Yosh. Chapter 2 yeeeey~

Oke, chapter ini kubuat sedikit lebih panjang lagi, semoga masih ada yang mau membacanya #jleb

Makasih buat yang sudah me-review chapter satu kemarin, saya balas lewat pm yaa ^^

Oke, langsung saja,

DON'T LIKE, DON'T READ

Title : Sakura Disappear

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warnings : OOC, Gaje, Typo, dll

Maaf kalau jelek :)

Story by: Bii Akari


SAKURA'S POV

"Cukup, jika kau hanya ingin membahas hal bodoh macam itu, lupakan saja."

Sepatah kalimat yang keluar dengan lancar dari bibirnya itu terus menggema di kepalaku, apa aku keterlaluan?

Dan, apa yang dia maksud dengan hal bodoh? Perasaanku? Dia sebut itu bodoh?

Entah aku yang bodoh karena mencintai pria sepertinya atau dia yang bodoh karena mengatai perasaanku bodoh. Ah, cinta memang memuakkan.

Arrgh, rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia ini, menyebalkan.

Kenapa? Apa yang salah denganku? Apa aku begitu jelek? Atau aku menyebalkan?

Apa Sasuke membenciku? Karena itu dia berkata sekasar itu padaku?

Tuhan, mengapa aku harus bernasib seperti ini, hiks.

Aku terus menangis di kursi taman itu, tak memperdulikan berbagai macam tatapan yang dilayangkan untukku oleh orang-orang di sekelilingku itu, bahkan samar-samar aku mendengar beberapa remaja menggosipiku. Mereka mengatai aku bodoh lah, sok cantik lah, kepedean lah, pokoknya segala caci maki yang benar-benar membuatku muak.

Aku, benci kau, Sasuke.

Aku benci, aku benci sikap cuekmu itu, wajah dinginmu itu, rambut pantat ayammu, bahkan tatapan matamu, aku benci semuanya, aku benci kau, baka.

Hiks.

Tangisku semakin kencang. Meski tak menimbulkan suara sedikit pun, tapi buliran bening yang keluar dari kedua mataku terasa semakin lancar, mengalir begitu saja.

Sekarang, apa yang harus aku lakukan?

"Kau tak apa, Sakura?"

Aku menolehkan kepalaku ke samping, dan langsung saja mendapati wajah Lee yang terlihat khawatir.

"A-aku tidak apa-apa," ucapku pelan, dengan suara yang parau dan sedikit sesenggukan, ku tahan air mataku sebisa mungkin, mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

"Tak usah bersedih, Sakura. Mungkin Sas-"

"Kau melihatnya?" potongku cepat, dengan nada histeris yang sedikit berteriak.

Lee pun mengangguk lemah.

Oh, Kami-sama, sekarang harus kupasang di mana wajahku ini?

Aku pun hanya menunduk, tak berniat memandang pria di sampingku itu, "K-kau melihat semuanya?" tanyaku lagi, dengan nada yang mulai bergetar.

Tak cukupkah aku menahan sakit karena ditinggal Sasuke?

Haruskah aku menahan malu di hadapan orang lain juga?

Semua ini, terlalu berat bagiku.

"Naruto juga melihat semuanya," tutur Lee, membuatku kembali mengangkat wajah dan menatapnya dalam-dalam, mencari kejujuran di dalam ucapannya.

"B-bahkan Naruto juga?" pekikku, nyaris berteriak sepenuhnya. Sementara Lee, dia kembali meresponku dengan anggukan lemahnya.

Oh, tidak. Sekarang aku benar-benar tampak bodoh.

Sejenak, aku terdiam, otakku serasa tiba-tiba berhenti bekerja, perasaan ini sungguh menyesakkan. Tanpa sadar, aku menghembuskan napas berat, "Saku-"

"Aku," potongku cepat, membuat Lee tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih mendengarkan lanjutan perkataanku. "Bodoh kan, Lee?"

Dapat kurasakan air mataku yang hendak menerobos keluar lagi, hingga membuatku harus bersusah payah untuk menahannya, masih sambil menatap Lee dengan pandangan kosong.

"Tidak Sa-"

"Mungkin aku, harus mencari udara segar sejenak," ucapku pelan, sambil bangkit dari dudukku.

Melihat pandangan Lee yang sejak tadi terlihat redup, aku berusaha tersenyum se-biasa mungkin untuk menenangkannya, "Tak apa Lee," ucapku, dengan sedikit kekehan kecil di ujungnya.

"Aku, pasti bisa melewatinya."

Kali ini, tatapan Lee berubah, sedikit terlihat lebih baik dibanding tadi, "Heh, kau itu kuat Sakura, aku tahu itu."

Aku pun juga ikut tersenyum, membalas senyum simpul Lee yang lebar, "Yosh, aku hanya butuh waktu," ujarku, sangat pelan namun tak luput dari pendengaran pria di sampingku ini.

Yup, benar, aku gadis yang kuat.

Yang kubutuhkan saat ini hanyalah, waktu yang sedikit lebih lama lagi.

"Apa maksu-"

"Hei, guru Guy!" teriakku cepat, sekencang yang ku bisa sambil menunjuk ke arah sembarangan.

Dan seperti dugaanku, Lee pasti akan menoleh ke arah sana, "Mana? Mana?"

Tanpa perlu basa basi lagi, aku langsung saja pergi dari sana, meninggalkan Lee yang masih terlihat sibuk mencari keberadaan guru tersayangnya itu. Maafkan aku, Lee.

Sekarang aku tak hanya gadis yang bodoh, tapi aku juga telah menjadi seorang gadis yang pengecut.

Lari dari kenyataan dan menghindar dari masalah seperti ini, aku sungguh tak pernah membayangkan akan ada hari dimana aku harus bersembunyi seperti seorang pencuri.

Ada apa denganku? Mengapa aku menjadi begitu putus asa?

Hanya karena seorang Uchiha Sasuke? Haruskah aku melangkah sejauh ini demi dia? Demi melupakannya?

Tidak adakah, jalan lain?

Ku hayati sekelilingku dengan seksama, semua pohon-pohon di sini terlihat sama saja. Sejak dulu, aku memang tidak terlalu pandai menghafal jalan, apalagi jika pemandangan di sekelilingku hanya pohon-pohon tinggi seperti ini. Tapi tidak, aku tidak boleh berhenti, Lee dan Naruto pasti sedang mengejarku sekarang, dan aku yakin jika aku lengah sedikit saja, mereka bisa menyusulku.

Karena rasanya, saat ini aku tidak sanggup untuk bertemu dengan mereka, terlebih lagi dengan si pantat ayam itu.

Aku terus melompat dari satu dahan ke dahan lain, menjaga laju lariku agar tetap konstan dan tidak berkurang sedikit pun. Aku, butuh udara segar, jauh dari hiruk pikuk kearamaian Konoha.

Cukup lama aku berlarian hingga akhirnya aku benar-benar keluar dari desa Konoha, dan aku tahu, mereka semua pasti akan menyadarinya dengan cepat. Tapi, aku mohon, beri aku waktu lebih lama lagi. Aku hanya ingin mengistirahatkan batinku, manjauh dari sana dan menyendiri. Setelah ini, aku berjanji akan pulang kembali, karena tempatku memang di sana.


NORMAL POV

"Nenek Tsunade!" teriak Naruto dengan kencang, sambil berlarian menuju ruang Hokage yang terletak di lantai teratas bangunan besar itu.

"Nenek!" teriak Naruto lagi, sambil mendobrak pintu ruangan Hokage dan menyerobot masuk. Napasnya masih setengah-setengah namun Naruto tetap ngotot untuk melanjutkan ucapannya, "Gawat, Nek!"

"Ada apa, Naruto! Baka, kau merusak pintuku, dasar anak bodoh, minta kuhajar ya?!" teriak Tsunade tidak kalah lantangnya, sambil bangkit dari duduknya dan hendak menghabisi Naruto yang masih berdiri di hadapannya.

"T-tunggu, Nenek. Ini benar-benar gawat. Sakura pergi," ucap Naruto secepat mungkin, berusaha keras menghalau serangan Tsunade.

"Pergi?" gumam Tsunade bingung, mendengar nama murid medisnya itu dari mulut Naruto seketika membuatnya menghentikan aksinya.

"Ya! Sakura pergi dari desa! Ini gawat, diriku dan Lee sudah pergi mengejarnya!" lapor Naruto dengan tergesa-gesa, membuat Tsunade seketika murka.

"Kenapa Sakura bisa pergi, hah? Gadis bodoh itu, pasti ada yang kau lakukan padanya kan, Naruto?" tanya Tsunade dengan penuh amarah, membuat bunshin Naruto yang masih berdiri di hadapannya segera menggeleng kuat.

"Sasuke yang membuatnya pergi," ujar Naruto pelan dengan emosi yang meluap-luap.

"Sial, aku akan pergi menghajarnya!" putus Naruto, hendak melangkah pergi meninggalkan Tsunade yang masih terlihat terkejut.

"Tunggu! Kau ingin membawa Sakura kembali, bukan?" sergah Tsunade, sebelum Naruto bertindak lebih jauh.

"Tentu saja, Nenek!"

"Kalau begitu, tunda amarahmu. Prioritas utama kita adalah membawa Sakura kembali, soal Sasuke, itu bisa diurus setelah Sakura kembali ke sini."

Naruto berpikir sejenak, lalu dengan pasrah mengiyakan usulan Hokage ke-lima itu.

"Panggil semua chunin ke sini!" perintah Tsunade, Naruto pun bergegas membuat bunshin lebih banyak lagi dan bergerak untuk mengumpulkan semua rekannya.

Hari telah siang dan terik matahari membuat beberapa ninja muda yang berkumpul di ruangan Hokage itu mulai menggerutu kepanasan, terkecuali Naruto yang terlihat sibuk memandang sinis ke arah Sasuke.

"Ehm, apa sudah terkumpul semua?" tanya sang Hokage, mengamati setiap wajah-wajah unik di sekelilingnya.

"Hn, ini sudah semua," jawab Shikamaru asal-asalan, tanpa menyadari bahwa ada beberapa orang yang kurang di sana. Menurutnya, semakin cepat ini dimulai, maka semakin cepat pula ini semua berakhir, dan dia bisa kembali berbaring sambil menatap awan dengan santai.

"Baiklah, aku akan menjelaskan alasan kalian dikumpulkan di sini," ujar Tsunade, membuat semua ninja muda itu berhenti mengeluh dan memperhatikan Hokage mereka dengan seksama.

"Jangan panik, dan dengarkan baik-baik," lanjutnya, namun entah mengapa membuat semua ninja di sana menjadi tegang.

"Sakura pergi meninggalkan Konoha."

"APA?!" pekik hampir dari keseluruhan kumpulan ninja itu dengan kompak, membuat Tsunade mendelik kesal dan nyaris menghantam mereka satu persatu. Terkecuali Shino yang terlihat stay cool dengan jaket tebalnya, padahal cuaca sedang sangat panas. Dan Sasuke yang terlihat masih tenang di pojokan, padahal hatinya ikut berteriak heboh. Serta Naruto, yang sudah mengetahuinya lebih awal, tatapannya semakin tajam ke arah Sasuke.

"Tunggu, apa maksud anda, Hokage-sama?" tanya Tenten segera, mewakili segala aspirasi teman-temannya yang masih mematung.

"Seperti yang kukatakan, Sakura pergi meninggalkan Konoha. Dan karena itulah kalian dikumpulkan di sini, penyebab Sakura pergi masih belu-"

"Sudah kubilang, Itu semua karena si pantat ayam itu!" potong Naruto, membuat semua mata di sana melirik tajam kearah Sasuke, yang masih memasang wajah datarnya.

"Apa maksudmu, baka?" tantang Sasuke, tidur selama satu jam tidak memperbaik mood-nya hari ini.

"Keh, jangan berpura-pura bodoh," ucap Naruto, kesal karena sejak tadi Sasuke tetap memasang wajah datarnya yang menyebalkan.

"Hei, apa sih yang kalian pertengkarkan? Seseorang, jelaskan yang sebenarnya terjadi!" gerutu Kiba dengan kesal, pria itu mulai tak sabaran melihat aksi Naruto dan Sasuke yang sejak tadi hanya saling bertatap-tatapan saja.

'Aku tidak bisa menjelaskannya, ini bisa mempermalukan Sakura-chan, aku juga sudah berjanji pada Lee,' batin Naruto dengan gelisah.

"Aku tidak bisa menjelaskan detailnya, tapi yang jelas semua ini karena dia," ujar Naruto, sambil menunjuk Sasuke dengan telunjuknya. "Dialah yang membuat Sakura-chan menangis," lanjutnya kemudian, membuat Sasuke sedikit terpengarah.

'Apa itu karena kejadian tadi?' pikir Sasuke bingung.

"Ini semua karena kau telah menolak Sakura-chan, Sasuke!" teriak Naruto dengan suara yang benar-benar menggelegar, membuatnya seketika sadar bahwa dia telah keceplosan dan seharusnya tidak berkata hal semacam itu.

"A-ahaha, aa-aku-" ucap Naruto dengan gugup, begitu melihat ekspresi teman-temannya yang sangat terkejut, pria itu benar-benar menyesali kebodohannya.

"Dasar bodoh," potong Sasuke, membuat semua penghuni ruangan itu segera tersadar kembali.

"Kau pikir aku akan pecaya dengan omong kosongmu itu?" lanjutnya kemudian. Memikirkan Sakura nekat pergi meninggalkan Kohona hanya karena alasan rendahan seperti itu nyaris membuat Sasuke tertawa lebar.

"Kuso, apa kau bilang?!" Naruto mulai tampak geram, giginya bergemeletuk menahan amarah.

"Mana mungkin Sakura pergi dari sini hanya karena aku menolaknya? Huh, carilah kebohongan yang lebih baik, Naruto."

Tanpa mempedulikan apapun lagi, Naruto segera beranjak dari posisinya, hendak menghabisi Sasuke sekarang juga. Namun, aksinya itu terhenti begitu saja saat dengan tiba-tiba para kunoichi di sekitar sana bergerak mendekati Sasuke, mendahuluinya.

"Apa kau bilang, hah? Bocah tengik," ancam Tsunade, wanita itu kini telah berdiri tepat di hadapan Sasuke, bersiap menghabisi anak muda di depannya.

"Kau pikir ini semua mudah bagi Sakura, hah?" kali ini sang gadis berambut pirang ikut turun tangan. Padahal biasanya dia akan sangat mengagumi Sasuke, tapi kali ini dia sungguh mengerti perasaan Sakura, dan rela menghajar Sasuke demi sahabat kecilnya itu.

"I-itu benar Sasuke-kun, seharusnya kau tidak berkata kasar padanya," ujar Hinata. Meski gadis itu termakan emosi, tapi ucapannya tetaplah seperti seorang bangsawan, mengagumkan.

"Heh, jangan bermimpi. Sakura pergi bukan karena kau menolaknya, dia pergi karena tidak sudi melihat wajah angkuhmu yang jelek itu, Uchiha," teriak Tenten dengan emosi yang meluap-luap.

Kini tatapan Sasuke beradu dengan tatapan keempat ninja wanita itu, yang sangat tajam dan mengintimidasi.

Sementara itu, Sasuke tetap bungkam, dalam hati dia merenungi kejadian tadi. Dan kini meski sulit dia akui, ada seberkas rasa bersalah yang menggerogotinya, terlebih lagi, Sasuke tidak seharusnya berkata seperti itu pada Sakura. Toh, dia sendiri juga memiliki sedikit perasaan pada gadis berambut pink itu.

"Tunggu! Aku juga ingin ik-"

"JANGAN IKUT CAMPUR!" teriak keempat wanita itu dengan bersamaan, sambil menendang bunshin Naruto yang hendak mendekati mereka yang dengan kasar, dan menghilang detik itu juga.


"Ah, sial," desis Naruto, membuat Lee yang sejak tadi mengekor di belakangnya melompat lebih tinggi hingga posisinya sejajar dengan Naruto.

"Ada apa, Naruto?" tanyanya bingung, masih sambil berlarian mengejar jejak Sakura.

"Padahal aku hampir saja menghabisi Sasuke," ucapnya kesal.

"Eh tunggu, ceritakan apa yang terjadi di sana," pinta Lee.

"Sasuke dikeroyok oleh nenek Tsunade, Ino, Hinata, dan Tenten," jelas Naruto singkat.

"Dikeroyok?" pekik Lee, nyaris tak mempercayai ucapan pria berambut pirang di sampingnya itu.

"Hn, sayang sekali aku tidak bisa menyaksikannya," sesal Naruto. Seandainya saja tadi dia tidak berniat ikut campur, maka dia pasti dapat menikmati wajah Sasuke yang babak belur.

"Sudahlah, yang terpenting bantuan akan segera datang. Jadi, kita tidak boleh kehilangan jejak Sakura-chan," lanjut Naruto dengan penuh semangat, membuat Lee juga ikut mengangguk pasti.


"Tch," Sasuke meringis kecil sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Dihajar oleh empat kunoichi seperti ini bukanlah kemauannya, tapi mau diapa lagi, dia tidak mungkin mengelak. Semakin banyak dia melawan, maka semakin naas nasibnya nanti. Luntur sudah image cool yang selama ini susah payah dia bangun.

"Sudah, hentikan, nona Tsunade," ucap Shizuna, melerai pertengkarang kecil itu, yang tentu saja didominasi oleh kaum wanita.

"Cih, aku masih belum puas," ujar Ino, hendak menyerang Sasuke lagi.

"Aku juga, ini semua demi membalas dendam Sakua," lanjut Tenten, bersiap untuk satu serangan lagi buat Sasuke.

"T-tunggu," Shikamaru yang sejak tadi berdiam seorang diri di pojok karena merasa malas mencampuri urusan mereka akhirnya buka mulut. Dan beruntung, cahaya di dalam ruangan Hokage mempermulus aksinya, "Sudahlah, hentikan sampai di sini, menyusahkan saja."

Saat ini, satu-satunya hal yang bisa dilakukan pria bermarga Nara itu hanya ini, mengikat bayangan mereka bereempat. Sebab para ninja yang lain telah berserakan di lantai, terluka akibat serangan para kunoichi itu. Awalnya mereka hanya berniat melerai pertengkaran. Namun entah bagaimana, mereka malah menjadi korban, dan daripada menambah luka lagi, mereka lebih memilih berbaring pasrah.

"Ehm," Tsunade berdahem pelan, lalu melirik Shikamaru dengan tajam.

"E-eh, maaf, Hokage-sama," ujar Shikamaru, melepaskan jutsunya yang sempat mengikat Tsunade.

"Hei lepaskan aku juga!" gerutu Ino dan Tenten bersamaan, sambil berusaha menggerakkan tubuh mereka.

"Biaiklah, Shikamaru, lepaskan mereka," perintah Tsunade, membuat Shikamaru sedikit mendelik. "Aku jamin tak akan ada kegaduhan lagi," lanjutnya.

Akhirnya, Shikamaru pun melepaskan mereka, "Ehm, baiklah. Seperti yang dikatakan Naruto, Sakura telah pergi meninggalkan Konoha beberapa saat yang lalu. Dan sekarang, Naruto dan Lee sedang mengejarnya. Aku mengumpulkan kalian di sini karena menurutku, sebagai teman kalian harus tahu berita ini. Bukan untuk mengirim kalian ke sa-"

"Tapi, Hokage-sama, Saku-"

"Aku mengerti, Tenten. Dengarkan aku dulu," potong Tsunade.

"Naruto dan Lee sudah cukup untuk membawa Sakura kembali. Percayakan saja semuanya pada mereka. Tapi, jika hingga besok pagi tidak ada kabar dari Naruto, maka aku akan mengutus beberapa dari kalian untuk pergi mengejarnya. Selain itu, Kakashi juga baru akan kembali malam ini, jadi kita belum bisa bertindak lebih jauh sekarang."

Sesaat, Tsunade menghembuskan napas berat, "Jadi, tahan diri kalian."

"Tapi meski begitu, Sakura sekarang berada di luar batas Konoha, semua hal mungkin saja terjadi," komentar Neji yang singkat itu membuat Tsunade mendengus kesal.

"Karena itu, kita tidak boleh gegabah," ucap Tsunade, yang segera mendapat tanggapan dari ninja-ninja di sekelilingnya itu.

"Bukankah dengan diam saja, itu berarti kita bersikap lebih gegabah?" tanya Shino.

Semuanya ikut mengangguk setuju.

"Aku punya alasan hingga mengambil keputusan ini. Pertama, Sakura hanya sedang tertekan saja, dia tidak akan melakukan hal yang lebih nekat lagi. Karena dia itu, kuat. Kedua, Sakura juga bukan seorang ninja yang dicari oleh kelompok jahat, jadi tak perlu terlalu khawatir, gadis itu bisa melindungi dirinya sendiri jika saja dia tanpa sengaja bertemu dengan pencuri. Ketiga, ini adalah rumahnya, aku yakin dia akan segera kembali, percayalah."

Awalnya semua ninja di ruangan itu tertegun, lalu senyum kecil pun menghiasi wajah mereka, tentu saja kecuali Sasuke. Mereka pun membubarkan diri dengan sendirinya, menunggu Sakura pulang.


Siang berganti malam, membawa angin dingin yang menusuk tulang pria berambut silver itu, yang kini sedang berjalan santai menuju kantor Hokage. Pria itu memandang sejenak hamparan bintang yang bertaburan di langit, "Firasatku buruk, bulan bahkan tak tampak sama sekali," gumamnya pelan.

TOK TOK

"Masuk."

"Maaf terlambat, Hokage-sama. Aku baru saja kembali, dan Iruka memintaku untuk segera menemui anda," ucap Kakashi, sambil berjalan masuk dan berhenti tepat di hadapan sang Hokage.

"Sudahlah, aku malas menasehati keterlambatanmu itu, Kakashi. Jadi begini, Sakura pergi dari desa," jelas Tsunade singkat.

'Sudah kuduga, jadi karena ini firasatku tidak enak sejak tadi...' batin Kakashi.

Hening.

Kakashi masih memandang Tsunade dengan datar, tak berniat menunjukkan respon apapun.

"Kau dengar apa yang kukatakan, Kakashi? Muridmu, Sakura Haruno pergi dari desa," ulang Tsunade, tak percaya bahwa Kakashi sama sekali tidak meresponnya tadi.

"Hn," gumam Kakashi, menunggu wanita di hadapannya melanjutkan ucapannya.

"Kenapa hanya 'Hn'? Kau tidak khawatir padanya?"

"Tentu saja aku khawatir," ucap Kakashi dengan cepat, tak menyadari bahwa sepatah kata yang keluar tanpa sengaja dari bibirnya itu bisa membuat siapa saja yang mendengarnya salah paham, termasuk wanita di hadapannya. Apa ini akan diakhiri dengan KakaSaku? Entahlah.

Ehm, kembali ke Kakashi. Pria itu kini menyesali ucapan spontannya tadi, karena sekarang Tsunade sedang tersenyum geli di hadapannya, "Ehm, Kakashi, jangan bertindak terlalu jauh."

'Apa maksudnya?' pikir Kakashi bingung.

"A-ahaha, sudahlah, kembali ke permasalahan kita sekarang. Aku ingin kau pergi mengejar Sakura beso-"

"Tentu saja," potong Kakashi, membuat siapa saja yang mendengarnya mulai berpikir macam-macam tentang pairing di fic ini, termasuk author.

Sementara Tsunade tampak semakin curiga pada Kakashi, "Naruto dan Lee telah mengejarnya, tapi jika mereka tidak kembali sampai besok pagi, maka kau dan beberapa ninja lainnya kan pergi untuk mencari Sakura," lanjut Tsunade.

"Hn, baiklah."

"Tapi ingat, jangan terlalu keras pada mereka. Apalagi pada Uchiha Sasuke, mereka masih remaja," ucap Tsunade, tak sadar bahwa dirinya tadi sempat melakukan kekerasan pada Sasuke.

"Ohiya, ngomong-ngomong tentang Sasuke, aku tadi sempat bertemu dengannya dijalan. Apa kau memberikan misi yang berbahaya padanya? Aku lihat wajahnya cukup berantakan," tutur Kakashi, membuat Tsunade tersedak sake yang diminumnya.

"T-tentu saja tidak, sudahlah sana pergi. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku lagi," bantah Tsunade, sambil menggerak-gerakkan tangannya ke arah pintu, mengusir Kakashi.

"Eh tunggu, kalau boleh tahu, mengapa Sakura tiba-tiba pergi meninggalkan Konoha?"

"Oh, kalau soal itu lebih baik kau tanyakan saja secara langsung nanti kepada Sakura. Tapi, Naruto bilang ini semua karena Sasuke menolak cinta Sakura."

'Sakura berani mengungkapkannya pada Sasuke? Tidak kusangka...' batin Kakashi, yang masih mematung di depan pintu.

"Tunggu apa lagi, Kakashi?"

"A-ah iya, aku pergi."


Sementara itu, di suatu tempat, seorang ninja berambut gelap tampak sedang berlari melintasi hutan. Rambutnya tampak agak berantakan tertiup angin, namun mata onyx-nya terus meneliti sekitarnya, mencari jejak gadis berambut pink itu.

'Tunggu aku, Sakura...'


Huahahaha~ maafkan saya kalau cerita ini makin gaje saja *nunduk-nunduk*

Oke, saya masih mengharapkan review dari para readers sekalian, makasih masih mau membaca fic ku ini, REVIEW yaaaa ^^

Arigatou :)