Thunder
younger!Luhan x older!Sehun
Disclaimer :Sebuah karya imajinasi seorang fans yang meminjam nama tokoh idola nyata.
Mohon tidak membaca jika tidak menyukai konten cerita ini, terima kasih! :)
You're like lightning
an instant ray of light
.
.
.
It's like the whole world belongs to me
But I can only hastily look around
.
.
.
Drrt! Drrt! Drrt!
Getaran kontinu itu bagaikan gempa bumi local yang mengguncang dunia mimpi Lu Han. Suasana gelap dengan bayangan jingga di dinding adalah hal pertama yang menyapa penglihatannya saat matanya membuka.
"Ugh…"
Lu Han dengan cepat menutup kembali kedua bola matanya karena rasa perih yang menusuk. Lu Han bodoh! Umpatnya pada diri sendiri. Mahasiswa tingkat dua ini memutuskan bermain game terbaru yang dipinjamkan Yixing hingga tidak sadar waktu telah mencapai pukul tiga pagi.
Ia memutuskan membuka sebuah bola mata kanannya dan meraba bagai orang buta ke nakas di samping tempat tidur, dimana ponselnya terletak kemarin malam. Dengan menggeser tombol di layar, ia mematikan alarm.
Thursday, 12 October 2017 6.05 am
Adalah tanggal dan waktu yang ditunjukan.
Lu Han mengusakan kembali wajahnya ke bantal untuk mengumpulkan nyawa dan setelahnya menghirup napas dalam. Menyibak duvet dari tubuhnya, Ia berniat duduk setelah 52 detik terlewatkan sebelum dirinya kembali ke alam mimpi ketika ia merasa berat di bagian pinggang.
"Huh?"
Lu Han bertanya pada diri sendiri dan bola matanya melotot lucu menyadari orang lain di tempat tidurnya. Orang ini pria, Lu Han yakin dan bukan Baekhyun karena meskipun minim penerangan warna rambut pria yang tertidur di sampingnya hitam? –wait, ash grey! Dan Baekhyun memiliki rambut berwarna cokelat terang.
Apa hyung mengecat rambutnya tadi malam? Tanya Lu Han.
"Hyung…" dengan suara seraknya Lu Han mengguncang bahu pria di sampingnya yang direspon dengan gumaman tak jelas dan pengeratan pelukan di pinggang Lu Han.
"Ish hyung aku harus pergi kerja!" protes Lu Han sambil berusaha melepaskan tangan dari tubuhnya namun yang dibangunkan malah mengusakan rambutnya ke sisi tubuh Lu Han.
Lu Han terkekeh geli melihat tingkah hyungnya yang seperti anak kucing dan berakhir menusuk pipi kiri hyungnya berulang kali. "Hyung ireona~ Baek-hyung ireo– eh?"
Ia menggeser wajahnya dari sisi tubuh Lu Han. Membuka dan menutup kelereng matanya. Seperti anak kecil yang tidak mengerti apapun. Sekali, dua kali, dan ketiga kali, "Eh? Eeh? Eeeeh? Sehun-hyung?!"
DRRT!
Lu Han terbangun dari tidurnya dengan mata terbelalak. Getaran dari arah kanannya di nakas masih berdengung membuatnya spontan meraih ponsel dan mematikan alarm.
Wednesday, 11 October 2017 6.05 am
"Huh?"
Lu Han mengernyit melihat tanggal yang tertera di layar ponsel. "Jadi tadi itu masih di mimpi?" bisiknya pada diri sendiri. Si anak lelaki mengerutkan dahi dan bibir sambil berpikir selama beberapa saat. "Huh, aneh oh my God kenapa sudah 6.15 saja?!" serunya melompat turun dan bergegas menuju kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
"Eh Yixing, have you experiencing wake up while you are actually still sleeping?"
Yixing yang akan melahap tuna sandwhichnya menutup kembali mulutnya dan menatap Lu Han dengan aneh. "Maksudmu?"
"Hmm, jadi kau terbangun dari tidur tapi ternyata itu masih di dalam mimpi." Ucap Lu Han lalu memasukan segarpu penuh kentang gorengnya yang terbalut mayones ke dalam mulut.
"Seperti film inception?"
"Tidak-tidak. Hmm, atau bisa jadi iya. Haah, aku sendiri tidak yakin tapi sederhananya begini," si mahasiswa membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot, "Kau terbangun dari tidur, mematikan alarm, bersiap, tapi lalu tiba-tiba saja kau terbangun lagi kali ini sungguhan di dunia nyata. Mengerti maksudku?"
Yixing mengulum bibirnya sambil berpikir yang menimbulkan lesung pipinya terlihat. "Hmmm rasa-rasanya aku tidak pernah begitu. Why? It happened to you?"
Dengan mulut yang masih menggigit spicy chicken wings Lu Han mengangguk antusias. "Tadi pagi. Freakin' weird! saat pertama kali aku bangun aku pikir itu dunia nyata. Tapi ternyata -puff! Aku bangun lagi." Cerita Lu Han.
Yixing menuntaskan sandwhich terakhirnya, "Affa aha hang heha?"
"Telan dulu bodoh~" ledek Lu Han yang kini melahap wings terakhirnya. Yixing melempar bungkus makanannya pada Lu Han yang berhasil dielak si kacamata dengan cengiran lebar penuh makanan.
"Idiot. Aku bilang, apa ada yang beda? Dari scene pertama kau bangun dan setelahnya."
Cengiran Lu Han berangsur berkurang digantikan kerucutan bibir. Ia meraih kaleng sodanya dan meneguk habis minuman rasa buah topis itu sebelum menjawab. "Kinda."
Yixing menunggu kelanjutan kalimat dari Lu Han namun temannya sejak satu tahun yang lalu ini malah berdiri dari bangku dan mengangkat nampan makanannya menuju tempat sampah. Yixing mendengus kesal dan beranjak juga dari tempatnya. "Lalu? Apa maksud dari kinda yang kau bilang? Elaborate dude!" protesnya setelah mereka keluar dari kantin dan menuju kelas selanjutnya.
Lu Han mengendikan bahu dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Just that. Nothing more. Sudahlah lupakan saja, aku juga tidak begitu ingat. Ugh, aku mengantuk sekali! Ini gara-gara kau yang meminjamkan kaset FIFA 18 padaku!"
Lu Han menunjuk Yixing tepat di hidung dengan tampang kesal yang langsung ditepis Yixing. "Salahku, kepalamu! Kau yang merengek seminggu penuh agar aku pinjamkan!"
Lu Han mencibir omelan Yixing yang membuat si pria berlesung pipi menghadiahkan geplakan tangan di tengkuk si kacamata.
"Aargh! Qīlíng -bullying!"
Yixing bersiap memukul kembali temannya sebelum telinga kanannya terasa panas akibat jeweran seseorang.
"Aaak Baekhyun-hyung!" rintihnya begitu mendapati wajah pegawai administrative departemen yang muncul dari balik punggungnya.
"Hanya aku yang boleh membully adik ku." Ucap Baekhyun melepas jewerannya dari telinga Yixing dan mendapat rangkulan dari Lu Han yang melemparkan ekspresi ejekan pada Yixing.
"Thanks hyung! Btw, I object your sentence."
"Kamarmu ku sewakan pada orang lain."
"Correction. Yap, hanya Baek-hyung yang boleh membully ku." Jawab Lu Han cepat dengan anggukan kepala dan wajah serius.
Yixing mendengus geli melihat interaksi dua orang di depannya. "Kau pilih kasih, hyung!" rengek Yixing dengan wajah memelas layaknya anak anjing membuat Baekhyun mengelus kepalanya prihatin.
"Kau sudah makan? Mau hyung traktir pasta?"
Yixing mengangguk cepat sedangkan Lu Han menarik napas tak percaya. "Hyuuuung, kau mau membelikannya pasta? Kau bahkan tidak pernah membelikanku pasta! Aku yang tinggal bersamamu, excuse you!"
"Oh shut up, brat! Don't be jealous with your friend."
"I do not!"
"Definitely." Timpal Yixing dengan smirknya membuat Lu Han memukul lengan temannya.
"Hyung!" rengek Yixing menunjuk Lu Han.
"Hyung!" kali ini Lu Han yang bersuara dengan telunjuk mengarah pada Yixing.
Baekhyun memijat pelipisnya yang mendadak nyeri karena tingkah bocah-bocah 19 tahun di depannya. Daripada sakit kepalanya bertambah, ia memilih membalikan badan dan meninggalkan dua bocah yang saat ini tengah saling memukul. "Oh good afternoon Prof. Brown! Going to class?"
Sapaan Baekhyun yang sedikit nyaring itu membuat dua bocah di belakangnya berhenti berkelahi dan berlari cepat menuju kelas. Prof. Brown merupakan dosen termodinamika yang terkenal sangar dan sangat tepat waktu. Mahasiswa yang terlambat meskipun hanya beberapa detik tidak diizinkan mengikuti perkuliahan. Dan hal itu merupakan malapetaka karena setiap kelas beliau diwarnai dengan kuis di 15 menit terakhir.
Baekhyun terkikik geli melihat tingkah Lu Han dan Yixing, pasalnya waktu masih menunjukan pukul 12.32 pm, sedangkan kelas setelah lunch umumnya dimulai pukul 13.
"Dumb and dumber."
.
.
.
.
.
.
Kelabu awan yang menutupi sinar matahari membuat suasana muram meliputi kota dengan angin kencang yang senantiasa bertiup menggoyangkan dedaunan kuning kecokelatan yang menandakan musim gugur dari pepohonan dan menerbangkannya ke segala arah. Salah satunya ke arah anak lelaki berkacamata hitam bulat yang tengah berdiri di depan pintu masuk perpustakaan kampus.
"Ugh," gerutu mahasiswa tersebut sambil menarik turun dedaunan yang menyangkut dirambutnya. "Yixing dan ketidakmodalannya. Seenak saja mengambil topi orang lain, huh."
Hoodie jaket merah marunnya ia naikan dan talinya ia kencangkan. "Yosh, mari menuju flat Kris untuk makan siang gratis!"
Kaki berbalut sepatu putih asics itu berlari ke tempat parkir sepeda dan dengan headset terpasang menganyuh sepedanya menuju Portland st yang hanya berjarak lima menit dari pusat kota. Ditemani lagu arctic monkeys, Lu Han bersenandung menikmati suasana kota York yang sudah menjadi rumahnya selama satu tahun ini. Hari ini, ia hanya punya satu kelas di sore hari pukul 16 sehingga saat sahabatnya dari jurusan theatre, Kris, mengontaknya dan berkata untuk berkunjung ke rumahnya menikmati lunch yang telah ia dan pacarnya masak tentu saja Lu Han mengiyakan dengan sangat cepat. Pagi ini, sang mahasiswa bertapa selama hampir tiga jam di perpustakaan kampus setelah pulang bekerja untuk mengerjakan climate physics assignment yang harus di kumpulkan minggu depan. Sayang Yixing ada urusan dengan club dance sehingga ia tidak bisa bergabung untuk makan siang bersama di tempat Kris.
"53… hmm seharusnya ada di sekitar sini." Lu Han melongokan kepala mengamati komplek bangunan berlantai dua dan tiga yang hamper semuanya merupakan flat. "Oh! Itu dia."
Bangunan khas berbata abu-abu tanpa cat dan pohon akasia rindang di halaman depannya dengan nomor 53 di pintu merah besar dan mini intercom berbagai nomor di dinding samping pintu. Lu Han segera menekan nomor 11 yang merupakan flat milik Kris dan setelahnya sapaan terdengar dari intercom.
"Yeah?"
"KRIS!" Lu Han sengaja berteriak di speaker agar kuping Kris berdengung di seberang sana membuat pemilik rumah mengumpat menanggapi Lu Han yang terbahak senang.
"Stupid xiao lu!" maki Kris sebelum bunyi klik terdengar dan pintu utama bangunan terbuka. Lu Han menuntun sepedanya masuk dan menaruhnya sembarang di lorong depan dan segera berlari menaiki tangga menuju lantai dua, berbelok kiri dan di ujung lorong telah berdiri Kris dengan wajah tertekuknya khas angry bird sambil mengorek kuping kanannya dengan kelingking.
"I swear I will kill you one day."
"Haha I love you too, bro!" Lu Han menepuk pundak pria yang lebih tinggi 15 cm dari dirinya dan menerobos masuk flat. Harum masakan dan hangatnya temperature ruangan membuat pipi Lu Han memerah dan air liurnya berlomba di dalam mulut.
"Oh Lu-ge, selamat datang." Zizi, Chinese-american first year student yang tengah mengambil medieval studies merupakan kekasih Kris sejak masih sophomore di Canada. Lu Han takjub dengan hubungan kedua orang ini yang telah bertahan hampir lima tahun. Bahkan, Zizi rela menyusul Kris ke England demi kuliah. Kadang Lu Han tidak habis pikir bagaimana cinta bisa membuat seseorang rela bertindak seperti ini.
"Hi pretty, how are you?"
Bibir kucing kemerahan itu melengkung dengan senyum malu kala Lu Han menyapanya. Tendangan di betis kirinya membuat Lu Han mengaduh kala Kris berjalan dari arah belakangnya dan merangkul pundak pacarnya.
"Jangan menggoda pacar orang lain."
Lu Han mencibir, melepas jaketnya dan segera mendekati meja makan di ujung ruangan yang telah terdapat berbagai masakan. "Wah pesta! Ada hal apa sampai kalian membuat berbagai macam masakan seperti ini? Apa Zizi hamil anakmu Kris?"
"…"
Keheningan canggung menyapa ruangan membuat Lu Han yang telah duduk di salah satu kursi dan telah mengampit sumpit di tangan melirik khawatir kearah pasangan di sampingnya.
"…"
"…"
"Wait…"
"…"
"Holy molly! Do you-"
"NO! freaking Lu Han and your crazy mind. Of course not!" Kris melempar tangannya ke udara frustasi membuat Lu Han menghela napas lega.
"Then why do you guys keep silent like that?! Shoot you scared me!"
"YOU scared me!" Kris menodongkan telunjuknya ke arah Lu Han sementara Zizi menggeleng lelah menonton kelakuan dua sahabat ini.
"Sudah-sudah mari makan siang dengan tenang. Dan Lu-ge, fyi Kris and I always have protected intercourse, jadi tidak perlu khawatir." Zizi menyendokan nasi ke piring Lu Han yang tengah melongo memperhatikan si gadis bak model di depannya.
"Gosh, otakmu pasti sudah di cuci Duìzhǎng!" seru Lu Han dengan tampang menuduh ke Kris lalu mulutnya menyedok nasi berlauk ayam teriyaki, daging lada hitam, dan salad tomat-jagung.
"Jadi, kenapa kalian baik sekali mengundangku makan siang mewah seperti ini?" tanya Lu Han kembali setelah selesai menelan makanannya.
Kris tersenyum dan menaruh telapak tangannya ke paha Zizi yang hari ini hanya memakai sweater hijau dan rok 10 cm di atas lutut berwarna fern. Lu Han mendatarkan matanya melihat kelakuan bejat temannya. "Well, hari ini adalah hari jadi kami yang ke lima tahun. Kami merasa perlu merayakannya dengan orang lain."
Zizi tersenyum penuh cinta di matanya pada Kris dengan pipi merah jambu yang membuatnya semakin cantik dan Kris mencuri satu kecupan dari pacarnya. Lu Han tersenyum melihat interaksi kekasih di depannya. Bagai di film animasi, ia bisa melihat bunga-bunga dan hati imajiner yang berterbangan disekitar mereka. Ia turut bahagia dengan kebahagiaan temannya meskipun dalam hati ia sering bertanya mengapa ia tidak pernah mendapat keberuntungan semacam ini selama 19 tahun hidupnya.
Lu Han bahkan ingat ketika Baekhyun dan pacarnya juga merayakan hubungan mereka yang satu tahun beberapa minggu yang lalu. Mereka terlihat sangat mencintai kala itu dan Lu Han sampai mau muntah melihat kemesraan yang diumbar kedua orang tersebut. Namun entah ada apa, tiba-tiba saja kejadian pertengkaran itu terjadi dan sekarang hubungan Baekhyun kandas. Lu Han berharap Kris dan Zizi tidak berakhir seperti itu. Karena jika hubungan satu tahun saja bisa membuat Baekhyun terlihat sehancur itu –Lu Han tidak tau apa kabar mantan pacar Baekhyun karena sampai sekarang ia belum bertemu lagi dengannya– apalagi Kris dan Zizi yang sudah merajut tali cinta lima tahun?
"Wah aku doakan semoga kalian terus bahagia, rukun, dan tumbuh dewasa bersama. Dengarkan aku, meskipun pengalaman pacaranku non-existence satu hal pesanku untuk kalian. Hubungan itu dimana-mana prinsipnya sama. Kalian harus mau saling memahami dan berkomunikasi. Karena dengan saling memahami kalian akan sama-sama mengalah demi kepentingan orang lain dan keegoisan diri itu menjadi tidak ada. Dan komunikasi akan menghindari kesalah pahaman, sehingga kepercayaan kalian terhadap satu sama lain akan terus terjalin kuat."
Lu Han berbicara panjang lebar dengan tangan menggenggam sumpit yang menunjuk bergantian pada Kris dan Zizi. Wajahnya terlihat bijaksana dan untuk sesaat baik Kris dan Zizi melongok tak percaya, bahwa sosok berkamata bulat di hadapan mereka yang bahkan pipi berlemak bayi masih terlihat jelas di wajahnya bisa berkata seperti ini. Lu Han hanya menyengir melihat ekspresi pasangan di depannya dan kembali melanjutkan menyuap makanannya.
Tak berapa lama ia melihat Kris mengankat tangan kanannya sebelum berpindah ke atas kepalanya dan mengusak rambutnya. "Argh Kris jangan rusak rambutku!"
Rengekan Lu Han sontak membuat Kris dan Zizi tertawa geli. "Apa ungkapan orang korea yang sering diucapkan ketika saat seperti ini baby?" tanya Kris pada Zizi.
"Aigoo, gege, aigoo!" seru Zizi girang sambil bertepuk tangan kecil sementara si Duìzhǎng mengusak kembali rambut Lu Han yang kali ini sibuk menepis. "Stoooop stop! Let me eat peacefully idiot!"
Sore itu Lu Han masuk ke kelas dengan perut kenyang, kotak-kotak makanan berisi lauk untuk makan malam di dalam ranselnya, dan rambut kusut akibat Kris. Mekipun bibirnya mengumpati Kris sepanjang perjalanan namun hatinya terasa bahagia bisa menghabiskan waktu menyenangkan bersama sahabatnya. Sesampainya di kelas, ia mengambil tempat di samping Yixing yang terlihat sangat mengantuk.
"Xing-xing, present from Duìzhǎng and Zizi!"
Harum sedap masakan membuat mata mengantuk Yixing berganti membola sempurna dan senyum sumringah menghiasi wajahnya.
"Makanan! Ada angin apa Kris tiba-tiba baik? Zizi hamil?"
Lu Han merangkul pundak Yixing spontan dengan mata antusias yang Yixing bersumpah bisa melihat kerlipan di dalamnya. "I know, right?! Dude, kau harusnya ikut tadi jadi aku tidak dikatai gila oleh si angry bird."
Yixing hanya menampilkan wajah bodohnya tak mengerti dan Lu Han mengibaskan sebelah tangannya. "Anyway, sayangnya adik ipar kita belum hamil. Tapi mereka merayakan hari jadi ke lima tahun. Pretty awesome that couple, and freaking lucky that Kris guy."
Yixing bisa melihat senyuman tulus di wajah Lu Han dengan kerlipan bagai bintang di kedua matanya. Kadang ia merasa kalau Lu Han mau sedikit saja merubah tatanan rambut mangkoknya, mengganti gaya kacamata, dan meningkatkan sense of fashion and social awareness mungkin ia akan dengan mudah mendapatkan pacar. Yixing sering prihatin karena Lu Han tidak pernah punya pengalaman romantis layaknya young-adult semacam mereka.
"Oh, btw Kris and Zizi invited us to go hiking with them this weekend to peak district. Do you wanna come?"
"Peak district? Di Manchester? Ah kali ini mereka mau jalan berapa kilometre?" Yixing bertanya sambil mencomot sedikit daging lada hitam dengan jarinya dan menutup kembali tutup kotak makan dengan cepat agar bau masakannya tidak menyebar ke seluruh kelas.
Kris dan Zizi merupakan pasangan yang unik. Daripada menghabiskan waktu keliling pusat perbelanjaan, pasangan ini memilih keliling gunung dan berkemah di tengah hutan. Lu Han dan Yixing sesekali ikut pasangan tersebut sekedar kabur dari tugas yang menumpuk atau sehabis ujian.
"Yap, mereka mau mendaki dari buxton ke chrome hills lalu kembali ke buxton."
"Pass. Aku ada kumpul klub minggu ini karena kompetisi bulan depan. Kau saja."
"Hmm… benar juga kompetisimu sudah bulan depan. Good luck, mate! Break a leg!"
Tengkuk Lu Han mendapat pukulan telak yang membuatnya tersedak dari sahabatnya yang kini berwajah datar. "Mulutmu. Jangan doakan aku yang tidak-tidak!"
"Sshh, idiot. Itu kiasan, kiasan! Bahasa inggrismu Yixing, tsk!"
"Ih, terserah kau. Pokoknya jangan bicara yang aneh-aneh!"
"Dasar unicorn idiot." Gumam Lu Han dengan bibir mencebik lucu.
"Kau bilang sesuatu?" Yixing menyipitkan matanya sementara Lu Han langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Nothing."
.
.
.
.
.
.
"…"
"Iya hyung, aku ambil ramyeon yang normal bukan yang level nuklir,"
"…"
Kepala berambut hitam itu mengangguk-angguk dengan ponsel terjepit di telinga dan bahu sebelah kanan sementara tangan kiri nya sibuk memilah daging ayam kemasan yang terlihat paling banyak.
"Thigh diced or breast fillet?"
"…"
"Ne, ne, ne. Ada lagi? Lettuce atau iceberg slices?" kali ini sepatu putih itu melangkah ke bagian sayuran dan mengambil sebungkus mixing vegetables dan sebungkus selada utuh.
"Aku harus ke china town dulu, hyuuung. Tesco tidak menjual kimchi! Di kulkas masih ada sebungkus kimchi utuh, makan itu saja!"
"…"
"Ish, aku sudah lapar, hyuuung. Cepatlah, ada lagi tidak yang ingin kau titip?" Lu Han kini memasuki lorong snack dan mengambil dua bungkus besar chips chili kesukaannya dan sebungkus popcorn salt butter. Ketika ia ingin berbelok memasuki lorong di sebelahnya yang berisi cokelat dan sereal, ia melihat pria tinggi familiar yang tengah mengerutkan dahi.
"Arraseo hyungie, I'll grab your favorite sea salt chocolate. Annyeong!"
Lu Han segera mengakhiri telepon Baekhyun dan berjalan mengendap menuju belakang pria ber-coat dark grey tersebut.
"BOO!"
Perkiraan Lu Han jika pria tersebut akan terkejut salah besar karena ia hanya berbalik menghadap Lu Han dengan smirk menghiasi bibirnya.
"Maaf mengecewakanmu," ucapnya membuat Lu Han mendengus sebal. "Ah Sehun-hyung tidak seru. Padahal aku kira kau akan berteriak layaknya perempuan."
Sehun tidak menanggapi ucapan Lu Han namun ia malah memasukan kedua tangannya kedalam saku coat dan bertanya, "Sedang belanja mingguan?"
Lu Han mengangguk sekali dan menunjukan barang belanjaannya. "Baek-hyung akan memasak chicken peri-peri dan ceaser salad untuk makan malam. Jadi aku disuruh beli barang-barangnya."
"Baekhyun? Kalian akan makan malam bersama?" Sehun menaikan sebelah alisnya dan jawaban Lu Han membuat bibir pria itu menjadi garis tipis.
"Yap, kami kan tinggal bersama!"
"I forgot 'bout that."
Lu Han mengangguk lagi mendengar Sehun, kepalanya lalu melongok ke rak di belakang tubuh Sehun. "Oh, apa Sehun-hyung mau beli sereal? Aku sarankan chocolate pillow ini saja hyung. Fillingnya benar-benar enak dan meleleh! Tapi jangan dimakan tanpa susu ya hyung. Nanti langit-langit mulutmu terluka. Aku sering melakukannya dan Baek-hyung akan selalu mengomeliku ketika langit-langit mulutku terluka, hehehe."
Kotak merah berukuran sedang itu Lu Han sodorkan pada Sehun yang menerimanya dengan bibir melengkung ke atas. "Kau benar-benar menyukainya ya?"
"Zuper! But, I only can eat it every two weeks, ya karena alasan itu tadi." Lu Han tidak menyadari bahwa kini matanya berbinar 'ingin' menatap kotak sereal di tangan Sehun.
Sehun tiba-tiba saja berbalik badan dan berjalan menuju ujung lorong dan berhenti. Lu Han memperhatikan punggung pria itu dengan tatapan bingung hingga si pria berbalik menghadapnya kembali. "Bukankah belanjamu sudah selesai? Tidak ingin membayar?"
Diajukan pertanyaan tiba-tiba seperti itu Lu Han hanya bisa mengangguk kaku sebelum berlari ke arah Sehun dan berjalan bersama menuju self-check out.
.
.
.
.
.
.
"Apa rumahmu jauh dari sini?"
Sehun memperhatikan Lu Han yang tengah memasukan barang belanjaannya ke ransel sementara si mahasiswa menggelengkan kepala cepat. "Dekat, hyung. Mungkin 4-5 menit."
Sehun mendengung merespon dan mereka berjalan beriringan keluar supermarket. "Lu,"
"Hmm?"
"Ku antar saja, bagaimana?"
Lu Han yang tengah mengecek ponselnya langsung mendongak menatap Sehun yang sedang menatap tajam padanya. Si mahasiswa butuh waktu tiga detik sebelum menyengir lebar dan menunjuk tempat parkir sepeda dengan dagunya.
"Aku bawa sepeda, hyung. Thanks btw."
Lu Han kembali menatap layar ponselnya untuk membalas pesan dari Yixing yang meminta difotokan catatan Lu Han mengenai mata kuliah thermodynamic tadi. (Menurut Yixing catatan Lu Han itu bagai ensiklopedia mata kuliah, sangat rapi. Dan, Yixing terlalu malas jika harus menonton podcast).
"Baiklah hyung, sampai jumpa lagi!" ucap Lu Han tanpa melihat Sehun namun tetap melambaikan tangan.
Lu Han mengutuk Yixing terakhir kali yang terus menyampahinya dengan pesan tidak penting karena Lu Han mengatakan ia tidak mau melakukan permintaan Yixing sebelum menyimpan ponselnya di saku jaket dan bersiap menaiki sepedanya.
"Iiikk!" decitan kaget bagaikan suara tikus itu dihasilkan oleh Lu Han yang dikagetkan oleh kehadiran Sehun saat ia berbalik badan.
"Hyung!" protes Lu Han sambil mengelus dadanya dan menarik napas dalam. Sehun tersenyum tipis melihat muka cemberut Lu Han namun kali ini ia meletakan kedua tangannya di stank sepeda Lu Han.
"I'll be very honest with you," ucapnya dengan nada perlahan dan muka serius membuat Lu Han tanpa sadar meneguk ludah dengan mata membulat.
"I'm starving right now and I hate eating alone." Lanjutnya dengan nada final dan tegas. Lu Han masih menatap pria di depannya dengan seksama, mengharapkan kelanjutan kalimat Sehun namun si pria yang lebih tua hanya terus membalas menatapnya tanpa berbicara lagi.
"Uh-huh…? Lalu…?" akhirnya karena tidak tahan Lu Han bertanya.
"Jadi, boleh aku menumpang makan bersama mu dan Baekhyun?" Sehun menaikan sebelah alisnya dan menurut Lu Han ia ingin sekali bisa melakukan ekspresi seperti itu, mungkin ia harus meminta Sehun mengajarinya karena itu terlihat keren sekali.
"Lu? Earth to Lu Han."
Tepukan di pipinya membangunkan Lu Han dari lamunannya dan ia terkekeh tanpa dosa. "Sure! Hyung bawa mobil? Ikuti saja aku dari belakang."
Sehun terlihat berpikir beberapa saat, "Kenapa sepedamu tidak ditaruh di bagasi mobilku saja?"
Mereka akhirnya menuju tempat parkir mobil dimana BMW 218D SE Convertible warna merah berada. Lu Han facepalmed ketika Sehun menyuruhnya menaikan sepeda gunungnya ke jok belakang.
"Hyung, dari pada melukai mobil seharga £30.000 ini lebih baik kau ikuti aku saja dari belakang, okay? Okay!"
Tanpa menunggu persetujuan yang lebih tua, si mahasiswa dengan cepat melajukan sepedanya keluar halaman supermarket dan menuju jalan besar. Gila saja Sehun-hyung itu, mobil seharga dua tahun tuition fee nya mau digoresi begitu saja.
"Orang kaya memang aneh," gumam Lu Han sambil melirik ke belakang dimana red BMW is following closely behind him.
.
.
.
.
.
.
mengapa aku malah membuat Sehun kayak stalker...? Lol tak tahu pokoknya minggu depan reading week semoga bisa nyolong ngetik biar apdet kkkkk
tebece
p.s : i dont care about whoever the girl name is, i live in my imagination world and there lives hunhan
