Don't Touch My Moyashi!

Chapter 2: It Started!


Kehidupan sekolah Allen dimulai. Dia merasa senang karena bisa mendapatkan banyak teman. Terutama tiga orang yang selalu ada di dekatnya. Kanda, Lavi, dan Akira.

Hari ini pelajaran musik. Anak-anak kelas 2-A dan 2-D segera pergi ke ruang musik(kebetulan jadwalnya sama).

"Allen-chan, kita ketemu lagi!" Sapa Akira riang. Dia duduk di kelas 2-D, bersama Bak Chan, Rou Fa, dan Miranda Lotto.

"Eh, Akira. Iya, kita bertemu lagi."

"Dimana sayangku dan Yuu-kun?" Tanya Akira sambil matanya mengedar ke setiap sudut ruangan.

"Ano, Kanda izin tidak masuk, kalau Lavi…."

"Tunggu, Allen-chan! Jangan disebut!" Tahan Akira.

"Iya, kau benar…."

Allen dengan sweatdropped menunjuk Lavi yang mulai iseng menggoda gadis dari kelas 2-D. Gadis yang terlihat genit itu malah menyukai saat Lavi menggodanya.

"Akira…." Allen khawatir. Akira hanya geleng-geleng kepala, lalu tersenyum penuh arti. "Ah, Allen-chan tunggu disini sebentar, yah! Aku nggak lama, kok."

Allen menahan nafas. Dia tahu kalau Akira sangat marah dan sekarang, supermodel belia itu menghampiri kekasihnya yang memang kegatelan.

Allen menanti ronde pertama….

BOK!

"Adaw!" Lavi mengaduh saat Akira memukul kepalanya. Dia menoleh. "Akira-chan!"

Akira tersenyum. "Halo, darling. Lagi asyik, nih?"

Lavi tahu arti senyum itu. "Ehehe, Akira sayang, Akira cantik…. Aku cuma bercanda, kok…."

Akira, masih dengan senyum di bibirnya yang mungil itu, merapati Lavi. "Sayang, nanti pulangnya main, yuk?"

"Main?" Lavi heran.

"Iya, main…." Sambil berkata dengan manis begitu, Akira mencubit pinggang Lavi. Lavi langsung kesetrum, tapi berusaha diam saja. Allen menutup mulut, berusaha tidak tertawa.

"Aduh, pinggangku…."

"Ah, Lavi sayang, kenapa? Sakit, ya? Ayo sini, kuobati." Tawar Akira dengan(pura-pura) manis.

"Eh, tidak usah, Akira manis…. Aku bisa sendiri, kok…." Tolak Lavi. Masih merapati kekasihnya, Akira mencubit lengan Lavi.

"Jangan begitu! Kan aku nggak tahu sakitnya yang mana. Ayo, ikut sebentar ke pojok…."

Akira menggeret Lavi dengan paksa ke pojokan yang tertutup tirai tempat penyimpanan alat-alat musik, lalu Allen menanti ronde kedua….

BUK!

"DASAR JELALATAN! DITINGGAL SEBENTAR NGGAK BISA DIAM!"

BUGH!

"Aw, adaw, ampun Akira sayang…. AW, AW!!"

DZIGG!

"NGGAK! NGGAK ADA AMPUN BAGIMU!"

DUK!

"Akira-chan, sakit! Aw! Adaw! Ampun, Akira-chann….! AMPUN!!"

BUAK!

"MEMANGNYA AKU HARUS BAGAIMANA LAGI KEPADAMU, LAVI??? KAU BELUM PUAS KUHAJAR SEPERTI INI, IYA??? MAU MENGULANGI LAGI, HAH???"

DUAK!

"Nggak Akira-chann…. Ampun, tobat…. Nggak lagi-lagi dehh…. ADAW! ADUH! AW!"

PLAKK!

"BOHONG! KEBIASAAN BOHONG KAMU TUH, YA! NANTI KALAU AKU PERGI SEBENTAR, KAU BEGITU LAGI, IYA??"

DZIGG!!

"Nggak, yang ini benerann…. Sumpah mati nggak akan begitu lagii…. Ampunn…."

Dan, sesuai dengan dugaan Allen, Akira menyeret Lavi keluar dengan keadaan nyaris tepar….

"Ohoho, maaf lama, ya, Allen-chan. Tadi Lavi ceroboh, sih…. Malah ketimpa alat-alat musik. Lavi aneh deh, hari ini. Sekali lagi maaf ya, Allen-chan. Ohohoho…." Sapa Akira sambil tertawa. Allen hanya mengangguk saja sambil sweatdropped, karena dia tahu tadi Lavi bukan kejatuhan alat-alat musik.

"Em, sudah dulu ya, Allen-chan. Aku mau bawa Lavi ke UKS dulu. Sampai nanti istirahat, ya!" Akira melambaikan tangan pada Allen, kemudian menyeret Lavi keluar.

"AYO, IKUT!" Seru Akira dengan garang.

"Iya…. iya…." Lavi pasrah.

Allen tertawa kecil. Sungguh pasangan yang unik, pikirnya.

Di sudut, ada seseorang memperhatikan Allen. Dengan detil dia mengamati tiap lekuk tubuh gadis berambut putih itu. Kemudian tersenyum lancang.

"Allen Walker…. A perfect body for my painting."

-X-X-X-

Sementara itu, di UKS.

"Kalau kamu nggak genit kayak tadi, aku nggak perlu selalu mukulin kamu kayak begini, Lavi!" Omel Akira sambil menempelkan plester ke wajah Lavi yang babak belur.

"Yah, tapi walau begitu, kamu tetap suka, kan?" Goda Lavi.

Wajah Akira spontan memerah. Karena malu, dia menempelkan kuat-kuat plesternya sampai Lavi merasa kesakitan lagi.

"Adaw!"

"Habis…. itu sisi lemahku, sih!" Elak Akira sambil membuang muka.

Lavi suka sekali melihat kekasihnya ini malu-malu. Baginya, kalau Akira malu-malu, dia menunjukkan inner beauty miliknya yang terpendam. Inner beauty yang tersembunyi di balik make-up yang selalu Akira pakai.

"Ah…. Aku akan ambilkan plester lagi."

Lavi menahan tangan Akira sebelum supermodel itu sempat pergi.

"Eh, Lavi?"

"Kamu cantik kalau malu-malu begitu, Kira-chan."

"Jangan panggil aku Kira! Aku kan bukan pembunuh!" Akira mencak-mencak. Lavi tersenyum.

"Waktu lagi mencak-mencak juga cantik." Kata Lavi. "Tapi paling cantik kalau…."

Lavi mencuri ciuman dari Akira. Kemudian melepasnya.

"Ah…."

"Wajahmu merah sehabis kucium."

Akira terdiam. Memang dia mudah sekali gugup, apalagi kalau Lavi menggodanya seperti tadi.

"Lavi, jangan main-main…. Kita harus segera kembali ke pelajaran…."

"Aku tidak mau, aku ingin kau bersamaku disini."

Lavi mengambil remote control pintu UKS dan mengaturnya menjadi full locked.

"Kamu takkan bisa kemana-mana."

Lavi menarik tangan Akira dan melempar tubuhnya ke arah ranjang UKS. Akira mengaduh sedikit, Lavi mulai menindih tubuh elok itu.

"Lavi, jangan…. Ini di sekolah…." Tolak Akira. "Kalau mau, kau bisa mengajakku ke hotel atau rumahmu…."

"Dimanapun tempatnya, sama saja. Yang paling penting adalah kepuasan, ne?" Lavi menolak mendengarkan Akira.

"Tapi, kalau ketahuan guru…. Kita bisa dikeluarkan…."

"Itu tidak jadi soal. Kalau kita dikeluarkan, aku akan menikahimu, beres kan?"

"Tapi…."

"Sudah diam, jangan buat aku kehilangan gairahku."

"Lavi…."

Lavi kembali mencium Akira. Kemudian menyusupkan lidahnya masuk.

"Mmmh…." Desah Akira.

Lavi meraba-raba bagian pinggang dan pinggul kekasihnya. Dia tahu betul mana titik lemah Akira, dan mulai membelai pinggul kekasihnya itu.

"Laviii…."

"Ada apa?"

Lavi berpikir sebentar sebelum mendaratkan tangannya. Setelah dia ingat, dia mendaratkan tangannya di resleting rok seragam Akira.

"Ah…. Jangan, Lavi, jangan…."

Lavi tidak mendengarkan. Dia terus menarik turun resleting rok itu sampai benar-benar terbuka.

"Begini, kita bisa mulai."

"Lavi…. kau…."

"Ssst. Percaya padaku, sayang."

Akira hanya bisa memejamkan matanya. Dia benar-benar merasa lemah saat itu juga.

Lavi membuka kancing seragam yang dikenakan Akira satu per satu, memperlihatkan leher jenjang yang indah, juga buah dada yang ranum.

"Sebaiknya, aku mulai darimana?"

"Hen-hentikan, Lavi…. jangan, kumohon jangan…."

"Sssh. Sudah kubilang, kau tenang saja. Rileks. Percaya padaku. Kalau kau terus merengek seperti itu, hal ini takkan berhasil." Sergah Lavi. Akira tak bisa melawan lagi.

"Hmm…."

Lavi tersenyum. Dia menjilati leher Akira, menggigitinya hingga meninggalkan bekas merah, sambil tangannya menyusup ke dalam bra yang dipakai Akira. Akira sendiri menahan perasaan yang meledak di dalam dadanya, di dalam jantungnya, agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.

"La-Laviii…. Kumohon, hentikann…. Jangan disiniii…." Mohon Akira lagi. Lavi menolak dengan cara menggigit leher kekasihnya lebih keras. Sudah tentu Akira tak bisa berkutik lagi.

"Kalau kau sudah bisa mengendalikan dirimu untuk diam, aku tak perlu mengasarimu seperti tadi." Ucap Lavi agak marah. Setelah itu dia berubah jadi lembut kembali.

"Maafkan aku. Rupanya aku terlalu keras padamu, Akira-ku yang cantik sampai ketakutan begini." Bisik Lavi, lalu menggigit leher Akira lagi.

"Ngghh…."

"Kalau hanya seperti itu, tidak apa-apa, cintaku. Aku suka itu."

Lavi berhenti sebentar untuk melepas seragamnya sendiri. Akira dapat dengan jelas melihat tubuh Lavi yang atletis itu, dan sudah pasti wajahnya menjadi tambah merah.

"Akira…."

Lavi terheran melihat kekasihnya itu sudah meneteskan air mata dari matanya yang membara itu.

"Sudah cukup…. Lavi…. aku…. aku tidak bisa…."

"Akira!"

Lavi paling tidak tahan melihat Akira menangis, apalagi menangis karena tingkah lakunya yang kelewatan.

"Maafkan aku…. Lavi…. aku tidak bisa…."

"Sudah, sudah, tidak apa-apa. Ini salahku, harusnya aku yang minta maaf padamu. Sudah sayang, jangan menangis lagi."

Lavi mencium sudut mata Akira, tempat jatuhnya bulir-bulir air matanya.

"Aku…. tidak bisa…. hik, hik…. huu…."

"Iya, tidak apa-apa. Kalau kamu tidak bisa, jangan dipaksakan. Semuanya salahku karena memaksamu. Sudah ya, anak manis jangan menangis lagi."

Sejujurnya, Akira benci kalau Lavi memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi dia tidak mau mempermasalahkannya, dia hanya ingin menangis dalam dekapan Lavi.

"Laviii…. aku tidak…. bisa…."

"Iya, iya, aku tahu. Aku tahu itu. Maafkan aku yang sudah memaksamu, aku terlalu buru-buru. Aku tak akan begitu lagi sampai kau sendiri yang menginginkannya."

"Bohong…."

"Aku tidak bohong. Kalau aku bohong, aku rela mati saat ini juga."

DEG!

"Jangan…. jangan…. Lavi jangan mati!! JANGAN!!"

Lavi lupa lagi kalau kekasihnya ini paling takut mendengar kata kematian.

"Aku tidak akan mati, aku janji…. Aku akan selalu menemani Akira…. Aku akan selalu ada di sisi Akira, pasti."

"Lavi janji, ya…."

"Iya, Lavi janji sama Akira."

"Jangan bohong…."

"Nggak, Lavi nggak akan bohong sama Akira."

-X-X-X-

Pelajaran musik sudah dimulai dan Allen khawatir karena Lavi dan Akira belum kembali. Dia ditemani Arystar Krory dan Yuufie, adiknya Kanda.

Allen terus menoleh keluar, untuk melihat apakah Lavi dan Akira sudah datang apa belum. Lalu, Krory yang duduk di sampingnya mencolek bahunya.

"Apaan sih, Krory?" Tanya Allen agak kesal.

"Itu…."

Allen menatap ke depan dan menemukan guru sekaligus wali kelasnya, Cloud, memelototinya.

"Nona Walker, sedang apa kau?" Tanya Cloud-sensei galak.

"Eh…. tidak kok, sensei…."

"Kau maju ke depan. Aku ingin tahu kemampuan musikmu!"

Allen maju dengan wajah pasrah.

"Alat musik apa yang harus kumainkan, sensei?" Tanya Allen dengan hati-hati.

"Mainkan apa saja yang kau bisa."

Allen menghampiri sebuah Grand Piano Black Pearl bermerek Yamaha itu dan mulai menarikan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano, memainkan sebuah lagu orkestra dari Mozart. Cloud-sensei dan anak-anak terkagum.

"Bagus sekali, nona Walker!" Cloud-sensei dan anak-anak memberi tepuk tangan. "Kau bisa lagu apalagi?"

"Canon mungkin? Atau salah satu dari Beethoven?"

"Apa saja yang kau suka."

Allen menarikan jarinya di tuts-tuts piano lagi, melantunkan nada Canon yang indah. Sekali lagi, Cloud-sensei dan anak-anak terkagum dengan permainan Allen.

"Nona Walker, apalagi yang kau bisa selain piano?"

"Apa, ya…. Cello, mungkin…. tapi kurang lancar. Selain itu aku juga suka menyanyi."

"Ah, itu!" Seru Cloud-sensei. "Menyanyilah."

"Ah, aku malu, sensei…." Tolak Allen.

"Tidak apa-apa nona Walker. Silakan."

Dengan malu-malu, Allen menyanyikan sebuah lagu.

Habataitara modorenai to itte

Mezashita no wa aoi aoi ano sora

Kanashimi wa mada oboerarezu

setsunasa wa ima tsukami hajimeta

anata e to idaku kono kanjou mo

ima kotoba ni kawatteru

michi naru sekai no

yume kara mezamete

kono hane wa hiroge tobidatsu

Habataitara modorenai to itte

Mezashita no wa aoi aoi ano sora

Tsukinuketara mitsukaru to shitte

Furikiru hodo aoi aoi ano sora

Aoi aoi ano sora

Aoi aoi ano sora

"Bravo! Suara yang indah."

Allen hanya mengangguk saja dan kembali duduk.

-X-X-X-

Sejak hari itu, Allen mulai populer di sekolah, bersama anak-anak populer yang lain. Selain suara dan keahlian musiknya, Allen juga supel. Maka, dia cepat terkenal.

Hari ini, saat Allen memasuki sekolah bersama Cross, anak-anak mulai menyiulinya, dan memberinya ucapan selamat pagi yang disertai hadiah.

"Pagi, Allen-chan!"

"Allen-chan!"

"Selamat pagi, Allen!"

"Allen! Pagi!"

Allen cuma tersenyum saja membalas sapaan pagi itu.

"Hmm, mulai populer nih?" Goda Cross.

"Ah, paman, biasa aja deh. Sudah ya, aku mau ke kelas."

"Iya, berjuang ya."

Allen berjalan menuju kelasnya diiringi sapaan pagi dan tatapan kagum. Tapi saat melewati kelas 1-E, Allen melihat anak kelas 3 yang tinggi, berambut hitam ikal, dan berkulit kecoklatan menatapnya dengan pandangan lancang. Allen hanya cuek saja dan meneruskan perjalanan.

Ketika sampai di kelas….

"PAGI, ALLEN!"

Allen terkejut. "Pagi…. Ada apa ini?"

"Mulai sekarang, kelas 2-A ini adalah markas untuk menampung semua penggemarmu, Allen!" Kata Lenalee Lee, adik dari guru Kimia, Komui Lee.

"Hee? Maksudnya?"

"Aku yang membentuk AFC! Allen Fans Club!" Seru Krory dan Lavi. "Ketua utamanya Lavi!"

Allen hanya tersenyum saja sambil berjalan menuju bangkunya, dan melihat Kanda yang sedang membaca buku.

"Pagi, Kanda." Sapa Allen.

"Hm."

Allen sudah menduga, itu jawaban Kanda. Allen langsung masuk, duduk di kursinya saat dia menemukan sebuah amplop berwarna peach.

"Kanda, ini dari siapa?"

"Aku tidak tahu. Sudah ada saat aku datang."

Penasaran, Allen membuka amplop dan membaca suratnya.

Nona Allen Walker, izinkan aku memuja keindahan dirimu.

Pesona dirimu merasuk ke dalam dadaku, meracuni hatiku, dan membuatku gila.

Aku sangat ingin memilikimu.

Tunggulah aku satu mInggu lagi, dan aku akan menjamah tubuhmu yang indah itu.

Salam,

Your STALKER

"KYAAA!!!" Allen menjerit. Kanda dan yang lain sampai kaget.

"Kenapa, Moyashi? Bikin orang jantungan aja!" Semprot Kanda.

"Allen-chan, ada apa?" Giliran Lavi yang tanya.

"Stalker…. Ada stalker!"

"Stalker?"

Kanda mengambil surat yang dibuang Allen dan menjadi bacaan seluruh kelas.

"APA-APAAN INI! TAK BISA DIBIARKAN!!"

Lavi, selaku ketua utama AFC, langsung panas. "Tim security, pastikan kalian menjaga Allen-chan selama satu minggu ini! Tim penyelidik, periksa semua orang yang mencurigakan dan bertampang mesum!"

Tim-tim yang disebutkan Lavi langsung bertindak. Allen dan Kanda plus Lenalee sweatdropped.

"Anu…. Allen-chan, apa tidak ada nama pengirimnya?" Tanya Lenalee. Allen menggeleng.

"Susah kalau begitu." Kata Krory.

"Lebih baik kita berjaga-jaga saja."

Allen tidak tahu harus menangis atau tetap tegar.

-X-X-X-

Saat jam olahraga, lagi-lagi Allen mendapatkan amplop berwarna peach di loker seragamnya. Dengan berdebar, apalagi dia sendirian di ruang ganti, Allen membaca suratnya. Tulisan itu lagi.

Nona Allen Walker, sudah membaca suratku yang pertama?

Kau betul-betul indah untukku.

Kau benar-benar menggairahkan untuk dilihat.

Kau pasti akan jatuh ke pelukanku.

Setelah aku merasakan bibir mungilmu yang ranum itu.

Salam,

Your STALKER

"Dasar mesum!"

Allen meremas kertas surat berwarna blue sky itu dan melemparnya ke dalam tong sampah. Hatinya dipenuhi ketakutan. Seingatnya, dia tidak melakukan apa-apa selama satu minggu bersekolah. Dia juga tidak berpakaian seronok saat sekolah ataupun jalan-jalan. Jadi, apa tujuan stalker itu?

Allen jadi tidak tenang mengganti pakaiannya.

-X-X-X-

Satu amplop berwarna peach, disertai dengan sekotak kecil kondom, datang di loker Allen saat pulang sekolah. Allen sudah sebal dan takut sekali, tapi dia lihat suratnya dan mengacuhkan kotak hadiah tak senonoh yang diberikan stalker itu.

Nona Allen Walker, apa kau menyukai hadiah yang kuberikan?

Aku ingin kau memakainya saat aku menjamah tubuhmu nanti.

Aku jadi tak sabar untuk segera melakukannya.

Sampai minggu depan, nona Allen Walker.

Salam,

Your STALKER

"AAH! Dasar sialan! Mesum! Kurang ajar!"

Allen merobek kertas surat itu dan membuang kotak kecil tak senonoh itu ke tong sampah.

Allen jadi benar-benar ketakutan sekarang. Dia tidak mau memberitahu Cross karena Cross sendiri sedang sibuk mengurusi nilai-nilai anak kelas 1 dan 2. Dia sangat takut, tapi tak berani memberitahu yang lain.

"Paman Cross, Lavi, Kanda…. siapapun, tolong aku…. aku takut…. aku takut sekali…."

Akhirnya Allen menangis sendirian di ruang loker.

-X-X-X-

"Baiklah! Satu minggu sudah berlalu. Teman-teman! Kumpulkan hasil kalian!" Perintah Lavi pada tim-tim yang dia kerahkan kemarin. Segera saja laporan berdatangan.

Sementara itu, Allen terlihat lesu di pojok, ditemani Lenalee, Akira, dan Yuufie.

"Aku bingung, pusing, takut…. Aku harus bagaimana?" Tanya Allen putus asa.

"Sabarlah Allen, Lavi dan teman-teman juga kan sedang berusaha mencari orang iseng itu." Ucap Yuufie menenangkan.

"Iya, Lavi itu benar-benar setia kalau sama teman, apalagi yang secantik dirimu!" Hibur Akira.

"Allen, mending jangan terlalu dipikirkan. Cerialah sedikit! Kamu kelihatan lesu satu minggu ini. Cross-sensei sampai menanyai pada kami, ada apa dengan dirimu." Kata Lenalee sambil membelai punggung Allen, mencoba menenangkan gadis itu.

"Iya, aku sudah mencoba untuk bersikap biasa saja, tapi tidak bisa…. Entah darimana orang iseng itu dapat nomor HP-ku dan dia menerorku dengan SMS yang datang setiap menit, atau dengan telepon setiap tengah malam. Aku tidak kuat…. aku takut, aku takut sekali,teman-teman…."

Allen mulai menangis lagi. Akira membelai rambut putihnya yang indah.

"Ooh, Allen, sudahlah…. Tuh lihat, kamu jadi depresi begini."

"Allen, sudah, jangan menangis, ya…. Kami semua jadi sedih."

Yuufie memeluk Allen yang gemetaran.

"Moyashi, kenapa nangis?"

Allen kenal suara itu. Yuu Kanda.

"Nii-chan, jangan panggil Allen-chan 'moyashi' dulu sekarang! Kasihan dia, apa nii-chan nggak lihat, Allen frustasi kayak gini?" Sergah Yuufie marah.

"Iya, iya, aku minta maaf Moy…. eh, Allen."

Allen hanya diam saja. Dia berdiri.

"Eh, Allen, mau kemana?" Tanya Lenalee.

"Mau ke WC."

"EEH?!"

Lavi histeris. "Allen-chan, jangan pergi sendirian! Biar aku temani…. ADAOW!!!"

Akira menendang 'itu'-nya Lavi.

"A-Akira…. Akira-chan sayang kok tega, sih…. aduh, duh ,duh…." Lavi meringis menahan sakit. "Nanti kalau masa depanku hancur, gimana….??"

"Makanya jangan pervert!" Omel Akira.

"Tapi kan nggak perlu nendang 'itu' punyaku…. Nanti kamu nggak puas kalau nggak bisa 'tegak'…."

"Iih, mesum! Pergi sana! GO TO HELL!!"

BUAKK!!

Akira memukul Lavi dan hasilnya, Lavi tepar….

Allen melangkah keluar kelas dengan gontai. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

Di jalan, dia bertemu dengan anak kelas 3 yang waktu itu menatapnya lancang. Allen buru-buru pergi dari situ, dan kakak kelas itu hanya tersenyum.

"Fuh, bisa tenang juga akhirnya." Ucap Allen senang setelah membasuh mukanya dengan air dingin. Tiba-tiba, dia melihat kakak kelas itu lagi di depannya.

"Permisi, kak." Allen menerobos, tapi tangannya ditarik kakak kelas itu.

"Eh?!"

"Allen Walker….. Have you receive all my letters, honey?"

Allen tersadar. "Jadi kakak yang mengirim semua surat mesum itu?! Juga benda itu?!"

"Benar. You're like an ecstasy for me, Allen Walker. Dan aku datang untuk menagih kata-kataku waktu itu."

"Apa yang…. Hmmmph!"

Mulut Allen dibekap oleh kakak kelas itu, dan dia diseret ke gudang.

"Awh!"

Allen mengaduh saat dilemparkan ke arah lantai yang keras. Roknya sedikit tersingkap.

"Sesuai dengan pengamatanku, kau benar-benar menggairahkan."

"Siapa kamu?! Lancang sekali, berani bilang begitu!" Semprot Allen karena kesal.

"Oya, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Tyki Mikk, dari Noah Family, donatur terbesar SMP Black Order."

"Apa yang kau mau, dasar mesum!"

"Yang kumau, simpel saja."

Kakak kelas bernama Tyki itu mendekati Allen. "Aku ingin kau jadi pacarku, cuma itu."

"Pergi! Menjauh dariku! Sampai kapanpun aku tak sudi menjadi pacarmu!" Ketus Allen.

Tyki menyingkap rok sekolah yang dipakai Allen.

"Hei! Jangan kurang ajar, ya!"

"Aku tidak kurang ajar. Aku hanya ingin…. mendapatkan yang kumau, dan itu kau, Allen Walker! Aku ingin memilikimu seutuhnya!"

Tyki mencengkeram kedua tangan Allen kuat, mencoba mencuri ciuman pertama gadis imut itu.

"Tidaaakk!! Jangan, jangan, pergi SANA!!"

Allen meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Tyki menahan kedua tangan Allen semakin kuat, sementara dia terus mencoba mencium Allen.

"Ayo manis, berikan ciuman pertamamu padaku."

"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak sudi!! Pokoknya TIDAK!!" Tolak Allen tegas.

"Huh, rupanya aku harus menggunakan cara keras, meski aku tidak mau."

Tyki menarik kerah seragam Allen dengan kuat, dan robeklah seragam itu seketika.

"Ah!"

"Nah, kan? Lihat apa yang kudapatkan."

Tyki mencium leher Allen. Allen menolehkan Wajahnya karena malu, dan kesulitan karena tidak bisa meloloskan diri.

"Lepaskan aku…. cepat lepaskan aku! Hentikan!" Ronta Allen. Air matanya sudah menetes. Dan Tyki masih tidak mendengarkannya.

"LEPASKAN AKU!! TOLONG!!! TOLONG AKU!!!"

BRAAAKK!

DZIGG!!!

Allen membuka matanya.

"Kau tak apa-apa, Moyashi?"

Allen membuka matanya lebar, dan terkejut melihat siapa yang menolongnya.

"Kanda!"

"Che. Tukang bikin repot! Untung saja aku temukan kau disini!"

Tyki kelihatan kesal. "Mau apa kau, bocah Jepang brengsek?"

"Aku kemari, untuk memastikan kalau kau tidak berlaku aneh-aneh pada Moyashi! Dia milikku, jadi jangan sentuh Moyashi-ku!" Kanda memberi ultimatum.

"Heh, terserah kau aja. Yang jelas, Allen Walker akan jadi milikku."

Tyki keluar sambil sedikit menubruk Kanda.

"Moyashi, kamu nggak…."

Allen langsung memeluk Kanda.

"Oi, moyashi?"

"Kanda, terimakasih…. terimakasih sudah menolongku…. kalau kau tidak datang, aku pasti sudah…."

"Sudah, sudah, dasar moyashi cengeng!" Cela Kanda.

"Kanda…. apa maksud pernyataanmu tadi?"

"I, itu…. Itu biar Noah mesum itu tidak mendekati kamu lagi! Begitu!" Jawab Kanda dengan wajah merah.

Allen tersenyum di sela isak tangisnya. "Tapi…. terimakasih ya, Kanda…."

"Ya, sama-sama."

Kanda membelai lembut punggung Allen, mencoba menenangkannya yang masih sesenggukan karena takut.

-X-X-X-