Kuroko Kyoudai no Basuke
Chapter 2 is Up!
hehehe... aku putuskan melanjutkannya dan insya allah bakal update 3-6 hari sekali. bila lagging mohon maaf.
Air yang turun dari langit membasahi segala hal yang terkenanya. Seorang anak perempuan berambut soft blue panjang berlari dibawah guyuran hujan. Entah apa atau siapa yang mengejarnya sehingga ia berlari dengan sekuat tenaganya. Dia berlari tanpa arah dan tak memperhatikan jalan, tibalah ia di jalan raya. Karena terlalu tiba-tiba, dia tak bisa bergerak dari truk yang akan menerjangnya. Namun sebelum itu seseorang meneriakkan namanya sambil menghempaskan tubuhnya menjauhi truk itu. Tanpa dapat dihentikan, hal buruk itupun terjadi.
.
.
.
Lagi-lagi mimpi buruk bertamu pada acara malamnya. Nafasnya tak beraturan, rambutnya berantakan, serta tubuhnya dibanjiri buliran-buliran peluh. Ia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya. Walaupun hal tersebut tak akan sepenuhnya menenangkan hatinya yang dipenuhi awan-awan gelap. Air shower yang membasahinya tak akan bisa membersihkan rasa penyesalan atas hal yang telah ia perbuat.
.
.
.
Apakah aku pantas menerima kebaikanmu?
Bukankah hal itu tak pantas untuk orang sepertiku?
.
.
.
"Ohayou, nii-san." sapa Ryu ketika dia melihat kakaknya turun dari lantai dua rumah mereka.
"Ohayou, Ryu." Tetsuya menjawab sambil duduk disebelah adiknya. "Hari ini apa yang akan kakak lakukan?" Tetsuya sejenak berpikir dan menjawab pertanyaan tersebut. "Aku akan meminta formulir pendaftaran official member. Ryu sendiri?" "Hari ini kami ada latih tanding, Kyouhei tak bisa berhenti meminta latih tanding. Jadi, ya... Haha." Tetsuya tersenyum mendengarnya dan berkata "Kau terlihat senang, Ryu." Wajah Ryu memerah seketika dan iapun bungkam sepanjang acara sarapan itu.
.
.
.
Acara latih tanding yang dilakukan Teiko vs Meiko chuugaku hari ini membuat Ryu agak gugup. Namun dia mempercayai teman-temannya yang akan bertanding.
Hasil sementara pada kuarter ketiga adalah 89-50 dengan keunggulan Teiko. "Hummm... Mereka bagus juga, tapi kita tak boleh membuat mereka mencetak angka lebih dari ini." Kyouhei berkata pada teamnya. "Bagaiman kalau berpindah dari man-to-man ke zone defense? Dengan begitu mereka tak akan mudah mencetak skor." usul Ryu pada para pemain, namun kelihatannya mereka tak sependapat dengannya. "Apa maksudmu, Ryu? Memang aku tak ingin mereka mencetak angka lagi, tapi aku ingin kita dapat mencapai angka lebih dari itu. Maka dari itu, semuanya ayo naikkan level dan buat double score... Kalau tidak triple score. Setuju?" kata Kyohei panjang lebar yang dijawab dengan 'OSU!' oleh yang lain. "Tunggu dulu, Kyouhei. Sebaiknya kau jangan melakukan hal itu." Ryu tidak suka dengan jalannya perbincangan dan mencoba membujuk teman-temannya untuk tidak melakukannya. "Kenapa tidak? Senpai-senpai kita bisa, maka kita juga harus bisa melakukannya.""Demo...""Ah, sudahlah. Ayo cepat semuanya." dengan itu Kyouhei dan yang lainnya pergi meninggalkan bench. 'Demo, jika kau lakukan itu apa bedanya kalian dengan mereka? Kalian tak akan lagi bisa merasakan kesenangan bermain basket, kalian tak akan ingat alasan awal kalian bermain basket.' adalah hal yang ingin Ryu katakan, namun dia tak bisa meneruskan kata-katanya.
Pada akhir pertandingan, sesuai katanya Teiko menang dengan 105-58. Namun Ryu tak merasakan apapun, hanya dinginnya hawa dari kemenangan tersebut serta wajah-wajah lawan mainnya yang penuh dengan keputus-asaan. Mimpi buruk yang sama sekali tidak ia inginkan.
.
.
.
Aku hanya ingin mendukung kalian dan melindungi kalian agar tidak menjadi seperti 'mereka'.
Namun kurasa kalian tak memerlukannya. Apakah kalian akan menerjang segala hal tersebut dan menjadi semacam mereka?
Apakah memang tak ada yang bisa kulakukan untuk membantu kalian? Apa aku tak bisa mencegahnya?
.
.
.
Sepulang dari latih tanding Ryu langsung pulang ke rumah tanpa menerima ajakan teman-temannya untuk mampir ke Majiba. Sesampainya, ia melemparkan tas serta blazernya sembarangan dalam ruang keluarga dan ingin merebahkan diri di sofa. Namun kakaknya masuk datang sebelum ia melakukannya. "Ryu, ada apa?""tak ada apa-apa, nii-san. Apa hari ini ada hal yang menarik, nii-san?" Ryu cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan agar tidak membuat kakaknya khawatir. "Kurasa tidak ada, tapi aku mendapat formulir pendaftaran official member. Tapi ada hal yang aneh dari itu, coach hanya akan menerimanya hari senin pukul 08:40. Kira-kira kenapa?" tanya Tetsuya sambil duduk disamping sang adik. "Aku punya perkiraan, sih. Tapi... Aku tak akan mengatakannya. Hanya saja aku punya satu saran untuk nii-san." Ryu tersenyum jahil menghadap pada kakak satu-satunya itu, membuat Tetsuya merasakan perasaan tidak enak. "Apa itu?""Sebaiknya nii-san membawa megaphone hari itu kalau tidak mau kelelahan. Teehee..." sambil mengatakannya Ryu pergi meninggalkan kakaknya untuk mandi. Yang ada dibenak kakaknya hanyalah 'kenapa?'.
.
.
.
Pada hari senin yang cerah di Seirin Kokou-tepatnya di atap-ada seorang perempuan dan 5 orang laki-laki. Tak tahu apa yang sebenarnya akan mereka lakukan, tapi salah seorangnya berambut soft blue dan merah-hitam.
"hum... Hum... Hum.. Aku telah menunggu kalian." dengan menyilangkan tangan di depan dadanya si perempuan berkata pada para lelaki itu.
"Apa kau bodoh?" Jawaban Kagami atas tingkah bodoh senpainya.
"Apa ini 'duel'?" Tetsuya berkomentar.
"Aku benar-benar lupa, tapi Senin..." Kagami berkata dengan biasa namun selanjutnya ia berteriak "5 menit lagi sudah waktunya upacara." Dengan mengeluarkan kertas dari sakunya, Kagami melanjutkan "Nih, cepat ambil."
"Sebelum itu aku punya satu hal yang ingin kukatakan. Aku berjanji setahun yang lalu ketika mereka memintaku untuk menjadi coach. Aku berjanji untuk bersungguh-sungguh mendorong team untuk memenangkan kejuaraan nasional. Jika kalian pikir kalian belum siap untuk itu, ada klub lain yang bisa kalian masuki."
"Ha? Tentu saja aku—" belum sampai Kagami meneruskannya, coach memotong perkataannya."Aku tau kau kuat. Tapi aku ingin tau kalau kalian punya hal yang lebih penting. Tak peduli seberapa kerasnya kau berlatih, 'suatu hari nanti' dan 'jika bisa' tidak dapat diterima. Aku ingin tau kalian punya ambisi yang kuat dan keinginan besar untuk mencapainya. Sekarang teriakkan tingkatan, kelas, dan namamu serta tujuan kalian. Jika kalian tak bisa mencapainya, kalian akan kembali kemari dan nyatakan perasaan kalian pada anak perempuan yang disuka dengan telanjang." hal itu sontak mendapat teriakan kaget dari ketiga anak kelas 1 SMA.
'Haa... Jadi ini maksud Ryu.' pikiran itulah yang muncul pada benak Tetsuya. Dan benar saja Tetsuya membawa benda yang disarankan adiknya karena ia percaya adiknya tak pernah membohonginya.
"Anak-anak kelas 2 yang sekarang melakukannya tahun lalu." lanjut Coach mereka.
"Apa? Aku tak pernah mendengar hal ini.""Tidak, kurasa aku dengar hal ini saat mereka merekrutku.""Tapi aku tak percaya mereka akan benar-benar..." ketiga anak kelas 1 itu berbicara dengan sedikit ketakutan.
"Seperti yang sudah kukatakan, aku mencari sesuatu yang konkrit dan layak untuk disebut ambisi. Harus lebih tinggi dari 'bermain pertandingan untuk pertama kali' atau 'melakukan yang terbaik'."
"Mudah sekali. Ini sama sekali tak bisa disebut dengan tes." sambil berucap itu, Kagami melompat dan berdiri pada pagar pembatas atap serta meneriakkan. "Kelas 1-B nomor 5, Kagami Taiga. Aku akan mengalahkan Kiseki no Sedai dan menjadi pemain terbaik di Jepang!"
"Selanjutnya! Jika kalian tidak cepat-cepat, para guru akan segera datang kemari." Dengan nada jahil Coach-Aida Riko- berkata pada para kelas 1.
"Maaf, apa aku boleh mengatakan kalau aku ingin pacar." salah seorang dari mereka bertanya pada Riko.
"Tidak boleh. Yang lainnya?"
"Baiklah, aku. Kelas 1-A, Kawahara Kouichi, pemain dari Chuo-ku, Tokyo. -"karena terlalu panjang Riko menendangnya untuk segera menyingkir.
"Selanjutnya."
"Ano, aku ingin pacar."
"Aku bilang tidak boleh."
"Kelas 1-D, Fukuda Hiroshi. Aku suka membantu orang, jadi ketika seorang senpai meminta bantuan, aku segera menarwarkan diri untuk menolongnya."
"Kelas 1-D, Furihata Koki. Anak perempuan yang aku suka mengatakan bahwa dia akan pacaran denganku jika aku menjadi yang terbaik pada suatu bidang. Maka dari itu, aku bergabung dengan team basket untuk menjadi nomor satu."
"Jika ini tak bisa diterima, aku tidak masalah jika tak dapat bergabung." kata Furihata pada Riko.
"Aku rasa aku sedikit tersentuh. Siapa selanjutnya?" Tiba-tiba Tetsuya muncul dibelakang Riko dan mengagetkannya. "Maaf, aku tidak terlalu bisa berteriak, jadi bolehkah aku memakai ini?" Tetsuya mengangkat megaphone. "Darimana kau mendapatkannya?" tanya Riko. Tapi sebelum Tetsuya menyelesaikannya para guru datang terlebih dahulu.
.
.
.
Teiko Chuugaku
Ryu bersenandung sambil berjalan menuju gedung olahraga ertama untuk latihan klub basket. Namun sebelum masuk dia mendengar ercakaan ara anggota tim basket Teiko.
"Hey, kelihatannya salah satu dari menajer kita akan dikeluarkan dari tim basket, kalau dilihat sih seertinya Kuroko." Salah seorang pemain yang Ryu kenali dari suaranya adalah Kosuke Kenji mengatakan hal tersebut. Ryu terpaku pada posisinya di depan pintu.
"Benarkah? Kau tau darimana akan hal itu?" jawab pemain lain.
"Aku mendengar pembicaraan kapten dan wakil kapten kita." Ujarnya,
"Kau menguping!? Yah, kalau menurutku sih itu salahnya sendiri, waktu latih tanding lalu kan mereka berselisih pendapat." Balas pemain lainnya.
Karena tak ingin mendengar lebih banyak lagi, Ryu membuka pintu sambil berteriak dengan suara yang dibuat seceria mungkin. "Oi, cepat lakukan latihan fisik. Kalau tidak kau harus melakukannya lima kali lipat." Mendengarnya, semua pemain sesegera mungkin beranjak pergi karena takut akan ancaman iblis manis yang dijuluki 'Little Devil' dari Teiko. Walaupun begitu rasa luka samar-samar terpancar dari bola mata birunya.
.
.
Latihan hari itu berjalan seperti biasanya, namun tetap saja perasaan tak enak menjalar dihati Ryu. Dan itu terbukti saat ia dipanggil oleh Kyohei keruangan klub basket.
"Ryu... keluar dari tim basket. Keputusanku final." Kyohei memecah keheningan dengan nadanya yang serius diperkuat dengan hilangnya panggilan –chin pada nama Ryu.
"Keluarlah dari tim basket. Ini perintah." —Sekelebat ingatan muncul dibenaknya.
"Kenapa?" Suara yang keluar dari mulutnya terdengar sangat lirih.
"Kami tak lagi membutuhkanmu." Suara dingin Kyohei menambah luka dari kenyataan yang harus dihadapinya.
"Apa adanya aku di tim ini sama sekali tak membantu?" Tubuhnya yang mungil mulai bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Soudayo. Kamu sama sekali tak dapat membantu tim ini, kau malah memperlambat kami." Walaupun terasa sakit dia tetap berdiri menatap Kyohei yang mengatakan kalimat-kalimat menyakitkan tersebut.
"Baiklah. Aku akan keluar." Ryu tersenyum dan pergi dari ruangan klub dengan berlari sekuat tenaga yang ada.
.
Mengapa? Apa segala upaya yang kuberikan tak cukup?
Atau karena aku sudah tak berguna?
.
Tanpa sadar Ryu telah sampai di Majiba. Dia melihat sosok kakaknya serta teman berambut merahnya. Karena tak mau mengkhawatirkan kakaknya dia menghapus sisa air matanya dan masuk ke Majiba.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak masuk ke SMA besar seperti kelima anggota lainnya? Kau kan dijuluki sebagai phantom sixth man. Apa kau punya alasan untuk bermain basket?" Si merah bertannya pada Tetsuya.
"Tim basket SMP-ku punya satu prinsip utama—" sebelum dapat menyelesaikan perkataannya, Ryu memotong "Kemenangan adalah segalanya." "Uwaa—darimana kau datang?" Si merah kaget akan kedatangan Ryu berteriak. "Benar. Daripada kerja tim, kami diharuskan mendorong kemampuan individual Kiseki no Sedai untuk menang. Tak ada yang bisa mengalahkan kami, tapi kami tak dapat disebut tim. Mereka berlima menerimanya, tapi aku merasa kalau kami kekurangan suatu hal yang sangat penting." Tanpa menghiraukan si merah Tetsuya melanjutkan perkataannya.
"Tung—tunggu dulu, siapa anak kecil ini?" Tanya si merah.
"Hajimemashite, kelas tiga dari SMP Teiko, Kuroko Ryu desu." Jawab Ryu dengan penuh semangat.
"Bukan itu! Tunggu! SMP Teiko! Kuroko!?" karena terlalu shock, si merah berteriak.
"Senpai, jangan berteriak di tempat umum! Lalu siapa nama senpai?" jawabnya.
"a—maaf, aku Kagami Taiga, SMA Seirin kelas satu—bukan itu, aa— haah... terserah, Kuroko apa kau berniat mengalahkan Kiseki no sedai dengan basketmu?"
"Itu yang kupikirkan." Jawab sang pemain bayangan
"Kau serius?" Tanya Kagami dengan tersenyum.
"Lagipula, perkataan kamu dan pelatih membuatku tertegun. Sekarang alasan terbesarku untuk bermain basket adalah ingin menjadikan kamu dan tim kita yang terbaik di Jepang." Jawaban Tetsuya membuat Ryu tersenyum sangat lebar. Lalu, Kagami berdiri sambil berkata "Bukan 'ingin'. Kita 'akan' jadi nomor satu di Jepang." Perkataan Kagami membuat Ryu tertegun dan tersenyum, begitu pula dengan Tetsuya.
.
.
Walau telah kehilangan satu hal yang berharga,
Aku mendapatkan hal lain yang mungkin akan lebih berharga.
.
.
Teiko Chuugaku
Ryu melakukan kesehariannya seperti biasa, hanya saja sejak pagi hari SMP-nya penuh dengan murid yang menggosip. Saat dia mendekat murid-murid tersebut berhenti berbicara. Yakinlah dia bahwa mereka membicarakannya. Tiba-tiba dari belakang ada anak laki-laki berambut merah yang merangkulnya.
"Ohayou, Richi~." Suara ceria Ranmaru masuk kependengaran Ryu.
"Ohayou, Ranmaru." Jawab Ryu sambil menggerakkan siku-nya ke perut Ranmaru. Dengan menahan sakit, diapun melepaskan rangkulannya dari Ryu.
"Richi, jangan dipikirkan rumor-rumor itu." Kata Ranmaru sambil berjalan bersebelahan dengan Ryu.
"Aku tak memikirkannya sama sekali. Lagipula itu bukanlah rumor, aku 'kan memang dikeluarkan dari tim basket." Jawab Ryu tak peduli.
"Ayolah, Richi itu tidak benar. Kyohei melakukannya pasti juga ada alasannya." Ryu tak menjawab pernyataan dari temannya tersebut dan melanjutkan pergi ke kelas mereka.
.
.
"He? Kise-senpai datang ke sekolah Nii-san? Kenapa?" pulang sekolah Ryu dikagetkan dengan berita yang dibawa oleh kakaknya.
"Kise-kun datang karena Seirin akan latih tanding dengan Kaijo." Jawab kakaknya tetap dengan wajahnya yang datar.
"hmmm... apa Kise-senpai berkata 'berikan Kurokochi'?" Tanya Ryu. Kakaknya terdiam mendengar apa yang dikatakan adiknya.
"hee... seperti yang kuduga, dari sikapnya yang sengaja datang ke sekolah Nii-san padahal akan bertemu saat latih tanding. Hanya hal itu yang dapat terpikir." Kata Ryu panjang lebar. "hehe, Nii-san ganbatte, ne." Katanya dengan senyuman hangat serta pikiran untuk ingin pergi ke latih tanding kakaknya.
Sampai disini chap 2. bila ada kesalahan (mungkin banyak) mohon maaf :D
R&R Please!
