Author's note : terima kasih sebelum nya buat reviews follows and fav nya dan semua buat yg udh baca :) reviews kalian bakal saya bales dibawah yaa, dan fyi : ini tetep fanfic myungjong. tapi untuk chapter awal2 (chap 1-2) bakal ada unsur myungyeol nya. author nya jg terpaksa bgt nih nulis part myungyeol nya soalnya authornya sendiri myungjong shipper tapi krn kebutuhan cerita terpaksa deh dibikin ada myungyeol nya. Author minta maaf bgt ya kalau ada yg gak suka. Author janji kok ini fic bakal tetep myungjong, tp harap sabar dulu ya dgn alur awal yg ada myungyeol nya. Oh iya 1 lg, di chapter pertama sempet ditulis nama 'Jang Sunggyu' sbg saudara nya Myungsoo, tp itu salah ketik seharusnya 'Jang Dongwoo' Maaf authornya msh pemula sih hehe. Oke Selamat membaca! :)
Chapter 2
Sudah lima hari berlalu dari kejadian Sungyeol dan Myungsoo makan siang bersama tanpa Sungjong – dan itu perlahan-lahan membuat mereka berdua semakin dekat. Apalagi belakangan ini Sungjong sibuk terus, yang membuatnya tidak bisa sering-sering bersama dengan Myungsoo. Dan pada akhirnya, Myungsoo lah yang jadi dekat dengan Sungyeol, itu pun karena Sungjong sendiri.
Sudah beberapa kali Sungjong berusaha menyempatkan diri untuk bisa bersama Myungsoo—tunangannya dan Sungyeol – sahabat lamanya yang baru saja pulang dari London dan amat sangat ia rindukan itu – beraktivitas bersama, bertiga, entah itu makan, jalan, shopping, nonton atau sekedar nongkrong di kedai kopi – namun yang ada hanya Sungyeol dan Myungsoo lah yang pergi karena ia sendiri terpaksa batal ikut karena pekerjaannya yang semakin padat.
Awalnya, Sungyeol merasa tidak enak jika harus pergi tanpa Sungjong dengan Myungsoo, namun karena Sungjong sendiri yang meminta padanya – mau tak mau ia pun menyanggupinya. Lama-lama ia pun terbiasa pergi dengan Myungsoo tanpa Sungjong – mereka berdua semakin dekat, Sungjong pun merasakan hal itu. Ia pun tak keberatan jika Myungsoo pergi dengan Sungyeol tanpa mengajaknya, karena menurutnya hal itu bagus – tunangannya dan sahabatnya sudah dekat satu sama lain bukan? Dan ia sendiri pun berpikir, mungkin Myungsoo memang tidak mengajaknya karena ia tahu pekerjaan Sungjong yang padat dan tidak bisa diganggu, ah betapa perhatiannya Myungsoo. Terkadang Sungjong suka tersenyum sendiri jika memikirkan hal itu.
Padahal tanpa disadari oleh Sungjong, sebenarnya Myungsoo perlahan-lahan mulai menyukai Sungyeol. Begitu juga sebaliknya. Terlihat jelas bahwa sekarang sikap Sungyeol sudah mulai berubah pada Myungsoo, lebih terbuka dan lebih bersahabat. Jika mereka sudah berdua, entah mengapa mereka sekarang sudah mulai melupakan Sungjong – seakan-akan Myungsoo bukanlah tunangan Sungjong dan Sungyeol hanyalah sekedar teman Sungjong, tak lebih. Berbeda dengan saat pertama mereka berdua bertemu – Sungyeol dan Myungsoo saling canggung satu sama lain.
Hingga suatu hari, 7 hari sebelum pernikahan Sungjong dan Myungsoo….
"Pagi Yeollie!" sapa Myungsoo riang sambil melingkarkan lengannya di leher Sungyeol dari belakang, sedangkan Sungyeol sendiri sedang duduk di sebuah meja taman sambil membaca majalah.
Sungyeol terkejut akan kedatangan Myungsoo, ia pun menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Myungsoo sedang tersenyum manis kearahnya. "Apa-apaan kau ini Myungsoo, jangan seperti ini!" bisik Sungyeol kaget.
"Tidak apa kan? Memangnya kenapa, gak boleh?" Myungsoo ngotot lalu pindah posisi duduk di hadapan Sungyeol, menangkupkan tangan keatas meja dan sengaja menatap Sungyeol lekat-lekat.
"Aisshh…kau ini! Terserah sajalah!" pasrah Sungyeol sambil melengos sebal. "Hei, jangan menatapku seperti itu, kau membuatku canggung, tau!"
"Canggung? Bukannya salah tingkah hah? Haha kau ini manis sekali jika salting seperti itu." kata Myungsoo sambil mencubit pipi Sungyeol dengan gemas. "Maaf ya membuatmu menunggu, sudah lama?"
"Mmm….tidak. Baru sekitar lima menit."
"Sebagai permintaan maafku….bagaimana kalau kita makan es krim? Kutraktir deh!"
"Eh, apa? Es krim? Baiklah, terserah kau saja."
"Oke, mau es krim rasa apa? "
"Oreo chocolate aja,"
"Mmm,,,okay! Tunggu disini ya!" Myungsoo pun berdiri dari duduknya, mengacak rambut Sungyeol sekilas sebelum berlari kecil menuju mobil penjual es krim yg ada di taman itu tak jauh dari mereka.
"Ini es krim mu," kata Myungsoo sambil menyerahkan es krim pesanan Sungyeol.
"Makasih ya Myungsoo," jawab Sungyeol.
"Ne,cheonman."
"Hari ini kita mau kemana?" tanya Myungsoo memulai pembicaraan.
"Terserah kau saja. Jalan-jalan, mungkin?" sahut Sungyeol.
"Ah aku tahu! Bagaimana kalau taman bermain?"
"Mmm…not bad. Oke deh, taman bermain."
"Okay! Kalo gitu kita jalan sekarang saja yuk!" ajak Myungsoo sambil menarik tangan Sungyeol dan berlari kecil kearah mobilnya. Sungyeol pun tertawa kecil dan mengikuti Myungsoo.
-Taman Bermain-
"Naaah sekarang, mau naik apa?" tanya Myungsoo ketika mereka berdua sudah membeli tiket dan memasuki wilayah taman bermain.
"Apa yaaa, gimana kalau komidi putar?" tawar Sungyeol.
"Okey! Anything for you."
Mereka berdua pun mulai menaiki berbagai macam wahana. Dari mulai komidi putar hingga roller coaster. Tak lupa berfoto-foto disana sini. Terlihat wajah-wajah bahagia dari keduanya. Mereka pun sempat memasuki toko souvenir, Myungsoo membelikan Sungyeol satu buah lollipop besar berwarna-warni, sedangkan Sungyeol membelikan Myungsoo sebuah topi. Saat mereka berdua jalan terpisah, Myungsoo tak sengaja menemukan sepasang kalung perak dengan liontin berbentuk hati, bagus sekali. Ia pun memutuskan untuk membeli kalung tersebut.
"Myungsoo, sudah sore nih. Bagaimana kalau pulang sekarang?" tanya Sungyeol begitu keduanya selesai berbelanja di toko souvenir.
"Ah iya! Tapi sebentar lagi ya? Kita naik satu wahana lagi, pleeasseee.." rayu Myungsoo.
"Okey, baiklah. Mau naik apa?"
"Bianglala! Ayo kita kesana, mumpung sepi!" ajak Myungsoo bersemangat sambil menarik tangan Sungyeol, sedangkan Sungyeol sendiri hanya pasrah ditarik oleh Myungsoo.
-Bianglala-
"Waaah pemandangannya bagus ya Myungsoo!" seru Sungyeol takjub ketika melihat kebawah. Sekarang kabin yang mereka berdua tumpangi sedang dalam posisi menuju puncak, dan terlihat jelas pemandangan sore hari dimana matahari mulai tenggelam.
"Kau suka Sungyeol?"
"Ya! Tentu aku suka! Indah sekali."
Sementara Sungyeol asyik melihat kebawah, Myungsoo menatap Sungyeol lekat-lekat. Ia tersenyum setiap melihat tingkah laku Sungyeol, lalu memutuskan mulai berbicara.
Myungsoo pov
"Sungyeol, ada yang ingin kubicarakan." kulihat Sungyeol mengalihkan pandangannya dari bawah dan mulai menatapku.
"Ya, apa?"
"Aku menyukaimu."
Kulihat mata Sungyeol terbelalak kaget begitu mendengar ucapanku barusan. "MWO?"
"Aku menyukaimu." ulangku dengan tegas.
"Yaa! Bercanda mu itu tidak lucu Kim Myungsoo!" tukas Sungyeol.
"Aku serius! Aku menyukaimu!"
"Kau bicara apa sih Myungsoo, hahaha…" Sungyeol malah tertawa mendengar kata-kataku.
"Kau tak percaya? Sungyeol, aku serius. Aku suka padamu."
"Ya, aku juga menyukaimu Myungsoo. Kau temanku yang baik." sahut Sungyeol sambil tersenyum.
"Bukan suka seperti itu. Aku suka padamu dalam arti mencintaimu."
Sungyeol sekarang menatapku kaget. Ia diam, tidak mengeluarkan satu katapun. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan ucapanku.
"Aku menyukaimu. Mau kah kau menikah dengan ku?"
Ia masih terdiam, tak menjawab perkataanku. Malah sekarang dia memalingkan wajahnya dariku.
"Kenapa? Apa masih kurang jelas Sungyeol?"
"Kau serius?" akhirnya ia membuka suara.
"Ya, tentu. Kau dengar sendirikan?" Sungyeol kembali terdiam.
Karena tidak ada respon, maka kuraih kedua pipinya dan kuarahkan wajahnya menatap wajahku. Dan hey…dia menangis…?
"Kenapa menangis Sungyeol?" tanyaku pelan sambil menghapus air matanya.
"Aku juga menyukaimu, Myungsoo." bisiknya pelan.
Aku pun tersenyum mendengarnya. "Lalu kenapa kau menangis?"
"Aku meyukaimu. Sangat menyukaimu. Aku senang kau memiliki perasaan yang sama denganku, tapi…aku berharap kau mengatakan hal itu tidak dalam kondisi sekarang." tuturnya pelan.
"Kenapa?" tanyaku lembut.
"Kau lupa? Seminggu lagi kau akan menikah dengan Sungjong. Bagaimana mungkin kalau sekarang kau memintaku untuk menikah denganmu?" Sungyeol pun kembali menangis.
Aku tertegun. Ya. Benar kata Sungyeol. Seminggu lagi aku akan menikah dengan Sungjong, bahkan undangan pernikahan kami pun sudah disebar. Namun sekarang, aku melamar Sungyeol…?
Kulihat sosok namja rapuh dihadapanku ini. Ah, sedih sekali melihatnya menangis seperti ini. Aku pun memeluknya.
"Maaf….maaf membuatmu menangis. Tapi sungguh, aku menyukaimu Sungyeol."
"Aku juga, Myungsoo. Bahkan aku menyukaimu ketika pertama kali bertemu denganmu. Tapi tak kusangka kau tunangan Sungjong dan malah calon suaminya." kata Sungyeol jujur.
"Sungyeol, kumohon. Menikahlah denganku, aku benar-benar menyukaimu."
"Jujur, aku sangat mau. Tapi bagaimana dengan Sungjong? Dia itu calon istrimu dan dia itu sahabatku dari kecil, Myungsoo."
"Aku….aku akan membatalkan pernikahanku dengannya." kataku tegas.
"Apa?! Myungsoo, kau menyakitinya!" sentak Sungyeol keras.
"Tapi aku tidak bisa melihatmu tersakiti, Sungyeol. Aku tidak mungkin menikah dengannya – yang aku mau menikah denganmu."
"Tapi…..Myungsoo…"
"Kau cukup jawab, ya atau tidak."
Kurasakan Sungyeol terdiam. Ia pun menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku, "Ya."
Aku pun tersenyum lebar. "Terima kasih, Sungyeol." bisikku bahagia dan kueratkan pelukanku padanya. "Saranghae."
"Nado saranghae Myungsoo. Lalu…..bagaimana dengan Sungjong?" tanya Sungyeol ragu.
"Aku akan membatalkan pernikahanku dengannya. Malam ini juga aku harus menemuinya dan membicarakan hal ini." kataku mantap.
"Aku….aku merasa bersalah…..aku ingin menemuinya juga Myungsoo. Aku ikut denganmu ya?"
"Baiklah Yeollie. Oh iya….tadi aku memebeli ini." kulepaskan pelukanku padanya dan kuambil sepasang kalung dengan liontin berbentuk hati yang menyatu. Kuambil salah satu kalung tersebut hingga liontinnya terbelah menjadi dua bagian, dan kupakaikan kalung itu pada Sungyeol. "Aku beli sepasang, satu untukku dan satu lagi untukmu."
Kulihat Sungyeol berkaca-kaca menatap kalung pemberianku. Ia pun menatap wajahku dan langsung memelukku erat, "Terima kasih Myungsoo."
"Ne, cheonmanneyo chagi~" sahutku sambil membalas pelukannya. Tak terasa, kabin kami pun sampai dipuncak.
"Hei lihat! Kita sudah di puncak!" kataku sambil menunjuk kearah bawah. Langit sudah mulai gelap, dan lampu-lampu taman sudah mulai menyala. Pemandangan yang indah sekali dilihat dari ketinggian.
"Ah iya!" Sungyeol pun melepaskan pelukannya padaku dan mendekat kearah kaca, "Indah nyaaa."
Aku pun tersenyum kecil melihat tingkahnya. Kuhampiri dia dan kupeluk pinggangnya dari belakang.
"Saranghae Yeollie." bisikku pelan ditelinganya.
"Nado saranghae Myungsoo." balasnya sambil menggenggam tanganku yang sedang memeluk pinggangnya, dan menyenderkan tubuhnya di dalam pelukanku.
Kini aku dan Sungyeol sedang dalam perjalanan menuju kesebuah café, café langgananku dengan Sungjong – sehabis dari taman bermain. Sesuai perkataanku tadi, aku akan menyelesaikan masalah pembatalan pernikahanku dengan Sungjong malam ini juga. Maka kuputuskan untuk membuat janji makan malam dengannya di café langganan kami.
Kuparkirkan mobilku di halaman parker café itu. Kulihat mobil Sungjong sudah terparkir rapi tak jauh dari mobilku, pasti dia sudah datang duluan. Kulihat Sungyeol sedikit gugup begitu kami turun dari mobil, yah siapapun pasti akan gugup kan jika di posisinya sekarang?
Aku tahu perbuatanku ini salah – seenaknya membatalkan pernikahanku dengan Sungjong, pacarku dari zaman SMA bahkan sudah menjadi tunanganku, tujuh hari sebelum pernikahan itu digelar. Dan yang lebih parahnya lagi, aku malah akan menikahi sahabatnya sendiri – Sungyeol, di hari ketika 'seharusnya' aku menikah dengan Sungjong. Aku memang benar-benar tidak tahu diri, kuakui itu. Tapi….aku benar-benar baru menyadari bahwa sebenarnya aku menyukai Sungyeol, bukan Sungjong walaupun aku dan Sungyeol memang lebih sebentar bertemu dibandingkan dengan aku dan Sungjong. Kugenggam tangan Sungyeol, seakan hendak menguatkan hatinya. Dan kusunggingkan senyum manis sebelum kami berdua masuk kedalam café itu sambil berpegangan tangan.
"Ah! Hyung!" kulihat Sungjong melambaikan tangannya ke arahku ketika aku dan Sungyeol memasuki café. Segera saja kuhampiri dia yang telah duduk manis disalah satu sudut ruangan.
"Mian, sudah menunggu lama?" tanyaku basa basi.
"Enggak juga. Eh Sungyeol! Apa kabar? Hhh sudah seminggu ini aku sibuk terus di kantor, maaf, aku jadi jarang bersama kalian." sesal Sungjong.
"Gwenchana, Jongie." ujar Sungyeol sambil tersenyum kecil. Aku pun memilih duduk dihadapan Sungjong dan Sungyeol duduk di sampingku.
"Kau sudah pesan?" kulirik Sungjong sambil membolak-balik buku menu dihadapanku.
"Belum, aku menunggu kalian!" seru Sungjong ceria. Ah Jongie, kenapa kau bersikap begitu..? Aku jadi tidak tega mengatakan hal ini padamu, bisikku dalam hati.
"Kau mau pesan apa Hyung? Aku lasagna saja dan juice strawberry, bagaimana denganmu Yeollie?" celoteh Sungjong panjang lebar.
"Ah….aku….aku pesan baked ravioli dan milkshake coklat saja."
"Dan kau Hyung? Fettuchine dan cappuccino, seperti biasa?" Sungjong mendongakkan kepalanya dan menatapku.
" Ya." jawabku singkat.
"Baiklah!" Sungjong pun mengangkat tangannya dan datanglah seorang pelayan yang mencatat pesanan kami.
"Nah, bagaimana hari ini? Menyenangkan?" Sungjong memulai pembicaraan diantara kami.
"Menyenangkan. Kau sendiri?"
"Melelahkan! Hari ini sama seperti kemarin-kemarin – pekerjaanku menumpuk di kantor," sesal Sungjong sambil cemberut. "Ada masalah di kantorku, jadi pekerjaanku makin padat, hhh…"
"Kau kan sudah berkecukupan Jongie, untuk apa bekerja di kantor itu lagi." sahutku.
Ya, Sungjong memang kaya, ia terlahir tak jauh berbeda dengan kondisi keluargaku. Serba berkecukupan, dan kedua orangtuanya sama sibuknya dengan orangtuaku, sibuk keluar negeri mengurusi bisnis mereka. Bedanya, Sungjong memiliki seorang kakak laki-laki, Woohyun. Namun tetap saja mereka berdua hidup terpisah. Woohyun tinggal di Jepang sedangkan Sungjong tinggal sendiri di Korea. Itu dikarenakan Woohyun melanjutkan kuliahnya di negeri sakura itu sedangkan Sungjong memutuskan bekerja di salah satu perusahaan swasta terkenal dan menjabat sebagai sekretaris.
Berbeda denganku, Sungjong tidak bekerja di perusahaan keluarganya sepertiku. Awalnya kedua orangtuanya tidak menyetujui pekerjaan Sungjong sekarang, mereka berharap Sungjong melanjutkan perusahaan mereka, namun ditolak Sungjong, dengan alasan ia ingin mencoba menghidupi dirinya sendiri dengan pekerjaannya sendiri, bukan pemberian orang tuanya. Walaupun begitu, orangtua Sungjong tetap rajin mengirimi Sungjong uang dan membiayai seluruh kebutuhan Sungjong padahal sudah berkali-kali Sungjong menolak pemberian itu.
"Ah, Hyung, kau melamun!" sontak aku pun terbangun dari lamunanku tentang Sungjong ketika mendengar suara Sungjong menyapaku. "Ah ya, Jongie. Maaf."
"Gakpapa. Aku ingin minta maaf pada kalian. Karena pekerjaanku yang sibuk aku jadi tidak bisa ikut bersama kalian! Maaf yaa…tapi aku senang. Walaupun tanpa aku kalian berdua sudah akrab satu sama lain." Sungjong kembali berceloteh riang.
Ia masih sama seperti yang kemarin-kemarin, ceria, selalu berbicara panjang lebar. Ah, aku jadi makin tidak enak mengingat aku harus memberitahukannya tentang pembatalan pernikahan kami. Kulihat Sungyeol hanya tersenyum menanggapi Sungjong, sesekali menyahuti perkataan Sungjong jika namja itu bertanya padanya.
"Hari ini kalian kemana saja?" akhirnya Sungjong berhenti bercurhat panjang lebar dan mulai menatap kami berdua.
"Ngg...kami pergi ke taman bermain." jawab Sungyeol gugup.
"Ah..! Taman bermain! Asyiknyaaaaa….pasti seru! Kalian naik apa saja? Disana rame gak?" Sungjong kembali nyerocos tanpa henti.
"Permisi." tiba-tiba datanglah pelayan yang mengantarkan pesanan kami.
Ocehan Sungjong pun tertunda sebentar, setelah pelayan itu pergi barulah ia kembali mengobrol dengan Sungyeol tentang kepergian kami ke taman bermain tadi siang sambil makan. Aku hanya diam sambil makan, sesekali menyahuti perkataan mereka.
Selang beberapa menit kemudian, makanan kami pun habis. Aku pun memutuskan untuk mengutarakan maksudku sekarang. "Mmm….Jongie, ada yang ingin kubicarakan."
"Apa? Bilang saja Hyung." sahut Sungjong sambil tersenyum manis dan mulai menatapku.
Aku pun menelan ludah karena gugup, lalu aku pun memberanikan diri mengatakannya. "Aku….sebelumnya aku mau minta maaf dulu."
"Maaf untuk apa Hyung?"
"Aku…..aku…aku ingin membatalkan pernikahan kita."
Sunyi. Sungjong masih menatapku, perlahan senyum nya luntur dan berganti dengan tawa kecil.
"Hahaha…..Hyung lucu! Sekarangkan belum april mop Hyung!" kata Sungjong di sela-sela tawanya.
Aku tertegun menatapnya. "Jongie, aku serius."
Sungjong berhenti tertawa dan menatapku diam, sekan menunggu aku berbicara.
"Maaf Jongie, aku serius, aku ingin membatalkan pernikahan kita." kataku tegas.
Lagi-lagi Sungjong masih diam tak bergeming. Matanya masih menatapku lekat-lekat, seakan ingin mencari kebenaran dimataku. Aku pun melepaskan cincin tunanganku dan menarik tangan Sungjong dan meletakkannya di dalam genggamannya.
Kulihat mata Sungjong mulai berkaca-kaca melihat cincin tunanganku yang kini berada ditangannya. "Kau…..kau serius…Kim Myungsoo..?" tanyanya pelan.
"Ya, aku serius."
End of Myungsoo pov
-to be continue-
thanks for reading, bisa tinggalkan review buat saya? :) saya update cepet deh kalo byk yg review hehehe.
balesan review chapter 1 :
1.) ukekyushipper : iyaa di awal2 karakter myungsoo nya emg sengaja dibikin gini krn keperluan cerita, maaf ya kalau nggak suka hehe. tenang aja, endingnya pasti myungjong kok, authornya kan myungjong shipper :)
2.) Love YunJaeWonKyu : iya,tetep myungjong kok. authornya jg ngerasa aneh banget pas bikin part myungyeol nya-_- tp mau gmn lg emg gini jalan ceritanya hehe. abis ini udh gaada myungyeol moment lg kok, maaf yaa kalau nggak suka :)
3.) ajib4ff : haii,ketemu lg nih di chap 2. amiin, terima kasih yaa. tinggalin review lg oke? ;)
4.) blacklemon : emang genit hihihi. nggak sampe belok beneran kok cuma 'hampir' makanya baca lg next chapnya yaa ;)
5.) Guest : sudah dilanjutin nih, review lg ya :)
6.) MJShipper : udah di next nih. gimana ya? baca next chap nya aja deh hihihi. tenang, myungyeol moment nya cuma ampe sini aja kok :)
