budayakan vote sebelum membaca :)

Syukron,

Zidan "Elo mah cewek mulu!! Kayak gue dong jadi pemain bola profesional" sambil sedikit mendorong bahu Angga kesamping sampai-sampai dia sedikit oleng.

"Yehh biarin wlee :p ." ledek Angga yang membuat ketiga sahabatnya yang lain terkekeh melihat tingakah Angga.

Author pov :

Tak terasa waktu menunjukan pukul 7 tepat seluruh kelas telah terisi oleh siswa siswi yang diarahkan secara acak ini hingga tibalah seorang pria paruh baya dengan kumis tipis dan kacamata hitamnya namun sama sekali tak mengurangi kewibawaannya.

"Selamat pagi anak-anak selamat datang dikelas xi ipa 2 teman baru, suasana baru saya harap ini menjadi spirit baru lagi buat kalian supaya lebih giat lagi belajarnya. Perkenalkan nama saya Derbi Debiyanto kalian boleh memanggil saya pak Derbi atau pak Debi disini selama satu tahun kedepan saya akan mendampingi kalian belajar :) selain itu juga saya merupakan salah satu dari guru bk di sma ini!..."

Mendadak ekspresi para siswa berubah menjadi waspada, takut, cemas. Kemudian debi melanjutkan kembali kalimatnya.

"...Tak perlu merasa takut dengan saya karena kita tentunya sama sama makan 'nasikan? :D"

Suasana kelas yang mencekam seketika pecah dengan gelak tawa dari para siswa termasuk juga Debi lihatlah dibalik penamilannya, ucapannya, dan sikapnya yang terlihat 'garang' namun dia juga memiliki sisi humor yang tinggi yang tentunya tak disangka-sangka.

"...jadi, tak perlu mencemaskan soal itu.. Justru saya disini tak hanya sebagai pendamping kalian namun saya juga akan membimbing kalian kearah yang lebih baik saya akan menggembleng kedisiplinan kalian dalam berbagai hal. Jadi jika ada hal yang ingin kalian sampaikan maka ..jangan ragu untuk menemui saya dengan tangan terbuka saya akan menerima mendengarkan kalian :D ."

Sontak seluruh siswa bertepuk tangan :D dengan kalimat yang baru diucapkan Derbi. "Baiklah saya kira sesi perkenalannya sudah cukup mari kita mulai jam pertama kbm yaitu sejarah"

"Baik pak guru.." kompak seisi kelas dengan semangatnya.

SKIP

Gerhana pov on :

Bel istirahat berbunyi seisi kelas berhamburan keluar dan menuju ke tempat yang pada umumnya dikunjungi pada jam-jam kritis seperti saat ini.

"Ngantin yuk laper nih mana gue belum sarapan ayuk cepetan" Rizale

"Ck...Ni bocah kalo laper ajah yang diutamain perut. Sabar dikit kenapa jangan buru-buru ..situ nggak lihat? Antrean depan panjang kayak mau nempur beras!" Dumel Zidan yang menatap Rizal sebal.

Kali ini giliran Angga bersuara

"Ngantin yuk Na!" aku yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bergumam sebagai jawabannya.

"Hn" dengan wajah datar seperti biasa.

Sahabat Gerhana yang mengerti dan faham betul sikap dan tabiat Gerhana yang dingin dan cuek melumrahkan hal tersebut.

Kemudian saat kami berempat beranjak pergi dari bangku masing-masing menuju keluar kelas, karena jalan masih agak sesak tiba-tiba saja ada seorang gadis yang berjalan memaksa berlawanan arah dengan ku dan sahabat-sahabatku.

Entah mengapa? Mungkin karena terburu-buru tanpa sengaja menabrak salah satu bahuku ketika aku sedang sedang asyik dengan earphone kesayanganku sambil mendengarkan lagu favoritku.

Karena gadis itu terburu-buru sehingga dia menabrak bahu milikku cukup keras yang membuat tubuh gadis itu kehilangan keseimbangannya.

Refleks dengan cekatan aku langsung menangkup tubuh gadis itu yang hendak terjatuh.

Hal itu memaksa dua pasang mata mereka otomatis menangkap iris mata milik satu sama lain.

Manik gadis itu yang coklat terang menatap sepasang manik biru safir milik pemuda didepannya. Begitupula Gerhana yang terpukau dengan indahnya manik gadis yang sedang ia tolong.

'Mata yang indah dan.. dia manis' batinku barucap saat menatap matanya yang indah ini.

Beberapa saat kemudian terdengar suara beberapa siswa yang masih ada di ambang pintu kelas bersorak bersautan.

"Ciye, ciye, ciye..."

"Bentar lagi ada yang jadian nih 'pj'nya mana 'pj'!?"

Adegan romantis itu berakhir seketika dan membuat mereka salah tingkah. Wajah gadis itu bersemu merah bukan menahan marah tapi malu.. Berbeda dengan Gerhana, pemuda itu sempat salah tingkah namun sepersekian detik kemudian dia mampu menyembunyikannya dibalik wajahnya yang datar seperti biasanya.

"Loe nggak papa, Al? Maaf gara-gara gue loe.. hampir jatuh" ucapku mencairkan suasana.

Suara serak-serak basah milik Gerhana mengharuskan gadis bername-tag 'Aliyah Sarasvati' menjawab.

"Ee... Euh Iya gue baik kok, harusnya gue yang minta maaf

karena udah nabrak loe gue beneran nggak sengaja tadi gue buru-buru"

"Baiklah, aku permisi dulu" sahut ku sambil berlalu meninggalkan kelas.

Author pov :

"...iya" tukas Aliyah dan berjalan kembali ke mejanya untuk mengambil buku yang akan di kembalikan ke perpus.

"Hhh ...yaudah yuk gaes kita ke kantin" Lanjut Aliyah

"Ciyee yang tadi kontak mata ..kode nih! Kode!" cibir salah satu teman Aliyah yaitu Silvia.

Blush..

"Apaan si.. Tadi tuh nggak sengaja lagian gue juga udah minta maaf koo ke dia" sangkal Aliyah untuk menutupi rasa malunya.

"...ah udah-udah, ngantin yuk? Jadikan!? Entar sekalian gue mampir perpus!" ucap Aliyah untuk mengalihkan perhatian pembicaraan.

"Ayuk!!" sahut teman-teman yang lain.

INH

Aliyah pov on :

Bel istirahatpun berbunyi.

Aku dan sahabatku lantas pergi ke kantin. Saat kami sudah berada di luar kelas tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Ahh iya buku itu, gue lupa membawanya ..kalau engga salah ada di laci meja!" Ucapku tiba-tiba yang membuat ketiga sahabatku berhenti melangkah dan menatapku.

"Yaudah ambil dulu gih! Kita tungguin koo" seru salah satu teman Aliyah yang bernama Emma.

"Okehh gue balik dulu" kataku sambil melangkah kembali masuk ke dalam kelas yang masih sesak.

Aku berjalan melawan arah, karena terburu-buru tanpa sengaja aku berpapasan dengan bahu seseorang.

Seketika itu juga tubuhku terhunyung kebelakang dan terjatuh.

Namun tanpa disangka ada seseorang yang menolongku yang membuat tubuh ini enggan untuk bertemu dengan lantai.

'Astaga ..untung saja ada yng menolongku' ucapku dalam hati dengan ekspresi wajah yang masih syok.

Lalu saat ku dongakan kepalaku ternyata yang menolongku adalah seorang pemuda.

Pandangan mata kami otomatis saling bertautan. Aku menatap takjub melihat pemandangan yang tersaji di hadapanku.

Seorang pria beriris biru safir menatapku dengan teduh yang membuatku nyaman menatapnya lama-lama, berbulu mata lentik, dengan sepasang alis tegas brwarna coklat padam, berhidung mancung, memiliki bibir yang tipis dan berwarna pink alami, rahangnya yang kokoh, dengan rambut yang lebat berwarna coklat padam yang bermodel potongan rambut seperti ala artis korea membuat siapapun akan memuji dan mengeluh-eluhkan dia.

Seperti saat ini aku terpana dengan pesona pemuda itu. Kami bertatap muka cukup lama.

Hingga tiba-tiba terdengar intrupsi dari beberapa orang yang masih tertahan dikelas yang membuat kami menghentikan aktivitas kami berdua.

"Ciye, ciye, ciye..."

"Bentar lagi ada yang jadian nih 'pj'nya mana 'pj'!?"

Sontak aku mengerjapkan mataku seketika aku kembali tersadar dari lamunanku.

Aku menelan salivaku.

Seruan-suara itu menyadarkan kami berdua, dia membantu membetulkan posisi berdiriku saat ini.

"Ekhemm"

"Ciye,ciyee,ciyeee..."

Blushing kedua pipiku memerah dan aku merasakan wajahku terasa memanas. Kami berdua dibuat salahtingkah karenanya.

"Loe nggak papa, Al? Maaf gara-gara gue loe.. hampir jatuh" ucap pemuda itu berusaha mencairkan suasana.

Ku palingkan wajahku dan melihat name-tag di seragamnya.

'Ooh ternyata dia bernama Gerhana Davino S.' ucapku dalam hati. Dan menatapnya lagi.

Suara serak-serak basah milik Gerhana mengalihkan fikiranku sehingga aku menjawab peranyaannya dengan gugup.

"Ee... Euh Iya gue baik kok, harusnya gue yang minta maaf

karena udah nabrak loe gue beneran nggak sengaja tadi gue buru-buru"

"Baiklah, aku permisi dulu" tukas Gerhana sambil berlalu meninggalkan kelas.

Dia berlalu namun aku masih menatap punggungnya.

"...iya" sahutku lirih dan berjalan kembali ke mejaku untuk mengambil buku yang akan di kembalikan ke perpus.

"Hhh ...yaudah yuk gaes kita ke kantin" lanjut ucapanku

"Ciyee yang tadi kontak mata ..kode nih! Kode!" cibir salah satu teman Aliyah yaitu Silvia.

Blush..

Seketika aku blushing lagi namun aku berusaha menahan rasa maluku.

"Apaan si.. Tadi tuh nggak sengaja lagian gue juga udah minta maaf koo ke dia" aku mengelak untuk menutupi rasa maluku.

"...ah udah-udah, ngantin yuk? Jadikan!? Entar sekalian gue mampir perpus!" ucapku untuk mengalihkan perhatian pembicaraan.

"...ah udah-udah, ngantin yuk? Jadikan!? Entar sekalian gue mampir perpus!" ucap Aliyah untuk mengalihkan perhatian pembicaraan.

"Ayuk!!" sahutku teman-teman yang lain.

Author pov :

Sementara ditempat lain Rizale, Angga, dan Zidan, mereka masih terngiang-ngiang akibat kejadian tadi sampai-sampai mereka tertawa nggak jelas dibelakang Gerhana karena tadi dia telah berjalan terlebih dahulu dan akhirnya mereka bertiga pun berjalan menyamakan langkah kaki mereka di samping Gerhana.