Author : Libur tlah tiba, libur tlah tiba, hatiku gembira!

ALL : *Sweetdroped*

Author : *tetep nyanyi-nyanyi gaje*

Kakashi : Hei, Author, dah mulai!

Author : Eh, maap!

ALL : *Double Sweetdroped*

Kakashi : Oh ya, Authornya BAKKA! Kok Chap 1 kemaren aku dibikin OOC sih?! *nyiapin Chidori*

Author : *pundung dipojokan* Gomen, Kakashi-san! Anya masih BARU! *nangis*

ALL : *Triple Sweetdroped*

Fukuto : Karena Author masih nangis+pundung tuh dipojokan, lebih baik kita langsung ke cerita saja, ya?

CHAPTER 2 : Putih

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Misteri, Romance

Warning : OC, OOC, GaJe deh kayaknya…

Summary : Kakashi diberi misi untuk menyelidiki hilangnya beberapa penduduk desa di suatu hutan misterius, tapi ia tiba-tiba diserang oleh ilusi-ilusi yang mengacaukan pikirannya. My first fic.

Happy read!

Selesai dengan tugas mereka, Fukuto mengajak adiknya dan Kakashi untuk masuk ke ruang perpustakaan.

Di dalam, ia langsung mencari-cari sesuatu.

"Ah, ini dia."

.

Fukumi mengerutkan alisnya ketika melihat sebuah buku tua yang dipegang Fukuto.

"Ini, buku yang ditulis si Putih dalam legenda." Ucap Fukuto sambil mengangkat buku tua itu.

"A-apa, jadi, legenda itu nyata?" gumam Kakashi.

"Tentu saja, kalau dia tidak nyata, berarti kami pun juga tak mungkin bisa hidup." Jawab Fukuto ringan.

"Apa maksudmu?" tanya Kakashi.

"Kami adalah keturunan si Putih dalam cerita." Jawab Fukumi singkat.

"Na-nani?" Kakashi kaget.

BLARRR!

"Apa yang..."

BLARRR!

Lantai yang mereka pijak bergetar.

"FUKUMI! CEPAT KEMARI!" teriak Fukuto menarik adiknya ke balik tubuh rampingnya.

Kakashi bersiaga. Sakit di tubuhnya sudah berkurang sejak ia selesai makan.(Ooh, ternyata Kakashi-san lapar ya?#PLAKK!)

BLARRR!

Tembok terluar perpustakaan itu runtuh. Cahaya Matahari merayap masuk ke dalam, diikuti bayangan seorang berambut panjang yang membelakangi cahaya Matahari itu.

Sosok itu berjongkok di atas makhluk–ato bukan?–seperti burung raksasa berwarna putih.

Ia menyeringai. Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam jubahnya.

"Hai, un. Tak ku sangka ternyata bangunan ini kuat juga, un. Butuh 3x ledakan C4 untuk menghancurkan tembok besar ini, un." Ucap sosok itu begitu terlihat jelas wajahnya yang setengah cewek setengah cowok(?).

"Siapa kau?" tanya Fukuto tegas.

"Siapa aku, un? Aku DEIDARA, un!" ucap seseorang dengan gender setengah-setengah(?) itu dengan menekankan kata 'Deidara'.(Noordin M Top dan anak buahnya bersorak. Author : dasar maniak ledakan...*BUM!)

"Siapa..?" gumam Kakashi sweetdrop berjamaah dengan Fukuto dan Fukumi.

"Kami kemari untuk menjemput Hibara-hime." Ucap makhluk–Author juga ga yakin dengan status orang ini–dengan tubuh membungkuk.

Fukuto langsung bersiaga.

Deidara melempar sesuatu ke arah Fukuto.

Bum! (Ledakan dengan skala kecil)

Tapi Fukuto dengan cepat menghindar sambil melindungi Fukumi.

"Hei! Leader memerintahkan untuk menjemput Hibara-hime dalam keadaan sehat wal'afiat(?) tahu!" teriak makhluk dengan tubuh membungkuk itu.

"Iya, iya un. Danna un tak usah khawatir tentang kesehatan(?) Hibara-hime un. Bom yang tadi itu berskala kecil un." Jelas Deidara dengan wajah tanpa dosa.

"Tapi tetap saja berbahaya!" sangkal makhluk yang ternyata bernama Sasori itu.

"Tidak berbahaya, Sasori no Danna un!" bela Deidara.

Sementara makhluk-makhluk aneh ini bertengkar, Fukumi sudah memikirkan suatu siasat.

"Aniki," ucap Fukumi pelan.

Fukuto menoleh ke Fukumi. Sementara Fukumi memberikan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.

Fukuto hanya mengangguk.

Fukumi langsung menarik Kakashi dan berlari dari ruangan itu.

"Hei!" teriak Kakashi ketika tangannya ditarik tiba-tiba oleh Fukumi.

Mereka terus berlari menuju sebuah lorong.

"Aduh!" Kakashi tersandung kimono yang dipakainya. Fukumi cuma menatap datar Kakashi yang berdiri setelah terjatuh.

Ia kembali menariknya berlari di lorong itu. Lorong itu mengantarkan mereka pada sebuah ruangan atau kamar yang ditempati Kakashi tadi pagi.

Fukumi membuka pintu, dan langsung menarik Kakashi ke dalam.

Ia mengambil baju yang dipakai Kakashi ketika ia menemukannya tiga hari lalu. Kemudian menyerahkannya ke Kakashi.

"Cepat pakai." Perintahnya datar pada Kakashi.

"Eh? T-tapi..."

"Pakai saja sekarang!" perintah Fukumi yang menyadari Kakashi tak akan bisa bertarung dengan menggunakan kimono.

Kakashi segera melepas bajunya dan menggantinya dengan baju ninjanya dengan cepat. Sementara Fukumi hanya menatapnya datar. Walau ada semburat tipis dipipinya.

Setelah Kakashi selesai, Fukumi langsung menariknya lagi ke halaman belakang.

Sampai di taman yang terletak di halaman belakang Istana, Fukumi langsung menarik Kakashi ke sebuah kandang. Mereka masuk dan terlihat dua ekor kuda berwarna hitam dan putih.

Fukumi melepas ikatan Kuda yang berwarna putih. Ia lalu menariknya ke luar kandang.

"Kau mau naik, atau..." ucap Fukumi tidak meneruskan kalimatnya.

"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Kakashi.

"Hutan Kabut Merah." Jawab Fukumi datar tanpa melihat wajah Kakashi.

"Eh?" Kakashi kaget.

"Mau ikut, atau tetap disini?" tanya Fukumi datar,

"B–baiklah...tapi, bagaimana dengan kakakmu?" Tanya Kakashi.

"Aniki tak akan mati semudah itu."

Fukumi memacu kudanya menuju gerbang belakang Istana.

"Jangan lari!" teriak seseorang dari kejauhan.

Sementara Kakashi dan Fukumi tak mengindahkan teriakan itu.

SET!

"Ugh!" Sebuah jarum beracun hampir mengenai Fukumi. Tapi meleset dan mengenai ikat rambut Fukumi. Membuat rambutnya sekarang terurai bebas.

Jarum-jarum beracun mulai menghujani mereka berdua. Sekali lagi sebuah jarum beracun hampir mengenai Fukumi. Tapi masih meleset, dan akhirnya mengenai kuda yang dinaiki Fukumi.

Fukumi melompat dari kudanya. Matanya menatap kuda putih kesayangannya itu. "Gomen..." ucapnya pelan lalu mulai berlari bersama Kakashi.

Mereka terus dikejar oleh pria yang bernama Sasori itu, sampai Hutan Kabut Merah sudah terlihat didepan mata.

Kakashi menatap ragu hutan itu. Fukumi menyadarinya dan langsung menarik Kakashi masuk ke dalam hutan itu.

Sasori mengumpat pelan ketika melihat mereka berdua–nekat–masuk ke hutan yang cukup membuatnya bergidik walaupun hanya melihatnya dari jauh.

.

"Hibara-san!" Kakashi berteriak memanggil wanita didepannya yang sejak beberapa menit lalu terus menariknya ke tengah hutan berkabut yang cukup mengerikan itu.

Fukumi menghentikan langkah kakinya dan mengendurkan pegangan tangannya di lengan Kakashi.

Kakashi memperhatikan sekeliling. Hutan itu tetap terlihat gelap walaupun di siang hari. Pohon-pohon yang besar dan rimbun menghalangi cahaya matahari untuk menerangi hutan itu.

Suasana sunyi senyap dan angin dingin yang berhembus pelan menambah kesan horor tempat itu.

"Saat malam..." Fukumi memecah hening. "...kabut merah selalu menyelimuti hutan ini." Ucap Fukumi meneruskan kalimatnya. "Karena itulah kami menyebut hutan ini 'Hutan Kabut Merah'." Jelasnya.

Angin dingin membelai pipi Fukumi dan menyapu kulitnya yang putih sepucat salju. Membuat rambutnya melambai pelan.

"Apa kau tahu," ucap Fukumi pelan. "Hutan ini...akan membunuh siapa saja...siapa saja yang masuk...pertama kali." Ucapnya lagi.

"Ng?" gumam Kakashi agak kaget.

"Jika kau...pertama kali masuk kemari, maka...seharusnya tiga hari lalu kau hanya tersisa tubuhmu saja." Ucap Fukumi menoleh pada Kakashi dan menatapnya tajam dengan irisnya yang tadinya berwarna keemasan tiba-tiba berubah menjadi biru langit.

Kakashi hanya terkejut dan heran. 'Nani?' batinnya.

"Siapa kau sebenarnya?" Fukumi bertanya seolah mengintrograsi pria didepannya. Matanya terus menatap tajam mata Kakashi.

'Tunggu...' Kakashi menyadari sesuatu.

"Tapi...kalau aku masuk untuk kedua kalinya saat itu, berarti aku harusnya sudah mati saat pertama kali masuk 'kan?" bela Kakashi.

"Kau..." Fukumi langsung meraih topeng Kakashi.

"Apa yang kau..." Kakashi hampir berteriak, tapi topengnya sudah terbuka oleh tangan mungil Fukumi.

Fukumi menatap lekat wajah itu. Tangannya perlahan meraih pipi Kakashi dan membelainya lembut.

"Shiro..." mata biru itu berkaca-kaca.

TES

Air bening terjatuh dari kelopak mata Fukumi.

BRUKK!

Tubuh mungil itu pasti sukses mencium tanah jika saja tangan kokoh Kakashi tak segera menangkapnya.

"Hibara-san!" Kakashi panik.

Desahan segera melompat dari bibir tipis Fukumi. Perlahan, kelopak mata Fukumi terbuka memperlihatkan iris keemasan miliknya. Ya, irisnya kembali berubah ke warna semula.

"Apa...yang terjadi?" tanya Fukumi lemah. Matanya menemukan wajah Kakashi yang begitu dekat dengan wajahnya. Sejenak pipinya merona tipis, tapi segera hilang.

Kakashi menyadari rona itu juga jarak mereka yang terlalu dekat. Ia mundur dan membantu Fukumi untuk berdiri.

"Kau tadi seperti...kerasukan?" gumam Kakashi.

Fukumi memperhatikan sekeliling. "Kita...ditengah hutan?" gumamnya menyadari sesuatu.

"Bukannya kau yang menarikku kesini?" tanya Kakashi.

"Nani?" kaget Fukumi yang langsung menoleh ke Kakashi yang menatapnya khawatir.

"Kau menarikku kemari dan tiba-tiba mengatakan kalau orang yang pertama kali masuk kemari pastilah mati." Ucap Kakashi.

"Apa maksudmu?" Fukumi mengerutkan alisnya.

"Kau tidak ingat? Kau tidak ingat ketika bilang 'Jika kau...pertama kali masuk kemari, maka...seharusnya tiga hari lalu kau hanya tersisa tubuhmu saja.'?" Tanya Kakashi mengulangi kata-kata Fukumi.

Fukumi makin bingung. "Apakah aku yang mengatakan itu? Tidak mungkin."

"Lalu, apa yang kau ingat?" tanya Kakashi.

Fukumi terdiam sampai bibirnya menggumamkan kata, "Tidak ada,"

"Lalu kau meraih topengku dan melepaskannya. Setelahnya, kau menggumamkan 'Shiro...' lalu menangis. Lalu kau ambruk dan seperti lupa segalanya." Cerita Kakashi singkat.

"Tidak mungkin. Tapi tunggu, Shiro?" tanya Fukumi.

"Yah, kau... tiba-tiba menyentuh pipiku... dan..." Kakashi menyentuh pipinya yang merona.

Fukumi sekali lagi dibuat kaget. Tapi mata Kakashi seakan meyakinkannya kalau yang dikatakannya tadi memang benar.

"Dan apa?" tanya Fukumi datar.

"K-kau menggumamkan 'Shiro...' dan menangis." Jelas Kakashi gelagapan.

Fukumi berusaha mencerna penjelasan Kakashi barusan. Yah, kalau dipikir, pipinya memang terasa basah.

Tapi…

"Shiro?"

TBC

Author : Satu persatu misteri akan segera terungkap! Masih penasaran ,kan? *Muncul dengan wajah gosong dan baju compang-camping

Kakashi : Kalau dipikir, aku yang paling tak tahu apa-apa disini.

Fukuto : Lalu bagaimana denganku, Authorrrr?!

Author : ? eh, maap, Fukuto-kun! Saya melupakanmu! Tapi tenang aja, kamu pasti akan muncul! Diakhir, tapi...

Fukuto : Nani?! Meninggalkan adikku sendirian dengan pemuda yang baru dikenalnya?!

Author : Kakashi-san baik kok, Oh, iya balas rippiu!

Meilin Hanamiya

Kakashi : AUTHORRR! Ini semua karena dirimu!*nunjuk Author*

Author : *BLUHS* Iya,iya! gomen! Karena ini juga penampilan saya menjadi seperti ini.*nunjuk bajunya yang compang-camping* Tapi makasih untuk rippiunya, Hanamiya-san! ^^

Berlian Cahyadi

Author : ARIGATTOU! Makasih untuk rippiunya, Cahyadi-san!^^

danDogoier

Fukumi : Ya, memang Chap kemaren Author sengaja membuat alurnya cepat. Karena Author sadar ini fic Multy-Chap. Kalau gak cepet-cepet nanti takutnya malah gak Complete.

Author : Fukumi-chan benar! Tapi gimana untuk Chap 2 ini? Apa alurnya masih kecepetan? Makasih untuk rippiunya, Dan-san!^^

.

Author : Fiuuh... Chap 2 panjaaaang! Tapi chap seterusnya bakalan lebih panjang lagi!

Fukuto : Sepertinya kemunculanku masih lama, ya?

Fukumi : Aniki, maaf meninggalkanmu.

Author : Ya! sampai jumpa di Chap depan!

ALL : REVIEW PLEASE?!