Fantasy Lover
.
Rated : M
Pairing : HaeHyuk and the other cast
Genre : Romance, Supernatural, and a little bit Mature content
Warning.!
Vulgar Language
Bad Grammar
Typos
Man X Man
.
.
Cerita ini adalah Remake dari Novel dengan Judul yang sama yakni,
Fantasy Loverkarya Sherrilyn Kenyon
(*dengan perubahan genre tokoh menjadi Man x Man dan perombakan disana sini ^_^)
.
.
Let's Begin . . .
.
.
"Sayang, kau perlu bercinta,"
Lee Hyukjae tersentak ketika mendengar suara Heechul yang terlalu keras di sebuah kafe kecil di New Orleans dimana mereka duduk, menghabiskan waktu makan siang mereka yang terdiri atas sup kacang merah dan nasi. Malang untuknya, suara Heechul bisa terdengar jelas di tengah – tengah angin topan sekalipun. Dan suara itu diikuti dengan keheningan mendadak di ruangan yang semula riuh ramai.
Melirik ke meja – meja di dekat mereka, Hyukjae menyadari pandangan beberapa wanita dan pria telah berhenti mengobrol dan membalikkan badan untuk memandangi mereka dengan ketertarikan yang jauh lebih besar daripada yang ia inginkan.
'Ah sial! Kapan Kim Heechul ini mau belajar untuk memelankan suaranya? Lebih parah lagi, apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Menanggalkan pakaian dan menari di atas meja?'
Keluhan itu hanya bisa terucap dalam benak Hyukjae. Untuk ke sejuta kalinya sejak mereka bertemu, Hyukjae berharap Heechul bisa merasa malu. Tapi sahabatnya yang flamboyan dan sering kali berlebihan itu tidak tahu arti kata tersebut. Hyukjae hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menghiraukan para penonton yang penasaran. Keinginan untuk mengendap – endap ke bawah meja, diikuti dengan keinginan yang lebih besar lagi untuk menendang temannya itu, berkecamuk di dalam dirinya.
"Mengapa kau tidak bicara lebih keras sedikit, Hyungie?" Heechul memutar mata malas
"-kurasa pria – pria di Kanada tidak bisa mendengarmu,"
"Oh, kurasa bisa," kata pelayan tampan berambut cokelat saat berhenti di meja mereka.
"Malah mungkin mereka sedang menuju ke selatan selagi kita bicara,"
Hawa panas menjalari pipi Hyukjae ketika pelayan yang jelas seorang anak kuliahan itu memberinya seringai nakal.
"Apa ada lagi yang bisa aku ambilkan untuk kalian, sweety?" tanyanya, kemudian menatap Hyukjae dengan tajam,
"-atau lebih tepatnya, apa ada yang bisa aku lakukan untukmu, Gorgeus?"
'Bagaimana dengan kantong plastik untuk menutupi kepalaku atau tongkat untuk memukuli Heechul?'
"Kurasa sudah cukup," jawab Hyukjae, pipinya terasa seperti terbakar. Ia benar – benar akan membunuh Heechul untuk ini – walau kenyataanya ia akan tetap kalah dari sahabat yang lebih tua darinya itu.
"Kami hanya perlu bonnya,"
"Baiklah, kalau begitu," kata si pelayan, menarik bon mereka dan menuliskan sesuatu di bagian atas kertas itu. Ia meletakkannya di depan Hyukjae.
"Hubungi saja aku kalau layananku di butuhkan,"
Dan gerlingan nakal anak muda itu membuat Hyukjae menyadari ada nama dan nomor telpon di bagian atas bon. Heechul melihatnya sekilas dan langsung tertawa keras.
"Tunggu saja kau," kata Hyukjae, menahan senyum sambil menghitung bagian yang harus ia bayar dengan Palm Pilot miliknya.
"Aku akan membalasmu nanti,"
Heechul tak menghiraukan ancaman itu ketika ia mengaduk – aduk tas branded miliknya untuk mencari uang.
"Yah terserah kau saja. Kalau aku jadi kau, aku akan menelponnya. Pria itu lumayan juga,"
"Pria muda," koreksi Hyukjae.
"Dan kurasa akau akan melewatkannya. Hal terakhir yang kubutuhkan adalah dipenjara karena memberi kontribusi kepada kenakalan remaja yang sepele,"
Heechul melayangkan pandangannya ke tempat dimana si pelayan menyandarkan sebelah penggulnya ke bar.
"Yah, tapi si tuan mirip Brat Pitt yang di sana itu mungkin sepadan. Aku penasaran apa dia punya kakak lelaki?"
"Aku ingin tahu berapa Hangeng mau membayar informasi tentang 'istrinya' yang menghabiskan seluruh jam 'makan' siang untuk bermain mata dengan seorang bocah ingusan?"
Heechul mendengus ketika meletakkan uangnya di atas meja,
"Aku tidak bermain mata dengannya untuk diriku sendiri. Aku bermain mata dengannya untukmu, Sweetheart," Heechul menatap serius wajah Hyukjae,
"-lagi pula, kehidupan seksmu lah yang sedang kita diskusikan,"
"Well, kehidupan seksku baik – baik saja dan bukan urusan orang – orang di restoran ini asal kau tahu,"
Melempar uangnya ke meja, Hyukjae mengambil sepotong keju terakhir berbentuk dadu dan melenggang keluar tak menghiraukan Heechul yang masih berbenah sembari mengomelinya. Mereka sahabat baik namun dengan latar karakter yang berbeda. Kadang Hyukjae bingung, bagaimana mereka bisa sedekat sekarang jika mengingat watak mereka yang berbanding terbalik.
"Jangan marah, sweetheart. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu," kata Heechul – mengikuti temannya keluar ke Jackson Square yang di penuhi dengan turis dan orang – orang yang biasa berlalu lalang seperti halnya siang ini.
.
*_Fantasy Lover_*
.
Suara saksofon tunggal yang memainkan musik jazz mengalahkan suara – suara, kuda – kuda dan mesin – mesin mobil yang hiruk pikuk sementara gelombang panas Lousiana begitu menyilaukan. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak menghiraukan udara yang begitu menyesakkan sehingga nyaris tidak dapat dihirup, Hyukjae mengarah ke keramaian, dan kios – kios pedagang yang berada di depan pagar besi yang mengelilingi Jackson Square.
"Kau tahu itu benar," ujar Heechul saat berhasil menyusul Hyukjae
"-maksudku, ya tuhan, Hyuk. Sudah berapa lama? Dua tahun?"
"Empat," sahut Hyukjae acuh tak acuh. "Tapi demi tuhan, siapa yang peduli untuk menghitung?"
"Empat tahu tanpa seks?" ulang Heechul keras – keras dengan nada tak percaya.
Beberapa orang berhenti untuk mengamati mereka dengan penasaran. Tidak sadar, seperti biasa akan perhatian yang mereka dapatkan, Heechul melenjutkan ucapannya tanpa berhenti.
"Jangan bilang kau sudah lupa bahwa ini Zaman Elektronik. Maksudku sungguh, apa pasienmu ada yang tahu sudah berapa lama kau tidak berhubungan seks?"
Hyukjae menelan keju yang masih di dalam mulutnya sembari memelototi Heechul dengan tatapan muak. Apa Heechul berniat untuk meneriakkannya keras – keras supaya setiap manusia – dalam hal ini yang ada di Vieux Carré – bisa mendengar?
"Pelankan suaramu," sergah Hyukjae, kemudian menambahkan dengan datar "-kurasa bukan urusan pasienku apakah aku seorang virgin yang di lahirkan kembali atau bukan. Dan mengenai Zaman Elektronik, aku benar – benar tidak mau mengakrabkan diri dengan sesuatu yang di sertai kabel peringatan dan baterai,"
Heechul mendengus, "Yah sebenarnya, mendengarmu bicara seperti itu sebagian besar pria seharusnya memiliki label peringatan," ia mengangkat kedua tangan untuk membingkai kalimat selanjutnya,
"Mohon perhatian, Peringatan Kejiwaan. Saya, Pria Perkasa, rentan terhadap peruabahan suasana hati yang menyebalkan, suka berlama – lama merajuk dan memiliki kemampuan untuk berkata jujur kepada setiap patner saya mengenai berat badan tanpa peringatan,"
Hyukjae tertawa lepas. Heechul sudah melontarkan ejekan tentang pria yang memerlukan label peringatan itu berkali – kali dan selalu berhasil membuat dirinya terpingkal. Mungkin inilah alasan kenapa mereka bisa dekat dengan latar watak yang berbeda.
"Ah, aku mengerti, Dr. Seks," kata Heechul sambil meniru aksen Dr. Ruth – seorang terapis seks terkemuka.
"Kau hanya duduk di sana dan mendengarkan mereka memuntahkan detail – detail intim mengenai pengalaman seksual mereka sementara sudah hampir seumur hidup kau menjadi member dari Klub Celana Dalam Tak Tersentuh,"
Menanggalkan aksen konyolnya, Heechul kembali berlaga, "Aku tidak percaya setelah segala sesuatu yang kau dengar dalam begitu banyak sesi itu, tidak ada satupun yang berhasil membangkitkan hormonmu. Oh yang benar saja,"
Hyukjae hanya menatap konyol Heechul yang masih menatapnya dengan tatapan jijik – yang di buat – buat.
"Yah begini, aku adalah seorang terapis seks. Tidak akan membantu pasienku kalau aku mengalami la petite mort – atau kau bisa katakan sebagai ransangan untuku bermastrubasi," Heechul mendecih pelan menatap Hyukjae yang masih berucap dengan segala sanggahannya "-maksudku, bagaimana bisa aku teransang saat seseorang sedang menceritakan keluh kesah mereka. Aku bisa kehilangan ijin praktikku, Hyungie,"
"Yah, aku tidak mengerti bagaimana kau bisa menasehati mereka kalau kau tidak pernah dekat – dekat dengan seorang pria," setidaknya Heechul tahu bagaimana Hyukjae berprinsip. Yang pasti ia tak pernah bisa jika harus bersanding dengan makhluk berpayudara. Entahlah, yang pasti Heechul tahu pasti rasanya. Maka dari itu, ia lebih memilih bersanding dengan seorang pria yang telah 'mengikat' dirinya.
Hyukjae hanya meringis dan mendahului temannya itu ke sisi lain alun – alun, berseberangan dengan pusat informasi turis dimana kios kartu tarot dan tafsir telapak tangan Heechul berada. Begitu Hyukjae sampai di meja kecil yang di lapisi dengan secarik kain ungu tua, ia menghela nafas.
"Kau tahu kan, aku mau berkencan kalau bisa menemukan pria yang sepadan dengan pengorbananku. Tapi kebanyakan pria begitu menghabiskan waktuku. Jadi lebih baik aku duduk manis di rumah sambil menonton deretan Drama yang tersiar di Negara kelahiran ibuku,"
Heechul hanya memutar bola matanya jengkel,
"Apa yang salah dengan Chansung?"
"Dia terlalu posesif," sahut Hyukjae – enteng.
"Kangta?"
"Dia jorok. Bahkan ia mengorek hidungnya saat kami sedang makan malam,"
"Lalu bagaimana dengan Taecyeon? Bukankah dia hampir menyentuh kriteria idealmu?"
Hyukjae menatap Heechul tajam. Dan Heechul hanya mengangkat kedua tangannya.
"Oke aku tahu. Dia mungkin sedikit terobsesi dengan judi. Oh come on, bukankah semua orang punya hobi?"
"Tapi tidak dengan itu," ucap Hyukjae kesal.
"Hei, Madam Heechulie baru dari makan siang?" tanya Key dari kios sebelah yang memajang sketsa – sketsa dan barang – barang tembikar.
"Oh ayolah Key, berhenti memanggilku 'madam'. Kau membuatku terdengar seperti para transgender,"
Beberapa tahun lebih muda dari mereka, Key memiliki rambut hitam legam dengan poni bak tanaman jamur kesukaan Hyukjae. Lelaki bertubuh mungil itu sering mengenakan pakaian yang mengingatkan Hyukjae pada putri dari negeri dongeng. Namun sayangnya ia memiliki adam apple.
Kostum Key hari ini adalah atasan putih tipis yang mungkin akan terlihat tak senonoh jika tidak berlapis dengan kaos ketat turtleneck nya yang bersanding dengan softjeans yang terlihat elegan dengan beberapa aksesoris dan aksen tradisional pada bagian atasannya. Key terlihat cantik untuk ukuran seorang lelaki – setidaknya itu menurut Hyukjae.
"Apa ada pelanggan untukku saat aku pergi tadi?" tanya Heechul – membuyarkan pikiran Hyukjae.
"Dua orang pria mengambil kartu namamu dan berkata akan kembali lagi setelah makan,"
"Alright, thank you,"
Heechul menaruh tasnya di dalam gerobak tempat ia biasa berlaga. Mengeluarkan kotak cerutu biru tua yang ia gunakan untuk menyimpan uang, kartu tarotnya yang ia bungkus dengan secarik syal sutra berwarna hitam, dan sebuah buku yang belum pernah Hyukjae lihat sebelumnya. Heechul meraih topi jerami berpinggir lebarnya dan memakainya. Kemudian berbalik badan dan berdiri.
"Apa barang – barangmu sudah di labeli semua?" tanya Heechul pada Key.
"Sudah," jawab Key sambil mengambil tasnya, "-aku masih berpendapat itu membawa sial. Tapi setidaknya kalau ada orang yang ingin mengetahui harga dari barangku selagi aku pergi, dia hanya perlu melihat labelnya,"
Seorang pengendara motor dengan style funky berhenti di trotoar tak jauh dari tempat ketiganya.
"Hey Bummie," teriaknya, "-ayo kita pergi, babe. Aku lapar,"
Key mengibaskan tangannya tak acuh,
"Jaga kelakuanmu Jong-ie. Atau kau harus makan sendirian," katanya sambil menghampiri pria itu dan naik ke jok belakang motornya.
Hyukjae hanya bisa menggelengkan kepala melihat keduanya. Mereka terlihat serasi namun antik di saat yang sama. Ia masih memperhatikan pasangan muda itu ketika mereka melewati Café du Monde – hingga sebuah ide melintas di kepalanya.
"Ooh, kurasa beignet enak juga untuk makanan penutup,"
"Makanan tak akan pernah bisa menggantikan seks," ucap Heechul sambil menyusun kartu – kartu tarotnya.
"Ok, kau benar. Tapi sejak kapan kau begitu tertarik dengan kehidupan seks ku? Atau lebih tepatnya, minimnya kehidupan seks ku?"
Heechul mengambil buku besar tadi dan menyerahkannya pada Hyukjae. Lelaki dark brown itu mengamati buku besar itu dengan pandangan antara takjub dan bingung.
"Aku punya ide yang mungkin bisa di bilang – briliant," ucap Heechul antusias.
Sekarang sesuatu yang dingin perlahan merambati punggung Hyukjae, di tengah – tengah udara panas yang sempat membekap erat pernafasannya tadi. Padahal Hyukjae bukan seorang penakut. Yah, terkecuali untuk Heechul dan salah satu ide gila yang melibatkan dirinya.
"Ini bukan tentang, pemannggilan arwah lagi, kan?"
"Nope. It's better,"
.
*_Fantasy Lover_*
.
Dalam hati, Hyukjae merasa ngeri dan bertanya – tanya apa yang sedang ia lakukan saat ini. Memiliki teman sekamar saat kuliah dulu yang benar – benar bagai air dan api. Demi apapun juga. Jika di gambarkan, Hyukjae adalah sosok putih berhati cahaya yang berkilau bak berlian terbaik dunia. Sedang di sisi lain Heechul adalah sosok gelap dengan banyak aksen erotis yang melekat padanya.
Hyukjae adalah orang yang memandang sesuatu dengan objektif dan realistis. Sedang di lain pihak, Heechul adalah sosok yang lebih percaya dengan semua yang berbau gaib. Dan jangan lupakan sifat matrealistisnya. Tapi mungkin mereka punya satu kesamaan dari banyaknya perbedaan yang terbentang di antara keduanya. Lebih suka di dominasi?
"Aku menemukan buku ini beberapa hari yang lalu di toko buku tua yang ada di Wax Museum. Tertutup tumpukan debu. Aku sedang mencari buku tentang psikometri saat menemukannya, dan viola!," Heechul menunjukkan sebuah halaman dengan wajah berbinar bak memenangkan lotre. Hyukjae menunduk untuk melihat gambarnya, dan lalu terkesiap
Belum pernah ia melihat sesuatu yang seperti itu.
Sesosok pria terlukis di sana. Pria di gambar itu menarik, dan detail – detail gambarnya benar – benar mengguncang. Kalau bukan karena tanda – tanda impresionisme mendalam pada halaman dimana gambar itu di lukiskan, Hyukjae berani bersumpah bahwa gambar itu merupakan sebuah foto asli dari sebuah patung Yunani. Tentunya tidak ada pria fana yang bisa terlihat setampan dan sesempurna itu – sampai kapanpun.
Berdiri dengan agung dan telanjang bulat, pria itu memancarkan kekuasaan, otoritas dan sensualitas hewani yang kasar. Walaupun posenya santai, ia tampak seperti sesosok predator tangkas yang siap menerkam dalam sekejap mata. Pembuluh darahnya menjolo dari bagian lengan dan dadanya terlihat begitu sempurna dan menjanjikan kekuatan yang dasyat nan mutlak – yang di rancang untuk menggoda siapapun yang melihatnya.
Dengan mulut yang tiba – tiba terasa kering, Hyukjae menjelajahi otot – otot pria itu, yang bertonjolan dengan proporsi sempurna sesuai dengan tinggi dan berat badannya. Hyukjae menelusuri otot – otot ramping dan keras itu dari atas lekukan dalam yang membelah dada bidang pria itu. Oh, ia membanyangkan seberapa nyamannya bila bersandar di dada itu.
Turun ke perut yang serata tripleks yang paling menggoda dengan sekat – sekat otot yang berderet rapi nan eksotis.
Ke pusar.
Kemudian ke. . .
Yah, tidak ada yang repot – repot memasang daun pohon ara di sana. Oh ayolah, ada sedikit hasrat bagi Hyukjae untuk tahu sesempurna apa sesuatu di balik daun itu. Dan untuk apa harus di tutupi? Orang berakal sehat mana yang mau menutupi sebuah paket maskulin yang sebagus itu? Bahkan mungkin ia tak lagi membutuhkan benda berbaterai yang pernah ia gunakan kalau sudah memiliki sosok itu di rumah.
Menjilat bibir, Hyukjae kembali mengarahkan pandangan ke waajah pria di gambar itu. Selagi memandangi sosok tajam nan tampan yang menyunggingkan senyum nakal itu, ia membayangkan angin yang mulai memainkan sejumput surai cokelat keemasan dengan terpaan sinar mentari. Membayangkan obsidan tajam namun terlihat teduh itu membara dengan teriakan dan tombak – tombak yang bertebaran di bagian latarnya. Pria itu seakan di cipta, untuk di cumbu.
Hyukjae merasakan desiran udara yang panas dan menyesakkan sekelilingnya. Desiran yang entah bagaimana bagian belakang kulit lehernya. Terasa panas namun nyaman. Ia hampir dapat mendengar suara berat namun lembut pria itu, merasakan lengan kuat mendekap dan menariknya ke dada yang sekokoh karang sementara tangan – tangan yang kuat dan lihai menjelajahi tubuhnya, memberinya kenikmatan sementara mencari –cari titik di tubuhnya yang paling pribadi. Paling sensitif.
Hawa dingin menjalar di punggungnya dan tubuhnya berdenyut di tempat – tempat belum pernah ia ketahui dapat berdenyut. Rasa nyerinya merupakan rasa nyeri tajam dan menuntut yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Mengerjap, Hyukjae mendongak dan memandang Heechul untuk melihat apa lelaki itu juga terpengaruh sepertinya. Kalaupun iya, Heechul tidak menunjukkan tanda apa – apa.
'Pasti aku berhalusinasi. Pasti begitu,' pikir Hyukjae. Rempah – rempah dari menu kacang merah yang tadi ia makan sepertiny sudah meresap ke otaknya dan mengubah otaknya menjadi bubur.
"Bagaimana menurutmu tentang dia?" tanya Heechul akhirnya membalas tatapan Hyukjae.
Hyukjae mengangkat bahu sebagai usaha memadamkan kebakaran kecil di tubuhnya yang sempat 'memanas'. Tapi tetap saja, pandangannya masih tertuju ke bentuk tubuh pria itu yang proporsional. Yang sempurna.
"Dia mirip dengan klien yang kutemui kemarin,"
Yah, tidak sepenuhnya benar – pria yang ia temui kemarin memang sangat menarik, tapi sama sekali tidak seperti pria yang ada di gambar itu. Demi tuhan, ia belum pernah melihat apapun yang menyerupai pria itu seumur hidupnya.
"Benarkah?"mata Heechul berubah menggelap dengan kilatan seram yang seakan bisa membuat Hyukjae menjadi patung kapan saja.
"Ya," ucap Hyukjae mendahului Heechul yang sudah akan menyemprotnya sebagai seorang pembual.
"-dia bilang padaku bahwa ia adalah seorang lesbian yang terperangkap dalam tubuh pria,"
Wajah Heechul menjadi semakin muram. Merenggut buku itu dari Hyukjae dan menutupnya kasar. Dan jangan lupakan pelototan mata yang seakan bisa mengeluarkan sinar laser itu.
"Kau terlalu pandai membual," Heechul melangkah menuju kursi yang biasa ia duduki di belakang satu – satunya meja disana.
Hyukjae hanya mengangkat sebelah alisnya acuh.
"Kuberitahu kau, ini. . ." ia mengetuk bagian tengah buku yang ia geletakkan di atas meja "-adalah jawaban untukmu,"
Hyukjae menatap ekspresi temannya itu. Berpikir betapa seriusnya penampilan Madam Heechul – mungkin ia akan terbunuh jika tahu Heechul memanggilnya begitu – yang mengaku sebagai Moon Mistress, duduk di belakang kartu – kartu tarot dan meja ungu yang eksentriknya dengan sebuah buku tebal di tangannya. Saat itu juga, Hyukjae hapir percaya jika Heechul adalah seorang Gipsi mistis.
Kalau ia percaya terhadap hal – hal semacam itu.
"Oke," ucap Hyukjae menyerah. "-jangan berbelit – belit dan katakan padaku apa hubungannya buku dan gambar vulgar itu dengan kehidupan seks ku?"
Dalam sekejap wajah Heechul berubah serius.
"Pria yang kutunjukkan padamu itu . . . Aiden . . . seorang budak cinta Yunani yang sepenuhnya di kendalikan dan mengabdi diri kepada siapapun yang. . . memanggilnya,"
Hyukjae tertawa keras hingga terpingkal ke belakang. Ia tahu itu kasar, tapi ia sudah tak tahan lagi. Bagaimana mungkin lulusan Universitas di Oxfort dengangelar Ph.D. dalam bidang sejarah kuno sekaligus fisika, bahkan memiliki keanehan seperti Heechul, mempercayai sesuatu yang konyol di zaman modern macam sekarang ini? Dia pasti sudah gila.
"Yah.! Jangan tertawa. Aku serius,"
"Aku tahu kau serius, itulah yang membuatnya sangat lucu," Hyukjae berdeham dan menyeka sudut matanya yang berair akibat sesi tawanya tadi.
"Oke. Apa yang harus kulakukan? Menanggalkan pakaian dan menari bugil mengitari buku itu di tengah malam?" ucap Hyukjae dengan senyum provokatif. Sedang di sudut lain Heechul semakin memasang wajah yang berubah gelap – penuh peringatan.
"Kau benar, aku memang perlu bercinta. Tapi kurasa bukan dari seorang budak cinta Yunani yang yah, harus kuakui tampan,"lanjut Hyukjae dengan wajah penuh pertimbangan.
Buku itu terjatuh dari meja.
Heechul terlonjak sambil memekik kaget dan kembali duduk dengan cepat.
"Kau mendorongnya dengan sikumu, kan?" tuduh Hyukjae.
Dengan mata membelalak sampai sebesar bola ping-pong, Heechul menggelengkan kepalanya perlahan dengan ekspresi takut sebagai jawabannya.
"Mengaku saja, Hyungie,"
"Aku tidak mendorongnya. Sungguh," tungkas Heechul dengan wajah teramat serius. "-kurasa kau membuatnya tersinggung,"
Menggelengkan kepala saat mendengar omong kosong itu, Hyukjae mengeluarkan kacamata hitam dan kunci dari dalam tasnya. Yah, ini persis seperti waktu mereka masih kuliah. Saat Heechul membujuknya untuk menggunakan papan Ouija dan membuat papan itu menyatakan jika ia akan menikah dengan seorang Dewa Yunani berusia tiga puluh tahun dan akan mendapat enam orang anak dari suaminya itu.
Oh demi tuhan, ia bahkan ingin meneriaki Heechul tepat di wajahnya saat itu. Demi apapun, ia seorang lelaki tulen. Di ulangi, lelaki tulen. Dan darimana ia bisa mendapatkan anak dengan sosok makhluk yang memiliki kemaluan yang sama dengan dirinya. Mungkin sekarang ada istilah Male Pregnant. Tapi itu tentu perlu rekayasa genetik untuk membuat sebuah rahim di dalam tubuh seorang lelaki.
Sampai hari ini, Heechul tak mau mengaku bahwa ia sudah mengakali papan kayu itu sebelum mereka memainkannya. Dan sekarang hal itu terulang. Mereka berdebat di bawah sinar matahari bulan Agustus yang terlalu panas.
"Dengar, aku harus kembali ke kantor. Aku punya janji pukul dua nanti dan aku tak ingin terjebak macet karena pawai musim panas," ucap Hyukjae sembari menyambar hoodie miliknya. "Kau datang malam nanti?"
"Tentu saja, aku tak akan melewatkannya. Aku akan bawa Wine,"
"Baiklah kalau begitu, kita sampai jumpa lagi nanti jam delapan," Hyukjae terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan
"-sampaikan terima kasihku pada Hangeng Hyung karena mengijinkanmu datang merayakan ulang tahunku,"
Heechul memperhatikan temannya yang menjauh itu dalam diam, lalu tersenyum ganjil.
"Tunggu saja sampai kau melihat hadiah ulang tahunmu, dear," bisiknya sambil mengambil buku tadi dari tempatnya terjatuh.
Ia mengusap pelan kotoran yang ada disana. Kembali membuka buku itu. Heechul memandangi gambar indah nan sempurna tadi, memandangi mata yang digambar teduh kecokelatan yang entah mengapa terkesan tajam dan liar.
Kali ini mantranya pasti akan berhasil. Ia yakin akan hal itu.
"Kau akan menyukainya, Aiden," bisik Heechul kepada pria itu sambil menggerakkan jari lentiknya di atas tubuh sempurna itu.
"-tapi aku harus memperingatkanmu, dia akan bertingkah layaknya orang suci. Dan menembus pertahanannya sama sulitnya dengan meruntuhkan benteng Troya. Tapi menurutku, kalau ada orang yang bisa membantunya menemukan jati dirinya, maka orang itu adalah dirimu,"
Di bawah tangannya, Heechul merasakan buku itu perlahan menghangat dan secara naluriah ia tahu jika itu adalah cara sang pria menyetujui ucapannya.
'Tunggulah Hyukjae. Pria sempurna ini akan membebaskanmu dari belenggu masa lalu,'
.
.
. . . to be continue
.
.
Hello reader yang budiman.
Sy menepati janji sy bukan? Ada yg berminat maka akan sy post kelanjutan remake crita ini.
Oke, pertama sy ingin menjelaskan beberapa hal,
Cerita ini adalah REMAKE dari Novel dengan judul yg sama yakni Fantasy Loverkarya Sherrilyn Kenyon. Di fandom Screenplay memang ada salah satu author yg juga meRemake novel itu dengan pairing lain yakni KyuMin. Sy pertegas, ini ff REMAKE jadi tak ada keterkaitan dengan ff lain yang ada di FFn. Kami (sy dan author terkait) sama – sama terkesan dengan karya Sherrilyn Kenyon. Dan membuat versi Remake dengan bahasa kami masing – masing.
Sy memang mengubah genre cerita menjadi Man X Man. Oh ayolah, sy tidak terbiasa dengan genderswicth / transgender atau apalah itu. Selera orang berbeda – beda bukan? ;)
Jika ada yg tidak berkenan dengan Remake yg sy buat ini, sy bisa menghapus ff ini dan menganggap tidak pernah terjadi apa – apa. Simpel bukan? #abaikan
Mungkin sy terkesan kasar atau apapun lah itu. I don't really care. Sy sebenarnya malas jika harus berdebat dengan mereka yg memPM dengan nada tak mengenakan. Oh ayolah dear, sy sudah peringatkan bukan. Ini REMAKE dari Novel berjudul sama. Please, be mature.
Sy memang suka dengan penulis Sherrilyn Kenyon. Bahkan sudah mengkoleksi 9 buku karya beliau yg memang bertemakan Dewa Yunani dengan serbuk(?) mature content yg tak terlalu vulgar. Cuma berhubung sy lebih suka dengan series pertamanya, jd sy putuskan membuat remake dr Fantasy Lover. Kalau tahu bakal ada statement macem – macem mending bikin remake yg lain. #abaikan -_-
Sebenarnya cukup terusik dengan statement yg kurang mengenakkan dengan persamaan yang ini dan itu. Tp sy berusaha bersikap dewasa. Jika memang berminat, ya sy lanjutkan. Jika tidak, tinggal sy hapus. Gampang kan? ;)
.
Oke selanjutnya, terima kasih buat kalian yg sudah menyempatkan menorehkan(?) review. Walau singkat, tp it's okay wae lah. #abaikan
Thank you to :
PaprikapumpkinMiss ChocoffeeUknow MeGuest | Always HaeHyuksenavenstaxiao yueliangmunakyumin137143 is 137Yenie Cho94
Lee Haerieunhyukjae86Phocuthyukmyboohimekimloveoelum96KalunaKang61EunhyukJinyoung02
viichan32naehyuk6HAEHYUK IS REALcho. .794elfridanurul.
alpDinaLee96NicKyunGuestPurpleLittleChoGaemGyu92haeveunkaKei Tsukiyomi
Sebenarnya sy ada collab ff HaeHyuk collab dengan salah satu author 'fenomenal'. Tapi karena sepertinya beliau sedang sibuk, jd sy tak berani ganggu. FFnya sendiri sj masih bingung ngelanjutnya. Jd sy putuskan u/ tidak menambah hutang. #abaikan
U/ KalunaKang61
Dan untuk yg bertanya tentang FF Love Never Wrong. Sy sebenarnya menganggap FF itu sudah tamat. Karena jujur sy sudah kehilangan feel u/ menulis sesuatu yg fluffy dan melow seperti 2th lalu. Jadi sy berniat menamatkan di chapter yg terakhir sy apdet. It's okay, right? #dibakar
Oke, sekali lagi terima kasih u/ partisipasi kalian di FF ini. Semoga kata – kata sy di atas tidak terlalu kasar bagi yg merasa. ;)
Do'akan sy cukup ide u/ melanjut ff sy yg lain. #abaikan
August 15, 2015
Meyla Rahma
