatsu, ia khawatir Karamatsu akan terkena komplikasi atau kelainan organ dalam. Kedua perawat tadi hanya mengganti perban yang ada di badannya, dan membaluti tubuhnya dengan pakaian pasien yang baru. Memar-memar di tubuhnya sudah memudar. Matanya pun sudah kembali normal. Ia dapat melihat kelima saudaranya dengan jelas.

"Brothers, kalian semua pasti sangat merindukanku, 'kan? Don't worry, aku baik-baik saja sekarang." Karamatsu merentangkan tangannya seolah meminta pelukan, tapi perlakuan saudara-saudaranya tetap saja tak acuh. Sepertinya itu memang sudah menjadi spontanitas mereka. Mengejutkan ketika sebuah tangan menyambar tangan Karamatsu dan menggenggamnya lembut.

"Baik-baik saja, gundulmu." Osomatsu lalu memeluknya. Karamatsu cuma bisa terdiam mendapati perilaku kakaknya yang jarang ini. Sementara, adik-adiknya yang lain, dengan perasaan tanpa diundang, canggung dan, entahlah.

Osomatsu dapat merasakan tangan Karamatsu tiba-tiba bergetar. "Karamatsu?" panggil kakak satu-satunya bagi Karamatsu itu, melepas pelukan dengan tangan yang masih tergenggam. Karamatsu gemetar. Ia menunduk dan menjatuhkan kepalanya pada bahu Osomatsu, menyembunyikan tangis.

"Karamatsu," kata Osomatsu, menepuk pundak adiknya, "jangan keluar sendirian lagi, ya."


Setelah tiga minggu lamanya, barulah Karamatsu dipulangkan ke rumah. Kelima saudaranya itu benar-benar memperhatikannya penuh, bahkan ketika dia sudah benar-benar sehat seperti biasanya—dan ada yang berubah dari Karamatsu. Ia tak pernah lagi mengeluarkan kata-kata puitis menyakitkan yang membuat kelima saudaranya muak, terutama Ichimatsu, walau ia masih sempat menambahkan kosakata asing ketika bicara, dan kadang malah sepenuhnya berbahasa asing agar terlihat keren di depan saudaranya. Harusnya ia tahu kalau efeknya sama seperti kalimat puitis menyakitkannya itu. Yah, setidaknya tidak membuat ia diabaikan bagai angin lalu. Malah selalu disuruh berhenti karena ucapannya belepotan.

Suatu saat, ia pergi jalan-jalan setelah bermain pachinko bersama si kakak merah. Kakaknya itu mengambil langkah ke arah yang berbeda dari biasanya untuk pulang—rute yang ia ambil sebelum kejadian naas itu terjadi. Karamatsu mencegah kakaknya dengan menepuk pundaknya.

"Kenapa?" tanya Osomatsu, menelengkan kepala.

"Kau itu yang kenapa. Kenapa lewat situ?" tanya Karamatsu balik, menekuk alis tebalnya seolah heran. Ia tak mau trauma di hatinya ketahuan.

Osomatsu diam sebentar, dan tebersit pancaran wajahnya yang tak bisa Karamatsu pahami. "Ayolah, jalan-jalan sebentar," pinta Osomatsu padanya.

"Non. Kau tak lihat langit sekarang berwarna apa? Aku tak mau melewatkan makan malamku." Karamatsu menunjuk langit.

"Masih terang, kok!" Osomatsu membela. Sesaat mereka berdua hening. Karamatsu melepas pundaknya dan berbalik arah menuju jalan yang biasanya. Si kakak merah ini memang orang yang keras kepala, dan Karamatsu tak ingin menunjukkan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Osomatsu pun mendengkus dan menyejajarkan langkah bersama adiknya untuk pulang.


Tak apa kali ini ia melewatkan makan malamnya. Ia sudah pasrah akan hasilnya nanti. Berjalan di pinggir jalan saat senja sudah berakhir memang menusuk kulitnya. Rasanya udara malam ini dingin sekali. Osomatsu berjalan agak cepat untuk mengurangi rasa menggigil, membuatnya tak begitu lama untuk bisa melihat sebuah lorong gelap. Ia memantapkan diri untuk masuk ke sana.

Ia berusaha untuk tidak merinding. Ia sengaja menapak kuat-kuat di tiap langkah agar para preman itu mendengarnya. Ya, tak butuh waktu lama membuat mereka keluar dari markasnya.

"Oh, oh, astaga! Dia lagi?" tanya si preman yang lagaknya bagai pemimpin. Osomatsu tak merespons apa pun kecuali sebuah seringai penuh dendam.

"Heh? Apa-apaan bocah ini?" Seorang yang paling dekat dengan Osomatsu meraih kerah jaketnya, menatap netra lelaki merah itu sok menantang. Ia kemudian sadar, ada yang berbeda dari sorot mata itu.

"Dasar kalian makhluk lebih hina," ucap Osomatsu dengan nada sinis yang menjengkelkan.

"Hah?!" Nada lawan bicaranya naik, dan Osomatsu langsung melayangkan tinju pada lelaki itu, membuatnya tergeletak di tanah.

"Sial! Beraninya kau! Hajar dia!" Ketiga temannya yang lain mengerubungi Osomatsu dan mulai melayangkan serangan. Benar-benar tak sebanding, namun untungnya Osomatsu masih punya kesempatan untuk berkelit dan memberi serangan sekuat tenaga. Ia rela berkorban asalkan keempat lelaki bedebah di hadapannya ini hancur sehancur-hancurnya.

Mereka semua berakhir dengan Osomatsu yang berkali-kali menendang dada masing-masing dari mereka, sambil terbayang memar-memar di dada Karamatsu sebelumnya. Tendangan terakhir, dan salah satu dari mereka sudah pingsan. Osomatsu menginjak tubuh mereka, lalu keluar dari lorong gelap itu.


"Aku pulaaang! Ah, hari ini melelahkan sekali!" Osomatsu memasuki rumah, merenggangkan kedua tangannya ke atas dan dapat mendengar tulang rusuknya berbunyi. Ah, ia yakin ia baik-baik saja. Mereka hanya melukai wajahnya dan memukul perutnya beberapa kali. "Aku kalah lagi! Uangku habis! Dan aku capek!"

"Berisik, Osomatsu-nii—Oi, sekarang apa lagi?!" Todomatsu yang baru keluar dari ruang tengah kaget melihat Osomatsu yang berantakan.

"Bukan apa-apa. Aku mau masuk." Osomatsu berjalan melewati Todomatsu. Karamatsu yang sedang bercermin memilih untuk melihat siluet yang baru saja datang ke ruangan itu. Matanya langsung membulat, begitu pun dengan saudaranya yang lain.

"Kenapa kau ini?!" bentak Choromatsu pada kakak sulungnya itu. Osomatsu mencibir, "Orang luka itu diobati, bukannya diejek."

"Tak ada yang mengejekmu, Osomatsu-niisan." Jyushimatsu berkata datar, bertentangan dengan mulut lebarnya.

"Ah, kalian memang tak kasihan padaku." Osomatsu berjalan keluar menuju dapur untuk mengobati dirinya sendiri.

Pikiran Karamatsu terasa penuh sekarang. Apa kakaknya itu benar-benar menghajar preman-preman itu? Ia dilema antara merasa bersyukur atau ingin merutuki diri akan lemahnya dia waktu itu. Walau Osomatsu juga terluka, itu tak separah dirinya. Ia menunduk lama sebelum memutuskan beranjak ke dapur.

"Osomatsu ... niisan," panggilnya pada orang yang ia yakini masih duduk di kursi dapur, mengobati luka.

"Oh, Karamatsu," sahut Osomatsu yang kemudian berdiri untuk mengembalikan obat tetes ke kotak P3K semula. "Aku sudah siap, kok."

Mereka saling berdiam diri. Karamatsu meremas tangannya menguatkan niat.

"Kau tak perlu melakukan ini, tapi ...," Karamatsu merasakan lidahnya agak kelu, "terima kasih."

Osomatsu terkekeh, lalu menggosok bawah hidungnya. Mereka berdua saling melihat satu sama lain. Di antara tatap-menatap itu, ada makna tersirat yang seharusnya sudah langsung bisa dipahami keduanya. Osomatsu harusnya tidak lalai, dan Karamatsu tidak menjadi pendamba akan ketidakpastian.