Bye Bye 2
Ansatsu kyoushitsu / Assassination classroom hanya milik Yuusei Matsui
Hanya iseng-iseng bikin fanfic ini
Genre : Tragedy, Mystery, Hurt/Comfort.
Warning : OOC, alur kecepetan, typo bertebaran, EYD terlupakan.
Rate : T
Summary : chapter 2 / "BUNUH AKU SEKARANG.." Ucap Gakushuu lantang / Mata ku serasa panas, Peluh air mata membasahi pipi ku. Aku sedih melihat adik ku yang sudah tergeletak tak bernyawa di ambang pintu. / Semoga aku tak pernah merasakan cinta sejati.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Selamat membaca (^o^)/.
.
.
Masih flashback '-'
"Karmaaaaaaaa." Gakushuu sendiri bahkan tidak tau apa yang sedang dilakukan ibunya pada adiknya itu. Tubuh Gakushuu kaku, bahkan ia tidak berani melangkahkan kaki dari tempat ia berpijak. Ia bertanya-tanya, dimana ayahnya sekarang berada.
Ia mencoba memutar otak nya agar bisa pergi dari sini, walau pun harus meninggalkan adik tersayangnya yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Suara langkah diseret semakin memekikan telinga Gakushuu, membuatnya tersadar akan lamunannya yang berusaha untuk berpikir, ia yakin ibunya menyeret kakinya untuk menuju ke tempat nya berpijak.
"Gakushuu-kun, jadilah anak yang baik. Jangan tidur terlalu larut, fufu." Gakushuu membulatkan mata nya disaat pisau dapur menyayat lengan kanannya. Darah segar mengalir di kulit putihnya. Gigi Gakushuu bergemetrak kencang, keringat dingin mulai membasahi pelipis nya. Rasa takut akan ibunya ini mengalahkan rasa perih yang menyerang lengan tangannya.
"Tidurlah, sayang. Fufu." Bisikan halus mengalun di telinga kiri Gakushuu. Gakushuu hanya bisa memejamkan mata dan menerima takdirnya mentah-mentah. "tolong.. shuu-nii.." permintaan Karma terakhir sebelum dia terbunuh kembali terngiang di pikiran Gakushuu. Yang bisa ia lakukan untuk menolong Gakushuu saat ini adalah melaporkan wanita gila ini ke polisi. Tapi, apalah daya, sekarang nyawa Gakushuu juga sudah diujung tanduk.
"BUNUH AKU SEKARANG.." Ucap Gakushuu lantang, membuat tawa wanita gila itu tertawa terbahak-bahak "Dengan senang hati, sayang."
Sekarang Gakushuu senang karena seebentar lagi dapat menemani Karma yang sudah pergi mendahuluinya.
Listrik tiba-tiba menyala, Disaat semua orang senang saat listrik kambali hidup, dia justru malah ketakutan bukan main. Karena, yang ada di hadapanya sekarang hanyalah seorang ibu kandungnya sendiri dengan surai jingga yang acak-acakan dan darah yang ia yakini adalah darah adiknya, seringai mengerikan terukir di wajah wanita itu sembari tangan nya mengayunkan pisau dapur.
"Selamat tinggal dunia, senang bertemu dengan mu lagi, Karma." Gakushuu memejamkan matanya, membuat pandangannya menjadi gelap gulita. Ia tak mau melihat akhir dari hidupnya mati dtangan ibunya sendiri.
DUAAAAKKKK
"Maaf kan ayah, Gakushuu. Ayah telat datang ke kamar mu."
Gakushuu POV
Aku membuka mata ku, pandangan ku yang awalnya gelap gulita akhirnya berubah. Sosok laki-laki yang cukup ku kenal sekarang berada di hadapan ku tangan nya memegang tongkat baseball milik adik ku. Anehnya tongkat baseball itu berlumuran darah. Aku melihat ke bawah, ternyata wanita gila itu sudah tergeletak pingsan dengan darah mengalir di kepalanya.
"Ayahhh..." aku memanggil pria itu, dia tersenyum kepadaku setelah melihat aku masih sehat-sehat saja.
Kuperhatikan kemeja putih nya yang ternodai oleh banyak noda merah yang sepertinya darah miliknya. Mungkin, sebelum ibu membunuh adikku, ibu hampir membunuh ayah. Untunglah tadi ayah hanya pingsan saja dan ia sempat menolong ku di sini.
Mata ku serasa panas, Peluh air mata membasahi pipi ku. Aku sedih melihat adik ku yang sudah tergeletak tak bernyawa di ambang pintu. Tapi, aku juga senang melihat ayah ku masih hidup dan tidak melupakan ku.
Aku langsung melompat dari tempat yang kududuki dan segera memeluk ayah. Aku menangis di dekapannya, walaupun bajunya penuh dengan darah dengan bau amis yang menusuk hidung ku tapi aku tak peduli. Aku masih menangis di pelukannya. Aku merasakan ia menepuk-nepuk ujung kepalaku, membelai surai jingga ku. Rasa yang terakhir kurasakan pada waktu aku umur empat tahun.
"Maafkan aku. Aku telat menolong Karma." Ia menepuk-nempuk punggung ku berusaha menghentikan tangis ku yang makin kencang.
"Ayah, cepat panggil polisi. Dan penjarakan wanita gila ini." Aku berbicara dengan cepat, bukan seperti aku yang selalu bicara tanang dan bijak. Tapi, kali ini menyangkut nyawa adik ku, aku tak bisa terima jika ada yang berani melukai adik ku walau pun itu adalah ibu kandung ku sendiri.
Ayah melihat ku secara intens, sunyumnya yang tadi diberikannya pada ku berubah menjadi wajah datar yang kubenci. Ia melepaskan pelukan nya dan mendudukan ku di pinggiran kasur.
Ia jongkok di hadapan ku, membuat tinggi nya dan tinggi ku sama dengannya "Kau tau kan dia itu ibu mu."
Aku hanya mengangguk lemah dan berusaha menghapus air mata yang tadi baru saja mengalir deras.
"Kau tau juga kan dia itu istri ku."
Lagi-lagi aku mengangguk, mulut ku rasanya tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk membalas ucapannya
"Karena dia istri ku, aku akan menerimanya apa adanya. Walaupun dia gila sekalipun. Jadi, kita tak perlu memanggil polisi."
Mata ku membulat lebar, Aku tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkannya "Apa maksud mu hah ? dia sudah jelas-jelas membunuh Karma. Dan ini yang kau ucap kan. Karma juga anak mu tahu." Aku bangkit dari duduk ku dan mencengkeram kerah kemeja nya. Dia yang sadar bahwa dirinya salah hanya mendiamkan ku dan tetap menunduk ke bawah.
"Kau yang anak kecil tidak paham dengan artinya cinta sejati." Ia mulai berdiri dan menjatuhkan ku hingga aku terbaring diatas kasur.
Tatapan nya menjadi tajam sekali. Mengerikan, pikir ku. Aku tak bisa berkata apa-apa tatapannya seperti mengunci mulut ku.
"Mungkin ini waktu nya aku jujur pada mu. Sebenarnya ibu mu jika dalam kegelapan akan langsung bersikap seperti psikopat. Maka dari itu, aku selalu mengikat ibu mu di malam hari agar tidak menyerang orang. Tetapi, hari ini dia lepas dari pandangan ku dan menyerang ku. Dan, kau pasti tau kan kelanjutannya kan."
Aku semakin kaget dengan pernyataan nya, ternyata selama 12 tahun ini aku telah dibohongi.
"Sudahlah kau tidur saja. Ini sudah malam, biar aku yang mengurus ibu mu dan pemakan Karma." Aku tidak bisa menerima kenyataan yang sangat pahit ini, aku tidak bisa membalas ucapannya, yang kubisa hanya lah memperhatikannya membopong tubuh ibu yang setengah sadar untuk keluaar dari kamar ku.
Yang bisa kulakukan hanyalah memperhatikan mayat Karma di ambang pintu dan menangis dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya aku paham bahwa, CINTA SEJATI ITU BUSUK.
Semoga aku tak pernah merasakan cinta sejati.
.
.
Bersambung~
Akhirnya chapter 2 selesai yeaaaayyyy (~^o^)~
Woaaahhhh bersyukur ada liburan 2 hari berturut-turut :'D
Mungkin di chapter 3 bakal lama update nye, liburan telah pergi meninggalkan ku #woijangancurhat xD.
Makasih udah mau baca :3
Review pleeeaaasseeee x3 x3 :*
