Abad ke-18 silam...

Lelaki berambut coklat itu mengetuk pintu tiga kali. "Boss? Apakah kau memanggilku?"

"Ya," Suara berat namun ramah membalasnya. "Masuklah, Lovino."

Dia, Lovino, ragu-ragu masuk ke tempat tersebut–ruang kerja pribadi sang Presiden Negara Italia. Dia berusaha bersikap sesopan mungkin. "Ada apa, Boss?"

Pria itu menghela napas panjang, sebelum berkata, "Lovino… Kau tahu apa yang menjadi teror negara kita, bukan?"

Ia mengangguk mengiyakan. "Mafia. Sudah beberapa tahun terakhir ini masyarakat tidak berani berbuat apa-apa karena ketakutan akan kelompok baji–uh, maksudku… tak beradab. Polisi hanya mampu menangkap beberapa siala–maksudku anggota, tetapi itu tidak berefek banyak," Bossnya hanya tersenyum memaklumi mendengar kata-kata kasar yang hampir keluar dari mulut Lovino. "Memangnya… Ada hubungan apa dengan Boss memanggilku?"

Senyum di wajah pria itu menghilang, digantikan helaan napas dan pandangan sayu. "Begini…" Lovino mengerutkan kening melihat sikap boss-nya tersebut.

"Aku meminta dirimu, Lovino Vargas–atau Romano, personafikasi dari Italia Selatan, untuk bergabung ke dalam mafia."

...

"Ha?"


To Be a Mafioso
By : Chained Feathers

.

.

.

Disclaimer :
Hetalia is owned by Himapapa

Warning :

Human!OCs, Using Human's Name, Typo(s), Semi-AU, Maybe OOC, Plot Ngebut, DLL.
.
Summary :
Lovino pun memiliki suatu rahasia besar–yang bahkan adiknya sendiri tidak tahu sepenuhnya. Namun ketika kebenaran akan eksistensi dari personafikasi terancam, cepat atau lambat rahasianya pasti terbongkar. Pasti. Mafia!Romano. Assassin!Romano.
.

.

.

Happy Reading


Present

Alferd melirik Lovino yang duduk di kursi penumpang depan. Lelaki itu terlihat sedang melahap sebuah tomat segar seraya menatap kearah jendela. Dari air mukanya, terlihat dia masih risau–tetapi lebih tenang.

Tidak tahan dengan aura canggung, sang lelaki penggila hamburger mencoba untuk mencairkan suasana. "Lovi, kenapa kamu tiba-tiba merubah keputusanmu?" Tanyanya pelan.

Dibalas dengan tatapan kosong. "Kepo."

Hening.

"Pfft," Lovino tergelak melihat ekspresi lawan bicaranya. "Bercanda kok. Tapi kau seriusan mau tahu?"

"Tentu saja! Hero tidak akan penasaran kalau ia mengetahui alasannya!"

Lelaki pencinta tomat tersebut menggaruk kepalanya sebelum berbicara, "Setelah dibaca dengan seksama, ternyata data-data yang kau dapat itu berhubungan erat dengan misiku, Al. Semua mafia atau pun teroris yang tertera di berkas itu ternyata telah menjalin kerja sama dengan Maldito de Reino."

"And then?"

Lovino memutar bola matanya. "Kau masih belum sadar? Itu artinya, semua yang terjadi adalah bagian dari permainan mereka. Termasuk berita penangkapan kemarin."

"Hah? …Maksud…mu? A-aku tidak mengerti."

"…Masih ingat insiden kecelakaan berturut-turut yang membunuh 15 keluarga nobel di seluruh dunia? Pada 20 tahun yang lalu?"

"Um…" Lelaki berambut blonde tersebut mengetuk-ketuk stir mobil dengan jari. "Ya. Setengah dari mereka diakibatkan oleh kecelakaan pesawat, kalau tidak salah. Dua diantaranya karena mobil yang ditumpangi mendadak meledak–penyebabnya kebocoran oli, dan sisanya karena tabrakan beruntun."

Lovino memberikan tatapan penuh misteri. "Apa persamaan dari kematian keluarga tersebut?"

"Persamaan?" Dia meringis saat mengingatnya. "Well… Salah satu member keluarga mereka menghilang, dan beberapa hari kemudian ditemukan di puing-puing kebakaran–sebagian besar di tempat pembakaran sampah. Dalam keadaan badan bagian atas terbakar hitam–hampir menjadi abu malah, jadinya tidak bisa diidentifikasi kalau saja tidak ada kartu tanda pengenal. Anehnya, bagian bawah hanya luka bakar biasa."

"Benar," Lovino menghela napas. "Ini hanya tebakanku, tapi… Bagaimana kalau pembunuhan para nobel, ternyata adalah kamuflase?"

"…Pardon?"

"Bagaimana… Pada saat bersamaan, belasan anggota mafioso dinyatakan hilang, dan mereka semua adalah mata-mata? Bagaimana kalau ternyata mayat-mayat yang dikira anggota keluarga yang hilang sebenarnya adalah para penyusup yang dibunuh oleh pihak teroris? Sedangkan yang asli ternyata komplotan mereka sendiri?"

"WHAT!?"

Ckiiiiittt!

Alfred hampir salah menginjak gas kalau saja sebelah kakinya tidak lebih cepat untuk menginjak rem. Lovino refleks bersumpah serapah. "Yang benar saja?! Bi-bisa saja 'kan itu hanya kebetulan?!"

"Shi–Aku tahu kamu bakal terkejut, tapi tolong jangan selebay itu! Dan–tidak," Lovino mengutak-atik laptopnya dan memperlihatkannya kepada Alfred. Beberapa potongan artikel tentang insiden di seluruh dunia. Di sebelahnya, terpampang beberapa foto beserta tulisan 'LOST' beserta tanggal prakiraan hilang. "Lihat? Tiap tanggal hanya berbeda 1-2 hari. Bisa saja kebetulan, tetapi kebetulan seharusnya tidak terulang berturut-turut."

Sang personafikasi dari Amerika memberikan tatapan penuh tanda tanya. "D-dan kenapa kau mengira itu perbuatan targetmu, Lovi?"

"Maldito de Reino telah bekerja sama dengan banyak organisasi underground–mafia dan teroris. Mereka bisa menemukan para pengkhianat dengan cepat, sehingga setiap kelakukan busuk mereka tidak ada celah. Dan juga, aku mendapat laporan banyak organisasi kecil secara tiba-tiba menjadi kuat setelah menjalin kerja sama dengan organisasi tersebut," Dia menghela napas. "Singkat kata, mereka ada di pelosok dunia. Sulit untuk mengetahui mereka, karena cara bekerjanya berbeda dengan targetku yang lain–berkerja di balik layar. Ha-ha. Great."

"Jadi… Itu yang menjadi permasalahanmu?"

"Kalau aku menjawab 'ya', apa akan menjadi masalah untukmu?"

Alfred terdiam mendengar jawaban sarkastik dari mulut Lovino. Ia mengerutkan keningnya sebelum kembali menyetir. "Yah, kalau perkiraanmu memang terjadi, itu artinya masalahmu adalah masalah seluruh negara juga, Lovi."

Kalimatnya menarik perhatian Lovino. "Memangnya kenapa?"

Sang personafikasi memberikan tatapan datar penuh keseriusan.

"Asal kau tahu saja, sebenarnya meeting kali ini bisa dikagetorikan tingkat emergency. Aku sengaja tidak menyatakannya karena ini masih belum ada bukti."

Pupil mata sang Italian melebar. Emergency–tingkat berbahaya. Terakhir kali mereka mengadakannya saat World War 3 hampir terjadi. "Apa yang terjadi?"

"Ada yang meng-hack data-data tentang eksistensi personafikasi negara."


AN : Chapter 2 update~! Dan... Cliffhanger?

Sepertinya saya kebanyakan nonton Aveng*rs dan Miss*on Imp*ssible (;w;") Hanjirlah, mulai menjauh dari kenyataan acaranya Hetalia sendiri :'v

Lol words-nya cuman setengah dari chapter sebelumnya ahakhak–/digiling

Maafkan saya kalau kurang memuaskan (;w; ) Awalnya words-nya lebih banyak dibandingkan sekarang, tetapi setelah dipikir-pikir cukup lama… Ternyata plot-nya masuk ke chapter 3 :v Jadinya… ya… saya… cut? /digilinglagi

Ngomong-ngomong saya lagi baper D: Banyak guru di sekolah saya yang kena mutasi, dan sebagian besar itu yang seru-seru semua, tapi cuman ngajarin kakak kelas saya… Nanti waktu kelas 9 saya diajarin sama siapa dong? Hiks. :"(

And–yeah, as always…

R&R?