Suamiku, Aku Punya Kekasih Baru

.

Naruto is belong to Masashi Kishimoto

Story by Spica Zoe

Peringatan : Konten Dewasa (M), Affair, OOC, NTR.

.

Jalan cerita difiksi tidak berkaitan dengan jalan cerita di Anime dan Manganya. Hanya meminjam Chara.

Semua yang ada diperingatan hanya untuk berjaga-jaga, mohon disikapi dengan bijaksana.


Prolog

.

"Jika wanita itu bukan Sakura, masih mungkinkah kau mencintaiku, Naruto?"

.

Hinata diam menatap gambaran dirinya dan sang suami yang tergantung di dinding kamar mereka-Naruto. Mungkin hanya itu sisa figure dari mereka yang belum ia antah-berantahkan.

Pernikahannya, apakah sudah berakhir?

Atau memang inilah yang Naruto inginkan darinya sejak dulu?

Jelas bahwa Naruto masih tidak bisa mencabut rasa cintanya dari Sakura. Bahkan dari sebelum menikah, sesudah menikah, hingga memiliki seorang putri dan pada akhirnya kini segalanya sudah nyaris kembali seperti sedia kala. Yang mana Sakura sudah kehilangan suaminya.

Apa karena alasan itu Naruto masih sering menemui pujaan hatinya itu? Karena ketiadaan Sasuke yang memberi kesempatan bagi Naruto untuk kembali mendekat dengan mengatasnamakan persahabatan yang omong kosong bagi Hinata kali ini.

Memikirkan hal yang demikian jelas membuat Hinata berang.

Tergerak dengan kendali emosi, Hinata meraih apa saja yang berhasil ia raih di sisinya. Sebuah ponsel miliknya tanpa sadar telah ia lemparkan tepat di wajah Naruto yang dalam visual itu tersenyum memeluk dirinya dengan balutan pakaian pengantin yang ketika itu ia rasa adalah hal paling indah dalam hidupnya.

Pecah.

Segalanya berhamburan.

Puing-puing pecahan kaca mengikuti hukum alam untuk jatuh setelah berhasil mempersembahkan suara gaduhnya diantara kesenyapan ruangan tempat Hinata berinjak.

Berserakan.

Sama seperti keadaan hatinya saat ini.

Jelas, seberapa kuatnya pun usaha Naruto untuk memperbaiki segalanya jika ia memiliki kesempatan kelak dan Hinata masih menerima, mungkin segalanya tidak akan bisa kembali seperti semula.

.

"Jadi, apa yang kauinginkan?"

.

Sarada mengerjapkan matanya. Sebelum matanya berfungsi normal seperti biasanya, ia sudah bisa mencium aroma nikmat yang menusuk indra penciumannya. Atau apa mungkin, karena aroma ini kah ia sampai menjemput sadarnya dari alam tidur?

Bangkit.

Sarada berinjak ke arah pintu kamar tidurnya menuju tempat dimana aroma sedap itu berasal. Rumah besar yang mewah ini selalu sunyi semenjak Sasuke berpulang ke dunia yang tidak akan membiarkannya kembali. Karena semenjak itu, Sakura nyaris berubah sikap.

Keheningan seakan menjadi temannya berjuang. Sebab didalam hening ia bisa memutar balik keindahan akan kenangan yang pernah ia lewati bersama Sasuke. Senyuman Sasuke. Kehangatan pelukannya. Basah ditiap kecupannya. Mungkin hanya keheningan yang bisa mengembalikan segalanya pada Sakura.

"Kau sudah bangun, sayang?" Sakura memandang langkah turun Sarada diantara anak tangga mewah yang menopang kemegahan kediaman Uchiha yang terkenal. Dilepasnya apron yang terikat di pinggulnya. Lalu melangkah menuju sang buah hati yang tidak ada bedanya dengan sosok lelaki yang ia cintai sampai saat ini. Mata dan rambut yang sama. Mereka memang ayah dan anak.

"Selamat pagi, Sarada."

Dan ketika Sarada ingin membalas rasa cinta kasih yang terpancar dari Sakura hanya untuknya. Ketika itu juga ia mendengar suara berat khas lelaki yang kini bayanganya ia temukan menempati tempat duduk kesukaan ayahnya, Sasuke.

Sarada memandang berang. Ekspresi kakunya menjelaskan bahwa ia sedang marah. Ditapaknya langkahnya keras satu per satu menuju Sakura. Lalu menunjuk Gaara sekali lagi untuk kesekian kali agar Sakura paham siapa yang ingin ia adukan, "Ma, itu tempat duduk Ayah!"

Sakura menunduk.

Memandang Sarada.

Beberapa detik sebelumnya ia sudah menatap Gaara yang langsung bangkit berdiri saat Sarada memrotesnya.

"Sarada-"

"Maafkan aku Sarada. Lain kali tidak akan kuulangi." Gaara memotong.

Itu diluar dugaan Sakura. Ia tidak pernah menyangka jika Gaara akan melakukan itu untuk Sarada. Apa untuk menghargai Sasuke sebagai ayah Sarada yang sosoknya masih terlalu berharga di rumah ini, atau hanya untuk sekedar mencari rasa simpatik Sarada demi mendapatkan Sakura?

Gaara meraih perkakas makannya. Sikapnya yang tenang, diam dan terlihat tidak butuh kompromi membuat Sakura memandangi gerakan tubuhnya pelan-pelan.

"Kau boleh duduk di tempatku, Gaara." Ucap Sakura melangkah mendekati meja makan. Tangannya menggenggam tangan Sarada dalam langkahnya. Menggiring putri kesayangannya untuk duduk di tempat duduknya yang biasa. Sedang setelah urusan dengan Sarada telah ia selesaikan, Sakura ikut berbaur dengan kesibukan Gaara akan perkakasnya.

Ikut memindahkan. Meski pada akhirnya Gaara menahannya.

"Aku bisa sendiri."

Sakura terhenti.

.

.

"Kenapa ia harus mencurigai bahwa aku mencintai Sakura?" Naruto menggerutu ketika ia mengungkapkan kembali bagaimana pertengkaran yang ia alami bersama dengan Hinata saat itu. Membuat Sai menjadi satu-satunya tempat pelampiasan yang tidak dapat melakukan perlawanan untuk mengimbangi amarahnya. Karena dari pada memilih untuk menjawab satu persatu sebab-akibat pertengkarannya dengan Hinata, Sai lebih memilih untuk bertanya siapa itu Sakura. Dan kenapa Hinata harus berpikir bahwa Sakura berkemungkinan merebut Naruto dari sisinya.

Mujurnya, sebelum pertanyaan itu keluar dari mulut Sai, seperti dikabulkan takdir, Naruto malah lebih dulu mengucapkan nama wanita lain itu dari bibirnya. "Sakura itu.." sejenak waktu memberi jedah lebih banyak bagi Naruto untuk mempertimbangkan kata apa yang selanjutnya akan ia ucapkan.

Sai meraih secangkir kopi yang tersaji di atas meja di hadapannya. Sambil menelisik mimik wajah yang bagaimana Naruto pertontonkan untuknya. Menyebut namanya saja membuat Naruto berekspresi seperti ini.

Kosong dan penuh pertimbangan.

"Kekasihmu?" pancing Sai sesudah ia meletakan kembali cangkir kopi yang isinya baru ia kecap separuhnya. Meski begitu, tidak ia lewatkan perubahan ekspresi wajah Naruto ketika ia bertanya begitu. Ada helaan napas di sana. Diantara detik setelah semuanya tertampil bagai kilasan tak berbentuk di mata Sai. Si pemilik nama ini, mungkin sedang dicintai oleh pria beristri di depannya ini.

"..dia kekasih mendiang sahabatku."

Benar saja.

Ternyata Naruto memang tengah menghargai wanita itu sebagai bagian dari hidupnya.

"Dan aku tidak tahu bagaimana caranya agar Hinata percaya bahwa aku dan Sakura tidak punya hubungan yang ia curigai seperti itu."

Sai menimbang sesuatu dalam pikirnya. Semua yang baru saja ia dengar dari Naruto pagi ini membuatnya berpikir lebih dari pagi biasanya. Tapi menurutnya tidak terlalu masalah menjalani pagi mengejutkan seperti yang sedang ia lakukan saat ini. Pagi mengejutkan; seperti tidak ada hal lain saja yang harus mereka bahas.

"Tapi, kau pernah mencintainya. Dan bagi seorang wanita, Hinata-mu, itu adalah kekalahan terbesarnya. Bahwa pria yang ia cintai, mencintai wanita lain."

"Jika aku mencintainya, kenapa aku harus menyakiti diriku sendiri saat ini untuk tidak mengunjunginya meski kini aku tahu sekarang ia sudah tak lagi bersuami." Naruto tidak ragu mengucapkan kalimat itu ketika Sai berusaha memberinya pendapat. Pendapat yang mungkin saja menyinggung inti dari nuraninya. Karena biar bagaimanapun, ia pernah begitu ingin dicintai oleh Sakura.

"Karena Hinata memilikimu."

.

.

.

Gaara ingin memaksakan keberadaan dirinya diantara ibu dan anak ini.

Mungkin memang benar.

Ia tidak bisa berada di sana.

Berada diantara dua orang perempuan yang belum bisa melupakan cinta mereka pada seorang pria beruntung seperti Sasuke.

"Berhenti, Gaara."

Gaara memilih waktu yang tepat untuk undur diri. Ketika saat itu Sarada sudah tidak lagi berada diantara mereka, saat itu pula Gaara memilih untuk pamit pulang.

Ia tidak ingin terkesan ingin mendramatisir keadaan. Maka, ketika tinggal hanya mereka berdua yang berada di ruang makan, ketika itu juga Gaara menjadi dirinya sendiri.

Sakura menghentikan keinginan Gaara untuk meninggalkan keadaan yang tidak ia mengerti. Beranjak pergi tanpa pamit sepata katapun untuk Sakura jelas adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan.

Langkah Gaara terhenti karena namanya terpanggil. Tapi ia tidak berusaha untuk menoleh agar mendapati pemilik wajah yang tengah menunggunya bicara menjelaskan sesuatu.

Karena bagi Gaara, tidak ada lagi yang harus ia jelaskan.

Ada hal yang benar-benar tidak bisa ia pastikan apakah benar patut untuk diperjuangkan atau tidak.

Dan kali ini, Gaara sadar bahwa ia tengah berada di posisi itu.

Dan keheningan pada akhirnya memaksa Gaara berkata, "Apa kau yakin, Sarada bisa menerimaku menjadi Ayahnya suatu saat nanti?"

.

.


.

.

Pada akhirnya Sai menerima tawaran Naruto untuk menjadi juru damai antara ia dan Hinata. Setidaknya Sai sudah menolak, ia pun tak ingin terlibat dengan urusan rumah tangga orang lain meskipun itu urusan rumah tangga kerabatnya sendiri. Tapi ya sepertinya penasaran juga. Bagaimana mungkin Hinata bisa memikirkan kemungkinan hubungan antara Sakura dan Naruto. Karena kalau dipikir-pikir, "Kau tidak ada bagusnya untuk diperebutkan." Tawa Sai menggoda Naruto yang langsung memasang wajah kesalnya.

.

.

Hinata menutup pintu mobilnya. Senja ini menghasilkan lelah yang sama seperti lelah-lelah biasa yang ia alami. Jabatannya sebagai penasehat perusahaan keluarga Hyuuga memang tidak mengharuskannya untuk selalu berada di ruang kerja. Tetapi, dari pada merenungi diri dengan terus berada di rumah tempat ia akan terus berpikir tanpa henti akan masalahnya dengan Naruto, mungkin memang jauh lebih baik jika berada di luar sana dan mencari kegiatan lain.

Keinginan Hinata untuk berpisah dari Naruto bukanlah hal yang ingin ia timbang dalam beberapa waktu dekat ini. Mungkin, membiarkan waktu merebut segala keletihan hatinya adalah pilihan terbaik, dari pada nanti ia mengambil keputusan yang salah karena emosi yang masih memuncaki batinnya.

Biar saja untuk sementara mereka tidak saing menyapa. Mungkin memang lebih baik untuk tidak saling menegur satu sama lain.

Atau apa ia memang harus mengimbangi Naruto?

Dengan memiliki seseorang yang bisa membuat mereka layak dinilai satu sama.

Apa ia harus melakukannya?

Dan ketika ia memikirkan itu, di sini di tempat ia berdiri saat ini. Di tempat parkir dimana ia sedang menyimpan mobilnya, ia telah mendapati bahwa bahu kirinya sudah disentuh oleh sebuah tangan dari belakang tubuhnya.

.

.

.

Prolog, END


AN:

Anggap saja ini 'comeback'-nya saya. Jadi maaf jika kembali ke awal. Kembali pasif.

Tanggapan Review :

LokerKotak : Cerita masih panjang. Kalau mau dibuat yuri juga nanti saya rencanakan. Kayaknya ide bagus. Dan tentang kolom chara, memang sayanya suka bikin orang bingung. Terimakasih sudah baca dan review.

Megu Saki : Ditunnggu lanjutnya aja. Terimakasih sudah baca dan review.

CEKBIOAURORAN : Saya juga berharap sama, semoga tidak mengecewakanmu. Terimakasih sudah baca dan review.

Andromeda no Rei : Dipenasarani ya. Menjawab kenapa saya buat Epilog di awal, itu sebenarnya bukan Epilog Cerita. Tapi lebih kepada judul chapter atau sebenarnya dikata judul chapter pun gak bener juga. Penamaan judul scene kali ya? Entahlah. Yang pasti itu bukan Epilog seperti yang kita mengerti. Tapi kalau memang agak kurang tepat penempatannya, saya minta maafnya di sini saja. Juga sekalian menjelaskan ke yang lainnya. Terimakasih sudah baca dan review.

wowwoh geegee : Siapa tahu Naruto di sini bikin tertarik. Terimakasih sudah baca dan review.

Hanzura96 : Iya kak. Sasukenya sudah tiada. Terimakasih sudah baca dan review.

.

.


"Jawab aku, Sakura."

"Ini bukan saatnya membahas masalah ini Gaara."

"Tidak. Inilah saatnya. Aku harus tahu bahwa tidak ada yang akan menjadi kesia-siaan jika aku berjuang dari awal. Yang kutakutkan kelak bukanlah masalah Sarada mau menerimaku sebagai ayahnya atau tidak."

Sakura terdiam.

"Yang kutakutkan adalah kau Sakura."

Sakura masih terdiam.

Seakan Gaara yang datar dan tenang tadi, kini mampu membaca pikirannya."Kau yang tidak akan pernah bisa menerimaku sebagai kekasihmu, ayah dari putrimu, seberapa kerasnya aku berjuang nanti. Karena yang kusaksikan, kau masih sangat mencintai suamimu."

Tidak hanya terdiam. Kini pun Sakura seakan tengah ditelanjangi oleh semua apa yang Gaara sampaikan. Apakah begitu terlihat oleh Gaara?

"Jika Sarada kelak bisa menerimaku sebagai Ayahnya, apa kau bisa melupakan suamimu?"

Tidak ada jawaban dari bibir Sakura. Mungkin, ketajaman dari semua kalimat Gaara tengah menusuk dan membuatnya membisu saat ini.

"Apa aku bisa berubah pikiran, Sakura? Karena mungkin sampai saat ini aku sedang merasakan bahwa kau hanya memanfaatkan keberadaanku untuk membuatmu pulih dari cinta yang kau miliki atas suamimu yang telah tiada."

.

.

.