I can't believe It!
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Genre(s) :
Romance and Hurt/Comfort
Pairing :
Akashi Seijurou x Kuroko Tetsuya
Rated :
T
.
Chapter 2 : The Truth
"Sampai jumpa besok." Sang pemuda berwajah manis yang ditinggalkan itu lalu membalas salam dengan suara pelan. Ia memandangi benda kotak elegan yang melaju itu, menyadari sesuatu..
'Mataku pasti salah..' Kuroko kembali memandang plat nomor mobil tersebut. Setelah memandangi kembali, Kuroko tersentak dan mempererat pegangan pada tas sekolahnya.
'Mengapa harus dia?'
.
Malam itu terasa bagaikan jatuh kedalam jurang paling dalam seakan tanpa dasar. Kuroko benar-benar merasa kosong, hatinya mencelos. Pasalnya, Kapten sekaligus orang yang sangat dia sayangi ternyata adalah orang yang selama ini dia cari. Ya, Akashi Seijuurou.
'Mengapa harus dia?' Pertanyaan itu berputar-putar dikepala Kuroko. Dia benar-benar tidak menyangka hal ini bisa terjadi.
'Cobaan apa lagi yang kau berikan kepadaku? Belum cukupkah kau mengambil kedua orangtuaku? Apa kau sudah tidak menyangiku lagi, Kami-sama?' batinnya.
Kuroko meneteskan air matanya yang sudah lama tak dia keluarkan lagi setelah kecelakaan itu terjadi. "Hiks.. Hiks.. Mengapa.." isaknya dalam kesunyian kamarnya. Tanpa sadar dia tertidur tanpa mengganti pakaiannya ataupun menyiapkan isi tas untuk besok akibat kelelahan.
06.00 AM
Kriiiing! Kriiingg!
Bunyi alarm yang cukup keras membangunkan Kuroko dari alam bawah sadarnya. Kuroko mengusap kedua pipinya untuk menyingkirkan air mata yang mengering. Segera dia mengambil handuk yang tergantung di depan kamar mandi lalu membasuh dirinya dengan air hangat yang memang sudah disiapkan oleh sang bibi. Setelah itu, bergegas dia menyiapkan buku pelajaran untuk hari ini dan tidak lupa baju ganti untuk latihan setelah pulang sekolah lalu menuju ke ruang makan.
Pemuda bersurai biru cerah itu makan dengan malas, sampai-sampai bibi dan pamannya cemas. Kuroko hanya menjawab bahwa dirinya baik-baik saja kemudian berlalu setelah mengucapkan salam.
Ditengah perjalanan menuju kesekolah, dia berpapasan dengan Aomine yang terlihat sekali masih mengantuk, jangan lupakan sang kekasih yang selalu setia berkicau disebelahnya. Ya siapa lagi kalau bukan sang Top Model Remaja, Kise Ryouta. Wajah pemuda yang lebih tinggi kusut sekali, kemungkinan baru dibangunkan secara paksa setelah nonton bokep semalam suntuk.
Jujur saja, Kuroko merasa iri akan kemesraan dua sejoli itu. Tanpa sadar Kuroko berpikir, 'Andai saja aku dan Akashi-kun bisa seperti mereka..' Menyadari pikirannya sendiri, dengan cepat pemuda manis itu menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk kedua pipinya.
'Apa sih yang aku pikirkan?! Tidak boleh. Aku tidak boleh terlalu dekat dengan orang yang sudah merenggut nyawa ayahku!' lanjutnya
"Hmm? Ohayou, Tetsu," sapa Aomine yang sadar dengan keberadaan pemuda 'bayangan' itu
"Ohaayooou Kurokocchiiii~" sapa segaligus peluk Kise begitu menyadari orang yang paling dia sayangi –tentu saja setelah Aomine.
"O-Ohayou mo Aomine-kun, Kise-kun, dan bi-bisakah kau melepaskannya? Aku tidak bisa bernafas.." protes Kuroko pelan.
BLETAK!
"Mou, Aominecchi, kau tidak perlu menjitakku seperti itu-ssu. Kalau aku bodoh sepertimu bagaimana?" keluh Kise setelah mendapatkan jitakan 'sayang' dari kekasih berkulit gelapnya tersebut.
"Kalau kau bodoh sih bukan urusanku, dan Hei! apa maksudmu bodoh sepertiku, hah? Aku tidak sebodoh yang kau bayangkan, Bishounen-san," balas Aomine.
"Bishounen wa jyanai-ssu!" kata Kise yang tidak terima dibilang 'Pria Cantik' sambil mengelus kepalanya yang sakit. Tapi tak sedikit pun ia melepaskan pelukan dari Koroko.
"Ne, Kurokocchi, tumben kau tidak berangkat bareng Akashicchi?" tanya Kise yang tanpa sadar membuka luka batin yang baru saja tertutup.
"Iie, nandemonai desu" balasnya dengan wajah tertuntuk untuk menutupi kedua manik baby blue miliknya yang berkaca-kaca
"Hmm.. Sou ka. Bagaimana kalau besok kita berangkat bareng saja?" tawar Kise. Belum barang sedetik setelah Kise mengatakannya ada sebuah gunting merah yang melesat cepat dan menggores pipi kanannya .
"Aku rasanya ada yang sedang mendekati milikku?" kata Akashi penuh dengan penekanan. Dia berdiri tidak jauh berada didepan mereka bertiga.
"Gyaaaaaa! A-Akashicchi?! Sejak kapan kau disana-ssu? Apa kau juga bisa menggunakan missdirection seperti Kurokocchi?" teriak Kise yang membuat Aomine dan Kuroko menutup kedua telinga mereka dengan alasan tidak mau menjadi tuli mendadak.
"Hmph. Aku tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan missdirection, kaunya saja yang tidak peka terhadap sekitar. Pantas saja Daiki terus-terusan berada disebelahmu." Kata Akashi.
"Hah?" kata Aomine dan Kise bersamaan.
"Sudahlah aku yakin otak kalian tidak bisa mencerna kata-kataku. Ayo Tetsuya." Kata Akashi lalu menggenggam lengan Kuroko. Namun, Kuroko tidak bergerak sedikitpun dan justru menundukan kepalanya.
"Sumimasen, Akashi-kun. Aku akan berangkat sendiri saja, lagipula sudah dekat dengan sekolah." Tolak Kuroko
"Tetsuya-"
"Maaf. Aku permisi dulu." lanjut Kuroko menjauh dari mereka bertiga.
Sesampainya Kuroko ditaman, dia segera duduk dibangku taman yang terdapat tidak jauh dari pintu masuk. Taman ini adalah tempat yang dulu dia sering kunjungi bersama dengan Ayahnya, tetapi setelah kejadian itu dia lebih memilih untuk menempuh rute yang lebih jauh hanya untuk tidak melewati taman itu. Sekarang dia benar-benar teringat lagi akan kenangan beberapa tahun silam. Semua yang ada ditaman ini masih tidak berubah sama sekali, membuatnya menangis lagi.
Tiba-tiba sebuah tangan menjulur dan mengusap pelan puncak kepalanya seperti ingin menenangkan hati Kuroko. Pemuda itu mendongakkan kepalanya dan betapa kagetnya dia ketika iris cerah miliknya bertabrakan dengan sepasang iris rubi yang sedang tidak ingin dia lihat untuk saat ini.
"Ada apa?" tanyanya singkat, padat dan jelas
"Tidak ada apa-apa, Akashi-kun" jawab Kuroko yang sangat berat ketika mengucapkan nama dari seseorang yang mengusap kepalanya tersebut
"Kau tau? Kau tidak bisa berbohong dihadapanku, Tetsuya" kata Akashi yang sudah pasti menyadari kebohongan dibalik kalimat yang diucapkan Kuroko. "Apakah kau masih teringat akan kenangan sewaktu bersama ayahmu?" tanyanya pelan.
SYOK
Itulah kata yang pas untuk kondisi Kuroko saat ini. 'Ba-bagaimana bisa... Aku lupa kalau dia punya Emperor Eyes!' batinnya kesal.
"Y-Yah kurang lebih seperti itu" jawab Kuroko.
"Begitu rupanya" balas Akashi.
"Lalu, kenapa kau menghindariku?" tanya Akashi.
Terkutuklah engkau wahai kemampuan yang bernama Emperor Eyes yang bisa tau segalanya. Bukan hanya karena Akashi memiliki Emperor Eyes tetapi Akashi juga merupakan teman dekat Kuroko sejak mereka berdua bertemu ditaman ini.
"Aku tidak sedang menghindarimu, Akashi-kun. Aku hanya sedang tidak ingin bergabung dengan yang lainnya" jawab Kuroko sekenanya.
"Begitukah? Baiklah aku tidak akan memaksamu, Tetsuya," balas Akashi sembari meninggalkan taman menuju sekolah dan menginggalkan Kuroko seorang diri di taman yang penuh dengan kenangan. "Lebih baik kau bergegas kalau tidak ingin terlambat" lanjut Akashi sebelum dia meneruskan langkahnya. Tanpa Kuroko sadari, Akashi memikirkan banyak cara untuk mengetahui kebenaran dari semua keanehan yang dia rasakan setelah dia mengantar pulang Kuroko malam itu.
Ketika merasa jarak antara posisinya dengan taman itu cukup jauh, Akashi mengambil ponsel merah miliknya dan menelpon seseorang
"Halo? Ini aku Seijuurou. Apakah nanti malam kita bisa bertemu?" tanyanya kepada seseorang diseberang sana.
"Ararara~ tentu saja Sei-chan. Ada apa? Tumben sekali." Balas seseorang itu dengan nada ramah.
"Bukan apa-apa. Ada sesuatu yang harus aku pastikan," balasnya.
"Kau tidak berubah ya. Baiklah datanglah kapan saja kau bisa, Sei-chan"
"Tapi, bisakah kau membuat Kuroko tidak kembali kerumah dengan cepat?"
"Eh? Memangnya kau tidak ingin bertemu dengan Tetsu-chan?"
"Bukannya begitu. Aku hanya tidak ingin dia tahu akan hal ini. Karena akan menambah rumit keadaan nantinya."
"Sou ka. Baiklah akan aku usahakan."
Apa yang dikatakan Akashi memang benar-benar dia lakukan. Dia seolah membuat dinding tak terlihat antara dirinya dengan Kuroko, entah itu di kelas maupun pada saat latihan. Seolah tidak ada satupun diantara mereka berdua yang saling merasakan keberadaan hawa satu sama lainnya walaupun jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja.
"Ne Aominecchi, apa kau tidak merasa ada yang aneh?" tanya Kise kepada Aomine yang duduk tidak jauh disebelahnya yang sedang meminum air dari botol mineral.
"Aneh? Apanya?" tanya Aomine yang tidak mengerti perkataan Kise.
"Itu loh. Akashicchi dan Kurokocchi. Seharian mereka seperti tidak berhubungan satu dengan lainnya." kata Kise.
"Oh? Bukannya Tetsu memang seperti itu?" kata Aomine.
"Bukan begitu. Itu tidak wajar bagi Akashicchi yang memiliki Emperor Eyes-ssu. Lagipula biasanya nih, dimana ada Kurokocchi pasti tidak jauh dari situ pasti ada Akashicchi kan?" lanjut Kise dan Aomine hanya mengangkat pundaknya tidak peduli.
PRIIIIT!
"Latihan cukup sampai disini," ujar Akashi lantang mengakhiri sesi.
"He? Kok tumben?" tanya Kise tidak sadar telah memancing sang iblis untuk melempar gunting kesayangannya
"Ho? Jadi kau ingin latihanmu bertambah, Ryouta?"
"Ti-tidak! Terimakasih banyak-ssu."
"Momoi! Rangkum semua data yang kau dapat hari ini dan berikan padaku besok pagi. Ada hal yang harus aku lakukan sekarang," perintahnya kepada manajer klub, Momoi Satsuki.
"Eh? Um baiklah," balas Momoi.
Ting tong...
"Ah kau datang juga, Sei-chan. Masuklah.." kata seseorang.
"Apa anda sudah melakukan apa yang aku katakan?" tanya Akashi begitu mereka sampai diruang tamu.
"Sudah. Tetsu-chan tidak akan kembali sampai 2 jam mendatang," jawabnya.
"Bagus kalau begitu. Sekarang aku langsung saja. Apa yang terjadi pada Tetsuya setelah kecelakaan itu?" tanya Akashi.
Yang ditanya terdiam sesaat lalu menjawab. "Ternyata itu yang membuatmu penasaran.. Setelah kejadian itu, Tetsu-chan tidak menujukan eksperesinya seperti anak-anak lainnya. Baik senang, sedih, kecewa, atau apapun yang dia rasakan dia hanya berwajah datar. Aku sebenarnya merasa sangat khawatir akan hal ini, aku takut kalau hati milik Tetsu-chan 'mati' sejak pemakaman ayahnya."
"Begitu? Apa dia tidak ingin melakukan sesuatu setelah kejadian itu?" tanya Akashi lagi.
"Aku pernah mendengar kalau dia berambisi untuk mencari tahu siapa pembunuh ayahnya. Aku tahu kecelakaan itu bukanlah hal yang sudah direncakan, tetapi tetap saja dia ingin mencarinya. Yang jelas, dia masih mengingat betul plat mobil yang menabrak mobil ayahnya."
"Benarkah? Lalu apakan bibi tahu berapa plat nomor mobil itu?" tanya Akashi kepada seseorang dihadapannya yang ternyata merupakan bibinya Kuroko
"Um.. kalau tidak salah sih-". Bibir sang bibi seolah bergerak dalam irama dilambatkan ketika sang pemuda mengetahui bahwa plat nomor yang disebutkan sama persis dengan plat nomor mobil miliknya.
"Tidak mungkin.." gumamnya tanpa sadar
"Ada apa, Sei-chan?" tanya sang bibi
"Nomor itu.. Nomor plat mobil itu.. sama persis dengan plat nomor mobil milikku!"
Dan sebuah gelas kaca terjatuh, hancur berantakan dari tangan bibi Kuroko.
-TO BE CONTINUED-
