Rate: saat ini masih T

Pairing : Stony, Stucky, SpideyPool(ntar,kalo inget) oh dan sedikit NatashaXTony(bromance... err... sismance? Apapun itu...)
Genre: family, bromance,sismance, boys love, shonen ai, hurt... author patah hati, dll...

Disclaimer :
Mas Tony dan mas Steve saling memiliki~
Semua chara di sini punya marvel~
Saya Cuma minjem... tapi ga bilang...
tidak ada keuntungan material apapun yang Koharu dapet dari penulisan ff ini. Hanya keuntungan batin berbagi kegalauan bersama pecinta stony...

WARNING: ff ini mengandung unsur BL/Buah Love#plak! Maksudnya percintaan sesama lelaki, beberapa adegan kekerasan dan baper...

Note: Disini Steve ama Tony udah nikah, tinggal di Tower bareng beberapa avenger lainnya. Mereka punya anak yg namanya Peter. Sekarang Peter kelas 2 smp dan dia bukan spiderman~Kalau ada typo tolong kasih tau yo~
saya ga baca ulang lagi soalnya... dan ga punya beta... Happy reading~
:3

XXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxXX

Don't touch my son chapter 2 (Must Be Strong)

XXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxXX

Tony menatap tangannya yang kini diselimuti perban. Dia bahkan tidak ingat tangan dan sepasang rusuknyanya patah jika Natasha tidak memaksanya untuk mengecek kondisi badannya sendiri. Tony seharusnya berada di salah satu ruangan VVIP untuk dirawat melihat sepasang tulang rusuk yang patah juga beberapa pendarahan dalam yang dialaminya. Sayangnya semua kondisi itu tidak lebih penting dibandingkan keadaan putranya yang masih belum jelas. Natasha tahu kalau dia tidak bisa memaksa Tony kali ini, jadi dia hanya bisa duduk diam di samping Tony.

Tony menutup kedua matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam ketakutan dan segala kemungkinan. Seandainya saja dia lebih kuat, seandainya saja dia bisa menghentikan Steve, seandainya saja dia tidak dibutakan oleh sosok suaminya, seandainya saja... seandainya saja... seandainya saja dia tidak mencintai Steve...

Sementara itu Steve hanya bisa melihat suaminya dari sebrang lorong. Ingin rasanya merengkuh tubuh rapuh itu, menarik kembali jiwa yang terjebak dalam kesedihan tak berujung itu, menenangkannya, menjaganya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sayangnya Steve terlalu takut untuk menyentuh tubuh itu, terlalu takut untuk menjangkau jiwanya, Steve tidak lebih dari seorang pengecut. Bahkan memanggil namanya pun Steve tak berani, terlalu takut untuk mencari tahu masa depan. Steve tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupnya.

Steve tidak pernah takut menghadapi monster, tapi mengetahui bahwa dirinya adalah monster merupakan mimpi buruk yang jadi kenyaataan. Sejak kapan dia berubah menjadi monster? Steve takut pada dirinya sendiri. Natasha sepertinya sadar kalau Steve perlu bicara dengan Tony, maka tanpa banyak bicara dia melangkahkan kakinya meninggalkan sepasang ayah yang ketakutan itu.

Natasha menatap Steve sebelum menghilang di ujung lorong, Steve harus melakukan sesuatu dan dia tahu itu. Maka perlahan didekatinya sosok Tony yang duduk meringkuk, beruasaha menyembunyikan dirinya dari takdir. Steve berlutut dihadapan sosok yang selalu memenuhi hatinya, "Tony" panggil steve sambil mengusap bahu ringkih lelaki di hadapannya.

Tony mengangkat kepalanya perlahan. Hanya butuh sekejap saja untuk mata yang bagaikan mati itu kembali hidup melihat Steve. Mata itu begitu hidup dengan kemarahan dan ketakutan, dan sentuhan lembut Steve di bahunya kini bagaikan tombak yang dihujamkan tanpa henti. Tony butuh beberapa saat untuk bangkit, tenaganya tidak terkontrol dan kondisi tubuhnya tidak memperbaiki keadaan, keseimbangan seolah menjadi teori kosong saat gravitasi menariknya kembali ke bumi. Ketakutan seketika menjadi amarah, "Jangan pernah menyentuhku!" teriak Tony histeris.

Steve ingin menangis melihat Tony begitu ketakutan, didekatinya Tubuh yang terduduk tak berdaya itu, berusaha membantu. Sayangnya Tony jutsru berusaha menjauhinya, Steve tidak ingin menyerah maka didekatinya Tony yang kini kehilangan kemampuan berdirinya dan hanya sanggup menyeret tubuhnya menjauh. "MENYINGKIR DARIKU!" jerit Tony saat Steve memeluk dirinya. Steve bisa merasakan tubuh yang direngkuhnya meronta, gemetar dan tak berdaya. "LEPAS! LEPAS! LAPAS!" Tony masih berusaha meronta dengan tubuh yang gemetar, tidak peduli betapa sia-sia usahanya.

"maafkan aku..." berulangkali Steve mengucapkannya. Bukan untuk meminta pengampunan tentu saja, dia sadar betul dia tidak layak mendapatkannya. Steve tidak tahu apa yang harus dikatakannya, dia hanya tidak ingin melihat Tony menyalahkan dirinya sendiri. Steve berharap Tony akan marah dan membencinya, memarahinya, steve bahkan rela dibunuh saat ini juga. Sayangnya Steve mengenal Tony, Tony terlalu baik untuk menyalahkan orang lain, Tony terlalu baik untuk itu, Tony terlalu baik untuknya, Steve tidak layak mendapatkannya.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Akan kuberikan apapun!" sayangnya Tony tidak mendengarnya, "tower? Pulau pribadi? Galeri seni?AKAN KUBERIKAN SEMUANYA!" jeritan Tony terus berlanjut. "kuberikan segalanya! Apapun! America pun akan kuberikan!" tapi perlawanannya terhenti. Tony tidak lagi memberontak, "lepaskan aku..." Steve merasakan sesuatu membasahi pundaknya "kumohon..." pinta Tony lemah.

Steve melepaskan pelukannya agar mereka berhadapan, dilihatnya air mata mengalir dari sela mata Tony yang tertutup rapat. "tony?" dipanggilnya nama lelaki yang kini menundukan kepalanya, menolak untuk menatap Steve. "Tony, hei... lihat aku" pinta Steve, sayangnya hanya gelengan pelan yang didapatnya "TONY!" bentak Steve frustasi.

"tahan di situ" hanya suara itu yang sempat didengar steve sebelum merasakan tangannya kini berada di belakang punggungnya. "maaf cap, ini permintaan dari Nat" kata Clint sambil menunjuk wanita itu kini memnyampirkan selimut di bahu Tony dan membantunya berdiri. "kurasa ada beberapa makanan di kafetarian yang mencurigakan, bagimana kalau kita kesana cap?" ajak Clint sambil melepaskan cengkraman di tangan Steve.

"Tapi aku..." Steve berusaha menolak, dia masih ingin berada di sini bersama Tony, bersama Peter. Natasha memandang Steve tajam sebelum mengalihkan pandangannya pada Tony, Steve butuh beberapa saat sebelum menyadari apa yang telah diperbuatnya. Steve mengacak rambutnya frustasi sementara Clint hanya merangkulnya, membawanya menjauh.

Natasha menatap Tony yang kini meringkuk dalam selimut. Natasha tidak perlu melihat untuk mengetahui keadaannya "Tony..." panggil wanita itu sebelum menangkupan kedua tangannya di pipi Tony, memutarnya perlahan hingga membuat dua pasang mata itu bertemu. "kukira kau seharusnya jenius" kata Natasha, membuat kedua mata Tony membulat penuh tanda tanya. "berhenti menyalahkan dirimu" Tony membuka mulutnya berusaha menyela sebelum Natasha memandangnya, memintanya untuk diam. "fokus pada keadaan peter."

"bagaimana bisa? ini semua salahku. Kalau saja aku melawan dan tidak bersantai di lantai saat Steve..." Tony mengambil jeda, tidak sanggup melanjutkan petkataannya. "intinya jika aku tidak terlalu bodoh untuk diam, Peter tidak akan merasa perlu untuk jadi sok pahlawan dan berusaha melindungiku. Aku..." Tony tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Natasha mengusap perlahan punggung Tony, berusaha menenangkan lelaki beranak satu itu, diluar dugaan hal ini cukup berhasil.

"kau, berbeda stark. Di vidio yang JARVIS perlihatkan" Tony, menatap Natasha. "aku tidak melihat Tony Stark" kata Natasha. Tony menatap Natasha bingung, wanita itu selalu punya tatapan juga cara yang aneh dalam mengungkapkan sesuatu menurut Tony, sayangnya otak Tony sedang tidak ingin diajak bermain teka-teki. Maka Tony balas menatap Natasha, dan diluar dugaan wanita itu bisa mengerti apa yang bahkan tidak dapat Tony ungkapkan dalam untaian kata. Dalam kepalanya Tony membuat catatan untuk menatap Natasha setiap dia kehilangan kata-kata, ini akan sangat berguna dan praktis.

"Tony yang kukenal adalah lelaki yang tegar, narsis, tapi suami dan ayah yang hebat" kata Natasha dengan mata paling jujur yang pernah Tony lihat. Pertamakalinya Tony melihat beku di mata itu begitu bening seolah membiarkan Tony melihat ke dalam jiwanya. Hal terbaik adalah apa yang Tony lihat dibalik kristal es abadi itu bukan belas kasihan, bukan juga prihatin. Tony tidak butuh kedua hal itu dan Natasha mengetahuinya maka diberikannya apa yang Tony butuhkan, kekuatan.

"kau harus kuat" rasa tegar dan kekuatan dalam tiap gelombang bunyi yang diucapkan dari kedua bibir Natasha seolah mengalirkan ketegaran dan kekuatan ke seluruh tubuh Tony, perlahan membanjiri otaknya.

"aku harus kuat" kata Tony sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "kau benar, dan kau tahu aku sangat jarang menganggap orang lain benar. Teori mereka kebanyakan mengada-ada dan tidak sesuai kenyataan " kata Tony, tersenyum untuk pertama kalinya setelah berjam-jam penuh kengerian. Melihat Tony Stark yang dikenalinya kembali Natasha tersenyum.

"menyebalkan seperti biasanya, stark." Kata Natasha dengan senyum meremehkan, hanya untuk menggoda dan memeriksa keadan si Jenius tentunya.

"oh, jadi sekarang aku kembali jadi Stark? Setelah semua percakapan mengharukan kita tadi aku kembali men-" kalimat Tony terpotong saat sebuah Tumbler diacungkan kearahnya. "kopi! Oh, betapa aku bersyukur menemukanmu di dalam jurang penderitaan ini. Akan kunaikan gajimu saat semua terkendali nat" kata Tony sambil membuka tumblr berisi air itu.

Natasha tersenyum mendapati wajah kecewa dan kebingungan Tony seperti anak yang baru diberi tahu kalau Natal tahun ini ditiadakan. "kutarik kata-kataku. Akan kupotong gajimu" kata Tony mantap dengan wajah cemberut.

"itu milikku" kata Natasha sambil menyodorkan Tumblr lain yang langsung dibuka oleh si jenius, wajahnya begitu bahagia saat menyadari isinya kali ini benar-benar kopi. "dan kau tidak menggajiku, stark" tambah Natasha saat melihat Tony meminum kopinya bahagia.

"aku tidak menggajimu? Itu aneh" kata Tony setelah menghabiskan setengah isi dalam tumblr yang dipegangnya, kedua alisnya mengkerut.

"karna untuk menjadi teman, kau tidak perlu membayar" kata Natasha. Tony tersenyum mendengarnya dan Natasha membalas senyuman itu. Senyuman itu bahkan tidak sampai sedetik, tapi entah kenapa Tony merasa seluruh tubuhnya menghangat. Tony tidak tahu darimana datangnya kehangatan yang menemaninya melewati malam di lorong rumah sakit itu.

"ini pasti karna kopi" bisik Tony...

XXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxXX

"psikiater?" Tony menatap Natasha, kedua alisnya mengerut tidak suka.

"kau membutuhkannya" kata wanita berambut merah itu. Keduanya sedang duduk di sofa ruangan VVIP di rumah sakit itu, terlihat di sebrang ruangan Peter yang masih belum sadarkan diri.

"tapi aku punya Bruce" kata Tony sambil menunjuk lelaki yang tertidur di di sebrang sofanya.

"Bruce bukan dokter seperti itu, lagipula dia pasti kelelahan setelah menjahit kepala anakmu semalaman" Natasha menjelaskan. Sementara Tony menatap ke luar jendela, matahari sudah mulai naik tapi mata Peter belum juga terbuka.

"aku... entahlah... aku tidak punya waktu, peter harus dijaga dan... aku tidak yakin dia bisa menutup mulutnya... " di luar jendela beberapa burung sedang terbang mengitari pohon apel yang belum matang buahnya, kedua mata Tony terarah pada burung-burung itu, menolak untuk menatap Natasha.

"aku sudah menghubungi seorang Psikiater yang bisa menutup mulutnya, dan dia yang akan datang kemari, jadi kau bisa bicara dengannya sambil menjaga peter." Natasha tidak menaikan nadanya tapi Tony merasakan dingin di tengkuknya, pemaksaan.

"akan kupikirkan..."

"tidak perlu, aku sudah menghubuninya. Dia akan datang dua jam lagi."

"what?!"

"sshhttt! Kau tidak mau membangunkannya kan" kata Nat sambil menunjuk Bruce yang kelihatan terganggu dengan kegaduhan Tony.

Maka disinilah Tony, masih duduk di sofa yang sama sembari menghadap seorang wanita yang harus Tony akui cukup cantik untuk seorang psikiater. Natasha dan Bruce kembali ke tower untuk membersihkan diri dan mengambil pakaian ganti dan beberapa hal yg diperlkan Tony dan Peter.

"hai, aku Alana. Jadi Natalie memintaku membantu temannya, siapa yang menyangka kalau aku akan mendapatkan seorang Jenius dan milyarder" kata wanita dengan blouse hitam buatan chanel yang dipadukan blazer merah dengan merk yang sama, berkelas, anggun tapi tidak berlebihan.

"sejujurnya aku bertemu denganmu di sebuah cafe, dan minum kopi dan mungkin kita bisa melakukan beberapa hal lain se-" Alana terkekeh mendengar celotehan Tony.

"Anthony, kau tidak perlu memaksakan dirimu." kata Alana sambil tersenyum, "aku tahu rasanya mencintai seseorang hingga buta." Lanjutnya, Tony bungkam. Untuk beberapa saat keduanya membisu, "orang yang pernah kucintai adalah seorang pembunuh dan kanibal. Aku tahu ada yang salah dengannya tapi aku menutup mataku" Alana menatap Tony.

Mata itu terluka penuh dengan rasa malu dan bersalahditutupi oleh kabut yang hanya muncul dari pengalaman juga masa lalu. Tatapan itu pernah Tony lihat, lebih dari sekali dia menemukan tatapan yang sama di cermin setiap kali Steve selesai memukulinya. Namun ada hal yang berbeda di mata itu, mata itu menunjukan ketulusan dan keinginan untuk menolong, bukan belas kasihan. Alana menatapnya seolah menatap dirinya sendiri, seolah dengan menolong Tony dia akan menolong dirinya sendiri. Tulus dan egois di saat yang bersamaan.

"maukah kau membagi ceritamu padaku?" tanya Alana

"hanya jika kau berhenti memanggilku Anthony" kata Tony

Keduanya tersenyum, maka dimulailah sesi obrolan keduanya tanpa menyadari di luar matahari mulai terlalu terik untuk dipandang. Di luar sana ada seorang lelaki pirang yang berlari mengelilingi taman rumah sakit sementara lelaki lainya hanya menatap di atas pohon, terlalu malas untuk membakar diri dan pikiran di bawah teriknya matahari.

XXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxXX

Sudah tiga hari sejak Alana dan Tony mulai sesi "bicara" mereka dan Tony mulai mempersiapkan dirinya untuk kembali menjadi dirinya, hanya saja lebih kuat dan percaya diri. Alana mengatakan bahwa Tony kehilangan sebagian dirinya karena terintimidasi oleh Steve, Tony tidak sependapat karena tidak terima kalau dirinya didominasi oleh lelaki tua yang berasal dari Brooklyn. Alana menyerah dan mulai membantu Tony menghadapi traumanya, berusaha membuat Tony percaya bahwa apa yang terjadi pada Peter bukanlah salahnya. Alana mengingatkan Tony kalau dia punya Peter yang harus dilindungi, dan bahwa cintanya pada Steve bukanlah sebuah kesalahan. Hanya waktu dan keadaanlah yang memaksa mereka.

Keduanya bertemu setiap hari selama tiga hari berturut-turut, Alana mengatakan bahwa saat ini Tony membutukhan teman bicara dan Tony menyetujuinya dengan alasan bahwa Alana teman bicara yang cukup menyenangkan. Sesi bicara mereka dilakukan selama dua jam dan dari situ Tony mengetahui bahwa Alana pernah mencintai dua orang yang salah tapi akhirnya dia menemukan orang yang sesuai dan bahkan memiliki seorang putra.

Selama tiga hari ini Peter belum juga sadar dan Tony menolak untuk meninggalan putranya meski hanya sedetik. Tony tahu kalau di balik pintu itu seorang yang masih berstatus suaminya sedang menunggu dia dan putranya keluar maka Tony memutuskan untuk mengubah hal itu. Saat Pepper, Natasha dan Clint datang untuk menjenguk Peter dimintanya ketiga orang itu untuk menjaga putranya. Natasha dan Clint agak terkejut karna Tony akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, namun tidak dengan Pepper karna wanita itu hanya mengangguk dan memberikan sebuah map kepada Tony sebelum si Jenius keluar.

Baru selangkah Tony keluar dia bisa melihat sosok Steve Roger sedang duduk menghadap ke arahnya. Tony memandang Steve, bahkan tidak butuh sedetik untuk Steve mengerti tatapan Tony dan mulai mengikuti si Jenius. Ingin rasanya Tony tertawa melihat bahwa dia dan Steve masih bisa berkomunikasi hanya dengan tatapan setelah semua yang terjadi, ironis dan menggelikan.

Keduanya kini sampai di atap rumah sakit, hanya ada mereka berdua dan Tony sudah meminta Happy untuk mengamankan lokasi itu agar tidak ada yang datang mengganggu pembicaraanya dan Steve. Untuk beberapa saat keduanta hanya saling menatap namun tidak ada yang bisa dimengerti, keduanya sibuk dengan dunianya masing-masing, kehilangan dunia untuk dibagi.

"Tony... aku menyesal, ini semu-"

"sstttt! Aku tidak mau mendengar apapun darimu" kata Tony sambil menyerahkan map yang tadi diberikan Pepper. Steve mebuka dan membaca rentetan huruf di lembaran-lembaran kertas yang tidak pernah Steve bayangkan akan sampai di tangannya.

"aku ingin kita bercerai" kata Tony mantap.

XXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxXX

yang mau bunuh saya mana suaranya?
XD

capter 2 akhirnya selesaiii~

:D

makasih buat yg review, yg nge fav dan yg baca~
kalian semangat buat lanjutin ini ff, soalnya saya males ngerjain sesuatu klo ga ada yg nanyain ato nuntut buat nyelesein... #plak!
:3

maafin pendek...

hiks...hiks...hiks...hiks...hiks...

Q.Q

Btw...

Temanya kali ini kekuatan para wanita terutama ibu!(iya, Tony itu wanita #ditembak repulsor)

Yeeaahhh!

Pertemanan dan persahabatan Tony ama Nat!

Karena mereka teman rumpi yang menarik dan kayanya jaman PDKT Tony dan Steve, Natasha adalah mak comblang mereka~

Terus Clint muncul!

Meskipun Cuma seupil...

tapi tenang~

chapter depan dia bakal muncul lg koo~

kalo saya inget #dipanah#
XD

oh iya, di chapter ini muncul Alana!

Yeeaayyy!

Mungkin yg nonton Hannibal bakal kenal mereka, klo yg ga nonton gpp~

angap aja dokter numpang lewat~ #plak!

saya suka karakter Alana~

dia ga kuat, tapi berusaha buat kuat~

:3

dia wanita yang hebat~

hidup emak-emak!

XD

Sekian dari saya~

btw, yg mau request silahkan review, yg mau ngoreksi silahkan review, yg mu ngajak berantem juga review aja #Plak!

see you next time~
:D